Maafkan ketidak jelasan-ku minna x

Inilah chap terakhir,

Chap4-5 itu adalah endingnya. Aku bagi dua gitu, bagi yang kecewa atas chap 4 kemarin maaf ya o

Satu lg, gomen bgt updet lama –n-

Biasaalaaaah ngaret *plakplak*

Sudah ah, basa-basinya. Happy read~

-KAMU

Declaimer: Masashi Kishimoto (tidak pernah never selalu always, yeah!)

Story by: ul-chan

WARNING: OOC(maybe), EYD payah, cerita pasaran, alur kecepetan, gakjelas, belepotan, kurangsanasini, ide cerita pasaran daansebagainya. Yap, perkenalkan aku author baru di fandom ini^^. Aku masih belajar untuk membuat fic XD. Yo semua salam kenal ^o^/

Warning: the last chapter! yiihaaa

Pairing: SasuHina (my first fic)

I hope u like it. ENJOY!

Chapter 5 #endofall

Kembali ke masa lalu:_

Uchiha cilik berambut raven itu berjalan dengan percaya diri memasuki lapangan pertarungan ujian Chuunin. Sepak terjang rekan satu timnya yang tadi bertarung pertama masih berbekas di lapangan. Sorak sorai penonton memanggil si petarung kedua.

"Ayo! Uchiha Sasuke! Munculah!"

Ya, itulah namanya. Sekarang pemuda cilik bermabut biru gelaplah yang akan menontonkan kehebatannya.

Sebelumnya, Sasuke melihat Neji yang ambruk lalu digotong oleh para ninja medis. Hyuuga Neji, apa Naruto begitu kuat sampai bisa membuatmu seperti itu? Yang Sasuke tahu Naruto hanyalah anak urakan yang tak bisa diatur.

Dan, kepala Sasuke mendongak ke atas melihat deretan bangku penonton.

Mencari sosok Hyuuga Hinata, Sasuke menemukannya. Ia sedang terbatuk-batuk, mengeluarkan darah dari mulutnya. Teman setimnya, kalau tidak salah bernama Kiba menopang tubuhnya yang terhuyung-huyung lemas oleh penyakitnya sendiri.

Merasa Hinata sudah sangat parah. Ya, Hinata sudah tak sadarkan diri.

Anbu misterius pun datang mengobatinya. Tapi matanya tetap tak mau terbuka, tak mau melihat pemuda cilik Uchiha yang akan segera bertarung ini.

Sasuke menebak, pasti saat Naruto bertarung dengan saudaranya itu, Hinata mendukungnya meskipun badannya yang sakit menjadi penghalang.

Ah…Sasuke membayangkan mimik bahagia Hinata saat Naruto menang. Senyuman itulah yang Sasuke inginkan.

Harusnya senyumnya untukku, harusnya sorakan dan dukungan gadis itu hanya milikku. Hanya aku, aku lah seharusnya yang kau idamkan. Akulah seharusnya yang bertarung disini pertama kali, dan sekarang aku disini kau pun jatuh tak menghiraukanku yang selalu menunggu.

Menunggu dirimu.

Seyuman yang teduh seperti mendiang Ibunya dulu. Tersenyum manis saat ia kesal karena selalu saja dibanding-bandingkan dengan Itachi.

Narutolah yang mendapatkan semuanya tentang gadis indigo itu.

Sasuke mengepalkan tangannya erat. Kesal, sangat kesal!

.

Sungguh, Sasuke tidak pernah menyangka, monster dari Suna itu begitu sulit dikalahkan. Bertarung dengannya sama saja bertarung dengan malaikat pencabut nyawa. Lalu kenapa pangeran berambut kuning keemasan itu malah muncul menyelamatkan Sasuke atas nama teman.

Menggelikan, kenapa bocah autis itu malah datang menolong apa dia tidak mengukur kemampuan dirinya sendiri? Sok hebat, memang kau ini siapa Naruto!

Mulut Sasuke menganga, tak percaya dengan kenyataan didepannya. Narutolah yang memenangkan pertandingan dan melawan bocah monster dari Suna, Gaara.

