Naruto © Masashi Kishimoto

Warning : OOC parah, AU, Typo(s), Misstypo(s), GAJE, ANEH, JELEK, LEBAY, EYD berantakan, Tata bahasa payah, Diksi hancur, Ide pasaran, Bikin muntah, dll, dsb, dst *PLAK!*

Dont Like Dont Read

~Happy Reading~

.

.

.

.

.

"Jadi Teme, tumben sekali kau menjomblo begitu lama?" tanya seorang lelaki berambut pirang pada sahabatnya yang sedang menyeruput jus tomat kesukaannya.

Pria yang dipanggil Teme itu mendesah pelan. "Hn, aku baru menjomblo dua minggu. Apa maksudmu dengan 'lama'?" sahutnya tak mengerti. Ia yang baru menjomblo dua minggu saja disebut lama, lantas apa sebutan yang pas untuk sahabat pirangnya yang masih setia dengan status jomblonya selama satu tahun lebih. Kadaluarsa, berkarat, lawas, atau mungkin jamuran? Entahlah.

"Ayolah Teme, jangan pura-pura bodoh. Semua orang di sekolah ini tahu kalau kau hampir tidak pernah menjomblo." Terang lelaki beriris blue sapphire itu membuat sahabatnya yang berambut chicken butt style mendelik kearahnya karena tak suka dikatai 'bodoh'.

Oh ayolah, siapa sih yang tidak kenal dengan Sasuke Uchiha? Putra dari Fugaku Uchiha, pemilik salah satu perusahaan terkenal di Konoha—Uchiha Corporation. Siswa kelas XI-A dari sekolah elit ternama, KHS—Konohagakure High School. Berwajah tampan, tubuh atletis, bermata onyx tajam, rambut pantat ayam unik, kulit putih bersih, otak cemerlang, dan juga kaya. Bukan hanya itu, ia juga merupakan siswa unggulan di sekolahnya, juara karate tingkat Nasional, sekaligus merangkap ketua klub basket. Belum lagi gelar Bad Boy-nya yang semakin membuat para kaum hawa meleleh, mencair, menghablur, menyublim, mengembun, dan entah istilah kimia apalagi yang patut untuk menggambarkannya.

Maka tak heran, kalau Uchiha bungsu itu bisa dengan mudah mendapatkan gadis manapun yang ia suka. Hanya dalam waktu satu minggu, ia mampu bergonta-ganti pacar lebih dari lima kali. Bahkan fansgirlnya sudah menyebar diseluruh pelosok dalam negeri.

"Hn, aku memang sedang ingin menikmati kesendirianku," gumam Sasuke malas. "Lagipula, kalau aku menginginkan wanita, tinggal memilihnya saja kan?" lanjutnya menyeringai sebelum kemudian meneguk kembali jus tomatnya.

"Benarkah? Baru-baru ini kudengar kau ditolak oleh gadis Hyuga. Kupikir kau masih menjomblo karena patah hati," ujar seorang lelaki berambut hitam klimis innocent sembari menyantap makanannya. Dan pernyataannya itu sukses membuat Sasuke menyemburkan jus tomatnya, membuatnya tersedak hingga terbatuk-batuk. Sementara kedua sahabatnya hanya memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan, entah prihatin atau bahagia.

"Itu hanya gosip," kata Sasuke setelah ia berhasil mengatasi batuk-batuknya. Sebisa mungkin ia mencoba untuk tetap cool and calm, meskipun dalam hati ia sudah berteriak histeris karena malu.

"Huwaaah... Teme, tak kusangka ada gadis yang sanggup menolakmu," ucap Naruto dengan nada kagum yang dibuat-buat menghiraukan tatapan mematikan dari Sasuke.

"Jadi, kau memang masih sakit hati, eh?" tanya Sai lagi, pria berambut hitam. Membuat tensi darah Sasuke langsung naik drastis.

"SUDAH KUBILANG AKU TIDAK DITOLAK!" Teriak Sasuke sambil menggebrak meja. Membuat seluruh penghuni kantin sekolah menoleh kearahnya dengan tatapan 'wow' bagi yang perempuan, sementara yang laki-laki hanya bisa mendengus tertahan tanpa berkomentar. Berani protes, sudah bisa dipastikan akan berakhir dirumah sakit.

