One Fist Away
~A Naruto Fanfiction by Karupin.69~
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter #4


Author's note: Wah ini beneran setahun sekali di-update-nya, maafkan aku minna-san! (Kayak ada yang baca aja -_-) Yasudah selamat baca, buat penggemar ShikaIno bergembiralah hahaha. Btw, terima kasih buat yang ngasih PM minta di-update, berkat Andalah saya jadi semangat ngetik lagi ahahah. Pembaca memang kekuatanku, lol. Anyway, enjoy...

PS. Sangat dianjurkan untuk membaca ulang chapter-chapter sebelumnya, just in case...


Previously...

"Jika kau membantuku—tanpa mengadu pada siapapun, maka nanti aku akan memberitahu semuanya padamu."

Sakura terduduk di kasur. Ia menimang-nimang.

"Baiklah." Katanya akhirnya. "Apa yang ingin kau cari tahu?"

Gaara meraih sepidol merah dan kertas kosong di meja terdekat, lalu mulai menggambar sesuatu yang menggumpal dengan arsiran merah di dalamnya, serta empat lambang katakana di bawahnya.

Seketika Sakura mengangguk mengerti. "Aah, kenapa kau tidak bilang dari tadi? Aku tahu harus kepada siapa kita berguru." Ia menyambar ponselnya yang tergeletak di kasur, menekan satu tombol speed dial.

"Ino? Aku butuh bantuanmu."


A-ka-tsu-ki.

Itulah keempat lambang katakana yang Gaara tulis tempo hari lalu di atas secarik kertas yang sedang ia pegang. Sakura melipat kertas itu kecil-kecil, lalu membukanya lagi. Terliat sebuah sketsa kasar (yang seharusnya) berbentuk awan buatan Gaara. Gambarannya memang asal-asalan; gambar itu lebih pantas disebut siluet biri-biri daripada awan. Yah, tapi setidaknya Sakura mengerti maksudnya. Sakura meremas kertas itu sampai menjadi gumpalan kecil, lalu melemparnya ke tong sampah di depannya. Ia mendesah dan bersandar pada kursi plastik, kedua tangannya lunglai di sisinya. Ia menatap langit sore di atasnya-cerah dan berawan.

Awan. Awan merah. Akatsuki. Mengapa Gaara ingin tahu soal Akatsuki...?

Lamunannya buyar ketika Sakura merasakan sesuatu yang dingin menyentuh lengannya. "Hentikan kebiasaan burukmu itu, Sakura-chan, kau jangan sampai jadi seperti orang ini." Ino menyodorkan semangkuk es krim vanilla dengan berbagai macam topping pada Sakura, lalu mendelik pada Shikamaru yang duduk di seberang Sakura.

Sakura duduk tegak sambil membenarkan rambutnya yang terkena angin. Ia mencoba melihat pantulannya pada kaca jendela di depannya-yang memantulkan seorang gadis yang kelihatan tidak punya energi lagi. Seharusnya Sakura bersyukur punya teman seperti Ino-menyadari sahabatnya terlihat lesu-yang lantas mengajaknya makan di kedai es krim yang terletak di pertigaan dekat sekolahnya.

"Kebiasaan buruk apa?" kata Sakura datar.

"Melamun di kedai es krim. Melihat langit. Berpikir sendiri. Yah, begitu deh. Orang itu seharusnya bahagia kalau makan es krim." Kata Ino sambil menarik kursi di antara Sakura dan Shikamaru. "Kau tahu, sasaran para penghipnotis itu cewek-cewek semacam kau-yang pikirannya sedang kosong dan siap 'dimasuki'. Satu jam kemudian kau baru akan sadar, lalu bam! Akan ada sesuatu yang hilang."

Shikamaru mengangguk-angguk. Ino mencibir, "Itu juga buatmu, Shika. Kau jangan sembarangan tidur di tempat sepi! Kau pikir Konoha itu tempat aman? Kau tidak akan tahu orang seperti apa yang duduk di sampingmu di bus. Meski tampan, bisa jadi dia seseorang pengidap skizofrenia yang keganasannya bisa kambuh kapan saja."

Atau seorang kriminal, pikir Sakura. Ia menghela napas. "Kau benar, Ino. Aku mengakui kebijaksanaanmu hari ini."

