WARNING: OOC(maybe), EYD payah, cerita pasaran, alur kecepetan, gakjelas, belepotan, kurangsanasini, ide cerita pasaran daansebagainya. Yap, perkenalkan aku author baru di fandom ini^^. Aku masih belajar untuk membuat fic XD. Yo semua salam kenal ^o^/

Tak mau banyak berbasa-basi, ENJOY the fic guys ;D

Kalo gak suka gak usah maksain, silahkan tekan 'back'.

Satu lagi, setelah membaca silahkan tinggalkan jejak disini ;D gatooarii

.

Kau harus tau, hidup itu pilihan. Tidak seperti daun mengikuti arah angin yang terus membawanya sampai terjatuh dengan dramatis ke tanah. Kau boleh tetap bertahan di tangkai dan nikmati semilir angin yang membelaimu jika kau mau dan berusaha agar tak terlepas-

.

Hidup itu perjuangan. Bagaimana memperjuangkan hidupmu dengan menyandarkan dirimu pada dendam. Seperti halnya aku.

.

Tapi saat aku melihatmu yang hidup sama sepertiku. Tidak, hidup kita tidak sama. Hanya saja kita merasakannya bersama.

.

"Kau tidak merasakan kasih sayang- maupun cinta, yang kau dapatkan hanyalan penderitaan- dan penghinaan, apa yang salah denganmu?. Tidakkah semua orang memperlakukanmu dengan hak yang jelas telah menempel pada jasadmu semenjak kau lahir ke dunia ini?"

.

"Betapa terlukanya kau-"

.

"K-kita berdua s-sama terluka-"

.

"Betapa menyedihkannya dirimu"

.

tes

.

"Kau benar-benar seorang gadis payah, lemah- tidak berguna"

.

.

"…..Hn.."

.

" –Aku benci mengakuinya. Nyatanya aku lebih lemah tanpa kau-"

.

.

.

-KAMU

Declaimer: Masashi Kishimoto (tidak pernah never selalu always, yeah!)

Story by: ul-chan

Pairing: SasuHina (my first fic)

.

Gadis berambut merah-muda membulatkan matanya. Mulutnya terbuka saat melihat sosok yang menghampirinya dari gerbang Konoha. Seorang pemuda berambut raven, pemuda yang sudah lama ia nantikan dalam hidupnya.

"Sa-suke kun?" Sakura tergagap, bibirnya gemetar tatkala menyebut nama-itu. Mata emeraldnya tak berhenti menatap sang pemilik mata onyx yang pekat itu. Apa ia tengah bermimpi?. Bertemu kembali dengan pemuda yang sangat ia kagumi, lebih tepatnya ia cintai.

Tapi mau apa kedatangan pemuda bermata onyx itu? Menghancurkan Konoha? Oh, Konoha telah rata dengan tanah, semuanya hancur gara-gara penyerangan yang bermodal dendam- dan kedaiaman semata. Lalu? Pemuda ini mau apa? yang Sakura tau, Sasuke berkhianat pada Konoha agar menjadi kuat- lalu bisa membalas dendam pada kakaknya Uchiha Itachi-tapi itu masa lalu. Urat nadi Itachi sudah ditebas oleh pedang Sasuke. Ya,sudah lama sekali Itachi mati. Sakura menelan ludah. Ia memang mencari kebenaran perihal kakaknya Sasuke yang membantai klan Uchiha karena perintah para petinggi Konoha sebagai sebuah misi. Misi terakhir sebelum berkhianat dan bergabung dengan Akatsuki. Sekarang orang terakhir dari klan Uchiha sedang berada di depannya.

"-Sakura"

"Berhenti kau-" Sakura tercekat, ia mengacungkan kunai ke arah Sasuke. Kakinya bergetar dan jantungnya memompa darah dengan ritme yang cukup cepat.

"Sekali kau melangkah kemari- kubunuh kau-" suara Sakura gemetar, di satu sisi ia ingat bagaimana ia sangat tergila-gila pada pemuda berambut biru kehitaman tersebut. Di satu sisi lagi ia harus ingat tujuan pemuda ini adalah menghancurkan desa-nya yang memang sudah rata oleh tanah.

"Tenanglah, aku tak bermaksud untuk membalas dendam, Itachi-nii telah mengatakan dengan jelas padaku dendam tak kan membuat hidupku tenang" Sasuke mengangkatkan kedua tangannya menandakan ia takkan berbuat apa-apa.

