Thanks to : Alp Arslan no Namikaze, Riexoluce, Lillya Hozikawa, Mugiwara 'Yukii' UzumakiSakura, Galeri Annisa, yahiko namikaze, Aosei Rzhevsky Devushka, edward, Narusaku 4ever, akasuna no hataruno teng tong, The. RED. Phantom, Saruwatari Yumi, nona fergie kennedy, gui gui M.I.T, Eka, Lollytha-chan, holmes950, Ariya 'no' miji, Anonymous, Guest, Meika NaruSaku, ZeeMe, Namikaze achiles, Nasako Uzumikawa, alfancyank. claloe, AL Blue Blossom, Fumiko Miki NaSa, agusajisaputro, Riela nacan, Reina Murayama, author. nata, dll (maaf kalau ada nama yang belum disebut)

Naruto © Masashi Kishimoto

Forgiven © Within Temptation

Image Not mine

Warning : OOC, AU, Typo(s), GAJE, ANEH, JELEK, EYD berantakan, dll, dsb, dst *dibantai rame-rame

Dont Like Dont Read

~Happy Reading~

.

.

.

.

.

Putih, putih, dan putih. Inikah surga yang sering disebut-sebut manusia-manusia itu? Inikah surga yang dijanjikan oleh bangsa-bangsanya? Mata hijau emeraldnya mengerjap-ngerjap. Wajah porselennya putih bersih dan mengkilat walaupun bercak-bercak merah masih terlihat di sana-sini.

Perlahan ia mulai sadar, bahwa ini bukanlah surga seperti yang ia sangka. Apalagi ketika ia rasakan sakit di punggungnya yang berperban. Tubuhnya terasa seperti remuk, perut dan dadanya pun sakit tak terkira.

Belum lagi ketika ia tak sanggup menggerakkan tangan kirinya yang mendadak menjadi berat. Kepalanya terasa seperti mau pecah. Walaupun begitu ia coba gerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

Sakura hampir-hampir tidak mempercayai penglihatannya sendiri. Suami yang hendak menceraikannya kini berada di dekatnya, menggenggam tangan kirinya. Pantas saja ia tak bisa mengangkat tangan kirinya, ternyata ada sebuah beban yang membuatnya jadi tak ringan.

Nampak terkejut, namun sebentar kemudian ia tertawa kecil. Entah kenapa ia pikir lucu sekali mengetahui suaminya tertidur seperti itu. Terlihat polos seperti seorang bayi.

Tanpa sadar tawa kecilnya itu membangunkan Naruto yang sebenarnya juga susah tidur. Rasa lelah dan penat di kepalanya membuatnya sulit untuk terlelap walau matanya terpejam. Perlahan ia mengangkat kepalanya, menatap terkejut bercampur bahagia seseorang yang amat dirindukannya.

Akhirnya wanita itu bersedia membuka matanya kembali, menampakkan iris green forest yang sudah sekian hari tak nampak di mata pria itu.

"Sakura-chan, kau sudah sadar? Oh, Kami-sama syukurlah," ujar Naruto lega sembari bangkit berdiri hendak memeluk istrinya namun ia urungkan niatnya itu, mengingat tubuh yang akan direngkuhnya masih berbalut perban. Bukannya jijik, hanya saja ia tak mau kalau-kalau tindakannya itu justru akan membuat istrinya lebih sakit. Membuatnya harus kembali duduk di dekatnya sambil mengecup tangan ramping itu pelan.

Masih terekam jelas di memori otaknya bagaimana punggung wanita itu terus-menerus mengeluarkan cairan berwarna merah, seperti ada sesuatu yang dicabut secara paksa dari sana. Perawat-perawat yang tampak mengerikan mendorong tubuh tak berdaya itu di atas kereta dorong usang ke sana kemari, membuatnya harus berteriak-teriak histeris mirip orang depresi. Membuatnya nyaris tidak diperbolehkan menunggui istrinya sendiri karena dianggap terlalu berisik.

Namun kini ia bisa menghela nafas lega. Wanita yang amat dicintainya nampak lebih sehat dari sebelumnya walau belum bisa dinyatakan sehat sepenuhnya. Bahkan tangannya yang rapuh itu sudah mampu membelai wajahnya kini. Mengingatkannya kembali akan masa-masa jayanya. Masa di mana saat hubungannya dengan sang istri masih baik-baik saja. Masa di mana setiap malam ia berbagi kehangatan hanya dengan tubuh wanita berambut soft pink itu.

