.

.

Title: The Rhapsody

Disclaimer: Naruto's not mine. Its Masashi Kishimoto

La Corda D'oro Kure Yuki

Fanfic The Rhapsody Ayuzawa Shia

Pairing: SasuHina, GaaHina

Warning: AU, OOC, crack pair, misstype, dll.

.

Opus 15

Crescendo in the Heart

.

"Music is the social act of communication among people, a gesture of friendship, the strongest there is." – Malcolm Arnold

.

Hinata tengah duduk dengan sedikit gelisah di salah satu meja kedai minuman yang cukup terkenal di lingkungan sekitar Konogaoka Music Academy. Kedua manik cerahnya menyorotkan ketidaknyamanan. Meski begitu, Hinata mencoba untuk tidak menunjukkan kegugupannya.

Beberapa saat yang lalu, Hinata sedang berjalan menuju salah satu toko musik yang terletak di seberang jalan untuk memeriksa biolanya. Sejak kejadian beberapa hari lalu, dimana dawai biolanya tiba-tiba patah, kini Hinata pun rajin mengecekkan kondisi biolanya. Tanpa disangka, Hinata justru bertemu dengan seseorang yang ada dalam urutan teratas dalam daftar orang yang paling tidak ingin ditemui. Inginnya segera berpamitan untuk menghindar, namun Hinata tidak dapat melakukannya karena orang tersebut malah meminta sedikit waktu untuk bicara.

Sehingga disinilah Hinata, duduk di salah satu meja Kedai Kopi Minami, sebuah kedai minuman bernuansa klasik natural yang tetap mempertahankan nuansa minimalis elegan. Interiornya dipenuhi dengan ornamen berwarna kayu dengan paduan beberapa tanaman yang membuat setiap pengunjungnya merasakan kesejukan, kenyamanan serta suasana yang menyenangkan. Sayangnya, Hinata tidak mendapatkan hal tersebut saat ini. Alih-alih kesejukan dan kenyamanan, Hinata justru berada dalam situasi yang canggung. Sangat tidak nyaman. Orang yang duduk di hadapannya memiliki tatapan mata sangat tajam yang membuat siapapun gentar dan mengerut, termasuk Hinata.

"Kau mengerti maksudku, Hyuuga-san?" Belum lagi suara berat dan amat tegas yang baru saja berkata, Hinata semakin merasa kecil. Gadis tersebut benar-benar nampak seperti kelinci yang tengah terpojok.

Hinata hanya sanggup mengangguk sebagai jawabannya. Terlalu banyak pikiran yang berterbangan di benaknya. Beberapa saat yang lalu, lelaki paruh baya bermarga Uchiha di hadapannya menyampaikan maksud dari pertemuan mereka. Tanpa berbasa-basi, Uchiha Fugaku langsung mengatakan inti pembicaraan tersebut.

Aku tidak ingin hubungan kalian mengganggu konsentrasi Sasuke. Dia memiliki kewajiban untuk menjadi juara.

Daripada memikirkan maksud tersembunyi Fugaku yang secara tak langsung ingin hubungan Hinata dengan Sasuke hanya sebatas teman, ada satu hal yang lebih membuat gadis bersurai panjang tersebut tak habis pikir.

Bagaimana mungkin menjadi juara adalah suatu kewajiban? Hinata berpikir dengan sedih. Selama hidupnya yang berada dalam lingkungan keluarga Hyuuga yang cukup konservatif, tidak pernah ayahnya begitu menuntut Hinata untuk memenangkan suatu pertandingan.

Hinata begitu ingin menyerukan pendapatnya, namun ia tak memiliki cukup keberanian. Ia tak pandai berbicara. Hinata takut jika ia membuka mulutnya, yang keluar justru kata-kata yang akan semakin memperkeruh keadaan.

Uchiha Fugaku memiliki aura yang lebih menegangkan bila dibandingkan dengan ayahnya, Hyuuga Hiashi. Kehadirannya begitu mengintimidasi, tutur katanya seakan tak terbantahkan. Sangat tegas, berwibawa dengan kesan sedikit menakutkan. Jika terhadap ayahnya sendiri saja Hinata sering tidak berani menyampaikan pendapatnya, bagaimana mungkin ia bisa menghadapi seorang Tuan Uchiha?

"Kalau kau mengerti ... aku permisi." Fugaku bersuara lagi sembari bangkit berdiri. Sedikit mengangguk pada gadis yang masih terdiam di sana sebagai tanda pamit, pria tersebut kemudian berbalik dan melangkah pergi, keluar dari kedai.

Masih tercenung, Hinata memandang lemah punggung sang Tuan Uchiha yang semakin menjauh. Hatinya kalut, antara ingin mengutarakan segala pendapatnya yang bertentangan, sementara keberaniannya begitu ciut. Hinata ingin menyanggah pernyataan Uchiha Fugaku. Hinata ingin membela Sasuke... ia ingin sedikit membantu pemuda yang dikasihinya tersebut. Tetapi berhadapan langsung dengan ayah Sasuke begitu menyeramkan.

Lalu Hinata teringat beberapa hari lalu, dimana Sasuke tiba-tiba memintanya memainkan musik yang bisa menenangkan hati. Sasuke berkata ada yang mengganggu pikirannya, apakah maksud Sasuke adalah tekanan dari ayahnya? Kemudian, ketika dawai biolanya putus, Sasuke langsung menawarinya untuk memakai biola Stradivarius. Demi apapun, biola tersebut adalah biola sangat langka yang menjadi impian setiap violinis. Dan Sasuke tak berbohong. Dia memang meminjami biola ternama itu pada Hinata.

Semua yang telah dilakukan Sasuke terhadap Hinata muncul kembali satu persatu, bagai potongan memori. Bila diingat-ingat, Sasuke begitu baik padanya. Lalu Hinata tiba-tiba terkenang akan kejadian beberapa bulan lalu, saat awal kompetisi musik. Ketika Hinata masih ragu untuk melanjutkan mimpinya menjadi seorang violinis, Sasuke berada di sana untuk meyakinkannya. Lebih dari itu, Sasuke juga membantu Hinata untuk menghadapi Hyuuga Hiashi yang melarangnya untuk bermain biola, memastikan bahwa Hinata akan baik-baik saja ketika bermain biola. Sasuke bahkan rela meluangkan waktu untuk mengajarinya The Devil's Trill Sonata agar mendapat izin dari Hiashi.

Sekarang ketika ada masalah yang menimpa Sasuke, akankah dia diam saja? Apakah dirinya sepengecut ini hingga menyanggah saja tak mampu? Apakah benar-benar tak ada yang bisa dilakukannya selain menangis dan merenungi nasib? Menggeleng, Hinata memantapkan hatinya. Ini adalah saatnya membalas semua yang dilakukan Sasuke. Ia tidak boleh diam saja. Tidak akan ada yang berubah jika ia tak bergerak.

Maka, Hinata bergegas bangkit dan melangkah terburu-buru untuk menyusul Uchiha Fugaku. Hinata terlalu terburu-buru hingga tas sekolah dan biolanya masih berada di dalam kedai. Begitu berada di luar Kedai Minami, Hinata menengok ke samping kanan kiri, mencari jejak sang Tuan Uchiha. Ketemu! Pria tersebut sedang berjalan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari kedai. Tak mau membuang waktu, Hinata berlari untuk menghampirinya.

"Paman Uchiha!" seru Hinata, hingga sedikit menarik orang yang berlalu-lalang di sekitar sana.

Uchiha Fugaku yang merasa dipanggil pun menghentikan langkahnya, seraya membalikkan badan. Melihat Hinata berlari ke arahnya, pria tersebut mengernyit heran.

"Hn?"

Like father like son. Kini Hinata tahu darimana kata sakral Sasuke berasal. Tapi bukan itu yang harus dipikirkan sekarang!

Hinata berhenti di depan Uchiha Fugaku. Nafasnya terengah, wajahnya pun memucat karena gugup yang tiba-tiba menyerang. Ada sedikit gurat keraguan dan ketakutan di wajahnya, namun Hinata berusaha menutupinya. Menarik napas panjang untuk menetralkan degup jantungnya yang berpacu terlalu cepat, Hinata kemudian mengembuskannya perlahan.

