SASUHINA

.

.

.

.

Disclaimer Naruto belongs to Masashi Kishimoto

.

.

.

.

Between Us

.

.

.

.

.

20 bulan kemudian

Siang ini langit kota Konoha terlihat sangat cerah. Keindahannya pasti akan membuat setiap orang yang melihatnya merasa senang. Termasuk gadis beriris lavender yang sekarang tengah tersenyum bahagia. Saat dirinya dan Uchiha-sensei sedang foto bersama.

"Selamat atas kelulusanmu, Hinata-chan," ucap Itachi seraya menjabat tangan Hinata dengan senyuman indahnya.

"Terima kasih, Itachi-nii," balas Hinata. Tidak ketinggalan dengan tersenyum bahagia pada pemuda bermarga Uchiha tersebut.

"Tidak terasa, ya. Waktu berlalu begitu cepat," kata Itachi.

"Hm," sahut Hinata.

"Akhir-akhir ini kau sudah lama tidak berkunjung ke rumah," kata Itachi terlihat sedikit raut kekecewaan di wajah tampannya.

"Gomen. Beberapa hari ini, Ayah sakit. Jadi, setelah pulang sekolah aku langsung pulang untuk merawat Ayah sekaligus membantu di kedai," jelas Hinata.

"Hiashi-jisan sakit. Sakit apa?" tanya Itachi khawatir.

"Tidak usah khawatir, Itachi-nii. Sekarang Ayah sudah sembuh kok," jawab Hinata.

"Yokatta. Seharusnya kau bilang padaku kalau kau membutuhkan bantuan. Walaupun hanya menjadi sebagai pelayan kedai, asal itu dapat membantumu. Aku bersedia melakukannya," kata Itachi.

"Itu tidak perlu, Itachi-nii. Aku tahu kamu pasti sangat sibuk dengan segala urusan di sekolah. Aku tidak ingin membuatmu menjadi tambah repot," jelas Hinata. "Oh iya, Itachi-nii. Bagaimana kabar Kaa-san dan Tou-san di Iwa?" tanya Hinata.

"Mereka baik-baik saja di sana. Mereka juga kirim salam untukmu. Maaf karena tidak bisa menghadiri acara kelulusanmu. Dan mereka juga mengucapkan selamat atas kelulusanmu," jawab Itachi.

"Iya, tidak apa-apa. Aku sudah merasa bahagia kalau di sana mereka baik-baik saja," jelas Hinata.

Pembicaraan Itachi dan Hinata harus terinterupsi, karena kedatangan seorang pria yang mempunyai iris mata senada dengan Hinata.

"Apa kabar, Hiashi-jisan?" salam Itachi seraya membungkuk hormat pada Hiashi.

"Hn, seperti yang kau lihat. Bagaimana kabar Ayah dan Ibumu?" tanya Hiashi.

"Berkat doa Jisan, di sana mereka dalam keadaan baik. Mereka titip salam buat Jiisan," jawab Itachi.

"Syukurlah. Titip salam kembali buat mereka," balas Hiashi.

"Akan aku sampaikan pada mereka," sahut Itachi.

"Apa ada yang kau perlukan lagi, Hinata? Kalau tidak, ayo kita pulang," kata Hiashi.

"Sepertinya tidak ada, Ayah. Baiklah, ayo kita pulang," sahut Hinata. "Itachi-nii, aku pulang dulu ya," pamit Hinata.

"Hm. Oh iya, nanti malam berkunjunglah ke rumah. Ada hadiah yang aku persiapkan untukmu," kata Itachi.

"Hadiah? Itachi-nii, tidak perlu berbuat seperti itu. Aku jadi malu," kata Hinata dengan semburat tipis muncul di wajahnya.

"Kenapa harus malu? Bukankah ini pantas untukmu. Lulus dengan nilai yang sangat bagus," jelas Itachi.

"Hufh, terserah Itachi-nii saja," kata Hinata pasrah.

"Nah, begitu donk," ucap Itachi senang.

"Baiklah, aku pulang dulu, Itachi-nii," pamit Hinata sekali lagi.

"Iya. Hati-hati di jalan Hinata-chan dan Hiashi-jisan," balas Itachi seraya membungkuk hormat pada Hiashi.

"Hn," sahut Hiashi.