Sasuke hanya bisa berteriak dalam hati. Perasaan benci yang mulai menguasai.

Apa bedanya aku dan dia! Kenapa? Kenapa dia begitu kuat?

.

Hari-hari mulai merambat, Sasuke berbalik memilih Orochimaru sebagai gurunya yang baru. Mengajarinya jurus-jurus dan merapalkannya dalam sekejap. Sasuke mempunyai otak yang cerdas. Dia dapat menguasai sebagian jurus-jurus Orochimaru.

Orochimaru berbalik bangga padanya.

Tak lebih tak kurang, itu hanyalah tipuan. Orochimaru hanya ingin tubuhnya. Tapi Sasuke belajar banyak hal tentang kehidupan, nyawa seseorang, dan kemauan.

Lagi, Sasuke berpikir tentang gadis berambut Indigo. Seperti apa dia sekarang? Bertambah kuatkah? Masihkah ia mengagumi Naruto?

Semua penasarannya yang mencekik seperti lemparan pertanyaan-pertanyaan maut, kini Sasuke sudah menemukan jawabannya kenapa Hinata begitu mengagumi Naruto. Dan yang paling penting, Sasuke tak bisa mengelak dengan semua kenyataan yang ada.

Masa kecil mereka yang sama.

Naruto sendirian, karena ia bocah Kyuubi sehingga ia dikucilkan.

Hinata pun sendirian, karena dia lemah. Sehingga semua orang di klannya menjauhinya dan meragukannya.

Kemudian, Naruto bertindak sangat bodoh, tidak bisa diam itu semua karena ia ingin mendapat perhatian dari semua orang. Iya kan? Akhirnya ia dikenal sebagai ninja pembuat onar.

Tapi, berbeda dengan Hinata, kau melihatnya sebagai ninja yang menemukan jalan hidup.

Kau ikuti langkah Naruto. Kau tepat berada di balik punggung Uzumaki tersebut.

Jalan penuh cahaya. Kau ikuti setiap perjuangan yang Naruto lakukan.

Agar kalian diakui.

Ya, hanya itu.

Kalian ingin diakui. Sebagai seorang manusia yang ingin mempunyai kehidupan yang normal seperti layaknya anak-anak yang lain.

Itu tidak adil.

Kenapa hanya aku, yang malah terperosok jauh kedalam lubang hitam?

Kenapa hanya aku yang disisakan oleh kakakku. Sehingga aku semakin mengenal apa itu dendam, jurus, dan kematian. Menyebabkan jalan yang kita tapaki jauh sangat berbeda, kalian berdua berjalan dibawah cahaya. Aku dibawah kegelapan.

Hatiku sudah busuk, otakku menghitam berbelatung. Aku hanya memikirkan keburukan-keburukan kakakku Itachi tanpa mengetahui kebenaran dan kenyataan yang sesungguhnya.

Kalian berdua pasti tertawa bahagia karena perjuangan kalian sudah selesai dan keinginan kalian terwujud. Aku juga, keinginanku terwujud tapi menyisikan dosa dan perasaan yang bersalah bersemayam dihatiku yang busuk ini.

Kakakku, Itachi yang aku kagumi dan aku sayangi melindungi desa dengan sepenuh jiwa dan raganya. Mau berkorban melakukan apa saja. Demi desa.

Membantai klan saja ia mau melakukannya, dan aku orang yang ia sisakan.

Aku menangis.

Ia pun menangis.

Kalian tertawa.

Beraninya. Kalian bisa hidup karena Itachi-lah yang berjasa!

Percuma, kalian sama sekali tak mendengarkanku.

Klan-ku tak dianggap.

Klan-ku tak terakui, kenapa!

Jawab aku! Kenapa! Untuk apa aku hidup?

Mataku buta, aku lelaki tapi aku juga berhak menangis. Meratapi nasib yang sudah menjadi suratan takdir. Aku benci hidup kalau begini. Haha, tak ada gunanya untuk bunuh diri. Akan kuhancurkan konoha! , itu akan lebih bermakna.

.

