One Fist Away

~A Naruto fanfiction by Karupin.69~

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Chapter #1


"Ne, Sakura-chan, kau benar-benar tidak tertarik untuk pacaran?" sebelah alis Ino Yamanaka terangkat, menunggu jawaban dari gadis berambut merah muda yang sedang berjalan di sebelahnya.

Yang bersangkutan diam saja, malah sibuk menghitung jumlah buku yang sedang ia pangku. "…Pacaran? Sebentar—aduh bukunya jatuh. Ino, ambilkan,"

Merasa iba pada gadis yang tak lebih kuat dari lelaki yang disuruh mengembalikan tumpukan buku ke perpustakaan oleh Kakashi, Ino memungutnya dan membantu Sakura membawa beberapa. Kemudian ia mendecak, tahu bahwa sahabatnya itu akan acuh terhadap hal semacam ini.

"Dengar ya, Ino. Aku bahkan tidak tertarik untuk memikirkan hal-hal semacam itu."

Ino membuat wajah masam, "Ih, jawaban kuno! Memangnya kau tidak mau punya pengalaman manis? Kisah cinta yang ada di novel-novel picisan yang sering kau baca itu saja tidak cukup, Sakura, kau harus mereasakannya walau cuma sekali! Di SMA!"

Sakura mulai risih, kenapa Ino sangat bersikeras begini? "Seingatku kau juga tidak pernah serius. Selama aku kenal kau, sudah berapa orang yang sudah ada di list cowok incaranmu? Jari-jari di kedua tanganku saja tidak cukup untuk menghitungnya!"

Ino nyengir, mempersilakan Sakura melanjutkan ocehannya. "Seleramu juga aneh-aneh. Aku bisa mengerti kau suka cowok—oke, keren—macam Sai dan Neji, atau cowok, uh, cowok seksi macam Suigetsu. Tapi sampai Shino? Si culun yang aku jamin teman ceweknya cuma Hinata? Kau kesambet apa?"

"Aih, kau tidak akan mengerti pesona cowok culun! Shino itu—kau tahu—kalau membuka kacamatanya... ah, sudahlah, bukan waktunya untuk memuja Shino. Daripada itu—oke, baiklah, aku akan jujur," Ino menarik napas, "Lee menyukaimu. Ia memintaku untuk—"

Sakura menghentikan langkahnya yang juga turut menghentikan omongan Ino. "Aku tidak tertarik. Siapapun itu. Bilang pada Lee—ah, tidak—aku akan menemui Lee sendiri nanti."

Ino menghela napas, merasa kasihan pada Lee. "Tapi, Sakura-chan, what goes around comes around. Jangan merengek padaku kalau nanti kau jatuh cinta dan patah hati!"

"Patah hati bagaimana? Aku tidak akan memberikan hatiku untuk siapapun! Kau tenang saja, Yamanaka-san."

"Oooh, benarkah? Tunggu sampai kau bertemu cowok yang bisa membuatmu kacau, Sakura-chan, dan ketika kau merasakan hal itu, maka kau sedang jatuh cinta."

Sakura memutar matanya, "Ha. Lihat saja nanti."

Obrolan mereka berhenti seketika mereka sampai di ruang guru. Setelah meletakkan tumpukan buku catatan data siswa, tampak Kakashi melambaikan tangan pada Sakura dan Ino. Mereka menurut dan berjalan menuju ruang tamu, ruangan kecil di sebelah ruang guru yang di sekeliling dindingnya penuh dengan piala-piala dan karya seni rupa terbaik murid Konoha Koukou.

Tampak Kakashi sedang berbicara dengan sepasang orang tua paruh baya yang wajahnya familiar dengan Sakura. Refleks, Sakura menghentikan langkahnya, memalingkan mukanya, dan bersembunyi di balik Ino. Sejenak Ino kebingungan, namun segera mengerti ketika ia mendelik pada orang-orang di depannya. Ia membiarkan sahabatnya berbuat semaunya.

"Hai, hai, douitashimashite, Uchiha-san," Ino merasa Sakura langsung tercekat di balik punggungnya ketika mendengar nama itu. "Kuharap itu memang yang terbaik baginya. Jangan sungkan-sungkan untuk datang kemari… Kami akan selalu membantu anda semampu kami." Kakashi menjabat tangan pria bertubuh besar berwajah keras itu, bergantian menyalami istrinya yang tampak lebih kurus daripada saat Sakura bertemu terakhir kalinya.

