"Hei lihat adik kelas itu! Tampan sekali ya?"

"Iya..aku tak bisa palingkan wajahku dari mukanya!"

"Apa dia sudah punya pacar?"

"Semoga saja belum! Aku berharap menjadi belahan jiwanya!"

My Precious Junior.

The HunterXHunter Fanfiction

Declaimer: Toshishiro Tagashi/Yoshishiro Tagashi (yg mana yg bener?)

Story by: Ul-Chan.

Bab 1, THIS IS ME!

Killua POV

Betapa seringnya aku mendengar percakapan itu. Membosankan. Selalu saja mereka melihatku dari tampangku saja. Sekali-kali dong, jangan hanya melihatku. Coba lihat teman sebelahku, sering kali temanku itu iri pada wajahku. Seperti kemarin,

"Gon, ayo kita pulang bareng! Hari ini kau mau searah dengan ku kan?"

"Maaf Killua, tapi aku lupa hari ini aku membantu bibi Mito…"

"Bohong!"

"Eh, _aku"

"Terlihat jelas! Kau bohong Gon, buktinya kau tak bisa menatap mataku!"

"Ma..maaf, tapi kalau aku jalan denganmu..aku sama saja tak terlihat.."

"Tak Terlihat?"

"Ya…para gadis yang lewat kan hanya menatap wajahmu saja…"

Intinya muka ini membawa kesialan bagiku. Syukur-syukur masih ada orang yang mau menemaniku di sekolah. Tapi ya.. seperti tadi, ia harus siap dengan resikonya. Akhirnya sebagian waktu istirahat, ku habiskan di perpustakaan.

Bukannya mau sok rajin menghabiskan waktu istirahatku di perpustakaan, hanya saja kalau aku diam di kantin, siap-siap aku mendengar jeritan-jeritan dari para kakak kelas yang menggilaiku (huh Ge-er), atau adik kelas dan cewek-cewek yang carper. Capek aku menjalani hidup yang seperti itu. Kalau di perpus kan enak, ada peraturan yang besar yang jelas di pajang di depan pintu perpustakaan,

DILARANG RIBUT

Hahahaha, puas rasanya lihat para cewe gila yang mati kutu di depan perpustakaan. Ada juga sih yang berani masuk ke dalam pura-pura meminjam buku, atau membaca buku di sebelah kursiku. Sambil berbasa-basi sedikit. Biasanya sih yang berani seperti ini, The Senior.

"Hei tampan..namamu Killua ya?" katanya sambil mendekatkan tempat duduknya ke mejaku.

"Ya kak" kataku singkat padat dan jelas.

"Kamu udah punya pacar belum? Mau gak sama kakak yang cantik ini?" kata kakak kelas itu dengan pedemeter tinggi.

"Menurut kakak kayaknya aku dah punya pacar belum?" kataku membalikan perkataannya.

"Eh, kamu berani ya sama kakak kelas! Jawab yang bener! Kalau enggak….."

PLETAK!

Sebuah ballpoint mendarat tepat di kepala kakak kelas gila itu.

"JANGAN RIBUT, SILAHKAN KELUAR!" penjaga perpus mulai memperlihatkan taringnya.

Me v.s. Senior 1-0 (dengan bantuan pengurus perpus tentunya). Aku cuma bisa cekikan melihat kakak kelas itu meninggalkan ruangan ini dengan muka yang gak karuan.

Ah ya, satu alasan lagi kenapa aku betah di perpustakaan, ada seorang gadis yang mengganggu pikiranku setiap malam. Selalu ku mimpikan setiap tidur. Dia gadis pendiam, berambut lurus jatuh berwarna kuning, selalu disini setiap istirahat. Membaca buku yang tebal, atau bercengkrama dengan pengurus perpus. Kalau tidak salah namanya Kurapika. Mata berwarna biru, seperti langit cerah di pagi hari. Rambutnya yang lembut (kayaknya) kalau diterpa angin maniiiiiis sekali. Dialah wanita yang membuatku tak bisa mengedipkan mata, tak bisa berbicara sepatah kata pun. Aku tau namanya pun itu hanya keberuntungan. Karena pengurus perpus sering memanggilnya untuk membantunya membereskan buku-buku.

Kurapika….

(=3=)

"Hei kamu…bangun…"

Aku mengucek mataku, ada tangan yang menggoyang-goyangkan punggungku, "Eeeh…"

"Hei.. bangun, kamu ngiler lho!"

Cepat-cepat aku memegang mulutku. Kering kok, masa cowok setampan aku bisa ngiler sih. Siapa sih yang berani membangunkan tidurku yang nyenyak? Aku sedang enak-enaknya bermimpi tentang..