Ino mengangkat bahu. "Omong-omong, kenapa kau tiba-tiba ingin ikut ke acara launching party galeri Akatsuki milik Itachi-san? Kupikir kau tidak suka seni... Dan kupikir kau tidak mau bertemu dengan, um, dia lagi. Untung saja aku belum memberikan kartu undangannya pada orang lain."

Sakura hanya menanggapinya dengan satu tatapan aku-sedang-malas-bicara sambil menyambar mangkuk es krimnya dan memakannya dengan lahap.

"Itachi Uchiha? Kakaknya si Sasuke itu? Kenapa kau bisa mendapat undangan darinya?" Shikamaru yang sedari tadi diam mulai duduk tegak sambil menatap Ino penasaran.

Ino mendecak dan menyikut Shikamaru. Tetapi Sakura sepertinya sudah tidak apa-apa jika mendengar nama Sasuke disebut-sebut. Atau dia memang sedang melamun sampai-sampai tak ia dengar.

"Um, jadi... Dia dan teman-temannya baru saja membuka galeri baru di daerah Ginza, dan Sabtu depan ada pesta pembukaan. Mereka meminta toko bungaku untuk mendekorasi tempat mereka, lalu memberiku dua undangan. Satu undangan berlaku untuk dua orang. Jadi, yang satu kuberikan untuk sahabat termanisku yang merindukan seseorang ini... Semacam itulah."

Sakura mendecak, "Enak saja, aku ingin ke sana bukan untuk bertemu Sasuke-kun. Ini untuk bisnis lain, bisnis lain..."

Ino terbahak sambil menyenggol-nyenggol lengan Sakura. "Hei jidat lebar, kau jangan menipuku! Bilang saja kau mau bertemu Sasuke... I know you so well, darling."

"Oh tidak, Ino-babi. Karena aku akan membawa teman kencanku."

"Memang kau punya?" Cibir Ino.

Shikamaru terkekeh, "Memang kau juga punya, Ino-babi?"

Ino mengangguk mantap. "Tentu saja! Dia duduk di depanku sekarang. Untuk apa aku menyogoknya dengan semangkuk es krim kalau bukan karena aku mau memintanya melakukan sesuatu?"

Shikamaru langsung berteriak pelan sambil menjenggut rambutnya sendiri. "Sialan. Aku dijebak."

Ino menyunggingkan senyum kemenangan. "Maka dari itu, Shikamaru, karena kau masih berutang sesuatu padaku, kau harus menemaniku belanja hari ini. Aku tidak punya clutch. Kau juga harus mencari dasi yang matching dengan gaunku. Cepat habiskan es krimmu!"

Shikamaru langsung bersandar lemas di kursinya, "Kenapa hidupku begini menyedihkan... Sakura, tolong aku."

Sakura mengangkat bahu. "Mungkin karena kau banyak dosa, Shikamaru." Ia beralih pada Ino, "Hei Ino, kau masih menyimpan dress merahmu itu, kan?"

Ino mengangguk, "Kau mau pinjam? Hah, miskin sekali kau. Baiklah, selama yang meminjam bukan Karin, akan kuberikan..."

Sakura menyunggingkan senyum sambal mengangkat jempolnya. Ino membalasnya dengan satu kedipan genit. Setelah melahap habis es krimnya hingga tetes terakhir, Sakura berdiri dan merapikan seragamnya.

"Mau ke mana kau, Saku?" Kata Ino.

"Sudah jam lima. Aku mau menjemput Mamoru di tempat penitipan anak. Sore ini ibuku ada jadwal aerobic," jawab Sakura sambil berbalik pergi. "Aku duluan, Shikamaru-kun."

"Aa," jawab Shikamaru malas, sementara Ino mendecak protes karena Sakura tidak mau membayar es krimnya.

"Dasar licik kau, Sakura, kau pesan es krim dengan topping termahal!"


Sebenarnya hari ini tugas Gaara untuk menjemput Mamoru di tempat penitipan anak. Tapi karena Sakura bosan, ia memutuskan untuk menjemputnya meski letaknya agak jauh dari lokasinya sekarang. Ia pun tidak sedang membawa sepeda, jadi ia bisa mengajak Mamoru jalan-jalan dulu.