Hhh... Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, berusaha mengenyahkan berbagai macam pikiran kotor yang menyergap di otaknya.

"Naruto, kenapa kau lakukan ini padaku?"

"Eh?"

Pria blonde itu memandangnya aneh. Seolah wanita itu berbicara dengan bahasa isyarat yang tak ia mengerti.

"Apa maksudmu Sakura-chan?" tanyanya jujur tak mengerti.

Kini giliran wanita pink itu yang memandangnya aneh. Seolah pria itu berbicara menyimpang dari topik yang dibicarakan.

"Kenapa kau menolongku? Aku-aku sudah..." Mendadak lidahnya menjadi kelu. Sulit untuk mengatakan hal yang mungkin akan melukai perasaan suaminya—dan juga hatinya sendiri. "Aku sudah menyakitimu, dan... bukankah kau berniat ingin mencerai—"

"Sakura-chan, bisakah kita tidak membicarakan hal itu?" potong Naruto. "Dan kalau masih bisa, aku ingin... melanjutkan hubungan kita," katanya penuh harap.

Sakura tercengang bukan main. Iris green forestnya memandang ke dalam iris blue sapphire. Di sana seperti benar-benar ada cinta. Walau ia masih belum begitu mengerti akan arti cinta yang sesungguhnya. Ia jadi ingin menangis. Semua rasa bercampur jadi satu, seperti laut di saat angin topan habis berhenti berhembus, membawa sampah, semua rongsok dan onggok sampai ke pantai, membuatnya terlalu kotor untuk berenang.

Bagaimana mungkin suaminya itu dengan begitu mudahnya memaafkan kesalahannya, bahkan sebelum ia berkata maaf. Lebih dari sekedar maaf, karena pria itu membatalkan niatnya untuk berpisah darinya. Oh, betapa ia ingin memeluk pria itu seerat-eratnya. Namun tak bisa, rasa sakit di sekujur tubuhnya membuatnya kesulitan menggerakkan tubuhnya sendiri, apalagi untuk memeluk tubuh yang lain.

Entah kenapa ia merasa dejavu dengan situasi ini. Rasanya mengingatkannya kembali pada pertemuan pertamanya dengan suaminya. Hanya saja keadaannya terbalik. Sama seperti dirinya, waktu itu Naruto nampak terbaring putus asa. Lelaki itu menangis, mengiba, sudah seperti gelandangan pengemis di matanya. Dan ia merasa beruntung telah bersedia mengabulkan permintaan Naruto waktu itu—agar memberinya kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, agar tidak mencabut nyawanya pada saat itu juga. Seandainya saja waktu itu ia mengabaikan keinginan Naruto, mungkin ia tidak akan pernah mempunyai pengalaman bagaimana rasanya menjadi manusia.

Dan kini, justru pria Namikaze itulah yang tampak seperti malaikat di matanya. Pria itu sudah menyelematkan dirinya dari malam terburuk sepanjang hidupnya.

"Maafkan aku, Naruto. Tidak seharusnya aku—"

"Sssh,"

Sakura tak mampu meneruskan kata-katanya, jari telunjuk Naruto yang menyentuh bibirnya sudah menginterupsinya terlebih dulu.

"Jangan berkata apa-apa lagi, Sakura-chan. Aku tahu kau lelah, istirahatlah," ucap pria itu seraya menyelimuti tubuh berperban istrinya sebatas dada. Tangannya mengusap pelan dahi wanita itu sebelum kemudian mengecupnya lembut.

Sebuah senyum tipis tampak mulai merekah di wajah wanita tersebut. Seperti senyum tipis yang kini mulai menghiasi wajah Naruto. Membuat wajahnya tampak tidak begitu sedih lagi seperti hari-hari sebelumnya.

"Kaulah yang seharusnya istirahat Naruto, aku sudah tidak apa-apa." Wanita berambut soft pink itu berkata sambil tersenyum. Ia berusaha bangkit setengah duduk dengan bantuan Naruto. Tangan mungilnya bergerak membelai wajah berkulit tan milik suaminya yang nampak lelah dan butuh tidur. Namun lelaki itu malah menghentikan pergerakannya dengan memegang halus tangannya dan mengecupnya untuk kedua kalinya di hari yang sama.