Setelah itu, Hinata dan Hiashi melangkahkan kedua kaki mereka untuk meninggalkan lapangan depan Uchikaze Gakuen. Namun, ketika sampai di gerbang. Lagi-lagi mereka berdua harus menghentikan sejenak langkahnya. Karena ada sekumpulan adik kelas Hinata yang ingin berfoto dengannya. Gadis bersurai indigo itu memang menjadi salah satu siswa unggulan yang lulus tahun ini di Uchikaze Gakuen karena kemampuan akademiknya.

"Hyuuga-senpai, bisa kita berfoto bersama. Sebentar saja," mohon salah satu siswi di gerombolan tersebut.

"Tentu saja," ucap Hinata seraya tersenyum lembut pada mereka.

.

.

.

.

.

.

.

Pada malam harinya, Hinata berkunjung ke kediaman Uchiha. Itachi menyambut bahagia kedatangan Hinata tersebut. Setelah sedikit berbincang-bincan dengan Itachi, Hinata minta ijin untuk masuk ke dalam kamarnya. Walaupun sekarang, Hinata sudah berganti marga menjadi Hyuuga. Di kediaman Uchiha, kamar Hinata tetap tersedia untuknya.

Sebelum masuk ke dalam kamarnya, Hinata pasti akan melewati kamar pemuda itu. Pemuda yang sekian tahun selalu mendiami hatinya. Walaupun dia mengetahui salah satu penyebab kematian kakaknya adalah pemuda itu. Tetapi Hinata tetap tidak bisa memungkiri kalau dia tetap mencintai pemuda itu. Memang pada awalnya dia merasa marah, kesal, kecewa dan benci pada pemuda itu.

Namun, setelah sekian lama ternyata perasaan cinta dan ridunya telah mengalahkan segala amarah yang ada di hati gadis beriris lavender tersebut. Sekarang rasa rindunya membuat Hinata tertarik untuk melihat kamar pemuda itu. Dengan perlahan gadis itu, membuka pintu kamar pemuda itu. Semua masih sama seperti yang dulu. Hinata tidak berani untuk masuk ke dalam kamar tersebut.

Dia merasa terlalu takut, apabila masuk ke dalam kamar itu. Hatinya akan merasa lebih sakit daripada sekarang. Setelah puas mengabadikan suasana kamar pemuda itu ke dalam sepasang lavender-nya, Hinata menutup kembali pintu kamar tersebut. Kemudian dia kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya sendiri.

Setelah masuk ke dalam kamarnya, Hinata duduk di tepi ranjang untuk men -stabil -kan hatinya yang kini kembali bergejolak tidak karuan. Dia terlihat menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Gadis itu melakukannya berkali-kali. Berharap dengan melakukan hal itu dapat membuatnya sedikit membaik.

Hinata mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut yang ada di kamarnya. Kelihatannya selama dia tidak kemari, kamar ini selalu dirawat dengan baik. Tentu saja hal itu membuatnya senang. Sedetik kemudian, pandangannya berhenti pada balkon kamarnya. Dia tertarik untuk keluar dan melihat pemandangan luar dari balkon.

Hinata tersenyum lembut saat melihat pemandangan yang begitu indah dari balkon kamarnya yang ada di lantai dua. Namun, raut wajah gadis bersurai indigo tersebut langsung berubah. Saat pandangan matanya tertuju pada sosok manusia yang berdiri tepat di bawah balkon kamarnya.

Sepasang lavender itu terlihat sedikit membulat. Saat ini, Hinata terlihat begitu terkejut. Bahkan dia sampai tidak bernafas untuk beberapa detik. Baginya waktu seakan berhenti. Nampak jelas di lavender tersebut penuh dengan sosok pemuda yang sekarang juga tengah menatap intens Hinata.

Sekarang sepasang mata Hinata nampak berkaca-kaca. Saat ini yang ingin dilakukannya hanya satu hal. Yaitu meluapkan segala perasaan rindunya pada pemuda tersebut. Maka dari itu, Hinata langsung naik ke pembatas balkonnya. Dan langsung meloncat turun ke arah pemuda tersebut.

Tentu saja hal itu membuat pemuda itu membulatkan sepasang onyx-nya. Dengan sigap dan cepat, dia berlari dan berusaha menangkap Hinata.