Sakura baru menyadari bahwa ia sudah tiba di dekat tempat penitipan anak ketika seseorang menepuk kepalanya. Sakura berbalik cepat, tangannya terkepal dan terangkat. Trauma atas kejadian di basement tempo hari membuatnya lebih waspada. Sakura langsung menghela napas ketika yang dilihatnya adalah lelaki berambut merah.

"Ternyata kau, Gaara. Kukira siapa. Untung saja aku sigap."

Gaara mencibir. "Sigap apanya? Aku memanggilmu sedari tadi, kau malah terus berjalan menunduk sambil menendang kerikil."

"Uh, benarkah?"

"Kenapa kau ke sini? Jangan bilang kau ingin bersamaku."

Sakura sweatdropped. "Aku hanya takut kau tersesat, Gaara."

"Tenang, aku bisa membaca Google map."

Sakura mengacuhkan Gaara lalu membuka pagar tempat penitipan anak. Ia terkejut ketika mereka menemukan Mamoru sudah duduk manis di bangku taman, memeluk tasnya rapat.

"Mamoru!" panggil Sakura. Mamoru langsung berlari menghampiri Sakura lalu memeluk lututnya.

"Sakuya! Mamoru ingin cepat pulang..."

"Mamoru, ada apa?"

Seorang wanita datang dari dalam rumah—sepertinya salah satu penjaga anak—lalu menghampiri mereka dengan wajah gelisah. "Sakura-san! Syukurlah kau segera datang. Tadi ada orang yang mencari Mamoru dan hendak membawanya pergi, tapi aku tidak tahu siapa dia…"

Gaara langsung mengerutkan dahi. "Bagaimana ciri-cirinya?"

"Lelaki berambut merah… Dia masih muda dan terlihat manis, tetapi Mamoru langsung menangis. Ibumu bilang, hari ini sepupumu yang berambut merah yang akan menjemputnya. Kupikir dia adalah sepupumu, tetapi Mamoru langsung berlari ke dalam dan bilang bahwa dia bukan 'Gayakun'."

Sakura dan Gaara langsung bertatapan. "Untunglah, Sensei. Karena Gaara-kun yang sebenarnya adalah dia…," kata Sakura sambil menunjuk Gaara, "jadi selain dijemput olehku, ibuku, atau Gaara, tolong jangan biarkan Mamoru dibawa oleh siapapun."

"Baiklah, akan kuingat wajahmu… Gaara-san. Lelaki berambut merah tadi memang manis, tetapi kau lebih tampan…" kata wanita itu.

Gaara hanya berkedip dan mengangguk ketika Sakura menyenggol sikutnya.

"Um… Terima kasih telah menjaga Mamoru, Sensei."

Wanita itu langsung mengangguk sambil mengusap kepala Mamoru. "Hati-hati di jalan, Mamoru-kun. Jangan lepas dari kakak-kakakmu ini ya…" Mereka pun berpamitan.


Pada saat jalan pulang, awalnya Sakura hendak bertanya pada Mamoru soal lelaki misterius tadi, tetapi Mamoru bilang ia sangat capek dan ingin segera sampai ke rumah. Gaara pun melepas tas selempangnya dan memberikannya pada Sakura.

"Hei, hei, apa-apaan ini?"

Gaara hanya diam, lalu berjongkok sambil menyuruh Mamoru naik ke punggungnya. "Tidurlah, Mamoru."

Mamoru mengangguk. "Makasih, Gaaya-kun," katanya sambil memeluk leher Gaara. "Rambut Gaaya-kun wangi tobeli!"

"Stroberi?" Sakura mendekati Gaara sambil mengendus wangi rambutnya.

"O-oi…"

"Astaga, Gaara, kau pakai sampoku, ya?!"

Gaara hanya bisa memalingkan muka. "…A-aa. Gomen."

Sakura berkacak pinggang, tapi bibirnya menyunggingkan senyum kecil. Ia senang melihat reaksi Gaara. Ternyata dia bisa bermuka merah juga. Sakura mengaitkan tas Gaara yang sangat ringan ke lengannya. Mungkin isinya cuma satu buku dan satu bolpoin. Dasar pemalas... Yah, setidaknya ia berbaik hati menggendong Mamoru.