"Aku tidak butuh semua itu Sakura-chan... cukup berada di dekatmu, maka rasa lelahku akan sirna," jelas Naruto tersenyum yang tanpa sadar membuat wajah putih istrinya berubah warna menjadi lebih merah.

Ia membungkuk, semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah istrinya. Berharap bisa meraih bibir peach wanitanya yang selalu tampak menggoda walau keadaannya sedang tidak sehat sepenuhnya. Namun—

'Cklek,'

suara pintu terbuka terpaksa menghentikan niatnya. Ia menoleh ke asal suara dan matanya mendapati dua sosok, bukan—melainkan lebih dari itu yang sedang menuju ke tempatnya dan istrinya berada. Mereka semua adalah sosok yang begitu familiar di matanya. Masing-masing seperti membawa barang bawaan, entah itu makanan, bunga, atau entahlah. Tapi yang jelas kehadiran mereka membuat matanya membelalak tak percaya. Ia tak menyangka akan mendapat kunjungan yang begitu banyak di siang yang cukup panas ini.

"Tou-san, Kaa-san... Teme, Sai... kalian juga..." Pekiknya terkejut tak mampu menyebut nama mereka satu persatu. Semua teman-temannya datang, bahkan sebelum ia sempat mengabarinya.

"Tou-san yang memberitahu mereka, rasanya kurang pantas jika teman-temanmu itu tidak mengunjungimu saat kau sedang berduka," bisik Minato pada Naruto, seolah pria dewasa yang yang memiliki kemiripan dengan Naruto itu tahu apa yang dipikirkan oleh anaknya.

Sementara Naruto hanya mendengus sebal, bukan karena tak suka dengan kehadiran teman-temannya, melainkan karena kata-kata terakhir yang meluncur dari ayahnya kurang pantas di dengar. Bukankah kata berduka itu lebih pantas digunakan untuk orang yang sudah wafat?

Kedua pria berambut pirang itu lalu memperhatikan seorang wanita cantik berambut merah panjang yang tengah mendekati sosok yang duduk di atas ranjang sempit. Bukan hanya wanita bermarga Namikaze itu, melainkan mereka semua yang hadir kini mengerubungi Sakura, seolah wanita berambut soft pink itu merupakan sebuah pertunjukan menarik yang layak untuk ditonton.

"Hhh... syukurlah nak, kau sudah sadar. Kau tidak tahu, Naruto benar-benar bertingkah seperti orang gila. Di malam kau terjatuh dari tangga dia tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri, menuntut dokter di sini agar segera menyembuhkanmu, kami harus berlari terbirit-birit di tengah malam itu. Dan kami harus menenangkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Dan... syukurlah semua nampak baik sekarang," cerocos Kushina panjang lebar dalam satu tarikan nafas. Wanita yang notabene ibunya Naruto itu menghela nafas lega.

Sementara yang lain hanya menganga, tak terkecuali Sakura. Wanita berambut merah jambu itu tengah berpikir, siapa yang dimaksud terjatuh dari tangga? Tentu saja tidak ada, tentu saja bukan dirinya. Tentu saja hal ini adalah karangan suaminya. Rasanya tidak mungkin untuk mengatakan hal yang sebenarnya, hanya akan membuatnya bercerita panjang dari awal, hanya akan menambah masalah baru. Untuk itulah ia lebih suka mengikuti permainan suaminya sembari menyunggingkan senyum.

"Kaa-san, kenapa selalu membuatku malu di depan teman-temanku?" gerutu Naruto setengah kesal sementara yang ditanya hanya melempar senyum.

"Kenapa harus malu Naruto? Bukankah kau itu tidak punya malu?" seru pria berambut hitam klimis innocent dengan senyum aneh menghiasi wajah pucatnya, mengabaikan aura mematikan yang menguar dari tubuh Naruto.

Dan yang lain mulai tertawa terbahak-bahak kecuali tiga orang pria bergelar Pangeran Es—Sasuke, Gaara, dan Neji yang memang kurang suka mengekspresikan diri secara berlebihan bagaimanapun keadaannya.

