"Eh! gak apa-apa kok kak! Kalau mau, besok aku bantu kakak lagi ya! Boleh kan kak?"

" Tapi kakak kan bisa ke perpus pas istirahat?"

"Kak, sebenarnya aku dari dulu suka sama…."

My Precious Junior.

The HunterXHunter Fanfiction

Declaimer: Toshishiro Tagashi

Story by: Ul-Chan

Bab 2, DON'T SAY LOVE!

Kurapika POV

"Aaaaaaaarrrrrrrghhhhh!"

Machi datang ke kamarku dengan tergesa-gesa "Ada apa Kurapika?"

Aku mengatur alur nafasku, "Aku..aku mimpi ada yang menyatakan suka padaku…"

"Kau ini aneh! Senang dong, kalau ada yang menyatakan cinta padamu!"

Aku segera membereskan tempat tidur, tapi nafasku masih memburu, "Senang apanya! Itu artinya aku gak akan konsen dengan pelajaran hari ini! Gimana dong!"

Machi hanya membuang nafas dan meninggalkanku pergi, "Sekali saja Kurapika, beri kesempatan orang lain untuk mendapatkan nilai 100.."

(=3=)

Apalah artinya jika seseorang terlahir pintar?

Dia akan kau musuhi? Atau kau ejek setiap langkah berjalannya? Selalu di cegat saat pulang atau pun saat ulangan untuk memberi mereka jawaban yang benar?.

Itulah yang yang terjadi padaku. Aku terlahir pintar? Enggak juga, aku cuma rajin saja. Bukankah ada pepatah mengatakan Rajin pangkal Pandai? Itu lah keberuntungan yang selalu mengiringiku. Bukannya sombong, tapi setiap ulangan atau pun ada tugas yang diberikan aku selalu mendapat nilai 100. Tuh kan? Aku Pintar? Enggak! Aku cuma rajin, setiap malam aku selalu mengulangi pelajaran yang telah diberikan atau pun mempelajari pelajaran yang akan diberikan. Sehingga aku selalu siap dengan ulangan mendadak atau pun tugas yang sulit. Tapi sayang, teman-temanku memandang diriku sebelah mata, entah karena sikapku yang tertutup, tapi aku akui aku memang pendiam. Sehinga mereka menyangka aku sombong. Dan yang pasti aku tak punya teman.

Temanku yang sejati hanyalah buku. Mereka diam, dan jika kita bosan, kita tinggal membacanya. Tempat favoritku Perpustakaan. Tempat itu sepi, bersih, dan ada musik klasik yang mengiringi jika kita belajar disana. Menyenangkan bukan?

Tapi sekarang perpustakaan bukan menjadi tempat favoritku lagi, gara-gara ada adik kelasku yang super-populer. Dia membuat cewek-cewek seangkatanku heboh mau di luar perpus atau pun di dalam perpus. Apa mereka buta? Jelas-jelas ada peraturan yang terpampang disana. Mana adik kelas itu tak mau keluar dari perpus, dia bisa saja tertidur dari istirahat pertama sampai pulang kalau Ibu pengurus perpus tak membangunkannya.

Sialnya, kemarin aku lah yang membangunkan dia. Bodoh, dia kira aku naksir dia? Aku mengulurkan tangan untuk meminta buku eeh..dia malah menjabat tanganku sambil memperkenalkan dirinya. Ckckck..lucu juga sih saat mukanya memerah dan memegang bibirnya saat aku bilang dia ngiler, haha.

Ternyata adik kelas itu lah yang membuat aku tak karuan dari kemarin sampai hari ini, mukanya memang membuat para gadis klepek-klepek termasuk aku. Aku sampai tak bisa bernafas saat dia memegang tanganku. Apa lagi dia bilang dia akan membantuku di perpus. Tapi aku kan harus menjaga wibawaku sebagai seorang kakak kelas. Mana mungkin aku meminta bantuan seorang adik kelas yang super cakep. Bisa-bisa aku kena gossip dan bisa tak konsen pada pelajaran.

Seperti hari ini, aku memikirkan kata-katanya yang kemarin,

" Tapi kakak kan bisa ke perpus pas istirahat?"

Bodohnya aku malah bermimpi ia akan menembakku,

"Kak, sebenarnya aku dari dulu suka sama…."