Merasa risih ditatap seperti itu, pria bermata onyx itu balik melotot tajam kearah berpasang-pasang mata yang masih memandangnya. Entah takut atau kagum, setelah mendapat tatapan setajam elang dari Uchiha Sasuke, para gadis-gadis itu kembali pada aktivitas masing-masing, yaitu makan sambil berceloteh seolah tidak terjadi apa-apa.

"Kalau kau tidak ditolak, lalu apa namanya?" lanjut Sai sambil tersenyum aneh seperti biasa.

"Tidak diterima?" timpal Naruto terkekeh.

Sasuke mendengus sebal. Merutuki kedua sahabatnya dalam hati. Hanya gara-gara ia ditolak oleh seorang gadis bukan berarti sahabatnya boleh menggodanya habis-habisan kan? Lagipula ini kan bukan salahnya. Tapi salah gadis itu, gadis yang juga sekelas dengannya, gadis Hyuga, Hinata Hyuga yang sudah menolaknya dengan alasan, ada pria lain yang dicintainya. What the hell! Siapa sih yang lebih keren dari Sasuke di sekolah ini? Mau tidak mau Sasuke kepikiran juga. Dan dampaknya, ia masih menjomblo karena sakit hati seperti yang dikatakan Sai tadi. Tapi tentu saja ia tidak akan mengatakan yang sebenarnya. Harga diri seorang Uchiha jauh lebih mahal dari apapun.

"Sudahlah Sasuke, jangan sampai kau sakit hanya karena ditolak oleh seorang wanita." Sai menepuk bahu Sasuke dengan tatapan prihatin yang dibuat-buat.

"Ayolah Teme, jangan dipikirkan." Naruto memasang tampang peduli yang tentunya juga dibuat-buat.

Sasuke memutar bola matanya bosan. "Hn, oke. Aku memang ditolak. Sekali, hanya sekali." Ujar Sasuke pada akhirnya. Membuat Naruto dan Sai nampak menahan tawa.

"Dan berhentilah tertawa!" bentak Sasuke horror.

Bukannya ketakutan, Naruto dan Sai malah semakin terkekeh.

"Tapi Teme, tidakkah kau merasa aneh?" tanya Naruto setelah tawanya mereda. Sasuke menaikkan alis seolah berkata, 'apa?'

"Baru kali ini ada yang menolakmu. Tidakkah kau tahu apa artinya itu?" lanjut Naruto dengan tampang misterius. Membuat Sasuke penasaran, sementara Sai kembali menahan tawa melihat ekspresi Sasuke.

"Jadi, kau benar-benar tidak tahu?"

"Hn?" sahut lelaki berambut raven itu mulai tak sabar.

Naruto menghela nafas sejenak. "Pesonamu sudah luntur tuan Uchiha," kata Naruto santai.

'Jlegarrr!'

Seperti sebuah halilintar di siang bolong, kata-kata Naruto seolah mengagetkannya dari sebuah mimpinya yang indah. Sasuke dongkol setengah mati. Berani sekali Dobe pirang dihadapannya ini menghinanya. Tidak-tidak, kau masih tetap menawan Sasuke Uchiha. Sangat menawan. Mungkin karena penglihatan gadis Hyuga itu bermasalah hingga tak mampu melihat ketampananmu. Kau ingat mata lavendernya kan? Seperti tidak ada pupilnya. So, lupakan dan buktikan pada temanmu kalau kau bisa menaklukkan gadis manapun yang kau mau. Ujar inner Sasuke menenangkannya.

"Jangan konyol Dobe," dengus Sasuke sebal.

Naruto terkekeh. "Itu kenyataan Teme,"

"Aku sependapat denganmu Naruto," Sai ikut menyuarakan pendapatnya kemudian menambahkan. "Akui saja kau tak seindah dulu Sasuke." Lanjutnya dramatis.

Oh shit! Sasuke mengumpat dalam hati. Ini tak boleh dibiarkan. Kalau begini terus, bisa-bisa harga dirinya sebagai seorang Uchiha akan hancur berkeping-keping. Tak ada yang boleh menghina, apalagi menginjak-nginjak harga dirinya termasuk kedua sahabatnya.