"Sudah bangun? Maaf, bukunya jangan dipake bantal dong.." ia mengulurkan tangannya.

Tentang cewe ini..

Tanganku otomatis membereskan rambut (halah). Setelah merasa rambutku rapi, aku menyambut uluran tangannya dengan gemetar .

"Kill…Killua kelas 8-A"

Aku sangat bahagia, akhirnya aku bisa memegang tangannya (meskipun ini hanya bersalaman) ini hari yang bersejarah. Akan selalu kuingat dalam hidupku!. THANKS GOD! (lebe abis ==")

Dia diam sebentar , sambil mengerutkan dahi. "Maaf, yang kumaksud bukunya.."

OoooHHHH! Aku menghancurkan imej-ku di hadapan cewe yang kusukai!. Langsung saja aku menyodorkan buku yang tadi kubaca (sebenernya ku tiduri), "Oh..haha..Maaf.." Baru kali ini aku merasa wajahku merah padam.

Entah ia memperhatikan mukaku yang kurasa semakin panas, tapi yang pasti semua kekonyolanku barusan terbayar tunai dengan senyuman khasnya.

"Terimakasih Killua"

Dia menyebut namaku! Membuat jantungku berdegup lebih kencang. Kukumpul semua keberanianku untuk menanyakan siapa dirinya.

"Ma…maaf.." kataku menghentikan langkahnya.

"Ya?"

"Ka..kalau boleh tau..si..siapa…." Kataku parau, mulut ini rasanya terkunci.

"Aku? Aah… Namaku Kurapika, dari kelas 9-B. Salam kenal ya". Ah rupanya ia kakak kelasku.

"I..iya.." jawabku masih malu-malu,

"Baik, aku duluan ya" katanya. Dia mulai melangkah lagi.

"Tu..tunggu kak, Mau kubantu?"

"Hehe..enggak usah Killua…" tapi aku malah merebut buku-buku di pangkuannya.

"Aku bisa kok kak…eegghhhh.." kataku menahan berat (lagi-lagi sok).

"Sini, aku bawakan setengahnya.."

Setelah membawakan buku dan memberesinya, ia menunduk hormat. "Terimakasih berkat Killua, urusanku jadi cepat selesai.."

"Eh! gak apa-apa kok kak! Kalau mau, besok aku bantu kakak lagi ya! Boleh kan kak?" ucapku dengan penuh harap.

Sayangnya ia terlihat lesu. "Eung…besok aku gak akan ke perpus..maaf ya"

"Ke..kenapa?" jawabku kecewa, yaaah

"Besok kan mulai aktif pemantapan..jadi ya.."

"Oh! Aku ngerti kok kak! " yaaah..lagi-lagi aku memotong kata-katanya." Tapi kakak kan bisa pas istirahat?" Dia tak menjawab, dia hanya membalas kelakuanku dengan senyuman.

"Aku duluan ya… sampai jumpa besok pagi." Kata Kurapika sambil berjalan mendahului aku. Lho? Kenapa ia tak menjawab pertanyaanku tadi?. Yaaaah….padahal tadi aku mau mengajaknya pulang bareng…. kok dia rasanya jaim banget ma aku sih? apa dia udah ilfil ma kelakuanku ya? Haaaaaaaaah aku gak ngerti perasaan cewe kayak gimana..

(=3=)

"Killuaaaa! "

PRAAAANG! Piring yang tengah kucuci tiba-tiba lepas dari genggamanku gara-gara jeritan dahsyat dari ibuku sendiri.

"Ya Tuhaan Killua! Kamu kemasukan apa? Kok kamu nyuci piring?"

"Yaelah ibu.. Aku kan sudah besar.."

"Bukan itu! Kamu itu kan Cowo! Masa cowo cuci piring! Biarkan Kalluto yang membereskan itu semua!"

"Biarin bu! Dia mulai belajar jadi banci sekarang mah!" tiba-tiba Kalluto nyeletuk.

"Diam kamu! Suatu saat kau akan jatuh cinta pada cowo yang jago cuci piring!"

"APA? Apa maksud kamu Killua?" Ibuku teriak eksotis lagi.

"Ibu kalo ngomong biasa aja kek, jangan pake TOA. Bu..aku kan sudah besar, masa seumur hidup aku gak pernah cuci piring? ingat Bu, di atas langit, masih ada langit lagi!. Kita jangan dulu puas dengan apa yang kita raih selama ini, kita harus mencoba apa yang menurut kita tidak masuk akal. Dunia ini bulat bu! Mungkin kita tidak akan selamanya berada di atas, mungkin kita akan berada di bawah.." (ceramah)

Mereka berdua diam membisu mendengar kata-kataku yang sangat puitis.

"Oh..Kalluto…kakakmu ini memang sedang sakit.." Ibuku terlihat sedih dan menutup mulutnya.