"Sudah-sudah, kalian jangan menggoda Naruto terus," ujar Temari nampak bijak dibandingkan dengan yang lainnya. Tatapannya beralih pada Sakura. "Kau mau apel Sakura? Aku akan mengupaskannya untukmu," tawarnya sopan.

"Tidak Temari, kurasa Sakura lebih menyukai strawberry, iya kan Sakura?" Ino ikut berkomentar.

"S-Sakura-chan, bagaimana kalau anggur?" tawar Hinata lembut dengan suara kalem khasnya.

"Pisang akan segera memulihkan kesehatanmu, dan aku sengaja membawakannya untukmu," Shion berkata lebih baik dari biasanya.

Sedikit banyak gadis berambut pirang pucat itu sudah mampu menerima kenyataan. Ia sadar kalau ia tak selamanya menjadi remaja yang bisa memiliki dua cinta sekaligus. Ada kalanya ia harus memilih salah satu diantaranya. Keretakan hubungannya dengan Sasuke beberapa waktu yang lalu sudah cukup menampar batinnya. Sudah cukup untuk membuatnya tersadar kalau ia memang mencintai pria raven itu untuk menjadikan masa depannya lebih cerah suatu hari nanti. Meskipun begitu, ia akan berusaha berteman baik dengan mantan cintanya dan juga wanita yang menjadi istri dari pria masa lalunya.

"Buahnya nanti dulu, sekarang makanlah dumpling kesukaanmu ini sayang," Ibu-ibu muda itu juga ikut menyuarakan pendapatnya, membuat yang ditawari kebingungan harus memakan yang mana dulu, walau sebenarnya indera pengecapnya belum menginginkan apa-apa untuk dilahapnya.

Sementara para kaum Adam hanya bisa saling pandang dan mengangkat bahu. Kaum Hawa di mana pun tempatnya dan bagaimana pun situasinya, mereka selalu cerewet dan berlebihan.

"Ck, troublesome," gumam pemuda Nara merapalkan mantera favoritnya.

"Maaf semuanya, sebenarnya aku belum ingin memakan apapun, tapi... terima kasih. Dengan adanya kalian di sini saja sudah membuatku cukup senang,"

Sakura menolaknya dengan halus. Senyumnya tak pernah lepas dari wajahnya. Ia mengisyaratkan agar mereka semua meletakkan barang-barang bawaan mereka di atas rak di dekat ranjangnya.

"Kau yakin tidak ingin makan apapun nak?" tanya Kushina lembut, nadanya terdengar khawatir.

Bibir peach Sakura bergerak ingin mengucapkan sesuatu namun ia telan kembali karena ada orang lain yang lebih dulu menyahutnya.

"Sudahlah Kushina, jangan memaksa. Anak perempuan kita baru sadar, jadi wajar saja kalau nafsu makannya belum muncul," kata Minato seraya menepuk pelan pundak istrinya seolah menenangkannya, membuat wanita itu mengangguk pelan mengiyakan perkataan suaminya.

Entah kenapa Sakura merasa bangga disebut 'anak perempuan' oleh mertuanya, melainkan bukan disebut sebagai menantunya. Membuatnya merasa seperti menjadi bagian dalam keluarga sungguhan. Bibirnya kembali tersenyum teringat kejadian di mana ia hanya diperbolehkan memanggil mertuanya dengan sebutan Tou-san dan Kaa-san. Rasa sakit di sekujur tubuhnya seperti tak terasa lagi. Melihat mereka semua berkumpul, entah kenapa membuat hatinya jadi lebih tenang.

Tawa canda mulai terdengar di bangsal rumah sakit yang begitu steril dan berbau obat. Seolah ruangan lembab dan berbau panas itu tak mampu mempengaruhi kebersamaan mereka. Sesekali mereka tertawa dengan begitu kerasnya hingga harus mendapat teguran dari perawat berbaju putih yang kebetulan melintas di depan ruang rawat inap Sakura, agar mereka tidak berisik karena bisa mengganggu pasien yang lain. Membuat beberapa dari mereka menganggukkan kepalanya malu-malu sambil menggumamkan kata-kata maaf.