"M-maaf jika s-saya lancang, Paman." Setelah nafasnya mulai teratur, Hinata memulai. "Tetapi... menjadi juara kurang tepat bila dikatakan menjadi s-sebuah kewajiban." Sedikit terbata-bata menjadi ciri khas Hinata bila gadis itu sedang gugup. Wajar saja, secara tak langsung ia sedang berdebat dengan seorang Uchiha yang tak lain adalah ayah kekasihnya.

Fugaku hanya mendengarkan tanpa berkomentar. Lelaki tersebut sedikit menaikkan dagu, menunggu kalimat Hinata selanjutnya.

"Sasuke-kun... bisa memainkan biola dengan sangat luar biasa. Teknik permainannya begitu tinggi, ia memang seorang violin prodigy. Mungkin hanya dalam beberapa tahun lagi, Sasuke akan menjadi virtuoso yang hebat. " Tanpa sadar Hinata tersenyum ketika mengatakannya. Dia membayangkan Sasuke yang terlihat begitu mempesona saat memainkan biola, seperti saat hari pertama kepindahannya ke Konogaoka. Lalu, Hinata memejamkan matanya sejenak, mempersiapkan diri untuk apa yang selanjutnya meluncur dari bibirnya. Membuka kelopak matanya, kedua iris lavendernya menatap kedua manik kelam milik Uchiha Fugaku dengan berani.

"Tetapi... apakah Anda tidak berpikir... bahwa yang terpenting dalam bermusik bukanlah menjadi juara, namun menikmati perasaan cinta terhadap musik itu sendiri?" tanya Hinata dengan nada tegas, tanpa terbata-bata.

"Kenikmatan bagi Uchiha adalah ketika meraih kemenangan." Sahut Fugaku tanpa jeda waktu yang lama. Sepertinya kalimat yang diucapkan Hinata tak berpengaruh apapun padanya.

Tidak menyerah, Hinata berujar lagi, "Ketika melihat Sasuke-kun memainkan biola, saya tidak bisa melihat kesenangan yang seharusnya dirasakan oleh pecinta biola. Bahkan ketika Sasuke-kun menjadi pemenang seleksi pertama, ia tidak terlihat terlalu bahagia. Menjadi pemenang, bukankah seharusnya seorang pemain musik memiliki teknik yang baik, serta mampu menyampaikan kecintaannya pada instrumen musiknya?"

Fugaku tak menjawab, namun raut wajahnya sedikit berubah. Tampaknya ucapan Hinata telah mengena di hati dingin pria tersebut.

Hinata memandang ke atas, langit musim dingin yang putih. "Ibu selalu mengajarkan, yang harus saya pikirkan pertama kali saat bermain biola adalah sampaikan perasaan cintamu, sehingga orang yang mendengar mampu merasakannya. Setelah itu barulah memikirkan teknik yang tinggi." Ungkap Hinata penuh kesedihan ketika membayangkan ibunya yang telah tiada. Sedetik kemudian, gadis itu kembali menatap Fugaku dan berkata lagi. "Yang terpenting... adalah kenikmatan karena kita bisa memainkan biola, memperdengarkannya, membuat yang mendengarkan ikut merasakan kecintaan kita terhadap biola."

"Semua orang menanggung beban di pundaknya agar bisa berhasil. Mau tidak mau, kalian telah memasuki dunia kompetisi dimana hanya ada menang dan kalah. Pemenang hanya satu, sementara lainnya adalah orang-orang yang kalah." Fugaku masih bersikeras akan pendiriannya. Bahkan, suaranya terdengar semakin meninggi. "Dunia yang kalian masuki, adalah dunia dimana kalian bersaing untuk menjadi yang terhebat. Untuk mendapat gelar prodigy, bahkan virtuoso, itu artinya kalian harus mengalahkan banyak orang. Sadarlah akan hal itu, Nona Muda!"

Hinata sedikit tersentak, namun ia tak menyerah. "Tapi... tapi... b-bagaimana jika beban tersebut terlalu berat hingga malah berpengaruh pada musiknya, dalam hal negatif?"

Kini aura pada wajah lelaki paruh baya tersebut menggelap. Apa yang barusaja gadis itu katakan? Permainan Sasuke menjadi terpengaruh karena tekanan darinya? Yang benar saja, pikir Fugaku. Dilahirkan dalam keluarga Uchiha, sudah seharusnya Sasuke tahu apa yang dipikulnya.

"Kau tidak akan mengerti karena kau seorang Hyuuga."

Dengan setengah berteriak, Hinata membalas lagi. "Ini tidak ada hubungannya dengan Uchiha atau Hyuuga atau siapapun marganya! Apa Anda benar-benar tidak peduli pada kebahagian Sasuke?!" Hinata tak peduli apabila harus menjadi tontonan layaknya drama-drama di televisi. Ini satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk menolong Sasuke. Hinata hanya ingin membantu pemuda tersebut. Sementara ayah Sasuke benar-benar orang yang keras dan berhati dingin.

Membungkukkan badannya sembilanpuluh derajat, Hinata pun mengutarakan apa yang ada di pikirannya."S-saya mohon... izinkan Sasuke memainkan biolanya tanpa beban yang terlalu berat... dan dengarkanlah musik Sasuke yang sesungguhnya."

Hening diantara keduanya selama beberapa saat. Hinata tetap membungkuk dalam, sedangkan Fugaku tetap memasang posisi angkuhnya. Entah apa yang dipikirkan lelaki tersebut, namun dahinya terlihat berkerut. Ia nampak memikirkan sesuatu dengan begitu serius. Setelahnya, Fugaku menghela napas.

"Selamat tinggal, Hyuuga-san."

Dan pria itupun segera berlalu, berjalan menjauh lalu masuk ke dalam mobilnya. Sementara Hinata yang masih tetap membungkuk, ada setitik airmata yang terbentuk di pelupuk matanya. Ia tidak tahu usahanya berhasil atau tidak. Dalam hati, Hinata hanya bisa berdoa pada Kami-sama, agar kerasnya hati sang Tuan Uchiha segera tercairkan.

.

.

The Rhapsody

.

.

Dua hari menjelang kompetisi final.

Keenam peserta kompetisi sedang berkumpul di aula sekolah, tempat diadakannya pertunjukan final. Mereka sedang menjalani rehearsal untuk penampilan ansambel. Dentingan piano yang dibunyikan oleh Sasuke, gesekan biola Hinata yang lembut namun menghasilkan suara jernih, serta melodi yang harmoni dari saksofone Naruto, flute milik Sai, klarinet Tenten dan cello yang dimainkan Shikamaru. Keenam alat musik berbeda itu menghasilkan musik yang sangat harmoni, membentuk simfoni yang begitu indah nan merdu.

Semua berjalan dengan lancar. Permainan semakin harmonis, tidak hanya secara teknis. Mereka bisa merasakan itu. Permainan mereka mendekati sempurna karena mereka menyatu dari hati. Persahabatan yang mereka bina sejak kompetisi dimulai, kini semakin erat.

Bahkan Kakashi maupun Kurenai sampai tidak bisa berhenti tersenyum sejak tadi. Mereka puas dengan hasil latihan selama ini. Meski waktu latihan hanya sedikit, namun murid-muridnya tersebut bisa menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Tidak salah lagi, mereka memang merupakan unggulan dari disiplin kelas musik masing-masing.

Begitu musik berhenti, Kakashi melangkah dan berhenti di tengah panggung, menghadap keenam anak didiknya. Ia memandangi satu persatu muridnya. Dengan sebuah buku partitur di satu tangan, sementara tangan lain bersembunyi di balik saku, Kakashi tersenyum.

"Kalian telah berusaha dengan sangat baik," lelaki dengan rambut keperakan tersebut memulai kalimatnya. "Aku berharap penampilan kalian besok akan semaksimal sekarang. Ansambel ini juga akan menjadi bagian penilaian juri. Meski begitu, tetaplah bermain tanpa banyak beban. Mengerti?"

"Hai' Sensei..." jawaban serempak terdengar kemudian.

