"Dasar pelacur murahan! Kau nikahi aku selama ini, uangku, kerja kerasku, selalu ku lakukan untuk keluarga! Tapi, kau malah selingkuh? Dasar wanita jalang!" bentak pria bermata onyx dengan raut wajah tegas itu.

Wanita berparas cantik dengan rambut hitam legam itu terdiam, membiarkan sang suami mencaci-makinya. Dirinya hanya bisa menangis, mendengar perkataan sang suami yang menyayat hati. Setelah itu terdengar suara tamparan dan barang-barang yang dilempar dengan kasar.

Di sudut ruangan, seorang pemuda berumur tujuh belas tahun itu menyaksikan pertengkaran orang tuanya yang tidak pernah berhenti, jeritan dan bentakan menggema di seluruh rumah. Tidak, ini bukan rumah. Rumah adalah tempat kita berbahagia dan berkumpul dengan keluarga, saling berbagi kehangatan dan kasih sayang. Tempat ini bukan rumah. Ini neraka.

Pemuda berambut spike berwarna biru dongker dengan mata onyx itu merasa muak, muak dengan pertengkaran mereka, pertengkaran orang tuanya. Mata kelamnya melirik ke arah jendela, menyaksikan butiran putih mulai turun dari langit. "Salju."

.

~White Wings ~

.

Chapter 1. Rescuer

.

Naruto©Masashi Kishimoto

.

By Himawari Ichinomiya

.

Inspired: Hero-Mariah Carey, Tropicana Slim-Remember My Sweet Moments

.

Rated T

.

Gendre: Romance, Hurt, Drama

.

Pairing: Sasuke Uchiha X Naruto Uzumaki

.

Summary: Mata onyxnya terbelalak lebar ketika menemukan sosok itu, tangannya yang berkulit pucat mulai mengoyak bahu mungil itu perlahan. "Hei, apa kau baik-baik saja?" ujarnya khawatir. "Sepertinya dia bukan manusia."

.

Warning: Fic ini mengandung unsur YAOI, banyak typo, OOC, dan hal-hal tidak jelas lainnya. Jika memang tidak suka, silahkan meniggalkan fic ini, sebelum ada niat memberikan flame pada Hima.

.

~Dun like? Dun read!~

Tetap nekad baca?

Gak nanggung kalo jadi fujoshi ato fudanshi nantinya.

~Happy Reading!~

.

\(o_o\)o0o(/o_o)/

Pemuda berwajah cukup tampan itu melangkahkan kakinya tak tentu arah. Kepalanya mendongak, menatap langit malam bertabur bintang di setiap sudutnya. Malam yang tenang dan indah. Namun, tidak begitu keadaan rumahnya. Orang tuanya yang selalu bertengkar setiap kali bertemu, selalu ribut dengan harta dan kekayaan yang mereka klaim milik masing-masing.

"Sial!" umpat pemuda bernama Sasuke itu geram. Mata kelamnya masih menatap langit yang kini kembali menjatuhkan butiran halus salju. Satu minggu lagi hari Natal, tapi Sasuke sama sekali tidak merasa bersemangat atau pun berbahagia. Dirinya merasa ada kedengkian mendalam ketika melihat orang lain yang kini terseyum dan menikmati suasana hangat dalam rumah, sedangkan keluarga sasuke sendiri sekarang sedang di ambang kehancuran. Dirinya hanya menunggu, menunggu sebuah pertolongan untuk mengeluarkannya dari situasi sulit ini. Apakah tuhan mendengarnya? Apakah tuhan memperdulikannya?

Sasuke menatap langit lagi, sekedar menghilangkan perasaannya yang kini sungguh sedang bimbang. Mata kelamnya melihat butiran berlian yang bersinar terang di langit malam. Bibirnya sedikit menyunggingkan senyum tak nampak, saat melihat langit. "Bintang jatuh, ya…" ujarnya pelan, saat melihat salah satu butiran bersinar itu jatuh.

Namun, senyuman itu hilang, ketika ada sebuah bulu putih mendarat di atas telapak tangannya. Sasuke mengernyit heran. Bulu ini seperti milik burung merpati, namun berukuran lebih besar dan memiliki warna lebih putih dan bersih.

Seingatnya, tidak ada jenis burung yang memiliki bulu sayap sebesar ini. Sasuke kembali keheranan, saat jumlah bulu sejenis makin banyak jatuh dari langit, bulu-bulu tersebut mengarah pada sebuah gang kecil yang nampak sepi, tak begitu jauh dari posisinya sekarang.

Terbakar rasa penasaran, Sasuke sedikit berlari menuju gang tersebut. Tapi, gang itu kosong. Hanya ada beberapa tong sampah, dan kucing liar. Sasuke menghembuskan nafas sedikit kecewa tidak menemukan apa pun, bersiap menjauh dari gang kecil yang pengap dan gelap itu.

Tiba-tiba mata Onyxnya menangkap sesuatu yang aneh di belakang salah satu tong sampah. Bulu putih. Lagi-lagi bulu yang sama seperti tadi. Sedikit memperlambat kecepatannya, Sasuke melangkah mendekat. Tangannya bersiap dalam posisi siaga untuk menyerang dengan teknik judo yang dikuasainya.