Bruk!

Dengan mulus, Hinata mendarat di atas tubuh pemuda itu.

"Baka! Apa sih yang sebenarnya kau pi-..." Pemuda itu tidak bisa melanjutkan perkataannya karena secara tiba-tiba Hinata memeluknya dan menangis dengan keras.

"Hwaaaaaa..."

Pemuda itu hanya bisa mengehela nafas mendapat perlakuan seperti itu dari Hinata. Tak lama kemudian, seulas senyuman hadir di wajah tampannya. Dia terlihat menggerakkan kedua tangannya untuk membalas pelukan Hinata padanya. Setelahnya, pemuda itu menggunakan tangan kanannya untuk menepuk-nepuk lembut punggung gadis manis yang selalu menjadi penguasa terbesar relung hatinya.

"Aku pulang, Hinata," bisiknya.

.

.

.

.

.

.

.

Perlahan namun pasti, isakan tangis Hinata berhenti. Sekarang Hinata dan juga pemuda itu tengah duduk santai di bangku taman kediaman Uchiha.

"Sudah puas menangisnya?" goda pemuda tersebut.

"Kau 'kan penyebabnya!" jawab Hinata ketus setelah memberikan sodokan ringan di perut pemuda itu. "Pergi tanpa pamit, pulang juga tanpa memberitahu terlebih dahulu. Maumu apa sih, Sasuke?" gertak Hinata.

Sasuke hanya menyeringai melihat Hinata yang sekarang tengah kesal itu. Tentu saja hal itu membuat kekesalan Hinata pada pemuda Uchiha tersebut semakin bertambah saja. "Kenapa tersenyum seperti itu? Memangnya ada yang lucu?" tanya Hinata. "Atau jangan-jangan selama di luar negeri, kepalamu terkantuk sesuatu. Sehingga kamu menjadi aneh seperti ini. Sini biar aku periksa," lanjutnya.

Hinata meraih kepala Sasuke, seketika itu sepasang lavender-nya tampak membesar. Karena pada saat memegang kepala Sasuke, tanpa sengaja kulit tangannya menyentuh wajah pemuda itu. Kulit wajah Sasuke terasa sangat dingin di tangan Hinata.

"Wajahmu dingin sekali," ucap Hinata. "Akh! Kamu sakit?" tanya Hinata.

"Tidak," jawab Sasuke.

"Kalau tidak sakit, kenapa wajahmu bisa sedingin ini?" tanya Hinata khawatir. "Atau mungkin kamu-..."

"Iya, ini gara-gara kamu. Tanggung jawab donk," tuntut Sasuke.

"Jadi, kamu dari tadi benar-benar menungguku di bawah balkon?" tanya Hinata penasaran.

"Itu tidak perlu dijelaskan lagi," sahut Sasuke. "Ayo, hangatkan tubuhku dengan ciumanmu," goda Sasuke dengan memasang wajah memelasnya.

"A-pa?" pekik Hinata. "Tidak mau! Aku 'kan tidak menyuruhmu untuk menungguku di luar seperti tadi," tolak Hinata.

Mendengar itu, kekesalan Sasuke sedikit terpancing. "Aku berbuat seperti itu 'kan untuk memberimu sebuah kejutan," jelas Sasuke.

"Aku 'kan juga tidak menyuruhmu untuk memberiku sebuah kejutan," balas Hinata.

"Tcik! Hal itu aku lakukan karena aku tidak sabar untuk bertemu denganmu."

"Salah sendiri, tinggal di luar negeri lama sekali. Tanpa pamit padaku terlebih dahulu lagi."

"Sudah-sudah! Aku terlalu lelah untuk berdebat denganmu. Lebih baik aku pergi saja."

Nampak sekali kalau sekarang Sasuke sedang kesal. Ternyata hal itu malah memunculkan seulas senyuman di wajah cantik Hinata. Ketika Sasuke baru berjalan beberapa langkah, Hinata menghentikan Sasuke dengan menarik tangan kanan pemuda tersebut.

"Tunggu," ucap Hinata.

Sasuke menoleh dan mengalihkan pandangannya pada gadis bersurai indigo yang sekarang ada di hadapannya. "Sekarang apa la-..."

Cup!