Oh,, jangan sampai itu terjadi. Apa lagi Mimpi itu bunga tidur. Itu artinya aku memikirkan dia, dan berharap ia akan menembakku. This is Dream..Kurapika

Lagi pula jangan menilai seseorang dari tampangnya. Lihatlah hatinya. Bisa saja dengan ketampanan yang ia miliki ia bebas mengatur-ngatur cewek. Mana mau aku seperti itu. Pertamanya saja mungkin terasa manis, tapi lama kelamaan mulai terasa pahit.

Itu sebabnya aku agak anti dengan mahluk yang bernama cowok. Mereka menganggap kaum hawa itu boneka yang bisa mereka mainkan luar dan dalam. Enak saja, habis manis sepah dibuang. Memangnya kami ini permen karet yang pantas dibegitukan?

Munafik kalau aku bilang aku membenci cowok seluruhnya. Ada seorang cowok yang kusukai sejak dia masuk ke sekolahku. Cowok itu berkulit sawo matang. Aku paling suka saat dia tersenyum , dia jadi keren sekali. Beruntungnya asramaku berdekatan dengan rumahnya.

"Aku duluan semua!" Salamku pada teman-teman asramaku setelah aku bersiap-siap untuk berangkat sekolah.

Dengan cepat aku keluar pintu asrama dan lihatlah apa yang ada di depanku.

Orang yang aku sukai ternyata sedang melewati gedung asramaku.

Tenggorokanku tiba-tiba agak mengering. Sulit mengatakan Halo. Uuh. Bagaimana aku bisa dekat dengannya nih. Akhirnya aku hanya bisa melempar senyum saja. Agak hambar lagi. Aah..aku memang pemalu. T.T

"Halo juga, Kak" balasnya dengan senyuman yang bisa menghangatkan pipiku.

Eh? kok dia bisa tau apa yang ada di dalam pikiranku? "Ha..halo juga.." kataku sedikit Nervous. Ah, mungkin ia tau dari gerak-gerikku tadi. Kataku di dalam hati, sweatdrop ."Berangkat sekolah?" tanyaku basa-basi.

"Enggak, mau bolos. Hehe..iyalah..mau apa lagi. Kita kan seragam-an." Dia senyum lagi.

Ukh..tolong hentikan senyuman manis itu.

"Ehehehe…" kataku sambil garuk-garuk kepalaku yang tak gatal. Aduh, aku salah tingkah. "Eh, kita belum begitu kenal kan?"

"Iya, aku Gon Freecs, panggil aku Gon saja. Aku kelas 8-A, kamu?"

"Aku Kurapika Kuruta, panggil Kurapika saja. Kelas 9-B. Salam ke_" sebelum aku melanjutkan ucapanku, ia terlihat sangat syok.

"Ke..kelas 9?" Terlihat matanya membesar.

"Eh, iya..a..ada apa?" jawabku takut.

"Enggak..kok kak.."

Lalu..

"Maaf! Tadi saya bilang 'Kamu' ke kakak!" Ia membungkuk,

"Eh? untuk apa ? tidak usah.. hehe. "

"Be..benarkah?" kini matanya ber-sparkle-sparkle #basagadogado.

"Iya..soalnya aku merasa kalau wajahku ini baby-face kan?" kataku narsis.

1 menit.

2 menit.

3 menit.

DUEEEENG…

Gurauanku sama sekali tidak lucu… *terrible*

"Ma..maaf, garing ya?" kataku agak down.

"Hihi.., kakak lucu!" katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Hah….?"

"Baru pertama kali aku bertemu kakak kelas yang pintar bercanda!" Katanya sambil memegang perutnya.

Oke…Dia tertawa bukan pada tempatnya.

"Eh, aku…tidak mengerti kenapa kau tertawa.."

Ia berhenti dari tertawanya . "Sudahlah Kak, nanti kalau dipikirin terus kakak bisa gila lho..". Lalu ia menyodorkan tangannya. "Ayo..Kita menyebrang.."

Tak terasa kami berdua berjalan dan sudah sampai di tempat penyebrangan. "Eh..apa?" tanyaku bego saat ia menyodorkan tangannya.

"Pegangan…" jawabnya dengan muka polos.

"Tak usah.." kataku dengan muka yang mulai menghangat lagi. Dia mengajakku untuk berpegangan tangan? Calm.. Kurapika….jangan dulu ge-er.