Kakashi kemudian memeriksa waktu melalui jam tangan yang dikenakannya. Belum menunjukkan tengah hari, namun ia merasa akan lebih baik menyudahi latihan sekarang. Murid-muridnya membutuhkan istirahat yang cukup untuk mempersiapkan seleksi final. Hari ini adalah hari terakhir gladiresik, dan besok merupakan hari tenang bagi pesera concour. Kebetulan seleksi final diadakan pada hari Minggu, sementara untuk hari Sabtu sendiri tidak banyak kegiatan di sekolah, sehingga mereka diperbolehkan libur.

"Baiklah. Kurasa ini cukup. Sekarang, kemasi barang kalian dan pastikan langsung pulang ke rumah. Istirahat dengan baik, dan... kita akan bertemu dua hari lagi di final."

Tepat setelah menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja pintu utama aula dibuka oleh seseorang dengan gerakan terburu-buru, hingga menimbulkan bunyi berdebam.

Semua menoleh, penasaran akan siapa gerangan yang telah menimbulkan kegaduhan.

"Latihan belum selesai, kan?!"

Ada di sana, di balik pintu besar yang terbuka, muncullah seorang pemuda yang membuat hampir semua orang di dalam aula terkesiap kaget. Dengan peluh yang begitu kentara di dahi serta nafas yang memburu, pemuda tersebut seakan ingin mengejar waktu.

Perhatian semua orang kini terfokus pada sosok yang baru saja hadir. Ekspresi yang ditunjukkan semua orang menyiratkan keterkejutan, penuh dengan tanda tanya, kecuali dua orang.

Hatake Kakashi serta Uchiha Sasuke.

"Kau membuatku berlatih dua kali, baka-kouhai," Gumam Sasuke memecah keheningan disertai dengan seringai kecil di wajahnya. Bukan seringaian yang khas dengan cibiran. Bila diperhatikan lebih jelas, raut wajah Sasuke justru menunjukkan kelegaan.

Gaara tersenyum mendengar kalimat tersebut. "Maafkan aku, Senpai," balasnya sambil sedikit membungkuk sebagai tanda permintaan maaf.

"Gaara?!" Naruto, pemuda aktif itu akhirnya tersadar dari keterkejutannya. Ia masih tak percaya, jika adik kelasnya yang mengundurkan diri dari concour tiba-tiba kembali ke hadapan mereka semua.

Gaara mengalihkan pandangannya ke arah Naruto, kemudian menjawab, "Naruto, apa kabar?"

Sementara itu, peserta concour yang lain memiliki ekspresi yang tak jauh berbeda. Terkejut, heran serta penasaran begitu kentara di air muka masing-masing. Namun, tak ada yang menunjukkan ketidaksukaan akan kehadiran Gaara. Mereka hanya terlalu terkejut.

"Selamat datang kembali, Gaara." Ini adalah kalimat yang dilontarkan oleh Kakashi. Sebagai orang paling dewasa di ruangan ini, Kakashi berusaha untuk mengendalikan keadaan. Lelaki tersebut lalu menyuruh Gaara untuk menggantikan tempatnya, berdiri di tengah panggung. "Jelaskan pada teman-temanmu apa yang sebenarnya terjadi."

Gaara pun segera beranjak, memasuki ruangan hall lebih dalam, menaiki tangga kemudian berdiri di depan teman-temannya yang masih setia menatapnya dengan berbagai pandangan.

"Pertama... aku minta maaf karena telah membuat semuanya terkejut. Ini sesuatu yang terjadi tanpa ada kepastian." Gaara memulai penjelasannya, meminta pengertian.

"Aku minta maaf karena ini mendadak. Aku hanya tidak berani berharap tanganku akan pulih sebelum seleksi final." Gaara menghela napas sejenak, kemudian melanjutkan, "dan ketika aku benar-benar dinyatakan bisa mulai bermain piano lagi, aku langsung terbang kesini. Aku tidak sempat memberitahukannya pada kalian satu-persatu. Jadi, hanya Kakashi-sensei yang kukabari."

Beberapa orang terlihat mengangguk mengerti, sedangkan Sasuke terlihat menyunggingkan senyuman kasat mata. Tentu saja ia tahu Gaara akan datang meski tidak dikabari. Dialah yang mengantarkan Gaara ke bandara, dan firasatnya begitu yakin jika partner duetnya akan sembuh. Shikamaru hanya memasang wajah datar seperti biasa. Bukan karena tak senang, tidak. Hanya saja, Shikamaru sudah tahu kabar kedatangan Gaara pagi ini dari Temari.

"Jadi, bolehkan aku bergabung dengan ansambel ini lagi?" Gaara mengucapkan pertanyaannya dengan hati-hati.

Naruto langsung maju dan menghampiri Gaara, merangkul juniornya tersebut sampai Gaara hampir kehilangan keseimbangannya. "Tentu saja! Kau pikir kau ini siapa, hah?" ujar Naruto dengan ceria. Sedangkan yang lain terlihat mengangguk.

Gaara tersenyum lega, sambil menggumamkan terima kasih atas pengertian teman-temannya. Kemudian, Sai dan Tenten pun menghampiri Gaara. Namun, sejak tadi ada seseorang yang hanya diam tak bersuara. Seorang gadis yang masih memegangi sebuah biola.

Hinata.

Hinata terlalu terkejut. Ia tak menyangka Gaara bisa sembuh menjelang seleksi final. Sangat senang rasanya melihat Gaara yang sudah sehat. Perasaan bersalah yang masih saja menggelayuti hatinya pun seakan terangkat pergi. Hinata benar-benar senang. Namun, ada satu hal yang sedikit mengganggu pikirannya.

Kenapa Gaara terlihat begitu akrab dengan Sasuke? Sejak kapan hubungan mereka sedekat itu?

"Berarti kita harus merubah posisi biola? Karena sekarang otomatis Sasuke akan kembali memainkan biola?" sebuah pertanyaan yang membuyarkan Hinata dari lamunannya. Pertanyaan itu disuarakan oleh Sai. Kini setelah Gaara kembali, tentu saja pemuda tersebut akan mengisi posisi piano yang menjadi vital suatu ansambel. Lantas bagaimana dengan Sasuke? Karena pada awalnya, Sasuke memainkan posisi biola pertama dan Hinata sebagai biola kedua.

Sasuke yang mendengar namanya disebut pun angkat bicara, menyahut. "Tidak perlu. Hinata akan tetap sebagai lead violin. Aku yang akan menempati second violin dan menyesuaikan."

"Apa itu mudah? Kita juga harus menyesuaikan gaya permainan kita dengan piano Gaara." Kini giliran Tenten yang berbicara.

"Aku sudah memberikan rekaman saat kita latihan pada Gaara," jawab Kakashi yang menatap Sasuke dan Gaara secara bergantian. "Dia telah mempelajarinya sehingga akan lebih mudah adaptasi. Kalian tetap bermain sesuai sebelumnya. Biar Sasuke dan Gaara yang menyesuaikan permainan kalian."

Penjelasan dari Kakashi membuat murid-muridnya mengangguk paham. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun berbeda dengan Hinata yang masih tampak gusar.

"Apa..." Meski diucapkan dengan pelan, namun perkataan Hinata tetap membuat berpasang-pasang mata menatap ke arahnya. "Apa ini tidak membebani Sasuke-kun dan Gaara? Maksudku, mereka juga harus berlatih untuk penampilan duet serta solo, kan? Rasanya, tidak adil bila mereka harus menyesuaikan sementara kami tidak."

Kakashi tampak berpikir. "Jadi?"

"Kita bisa memainkannya seperti saat training camp. Bukankah saat itu kita sudah bermain cukup bagus? Dan Sasuke-kun tetap akan menjadi biola pertama. Aku juga tinggal memainkan apa yang sudah kupelajari saat training camp. Kupikir itu tidak akan sulit."

Kakashi mengalihkan pandangan ke arah Sasuke, meminta pendapat pada yang bersangkutan. "Bagaimana?"

Sasuke menoleh pada Hinata, seakan ingin menegur gadis itu karena sifatnya yang terlalu baik hati. Sasuke adalah orang yang begitu mendukung kembalinya Gaara, jadi ia merasa harus bertanggung jawab. Ia tidak ingin merepotkan teman-temannya yang lain, apalagi Hinata.

Sasuke barusaja akan menolak, namun melihat wajah memohon yang tanpa sadar Hinata pasang membuat pertahanan pemuda itu runtuh. Akhirnya dengan sedikit tak rela, Sasuke mengiyakan.