Gadis bersurai indigo. Itukah kau? Rambutmu bertambah panjang, mata lavendermu tak pernah kulupakan. Kau datang untuk menghentikanku, dan aku menginginkan hal itu.

Aku berbohong bahwa aku melupakanmu, sesungguhnya kau tak bisa kulupakan meskipun aku sudah mengusahakannya.

Kau bilang akan membangkitkan klan Uchiha bersamaku. Aku mau, tentu saja. Sudah lama aku menginginkan hal ini. Kau seperti matahari, begitu menyilaukan mataku. Aku ingin bersamamu dan keluar dari jurang gelap dan sempit ini.

Itu pikirku…

Kenapa kau terus menunduk? Apa yang kau sembunyikan?

Aku hanya diam, aku tak bisa memaksamu. Aku takut melukaimu.

Kenyataannya kau lah yang melukaiku. Kau berbohong padaku. Sakura yang menyuruhmu melakukan ini semua.

Aku tak mau bertanya lagi.

.

"Cukup!" Sasuke meremas rambut ravennya. Mengenang masa lalu itu cukup menyakitkan. Meskipun jangka waktunya hanya 5 hari, itu sudah menjadi kenangan kan?

Semua pikiran-pikiran busuknya, enyahlah! Sasuke sudah cukup kesakitan.

"Sudah cukup!" Sasuke berteriak pada dirinya sendiri. Tak ingin proyektor otaknya memutar kembali rasa-rasa pahit itu.

Segera saja ia bangkit dari tempat tidurnya , ia harus segera bersiap. Hari ini ah bukan, tapi pagi ini juga Sasuke harus menghadiri pelantikan sahabatnya atau lebih tepatnya saudaranya yang akan menjadi Hokage ke-enam sekaligus menyatukan hatinya dengan rekan satu timnya juga, Haruno Sakura dengan ikatan pernikahan.

Sasuke tersenyum simpul. Ia juga akan seperti Naruto, ia akan menyatukan hatinya dengan Hyuuga Hinata.

Yaa…Hinata tak pernah tau akan hari ini, dan semua itu akan menjadi kejutan.

.

Tok tok!

Sasuke mengetuk pintu kamar Hinata tak sabar.

Tok tok!

Kali ini Sasuke memukulnya lebih keras.

TOK TOK!

Sasuke tak punya kesabaran lagi. Meskipun pagi ini baru jam 6 pagi, tapi ia harus bisa membangunkan Hinata yang sepertinya masih terlelap.

Apa mungkin ia terlalu banyak menangis untuk hari yang sakral ini? Pernikahan Naruto….?

Tapi Hinata sudah terpaut padaku bukan? Batin Sasuke memanas, sepertinya ia harus mendobrak pintu ini!

.

.

.

"Hhh…?" Hinata membuka pintunya malu-malu, pas sekali dengan gerakan Sasuke yang akan mendobrak pintu.

"…Ada apa?" Hinata menjulurkan kepalanya, memandang Sasuke lebih dekat. Sasuke memposisikan dirinya senormal mungkin.

"Ehem"

Sasuke salah tingkah, mau menjelaskan maksud yang akan terjadi hari ini pada dirinya dan Hinata agak susah. Ia kurang mempersiapkan kata-kata yang pas yang…

"…kalau tak ada keperluan, aku mau tidur lagi…"

"Hi-hinata!"

Panggilan itu sukses membuat gerakan slow-motion diantara mereka.

Hinata baru tersadar kalau Sasuke berpenampilan 180 derajat berbeda darinya. Jelas, orang Hinata baru bangun tidur(terpaksa). Melihat keganjilan tersebut membuat Hinata gugup plus malu.

"K-kau mau kemana Sasuke?"

Sasuke benar-benar bingung harus berkata apa, otak cerdasnya sedang tak berfungsi jika ada mahluk bernama Hinata ini didepannya. Mulutnya seakan dijahit sehingga bergumam tidak jelas. Terlalu gugup?

"….kau bicara apa, Sasuke?" Hinata menyipitkan matanyadan mendekatkan telinganya.

Buang-buang waktu! Sudahlah! Akhirnya yang Sasuke lakukan ialah menarik sebelah tangan Hinata dan menggendongnya dengan tidak etis sekali.