"Jadi… Apa kau tahu siapa kembaranmu itu?"

"Si rambut merah? Entahlah… Mungkin salah satu kawan Deidara—si rambut pirang yang kita temui di basement itu. Aku tidak tahu kenapa ia menemui Mamoru-dan seberapa banyak yang mereka tahu tentang seluk beluk keluargamu. Tapi kurasa kau harus waspada."

Sakura dalam hati mengiyakan. Tetapi yang ia khawatirkan adalah pamannya. Mengapa hal-hal buruk terjadi setelah pamannya datang? Siapakah sebenarnya pamannya itu? Karena jika melihat gerak-gerik Gaara, sepertinya ia juga tidak tahu apa-apa dan ia tulus ingin membantu pamannya. Setidaknya itu yang membuat Sakura tetap percaya padanya meskipun ruang kecurigaan dalam hatinya juga masih besar.

Sakura memicingkan matanya. "Dari yang kutangkap, mereka adalah suatu komplotan berbahaya yang memiliki banyak kaki-tangan. Benar bukan?"

"Mungkin begitu. Aku pun tidak tahu mereka benar-benar berbahaya atau hanya menggertak. Makanya aku meminta bantuanmu karena kukira kau kenal nama ini-Akatsuki. Naruto menyebutnya beberapa hari lalu."

"Yah, Akatsuki adalah perusahaan yang didirikan kakak temanku. Kau kenal nama Uchiha?"

Gaara tampak menimang-nimang. "Sepertinya pernah mendengar. Uchiha itu teman sekolahmu kan?"

Sakura menangguk. "Ya, dulu. Sasuke Uchiha pernah sekolah di Konoha Koukou. Ia sudah pindah sekolah. Tapi mungkin yang kau maksud adalah kakaknya? Itachi-san setahuku memang pebisnis."

Gaara mengangguk. "Baiklah, setidaknya aku tahu satu hal. Jadi, ada info yang kau dapat?"

"Hanya sedikit," katanya sambil mengangguk. "Akan kuceritakan di rumah nanti. Bicara sambil jalan di tanjakan itu membuatku capek."

Gaara terkekeh pelan. "Dasar lemah." Ia pun berjalan cepat menaiki tanjakan di depannya. Sakura bergegas menyusulnya, tapi ia berhenti ketika melihat cahaya senja di depannya membuat siluet Gaara yang sedang menggendong Mamoru menjadi terlihat indah.

Sakura buru-buru mengeluarkan ponselnya, lalu membuka aplikasi kamera. Ia menekan tombol shutter, lalu ponselnya berbunyi 'smiiile!'.

Gaara berbalik sambil memandangi Sakura dengan tatapan jahil. "Kalau kau mau fotoku, tinggal bilang saja. Tidak usah memotret diam-diam begitu."

Sakura melipat kembali ponselnya sambil bersumpah pelan dengan muka merah padam.


Bu Haruno baru saja selesai mandi ketika Sakura dan Gaara datang. Ia terheran-heran melihat mereka berdua datang berbarengan dengan Mamoru yang tertidur lelap di punggung Gaara. Ia pun mengambil alih Mamoru dan menyuruh Gaara dan Sakura beristirahat sebelum makan malam.

Bu Haruno membaringkan Mamoru di kasurnya, lalu duduk terdiam di pinggir kasur. Ketika itu, Tenzin datang sambil membawa kotak kecil di tangannya.

"Onee-san." Katanya sambil mendekatinya. Ia mengusap rambut putranya perlahan. Bu Haruno tersenyum kecil. "Menurutmu, Onee-san, bagaimana reaksi Mamoru kalau dia tahu bahwa ibunya masih hidup?"

Bu Haruno tersenyum miris, "Entahlah, dia belum pernah bertemu ibunya seumur hidupnya, tetapi kurasa dia akan senang kalau ia bisa bertemu dengan ibunya sendiri."

"Tidak, maksudku, bagaimana kalau ternyata ibu Mamoru masih hidup?"

Bu Haruno terdiam sesaat, lalu menatap adik iparnya lekat. "Apa maksudmu...?"

