Disclaimer of Bleach: Tite Kubo

Anime: Bleach

Rated: T

Genre: Romance, Friendship and Hurt/Comfort

Pairing: Byakuya Kuchiki x Ichigo Kurosaki (ByakuIchi)

Mention of pair: Grimmjow Jaegerjaquez x Ulquiorra Schiffer (GrimmUlqui) and Hichigo Shirosaki x Tensa Zangetsu (ShiroTenza)

Warnings: OOC, AU, shounen-ai, boys love, male x male, penggunaan bahasa gaul Indonesia, probably typo(s), penggunaan EYD yang tidak benar, gejeness and for the last, u don't like BL? Oh, just click 'back' button and leave no trace

Summary: Ichigo Kurosaki adalah seorang anak SMA yang beruntung. Setidaknya itu yang akan dilihat oleh orang-orang di sekitarnya. Tapi sebenarnya cowok ini sangat tidak beruntung. Dia memiliki seorang kekasih yang sepertinya sangat scary. Walaupun sang kekasih adalah Direktur Utama Kuchiki Corp.

Author by: Kazugami Saichi Hakuraichi

Present:

Scary or Possesive?

"Hei, Berry! Nanti lo mau pulang bareng kita-kita gak?" panggil seorang cowok tampan yang memiliki kulit berwarna putih pucat. Warnanya sangat putih sekali. Dan cowok tampan itu sering dijuluki Albino saking putihnya tubuhnya itu. Rambutnya saja juga berwarna putih —walaupun umurnya sama dengan anak SMA. Tetapi yang menarik adalah iris matanya yang berwarna emas.

"Kita bakalan ngumpul di warnet dulu! Maen, bro!" timpal seorang cowok —yang gak kalah tampannya dengan cowok albino yang tadi— yang duduk di sebelah orang yang dipanggil "Berry" oleh cowok albino tadi. Rambut biru nyentriknya itu selalu saja membuat terkagum-kagum siapapun yang melihatnya. Ditambah dengan warna matanya yang juga berwarna biru seperti langit. Membuat teduh siapa saja yang melihat ke dalam mata biru itu. Serasi sekali dengan warna biru rambutnya.

"Males," jawab cowok yang tadi dipanggil dengan sebutan "Berry". Jawabannya sungguh singkat dan terkesan sekali dia cuek terhadap ajakan sahabat-sahabat baiknya itu. Lebih parah lagi cowok "Berry" itu tidak menolehkan wajahnya untuk menjawab ajakan sahabat-sahabatnya itu.

"Idih...pelit amat sih lo itu!"

"Gak fren lo!"

Mereka mengatakannya secara serempak walaupun kalimat yang diucapkan tidak sama.

"Bukan gitu sayang~! Kalian tahu sendiri khan gimana kesadisan BF gue? Dia gak bakalan setuju gue jalan bareng kalian. Apalagi hari ini dia janji bakalan jemput gue." Cowok "Berry" itu berusaha menjelaskan alasan sebenarnya.

"Ih...sayang, sayang! Stress lo!" Cowok albino itu segera membuat gerakan jijik ketika Ichigo Kurosaki —sang cowok yang diberi julukan "Berry"— menyebut mereka berdua dengan kata ganti "sayang". Bukan apa. Toh mereka bertiga ini punya kelainan dalam hal relationship. Mereka adalah homo alias maho alias tertarik pada sesama jenis. Tapi Ichigo itu sudah punyanya orang lain. Jelas aja pada jijik. Selain itu mereka juga sudah punya pacar masing-masing.

"Pake alasan kek! Gak kreatif banget seh lo itu! Bilang aja lo ada tugas kelompok kek! Ato apa kek?" celutuk Grimmjow Jaegerjaquez si cowok berambut biru nyentrik dengan mata birunya yang bagaikan langit —kata banyak orang sih.

"Udah ahh! Gue gak berani lagi boong ma dia. Bisa-bisa gue kena batunya. Udah kapok dulu gue pernah coba!" tolak Ichigo mentah-mentah pada usulan sahabatnya yang berambut biru itu. Ingatannya mulai kembali pada sebuah kejadian mengerikan —menurut pandangan Ichigo sih— di masa lalu. Saat dimana dia berbohong kepada pacarnya untuk dapat bermain dengan sahabat-sahabatnya. Akibatnya sih gak tanggung-tanggung! Besoknya dia gak masuk sekolah. Bangun dari tempat tidur aja rasanya mau mati! Belum ditambah dengan acara jatuh atau bahkan tergelincir di tangga. Ngeri banget bayangin hal itu bakalan terjadi lagi kalau Ichigo mencoba mengikuti saran sahabat-sahabatnya itu.