Sasuke tidak bisa melanjutkan perkataanya, karena Hinata membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman. Hal itu membuat Sasuke tertegun untuk sesaat. Setelahnya, pemuda Uchiha tersebut juga turut memejamkan sepasang onyx-nya. Menikmati semua sentuhan bibir indah Hinata pada bibirnya. Beberapa saat kemudian, mereka menghentikan aktifitasnya.

Semburat merah nampak jelas di wajah Hinata. Melihat itu, Sasuke tersenyum puas. "Apa lain kali aku harus marah untuk mendapat ciuman darimu, hm?" tanya Sasuke.

Hinata hanya sedikit memanyunkan bibirnya untuk menjawab pertanyaan Sasuke tersebut. "Lagipula darimana kau belajar berciuman seperti ini? Jangan-jangan..."

"Enak saja! Aku tidak pernah melakukan hal yang sekarang ada di pikiranmu itu," sangkal Hinata.

Sasuke menyeringai mendengar jawaban Hinata. "Jadi, selama ini kau hanya mencintaku?" goda Sasuke.

Pertanyaan Sasuke itu terjawab dengan gelagat Hinata yang nampak tersipu malu. Bahkan gadis itu harus memalingkan wajahnya dari Sasuke, untuk menyembunyikan semburat merah yang semakin merajalela di wajahnya.

"Kalau ternyata kau begitu mencintaiku..." Sasuke terlihat menggantungkan kalimatnya. "Ayo, kita menikah," lamar Sasuke.

"A-apa?" pekik Hinata terkejut dengan spontan mengalihkan pandangannya pada pemuda yang baru saja melamarnya secara tidak romantis itu.

"Ada masalah? Kita saling mencintai dan sekarang kita punya marga yang berbeda. Bukankah tidak ada lagi yang bisa menghalangi hubungan kita," jelas Sasuke.

"Tapi 'kan..." Sebuah pikiran langsung terbesit di kepala Hinata. "Jangan-jangan yang membuat Tou-san tiba-tiba ingin mengubah margaku adalah kamu ya, Sasuke?" tebak Hinata.

"Ternyata kau tumbuh menjadi gadis yang pintar ya," sahut Sasuke seraya mengacak-acak rambut Hinata.

"Hentikan," ucap Hinata seraya menjauhkan tangan Sasuke dari kepalanya. "Jadi, selama ini kamu telah merencanakannya," lanjut Hinata.

"Bingo," ucap Sasuke seraya menyentil dahi Hinata.

"Hah! Aku sungguh tidak percaya dengan semua ini," kata Hinata.

Sasuke hanya tersenyum lembut melihat ekspresi Hinata yang sejak tadi berubah-ubah. Hal ini merupakan hadiah penyambutan yang sangat indah untuknya. Pembicaraan mereka berdua harus terhenti karena kedatangan seseorang, atau lebih tepatnya dua orang.

"Hinata-chan," panggil wanita paruh baya yang sekarang tengah berjalan ke arah Sasuke dan Hinata.

Sasuke dan Hinata langsung mengalihkan pandangan pada sumber suara tersebut. Sepasang lavender itu untuk kesekian kalinya nampak membesar. " Kaa-san! Tou-san!" sahut Hinata disertai dengan senyuman bahagianya.

Gadis itu lantas berlari ke arah Fugaku dan Mikoto. Hinata langsung memeluk kedua anggota Uchiha tersebut secara bergantian. "Aku kangen sekali pada kalian," ucap Hinata.

"Kami juga," sahut Mikoto dengan sekali lagi membawa Hinata ke dalam pelukannya.

"Kenapa tidak bilang sebelumnya kalau kalian akan datang? Kalau aku tahu 'kan aku bisa menyiapkan sesuatu untuk menyambut kedatangan kalian," kata Hinata.

"Kalau terlebih dahulu kami memberitahumu, itu bukan surprise namanya," jelas Mikoto.

Saat ini, Hinata merasa sangat bahagia mendapat berbagai kejutan dari orang-orang yang dicintainya. Malam ini akan menjadi malam yang tidak terlupakan bagi Hinata di dalam hidupnya.

"Ayo, kita masuk ke dalam. Tidak baik terlalu lama di luar," ajak Mikoto.

