Fic ini dibuat sebagai obat nyeri hati 619(?) akibat perbuatan Rey(?) yang dengan seenak udelnya membuat fic SS.

Osh, gak banyak bacot silahkan dinikmati saja *kicked*

Disclaimer : Masashi Kishimoto forever

Warning : OOC, AU(belum bisa bikin CANON), TYPO(s), GAJE, ANEH, JELEK, EYD berantakan, dll, dsb, dst *dibantai rame-rame*

Dont Like Dont Read

~Happy Reading~

My Angel

Hari itu Naruto mencapai usia kedua puluh lima. Usia yang beberapa waktu lalu begitu dinanti-nantikannya. Ia begitu sigap dan tampan, bahkan mungkin jauh lebih karismatik daripada anak-anak muda berumur tujuh belasan tahun. Rambut pirangnya sudah hampir memanjang, ia biarkan beberapa helai menutupi sebagian wajahnya, membuatnya terlihat makin jantan saja.

Belum lagi tiga goresan aneh di masing-masing pipinya, yang tampak eksotis, membuat gadis-gadis remaja yang jauh lebih muda darinya, bahkan masih SMP bisa tergila-gila padanya. Naruto memang pria yang tampan, biarpun ia selalu bilang kalau ia lebih senang disebut sebagai laki-laki dewasa daripada remaja.

Kaki-kakinya masih lincah bergerak ke sana kemari, mencoba berbagai macam cafe di kotanya. Seperti seorang remaja, wajahnya masih kelihatan cukup segar di larut malam menuju setiap pagi buta, memeluk dan mengajak dansa setiap wanita cantik yang menunggu ajakannya dengan sabar. Seolah-olah sosoknya itu bagaikan artis yang selalu dinantikan oleh fansnya.

Ia pernah bilang, bahwa ia akan mengadakan pesta megah untuk merayakan hari besarnya itu. Lengkap dengan balon warna-warni, kue tar besar, lantai dansa dengan bola disko yang cemerlang, dan gadis-gadis belia cantik yang tak akan luput dari daftar undangannya, sudah tentu tanpa melupakan sahabat-sahabat baiknya.

Merayakan sebuah kemenangan atas hidup, serunya bangga saat itu, di antara cangkir dan gelas-gelas minuman kosong, teman-teman baiknya dan gadis-gadis cantik yang umumnya bergaun pendek yang dengan setia selalu mengelilinginya di sebuah meja cafe, di salah satu pagi hari buta yang biasa dilaluinya setelah setiap malam panjang.

"Sebentar lagi aku akan merayakan kemenananganku. Aku akan mencapai separuh hidupku, seperempat hidupku, atau bahkan awal hidupku? Di umur yang kedua puluh lima. Viva hidup..." serunya seraya mengangkat gelas berisi anggur, mengajak teman-temannya untuk bersamaan mengangkat gelas-gelas mereka.

"Viva hidup..." seru mereka bersamaan. Terdengar bunyi denting gelas bersentuhan, berpasang-pasang mata yang saling memandang gembira, bersalut atas kehidupan.

Namun ketika hari itu datang, sepertinya ia tak memenangkan piala apapun. Memang benar ia mendapatkan hadiah. Hadiah yang tak enak, yaitu hadiah penyakit. Di hari ulang tahunnya ia harus melarikan dirinya sendiri ke rumah sakit. Hari itu ia tak sanggup bangun, jatuh terjerembab di kamar tidurnya sendiri.

Sudah beberapa hari terakhir ini ia memang merasa agak lemah. Ia pikir hanya influenza biasa yang mungkin ditularkan oleh salah satu sahabatnya. Namun semakin hari tubuhnya terasa semakin lemah, sampai kemudian ia harus memanggil ambulans sendiri, yang baru datang ketika ia sudah jatuh pingsan.

Ia sempat sadar ketika tubuhnya sudah berada di atas kereta dorong di rumah sakit. Pada mulanya ia pikir, momen itu hanyalah sebuah scene dari salah satu mimpinya. Tubuhnya berguncang-guncang terdorong cepat. Seperti tiang listrik yang bergerak begitu cepat di luar jendela kereta api yang melintas cepat. Ia seperti melihat seluruh hidupnya berlalu dengan kilat.

Betapa ia rindu untuk kembali, ke sebuah kenyataan indah yang pernah ia miliki, bukan di atas kereta dorong seperti ini, yang akan membawanya entah kemana. Ia tak sanggup bicara walaupun dalam hatinya ia ingin sekali bertanya. Ia begitu takut, ia begitu asing di antara wajah-wajah tak dikenal berseragam putih yang terlihat seperti raksasa-raksasa yang bergerak-gerak di atas kepalanya, di atas tubuhnya, menggiringnya ke sana kemari.

Penyakit menyebalkan itu seperti lalu lalang di antara tempat-tempat tidur rumah sakit, menggelitik kaki-kaki pasien yang kemudian seperti meringkih. Suara-suara mereka seperti campuran antara tawa cekikikan yang pedih dan kesakitan. Membuat kebahagiaan dan kepedihan seperti hanya dibatali oleh sebuah benang tipis yang begitu mudah diputuskan.