Tak disangka ia menyabet tanganku dengan cepat, lalu menarikku untuk menyebrang. "Aku tau kok..kakak gak bisa nyebrang,"

"Hee..? I..iya.."

Kami pun menyebrang dengan posisi ia memengang tanganku.

Muka ku menghangat lagi.

"Te..terimakasih.." ucapku gemetar dan segera melepas genggaman tangannya.

"Maaf kak, aku tidak sopan.."

"Tidak..tidak…tidak usah minta maaf. Eung..aku duluan ke sekolah ya..aku belum mengerjakan pe-er..hehe" kataku berlari secepat kilat, "Terimakasih ya tadi!" kataku sambil berlari.

"Ia..sama-sama kak.." katanya sambil melambaikan tangannya.

Aku pun meninggalkan Gon dengan cepat, rasanya mukaku sudah tidak karuan warnanya. Rasa malu, senang, semuanya bercampur menjadi satu.

DUK!

Eh? suara apa itu?

"OI! KALAU JALAN HATI-HATI DONG!" kata seorang pria yang sepertinya baru saja aku tabrak.

"Ma..maaf.." jawabku sambil agak gemetar, takut. Tubuhnya besar sekali, seperti beruang.

"Apa? Kau pikir aku beruang?" kata pria bertubuh besar itu mengepalkan tangannya dan siap menonjokku.

Kenapa semua orang bisa tau pikiranku sih? Menyebalkan. Aku menyilangkan tanganku untuk melindungi wajahku.

Lho? Mana tonjokannya? Kok gak ada?

"Tidak baik memukul seorang perempuan, Kak." Ucap seseorang yang sepertinya aku kenal. Dia menahan tonjokan maut itu dengan tangan kirinya.

Killua. Rambutnya yang berwarna perak itu agak silau karena terkena sinar matahari. Tubuhnya tegap tinggi dan hampir bisa setinggi denganku.

"Pagi Kak Kurapika, kau baik-bak saja?" sapa-nya.

"Baik, anu…Terimakasih Killua, kau kenal Dia?"

"Sama-sama," Killua pun melepaskan tangan orang besar itu. "Ya..dia Kakak-ku , Miluki"

"Killua! Minggir! Biarkan aku menonjok perempuan tak berguna itu!" orang yang bernama Miluki itu terus saja meneror ku.

"Tidak boleh, kalau kau berani menyentuhnya kau tidak akan bahagia dengan mainan-mainan bodohmu.." tiba-tiba saja Killua memasang mata yang agak mengerikan.

Dia menelan ludah, "Harusnya kau bersyukur kau diperbolehkan sekolah hari ini, dan itu semua karena aku tau!"

"Sayang sekali, aku tidak tau.." katanya sambil tersenyum sinis. "Pulanglah..kau hanya membuatku malu disini.."

"Cih! Akan kubuat kau menyesal Killua..lihat saja nanti" Kakak Killua itu beranjak pergi. Aku cuma bisa melongo.

Killua pun sekarang memandang ke arahku. "Kakak..ayo kita masuk ke sekolah.."

Aku mengangguk. Aduh..pelajarannya belum mulai tapi aku sudah cape duluan..

"Kak, ini.." ia menyodorkan minuman isotonic padaku dari tasnya.

"Apa?" tanyaku bingung.

"Ini…minumlah, aku tau Kakak cape.." jawabnya dengan senyuman penuh arti.

Aku muak,

"Sebelum itu, aku boleh tanya kan, Killua?"

"Tentu." Katanya sambil minum minuman yang tadi ia sodorkan padaku.

"Kenapa semua orang bisa tau semua hal yang ada di pikiranku sih?" Tanya tak sabar. Hari ini aku benar-benar merasa kesabaranku sudah habis.

Ia malah menyerahkan minumannya padaku. Menyuruhku untuk meminumnya. "Minum dulu , Kak."

"Tidak, sebelum aku tau jawaban dari mu."

Tiba-tiba ia memegang bibirku dengan tatapan mata yang tidak menyenangkan. "Lain kali, saat batin Kakak bicara, jaga selalu bibir ini agar tidak bergerak sesuai dengan apa yang ada di hati Kakak"

Glek! Aku baru tau..

"Nah, Kakak sudah janji kan?" sekarang ia menunjuk botol minuman isotonic-nya.

Aku pun meminum itu, yaaah…lumayan gratis. Hehehe.