"Begitu juga bisa."

Acara pandang-pandangan itu tak luput dari penglihatan Gaara, membuatnya merasa sedikit sesak. Namun Gaara segera menepisnya. Bukan saatnya rasa cemburu menjadi hambatan dalam musik.

Setelah semua setuju, maka latihanpun dimulai lagi. Mereka kembali pada tempat duduk masing-masing, kecuali untuk Gaara dan Sasuke tentunya. Meski tidak jadi pulang, namun tak ada yang menyuarakan keberatan. Bahkan Shikamaru pun tak terlihat menggumamkan 'mendokusei' seperti biasanya.

Sementara itu, suasana latihan kali ini terasa berbeda. Lebih ceria dan hangat, Kakashi serta Kurenai sebagai penonton bisa merasakan itu.

Perlahan namun pasti, Symphoni no.2 mengalun memenuhi ruangan hall yang begitu luas. Pada akhirnya, ketujuh musisi muda tersebut bisa memainkan gubahan karya Rachmaninoff dengan lengkap.

Diawali oleh tujuh orang... mereka juga harus mengakhiri concour yang begitu berarti ini sebagai tujuh orang pula. Begitulah seharusnya.

.

.

The Rhapsody

.

.

"Kenapa tidak cerita padaku?"

Suara yang seakan tertahan itu membuat Gaara semakin tak enak hati. Sungguh. Gaara sama sekali tidak berniat ingin menyembunyikan kesembuhannya dari Hinata. Apalagi gadis tersebut telah mengalami hal tak mengenakkan karena rasa bersalah. Hinata juga beberapa waktu lalu telah banyak membantu Gaara melewati masa-masa sulitnya.

Mereka berada di dalam aula. Keduanya memilih tinggal sebentar karena merasa perlu ada yang dibicarakan. Bahkan Sasuke pun tak bertanya lebih jauh saat menyadari baik Hinata maupun Gaara belum beranjak dari tempat duduknya. Meski begitu, Hinata tetap memberi isyarat mata pada Sasuke untuk meminta pengertian.

Kini, Hinata masih duduk di sebuah bangku yang tadi mereka gunakan untuk latihan, sementara Gaara tengah berdiri sambil meneliti nada-nada tuts piano yang akan digunakannya saat final nanti. Melirik sebentar ke arah Hinata, Gaara menghela napas.

"Maaf," ujarnya dengan nada menyesal.

Hanya dua orang yang mengetahui kesembuhan Gaara, yaitu Kakashi dan Sasuke. Tentu saja, sebagai penanggung jawab Kompetisi Musik Konogaoka, Gaara harus menceritakan kondisinya pada Kakashi. Awalnya Gaara pesimis jika Kakashi akan menolaknya mengikuti ansambel, karena tentu saja akan mengubah sedikit banyak latihan yang telah dijalani teman-temannya selama ini. Namun ternyata Kakashi begitu antusias dan justru mendukung Gaara.

'Kalian memulainya bertujuh. Jadi, kalian harus mengakhirinya bertujuh pula.'

Kalimat itu yang dikatakan Kakashi ketika Gaara meminta izin. Sementara ia baru dinyatakan sembuh kemarin, hari ini Gaara langsung terbang ke Konoha. Mendadak dan terburu-buru, hingga ia hanya bisa mengabari Kakashi dan Sasuke selaku partner duetnya.

"Aku hanya tidak ingin mengganggu latihanmu, Hinata," tambah Gaara. Pemuda itu kemudian melangkah pelan mengelilingi grand piano yang masih terbuka, menyentuhnya penuh perasaan. Sentuhannya begitu lembut, seakan-akan benda berwarna hitam itu adalah yang paling berharga di dunia.

Hinata memperhatikan kelakuan Gaara dalam diam. Ia mengerti bila Gaara sangat merindukan piano. Dulu ketika ayahnya melarang Hinata bermain biola, Hinata juga sangat tersiksa.

Gaara tiba-tiba berhenti saat sampai di depan Hinata, lalu menatap sang gadis yang rambut biru keunguannya diikat rendah. "Lagipula, bukankah ini kejutan yang menyenangkan? Apa kau senang? Atau kau justru kesal karena sainganmu bertambah?"

Pandangan menuduh main-main yang dilayangkan Gaara membuat dahi Hinata berkerut. Sejak kapan Gaara jadi banyak bicara dan suka menggoda begini? Pikirnya keheranan. Tapi mungkin hal itu karena efek bahagia yang dirasakan oleh Gaara.

"Tentu saja aku senang!" buru-buru Hinata membalas, lalu melihat ke arah lain. Jarak mereka terlalu dekat, dan Hinata tidak menginginkan ini.

Gaara lalu menduduki bangku yang ada di sebelah Hinata, yang sebelumnya digunakan oleh Shikamaru. Pemuda itu memerhatikan sekeliling ruangan, menyadari betapa besarnya hall yang dimiliki sekolahnya. Tentu saja, karena Akademi Musik Konogaoka adalah salah satu sekolah musik terbaik di kota ini.

"Jadi, kalian akan tetap berduet? Bagaimana dengan latihannya?" tanya Hinata lagi. Hinata nampak begitu penasaran, bercampur sedikit cemas jika nanti penampilan mereka ketika penampilan tunggal tidak akan maksimal. Meskipun setiap kategori baik solo maupun duet akan dinilai seperti seleksi kedua, tapi tetap saja yang paling menentukan kemenangan adalah seleksi permainan tunggal.

"Hm. Kami tidak membutuhkan begitu banyak latihan untuk penampilan duet, toh ketika training camp sudah banyak berlatih." Gaara menyahut dengan begitu enteng. Tapi tetap saja memunculkan keraguan di pikiran Hinata.

"Aaa... tapi, bukankah permainan kalian tidak akan sempurna? Biasanya kalian berdua begitu perfeksionis..." Hinata bertanya hati-hati. Tapi itu memang benar. Hinata tahu pasti jika baik Sasuke ataupun Gaara begitu perfeksionis. Mereka tidak suka bila tampil tanpa persiapan yang matang. Hinata bisa menyadari sifat keduanya ketika berlatih kolaborasi antara dirinya dengan dua pemuda tersebut di seleksi kedua lalu.

Gaara tertawa kecil. Aah... entah mengapa akhir-akhir ini ia banyak tertawa. Mungkin karena banyak hal baik yang terjadi?

"Aku jenius dalam berpiano, sedangkan Sasuke jenius dalam bermain biola. Tidak masalah dengan intensitas latihan, kami berdua akan tetap bermain hebat." Lagi-lagi, Gaara mengatakannya tanpa beban.

Dan Hinata sekali lagi mengernyit. Apa yang barusaja adik kelasnya itu katakan? Apakah dirinya tidak salah dengar? Seorang Gaara sedang membanggakan dirinya, sekaligus memuji Sasuke meskipun tersirat?

Seperti tahu apa yang ada di kepala cantik Hinata saat ini, Gaara menyeringai dengan jenaka. "Bercanda!" sambungnya.

Hinata menggembungkan pipinya tidak suka. Jadi ia barusaja dikerjai?

"Setelah ini aku akan berlatih bersama Sasuke. Tenang saja." Gaara berdiri, menuju bangku piano, lalu mulai memasukkan beberapa buku partitur yang berada di atas piano tersebut ke dalam tasnya.

"Bisa berada di sini dan bermain bersama kalian saja, itu sudah cukup bagiku," gumamnya dengan suara lebih pelan dari sebelumnya. Gaara sejujurnya merasa malu karena tidak dapat menahan diri dari sifat melankolisnya. Tapi, memang itulah yang Gaara rasakan. Ia belum pernah memiliki teman-teman setulus sekarang. Jadi, Gaara benar-benar memberi apresiasi yang tinggi pada rekan-rekan concour-nya tersebut.

Hinata tersenyum mendengar penuturan Gaara. "Aku akan mendoakan yang terbaik untuk kita semua."

"Jadi..." Gaara tiba-tiba kembali pada dirinya yang serius. "... kau harus tetap menggantikanku untuk juara. Mengerti?"