Naruto belum ingin mati. Paling tidak jangan hari ini. Umurnya belum lanjut dan mimpinya masih tinggi. Melayang di awan-awan dunia fiksinya. Naruto tak mau menyerah, walaupun penyakit yang menghantuinya seperti tersenyum menyebalkan tak jauh dari tempatnya tidur, di salah satu bangsal rumah sakit, bersamaan dengan entah pasien lain yang tampaknya begitu hobi mengeluh dan mendesah seperti seekor sapi yang sedang bercinta.

Naruto hanya ingin pulang. Bukan, bukan ke alam baka tapi ke apartemen kosongnya yang semakin hari semakin kosong saja. Teman-temannya yang begitu akrab ketika ia masih sehat, semakin lama seperti runtuh satu persatu. Wajah-wajah mereka seperti hilang ditelan bumi, tak pernah muncul lagi.

Kedua orang tuanya, Minato Namikaze dan Kushina Namikaze terlalu sibuk dengan bisnisnya. Apalagi saat ini keduanya berada di luar jangkauan, atau lebih tepatnya di luar negeri. Membuat pria beriris blue sky itu enggan menghubunginya. Takut-takut kalau keduanya khawatir dan tidak mengijinkan Naruto untuk tinggal sendirian lagi di apartemen.

Pria itu merasa begitu kesepian, tidak mengerti mengapa penyakitnya seperti sebuah kuman beracun yang begitu menular, membuat banyak orang lari. Wajah dan tubuhnya dipenuhi bercak-bercak seperti luka kering yang perlahan menghilang dan muncul lagi. Seperti kubangan-kubangan air kotor yang berserakan di sana-sini. Membuatnya enggan menyentuh bahkan mendekati dagingnya sendiri.

Dokter-dokter yang merawatnya seperti bermain petak umpet dengannya, begitu sulit ditemui dan selalu hilang sibuk entah ke mana. Membuatnya sukar mengetahui apa yang sebenarnya diderita oleh tubuhnya. Tubuhnya begitu lemah dan tak berdaya, membuat ia semakin merindukan rasa tubuhnya ketika ia masih kuat untuk bisa berdiri sendiri.

Ia membenci dirinya, membenci tubuhnya yang seperti seorang pengkhianat, tiba-tiba saja mencurangi dirinya dan mengadukannya ke polisi. Tubuh sehatnya yang selalu menemani kemanapun ia pergi, sampai umur yang hampir dua puluh lima itu.

Seperti seorang iblis yang gemar bergurau, di suatu pagi yang biasa, Naruto seperti tak sanggup lagi berdiri, bahkan untuk bergerak dari satu kamar ke kamar lain ia harus beristirahat sejenak. Sang iblis seperti bergelayut manja pada tubuhnya, membuatnya bergerak berat dan tak ringan lagi.

Entah sudah berapa malam Naruto tak memunculkan batang hidungnya di klub malam langganannya. Entah sudah berapa pagi tak ia habiskan bergurau dan berbincang dengan teman-teman akrabnya, pagi-pagi yang masih buta di cafe-cafe ramai yang selalu jadi janji tetap mereka setiap habis bercinta.

Entah sudah berapa pagi sebelah tempat tidurnya kosong. Tak berisi tubuh berkulit halus dan sexy, wanita-wanita yang sempat dibawanya jadi teman tidur setelah malam yang panjang.

Entah sudah berapa nomor telepon yang sudah begitu lama tak dihubunginya, sekedar untuk mengajak suara-suara manis di seberang untuk berbincang dan bertemu di salah satu cafe di kota itu.

Entah sudah berapa tebal debu-debu yang menghias sepatu-sepatunya, dari berbagai warna dan model untuk berbagai kesempatan berpetualang. Entah sudah berapa lama Naruto tak bercinta lagi, membuat tidak hanya tubuhnya saja yang menagih dan menangis, bahkan jiwanya seperti tak lengkap lagi.

Tapi ia tak sanggup berbuat apapun. Bahkan untuk berdiri pun sudah sulit, bagaimana ia harus bercinta. Memeluk dirinya sendiri saja sudah melelahkan, apalagi kalau harus memeluk dan menggiring tubuh-tubuh yang lain.

Lelaki pirang itu hanya bisa menangis, meratapi nasib sialnya yang menimpa tubuhnya yang belum lanjut. Membuatnya seperti orang tua tak berdaya yang hanya bisa menunggu kematian saja. Di hari ulang tahunnya yang kedua puluh lima, tak satupun temannya datang. Tak ada pesta besar seperti yang pernah direncanakannya.

Mungkin karena tak ada sampanye, tak ada kue tar, dan minuman-minuman sedap lain yang selalu menemani perayaan hari kelahiran yang dengan bangga selalu dirayakannya. Mungkin karena bangsal rumah sakit yang begitu steril dan berbau obat dan bau rasa sakit bukanlah tempat yang tepat untuk berbesta pora.