"Cih! Itu hanya kebetulan saja. Sudah kubilang, aku bisa mendapatkan gadis manapun yang ku mau." Seru pria beriris onyx itu membela diri. Ia bersumpah, kalau saja ia tak ingat yang ada dihadapannya ini adalah sahabat baiknya, ia pasti sudah mematahkan tulangnya, merontokkan giginya, meremukkan jantungnya, dan mencucikan seragamnya. Hm, abaikan kalimat terakhir.

"Kalau begitu buktikan Teme," Naruto mengerling jahil.

Sasuke mengernyit. Tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Naruto. Apa yang harus dibuktikan olehnya?

"Buktikan kalau kau memang bisa mendapatkan gadis manapun," tambah Sai menjelaskan maksud dari Naruto.

Sasuke yang sudah paham, hanya bisa menyeringai. Dengan penuh percaya diri ia berkata. "Hn, tentu saja. Akan kubuat kalian mengakui kehebatanku." Ucapnya bangga.

"Kau terlalu percaya diri Sasuke." Sai tersenyum mengejek. "Buktikan kata-katamu dengan menerima tantangan dari kami, bagaimana Sasuke?" lanjutnya menantang.

"Tantangan?" tanya Sasuke balik.

"Iya Teme, kalau kau mau menerima tantangan dari kami untuk menaklukkan salah satu gadis di sekolah ini dan berhasil melaksanakannya, maka kami akan mengakui kehebatanmu dan berhenti menyebutmu... Pe-cun-dang." Jelas Naruto penuh penekanan pada kata terakhir.

Pangeran es itu nampak berpikir sejenak sebelum kemudian menjawab. "Hn, aku terima tantangan kalian. Tapi jika aku menang, kalian harus bersedia melakukan apapun yang kuinginkan selama satu bulan penuh. Bagaimana?" Sasuke menyeringai membayangkan wajah Naruto dan Sai penuh dengan penyiksaan karena disuruhnya melakukan ini-itu.

Naruto dan Sai saling berpandangan selama beberapa saat sebelum kemudian kembali menoleh kearah Sasuke sambil menganggukkan kepalanya, pertanda menyetujui persyaratan Sasuke.

"Dan kalau kau kalah, apa yang akan kau berikan pada kami Teme?"

"Kalian boleh memiliki salah satu mobilku," sahut Sasuke enteng. Membuat mata biru Naruto membulat sempurna, sementara Sai masih setia dengan senyum anehnya.

"Whoaaa... Teme, aku setuju!" teriak Naruto heboh mengabaikan berpasang-pasang mata yang melotot tak suka kearahnya.

"Baiklah, dengan ini tantangan resmi dibuka. Kami akan memberimu waktu 1 bulan dari sekarang untuk menaklukkan gadis itu. Ingat, kau harus berhasil menjadikan dia sebagai pacarmu sebelum tanggal jatuh tempo. Dan kalau kau gagal, bersiap-siaplah kehilangan dua mobil kesayanganmu." Ucap Sai panjang lebar bak seorang rentenir yang melancarkan ancaman pada nasabahnya seraya tersenyum mematikan.

Sasuke menaikkan alis. "Satu bulan? Itu terlalu lama," tukas Sasuke kurang setuju. Ia benar-benar sudah tidak tahan untuk menjadikan kedua sahabatnya itu sebagai pembantunya dalam waktu 1 bulan penuh. Sasuke bahkan tidak peduli siapa targetnya itu. Toh ia yakin, siapapun gadis itu, Sasuke pasti berhasil menaklukkannya. Termasuk Hinata Hyuga yang sudah menolaknya.

"Bagaimana kalau dua minggu?" tawar Naruto yang sudah tersadar dari mimpi indahnya, berkencan dengan mobil baru.

"Hn," sahut Sasuke singkat tanpa pikir panjang.

"Deal?" ucap Naruto dan Sai serempak seraya mengulurkan tangan masing-masing.

Tanpa ragu, pemuda yang digilai banyak gadis itu menjabat kedua tangan sahabatnya bergantian seraya berkata. "Deal." Ketiganya menyeringai, saling membayangkan berbagai macam asumsi kemenangan dalam otak masing-masing.

"Jadi, siapa targetnya?" tanya Sasuke yang sudah tidak sabar ingin cepat-cepat memulai aksinya dan memenangkan pertandingan.