Mendengar hal itu, Grimmjow dan Shirosaki —si albinosegera tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut mereka. Langsung saja semua murid yang saat itu masih ada di dalam kelas —walaupun sudah jam istirahat— mengalihkan perhatiannya ke arah Ichigo dan kawan-kawan. Sedangkan Ichigo langsung memasang tampang bete dan muka yang mengkerut seperti nenek-nenek. Karena selain menanggung malu atas kejadian mengerikan itu, sekarang dia harus menahan malu di hadapan kedua sahabatnya yang sebentar lagi jadi salah satu pasien rumah sakit. Bisa rumah sakit umum atau rumah sakit jiwa. Tinggal pilih saja.

"Huh...malah diketawain! Rese! Yang nyuruh gue bilang kayak gitu khan kalian! Gak tahu kasian ma gue apa? Lo pada rese semua!" gerutu Ichigo —walau dia tidak yakin kedua cowok yang sedang tertawa terbahak-bahak itu mendengarkan dirinya atau tidak.

"Hmmpphh...ha...ha...ha...! Ya tapi lo nya juga yang mau aja terima usul kami waktu itu. Khan harusnya lo udah tahu gimana sifat pacar lo itu. Harusnya lo itu dah bisa ngambil keputusan yang bener. Ya nggak?" sahut Shiro setelah berhasil mengendalikan ketawanya. Mungkin dia kasihan juga dengan Ichigo yang wajahnya makin lama makin mengkerut dan sedikit memerah. Dan lagi mereka juga tidak mau jadi pusat perhatian murid-murid lain lebih lama lagi.

Sebenarnya Shirosaki adalah nama keluarganya. Tetapi Grimmjow dan Ichigo memutuskan untuk memanggil cowok albino itu dengan sebutan Shiro saja. Karena selain cocok dengan warna kulitnya yang putih banget itu, nama kecil cowok pucat itu mirip dengan Ichigo. Takutnya sih malah jadi rancu —walaupun Grimmjow dan Shirosaki sendiri lebih sering memanggil Ichigo dengan sebutan "Berry".

"Lagipula...kita juga udah kena batunya juga khan?" Sepertinya cowok berambut biru itu juga sudah bisa mengendalikan tawanya.

"Tetep aja yang paling parah khan gue, Grimm?" Ichigo balas memberikan argumen karena tidak terima dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Grimmjow. Yah, tapi yang dikatakan oleh Ichigo memang kenyataannya sih.

Tet...tet...tet...

Tepat setelah Ichigo selesai menyelesaikan kalimatnya, bel tanda berakhirnya jam istirahat berakhir. Shirosaki pun segera bangkit berdiri dari kursinya —dalam kasus ini kursi yang diduduki Shirosaki adalah sebuah meja— dan bersiap untuk kembali ke kelasnya. Sedangkan Grimmjow memang berada di kelas ini bersama dengan Ichigo —bahkan mereka juga duduk bersebelahan.

"Jadi, lo tetep gak mau ikut?" tanya Shirosaki memastikan sebelum dia berjalan menuju pintu ruang kelas.

"Lo udah denger jawabannya khan?" Ichigo malah balas bertanya dengan nada bete. Tangan kanannya digunakan untuk menopang dagunya menunjukkan bagaimana betenya dia.

"Khe, sabar aja bro! Kalau lo udah gak cinta lagi ma dia, tinggal putusin aja! Gue bakalan ada di sana kalau dia gak mau ngelepasin lo." Dan setelah berkata begitu, Shirosaki segera mengambil langkah untuk keluar dari ruang kelas Ichigo dan Grimmjow sebelum guru mereka atau bahkan guru di kelasnya datang. Hari ini dia lagi pengen jadi anak alim.

"Dia beneran cinta ma lo apa gak sih? Kok kayaknya lo jadi dipenjara gitu?" tanya Grimmjow setelah kepergian si cowok albino itu. Mengambil kesempatan karena guru mereka masih belum datang.

"Dunno...," jawab Ichigo sekenanya sambil mengangkat bahunya. Jawaban yang sama sekali tidak memuaskan. Tapi mau bagaimana lagi? Memang seperti itulah kenyataannya. Ichigo sendiri sudah tidak tahu lagi bagaimana perasaan pacarnya itu kepadanya. Jujur dirinya sendiri dibuat bingung oleh sikap pacarnya yang gampang berubah-berubah. Kadang terlihat cinta banget sama Ichigo, kadang bisa menakutkan seolah dia tidak menyukai Ichigo.

Grimmjow yang merasa sangat kurang puas dengan jawaban yang diberikan oleh si cowok berambut orange itu harus bisa bersabar karena sensei mereka sudah memasuki kelas. Lagipula Grimmjow sendiri juga gak yakin si berry tahu jawaban dari pertanyaannya. Mungkin memang jawaban itulah yang diketahui oleh Ichigo. Dipaksa mengaku juga percuma.