Untuk membuka mata saja ia jadi lelah, bahkan untuk tidur saja tak mudah. Bagaimana mungkin teman-temannya mau datang ke ruangan lembab di tempatnya berbaring kini. Hawa panas di rumah sakit itu, yang hanya diselingi dengan sesekali semilir angin redup dari kipas angin tua yang berisik, tak cukup membuatnya terlena.

Naruto rindu pelukan-pelukan sesaat dari nona-nona yang pernah didekapnya. Ia rindu derai tawa dan bincang-bincang seadanya dari teman-temannya. Hatinya begitu sedih mengingat dunia fiksinya seperti begitu jauh untuk bisa mengisi kekosongan yang semakin hari seperti membuat dadanya sakit dan berdarah.

Setetes air mata jatuh di pipinya. Bergulir pelan di antara wajahnya yang penuh luka. Wajah tampannya tampak semakin tirus saja. Membuatnya tampak lebih tua, jauh lebih renta daripada keadaan sebenarnya. Naruto belum ingin mati. Jangan hari ini, serunya dalam hati. Karena ia tidak ingin mati sendiri.

Ia takut kalau-kalau harus menghembuskan napas terakhirnya tanpa seorang pun menggenggam erat tangannya. Tanpa sebuah wajah akrab yang mengatakan untuk jangan khawatir. Tanpa sebuah janji bahwa wajah manis itu akan menemuinya lagi, di sebuah dunia lain yang kabarnya dijanjikan setelah manusia tak bernyawa lagi.

Naruto tak ingin mati sendiri, jadi jangan hari ini, serunya lagi dalam hati. Matanya yang kini kabur oleh air mata, terbuka perlahan. Ia berusaha menerima kenyataan. Bahwa mungkin permintaannya tak akan pernah dikabulkan, walaupun dalam hati ia selalu berharap untuk sebuah keajaiban bisa terjadi.

Paling tidak memberinya kesempatan satu kali lagi. Untuk tidak menyia-nyiakan sisa hidupnya yang mungkin sudah tidak panjang lagi. Di kejauhan ia melihat sebuah sosok berwarna terang seperti datang perlahan dan melayang. Mungkin perawat berbaju putih yang harus memberinya obat, membersihkan tubuh, atau bahkan menyuntiknya, katanya dalam hati lagi.

Hatinya yang seperti menjadi ciut jika harus melihat jarum suntik, yang entah sudah berapa banyak seperti berpesta pora menusuk-nusuk pantatnya yang harus jadi telanjang tanpa daya, dipamerkan ke perawat-perawat tak dikenalnya. Namun kali ini perawat itu seperti berhenti sejenak di kejauhan. Memandangnya tak jauh dari tempatnya tidur.

Mata buramnya segera ia jelaskan, dengan susah payah ia mencoba mengerjapkan matanya. Perlahan-lahan pemandangannya jadi semakin jelas. Bangsal tempatnya dirawat seperti putih saja, bersinar cahaya terang yang hampir saja menyilaukan mata. Matanya hampir-hampir tak percaya, melihat seorang gadis cantik berambut pink sebahu, bermata emerald, yang memandangnya tak jauh dari tempatnya berbaring.

Ia tak ingat kalau ia pernah mengenalnya. Gadis cantik seperti itu tak akan mudah hilang dari ingatannya, tapi kepalanya yang berputar keras seperti sebuah komputer bermemori kosong tak sanggup menemukan wajah itu dalam ingatannya. Perlahan gadis itu tersenyum, senyum terindah yang pernah dilihatnya. Gadis itu kemudian berjalan mendekatinya.

"Naruto, sudah waktunya untuk pulang. Aku datang untuk menjemputmu," seru gadis pink itu perlahan. Suaranya lembut seperti selimut kasmir yang hangat di sebuah malam musim gugur yang beku.

"Hai gadis cantik, aku akan pergi denganmu kemanapun kau mau, tapi siapa kau? Kepala lemahku tak sanggup lagi mengingatmu, maafkan aku..." Naruto yang tak berdaya begitu mengiba meminta maaf, suatu hal yang hampir-hampir tak pernah dilakukannya, apalagi terhadap seorang gadis.

Gadis itu tersenyum lagi, tangan lembutnya menggenggam pelan jari-jari lelaki itu. Naruto merasa jemarinya semakin lemah, betapa ia ingin menggenggam erat jari-jari halus itu, seperti yang selalu dilakukannya di setiap malam, pada hampir setiap gadis yang dipeluknya erat.

Namun ia tak sanggup. Fisiknya terlalu lemah walaupun jiwanya masih lapar dan ingin segera bangkit kembali. Namun ia tetap tak sanggup.

"Aku malaikat penjemputmu...," jawab gadis cantik itu perlahan, seraya mengibas-ngibaskan pelan sepasang sayap mungil berwarna putih yang kini tampak kelihatan di mata Naruto yang sudah tidak buram lagi.

~TBC~

Mohon tinggalkan sedekah(review) bagi yang sudah membaca fic gaje diatas.

Dibulan ramadhan yang penuh berkah ini marilah kita beramal sebanyak-banyaknya dengan mengisi kolom review dibawah *ditampol berjamaah*

~Thanks for reading~

Nb : Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya, XD