Setelah memastikan mereka keluar dari ruang tamu, Kakashi tersenyum pada Ino. Ino menyeret Sakura untuk menghadap gurunya.

"Yang barusan…" Ino bertanya-tanya. Kakashi mengangguk, "Yeah, orangtuanya si Uchiha. Bagaimana hari pertama tahun ajaran baru, anak-anak? Kuharap kalian tidak bosan denganku. Lagi-lagi aku menjadi walikelas kalian."

Ino mengangguk mengiyakan, "Oh, kami juga bosan menjadi muridmu, Sensei!"

Kakashi tertawa, "Yah, setidaknya kalian masih memanggilku 'guru'. Omong-omong, Sakura-chan, kau punya daftar absen yang baru? Aku ingin mendata siswa yang ingin ikut karyawisata nanti."

"Karyawisata? Bukankah karyawisata akan diadakan ketika nanti kita kelas tiga?" tanya Ino keheranan.

"Yah, kebijakan baru. Kepala sekolah kita yang baru—Tsunade-sama, tampaknya tidak sekaku Sarutobi-sama. Beliau, yang tampangnya jauuuh lebih muda dari usianya, tampaknya memiliki jiwa muda. Kalian tahu, ia pernah memintaku membelikan botol sake di siang bolong. Lalu ia—"

"—Sensei," Ino menyela seenaknya, "Anda sudah menceritakan itu padaku kemarin, tahu."

"Ah, suman, suman ai," Kakashi tertawa, "kebiasaan burukku."

"Jadi ke mana kita akan pergi?"

"Fuh, masih rahasia!" Ino mendengus mendengar jawabannya, lalu Kakashi terbahak sambil menggumam sesuatu pada Sakura.

Tetapi Sakura bergeming. "Kau dengar itu, Sakura? Ayo ambilkan kertas absen yang baru! Aku masih harus melapor Kakashi-sensei soal biaya uang kas perbulan."

Sakura akhirnya kembali ke bumi setelah Ino menyikutnya dan menjelaskan perintahnya lagi sampai dua kali.

"Sori, aku melamun," kata Sakura cengengesan sebelum melesat ke luar ruangan.

"Ah, iya. Daripada itu, Sensei," Ino mempersilakan dirinya sendiri duduk di hadapan Kakashi, "pria dan wanita yang barusan itu…"

"Sudah tahu, kan? Orangtua Sasuke. Mereka memutuskan untuk mentransfer Sasuke ke sekolah lain. Sasuke…," Kakashi ragu sebentar, "dia sudah tidak nyaman lagi di sini—kira-kira seperti itu. Aku tidak tahu selengkapnya, padahal masalah ini sudah dimulai semenjak kalian masih kelas satu. Dan tidak ada seorangpun yang bisa memberiku satu petunjuk kecil kenapa Sasuke tiba-tiba tidak nyaman dan ingin pindah. Dan kukira Sasuke tidak disiksa atau semacamnya di kelas, benar kan? Malah kukira ialah yang merupakan ancaman, dilihat dari wajahnya—tepatnya matanya—yang mengundang orang untuk menjauhinya."

Ino diam mendengarkan. Kakashi terdiam sebentar, tangannya memijat pelipisnya. "Haruskah aku menginterogasi teman dekatnya? Si Naruto?"

Ino menggeleng, "Naruto sepertinya tidak tahu apa-apa. Aku jarang melihat mereka bersama lagi. Anda tahu, Sasuke menjadi… introvert semenjak setengah tahun lalu. Naruto pun tidak bisa mendekatinya."

"Souka? Tidak ada lagikah teman dekat Sasuke?"

Ino tercekat. Ia tampak ragu, tapi akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka suara. "Aku tidak tahu orang ini bisa disebut sebagai temannya atau tidak, tapi kurasa dia tahu sesuatu."

Kedua alis Kakashi terangkat, siapa?

Ino menghela napas, berharap dia melakukan hal yang benar. "Dia… yang baru saja keluar dari ruangan ini."


Uchiha, nama yang tabu bagi Sakura. Nama dari seseorang yang selalu ingin ia singkirkan dari kepalanya. Sakura sudah berusaha semampunya untuk melupakan lelaki itu, tapi apa daya, kepalanya selalu mengingatkannya untuk melupakannya.