Hinata tampak berpikir dengan ibu jari serta telunjuk yang diletakkan di dagu. Melirik ke arah Gaara yang sedang menunggu jawabannya, Hinata malah menggeleng. "Tidak. Aku tidak akan menggantikan siapapun. Tapi, aku juga akan mengalahkanmu. Aku akan mengalahkan Sasuke-kun, Naruto-kun, Shikamaru-senpai, Sai-senpai dan Tenten-chan."

Tertarik akan jawaban Hinata, Gaara menaruh tas ranselnya begitu saja di lantai. Bergerak mendekati Hinata, ia bahkan membungkuk dengan kedua tangan yang bertumpu pada pahanya. "Apa akhirnya kau berambisi untuk menang juga, Hinata?"

Sembari mengangkat bahu, Hinata menyahut, "Entahlah. Hanya saja, aku sadar bahwa aku harus mengeluarkan seluruh kemampuan bermusikku di final nanti."

Hinata berkata jujur. Ia tidak bohong. Melihat bagaimana perjuangan teman-temannya, khususnya Sasuke dan Gaara, membuat gadis itu sadar bahwa semua orang mengerahkan seluruh kemampuan mereka. Dirinya yang tadinya bekerja keras karena janjinya dengan Gaara, kini tidak lagi. Bukan hanya demi Gaara, tapi juga demi semua orang yang telah membantunya. Oleh karena itu, Hinata memutuskan benar-benar akan melakukan yang terbaik.

"Itu bagus." Gaara mengangguk setuju.

Merasa jika pembicaraan sudah cukup, Hinata lalu beranjak dari duduknya, serta mengemasi biolanya. "Kalau begitu... aku pamit dulu."

"Biar aku mengantarmu sampai halte, Hinata." Gaara ikut beranjak, namun Hinata dengan cepat menggoyangkan tangannya, menahan gerakan Sabaku muda tersebut.

"Tidak perlu... aku sudah dijemput oleh Neji-nii, kok. Terimakasih tawarannya."

"Oh..." Gaara bergumam pelan. Jika Hinata sudah berkata begitu, ia tidak mungkin bisa menyanggah. Meski sebenarnya Gaara sangat ingin bersama dengan Hinata lebih lama lagi. "Baiklah jika begitu."

"Sampai jumpa."

Dengan senyuman manis dan lambaian tangan, Hinata pun melangkah pergi, meninggalkan Gaara sendirian yang masih mengamati gadis tersebut hingga menghilang di balik pintu.

.

.

The Rhapsody

.

.

Hinata berjalan dengan langkah begitu ringan. Tiba-tiba saja, ia merasa sesuatu yang mengganjal di hatinya telah hilang. Sesuatu itu adalah perasaan bersalah dan penyesalan mendalam karena Gaara tidak dapat mengikuti seleksi final gara-gara dirinya. Tapi kenyataan bahwa Gaara telah sembuh dan akan kembali mengikuti concour, membuat Hinata begitu senang.

Tidak dapat menyembunyikan lebih lama lagi akan perasaan gembira yang membuncah di hatinya, Hinata menghentikan langkahnya. Ia sedang berada di halaman sekolah, dimana pohon-pohon masih berwarna putih karena salju. Hinata sangat menyukai musim salju. Ia lahir di musim ini, yang artinya beberapa hari lagi dirinya akan genap berusia tujuhbelas tahun. Namun musim dingin kali ini tidak bisa Hinata nikmati sepenuhnya. Terlalu banyak hal yang terjadi sehingga membuatnya banyak pikiran.

Oleh karena itu, kini setelah satu masalahnya selesai, Hinata ingin sedikit menikmati suasana musim dingin. Maka, Hinata mengedarkan kedua manik lavendernya, merekam keindahan pemandangan sekolah ke dalam ingatannya. Setelah itu, Hinata menengadah, memandang langit. Ia juga memejamkan mata. Ini benar-benar menyenangkan, pikirnya.

Sekarang, ia tak lagi memiliki beban berat untuk maju ke final. Meski ia masih khawatir akan kondisi Sasuke yang tertekan, tapi setidaknya Hinata telah mencoba berbicara dengan Uchiha Fugaku. Hinata hanya bisa berdoa agar ayah Sasuke segera sadar.

Tiba-tiba, Hinata merasakan ponsel yang disimpannya di dalam saku mantel bulunya bergetar. Gadis itu pun segera membuka kelopak matanya. Tangannya bergerak untuk mengeluarkan ponselnya yang berkedip-kedip. Membuka kunci layar, rupanya sebuah pesan elektronik masuk.

Dari: Sasuke-kun

Jangan bereaksi berlebihan di tengah cuaca dingin begini. Cepat masuk ke mobil kakakmu. Dia sudah menunggu di depan gerbang.

Eh?

Bagaimana Sasuke-kun bisa tahu?

Hinata terkesiap. Ia sontak menoleh, melayangkan pandangan ke kanan dan kiri. Apa pemuda itu sedang bersembunyi di suatu tempat? Tapi dimana dia? Hinata tidak bisa menemukannya.

Pipi Hinata memerah. Ia malu. Jadi Sasuke memerhatikannya? Sekarang Sasuke melihatnya tapi Hinata tidak bisa melihat pemuda itu? Bagaimana mungkin pemuda tersebut melanggar perkataannya sendiri yang tidak akan menghubunginya hingga kompetisi usai?

Dari: Sasuke-kun

Jangan mencariku. Cepat pulang dan istirahat. Sampai jumpa dua hari lagi, sebagai rival.

Hinata tersenyum. Selalu saja menyebut rival, tapi tetap peduli padanya. Namun, Hinata tidak dapat mencegah perasaan hangat yang menjalar di hatinya. Selanjutnya, ia pun melanjutkan langkahnya menuju ke tempat kakaknya telah menunggu, setelah mengetik balasan untuk pemuda Uchiha tersebut.

Untuk : Sasuke-kun

Baik, aku akan pulang. Sasuke-kun juga... jaga kesehatan dan jangan terlalu banyak pikiran. Sampai jumpa, saingan terberatku.

.

.

The Rhapsody

.

.

"Dia mencarimu." Gaara berujar dengan nada tak suka, membuat Sasuke yang berdiri di sampingnya terkekeh mencibir.

Mereka berdua sedang berada di ruang musik paling ujung dengan jendela kaca yang besar, sehingga bisa melihat langsung ke halaman sekolah. Mereka berdua masih harus berlatih untuk terakhir kalinya sebagai pasangan duet. Tapi rupanya, perhatian mereka teralihkan ketika tak sengaja Sasuke menangkap bayangan Hinata yang sedang melewati halaman sekolah. Gaara, yang penasaran tentang hal yang membuat Sasuke tak menggubris panggilannya, ikut bergabung untuk melihat. Sesuatu yang Gaara sesali sebenarnya, karena ia sadar posisinya berada dimana. Ia hanya sekedar kouhai bagi Hinata, sedangkan Sasuke adalah pacar gadis itu.

Namun ketika akan berbalik, gerak-gerik Hinata yang terlihat begitu bahagia tak luput dari pandangan baik Sasuke maupun Gaara. Hal yang membuat kedua pemuda pendiam tersebut sempat tertegun.

Ada sebersit perasaan senang karena melihat senyum lega Hinata untuk pertama kalinya sejak kejadian malang saat training camp, dan itu membuat Gaara senang. Sasuke yang menyadari perilaku rivalnya dalam bermusik maupun romansa, merasa tidak bisa tinggal diam. Tiba-tiba saja tanpa berpikir panjang Sasuke segera mengetikkan sebaris kalimat untuk Hinata melalui ponsel pintarnya.

Dan bingo! Reaksi Hinata benar-benar seperti apa yang dibayangkan oleh kepala Sasuke. Pemuda itupun menyeringai puas. Ia merasa harus menunjukkan pada Gaara jika dirinya memiliki hubungan spesial dengan gadis bersurai indigo panjang tersebut.

"Sudah kubilang, kan? Hanya aku yang bisa membuatnya merona seperti itu. Bahkan ketika dia tak bisa melihatku." Sasuke begitu percaya diri, membuat Gaara meliriknya dengan kesal.

"Terserahlah." Jawab Gaara acuh tak acuh kemudian, sambil berjalan menjauhi jendela dan kembali duduk di bangku piano.

Jawaban sewot dari Gaara tak membuat Sasuke merasa tak enak. Yang ada, pemuda itu malah tambah memanas-manasi sang pianis.

