WAY TO HEAVEN

by :: Ran Kajiura

Disclaimer :: Naruto belongs to Masashi Kishimoto, while this story is mine...

Warning :: AU, NaruSaku, typo—entah dimana, better not expect too much...

.

.

.

Kupandangi lagi kotak yang teronggok di depanku. Kotak hitam yang akan jadi penentu hidup matiku. Aku sendiri tidak tahu apa yang bisa dilakukan kotak hitam itu untukku. Yang aku tahu pasti, pertanyaan tentang hidup dan matiku akan terjawab dalam waktu beberapa detik lagi.

"Naruto, kau tidak harus melakukannya. Kau lompat saja seka—"

Perhatianku teralih. Gadis berambut merah muda yang duduk berhadapan denganku itu menghentikan kalimatnya tepat saat mataku memandangnya—memandang kedua bola matanya. Kedua bola mata berwarna emas yang akhir-akhir ini menjadi hiburan tersendiri bagiku. Setelah perginya si bola mata hijau ... setelah sekian lama.

"Kau tahu aku tidak mungkin lompat, kan?" potongku.

Gadis itu tergagap sesaat. "Kenapa tidak? Bukankah petunjuk lokasi bom selanjutnya sudah kau kirim pada Shikamaru? Kau tidak punya urusan apa-apa lagi di sini, Naruto..."

Ah, pertanyaan retoris. Gadis itu tahu, dengan kondisi tubuhku saat ini, aku tidak mungkin mendobrak kotak yang saat ini mengurungku, lalu lompat. Tidak mungkin. Lagipula kurunganku saat ini sudah dibuat sedemikian rupa agar tidak mudah didobrak begitu saja.

Raut wajah gadis itu membuat aku memutuskan untuk berpindah duduk ke sebelahnya. Kugenggam tangannya yang pucat, lalu kumainkan jemarinya. Hal yang paling suka kulakukan saat gadis itu panik, dulu. Entah saat ini dia masih mengingatnya atau tidak.

"Sudahlah ... kau sendiri kan yang bilang kalau sebentar lagi aku akan mati..." ujarku, mencoba menenangkannya.

"Tapi ... cara mati seperti ini tidak ada dalam daftar kita, kan?"

Ah, daftar itu. Daftar yang berisi cara mati paling bagus. Daftar yang kubuat atas permintaan konyolnya. Bukan, bukan permintaan konyol juga sebenarnya. Mengingat daftar itu akan mempermudah tugasnya, aku tidak bisa menyebutnya daftar konyol.

Sambil terus menggenggam tangannya, aku menjawab pertanyaannya, "Aku sudah menemukan cara mati paling bagus. Daftar itu sudah tidak penting lagi sekarang..."

Gadis itu terbelalak. Dia jelas tidak menduga kalau aku akan melontarkan kalimat bodoh barusan. Ah, aku memang bodoh. Salah satu sahabat lamaku pernah bilang kalau aku adalah orang paling bodoh sedunia karena tidak bisa baca situasi.

Sekarang aku percaya kata-kata sahabat lamaku itu...

Setelah terdiam selama beberapa detik, kuputuskan untuk tidak membuang waktu. Karena matiku yang sudah ada di depan mata, aku harus mewujudkan cara mati paling bagusku. Bagaimanapun juga, skenario kematianku adalah bagian dari tugasnya. Aku tidak mau gadis ini dinyatakan gagal dalam tugasnya.

"Boleh kupinjam kakimu sebentar?" tanyaku, ragu-ragu.

Mata emasnya menyiratkan rasa bingung sebagai jawaban pertanyaanku barusan. Dan tanpa menunggu jawaban darinya, kurebahkan kepalaku di atas pahanya. Di ruang sempit, di sebuah bangku yang muatannya hanya untuk 3 orang, aku merebahkan badanku. Badanku terus bergerak sehingga posisiku terasa nyaman.

Setelah posisiku nyaman, kupandangi wajahnya yang tertunduk menatapku. Emosi kalut yang sejak tadi tergambar di wajahnya tidak juga hilang. Kupikir kalimat-kalimat bodohku yang sejak tadi terlontar bisa mengusirnya. Tenyata tidak.

"Naruto ... kau yakin?" tanyanya. Aku hanya mengangguk perlahan.

Aku penasaran sekarang. Bukankah seharusnya gadis yang pahanya sedang kupinjam ini senang? Seharusnya saat ini adalah saat yang paling dinantikannya, kan? Ini kan tanda bahwa sebentar lagi masa tugasnya berakhir. Kenapa wajahnya kalut begini? Apa yang masih mengganjal di pikirannya?

"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyaku.

Dengan ragu-ragu, gadis itu menjawab dengan suara berat seakan menahan tangis, "Aku ... aku takut kau akan melupakanku. Seperti aku melupakanmu..."

Melupakannya? Melupakan malaikat secantik ini? Yang benar saja...

"Kau tahu aku tidak akan melupakanmu, ne?"

"Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan, Naruto. Kau ... sama sekali ... tidak tahu..." perlahan, kedua bola mata emasnya mulai menitikkan air mata.

Kenapa malaikat secantik dia harus menangis?

Kuangkat tanganku untuk menghapus air mata di pipinya.

"Bagiku, bukan masalah besar kalau aku melupakanmu..."

Gadis itu terbelalak. Tangisan dan sesenggukannya berhenti mendengar pernyataanku barusan.

"Baka! Kenapa kau bicara begitu?" bentaknya.

Dia memang belum berubah. Bahkan disaat genting seperti ini, dia masih bisa membentakku.

"Kalau aku melupakanmu, aku yakin kau akan berusaha sekeras mungkin mengembalikan ingatanku...

... sekeras aku berusaha mengembalikan ingatanmu..."

Aku tersenyum, berusaha mencegah gadis bermata emas yang sedang memangkuku itu menitikkan air mata lebih lanjut. Dan aku berhasil. Gadis itu mengusap sisa-sisa air mata di pelupuk matanya. Dan dia tersenyum.

"Berapa detik lagi?" tanyaku, mencoba mencairkan suasana.

Gadis itu melirik kotak hitam. "5 detik lagi," jawabnya.

Aku terus menatap mata emas itu sambil menghitung dalam hati.

5...

4...

3...

2...

1...

...

...

...

.

.

.

つづく

Akhirnyaaaaa...

Kependekan ya? Niatnya sih chapter prologue ini sebagai teasernya, biar kayak pelem-pelem gitu. Tapi apa daya, sama sekali ngga 'tease', jadi yaaaa... beginilah. Mohon dimaklumi yaaa... ^_^

Chapter 1 nya lagi progress. Udah jadi ¾ nya kok.. beberapa hari lagi publish kayanya. Tinggal poles sana-sini. Doain aja yaa..

Akhir kata, reviewnya ditunggu yaa... Setiap kata dari minna-san sangat membantu saya..

xoxo

Ran Kajiura