Padahal Kakashi hanya menyebutkan setengah dari nama lengkap orang itu, tapi kepalanya langsung sakit. Oh, ayolah, ini baru minggu pertamanya menginjak tahun kedua di sekolahnya. Kepalanya sudah cukup terisi dengan hal-hal merepotkan—karena Sakura dikutuk menjadi anak cerdas dan terpercaya yang pada akhirnya selalu diandalkan oleh semua orang, terutama guru-guru—yang cukup merepotkannya.

Sakura harap ia hanya menjadi siswi biasa saja yang tidak terlalu pintar, tapi juga tidak terlalu malas. Tapi apa daya, mulutnya selalu gatal untuk berbicara jika ada yang salah, dan tangan serta kakinya selalu bergerak duluan ketika tidak ada orang lain untuk melakukan yang seharusnya.

Sakura berjalan tergesa dalam perjalanan menuju kelasnya untuk mengambil daftar absensi sialan itu, sedikit mengutuk siapapun-yang-mengatur-ruang-kelas karena menempatkan kelasnya di lantai paling atas, lantai empat.

Ia melewati beberapa anak tangga sekaligus, terengah, sedikit berlari di lorong, kemudian masuk ke dalam kelasnya. Hanya ada beberapa orang yang masih di sana sore begini, entah sedang bergosip atau apa, Sakura tidak peduli. Ia hanya melambaikan tangan dan melengos ke bangkunya.

Buru-buru ia menunaikan tugasnya, dan ketika hendak pergi ke luar, seseorang menepuk bahunya.

"Kau baik-baik saja, Sakura?"

Ia berbalik ke arah sumber suara, dan menemukan gadis berambut merah tersenyum—er, menyunggingkan bibir padanya. "Karin,"

Alis gadis itu bertautan. "Kau tidak baik-baik saja kalau tampangmu kusut begitu, tahu. Mana Ino?"

"Dia di bawah, ada apa?"

"Aku mau mengembalikan sweaternya yang tadi kupinjam, tapi…" Karin memperlihatkan bagian yang bolong pada sweater ungu Ino, "ada sedikit kecelakaan. Hehe."

Sakura menggaruk kepalanya, aih, dia yakin Karin tak akan pulang hidup- hidup. Itu sweater kesayangan Ino, handknitted, dirajut oleh jemari kreatif gadis pirang itu sendiri.

"Dia sedang mengobrol dengan Kakashi-sensei. Ada pesan?"

Karin menggeleng. "Tidak usah, aku akan menemuinya nanti. Semoga dia memaafkanku,"

Ya, ya, memaafkanmu setelah kau menjahitnya dengan rapi dan sempurna, atau menggantinya dengan barang yang percis sama yang tidak akan kau temukan di belahan dunia manapun. Ino sangat posesif, tahu.

Sakura melambai padanya dan kembali tergesa ke ruang tamu di lobby Konoha Koukou.


Seperti yang Ino duga, ketika Kakashi menanyai Sakura tentang Sasuke, ia enggan memberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Kakashi mengerti, kemudian ia mempersilakan keduanya pulang setelah konsultasi masalah inventaris kelas dan sebagainya.

Sakura langsung pamit pulang pada Ino, menghindari interogasi berkelanjutan babak dua, sekaligus menghindari adegan perang mulut antara Ino dan seseorang yang telah merusak barangnya. Biasanya Sakura senang-susah selalu bersama Ino, tapi untuk kali ini saja, tolong, jiwa dan raganya butuh istirahat.

Seperti biasa pula, ketika Sakura sedang merasa tak enak hati, ia selalu pergi sendiri ke sebuah yatailangganannya yang jaraknya hanya dua puluh menit dengan sepeda dari Konoha Koukou.

Yang paling Sakura suka adalah, rute menuju yatai tersebut ialah melewati sebuah jalan menurun dengan pohon rindang di sepanjang jalannya. Jalan itu memang sepi dari keramaian karena letaknya yang jauh dari tengah kota. Musim panas kali ini membuat jalan tersebut tampak indah dengan bunga-bunga mungil rapuh yang gugur terbawa angin dari pohon-pohon tersebut.

Angin musim panas memang tidak seenak angin musim semi, tetapi inilah yang paling Sakura tunggu-tunggu. Ketika ia melewati turunan paling curam di rute itu, ia melepaskan kakinya dari pedalnya, dan tanpa memerdulikan siapapun yang akan mendengarnya, Sakura mulai berteriak sekencang-kencangnya—toh paling mendengar pun hanya seekor denden mushi. Lalu anginnya—anginnya!—terpaan anginnyalah membuat kepalanya menjadi dingin.