"Dan ingat, tadi itu terakhir kali aku membiarkan kau berduaan dengan pacarku."

Menghela napas berat sekali lagi, Gaara memutar badannya hingga menghadap ke arah Sasuke. "Kau mungkin memang bisa memenangkan hati Hinata. Tapi..." Gaara berhenti sejenak, suaranya begitu serius. "... untuk kompetisi ini, aku yang akan memenangkannya, Sasuke."

Sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku, Sasuke membalas. "Hn. Kita lihat, siapa yang akan menang. Biola... atau piano."

Keduanya saling berpandangan layaknya rival selama beberapa waktu, hingga Gaara tiba-tiba terkekeh.

"Tapi, bukankah akan sangat lucu jika hasilnya seperti seleksi kedua?"

Mata Sasuke menyipit, namun saat menyadari maksud ucapan Gaara, pemuda itupun ikut mengulaskan sedikit senyum. "Hinata..." gumamnya.

Sasuke berbalik lagi, menatap dalam diam ke arah halaman yang kini kosong.

Kali ini, aku akan memainkan biolaku sepertimu, Hinata. Mencurahkan kecintaanku pada biola, aku akan melakukannya sepertimu.

.

.

The Rhapsody

.

.

D-day —Final Intraschool Music Competition.

Apartemen Keluarga Sabaku.

Pagi yang begitu cerah meskipun puncak musim dingin baru saja akan mulai. Matahari yang bersinar dengan malu-malu, seolah menjadi penawar segala yang memerlukan kehangatan karena guyuran salju semalam. Setiap sudut kota dipenuhi gundukan salju yang mulai meleleh seiring suhu yang semakin naik. Orang-orang pun telah bersemangat untuk memulai aktivitas sehari-hari. Begitu pula yang tengah terjadi di salah satu ruangan apartemen dimana Gaara beserta kedua saudaranya tinggal. Kondisi apartemen yang biasanya sedikit sepi, kini begitu berbeda.

Penghuni ruangan tersebut tidak lagi hanya tiga orang, melainkan menjadi lima orang. Sang kepala keluarga Sabaku beserta istri tercintanya juga berada di sana. Mereka berdua tiba di Konoha semalam, yang tentunya cukup mengagetkan ketiga putra-putrinya. Pasalnya, pekerjaan kedua orang tersebut bisa dibilang tak ada hentinya.

Namun tentu saja Sabaku Rei ingin menebus kesalahannya pada Gaara. Putra bungsunya itu akan bertanding hari ini. Ia ingin melihat kehebatan putranya dalam bermain piano, karena diam-diam sebenarnya sang Tuan Sabaku sering mengamati Gaara ketika berpiano.

Dan itulah penyebab utama bagaimana ruangan apartemen yang biasanya hanya berisi perseteruan Temari serta Kankurou, kini semakin ramai. Sang Nyonya Sabaku, begitu antusias mempersiapkan segalanya. Ia terlihat begitu repot. Bahkan sejak pagi buta, Sabaku Karura sudah membangunkan semua orang untuk ikut membantu persiapan Gaara.

Nyonya Sabaku telah menyiapkan pakaian yang sangat khusus untuk Gaara. Memesan pakaian concour dari desainer ternama di Jepang, memastikan bahwa bahan yang dipakai tidak membuat Gaara gerah. Tak lupa juga ibu dari tiga putra-putri tersebut meminta pakaian dengan bahan ringan yang tak menyulitkan Gaara untuk menggerakkan tangannya. Ini adalah hari yang sangat spesial, sehingga Karura akan memastikan Gaara memakai pakaian terbaiknya.

Sementara Gaara, sudah tak terhitung berapa kali pemuda tersebut menghela napas. Gaara benar-benar tak meyangka ibunya akan menjadi sangat berlebihan seperti sekarang. Sibuk kesana-kemari, meneliti hal-hal detail yang bahkan tidak Gaara pikirkan sebelumnya. Meski begitu, Gaara senang-senang saja mendapat perhatian dari ibunya. Sebelumnya, ia harus menyiapkan semua persiapan seleksi sendiri.

Saat ini, Karura sedang memilih dasi yang pas untuk Gaara. Entah bagaimana cara mendapatkannya, yang Gaara tahu kotak berisi selusin dasi sudah ada di atas meja sejak pagi.

"Ibu, aku akan terlihat tampan memakai apa saja. Jadi tolong, hentikan," pinta Gaara dengan nada datar.

Semua orang yang ada disana langsung memusatkan perhatian pada Gaara. Temari menaikkan sebelah alisnya, sedikit meragukan telinganya. Apa benar-benar Gaara yang mengucapkan kalimat barusan? Sejak kapan Gaara begitu narsis?

Lain temari, lain Kankurou. Lelaki tersebut menghembuskan napas dengan keras, jengkel. Kalimat yang barusaja Gaara katakan membuat Kankurou tersadar sekaligus tertohok. Mama Karura tidak pernah serepot ini bila ia akan menghadiri acara penting. Ia tahu Gaara memang sedikit lebih tampan darinya —menurut pikiran Kankurou—, tapi tetap saja hal itu membuat Kankurou mengerucutkan bibirnya.

Penampilan Gaara kali ini memang semakin menonjolkan ketampanannya. Ada kemeja putih yang melekat di tubuhnya, dipadu dengan celana warna hitam. Saat memakainya, Gaara tahu bajunya pasti sangat mahal. Rasanya benar-benar berbeda dari kemeja-kemeja yang ia punya.

Tapi tentu sang ibu tidak akan puas bila putra tampannya hanya memakai kemeja. Karura telah menyiapkan fitted tuxedo berwarna burgundy untuk Gaara pakai. Meski pas badan, namun Karura memastikan Gaara tetap nyaman untuk bergerak.

Masalah muncul ketika Karura bingung memadukan dasi kupu-kupu yang akan Gaara kenakan. Antara warna senada dengan tuksedo yaitu burgundy, senada dengan kerah tuksedo dan celana yaitu hitam, atau sewarna dengan kemeja putihnya. Di dalam boks sendiri ada warna yang tersedia sekilas hanya tiga warna tersebut, namun bila diperhatikan, ternyata ada berbagai macam gradasi warna. Gaara sendiri tak mengerti kenapa ibunya bingung. Padahal memakai warna apapun menurut Gaara tak masalah, toh warna dasi-dasi tersebut sudah cukup netral.

Mendengar keluhan dari putranya tak mengusik Karura. Wanita tersebut tetap saja masih sibuk. Gaara pun lagi-lagi mendesah.

Sementara itu Sabaku Rei yang sedang membaca koran, juga turut menghentikan kegiatannya sejenak. Ia memandangi putranya yang terlihat tak berdaya di hadapan istrinya, dan malah tersenyum tipis.

Suasana seperti inilah yang ia harapkan. Dalam hati, orang nomor satu di Suna tersebut berjanji akan selalu mendukung apapun cita-cita putra-putrinya selagi merupakan hal yang positif. Memang benar yang dikatakan putra bungsunya beberapa minggu lalu, bahwa anak bukanlah sebuah boneka. Mereka berhak menentukan masa depan mereka.

"Nah! Ini begitu cocok!" Akhirnya, Karura menemukan pilihannya. Wanita itu lalu mengambil tuksedo yang telah disiapkan dan memasangkannya ke badan Gaara. Merapikan beberapa bagian, Karura pun tersenyum puas. "Sempurna! Sekarang, mari kita berangkat!"

Bernapas lega karena persiapannya selesai, Gaara berbalik untuk melihat penampilannya di sebuah kaca yang terpasang di dinding. Dan ketika Gaara mendapati bahwa dasi yang melingkari kerah kemejanya adalah dasi berwarna hitam, ia tak bisa lagi menahan diri untuk tidak memasang ekspresi wajah sweatdrop.

.

.

The Rhapsody

.

.

Kediaman Uchiha.

Jika di apartemen tempat keluarga Sabaku tinggal begitu ramai, maka tidak demikian dengan suasana di tempat kediaman Uchiha yang masih terlihat cukup tenang seperti sebelum-sebelumnya. Sang Nyonya dan Tuan Uchiha berada di kamar utama untuk bersiap-siap menghadiri undangan. Sementara Sasuke sendiri ada di kamarnya. Busana yang akan ia kenakan memang telah disiapkan sebelumnya oleh sang ibu. Sedangkan sang kakak yang tak lain adalah Itachi, lelaki tersebut sudah berangkat sejak tadi ke kantor Akatsuki Chamber Orchestra, yang juga diundang untuk menghadiri kompetisi final.