Sakura menurunkan tangannya, "Ja-jadi apa yang-"

"Aku kembali"

Iris emerald Sakura yang redup kini bercahaya, "Benarkah?" matanya berbinar. Emerald itu menampakan sebuah kebahagiaan yang ia nanti sejak lama.

traak

Kunai yang Sakura pegang terjatuh. Pemiliknya berlari mendekati Sasuke. Air mata pecah membanjiri matanya dan membuat irigasi kecil yang terus mengalir di pipinya.

"..Aku tau…Sasuke..kau..aku tau….kau pasti kem-…" kata-katanya belum berakhir tapi ada sesuatu yang menancap di punggungnya yang menyebabkan mulutnya tak bisa melanjutkan kata-katanya. Pedang Sasuke menusuk tubuhnya dari belakang. Berakhir di dada kirinya Sakura. Lalu ditarik kembali pedang yang menembus dadanya itu. Segumpal darah pun keluar dari mulut Sakura.

"Aahk!" Emeraldnya bulat sempurna.

"Sa-suke?" matanya masih mengaliri irigasi kecil. Ada keheningan sejenak sebelum tubuh Sakura ambruk.

"…Dari dulu….menyukaimu..selalu-" gadis itu pun tumbang sembari tangannya menyentuh dadanya yang baru saja ditusuk Sasuke.

"…Tch.." Sasuke menjawabnya tanpa perasaan sama sekali.

Dia tatap tubuh Sakura yang sudah tak berdaya didepannya, lalu mengatakan tujuannya dengan cukup jelas.

"Aku kembali untuk membunuh orang-orang yang tertawa diatas penderitaanku. Sakura, kaulah salah satunya.."


Kini Sasuke berjalan menyelusuri semua jalan di penjuru desa. Ia sangat menikmati pemandangan baru di desanya yang cukup bagus. Tenda-tenda berdiri megah, bangunan hancur, gedung Hokage, sekolah ninjanya dulu- akademi, semuanya telah luluh lantak rata dengan tanah. Yang masih berdiri tegak hanyalah para patung Hokage.

Tch, Sasuke sepertinya harus segara menemukan orang yang pantas merasakan betapa marahnya Sasuke saat kejadian kelam itu terus berputar di proyektor otaknya. Tidak, ia tidak boleh terburu-buru bagaimana pun juga. Sampai pada akhirnya mata onyxnya menangkap sesosok rival terbesarnya yang berambut kuning cerah tengah berada di dalam tenda darurat.

Uzumaki Naruto.

Ia mengaktifkan Sharingan-nya, berlari menghampiri rival abadinya tersebut. Dengan sigap ia mengeluarkan pedang andalannya dan mengaliri cakra petir pada pedangnya.

Tunggu dulu! Bukankah terburu-buru itu bukanlah tindakan yang tepat?. Terlalu mencolok jika tiba-tiba menyerangnya. Maka Sasuke meredam segala gejolak emosinya dan bersembunyi di atas dedaunan pohon yang menjulang tinggi- Sasuke beruntung, ia masih dapat bersembunyi atas kecerebohannya tadi.

Melihat situasi dan kondisi, itu yang terpenting untuk menentukan tindakan apa selanjutnya. Sasuke tiba-tiba menyeringai penuh kemenangan. Raut wajah Naruto menampakan wajah kekhawatiran yang sangat berarti untuk Sasuke. Mayat Sakura pasti telah ditemukan. Terlihat para ninja media menggotong jasad Sakura dengan tandu. Mereka semua mengobatinya dengan semua yang mereka bisa. Naruto berteriak penuh kecemasan dan mengeluarkan tetesan air bening yang keluar dari matanya- tanda tak terima.

Bagi Sasuke semua itu belum cukup menjadi obat penderitaannya yang ia rasakan sakitnya selama hidup. Masih kurang, sangat kurang. Kali ini Sasuke berancang-ancang akan mewujudkan impian terakhir Naruto, berbaring bersama Sakura-selamanya. Kakinya terjulur kebawah, ia turun.

Tak tahukah kau Sasuke, ada seorang gadis lagi yang memperhatikanmu dari belakang. Ia terus mengawasi semua gerak-gerikmu. Mata bulannya tak mau lengah menyaksikanmu. Surai panjang indigonya menjadikan sebuah identitas.