Kalluto menganggukan kepalanya,"Kakak baru mendapatkan hidayah dari yang Maha Esa. "

2 Detik kemudian.

"Apa yang kalian lakukan padaku..!" aku melepaskan genggaman Kalluto di kedua tanganku

"Diam!" Kalluto membentakku.

"Apa hakmu membuatku begini hah?" ia berhasil membuatku tak bisa bergerak. Yaah siapa sih yang gak bakal kalah melawan adikku Kalluto, dia baru saja naik sabuk coklat dalam olahraga karate di sekolahnya.

"Killua, kau sedang sakit, tabah ya..," Ibuku terlihat sedih sekali. Apa sih, orang cuci piring aja dikira orang sakit, lebeh amat (gajauh beda ma anaknya). Aku pun diangkut oleh mereka berdua ke atas. Ke kamarku.

Akhirnya mereka berhasil membawaku ke tempat tidur .

"Istirahat yang benar! Besok kau belum boleh sekolah! Mengerti?" Ibuku seenaknya saja mengambil keputusan.

BLAM. Pintu tertutup keras.

"IBUUUUUUUUUUUUUU! AKU SAMA SEKALI TIDAK SAKIT! Kataku berteriak sekuat tenaga. Sayangnya mereka tidak bergeming. Cih!

Aku pun menulis catatan dengan huruf besar di buku diaryku sendiri. Dengan perasaan kesal, aku menulis:

JANGAN PERNAH BERPUISI DI DEPAN KELUARGAMU SENDIRI.

(=3=)

Setelah malam berlalu dengan cepat, aku telah sadar akan satu hal.

Aku gak boleh bolos heeey authooor! Nanti citraku hancur lagi sebagai cowo anti bolos ! Mau sms temen….

Malu sih bilangnya, kagak punya pulsa. Jiaaaaah orang kaya ternyata bokek pulsa juga.

Tok..tok..tok..

"Siapa? Masuk, tidak dikunci kok!" kataku pelan.

"Killua! kau sakit ya? " Gon membawa bingkisan besar dan menyimpannya di atas tempat tidurku

"Apa itu?" Tanya ku penasaran, segera saja kubuka bungkusan aneh itu.

"Lho? Kamu kok sakit tapi bisa lincah begitu? jangan..jangan…kau mau bolos ya?" Gon menyipitkan matanya.

"Sotoy! Enggak lah!"

"Lalu?"

"Ahhh! Aku tak mau membahasnya!"

"Kalau tidak mau, ya sudah.." Gon merebut kembali bungkusan yang kubuka setengahnya.

"Hei..! hei! Itu kan buatku!" kataku marah, aku mau merebut kembali bungkusan aneh itu.

"Tidak akan kuberikan sebelum kau cerita apa yang terjadi padamu.." Gon menyembunyikan bungkusan itu di balik punggungnya.

"Hm…baiklah, aku kemarin pulang sekolah. Lalu aku makan dan setelah selesai makan aku mencuci piringku sendiri.." aku sekarang memalingkan wajahku karena malu. "Setelah itu, ibuku dan Kalluto kaget akan kelakuanku yang tiba-tiba mencuci piring tak seperti biasanya, mereka mengira aku sedang sakit."

Kulirik Gon, tersirat di matanya ada perasaan kagum. Bodoh.

"Killua, memang kau sedang sakit.."

Duh..kok Gon juga bilang seperti itu sih? Bukannya dimatanya ia kagum padaku?

"Nah, sesuai dengan janjimu, " Kataku mengalihkan pembicaraan. "Mana..yang tadi?"

Gon memberikan bungkusan yang ia sembunyikan di balik tubuhnya, "Masakan dari Bibi Mito. Dijamin kau akan sembuh dengan cepat.."

"Apa sih? Sudah kubilang aku sedang tidak sakit! " kataku sambil dibuka bungkusan itu dengan perasaan tak sabar.

Aroma wangi pandan memenuhi wajahku saat kubuka bungkusan yang berisi bekal, isinya Nasi yang sepertinya masih hangat. Wangi sekali..

"Apa ini Gon? Sepertinya enak sekali.." kataku tak bisa menyembunyikan perasaan senang saat akan mencobanya.

Kumakan nasi lembut dengan sendok (yaiyalah). Dimulutku rasa nasi itu meledak-ledak. Rasanya panas, gurih, dan lembut. Sangat lezat!

"Itu nasi Liwet.." Gon menjelaskan. "Asalnya aku mau membawamu bubur ayam, tapi aku yakin kau pasti bosan makan bubur terus."

"Aku tidak suka bubur! " Kataku sebal, "Kalau boleh, aku ingin makan ini setiap hari..! Bilang pada Bibi Mito, ya!"