Lalu ia pun menunjukan bibirnya.

"Apa?" kataku sambil memegang bibirku. "Apa ada sesuatu yang menempel di bibirku?"

"Bukan, " katanya tersenyum nakal. "Kakak dapat ciuman tak langsung dariku"

Aku teringat minuman ini,

GYAAAA! MINUMAN PEMBAWA SIAL!

(=3=)

Bel istirahat berbunyi nyaring. Pelajaran yang membosankan pun berakhir. Saatnya pulang. Dan Itu artinya satu pertanda bagiku.

Datanglah ke perpustakaan, pangeran berambut putih sedang menunggumu.

Oh ya? Masa?

Masa bodo deh. Yang pasti aku harus segera ke perpustakaan kalau tidak..

Ting Tong Ting Tong

"Panggilan kepada Kurapika Kuruta kelas 9-B harap segera ke Perpustakaan"

Tuh kan, aku udah di panggil duluan. Payah. Dengan langkah yang lemas aku masuk ke perpus. Apa penderitaanku belum berakhir? Tadi pagi aku sudah merasakan berbagai macam rasa. Dan sekarang rasanya aku harus menderita berbagai rasa lagi. Aku membuang nafas.

Ternyata pangeran itu sudah ada di dalam perpus, dan bercengkrama riang dengan ibu pengurus perpus. Wow dia merebut posisiku rupanya. Aku mulai bosan melihatnya. Apa lagi saat ingat kejadian tadi pagi.

"Kakak dapat ciuman tak langsung dariku.."

Grrrrr…. Mau dikemanakan harga diriku. Orang ini memang orang jahat.

"Kurapika, dia datang." Sapa pengurus perpus padaku.

"Kakak.." sambut Killua padaku. Ia melambaikan tangannya. Aku cukup tersenyum,

"Ada apa?" jawabku sok cool. Semoga aku terlihat judes biar adik kelas ini benci padaku. Ayo cepat pergi dari sini!

"Hari ini ibu rapat. Kebetulan Killua mau menjadi pengurus perpus juga sepertimu. Ibu harap sekarang karena kalian pulang sekolah lebih cepat. Tolong bereskan buku-buku seperti biasa ya Kurapika. Kuncinya ada di Killua. Kalian tolong bersihkan ruangan ini ya. "

"Sebentar bu! Jadi ibu menyuruh aku dan.." mataku melirik ke adik kelas yang bertampang polos itu dan berkata pelan …..dia?"

"Ya.." ibu itu berbisik ke telingaku , "Ini kesempatan yang bagus lho Kurapika..suit..suit…ibu do'akan!"

Do'a kan apanya? Bantinku tak rela.

"Kunci ada di Killua, ibu mau keluar dulu.." ibu keluar sambil mengambil tasnya. Sepertinya ia tak akan kembali ke ruangan ini

Ibu mau kemanaaaaaaaaa? Jangan tinggalkan akuuu! Batinku terus berteriak.

Mulutku hanya bisa menganga. Tak bisa berkata sepatah kata pun. Mesipun aku pulang cepat, tapi aku kan masih ada pelajaran! Masih ada pemantapan! Mana dibiarin berdua ma dia..nanti kalau aku di gimana-gimanain gimana? Aku gak terlalu kenal ma dia! Oke..Negative thinking.

"Kakak kok bengong sih" tangannya mencolek bahuku.

"Hah? Eh?" kataku kaget. "A..apa?"

"Kakak pucat…" Ia menempelkan dahinya ke dahiku.

"UWAAAA!" dengan reflek aku mendorong tubuhya sampai ia hampir jatuh. "Ma..maaf!" aku segera mengendalikan emosi tubuhku.

Tadi dia mau apa…tadi dia mau apa…

Tenangkan dirimu Kurapika.. tenang..tenang.

"Maaf kan aku..tadi e..Refleks, maaf.." aku membantu dia berdiri. Stay cool Kurapika.

"Enggak apa-apa kok kak.. justru aku lah yang harus minta maaf, sampai kakak kaget begitu."

"Killua…" kataku mengambil nafas. "A..aku masih ada pelajaran dan..A..ada pemantapan jadi aku entah bisa apa enggak membantumu membereskan tempat ini.. jadi em..daah" Kataku sambil melangkah mundur.