Hinata diangkatnya seperti karung beras, digendongnya Hinata di pundaknya.

Jangan bertanya bagaimana wajah Hinata yang memerah, memanas dan tubuhnya yang bergetar karena rasa gugup menyelimuti dirinya.

"Sasuke!" Hinata susah payah menyebutkan nama itu, "Mau kemana ini? Aku belum mandi!"


Gedung Hokage sudah ramai dikerubungi oleh penduduk desa, padahal acaranya baru akan dimulai 2 jam lagi, tapi dari tadi para penduduk desa itu tetap menunggu sang Hokage-keenam yang menyapa mereka.

Sebenarnya Naruto sendiri sudah gatal, ingin rasanya ia berteriak di hadapan para penduduk desa yang semenjak subuh menunggu ia untuk keluar. Rasa gembira ini sangat-sangat menyesakkan, ia ingin berbagi dengan semuanya.

Sakura yang memandangnya hanya bisa menggeleng-gelenggkan kepalanya. Bibirnya membentuk senyuman senang dan juga terharu dengan keadaan penduduk desa yang 180 derajat berbalik mendukung Naruto, tidak seperti saat itu.

Akhirnya Sakura yang memulai, ia menepuk pundak calon suaminya.

"Kenapa tidak menyapa mereka saja?"

Naruto menampakan wajah ketakutannya, "Kakashi-sesnsei akan membunuhku kalau aku muncul dihadapan penduduk desa sekarang"

"Masa bodoh dengan Kakashi-sensei, kau akan menjadi Rokudaime dan aku akan menjadi istri Rokudaime. Kalau Kakashi-sensei berbuat macam-macam kubuat ia merasakan Shannaro-ku"

Naruto salah menampakan ekspressinya, calon istrinya lebih menyeramkan dari siapapun!

"Boleh saja, rambutmu yang susah payah ditata itulah yang akan jadi taruhannya"

Kakashi memperlihat kuda-kudanya, seperti akan mengeluarkan Chidori.

Sakura histeris, rambutnya yang sudah ditata sedemikian rupa akan hancur berantakan gara-gara Kakashi-sensei menyerangnya dengan Chidori, itu…tidak akan terjadi!

Dasar Sakura, karena panik ia malah menarik tangan Naruto dan melompat keluar dari gedung Hokage.

Baik Naruto maupun Kakashi mereka berdua terbelalak kaget, sekarang bertambah dengan penduduk desa juga yang kaget Hokage barunya melompat keluar dengan calon instrinya. Ada apa ini? Batin mereka bertanya-tanya.

"Lihat!"

Seru beberapa anak-anak yang melihat keanehan di hari pertama Hokage ke-enam yang melompat dan hendak mendarat didekat mereka.

"Sst!" Sakura memanggil Naruto, "Sapalah mereka!" katanya.

Naruto tentu saja sangat senang dengan ke-reflek-kan calon istrinya yang sangat-sangat kreatif. Ia mencium pipi Sakura sebagai tanda terimaksaih dan itu semua menjadi tontonan semua orang yang melihatnya.

"Whuuuuuuuuuuu!"

Surakan mewarnai awal dari pernikahan sekaligus fenomena yang sangat langka dilakukan oleh Hokage sebelumnya.

Sakura tersipu malu meskipun sebenarnya ia kaget dengan perlakuan Naruto, apalagi sambutan para penduduk desa sangat hangat. Pipinya memanas.

Mereka mendarat, dan anak-anak mulai mengkrubungi mereka malu-malu. Semua mata tertuju pada Sakura dan Naruto.

"Cantik…"

"Gentle sekali.."

Gumaman mereka jelas dan terdengar di telinga Naruto. Naruto tersenyum bangga.

"Penduduk Konoha sekalian, dengarkanlah..hari ini aku menyatakan bahwa aku adalah Hokage ke-enam yang baru dan juga menjadi suami yang sah untuk Haruno Sakura"

Naruto berkata keras sekali. Semuanya berteriak memberikan kata selamat pada Naruto. Teriakan-teriakan membahana saat Naruto mendengar suara..