Setelah melewati dua tikungan setelah jalan menurun tadi, tampaklah sebuah bangunan kecil di dekat pohon besar, dengan dinding kayu yang dipoles dengan sangat apik. Adalah sebuah kedai, yang memiliki balkon dengan meja-meja makannya yang menghadap bukit di belakangnya. Kedai itu dikelola oleh nenek-nenek cerewet yang sebenarnya menyenangkan jika kau bisa mengendalikannya.

Setelah memarkir sepedanya dan memasang rantai bergembok yang dilingkarkan pada sebatang pohon kecil, Sakura memasuki kedai tersebut yang lalu disambut dengan sapaan irasshaimase riang dari seorang perempuan asing yang baru pertama ditemui Sakura. Jelas pegawai baru, dan dari perawakannya, ia sepertinya lebih tua bleberapa tahun dari Sakura. Pelayan mempersilakan Sakura duduk dan menawarkan secangkir ocha.

Beruntung, kedai itu sedang sepi pengunjung. Sakura langsung mengambil tempat duduk favoritnya; di sebuah meja untuk dua orang yang terletak di ujung, tentu saja di teras belakang, di hadapan pagar kayu rendah yang membatasi kedai dengan jurang dangkal di bawahnya. Sekali pagar itu rusak dan kau terjatuh, kau tidak akan langsung mati; kau akan berguling di bukit landai, beruntung kalau kau tidak menubruk benda berbahaya seperti batu atau tertusuk potongan dahan yang tajam dulu, lalu kau akan berhenti di sungai dangkal yang dialiri air gunung dingin yang jernih, tapi mungkin tidak akan jernih lagi kalau yang ikut terhanyut di dalamnya ada darahmu, atau bahkan tubuhmu.

Maka dari itu, wanita tua pemilik kedai itu selalu mengingatkan pengunjungnya untuk tidak bersandar pada pagar rapuh itu, terutama pada Sakura yang ia kira akan bunuh diri di kedainya. Saat ia memperingatkannya, Sakura malah tertawa dan berkata bahwa ia bukan mau bunuh diri, ia justru mau menenangkan diri.

Itulah awal mula Sakura bisa dekat dengan wanita tua itu, dan semenjak saat itu—sekitar musim gugur tahun lalu—ia menjadi pelanggan tetap kedai ini.

Seorang pelayan mengantar pesanan Sakura setelah beberapa menit; secangkir ocha panas dan kue dango kesukaannya.

Gadis berambut merah muda itu berpangku tangan sambil menyeruput pelan ocha panasnya. Ia hampir saja menyebur ochanya ketika dikagetkan oleh tepukan pelan pada mejanya, disambut oleh senyuman hangat dari perempuan yang tadi Sakura pikir adalah pelayan baru.

"Kau baik-baik saja?" Tanyanya ramah. Sakura menegakkan posisi duduknya dan mengangguk.

"Kau tahu, mukamu pucat," tambahnya. "Apa kau sedang… er, kedatangan 'tamu'? Kalau iya, aku punya beberapa obat. Mungkin ada obat yang cocok untukmu."

Sakura terdiam sebentar, "Er, apa aku terlihat seburuk itu?"

Gadis itu tertawa, "Ya, lihat pantulan dirimu di ocha-mu. Kau terlihat buruk sekali,"

Sakura tertawa, "Yah, kau tahu sendiri, 'hari pertama' memang bikin kacau. Tapi tidak, aku tidak butuh obat lain, ocha panas ini sudah membantu. Perutku sudah agak enakan."

"Aa, sudah kuduga, hari pertama. Baiklah. Aku Temari, dan bukankah kau Sakura?"

"Bagaimana…"

"Nenek Chiyo sering bercerita, ada pengunjung tetap kedainya yang berambut merah muda. Dan kukira kalian cukup akrab? Mood nenek selalu menjadi lebih baik setiap kali kau berkunjung kemari."

Senyum Sakura mengembang, senang bertemu seseorang yang bisa diajak bicara. "Aku tahu! Kau Temari-neesan—cucu Nenek Chiyo, benar?"

"Hai!" Merasa suasana sudah mencair, Temari menarik kursi dan duduk di seberangnya. Menjawab tatapan bingung dari Sakura, ia menambahkan, "Tenang saja, aku sebenarnya tidak sedang bekerja. Aku hanya bosan dan membantu para pelayan."