Sekedar menanyakan kabar masing-masing, menceritakan lelucon yang terkadang tak masuk akal sampai-sampai membuat mereka kembali tertawa tertahan, tak mau mendapat teguran lagi. Waktu bergulir begitu cepat, hingga tanpa terasa satu persatu dari mereka mulai berguguran mengundurkan diri untuk kembali ke tempat masing-masing, pulang ke rumahnya, atau mungkin juga kembali ke pekerjaan yang baru mereka tinggalkan. Saling mengucapkan harapan, agar sakit yang diderita oleh pasien beriris green forest itu bisa lekas sembuh secepatnya, sebelum kemudian mereka menghilang dari tempat yang identik dengan bau obat dan orang sakit itu.

"Hn Dobe, anggap saja kunjunganku ini sebagai permintaan maafku," gumam Sasuke pelan dan hanya bisa didengar oleh Naruto.

"Maaf eh?" pria blonde itu menyeringai. "Apa aku tidak salah dengar, seorang Sasuke Uchiha sepertimu mau mengucapkan kata maaf?" lanjutnya menggoda sahabat masa kecilnya.

Sasuke mendengus. "Cih! lupakan saja,"

"Ahaha... Iya-iya Teme, aku hanya bercanda. Terima kasih sudah mau datang," sahut Naruto berusaha menghilangkan tawanya yang sedikit berlebihan. Ia merasa tidak perlu membahas masa lalu yang belum begitu lampau. Toh semuanya kembali membaik, bahkan lebih baik dari semula.

"Hn,"

Jawaban singkat nan khas keluar dari bibir tipis Uchiha junior. Bersamaan itu pula Sasuke dan kekasihnya meninggalkan ruangan bercat putih tersebut setelah sebelumnya berpamitan dengan empat orang yang masih tersisa.

"Naruto, dengar ya, Kaa-san harap ini tidak akan terjadi lagi," tutur Kushina menggerakkan jarinya ke kanan dan ke kiri, mirip seorang ibu yang mengingatkan anaknya agar tidak jajan sembarangan.

Naruto memutar bola matanya bosan sembari membatin, 'mulai lagi deh,'.

"Pokoknya kau tidak boleh ceroboh. Suami macam apa kau ini, menjaga satu orang saja tidak bisa. Bagaimana kalau nanti jumlah kalian sudah bertam—"

"Iya-iya Kaa-san, aku akan senantiasa menaruh mata juga hatiku untuk Sakura-chan. Kaa-san tidak perlu khawatir, aku ini jauh lebih dewasa dari yang kalian kira," sergah Naruto memotong kalimat Kushina. Bibirnya menyeringai tipis.

"Dasar kau ini,"

Kushina menepuk pelan bahu anaknya, membuat sang korban pura-pura mengaduh kesakitan sambil tertawa. Sedangkan Minato dan Sakura hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalalanya memandang dua orang dewasa yang menurutnya nampak childish di mata keduanya.

"Hhh... ya sudah," terdengar helaan nafas dari Minato. Matanya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Ayo Kushina, aku harus segera kembali," katanya lalu mendekat ke arah Sakura.

"Cepat sembuh ya nak, kalau ada apa-apa kau bisa menghubungi Tou-san atau Kaa-san," serunya tersenyum seraya mengelus singkat rambut soft pink menantunya.

"Dan jangan lupa cepat beri kami momongan," imbuh Kushina sambil tersenyum—menyeringai.

Sakura hanya bisa mengangguk pelan walau sebenarnya ia kurang paham dengan perkataan ibu mertuanya itu.

"Terima kasih Tou-san, Kaa-san," gumamnya yang dibalas anggukan oleh pasangan suami istri yang lebih dewasa darinya itu.

Minato dan Kushina benar-benar enyah dari pandangan Naruto setelah sebelumnya sekali lagi mengingatkan pria blonde itu agar sungguh-sungguh menjaga istrinya. Membuat Naruto berpikir, siapa yang sebenarnya menjadi buah cinta dari mereka, ia atau Sakura. Namun tak dapat dipungkiri, kalau sifat overprotective kedua orang tuanya membuatnya mengerti kalau mereka juga menyayangi istrinya.