Blugh!

Ada yang terjatuh?

"Kyaaaaa! Haruno-Sama pingsaaan!"

Pingsan? Di tengah-tengah para penduduk! Inilah bukti pernikahan dan pelantikan paling kacau abad ini di Konohagakure!


Karena terjadi kesalahan jadwal yang sangat fatal mengenai hubungan Naruto-Sakura, Sasuke berusaha menahan ego-nya yang bergejolak yang disebabkan oleh si Neoduodobe* sebelahnya, Kakashi memegang dagunya dan mengusap-ngusapnya. Ia sudah memprediksikan hal ini sejak awal.

"….kalau kau mau mendengarku, Naruto…"

Kakashi terus mengomeli Naruto tanpa ampun, yang diomeli hanya mendengarkan tak ikhlas dan memasang muka tak berdosa.

"…benar-benar dimulai jam 9…" Kakashi menggelengkan kepalanya. "Ckck"

"Huh"

"Berhenti mengeluh Naruto, kau seharusnya berpikir dahulu sebelum melakukan sesuatu. Tak kusangka Sakura terlular penyakit bodohmu itu.." Sasuke mencoba mengadili Naruto.

Gigi Naruto beradu merasa tak enak karena dipojokkan, "…aku tidak tega pada penduduk desa yang sudah menungguku berjam-jam! Aku ingin menyapa mereka dan membunuh perasaan bosan dari mereka! Aku-"

"Dan sekarang kau membuat penduduk desa menunggumu lebih lama lagi!"

Naruto menunduk. Semua ini masih baru baginya dan tidak mudah untuk membiasakan diri dengan sesuatu yang baru.

Sasuke menyadari hal itu dan menepuk pundaknya, "Maaf, aku hanya khawatir"

"Tidak apa, aku pikir Kakashi-sensei lebih khawatir. Makanya ia seperti itu"

Sasuke mencoba tersenyum untuk memulihkan perasaan Naruto. Sangat ampuh, kali ini Naruto merasa lebih baik.

"Terimakasih"

Kakashi sebenarnya tersenyum bersembunyi dalam maskernya, pandangannya tetap berkutat dengan novel kesayangannya. Tapi pikirannya sedang memikirkan mantan-mantan muridnya ah maksudnya muridnya kini sudah bisa bersatu kembali dan mewujudkan mimpi mereka bersama.

Indahnya persaudaraan.

Kakashi tersenyum lebih lebar. Dan membuat guratan pada maskernya. Semoga tak ada yang sadar.

"N-naruto-kun, Sakura-san sudah siuman.."

Suara ini…

Sasuke segera membalikan badannya agar bisa berpandangan dengan-

Calon istrinya, Hinata.

"S-s-sasuke" Hinata yang menyadari Sasuke memandang dirinya gugup luar biasa. Ia menundukan kepalanya dalam-dalam.

'Aku pasti terlihat aneh' tangan Hinata meremas ujung bajunya. Lagipula kenapa ia harus memakai baju yang seperti seorang bangsawan yang mau menikah? Hinata berusaha menepis pikiran-pikiran anehnya.

Sasuke melihat Hinata dari atas sampai bawah dan sebaliknya. Wajahnya merona. Baguslah Hinata menunduk, jadi Sasuke tak usah bersusah payah menyembunyikan wajah meronanya.

"Kalau Sakura sudah tersadar, kita mulai saja acaranya" Kakashi memecahkan atmosfer yang terbentuk antara Sasuke dan Hinata.

"Tentu!" Naruto lah yang paling semangat, ia segera memegang lengan Sakura yang masih meraba-raba jalan.

"…Pelan-pelan Naruto!" Sakura memerah seperti gaunnya. Gaun khas klan Haruno, berwarna magenta yang biasa Sakura kenakan. Naruto hanya tersenyum jahil.

"Kalau begitu…" Naruto menggendong Sakura ala bridal style, Sakura memekik menahan perasaannya yang tak karuan.

"Naruto!"

Wajahnya memerah seperti wajah Hinata yang biasa memerah karena didekati Naruto.