"Kak…" dia menghampiriku. Mau apa lagi sekarang? Aku harus mempercepat langkahku untuk keluar dari tempat ini..

"AWAS!" Dia berteriak, aku malah semakin panik, mau lari tapi ternyata kaki kananku tersandung kabel radio.

Aku menutup mata, rasanya ada yang menindih tubuhku, dan rasanya aku tiduran di lantai. Aku tak berani membuka mata. Tapi ada sorak-sorak yang sepertinya menyuraki saat aku jatuh.

"Kyaaa! Dia menindihnya!"

"Andai yang jatuh itu aku!"

"Besok aku akan jatuh disitu! Penjaga baru kan dia!"

"Kyaaaa! Kyaaaa!"

"JANGAN BERISIK! KALIAN INI BISA DIAM GAK SIH!" ku dengar suara Killua memarahi mereka.

Dengan gemetar aku membuka mata, kulihat Killua menindihku. Mukanya tinggal beberapa centimeter lagi dengan muka ku.

"Kak, kau baik-baik saja?"

OH MY GOD.

COBAAN APA YANG TENGAH KUHADAPI

Ingin rasanya aku berteriak, tapi..aku kehabisan suara ku. Mukaku semakin lama semakin hangat.

"Kakak…maaf, sakit ya aku tindih?" ia langsung bangun. Aku masih tak bisa percaya apa yang tengah terjadi padaku. Ia memijit-mijit kaki-ku.

"Aku mau peringatkan kakak tadi ada kabel radio dibelakang kaki kakak, tapi kakak malah mau lari dan.." ia menatap wajahku yang masih kaget. Lalu ia menghampiri segerombolan cewek-cewek yang berteriak tadi.

"Maafkan aku atas perkataanku tadi, bisa kah kalian meminta ijin ke wali kelas 9-B bahwa anak didiknya yang bernama Kurapika Kuruta sakit? Jadi ia tak bisa mengikuti pelajaran selanjutnya, dan tak bisa mengikuti pemantapan" Killua lalu tersenyum.

"Kumohon..kalau kalian mau menyampaikannya, aku akan memberikan no ponselku.." katanya lagi.

Terdengarlah suara derap langkah cewe-cewe yang langsung pergi meninggalkan tempat kejadian perkara.

Hebat. Cuma di iming-iming no ponselnya saja, 1000 cewek siap mengikuti segala perintahnya. Menakutkan.

Killua menutup jendela perpus dan menutupnya dengan gorden. Ini memang sudah jam pulang sekolah. Saatnya perpustakaan untuk tutup. Lalu ia mengunci pintu.

Cuma berdua Kurapika…

"Kakak?" Dia memecah keheningan. Aku..aku harus bersiap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Mana latihan Karate mu Kuraaa…ayoo kau pasti menang. Mukaku sepertinya sudah pucat pasi.

"Kenapa Kakak diam saja? Apa ada yang sakit? Katakan saja Kak,"

"Tidak-tidak…tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja, sungguh!" Kataku gak karuan.

Killua pun memegang kakiku keras.

"Aw!" aku berteriak, rasanya sakit. Aku menggigit bibirku.

"Kakak, bibirmu berdarah. Tidak baik menggigit bibir sampai berdarah seperti itu kak, sepertinya batin kakak mengucapkan sesuatu.." katanya mulai nakal.

"Tidak, Killua aku ingin pulang..tolong, biarkan aku keluar."

"Tidak bisa, Bu guru perpustakaan menyuruh kita memberekan tempat ini."

"Killua..apa kau tidak lihat aku sedang sakit gara-gara terjatuh tadi?"

"Nah, akhirnya kakak ngaku juga ada yang sakit, sakit apanya kak?"

Aku menepuk jidatku sendiri. "Baik..baik, aku sakit kaki-ku yang tadi kau tindih, apa kau puas Killua?"

"Hm..lalu apa yang bisa aku lakukan untuk Kakak kelasku yang terluka ini?" ia mengangkat daguku. "Apa aku rawat dulu saja,ya?"

"Terserah" kataku kehilangan kendali. Aku benar-benar marah.

"Kakak jangan jawab dengan pose yang dingin seperti itu..nanti aku hangatkan lho..hehe"

"Terserah"

"Kakak ngambek ya..?" dia nyengir.

"Kalau tau, gausah nanya.."

"Kakak ngambeknya serem deh.."