Kini yang terisa hanyalah dua orang yang saling menatap satu sama lain. Naruto menggerakkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Sakura. Ia mengisyaratkan pada istrinya agar menyandarkan kepalanya di pundaknya. Sebelah tangannya membelai lembut rambut soft pink istrinya, sementara sebelah tangannya yang satu lagi digenggam oleh Sakura sebelum kemudian dikecupi jari-jemarinya oleh wanita itu, membuat darahnya berdesir halus melantunkan sensual duniawi yang menggoda.

"Naruto, momongan itu apa?" tanya Sakura dengan polosnya, membuat pria blonde itu sedikit kecewa lantaran istrinya menghentikan sentuhannya. Namun sebentar kemudian raut wajahnya menghalus.

"Momongan itu..."

Naruto nampak berpikir sejenak. "Nanti aku akan mengajarkannya padamu bagaimana cara membuatnya," lanjutnya tersenyum jahil.

Sakura yang tak tahu apa-apa hanya bisa mengangguk pasrah sembari menyesap aroma maskulin tubuh suaminya, tanpa menyadari Naruto yang kini tengah menyeringai entah apa maksudnya.

***{+_+}***

Setelah sekian pekan menghabiskan waktu di tempat orang-orang sakit, akhirnya Sakura diperbolehkan kembali ke tempat peraduannya. Tubuhnya tak lagi diperban seperti kemarin-kemarin. Bercak-bercak merah di sekujur tubuhnya samar-samar menghilang dengan sendirinya. Walau bekas jahitan masih nampak menghias punggungnya, tak apa. Tak apa jika bekas itu akan menempel selamanya di punggungnya. Toh ia tak akan memamerkan punggungnya dengan polos bukan, kecuali di hadapan suaminya.

Seperti sebuah cerita dalam sebuah dongeng melegenda, Naruto bagaikan seorang pangeran yang baru saja menemukan permaisurinya. Ia menggendong tubuh istrinya ala bridal style dengan sangat hati-hati. Seolah ia tengah membawa barang antik yang mudah pecah.

'Cklek,'

Pintu kamarnya terbuka. Tak ada yang berubah, semua masih nampak sama. Semua masih nampak rapi dan bersih walau sudah beberapa waktu ia tinggalkan. Beruntung tadi ia sempat menyuruh seseorang untuk merapikan kamar kebanggaannya. Dengan begitu baik Sakura maupun dirinya tak perlu lagi membersihkan kamar berdebu itu.

Pelan-pelan ia menurunkan wanita itu di tepi ranjang. Ia berjongkok, menengadahkan wajahnya.

"Sakura-chan, ada yang mengganggu pikiranmu?" tanyanya mendapati wajah istrinya yang nampak murung. Bukankah seharusnya istrinya itu senang bisa keluar dari bangsal rumah sakit yang tak ramah itu, mengingat setiap harinya Sakura selalu mengeluh nyaris muntah tiap kali disuruh minum obat.

"Naruto, aku..."

Terdengar kalimat keraguan dari bibir peach istrinya.

"Katakan saja Sakura-chan," pintanya menatap hangat sang istri.

Walau nampak masih ragu namun akhirnya bibirnya kembali berkata. "Aku bukan malaikat lagi Naruto... kini aku menjadi manusia seutuhnya sama sepertimu."

Pria beriris blue sky itu menautkan alis. "Memangnya kenapa Sakura-chan? Bukankah kalau kau menjadi manusia, kita bisa hidup bersama? Atau kau tidak menginginkan hal itu?" tanyanya bingung.

Wanita itu menggeleng keras-keras. "Bukan begitu Naruto, aku hanya terlalu takut tak bisa melindungimu jika mereka tiba-tiba datang mencabut nyawamu... karena aku sudah tak memiliki kekuatan lagi," sahutnya pelan seperti menahan tangis.

Naruto menghela nafas, matanya menatap lekat-lekat mata wanita yang berhasil merubah kepribadiannya. "Sakura-chan, dengarkan aku," kedua tangannya menggenggam erat tangan istrinya. "Aku sudah tidak takut mati seperti waktu itu Sakura-chan. Kini aku sudah mencapai apa yang kuinginkan selama ini, seorang wanita yang kucintai selalu ada disisiku... Dan jika suatu hari nanti aku harus kehilangan nyawaku, aku hanya ingin kau tetap berada di sampingku, menggenggam tanganku. Aku hanya ingin menghabiskan hari ini dan seterusnya bersamamu Sakura-chan... Jadi kumohon, jangan mengatakan hal lain lagi selain kita... Bagiku kau tetap malaikatku Sakura-chan, selamanya akan menjadi malaikatku," jelasnya panjang lebar membuat Sakura menganga sepersekian detik, sebelum kemudian bibirnya tersenyum kecil sembari menganggukkan kepalanya pertanda menyetujui perkataan suaminya.