"Hm," sahut Hinata.

Dengan itu, Hinata melangkahkan kakinya pergi dari taman kediaman Uchiha. Sebelum itu, Hinata menoleh ke belakang. Memberikan tatapan tajam pada Sasuke seakan berarti 'Kamu harus menjelaskannya padaku'.

Sasuke hanya menyeringai mendapat tatapan seperti itu dari Hinata. Sepertinya malam ini, seluruh penghuni kediaman Uchiha merasa bahagia. Sudah sekian lama, kebahagiaan tidak muncul dalam rumah tersebut.

.

.

.

.

.

.

.

Jam dinding di kamar Hinata tepat menunjukkan pukul sepuluh, ketika Hinata menarik selimut tebalnya. Selama berjam-jam tadi, Hinata telah berbincang-bincang dengan seluruh anggota keluarga Uchiha. Sebelumnya, Hinata telah meminta ijin pada Hiashi untuk menginap di kediaman Uchiha malam ini.

Terbesit dalam pikiran Hinata tentang perkataan Sasuke di taman tadi. Pemuda itu memang selalu berbuat di luar dugaannya. Lamunannya pecah saat ada seseorang yang membuka pintu kamarnya. Hinata langsung bangkit dari posisi tidurnya.

"Ada apa?" tanya Hinata pada seseorang yang dengan berani masuk ke dalam kamarnya dan kini tengah naik ke atas ranjangnya.

"Tidak ada apa-apa," jawab orang itu.

"Lalu kenapa kamu di sini, Sasuke?" tanya Hinata lagi.

"Memangnya tidak boleh," sahut Sasuke enteng.

"Kita 'kan tidak bersaudara lagi. Seharusnya kita tidak boleh tidur satu ranjang seperti ini," kata Hinata.

"Tcik! Aku tidak akan berbuat apa-apa padamu. Lagipula 'kan kita akan menikah," balas Sasuke.

"Percaya diri sekali. Aku 'kan belum menjawab iya akan menikah denganmu," sahut Hinata.

"Ya katakan saja sekarang," ucap Sasuke.

"Hiizz... Kau ini. Selalu saja seenaknya sendiri."

"Jangan mengajakku berdebat. Aku ngantuk sekali."

"Hey, jangan tidur di sini." Terbesit sebuah ide dalam kepala Hinata. "Ah iya, kau boleh tidur di sini dengan satu syarat," kata Hinata.

"Apa?"

"Kamu harus memberitahuku, sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa kamu tiba-tiba ke luar negeri? Dan kenapa tiba-tiba Tou-san berubah pikiran untuk merubah margaku menjadi Hyuuga lagi?" tanya Hinata bertubi-tubi.

Sasuke tersenyum mengetahui Hinata begitu penasaran dengan semua hal yang terjadi beberapa tahun ini. "Bukan senyummu yang aku inginkan saat ini, Sasuke. Tapi jawabanmu," kata Hinata.

"Iya iya," jawab Sasuke. "Aku pergi ke luar negeri bukan tiba-tiba, tetapi aku sudah merencanakannya jauh-jauh hari," jelas Sasuke.

"Kenapa kamu tidak memberitahuku?" tanya Hinata.

"Kalau kau tetap bertanya terus, aku tidak akan melanjutkan penjelasanku," sahut Sasuke.

"Ya sudah kalau begitu, aku tidak akan bertanya lagi," kata Hinata.

Sasuke mati-matian menahan senyumannya, saat melihat ekspresi Hinata yang sekarang terlihat begitu imut. Seperti anak kucing yang ingin diberi makan oleh majikannya. "Aku memutuskan menempuh pendidikan di luar negeri untuk meneruskan perusahaan Uchiha, dengan satu syarat," jelas Sasuke. "Yaitu Tou-san harus bersedia menyetujui hubungan kita dan mengubah kembali margamu menjadi Hyuuga," lanjutnya.

"Jadi begitu. Pantas saja aku merasa aneh dengan semua yang telah terjadi. Ternyata kalian telah merencanakan semua ini," kata Hinata.

"Aku sudah menjawab semua pertanyaanmu. Sekarang aku ingin tidur. Aku lelah sekali hari ini," keluh Sasuke.