Sasuke baru saja akan melangkahkan kakinya menemui Naruto, ia dihadang oleh gadis bersurai indigo.

"U-uchiha Sa-sasuke"

Meskipun tergagap, tapi keteguhan bukan berasal dari mulut semata. Lihatlah matanya. Manik lavender itu menatap Sasuke tanpa keraguan sedikit pun.

"B-berhenti.."

Kedua tangannya membentang. Tanda tak memperbolehkan Sasuke memasuki wilayahnya.

"-Hyuuga"

Sasuke menyapanya singkat. Alisnya berkerut mengingat siapa gadis yang tengah menghalanginya ini.

"H-hinata, a-aku Hinata. T-temanmu di a-akademi.."

Ingin rasanya Sasuke merobek mulut orang yang mengatakan semua kata tabu- 'teman'.

"Tch..aku tak pernah mengenalmu. Kau hanya peganggu. Pergi kau, atau kubunuh sekarang juga" onyx Sasuke menatap tajam gadis lavender tersebut. Kini pedangnya terhunus ke udara.

"K-kau memang tidak pernah mengenalku, Sasuke-san." Tangannya masih terbentang. Ia tidak gentar.

"U-untuk apa membunuh o-orang yang sama sekali tidak kau kenal?"

Sasuke terdiam sesaat menunggu kata selanjutnya yang terlontar pada mulut gadis itu.

"T-tidak ada gunanya. Seharusnya kau tau i-itu".

Bibir Hinata kemudian membentuk siluet senyuman, "T-tapi kami semua kenal siapa k-kau.." ia menurunkan tangannya.

Sasuke tertawa kecil kemudian dia berteriak menggelegar.

"Tentu saja! Akulah orang terakhir di klan Uchiha! Mana mungkin kalian semua tidak mengenalku!"

Meskipun Sasuke berteriak dengan aura menyeramkan, Hinata masih berani menatap mata Sasuke.

"B-bukan mengenalimu seperti itu-" ia sengaja memberi jeda pada kata-katanya.

"M-mengenali kehidupanmu yang kelam itu S-sasuke-san. K-kami semua telah mengetahuinya.."

Mulut Sasuke bersiap tertawa mencemooh lagi, tapi lagi-lagi Hinata memotongnya.

"K-kami atas warga desa m-minta maaf..atas semua yang terjadi padamu-" Hinata membungkukkan badannya 90 derajat.

"K-kalau kau masih m-merasa masih kurang, a-aku akan meminta semua warga desa- para petinggi- bahkan H-hokage sekalipun untuk hormat sepertiku."

Hinata melanjutkannya lagi tanpa memberi Sasuke kesempatan untuk berbicara.

"A-aku mewakili mereka semua. M-maafkan kami, S-sasuke-san. Kembalilah ke desa Konoha."

Jantung Sasuke berdetak tak karuan. Seluruh warga desa meminta maaf padanya,? Apa ia tak salah dengar? Warga desa memintanya pulang. Kembalilah ke kampung halamannya seorang. Apalagi orang yang membujuknya kembali adalah Hinata. Hyuuga Hinata.

Bohong jika Sasuke tak mengenal Hinata, gadis kikuk dan yang paling lemah yang ia ketahui di akademi. Tapi gadis indigo itulah yang membuat Sasuke terperengah kaget. Dulu, Kakashi pernah bercerita padanya tentang ujian chuunin saat Hinata melawan sepupunya-Neji. Hinata terus mengerahkan kekuatannya untuk melawannya, semua orang tau Hinata itu lemah tapi semangatnya yang tinggi itulah yang membuatnya tidak terlihat lemah. Neji memang dendam pada Hinata, karena ayah Hinata membunuh ayah Neji. Yang mengagumkan bagi Sasuke, bagaimanapun kejamnya Neji, Hinata tetap memaafkannya dan tidak berbalik dendam pada Neji. Sampai pada akhirnya Hinata kalah dan sekarat melawan sepupunya yang tak punya belas kasihan sama sekali. Saat itulah Naruto turun tangan dengan menantang Neji. Begitu mendengar nama Naruto yang membela Hinata dan mendukungnya, saat itu juga Sasuke menyesal mengapa ia malah berbaring tak berdaya tak berbuat apapun untuk gadis yang pertama kali ia kagumi.

Meskipun..Sasuke tak bisa mengikuti Hinata dengan memaafkan semua yang pernah terjadi padanya.