Sejujurnya, Sasuke lebih memilih untuk berangkat bersama dengan Itachi seperti saat seleksi pertama dan kedua. Hal ini bukan berarti dia tidak suka melawatkan waktu dengan ayah dan ibunya, tidak. Sasuke tentu senang bisa berangkat bersama orangtuanya, terutama dengan sang ibu. Namun, Sasuke takut ayahnya mengatakan sesuatu yang dapat mengusik konsentrasinya. Ia tentu tak mau permainannya menjadi tak maksimal gara-gara hal semacam itu.

Tetapi, Sasuke tentu tak memiliki pilihan lain. Ia hanya berharap ayahnya tidak mengatakan sesuatu yang aneh dan menekannya untuk selalu menjadi juara.

Mematut dirinya di depan cermin besar, Sasuke sedikit memutar tubuhnya agar dapat melihat keseluruhan penampilannya. Sebuah tuksedo hitam dengan tipe tail coat melekat begitu pas di tubuhnya yang tinggi. Tuksedo itu melapisi sebuah kemeja dan rompi berwarna putih. Celana yang Sasuke kenakan senada dengan tuksedonya. Sebuah dasi kupu-kupu putih melengkapi kesempurnaan penampilan Sasuke.

Merasa puas, Sasuke pun memutuskan untuk segera turun. Ia bergegas mengambil biolanya yang berada di atas tempat tidur. Sasuke mengecek biola legendaris tersebut sekali lagi, memastikan tak ada yang kurang. Beberapa dawai cadangan juga Sasuke periksa. Setelahnya, Sasuke pun bergegas keluar.

Ketika Sasuke menuruni tangga, ia mendapati bahwa ibu dan ayahnya sudah menunggu.

"Kau terlihat sangat tampan, putraku." Begitu yang diucapkan Uchiha Mikoto saat melihat bagaimana penampilan Sasuke.

Sasuke mengangguk untuk memberi salam, sambil bergumam, "Hn." Tak lupa juga Sasuke mengangguk pada Fugaku.

Ayahnya tak berkata apapun, hanya menggumamkan serangkaian kata supaya mereka segera berangkat. Maka tanpa mengulur waktu, ketiga Uchiha tersebut pun berangkat menuju Akademi Musik Konogaoka.

Mobil hitam yang ditumpangi melaju dengan kecepatan aman, membelah kota Konoha. Berada di kursi kemudi adalah supir keluarga Uchiha, yang telah bekerja selama bertahun-tahun. Di sampingnya, duduk sang tuan rumah. Sementara Sasuke serta ibunya duduk di kursi penumpang belakang. Tak banyak yang bersuara, sesekali hanya terdengar Mikoto yang menyemangati putranya. Namun untuk mengatasi kesunyian, si supir memutarkan beberapa musik klasik yang memiliki efek cukup menenangkan, seperti String Quantet in E Major karya Boccherini, Gymnopedie milik Satie dan sebagainya.

Terimakasih pada sang supir, Sasuke menjadi lebih rileks. Ia bahkan sampai memejamkan matanya selama perjalanan, hingga tak menyadari bahwa mereka telah memasuki kompleks sekolah.

"Kita sudah sampai."

Mendengar suara ibunya, Sasuke pun segera membuka matanya. Menatap sekeliling, mereka memang telah sampai di Konogaoka. Bahkan mereka sudah berada di area parkir.

Mobil pun berhenti, disusul oleh mesin mobil yang dimatikan. Segera setelahnya Sasuke pamit untuk pergi menuju belakang panggung. Pintu masuk aula tempat diselenggarakannya seleksi final untuk para tamu undangan dan peserta kompetisi tentu berbeda. Jadi, Sasuke harus berpisah dengan orangtuanya di sini.

"Berjuanglah, anakku. Kau hebat, jadi semua akan berjalan dengan lancar." Pesan Mikoto untuk terakhir kalinya sambil memberi pelukan hangat.

"Terima kasih, Bu."

Setelah membungkuk hormat, Sasuke berjalan menjauh. Namun tiba-tiba saja Uchiha Fugaku memanggil. Sasuke memang menghentikan langkahnya, namun ia belum berbalik.

Sekarang apa lagi, Ayah? Pikirnya dalam hati.

Dengan gerakan tanpa minat, Sasuke membalikkan badannya pelan-pelan. "Ya?"

Fugaku tampak ingin mengucapkan sesuatu, namun tertahan. Hal ini membuat Sasuke mengernyit heran, juga sedikit was-was. Apa yang ingin dikatakan ayahnya?

Mengembuskan napas, Fugaku berusaha untuk menguasai diri. Pria tersebut menatap putra bungsunya, lalu berujar dengan suara tegas seperti biasa.

"Sasuke... Jangan takut kalah. Kemenangan bukan kewajiban untuk keluarga Uchiha. Tapi, hanya lakukanlah yang terbaik."

Serentetan kalimat yang diucapkan dengan penuh wibawa khas Uchiha tersebut membuat pikiran Sasuke mendadak kosong. Ia bahkan sedikit meragukan pendengarannya.

Apa ayahnya barusaja memberinya semangat? Rasa-rasanya, itu adalah hal yang cukup mustahil. Tidak mungkin ayahnya tiba-tiba berubah sikap tanpa sebab.

Pun begitu dengan sang Nyonya Uchiha. Wanita tersebut bahkan sampai menutup mulutnya yang ternganga. Mikoto juga tak percaya dengan apa yang barusaja diucapkan suaminya.

Namun keraguan mereka telah terjawab oleh kalimat yang keluar dari Uchiha Fugaku kemudian.

"Mainkanlah biola sesuai hatimu, tanpa beban apapun."

Wajah Sasuke benar-benar memperlihatkan kekagetan. Ia terdiam sesaat, sebelum akhirnya bisa mengumpulkan kesadarannya kembali. "Ayah..." gumam Sasuke, masih menatap ayahnya. Ada pandangan yang berbeda di sana. Pandangan yang menyiratkan kelegaan, senang dan terima kasih.

Sementara Fugaku sendiri tetap memasang wajah datar seperti biasa. "Dan sampaikan salamku pada gadis Hyuuga itu," tambahnya kemudian.

Gadis Hyuuga? Maksudnya Hinata? Jadi Ayah bertemu Hinata?

Meski masih kebingungan, namun Sasuke tak mempermasalahkannya. Ia akan meminta penjelasan pada Hinata nanti saat kompetisi usai. Yang terpenting, kini ia bisa memainkan biolanya tanpa beban yang berarti.

"Dan jika kau tidak memainkan biolamu sepenuh hati, aku tidak akan memaafkanmu."

Untuk pertama kalinya, Sasuke tersenyum pada sang ayah, meski tipis. Kemudian ia membalas dengan nada yang terdengar tak sedatar biasanya.

"Ya, Ayah."

.

.

The Rhapsody

.

.

Kediaman Hyuuga.

Tak jauh berbeda dengan kegiatan yang sedang berlangsung di tempat tinggal para peserta concour yang lain, anggota keluarga Hyuuga juga tengah bersiap-siap untuk menghadiri Seleksi Final Kompetisi Musik Konogaoka.

Hyuuga Hiashi yang selama ini berada di Korea, telah tiba di Jepang sejak tiga hari lalu. Ia juga turut membawa putri bungsunya, Hyuuga Hanabi. Semua anggota keluarga para peserta concour memang mendapatkan undangan setiap diadakannya seleksi. Sayang pekerjaan membuat Hiashi tak bisa melihat penampilan putrinya saat seleksi kedua. Namun berhubung ini merupakan seleksi final, Hiashi rela untuk mengambil cuti, begitu pula dengan Hanabi yang meminta izin pada sekolah.

Untuk persiapan penampilan Hinata, Hyuuga Hiashi tak segan menyewa penata rias dan busana terbaik di Kota Konoha. Jika selama ini Hinata berdandan sendiri ala kadarnya, maka kali ini benar-benar berbeda. Hiashi mengatakan ingin membuat Hinata bersinar. Pria tersebut ingin membuat putrinya terlihat mempesona. Sama seperti mendiang istrinya yang nampak begitu bersinar ketika memainkan biola.