Hinata tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sasuke memang terlihat sangat kelelahan, karena dia baru saja tiba dari luar negeri. Alhasil, Hinata tidak mau mengganggu lagi pemuda itu. Dia memutuskan untuk menyusul Sasuke masuk ke alam mimpi. Hinata sedikit menjauh dari Sasuke. Karena setelah sekian lama tidak bersama dengan pemuda itu, membuatnya sedikit malu tidur bersama seperti ini.

Beberapa saat kemudian, terdengar dengkuran halus dari Hinata. Sepertinya gadis itu sudah tidur terlelap. Mengetahui itu, Sasuke membuka sepasang onyx-nya. Ternyata sejak tadi Sasuke belum tidur, walaupun pemuda itu terlihat memejamkan kedua matanya. Untuk kesekian kalinya, Sasuke tersenyum lembut. Kemudian pemuda bermarga Uchiha tersebut, membawa Hinata ke dalam pelukannya.

Hinata menggeliat pelan dalam pelukan Sasuke. Namun beberapa detik kemudian, Hinata kembali diam dan bernafas teratur seperti sebelumnya. Sasuke menghirup dalam-dalam aroma lavender yang tercium dari tubuh Hinata. Tentunya pemuda itu sangat merasa bahagia, karena beberapa tahun ini dia tidak dapat menghirup aroma ini. Jujur, Sasuke sangat merindukan saat-saat kebersamaannya dengan Hinata, seperti sekarang ini. Akhirnya pada malam ini, Sasuke dapat terlelap dengan cepat. Tidak seperti malam-malam sebelumnya, yang dia habiskan sendirian di luar negeri.

.

.

.

.

.

.

.

Keesokan harinya, Hinata terbangun lebih dahulu dari Sasuke. Untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu ini, Hinata bangun pagi dengan senyuman indahnya. Hinata menatap wajah Sasuke dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya. Sekian lama menatap Sasuke, membuat gadis itu ingin menyentuh wajah tampan pemuda tersebut.

Namun, ketika akan menyentuh wajah Sasuke. Tanpa sengaja terlihat benda asing di tangannya. Hinata nampak terkejut ketika mengetahui ada sebuah cincin yang indah tersemat di jari manis tangan kirinya. Semburat merah langsung merambat di wajah cantiknya. 'Apa cincin ini dari Sasuke?' pikir Hinata.

"Bagus 'kan cincinnya?" tanya Sasuke serya membuka sepasang matanya.

"Sejak kapan kamu bangun?" tanya Hinata terkejut.

"Sejak tadi," jawab Sasuke singkat.

Hinata mengamati cincin yang ada di jari tangannya. "Yahh... Lumayan," ucap Hinata.

"Tcik! Cuma itu," sahut Sasuke.

"Lalu apa?" tanya Hinata.

"Terserah kau sajalah," jawab Sasuke kesal seraya bangun dari tidurnya dan hendak turun dari ranjang Hinata.

"Jangan marah begitu donk, Sasuke," rayu Hinata dengan memeluk lengan kiri Sasuke. Alhasil, pemuda itu tetap pada posisinya semula yaitu duduk di ranjang Hinata. Gadis itu bergelayut manja di lengan Sasuke.

"Hinata," panggil Sasuke.

"Hm," sahut Hinata seraya menatap Sasuke.

"Mengenai kematian Neji-..."

Sasuke tidak bisa melanjutkan perkataannya, karena jari telunjuk Hinata ditempelkan pada bibirnya. "Ssst! Aku tidak mau mendengar tentang hal itu lagi," potong Hinata.

Sasuke memandang Hinata dengan penuh tanda tanya. Hinata membalas pandangan Sasuke dengan senyuman lembutnya. "Setelah aku memikirkannya, peristiwa itu bukan sepenuhnya kesalahanmu. Itu adalah takdir yang harus diterima oleh Neji-nii," jelas Hinata.

Hinata terlihat menghembuskan nafasnya. "Lagipula Neji-nii juga pasti tidak akan menyalahkanmu. Jadi buat apa aku menyalahkan dirimu?" kata Hinata.

Pemuda beriris onyx itu terlihat menyunggingkan senyumnya mendengar penjelasan dari Hinata. "Jadi..." Sasuke menatap lurus pada sepasang lavender yang ada di hadapannya. "... Hyuuga Hinata, bersediakah kau menjadi pendamping hidup Uchiha Sasuke?" lamar Sasuke.