Naruto dan Sai berpandangan. Seringaian keduanya semakin lebar ketika mendapati target yang dimaksud tengah berjalan menuju kearah mejanya.

"Targetmu adalah..." Sai sengaja menggantung kata-katanya.

"Dia..." Lanjut Naruto seraya melirik kearah gadis yang dimaksud. Sasuke mengikuti arah pandang Naruto. Seketika tubuhnya membeku. Mata onyxnya membelalak lebar. Seperti ada batu besar yang menyumbat tenggorokannya hingga membuatnya kesulitan meneguk ludah. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Sasuke baru akan memprotes kedua sahabatnya ketika gadis itu menghampirinya.

'BRAKKK!'

Gadis itu menggebrak mejanya dengan kasar. Membuat suasana hening seketika, membuat semua mata memandang kearahnya dengan tatapan tak percaya tak terkecuali ketiga pemuda yang paling dekat dengan meja malang tersebut.

"Uchiha! Apa kau lupa kalau siang ini ada rapat antar ketua klub di ruang ketua osis, hah?" bentak gadis itu menyeramkan. Aura kegelapan nampak mengelilingi tubuhnya. Membuat seluruh penghuni kantin bergidik ngeri dibuatnya.

Damn it! Sasuke mengumpat dalam hati. Bukan karena ia lupa dengan acara rapatnya. Tapi karena gadis yang baru saja menggebrak meja ini adalah target yang ditentukan oleh kedua sahabatnya tadi. Dengan kata lain, gadis inilah yang harus ditaklukkan Sasuke.

Oh shit! Bagaimana mungkin Sasuke bisa melupakan fakta yang begitu penting, kalau masih ada satu gadis lagi dalam sekolah ini yang amat sangat tidak mungkin untuk ditaklukkan olehnya. Dan betapa bodohnya ia menyanggupi tantangan itu tanpa bertanya dulu siapa targetnya. Sasuke bersumpah demi gigi besar Pakkun, anjing milik Kakashi-sensei. Ia lebih suka menaklukkan roh-roh gentayangan, binatang liar, atau bahkan nenek-nenek'?' sekalipun daripada ia harus menaklukkan gadis yang tengah menggeram marah dihadapannya ini.

Gadis paling garang di KHS, berambut pink sebahu, bermata emerald, memiliki jidat yang lumayan luas, murid kesayangan para guru, menjabat ketua osis, saingan terberat Sasuke dalam memburu nilai, teman—ralat musuh sekelasnya, adik dari salah seorang anggota geng Akatsuki dari sekolah sebelah, siapa lagi kalau bukan—Sakura Haruno. Satu-satunya gadis yang bersikap sangat (tidak) sopan padanya.

"Hn, aku malas." Jawab Sasuke tenang mengabaikan mata Sakura yang semakin melotot tajam menatapnya.

'BRAKKK!"

Lagi, meja malang itu menjadi korban amukan seorang Haruno.

"Dengar ya Uchiha, aku tidak peduli apa urusanmu atau masalahmu. Tapi aku peduli dengan rapat ketua. Dan kau adalah ketua klub basket. Tanpa kuberitahupun seharusnya kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan Uchiha manja!" semprot Sakura seraya melempar kasar sebuah kertas yang berisi hasil dari rapat barusan tepat pada wajah Sasuke. Membuat semua yang hadir hanya bisa menahan nafas tak terkecuali Naruto dan Sai.

Sedangkan Sasuke, masih tetap terlihat tenang dari luar. Tapi dari dalam, ia tengah mengucapkan sumpah serapah beserta seluruh isi penghuni kebun binatang pada gadis jidat lebar yang tidak tahu diri ini dihadapannya.

'Hell! Aku lebih suka menaklukkan monster.' batin Sasuke kesal setengah mati. Seolah teringat sesuatu, Sasuke kembali mengumpat dalam hati. 'What the fuck! Aku harus menjinakkannya dalam dua minggu?'

~TBC~

A/N : Terinspirasi dari salah satu fic Harpot yang pernah Rey baca *gak nanya*
Rey tahu, idenya memang pasaran. Tapi dijamin 100%, alur ceritanya tidak akan pasaran (maybe) ;-)
Yosh. Silahkan tinggalkan kritik, saran, concrit, dll dengan menekan tombol 'REVIEW' dibawah :-D

~Thanks for reading~