Hinata saat ini sedang berada di dalam kamar. Ia telah selesai memakai gaunnya. Sebuah long-dress berwarna putih gading membungkus tubuh mungil namun berisinya dengan begitu apik. Gaun tersebut bermodel satu lengan yang berhenti di bahu kanannya, serta hiasan-hiasan hand-cut berbentuk kupu-kupu dan bunga-bunga kecil di sepanjang lengan, dada, perut serta pinggang.

Bahan kain berupa sifon sutera yang ringan membuat Hinata sama sekali tak terganggu ketika bergerak. Panjang gaunnya yang berhenti tepat di mata kaki juga tak membuat Hinata kesulitan saat berjalan. Lagipula, gadis tersebut memakai sepatu dengan heels setinggi lima senti.

Ketika memandangi cermin, Hinata sampai tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wajah Hinata yang biasanya polos, kini telah diberi riasan bernuansa natural sehingga membuatnya makin jelita. Garis-garis feminin di wajahnya makin terlihat. Selain itu, rambut panjang indigo Hinata ditata dengan model sanggul tinggi berantakan, dimana sebuah mini garland perak mengelilingi sanggulnya. Beberapa helai rambut pendek dibuat menjuntai. Benar-benar menawan!

Hinata sedang mencoba menenangkan diri. Ini bukan panggung pertamanya. Ia memang telah berpengalaman untuk tampil di depan umum. Namun hari ini berbeda. Ini adalah hari besar. Ini pertama kalinya sejak sepuluh tahun lalu, Hinata akan mengikuti seleksi final kompetisi musik.

Kemudian, iris bulannya terpaku pada sebuah benda kotak panjang yang terletak di atas meja, di depannya.

Stradivarius.

Biola legendaris yang benar-benar asli kini ada di hadapannya. Biola kualitas terbaik yang akan segera ia mainkan, di depan para juri, teman-temannya dan penonton. Ah, Hinata tiba-tiba merasa gugup.

Hinata memejamkan mata, berusaha mengurangi ketegangannya. Menghirup napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya. Beberapa detik kemudian Hinata membuka matanya. Setelah merasa siap, Hinata bangkit berdiri. Tangannya menggapai kotak biola tersebut, memeluknya, seraya berbisik.

"Sebentar lagi, aku akan menunjukkan betapa hebatnya nada-nada yang bisa dihasilkan olehmu."

.

.

The Rhapsody

.

.

"Yang terhormat para anggota dewan sekolah, dewan juri, para guru dan hadirin sekalian, kami ucapkan selamat datang di Seleksi Final Kompetisi Musik Intrasekolah Konogaoka." Suara sang pembawa acara begitu bersemangat, menggelegar ke seluruh penjuru aula.

Ruangan yang memang dibangun untuk berbagai pertunjukan dan acara tersebut, kini telah penuh oleh ratusan orang. Semua murid Akademi Musik Konogaoka datang, tak ingin melewatkan momen penting sekolah mereka. Orangtua maupun kerabat para peserta concour juga telah hadir, duduk berjajar di bangku paling depan. Tamu-tamu undangan seperti alumni, komposer-komposer maupun direktor musik klasik juga telah menempati kursi khusus tamu undangan. Sementara para peserta kompetisi sendiri telah berkumpul di ruang tunggu seperti biasa.

Panggung aula sendiri telah disulap hingga menjadi sangat elegan dan menarik. Dengan tatanan yang sangat artistik, ornamen-ornamen musik klasik berbentuk instrumen-instrumen musik pun dipasang di sekitar panggung. Bagian depan panggung sendiri telah dipasangi pita putih keperakan panjang yang membentang dari kanan ke kiri. Ujung kanan pita yang akan digunakan sebagai simbolik pembukaan concour itu diikatkan pada sebuah gitar klasik, sementara ujung kirinya diikatkan pada sebuah gitar kontrabass. Di sisi kanan panggung agak ke belakang, terdapat sekat yang menghubungkan panggung dengan ruang tunggu para peserta.

"Sebagai pembukaan acara hari ini, mari kita dengarkan beberapa patah kata dari ketua dewan komite sekolah. Kepada Senju Tsunade, kami persilahkan."

Sang kepala dewan komite sekolah pun maju dan berdiri di mimbar yang telah disiapkan. Menyampaikan ucapan terima kasih atas respon positif yang diberikan oleh semua pihak hingga kompetisi berjalan begitu meriah dan terkendali. Untuk para peserta concour, Tsunade juga memberikan beberapa petuah agar tak terlalu gugup dan tampil seperti biasa. Tak lupa wanita tersebut juga memberikan motivasi pada murid-muridnya yang lain, agar senantiasa menyebarkan musik yang indah.

Setelah beberapa menit, wanita yang menjadi orang nomor satu di Konogaoka tersebut menyudahi sambutannya agar tak terlalu lama dan membosankan. Bersamaan dengan itu, seorang wanita yang diketahui merupakan staff Akademi Musik Konogaoka berjalan ke depan panggung dengan membawa sebuah nampan kecil, menghampiri Tsunade yang sudah berada di tengah-tengah bagian depan panggung untuk melakukan pemotongan pita secara simbolik.

"Dengan ini," Tsunade mengambil gunting dari nampan yang dibawa staffnya, ia menghadap pada seluruh hadirin, "... Seleksi Final Kompetisi Musik Intrasekolah Konogaoka, dimulai."

Bersamaan dengan terpotongnya pita putih keperakan tersebut menjadi dua bagian, suara tepuk tangan pun menggemuruh ke seluruh sudut aula.

.

.

TBC

.

.

Virtuoso: orang yang sangat ahli dalam suatu bidang/master

.

.

Hai~~~ ^^ lama tak berjumpa yaa. chapter yang sangat panjang, semoga tidak terlalu membosankan. Awalnya, saya berencana memasukkan scene waktu final... biar endingnya ntar greget. Etapi astaga, baru 3 scene aja udah hampir 4rebong words astagaa. Ini aja total 7000an, kalau adegan pas mreka main musik dimasukin, mungkin bisa 14 ribu words lebih. Makanya terpaksa saya pisah sampai chap depan. Maaf yaa...

Terimakasih sekali apresiasinyaaa. Saya cintaaa banget sama reader terutama reviewer sekalian. Arigatou neee. Kalian benar-benar memberiku semangat!. By the way, biar seru ayo tebak-tebakan siapa juara seleksi finalnya XD. Apa Sasuke? Hinata? Gaara? Atau malah Shika, Naru, Tenten or Sai?

aa.. tak lupa saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada reviewer yang kece-kece abis. Minna-san, aishiteiruu ~~ yang login cek inbox yaa :*

SPECIAL THANKS ::Eternal Dream Chowz, Aiko H, Sugoi doryoku, ita tita, Hyou Hyouichiffer, Nurul851, , del, Yuuna Emiko, VirgoShakaMia Part II, dLuch Reiko, , clareon, D'mbik, d sally, luchaaai, HyugaRara, viviealatas, uzumaki ren, Ai YukiHime, NavyBlue, Aheleza kawai, Riyusa, hanalu93, Hime-chan, Yui-Chan, Stupid Panda23, kensuchan, fans secret, sakura an najwa, najwa, Baby niz 137, Hazelleen, saku najwa, permatadian, Sabaku No Maura, Yurika-chan, Cho377, hyuga ashikawa, abc, wiendzbica732, Yarui, Sakura An najma, Viia, No Name, n, name, Sherenia, Arabeluna, Tenshi chan, fujiwara chiaki, ayanda, putri hime, clareon, ppkarismac, emon dora.

Jangan bosan-bosan buat ngasih masukan yaa ^^. Dan karena ini chap yg sangat panjang, mohon maaf kalau banyak typo. Kalau nanti menemukan typo, tolong langsung kasih tau yaa biar bisa saya benerin :D. Biar ga kepanjangan, saya pamit undur diri.

Sekali lagi, domo arigatouuu m(_ _)m

XOXO,

Ayuzawa Shia.

.

.

Yuk yuk tinggalkan jejaknyaa~~~~ ^^

.

.