"…..."

"Oke..oke…aku akan rawat Kakak di rumahku. Mau kan?" ia mengusap rambutku. "Tidak boleh menolak. Kakak kan tadi bilang terserah aku untuk melakukan apa saja kan?" belum puas, dia membisikan kata yang membuatku ketakutan.

"Dirumahku,kita akan bersenang-senang berdua.."

HAH? SENANG-SENANG? BERDUA? Pikirku ngeri.

KENAPA AKU SIAL TERUS KALAU DEKAT DIAAA! Batinku menolak. Lalu aku terbayang-bayang sesuatu yang rasanya tidak pantas.

"Enggak mau!" kataku kataku geleng-geleng kepala.

"Tidak boleh 'tidak mau' Kakak bilang tadi terserah.." jawabnya sambil merapikan perpustakaan, "Aku sudah merapikan buku-buku dan juga aku akan membersihkan tempat ini. Kakak harusnya senang sekarang tugas Kakak dikerjakan olehku.."

SIAPA YANG BUAT AKU BEGINI? KAU KAN KILLUA! batinku terus berteriak.

"Kenapa kau berbuat seperti ini kepadaku Killua? Apa salahku? Apa kau puas melihat aku tidak karuan begini hah?"

"Hah? Apa kakak merasa aku ini Orang Jahat?, sebenarnya aku hanya ingin dekat dengan Kakak saja" elak Killua. Ia sekarang menyapu ruangan ini.

"Kenapa kau ingin dekat denganku? Aku tak punya kelebihan apa-pun! Aku tidak cantik! Aku tidak kaya! Dan aku tidak punya orang tua!" kataku dengan mata yang berkaca-kaca. Sepertinya aku akan menangis.

Killua menjatuhkan sapunya,lalu dia memelukku erat.

"Segala hal yang terjadi hari ini, lupakanlah..dan kalau aku bertindak salah di mata Kakak, aku minta maaf. Semua itu karena aku ingin dekat dengan Kakak, dan aku ingin tau segala hal tentang Kakak.."

"Tapi..kenapa kau lakukan ini padaku..! Aku tidak butuh pelukanmu!"

"Kalau ingin mengangis.. menangislah, " ia malah memelukku lebih erat.

"Aku…melakukan semuanya karena aku suka pada Kakak. Sekarang Kakak puas?" bisiknya di telingaku.

Jatungku berdebar lebih cepat.

Tolong hentikan! Hentikan rasa ini! Jauhkan dia dari pandanganku! Hentikan! Hentikan! Hentikan denyutan jantung yang semakin kencang ini..

To be Continued..


Noooo! Ceritanya makin kacau..

Maaf..maaf…

Sebenarnya garis besarnya aku lagi nyeritain pengalamanku di SMP.. *halah*

Ada adik kelas yang naksir aku…dan aku gak tau harus terima dia apa enggak *lha kok curhat sih* #banting

Yaaa….gitu deh…jadi malu nyeritainnya juga :p *siapa juga yang mau tau*

#ABAIKAN

Btw, Bab 2 ini rasanya cocok ga ma tittle-nya ya? Kayaknysa pertamanya aja yang agak gaje.. XDD Tadinya mau nyeritain Killua yang langsung nembak Kurapika pas lagi berangkat sekolah, tapi aku kehilangan alur ceritanya..jadi ya…apa boleh buat aku ganti aja deh.. =="


BALESAN REPIUUU~~ XDD

Aiko Enma: siaaaap! saya ini sudah update secepat-cepatnya.. XD. Makasih dah repiu ya..boleh minta repiu lagi? /-PLAK!

Uchiha Kurapika: tentu~ suka pairing KillXKura ya? iyaa... insya Allah..kalau langsung ada ide aku update secepat-cepatnya. XD. maksih ya..udah repiu, boleh minta di-repiu-in lagi? /-DOR

Airin Aizawa: hehehe..maksih.. XD. iya...bakalan aku update.. XD. makasih ya atas repiu-an-nya. nanti tolong di-repiu-in lagi *minta di keroyokin rame-rame* XD


Ada komen/kritik/pujian/ide/usul/makian/atau apa lah..?

Review ya! 8D

CLICK HERE

Ini nih..yang biru-biru..klik aja ya! XD dan tuliskan pendapatmu tentang fic gaje-abal-luarbiasa ini! XDD