Tak disangka, kedua gadis itu merasa nyaman dengan satu sama lain. Mereka langsung merasa akrab, sama seperti ketika Sakura langsung akrab dengan Nenek Chiyo ketika mereka pertama kali bertemu. Mereka membicarakan macam-macam hal dari A sampai Z, terkikik layaknya gadis SMA—dia memang gadis SMA—ketika sedang membicarakan cowok incaran atau semacamnya sampai ada gerutu lemah dari seseorang di ujung sana.

Sakura mencari sumber suara, dan menemukan seorang pemuda berambut merah yang tengah duduk telungkup—sepertinya tidur—di pojok kedai yang lainnya. Sepertinya ia merasa terusik dengan polusi suara yang dikeluarkan dua orang berjenis kelamin perempuan. Ia pun mengangkat kepalanya dan melihat sekeliling selama beberapa detik, mengucek matanya, lalu bangkit dan sempoyongan berjalan ke luar kedai. Sakura memerhatikannya, dan merasa ada yang belum pria itu lakukan.

Sakura berdiri dan berteriak, "Tunggu, hei!"

Lelaki itu berhenti, lalu berbalik dan mengangkat alisnya. Dia adalah orang paling... tidak rapi yang pernah Sakura temui. Rambutnya berantakan, kemeja putihnya kusut, celana pendek khaki-nya kotor, dan di sekeliling matanya terdapat lingkaran hitam yang kurang menandakan bahwa lelaki ini hidup sehat. Meski begitu, kulitnya putih (meski kusam) dan paras mukanya... kalau ia sudah cuci muka, pasti bisa ditoleransi. Sakura tahu apa yang akan Ino katakan kalau dia melikat lelaki ini, "Ganteng, sih, tapi dia tak punya sex appeal."

"Kau sudah bayar?" tanya Sakura. Ia menoleh pada Temari, yang bukannya ikut menahan lelaki itu, tapi malah nyengir dan menarik ujung kemeja Sakura, menyuruh perempuan itu untuk duduk lagi.

"Ee, dia tidak usah bayar, Sakura-chan, dia cucu Nenek Chiyo juga; dia adikku."

Sakura dengan kikuk duduk kembali dan perlahan menatap pemuda itu. Ia menggaruk rambut merahnya dan berjalan ke arah Temari. Sakura memalingkan mukanya.

"Hampir lupa." Ia merogoh sakunya dan memberikan sebuah kunci. "Titipan Kankurou. Aku pergi,"

Tanpa menunggu jawaban Temari, ia pun pergi meninggalkan kedai.

"Sialan, Kankurou bodoh, gantungan kuncinya rusak! Kau lihat ini, Sakura? Gantungan kunci Keroro-ku jadi aneh! Telinga Keroro hilang, dia jadi terlihat seperti kodok hijau yang jelek!"

"Bukankah Keroro memang kodok?" Sakura akhirnya tertawa juga melihat gantungan kuncinya. Lalu Temari, tanpa diminta pun, langsung bercerita tentang dirinya. Dan adik-adiknya.

Jadi, nenek Chiyo memiliki tiga orang cucu. Temari sudah kuliah di Suna, tapi ia tidak betah dan pindah ke Konoha Daigaku. Tahun ajaran baru belum dimulai, tapi Temari sudah bosan menunggu di Suna, jadi ia pergi ke Konoha lebih awal dan memutuskan untuk membantu neneknya di kedai ini.

Cucu kedua nenek Chiyo bernama Kankurou. Temari tidak bercerita banyak tentang Kankurou, karena Temari menjadi naik darah begitu menyebut namanya. Sakura menghentikan Temari sebelum ia mulai menjelek-jelekkan adiknya yang satu itu.

"Karena sebenarnya, kau tahu—oh, irasshaimase!" Temari bangkit dan menyambut tamu lain, "Sakura-chan, di sana ada pelanggan tampan, dan aku tidak akan membiarkan orang lain melayaninya. Kau tidak usah bayar, oke, aku yang traktir! Lain kali kita mengobrol!"

Sakura mengangguk, dan memutuskan meninggalkan kedai karena ia takut pulang terlalu sore.

Benar, kan, setelah Sakura mengunjungi kedai itu, hatinya selalu merasa lebih enak. Apalagi hari ini, meski tidak bisa bertemu dengan Nenek Chiyo, Sakura bisa bertemu dengan cucunya yang hampir sebaya yang bisa diajak bicara apa saja. Meski dia cerewet dan mendominasi percakapan—mirip Ino, setidaknya ketika Sakura berbicara, ia tidak perlu mengulang beberapa kali seperti ketika ia berbicara dengan orang tua yang pendengarannya sudah buruk seperti nenek Chiyo.