Pria itu kemudian bangkit berdiri, melangkah perlahan lalu memutar salah satu lagu favoritnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia mengulurkan sebelah tangannya pada sang istri.

Tidak seperti di malam pertamanya waktu itu, kali ini Sakura menyambut uluran tangan suaminya tanpa keraguan sedikitpun.

"Aku akan membuatmu terbang seperti malaikat," bisik Naruto menggoda, menggigit pelan cuping telinga Sakura, membuat wanita itu menggeliat pelan.

Naruto mengisyaratkan pada Sakura agar kaki-kaki telanjangnya bertumpu di atas kaki-kaki polos miliknya. Dengan begitu, kemanapun ia akan melangkah, Sakura akan senantiasa mengikutinya dengan patuh. Walaupun awalnya agak kesulitan, hampir-hampir terjatuh, namun akhirnya Naruto mampu menciptakan keseimbangan di antara tubuhnya dan tubuh istrinya.

Couldn't save you from the start

Love you so it hurts my soul

Can you forgive me for trying again

Your silence makes me hold my breath

Time has passed you by

Sebuah lagu yang dibawakan oleh 'Within Temptation' mulai memenuhi ruangan pribadi sepasang suami-istri muda tersebut.

"Tenangkan dirimu Sakura-chan, lepaskan semua kekhawatiranmu, biarkan aku membimbingmu, dan percayalah padaku...," bisiknya lagi di telinga Sakura. Membuat seluruh tubuh wanita itu seperti sebongkah es yang perlahan mencair, menjadi satu hempasan ombak yang lembut di samudranya.

Oh, for so long I've tried to shield you from the world

Oh, you couldn't face the freedom on your own

Here I am left in, silence

"Aku percaya padamu... Aku mencintaimu Naruto," seru Sakura gembira. Hatinya terasa seperti sebuah kebun bunga di awal musim semi, merekah mabuk berwarna meriah.

You gave up the fight, You left me behind, All that's done's forgiven

You'll always be mine, I know deep inside, All that's done's forgiven

Akhirnya kalimat yang selama ini ditunggu-tunggu Naruto meluncur juga dari bibir istrinya. Membuat senyum di bibirnya semakin mengembang. "Aku juga mencintaimu malaikatku. Biarkan aku jaga kaki-kakimu, biarkan aku jaga tubuhmu, biarkan aku menentukan langkahmu, biarkan aku menguasaimu, biarkan aku memilikimu... selamanya..."

I watched the clouds drifting away

Still the sun can't warm my face

I know it was destined to go wrong

You were looking for the great escape

To chase your demons away

"Akan kubiarkan apapun itu Naruto, selamanya hanya kubiarkan untukmu," ucap Sakura seraya mengeratkan pelukannya. Membiarkan pelukannya lebih erat dan tubuhnya seperti bersatu dengannya, membuatnya enggan untuk lepas. Belum lagi tangan kekar Naruto yang melilit di pinggang rampingnya, membuatnya seperti tersengat listrik yang menyejukkan.

Oh, for so long I've tried to shield you from the world

Oh, you couldn't face the freedom on your own

Here I am left in, silence

Naruto membuatnya berdansa seperti seorang malaikat sungguhan. Bergerak ringan tanpa beban di atas kaki-kaki telanjangnya. Pipi-pipi keduanya seperti terpatri satu sama lain. Nafasnya seperti menyatu dalam satu hirup. Jantung keduanya berdegup dalam irama yang sama.

I've been so lost since you've gone

Why not me before you? Why did fate deceive me?

Everything turned out so wrong

Why did you leave me in silence?

Malam itu Sakura merasa seperti seorang putri yang baru saja menemukan pangerannya. Menyerah untuk dibawa ke istananya nan jauh di sebuah negara antah berantah. Ia biarkan kaki-kakinya yang jenjang digiring pemuda itu ke sana kemari. Ia merasa seperti hidup di dalam sebuah film, di mana di menit terakhir sang kekasih datang berlarian seperti sebuah roman picisan, mencapai akhir yang bahagia.