*KaSaHa*

"Lo yakin mau tetep nungguin dia? Ini sudah makin sore loh," tanya cowok albino pada si berry yang sedang bersandar di sebuah tembok yang berada di sebelah gerbang sekolah mereka. Grimmjow sedang menunggu pacarnya yang masih ada rapat OSIS —karena rencananya pacar Grimmjow juga bakalan ikut dalam acara jalan-jalan kali ini. Sedangkan pacar Shirosaki sendiri —Tensa Zangetsu— sudah berada di sampingnya.

"Yakin lah! Masa mau gue tinggal? Gue bisa gak selamet lagi besok!" jawab si rambut orange mulai sedikit ketus —alias gak sabar dengan pertanyaan yang diajukan oleh Shiro karena pertanyaan itu menurutnya adalah pertanyan bodoh yang sudah dapat diketahui jawabannya.

"Yee, gue tanya baik-baik juga. Gue khan cuman kasihan ma lo," tukas Shiro sedikit risih dengan jawaban yang diberikan oleh sahabatnya itu. Tapi kenyataan bahwa cowok albino itu khawatir dengan Ichigo memang benar. Lebih tepatnya khawatir dengan relationship yang sedang dijalani sama si berry. Karena orang luar yang melihat relationship ini bakal beranggapan bahwa ini cuman one-sided. Dan Shirosaki tidak mau melihat Ichigo nantinya akan break-down kalau memang benar ini hanya one-sided love.

"Lo takut banget sih ma dia? Kalau udah gak cinta ma dia, lo putusin aja lagi! Jangan cuman karena perasaan takut akhirnya lo jadi tertindas gini." Sebuah suara muncul di tengah-tengah mereka. Membuat Ichigo, Shirosaki dan Tensa menoleh ke arah datangnya suara —seolah mereka sudah tahu bahwa pertanyaan itu berkaitan dengan apa yang sedari tadi mereka sedang perbincangkan.

Dan ternyata memang benar. Cowok yang selalu menjadi pusat perhatian karena rambut biru nyentriknya perlahan mendekati mereka. Di sebelahnya sudah terlihat cowok berwajah pucat dan berbadan pendek —bahkan lebih pendek dari pada Ichigo. Dialah Ulquiorra Schiffer yang statusnya sebagai pacar Grimmjow. Seorang sekretaris OSIS yang cekatan dan disukai banyak guru. Tahun depan direncanakan akan diangkat sebagai ketua OSIS, langsung dipilih oleh para guru —karena tahun ini dia masih sebagai first year di sekolah ini.

"Gue masih cinta sama dia," jawab Ichigo singkat. Ya, hanya itu yang bisa membuatnya tetap yakin untuk tidak melepaskan cinta ini apapun yang terjadi. Hanya alasan ini yang bisa membuat dia bisa bertahan sampai tahap ini. Dia tidak pernah punya pikiran untuk memutuskan pacarnya saat ini. Malah hal yang ditakutinya adalah pacarnya yang memutuskan dirinya.

"Hah...," Kedua sahabat Ichigo hanya dapat menghela nafas pasrah mendapat jawaban seperti itu dari Ichigo. Dalam kasus ini mereka sama sekali tidak bisa menyalahkan sahabat mereka itu. Perasaan cinta tidak pernah bisa disalahkan. Oleh siapapun juga. Karena perasaan cinta tidak datang oleh kemauan sang empunya. Perasaan cinta datang dengan sendirinya bahkan terkadang sampai tidak disadari oleh sang empunya.

"Sorry, tapi kalian pergi aja. Gue bakalan baik-baik aja. Kalau ada apa-apa gue bakalan langsung hubungi kalian kok," tukas Ichigo untuk membuat sahabat-sahabatnya itu tidak khawatir lagi. Walau kadang mereka terlihat cuek, tapi mereka selalu peduli kalau menyangkut hal-hal seperti ini. Ichigo benar-benar bersyukur mendapat sahabat yang begitu menyayanginya dan bersedia melindunginya. Setidaknya, dia punya tempat untuk berlindung kalau memang nanti benar-benar terjadi hal yang tidak diinginkannya.

"Pokoknya harus ngehubungi! Awas kalo lo gak ngehubungi kami," ancam Grimmjow sambil menepuk-nepuk punggung sang orange-head pelan.

"Ato lo bisa nyusul kami ke warnet kalo lo butuh tempat curhat. Lo mesti nyelesaiin masalah lo dengan dia hari ini. Jangan ditunda lagi. Kita gak mau kalo lo tetep nunda-nunda gini, lo bakalan terluka lebih dalam lagi. Ngerti?" timpal Shiro sambil ikut menepuk punggung Ichigo juga. Yah walaupun kata-katanya yang sedikit lebih puitis daripada biasanya itu membuat sang orange-head sedikit terkejut.