Tenzin menghela napas, lalu menyerahkan sebuah kotak CD kepada Bu Haruno. "Kurasa kau harus tahu. Aku tidak bisa membiarkanmu berpikir bahwa Mamoru adalah anak malang yang tidak punya ibu."

Bu Haruno menggenggam kotak CD itu erat. "Jadi, ini adalah...?"

"Bukti bahwa Konan masih hidup."

Ekspresi bu Haruno mengeras. "Bagaimana keadaannya?"

Tenzin menggeleng. "Aku sendiri belum bertemu dengannya secara langsung. Di dalam CD itu ada rekap medis Konan, dan data itu diambil satu bulan yang lalu. Aku tidak begitu bisa membaca file medis, maka dari itu aku meminta bantuanmu, Onee-san."

"Serahkan padaku."


"Ibu sedang apa?" tanya Sakura sambil memeluk ibunya yang sedang berdiri memegang sinduk di depan kompor.

"Hmm? Membuat mie."

"Tapi kompornya belum kaunyalakan, Bu."

"Eh?" Bu Haruno dengan kikuk menggaruk kepalanya, lalu menyalakan kompor. "Pantas saja airnya tidak mendidih..."

Sakura terkekeh tanpa mencurigai apapun. Ia haya mengira ibunya kelelahan sehingga menjadi pelupa begini.

"Hei, Sakura-chan, besok kau mau pergi ke mana?"

"Entahlah, mungkin di rumah. Banyak PR yang harus kukerjakan."

"Baiklah..."

Sakura mencium pipi ibunya, lalu bergegas ke taman belakang sambil menyeret Gaara. Ibunya melihat gelagat putrinya yang masih remaja itu sambil terkekeh. Kemudian ia menoleh pada Tenzin yang masih mencoba menghabiskan makanannya.

"Hei, Tenzin, apa kau tidak merasa akhir-akhir ini Sakura dan Gaara menjadi lebih dekat?"

"Benarkah? Kurasa itu wajar-wajar saja. Aku malah senang akhirnya si Gaara punya teman."

Bu Haruno menarik kursi dan duduk di hadapan adik iparnya itu. "Menurutku Gaara-kun itu manis dan baik hati, tapi aku tidak yakin dia bisa menghadapi perempuan seperti Sakura. Kau tahu bagaimana perangainya, kan? Sangat menyusahkan orang, pemalas, sangat berbeda dengan Gaara-kun yang mau saja kusuruh-suruh."

Tenzin terbahak. "Justru itu, Onee-san. Dengan begitu mereka bisa saling melengkapi. Lagipula-kalau kau takut mereka bertengkar-Gaara tidak lama lagi akan pindah dari rumah ini."

"Ah, benarkah? Sayang sekali. Aku sangat suka ada orang lain yang bisa kuandalkan."

"Maksudmu yang bisa kausuruh-suruh?"

Bu Haruno langsung mengacungkan sinduknya pada adiknya itu.


Gaara dan Sakura duduk di beranda belakang sambil menyeruput jus jeruk. Sakura memain-mainkan kerikil di bawah kakinya, lalu melempar kerikil kecil itu ke kolam ikan kecil di hadapannya.

Beranda ini adalah salah satu tempat favorit Sakura di rumah ini. Ia dulu suka melihat langit malam sambil berbaring di beranda bersama ayahnya sambil bercerita. Tapi kini tidak lagi. Beberapa bulan setelah ayahnya meninggal, ia menghindari beranda ini karena terlalu mengingatkan Sakura pada ayahnya. Tetapi lama kelamaan Sakura menjadi rindu pada tempat ini, dan akhirnya mulai terbiasa lagi dengan tempat ini.

"Jadi, ceritakan apa yang sudah kau dapat."

"Hmm, baiklah..." kata Sakura sambil membalurkan losion antinyamuk ke kakinya. Gaara hanya bisa memalingkan muka ketika sakura mengangkat celana piyamanya. Sakura yang menyadari itu langsung menurunkan celananya lagi. "Ah, gomen. Aku masih belum terbiasa dengan adanya cowok di rumah ini. Gara-gara kau aku tak bisa berkeliaran di rumah sambil mengenakan celana pendek lagi."