Mata onyxnya terbelalak lebar ketika menemukan sosok itu, seorang pemuda berkulit secokelat caramel, dan memiliki rambut secerah sinar mentari. Tapi, apa itu? Tangan sasuke perlahan hendak menyentuh sayap di punggung anak yang berumur sekitar empat belas tahun itu, hanya beda tiga tahun dari Sasuke.

'Apa sayap ini hanya cosplay?' Batin Sasuke penasaran. Wajar saja, sekarang 'kan banyak sekali baju cosplay yang terlihat seperti aslinya…

Napas Sasuke tercekat, napasnya mendadak menjadi tak normal. Sayap di punggung anak ini ternyata asli! Tangan pucatnya gemetaran membelai bulu putih halus tersebut. Namun, pikiran Sasuke kembali tersadar, tangannya segera menyentuh pundak mungil pemuda tak sadarkan diri itu.

"Hei, apa kau baik-baik saja?" ujarnya khawatir, "Sepertinya dia bukan manusia." Beberapa saat kemudian, tiba-tiba sayap putih itu menghilang, seakan kembali masuk ke dalam punggung si pemuda yang tidak dikenalnya. Sasuke jadi makin mengernyit heran.

Tanpa pikir panjang, pemuda bermata onyx itu langsung menggendong pemuda 'malaikat' itu menuju rumahnya. Peduli setan pada orangtuanya yang akan bercerai atau berebut harta gono-gini, yang ada di dalam pikirannya hanya menolong pemuda ini, dan mencari tahu siapa atau mahluk apa sebenarnya lelaki di dalam gendongannya sekarang.

.

.

.

Sasuke membaringkan tubuh ringkih itu di atas kasurnya, mencoba untuk membuat sang pemuda pirang tidak terbangun. Kemudian, si stoic beranjak dari tempatnya dan mengambil sekotak P3K untuk mengobati beberapa luka lecet dan memar di tubuh mahluk entah apa ini.

Pikiran Sasuke kembali melayang pada pertengkaran orangtuanya. Dulu, keluarganya adalah keluarga yang cukup harmonis, seperti keluarga-keluarga lain pada umumnya. Namun, keadaan tidak begitu lagi, setelah sang ibu ketahuan selingkuh. Sang Ayah menjadi kalap, setelah kejadian itu, sang ibu terus dipukulinya hingga memar-memar. Tiap malam Sasuke terus mendengar jerit-tangis ibunya, hatinya menagis, namun matanya sama sekali tidak mengeluarkan air mata. Lelaki pantang menangis. Dirinya ingin sekali menolong sang ibu, tapi dia tahu jika ayahnya pasti akan semakin murka, jika membela si ibu. Pemuda raven itu tahu, bahkan sangat mengerti jika ibunya yang salah, tapi bagaimana pun juga, dirinya sangat menyayangi wanita berumur paruh baya itu, wanita yang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan Sasuke.

Pemuda bermata onyx itu menggeleng. Dirinya menolak untuk menjadi lemah, memang sang kakak-Itachi sudah kabur dari rumah setelah keluarga mereka mulai retak, dan ayahnya terus melakukan kekerasan pada sang ibu. Meninggalkan Sasuke sendirian di rumah ini. Bukan di 'rumah' tapi di neraka yang bernama 'rumah'. Rasanya memang ingin untuk mengikuti jejak Itachi untuk kabur dari rumah, hanya saja, keadaan pasti akan semakin sulit nantinya. Dan siapa yang akan melindungi sang ibu jika ayahnya kembali memukuli wanita yang telah mengandungnya selama Sembilan bulan tersebut?

Pikiran si raven kembali ke alam nyata, ketika mencoba mengoleskan salep penyembuh luka di wajah si pemuda tak dikenal itu, hatinya jadi lebih penasaran dengan pemuda yang baru saja ditemukannya.

Sasuke mememperhatikan wajah si 'malaikat' dan menyadari jika sang pemuda yang kini sedang pingsan tersebut memiliki rambut pirang yang begitu cerah, matanya memiliki bulu mata yag sangat lentik dengan warna senada dengan rambutnya, ada seperti garis lurus yang melintang di sekitar pipinya yang membentuk seperti kumis kucing membuatnya nampak imut, dan lagi kulit tan yang manis seperti lelehan caramel. Entah kenapa, Sasuke jadi tersenyum sendiri ketika melihat wajah polos yang nampak tenang itu, sejenak lupa dengan masalah keluarganya. Tangan pucat si onyx membelai surai pirang itu lembut, "Hey, cepatlah bangun… agar aku bisa tahu semua tentang kau, malaikat kecil…"

.

.

.

Mata sebiru langit itu terbuka perlahan, matanya mengerjap beberapa kali, menatap langit-langit kamar yang sama sekali tidak dikenalnya. Kamar itu berwarna cream, dengan fasilitas pribadi yang teramat lengkap, televisi layar plasma, DVD, Laptop, PS3, dan beberapa sound system yang entah untuk apa. Mata birunya menatap kasur berukuran kingsize yang dari entah kapan menjadi alas tidurnya. Yang pasti, ini bukan rumahnya.