Naruto membawa Sakura ke balkon, dimana penduduk desa mendongak melihat ke atas dan mencari tahu apa yang terjadi diatas sana.

"Para penduduk desa, kukatakan sekali lagi. Aku, Uzumaki Naruto Hokage-keenam kalian. Sekaligus menjadi suami Haruno Sakura"

Tepuk tangan riuh bergema.

"Hari ini resmi nama Haruno Sakura akan dienyahkan dari desa ini, dan akan berganti menjadi Uzumaki Sakura"

Ino menjerit sekeras-kerasnya. Mencoba menggoda sahabatnya yang masih digendong oleh Naruto dengan gaya yang –waw. Baik Shikamaru, Chouji, Lee, Tenten semuanya bersiul bersama-sama yang memeriahkan suasana pagi hari ini.

Sakura hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada bidang Naruto. Wajahnya benar-benar panas. Akankah ia pingsan lagi? Apa ia bisa kuat dengan godaan dari teman-temannya. Hari ini Sakura benar-benar keluar dari karakternya.

Naruto berbisik pada Sakura, "Sanggup berdiri Sakura-chan?"

Sakura mengangguk. Tapi tangannya terus menggengam tangan Naruto.

Kiba bersiul dengan volume keras. "Wikwiiiiw*" melihat pergerakan Sakura yang malu-malu-tapi-mau.

Naruto berusaha menenangkan semuanya sebenarnya berusaha menenangkan perasaan gugup Sakura, "Tolong tenang semuanya…hari ini bukan hanya aku saja yang menjadi suami sah Sakura-"

Semua orang seakan-akan tak bernafas menunggu kata-kata yang terputus dari mulut Naruto.

"Uchiha Sasuke, saudaraku. Pada hari ini juga menjadi suami yang sah untuk Hyuuga Hinata!"

"HAAAAAAA?"

Mana ada pernikahan dadakan semacam ini? Mana kartu undangannya?

Semua orang seakan dipermainkan, bingung, dan merasa ini hanyalah lelucon semata.

"Aku tidak bercanda" Naruto berkata seserius mungkin. "Inilah buktinya!"

Sasuke memegang tangan Hinata yang terus gemetaran untuk memperlihatkan mereka berdua dihadapan penduduk desa dan juga para tamu terhormat yang hadir –seperti Gaara, Kankurou dan Temari.

Mata mereka semua membulat saat Sasuke-Hinata berjalan mendekat.

Uchiha Sasuke mantan nuke-nin yang berhati dingin menikah dengan Hyuuga Hinata yang super kikuk. Apa jadinya keluarga mereka? Saling diam dan kaku?

Hinata sangat kaget, tentu saja. Semua ini seperti sebuah mimpi, baru saja Hinata dilamar oleh Sasuke kemarin sore dan hari ini pembuktian kata-katanya yaitu ia benar-benar menikah apalagi berbarengan dengan pelantikan dan pernikahan Naruto!

Semua orang yang melihat mereka tentu lebih kaget. Bagaimana caranya? Bagaimana asalnya? Apa mereka saling mencinta? Semuaaa pertanyaan menumpuk membajiri pikiran mereka sendiri.

"Hapus nama Hyuuga Hinata dan ganti menjadi Uchiha Hinata"

Kali ini Sasuke lah yang berbicara didepan khalayak ramai. Hinata makin memerah.

Neji memandang kedua pasangan itu dengan tatapan tak percaya. Pantas Hinata tak begitu terpuruk saat ia dilantik menjadi Souke karena Hinata sendiri sudah menjadi klan-Uchiha seutuhnya.

Kok rasanya gravitasi tak mampu lagi menahan berat badan Hinata? Hinata merasa tubuhnya ringan seperti bulu.

Bruuk

Hinata pingsan. Sudah biasa.

Bruuk

Ternyata Sakura juga pingsan! Terjadi lagi.

Kedua suami itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi wajah mereka sangat-sangat cerah lebih dari sinar mentari.

"…."

"….Selamat!"


Epilog.

"S-sasuke…."

"Hn"

"Ini dimana?"