Tapi kali ini berbeda..semua warga desa yang meminta maaf padanya!

"T-tentang klan-" mulut Hinata tercekat dan membuyarkan lamunan Sasuke, " K-kau bisa membangkitkannya la-lagi.."

Harus Hinata akui, kata terakhirnya membuatnya merona hebat. Karena itu ia masih membungkuk 90 derajat agar Sasuke tak harus melihat wajahnya yang merona.

Membangkitkan klan? Sasuke memutar bola matanya sebentar. Ya, hanya di desa tempat kelahirannyalah ia bisa membangkitkan klannya kembali. Itu-yang diwarisi Itachi-nii saat pertarungan terakhir melawan Kabuto.

Dan orang yang akan menemaninya membangkitkan klan adalah gadis ini..tak ada gadis lain yang mengisi hati dan pikirannya selain gadis kikuk ini..

Untung sekali Hinata membungkuk. Sehingga tak perlu juga melihat wajah Sasuke yang tersenyum tipis dan pipinya merona.

"Kalian akan menerimaku?"

Terucap juga sebuah jawaban yang melegakan bagi Hinata, ia mulai meluruskan punggungnya sembari mengangguk menjawab pertanyaan Sasuke.

"Aku membunuh teman-ku sendiri tadi"

Hinata menstabilkan emosinya. Berusaha untuk tetap tenang.

"H-haruno Sa-sakura?" Hinata memintanya sebuah ketegasan.

"Ya. Aku membunuhnya. Masihkah kalian menerimaku?"

Hinata terdiam. Mungkin ia tengah berpikir. "T-tentu Sasuke-san" kembali ia memberi jeda. "Sakura-san tidak mati-"

Sasuke menatapnya heran. "Aku membunuhnya, mana mungkin ia tidak mati" alisnya beradu.

"T-tidak, S-sakura-san hanya tidak sadarkan diri"

"Bagaimana bisa?"

"K-kami menyembuhkannya d-dengan sekuat tenaga.."

"Tapi tadi-Naruto…" Sasuke tak sabar.

"N-naruto-kun histeris karena Sakura-san tak mau siuman. T-tapi ia baik-baik saja. S-sungguh" Hinata meyakinkan. Sasuke masih membeku tak percaya.

"P-percayalah Sasuke-san, S-sakura-san baik-baik saja. T-tapi ia tak sadarkan diri. E-entah sampai kapan.." Hinata menundukan kepalanya.

Sekejap Sasuke menghampirinya dan menepuk kepala Hinata.

"Apa kau menyesal?"

Hinata tak sanggup untuk meluruskan pandangannya dengan Sasuke. Ia tetap menunduk. Bukan apa-apa, hanya saja Hinata takut..

"T-tidak S-sasuke-san."

Takut Sasuke mengintimidasi apa yang ia sembunyikan di balik mata bulannya…

Keheningan tiba-tiba saja menyelimuti keduanya. Hinata tetap menunduk, berkelit dari tatapan kelam Sasuke.

"Baik. Aku percaya padamu. Sekarang tunjukan jalan menuju tenda Sakura. Buktikan apa yang ucapkan itu"

Hinata mengangguk pelan. Sungguh ia masih tak berani menatap onyx itu.

Sebenarnya Sasuke juga menyadari keganjilan yang terjadi pada tubuh si gadis bersurai indigo ini saat ia bertanya tentang Sakura. Tak ada gunanya mengkhawatirkan keadaan. Sasuke masih bisa memprediksi tidak akan ada hal buruk yang akan menimpanya. Hanya saja ia lebih memilih diam dan menikmati alur cerita perlahan-lahan. Semuanya akan terbongkar pelan tapi pasti.

-Tbc-

Huft…butuh beberapa kali aku merombaknya…..aaarghhh gila sendiri.

Terlalu singkat ya? Atau malah terlalu panjang?

gaje ya? sulit dimengerti? aneh?

Karena aku newbie, mohon maaf banget ceritanya terlalu amatiran….

gaya bahasa tatanan kata...waah aku masih harus banyak belajar dari senior dan semuanya disini :D

Tolong beri aku flame/masukan/tambalan/komentar/pengarahan sanasini/atau apa saja(?) dengan cara me-repiu (itu klik yang biru biru)

Semuanya akan aku tampung dengan sukacita dan lapang dada.. yey xD

Last, Mind to review?

r

e

v

i

e

w