Hinata tersenyum bahagia mendengar Sasuke melamar dirinya. "Iya, aku bersedia," jawab Hinata tegas.

Sasuke menyeringai puas mendengar jawaban Hinata. Setelah itu, secara cepat Sasuke mendorong Hinata jatuh ke atas ranjang gadis tersebut. "Kya!" pekik Hinata terkejut.

Mereka berdua saling menatap. Tidak ketinggalan senyuman yang terpatri jelas di wajahnya masing-masing. "Aku mencintaimu, Hyuuga Hinata," ucap Sasuke.

"Aku juga mencintaimu, Uchiha Sasuke," balas Hinata.

Perlahan namun pasti, Sasuke mendekatkan wajahnya pada Hinata. Setelah kedua bibir saling menyatu, Sasuke memberikan sebuah ciuman hangat pada gadis tersebut. Sepertinya pagi ini, Hinata akan bangun kesiangan. Karena Sasuke pasti tidak akan melepaskannya begitu saja dari jeratan cintanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

THE END

.

.

.

.

.

Thanks to read

.

.

.

.

Balasan review untuk chapter 11:

Blue Night-chan : Hahahaaa... Sasuke berbuat gitu 'kan ada alasannya.

Suzu Aizawa : Iya, Sasuke 'kan sudah pulang. Ini dah di-update tepat pada waktunya.

Kertas Biru : Iya, Sasu ke luar negeri. Iya, biar Sasuke dan Hinata sama-sama sudah dewasa.

Haruno Aoi : Ao. Ga, pa2. Namanya juga nebak. 'Kan bisa salah dan juga bisa benar. Sasu ke luar negeri dengan tujuan tertentu. Masa'? Q seneng banget kalau ternyata scene SH di kedai ramen bisa membuatmu tersentuh. Sekarang Sasu 'kan dah pulang. Iya, nih, apalagi minggu depan Q UAS. Ini dah di-update.

Tetetubizzz : Meiru maafin, asal setelah ini kamu rajin me-review fic Meiru, hohoo. Iya, memang Meiru sengaja dibuat sedikit. Ini dah update chapter barunya.

Hyou Hyouichiffer : Sudah dijelasin 'kan tujuan Sasu ke luar negri. Dia ga bersama Saku koq. Iya, sekarang mereka dah bisa bersama lagi. Dah jelas 'kan rencana Sasu di chap 10 (penjelasan Sasu waktu di ranjangnya Hina). Iya, ni dah di-update.

Mamoka : Tidak mengharukan 'kan chapter yang ini.

Yanagi Xenophellish Hinagiku : Halo. Hinata dah ga merasa galau di chap ini, dia malah dibuat bahagia bangetz.

Fishy : Semua pertanyaanmu dah dijawab di chapter ini. Sepertinya yang tertulis di aras, chap ini adalah chap terakhir fic BU.

Sasuhina-caem : Iya ya, sepertinya BU itu ceritanya koq lebih ke drama. Sekarang Hinata 'kan memang dah bersama dengan Saskey.

Astiamorichan : Iya, ni dah di-update.

And thanks to review

.

.

.

.

.

Akhirnyaaaaa... selesai juga fic ini

Meiru senang bangetzzz

Meiru berusaha membuat chapter end ini sebagus mungkin

Bahkan Meiru sampai tersenyum-senyum sendiri saat membutnya,heheee

.

.

Meiru mengucapkan banyak-banyak terima kasih

Umumnya kepada para reader yang bersedia mengikuti fic ini

Khususnya kepada reviewer yang setia mendukung Meiru dalam melanjutkan fic ini

Komentar dan dukungan kalian sangat100x berarti bagi Meiru

Hontou ni arigatou

.

.

Meiru juga minta maaf kalau ternyata ending dari fic ini tidak sesuai dengan harapan kalian

Namun, Meiru sangat berharap semoga fic ini bisa menghibur kalian semua

.

.

Akhir kata dari Meiru

Semoga fic ini dapat menginspirasi kalian di kehidupan masing-masing

Sampai jumpa lagi di fic Meiru lainnya

See you

R

E

V

I

E

W

Arigatou