"Ugh?" erangnya bingung. "Dimana ini?" lanjut pemuda berumur empat belas tahun itu sedikit heran, sambil membetulkan posisinya menjadi setengah duduk.

Dari arah pintu kamar mandi, terdengar suara langkah kaki perlahan. Pemuda berambut pirang itu refleks mengeratkan genggaman tangannya pada selimut tebal yang sedari tadi melindungi dirinya dari hawa dingin AC. "Si-siapa kau?" ujarnya mencoba memberanikan diri.

Sasuke yang baru selesai mandi, bertelanjang dada dan masih mengeringkan rambutnya dengan sehelai handuk putih jadi menghentikan kegiatannya. "Rupanya kau sudah sadar, bocah." Ujar pemuda raven itu tidak peduli pada pertanyaan si pirang. "Kalau kau penasaran dengan kenapa kau bisa berada di sini, aku semalam menemukanmu pingsan di sebuah gang kecil. Jadi aku membawamu kemari." Ujar Sasuke yang sebenarnya malas menjelaskan situasi.

Si pemuda pirang jadi menunduk penuh rasa bersalah. "Ma-maaf aku sudah merepotkanmu…"

"Hn…" balas Sasuke, mulai mengenakan kaosnya dan berjalan menuju bocah lebih muda tiga tahun itu, kemudian terduduk di pinggir tempat tidur, dekat dengan si pemuda yang tidak dikenalnya. "Dan siapa-Bukan, maksudku mahluk apa kau itu?"

Si pirang entah kenapa jadi sedikit gugup, membuang mukanya untuk menghindari tatapan menusuk dari sang tuan rumah. "Eh? A-apa maksudmu?" balasnya nampak sedikit menghindar, tangan tan-nya yang mungil meremas selimut tebal yang melindunginya sedari tadi.

Sasuke menunjukkan wajah dinginya. "Aku tahu sosokmu yang sebenarnya. Jadi jangan menghindar." Ucap si raven yang pada dasarnya benci basa-basi.

"Kau tahu sosokku yang sebenarnya?" Tanya si pemuda pirang tidak percaya.

Sasuke mengangguk singkat sebagai responnya. "Hn… Kau malaikat atau hanya manusia bersayap?" tanya pemuda bermata onyx itu sambil mengeringkan rambutnya yang masih sedikit basah.

"Namaku Namikaze Naruto. Aku malaikat." Ujar si pirang. "Ini pertama kalinya aku berada di dunia manusia… jadi waktu melakukan pendaratan saat terbang, kepalaku terbentur menara yang ada di tengah kota, namanya…"

"Tokyo tower?" lanjut Sasuke, ketika melihat si pirang sedikit kebingungan mengingat menara yang ditabraknya.

Sang malaikat tersenyum senag. "Iya! Aku terbentur Tokyo tower dan sayapku jadi sulit dikedalikan karena sakit. Setelah itu aku makin terjatuh, hingga kau menemukanku entah dimana itu…." jelasnya sedikit sedih.

Sasuke mengangguk dan bergumam tidak jelas. "Lalu… kenapa kau ke dunia ini?" lanjutnya penasaran. Jujur saja, dirinya sama sekali tidak menyangka menemukan pemuda manis yang seperti malaikat- bukan, maksud Sasuke benar-benar seorang malaikat ketika sedang berjalan-jalan di malam hari.

Naruto tersenyum manis, tangan tan-nya bergerak menyentuh tangan pucat milik si raven. "Aku adalah malaikat yang ditugaskan untuk menolongmu, Sasuke Uchiha." Ujarnya, makin mempererat genggaman tangannya.

Sasuke memunculkan raut tidak percaya. "Maksudmu…?" dadanya berdebar kencang saat pemuda berambut pirang dan bermata secerah langit itu tersenyum, menggenggam tangan Sasuke dangan kedua tangannya yang hangat.

"Tuhan medengarkan semua perkataan hatimu, Sasuke. DIA yang di atas mengerti penderitaanmu selama ini." Ucapnya dengan wajah penuh kejujuran. Jika mau jujur, hati Sasuke seakan mendapat hembusan angin dari taman surga firdaus, bebannya serasa hilang. "Kau sekarang tidak sendirian, Sasuke. Aku ada di sini untuk menolongmu."

"Menolongku?"

.

.

TBC

.

Moshi-moshi, minna-san~! ^o^)/

Ketemu lagi sama Hima! Akhirnya hima bikin pairing S.N lagi setelah sekian lama! #lebe

Ukh… niatnya bikin oneShoot aja, tapi entah kenapa malah jadi TBC, gara-gara kalo hima terusin, pasti jadinya lebih dari 5000 kata. Dan bikin readers bosen… alhasil beginilah jadinya. Kependekkan.

Oke, kali ini hima nggak akan terlalu banyak curcol! Sampai jumpa pada Chapter berikutnya.

.

.

.

Beri review, oke? Cepat atau lambatnya up date tergantung banyaknya review readers. :P #Digampar