"Menurutmu dimana?"

"…"

"Kau tidak tau?"

"…"

"Ini kamar kita"

"!"

"Jangan bersembunyi dibalik selimut dong…Hinata-ku"

"…"

"Aku datang Hinata-ku…"

"D-diam! S-sasuke! Jangan panggil a-aku begitu"

"Kenapa?"

"…"

"Kau malu, Hinata-ku?"

"Sasuke!"

"Panggil Sasuke-ku"

"…."

"Tidak mau? Baik, aku akan menyerangmu"

"J-jangan!"

"…."

"Sasuke!"

"…."

"Sasuke!"

"…."

"Sasuke-ku!, kyaaaaa"

.

.

.

Fin~

Ini baru end dari semuanya. XDD

Puas? Puas?

Epilognya agak gaje. Akakakak…..udah blushing duluan jadi gak kuat buat ngelanjutinnya *plakplak*

so-soalnya ayah ibu dibelakangku! *baru nyadar*

kyaaaaaah takuuuut plus maluuuu bikin fic beginian *masih dibawah umur* #taboked

pernikahannnya gaje pula. Naruto ama Sakura loncat dari gedung hokage untuk memperlihatkan satu sama lain (ke penduduk desa) bahwa mereka itu akan menikah (sekalian ama pelantikan hokage gitu...) yaaa...tapi pendeskripsiannya kurang.

nah, pernikahan Sasuke dan Hinata juga bareng dengan mereka. dan lagi-lagi kurang deskripsiannya. payaaah *nabok diri sendiri*

baju yang mereka pakai gak begitu mewah dan wouw , soalnya ini kan dunia ninja dan yang aku tau bajunya tuh sederhana-sederhana aja, tapi mungkin agak rame dari yg lain, ah pokoknya begitu *maaf gak jelas*

rambut sakura digelung ke atas, karena rambutnya pendek jadi agak susah meriasinya..ya begitulah...

ending fic yang cukup cacad D'X

gomenne... x


balas repiuwer dulu ya~

astriamoricha: oke, ini sudah ku lanjut, kuharap gak penasarannya lagi ya...hehe XD repiu lagi *plak*

Ryuuka Nanaka: Hah? kaget aku kirain matamu sakit karena apa, eeh ternyata fic ini penyebabnya. XD chap 5 ini udah panjang belum? repiu lagi yaaa *nebar beras*

UQ: hebat, kau menangkap semua maksudku di fic ini XDD arigatouu~~ repiu lagi yaaa *plak*

Micchi Megane: ahaha..asik virus sasuhina mulai menyebar. sip sip XD repiu lagi? *plak

Just Tomat: tenang tenang, ini baru selesai XD gmna? gmna?

Shyoul Fishy: nah ini baru end XD puas gak?

Sasuhina-caem: belum...belum ini baru beres...maaf jadi aneh gitu Dx repiu lagi ya tntg pndapatmu mengenai chap terakhir ini =)

Suzu Aizawa: belum...nah ini baru selesai XD gimana?

Moku-chan:belum, chap 5 inilah yg menentukan fic ini telah complete XD

Nona-firgie: blm...sekarang kuubah statusnya jadi complete XD puas gak ama endingnya? XD mengenai sasuhina di mupi 2 itu kayaknya sasu bilang gitu ke amaru deh, tapi gatau juga kalau pun iya it's the first word sasuhina #jger


Note:

*neo duo dobe: Naruto-Sakura, soalnya mereka berbuat sesuatu yang dibatas garis kenormalan.

*wikwiiiiw: siulan ini….tapi gak etis bgt yah, ahahaha


makasih buat siapapun yg sudah membaca fic pertama saya di fandom ini :) maksih yg udah merepiu dan setia menunggu kelanjutan fic ini meskipun itu adalah silent-reader :D

sungguh, siapapun anda, saya sangat berterimakasih. karena kalau anda semua tak membaca fic ini, untuk apa pula saya publish? :)

Arigatou XDD

tolong tinggalkan jejak agar saya selalu bersemangat menulis fic sasuhina *ups

bye~ XD

Sign.

Ul-chan