Yang ditepuk hanya bisa geleng-geleng kepala dengan sikap kedua sahabatnya yang sudah mirip orang tuanya ini. "Iya, iya, tou-san, kaa-san!" gurau sang Berry yang langsung mendapatkan double jitakan di kepalanya. Tentu saja dari si blue-haired dan si albino yang sudah jelas merasa kalau ejekan itu ditujukan kepada mereka.

"Dasar lo," tukas mereka hampir serempak.

"Udah gih, sana pergi! Jitakan gue bisa nambah kalau lo berdua gak segera berangkat," ucap Ichigo sambil menoleh ke arah pacar Grimmjow dan Shiro yang sedari tadi hanya diam saja. Yah, tapi memang kedua orang itu tipe yang hemat banget bicara. Jadi mau gimana lagi? Kalau gak ada yang ngajak ngomong, ya gak bakalan buka suara.

"Jaa ne!" pamit mereka berdua sambil mulai berbalik pergi meninggalkan Ichigo sendirian di depan gerbang sekolah itu.

"Hah, bersyukurnya gue punya sahabat seperti mereka. Sedikit gak normal tapi care banget kalau udah nyangkut sahabatnya sendiri," gumam Ichigo sambil senyum-senyum gak jelas. Mungkin kalau Grimmjow dan Shiro masih disini, Ichigo bakalan jadi pasien rumah sakit!

Selepas kepergian kedua sahabatnya itu —plus pacarnya masing-masing— sang cowok Kurosaki itu hanya bisa terdiam sambil merenung —lebih tepatnya menunggu. Keadaan sekolah itu lama kelamaan menjadi sepi —bahkan Ichigo yakin hanya tinggal dirinya sendiri di sekolah itu. Wajah cowok tampan itu pun lama-lama semakin mengkerut karena pacarnya itu masih saja belum memunculkan batang hidungnya. Tanda-tanda kedatangan saja gak ada sama sekali —maksudnya suara mobil.

Drrrt...drrrt...drrrt...

Sesuatu bergetar di saku celana milik sang orange-head itu. Tidak salah lagi. Itu adalah getaran yang ditimbulkan oleh ponselnya. Dan karena getaran di ponselnya itu hanya satu kali dan sebentar, menandakan bahwa ada sms yang masuk ke ponselnya. Ichigo pun segera merogoh saku celananya dengan harapan itu adalah kabar dari orang (baca: pacar) yang sedari tadi ditungguinya. Dan ternyata benar saja. Tertera tulisan di ponselnya yang berbunyi 'Byaku-koi'. Dengan segera sang Berry membuka pesan tersebut.

From: Byaku-koi

Subject: Sorry

Ichi, maaph...

Sptx q gg bs jpt cz ad meeting dadakn...

Sory...

Pesan itu cukup singkat sekali. Tetapi pengaruhnya sunggung membuat Ichigo naik darah. Tangannya yang menggenggam ponsel tersebut mengencang dengan erat seolah ingin meremukkan ponsel tersebut. Dia ingin meluapkan kemarahannya tersebut. Tapi dalam hati dia juga kasihan dengan ponsel tak berdaya di tangannya itu. Akhirnya Ichigo membalas pesan itu.

To: Byaku-koi

Re: Subjet: Sorry

I've had enough.

We're end!

Lalu cowok tampan itu segera menekan tombol send. Tetapi rupanya dia masih ingin mengirim pesan ke orang lain. Cowok orange-head tersebut kembali memainkan jari-jarinya di keypad ponselnya.

To: Grimmy

Subject: No subject

W k sn skg...

W udh mtusn hub dg dy...

Dan setelah kembali menekan tombol send, cowok itu segera melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu —sekolahnya— dan menuju tempat sahabat-sahabatnya berada. Dia butuh mereka sekarang. Dia butuh seseorang untuk menjadi 'tempat sampahnya'. Dia tidak tahan lagi dengan perlakuan ini. Dia harus menceritakan semua yang dia rasakan pada seseorang. Pada seseorang yang akan selalu ada pada saat sedih dan duka. He needs them right now...

tO bE cOnTiNuEd oR nOt?

A/N (Author's Nyolot): Hai hai hai! Saichi kembali muncul nih! Ada yang kangen gak? #ditimpuk#. Okeh kali ini Saichi membuat pair yang berbeda lagi. Dan fic ini rencananya bakalan three shoot (walau renacana awal one shoot, terus melebar lagi jadi two shoot dan melebar lag- #dibekep#). Tapi Saichi merasa ficnya jelek banget. T_T. Jadi Saichi minta pendapat kalian. Apa Saichi perlu melanjutkan or not. Okay that's all.

Thank you for read my fic and give me some feedback everyone?

So, should I continue or not?