You gave up the fight, You left me behind, All that's done's forgiven

You'll always be mine, I know deep inside, All that's done's forgiven

Bibir-bibir keduanya sesekali bersentuhan lembut, saling mengecup, membuat malam itu seperti menggemakan sebuah aroma sensual duniawi yang ingin diabadikan selamanya. Keduanya berdansa entah berapa lama, seperti tak kenal waktu. Sampai kemudian kaki-kaki lelahnya menuntutnya untuk berhenti. Sampai kemudian Naruto membaringkan tubuh istrinya dan tubuhnya sendiri di atas ranjang yang sama.

Nafas keduanya nampak sedikit terengah-engah. Naruto menatap intens malaikat yang menawan hatinya. Sebelah tangannya terulur mengusap peluh yang membasahi dahi istrinya, sebelum kemudian ia memajukan wajahnya, mengecup dahi lebar tersebut dengan penuh perasaan. Ia bergerak turun, menciumi hidung juga kedua pipinya. Menatapnya lagi sekilas, sebelum kemudian mengecup lembut bibir peach Sakura yang semakin lama terasa semakin basah dan memabukkan.

"Sakura-chan, boleh aku meminta sesuatu darimu?" ucap Naruto di sela-sela ciumannya.

Sakura menatapnya lembut, tangannya memanjang, mengalung mesra di leher suaminya. Menariknya perlahan agar wajahnya mendekat. Menikmati setiap hembusan nafas hangat yang menerpa wajahnya. "Apapun Naruto, katakan...," sahutnya pelan, terdengar seperti desahan di telinga Naruto.

Pria blonde itu tersenyum tipis. Bibir tipisnya menggigit kecil bibir bawah Sakura, membuat wanita itu mengerang pelan. Tangannya membelai halus pipi Sakura yang nampak merona, sebelum kemudian ia berbisik. "Ijinkan aku mengembang-biakkan jumlah kita sayang," lanjutnya menggoda seraya menyeringai lebar.

Entah apa yang dilakukan keduanya, tapi yang jelas, malam itu seperti menjadi malam yang panjang bagi mereka, seperti tiada akhir. Membiarkan desahan dan erangan menguasai keduanya, seolah bersaing dengan lantunan lagu yang masih berputar entah sudah berulang berapa kali.

Membiarkan tubuh keduanya saling merapat satu sama lain, namun tak bisa diam. Membiarkan tubuh keduanya kelelahan dalam bahagia yang tiada tara. Membiarkan tubuh-tubuhnya yang basah berpelukan erat, menghirup sisa-sisa aroma bergairah yang baru dinikmatinya, hingga keduanya terlelap dalam satu balutan selimut yang sama. Membiarkan mimpi singkat mengambil alih jiwa dan pikiran mereka sampai mentari pagi yang cerah menyambutnya esok.

~THE END~

Alhamdulillah akhirnya Rey bisa menyelesaikan fic multichap untuk pertama kalinya. *nari hula-hula* *dilempari kelapa*

Sekali lagi Rey mengucapkan terima kasih banyak pada semua Readers dan Reviewers yang mau meluangkan waktunya untuk membaca fic gaje ini. Lebih terima kasih lagi buat kalian Reviewers sejati yang selama ini bersedia memberi masukan buat Rey. Sungguh, tanpa adanya review dari kalian Rey tidak akan mampu menyelesaikan fic gaje ini. Review dari kalian membuat Rey betsemangat untuk melanjutkan fic gaje ini *peluk satu-satu* *Plakk!*

Maaf kalau endingnya kurang memuaskan dan kurang panjang. Apa boleh buat, hanya itu-itu saja yang terlintas dalam otak Rey. *ngeles*

Oh iya, untuk lagu temanya itu tidak ada hubungannya sama cerita. Hanya sebagai backsound saja. Entah kenapa Rey rasa lagunya cukup cocok buat pengiring dansa. Coba deh kalian download mp3nya, sungguh! bener-bener menyayat hati U.U *lebay mode*

Yosh! silahkan klik tombol 'REVIEW' di chap terakhir ini. *ditendang rame-rame*

~Thanks For Reading~