Ah, hampir lupa. Ada cucu nenek Chiyo yang lain, pemuda kucel berambut merah itu. Pemuda dengan kemeja putih dengan mata lelah plus lingkaran hitamnya...

"Namanya Gaara," kata Temari, Sakura ingat ia memberitahunya dengan suara amat pelan.

Sakura diam untuk mendengarkan kelanjutannya. Namun Temari hanya diam.

"Lalu?" Alis Sakura terangkat.

"Ya... Namanya Gaara. Dia pendiam... dan... begitulah. Hanya itu yang kutahu, dan selebihnya adalah terkaanku. Karena sebenarnya, kau tahu—" lalu percakapan pun terputus karena ada pelanggan lain yang datang.

Karena melamun, Sakura tidak sadar ada tikungan di depannya. Ia hendak menarik rem tangan—tetapi tangannya malah menarik pelatuk gigi—yang digunakan bukan pada saatnya, yang menyebabkan rantainya lepas dari roda giginya.

"Oh, tidak..."

Sakura berjongkok untuk melihat rantainya, ketika ia menyadari sepuluh meter di depannya adalah halte bis. Maka ia mendorong sepedanya, dan akan mengadu peruntungan di sana.


Tertidurlah ia di sana, di jung bangku halte dengan sangat mencolok. Kakinya terkangkang, mulutnya sedikit terbuka, dan tentu saja, rambut merahnya yang instan menarik perhatian. Gaara.

Sakura duduk di sisi bangku halte paling ujung, tak ingin berdekatan dengan lelaki ini. Sakura berharap Gaara tidak sadar, Sakura masih malu atas kejadian tadi. Tapi inilah saatnya, siapa tahu ia tidak akan pernah bertemu cowok ini lagi. Meski ayahnya tak hidup cukup lama untuk mengajarinya, Sakura pernah diajari etika. Ia harus meminta maaf ketika telah berbuat hal tidak sopan. Sakura pun berdeham.

Gaara terbangun dan mengerjapkan mata, melihat sekeliling, mendapati gadis berambut merah muda dengan sepeda yang rantainya copot.

"Itu sepedamu? Kau mau pulang? Itu sepeda lipat?" tanya Gaara.

Sakura mengangguk tiga kali untuk mengiyakan. Gaara bangkit dan melipat sepeda Sakura. Sakura tidak menahannya. Toh bisnya sudah di depan mata.

Gaara mengangkat sepeda lipatnya dan membiarkan Sakura naik duluan tanpa bicara.

Mereka duduk di kursi paling belakang yang kosong, di kedua ujungnya masing-masing. Sakura sangat tidak suka cara cucu nenek Chiyo ini memandangnya. Gaara jelas memandangi Sakura—meski bukan pada bagian yang tidak semestinya, tapi tetap saja. Sakura jadi mengurungkan niatnya untuk meminta maaf, karena ia tahu, cowok seperti Gaara ini tidak akan memerdulikan masalah kecil tadi. Ia akan masa bodoh, tidak perlu susah-susah menduganya.

Sakura balik menatap galak yang artinya jangan main-main denganku.

Tapi Gaara malah mengambil secarik kertas dari saku celananya dan menyerahkannya pada Sakura.

"Kau tahu alamat ini?" Tanya Gaara. Sakura dengan ragu mengambil kertas itu. Tenanglah, Sakura, kertas bertuliskan lambang aneh yang akan meledak ketika disentuh hanya ada di komik-komik.

"Bagaimana?" Gaara bertanya lagi.

Sakura membaca tulisan kecil-kecil yang rapi itu, lalu menganga. Ia membacanya lagi sampai tiga kali, kemudian menoleh pada Gaara dengan alis bertautan.

"Apa yang mau kau lakukan di rumahku?"


To Be Continued...


A/N: Woh, jadi juga! Saya nggak nyangka saya bakalan nulis fanfic lagi setelah bertahun-tahun (halah), apalagi sepanjang ini. Mudah-mudahan tidak OOC, dan semoga cukup menarik! Ini fanfic Sakura dan Gaara pertama saya, dan saya masih bingung, terusin fanfic ini atau jangan. Tergantung kalian, tentu saja, saudara-saudara! Kalau ada yang minta terusin ya bakal saya terusin. Maka dari itu beritahu saya lewat review, oke? ;)

Terima kasih sudah membaca! :D