"Yah, sesukamu saja. Lagipula aku tidak tertarik pada kaki gendutmu itu."

Sakura memukul lutut Gaara dengan botol losionnya. Gaara refleks merebut botol itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Gomen, gomen. Sekarang ceritalah."

Sakura langsung mendinginkan kepalanya dan mulai bercerita. Jadi, katanya, Akatsuki adalah nama perusahaan yang didirikan oleh beberapa orang yang dulunya adalah teman kampus. Mereka bergerak di berbagai bidang-salah satunya adalah galeri seni. Itachi Uchiha, adalah general manager galeri tersebut. Dari yang Sakura dengar dari Ino, Akatsuki Company ini adalah salah satu perusahaan elit. Harga sahamnya tinggi, dan hanya orang-orang prestigius yang bisa bekerja di sana.

"Jadi, apanya yang mencurigakan?" Tanya Sakura sambil menatap Gaara yang alisnya bertautan. "Karena, yang kutahu, Itachi Uchiha adalah orang baik-baik."

"Hmm, kau bilang salah satunya bidangnya adalah galeri?"

Sakura mengangguk.

"Aku sebenarnya hanya ingin tahu, mereka ini sebenarnya perusahaan kotor atau tidak. Kalau benar ternyata mereka hanya mengelola galeri biasa, maka itu bukan masalah. Tetapi kalau ternyata mereka bermain kotor, maka orang-orang Akatsuki adalah orang yang patut kita waspadai."

Melihat ekspresi Sakura yang kebingungan, Gaara melanjutkan kembali penjelasannya. "Jadi, Sakura, orang-orang kaya itu bisa menyimpan uang di dalam lukisan-maksudku bukan di dalamnya, tetapi lukisan sebagai investasi. Tunggu, kau tahu' investasi', kan?"

Sakura menatap Gaara sambil memicingkan matanya. Tentu saja!

"Nah, ada juga yang disebut dengan forgery atau pemalsuan lukisan. Kau bisa bayangkan lukisan-lukisan terkenal dengan harga yang tinggi diduplikat dan dijual. Bukankah itu sangat menguntungkan perusahaan? Yang seperti itulah yang kumaksud dengan perusahaan kotor. Orang-orang senang membeli lukisan dengan harga mahal agar mereka bisa menjualnya kembali dengan harga yang tinggi pula. Tapi kalau lukisannya ternyata palsu-maka ia akan merugi dan galeri yang menjual lukisan tersebut bisa dituntut."

"Lalu apa hubungannya dengan galeri Akatsuki? Apa galeri tersebut 'galeri kotor'?"

"Aku tidak bilang begitu-semoga saja tidak. Yang kubutuhkan adalah informasi. Aku bisa saja meng-hack perusahaan mereka sekarang juga, di lab kita. Tetapi sangat berisiko. Yang kubutuhkan hanyalah menyusup ke dalam kantor mereka, menemukan salah satu komputer, lalu selanjutnya akan menjadi lebih mudah."

Sakura menepuk kedua tangannya. "Sempurna! Kita tidak perlu menyusup, Gaara-kun. Aku mendapatkan undangan ke pesta pembukaan galeri itu. Bagaimana? Tunggu, kau punya jas, kan? Lagi pula, dari mana kau tahu soal galeri sebanyak itu? Dan bukannya kau seorang hacker? Bukankah hacker itu kriminal?"

"Kau... Bertanyalah satu-satu."

"Ha! Kau bilang kau pintar-kau seharusnya bisa mengingat semua pertanyaan itu dan menjawabnya dengan baik..."

"Baiklah, baiklah, jadi..."


Jauh di kamar Sakura, ponsel lipat berwarna abu-abu metalik yang tergeletak di atas kasur bergetar sambil berdering nyaring meminta perhatian dari empunya. Layarnya kedap-kedip sambil menampilkan sederet nama pemanggil yang sudah lama sekali tidak muncul di notifikasinya.

Sasuke-kun is calling...


Bersambung...


Author's note: Yak! Bagaimana, sudah mulai ada bayangan mereka mau ngapain? Nantikan chapter selanjutnya (semoga bisa kuupdate dalam waktu dekat, AMIN). Don't forget to REVIEW ^^