"Iya..iya. " Gon melirik jam tangannya. "Gawat! Sudah jam segini! Killua! aku berangkat sekolah dulu ya!"

Aku masih asyik makan, jadi hanya mengangguk saja. Dan aku melambaikan tanganku pada Gon yang sudah berlari seperti angin puyuh.

(=3=)

Sendiri lagi. Huh! Bosan. Bungkusan yang Gon bawa untukku pun habis tak tersisa. Aku ingin melakukan sesuatu. Oh iya!. OL, aah~

Saat aku keluar dari kamarku ternyata ada Goto yang sedang berjaga pas di balik pintu.

"Tuan, ada apa?"

"Aku bosan! Aku ingin OL saja"

"OL? Apa yang anda maksud Tuan?"

"Online..gitu aja gak tau.." Kataku memiringkan bibir.

"Maaf Tuan, tidak bisa." Goto menunduk .

"Kenapa?"

"Nyonya menyuruh Tuan untuk beristirahat selama 1 hari penuh. Dan hamba akan menjaga Tuan untuk 1 hari penuh."

"Menyebalkan!" kataku kesal dan masuk kembali ke dalam kamar. Tiba-tiba kurasakan mukaku hangat, aku jadi teringat Kurapika lagi.

Lagi apa ya Dia sekarang di sekolah?

"Andai aku punya pulsa…andai aku punya pulsa…. " kataku memohon Do'a sendiri. "Oh ya! Menunggu Bintang jatuh saja!"

Lalu aku pun melihat langit putih nan bersih dengan muka yang penuh harap lewat jendela.

5 menit..

7 menit..

10 menit kemudian aku membenturkan kepalaku sendiri ke tembok.

"Killua, kau memang sedang sakit.." kataku sendiri. "Ini kan siang, mana ada bintang jatuh di siang hari, Baka!" kataku gemas!

Akhirnya aku merebahkan diri ke tempat tidur lagi. Mencoba untuk benar-benar memulihkan pikiranku atau lebih singkatnya mencoba untuk tidur.

Tapi mata ini tak bisa tertutup. Aku tak sabar menunggu besok. Aku rindu akan senyumannya. Aku rindu akan gerak-geriknya yang pemalu, meskipun jaim, tapi sikapnya tak dibuat-buat, Oh! Kurapikaa! Kau membuatku gilaaa!. Ku lirik jam di dinding, masih jam 1 siang. Masih lama untuk menunggu pagi lagi Cuma karena memikirkan dia, mataku semakin memberat dan membuat pandanganku menjadi gelap.

To be Continued…


Halooooooo apa kabar?

Ini fic 3 yang abnormal abis…. Waaah kacau, aku bikin fic yang ada nasi liwetnya, yang makannnya juga sang pangeran keluarga Zeoldyeck, sebenernya apa yang ada dalam pikiranku. ==".aneh sangat. Tapi ya…biarlah. Itu lah yang menjadi ciri khas saya *bletaak*.

apa lagi ada yang gak begitu nyambung ya? Killua tiba-tiba mencuci piring dan sok-sok puitis gitu.. maap..maap *spesial buat Killua FC* itu cuma humor-an sedikit, okey? *bahkan sama sekali gak lucu* (aku beneran nangis nih kalau ada yang bilang gitu). maklum saya bikinnya di malam hari, waktu setiap orang untuk tidur, saya malah bikin FF. ya..tak apalah .. *tak apalah apanya? ceritanya gak karuan tau!*

Yang jelas apa rindu kalian telah terobati dengan fic ke tiga dari saya ?*najis* XD saya kan udah agak jarang hadir disini (karena beban UN), halah , teruuus mohon maaf Killuanya di lebay-lebayin gitu.. agar ada humornya dikit Xp *perasaan gak deh*

Eh, maaf lagi ya kalau humornya garing.. *menyadari satu hal dan jongkok di pojok dengan aura hitam*

Oh ya, apa kalian merasa ada perbedaan gaya cerita saya yang dulu dengan yang sekarang? Makin bagus apa makin kacau? O.o kayaknya makin kacau deh..

eeeh! nama saya ganti lho! jadi "UL-CHAN!" (dulu Aulz Chan Kuruta) berhubung takut orang menyadari karakter yang saya masukan ke tokohnya di fic (Intinya takut banyak orang tau bahwa saya menceritakan mereka) nanti harga diriku mau di kemanakan?. *gak ada yang peduli*. Oh...ya udah... *BLACK:MODE:AUL*

Ada kritik/saran/pujian/makian ? review ya! XD *kembali ceria!"

Review! Review! Review!

ini tulisan biru-biru gitu tinggal di klik kok! ok? XD **