Klinik Haruno diwariskan pada Sasori dan Sakura yang harus rela dijodohkan dipaksa melepaskan impiannya untuk menjadi dokter. Pertemuan dengan Sasuke membuatnya kembali bertekad untuk mengejar cita-cita. Tanpa disadari kebersamaan mereka membuatnya jatuh cinta pada lelaki itu. Namun siapa sangka calon tunangan Sakura juga seorang Uchiha. Tapi bukan Sasuke, melainkan sang kakak, Itachi Uchiha. Bagaimanakah hubungan Sakura dan Sasuke? Sementara Sasuke adalah brother complex yang sangat menyayangi kakaknya.


=0=0=0=0=

HOLD MY HAND : Chapter 1

=0=0=0=0=

Chapter: 1/6

Sakura Haruno x Sasuke Uchiha

NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

Story by

FuRaHeart

WARNING: Fic Jadul,OOC, typo, alur GaJe cerita se-mau-gue.

.

If you don't LIKE? Read? Don't Read?

WHATEVER!

~Itadakimasu~

.

.

.

Di tengah hiruk pikuk ramainya suasana dalam bis di pagi hari, mataku terpaku memperhatikan seseorang. Sosok seorang pemuda yang berdiri bersandar di dekat pintu. Aku memperhatikannya bukan karena dia tampan. Ehm, yah, sejujurnya dia memang tampan sih. Wajahnya sangat rupawan. Dengan onyx hitam yang mempesona. Juga tatanan rambut raven berponi acak yang ditata mencuat kebelakang–persis seperti pantat ayam–entah itu disebut potongan rambut gaya emo atau apa. Dia mungkin hanya pelajar SMA biasa, memakai kemeja putih bersih, dasi yang diikat tak rapih, juga blazer yang dipakai sekenanya. Meski tampak sedikit berantakan, tapi itu terlihat keren. Badge berbentuk awan merah yang tersemat di atas saku blazernya menunjukkan kalau dia siswa Akatsuki Gakuen. Sekolah elit khusus putra. Pasti dia berasal dari keluarga terpandang. Anak orang kaya. Tapi kenapa naik bis?

Bukan itu yang sedang kupikirkan. Yang membuatku tertarik padanya adalah buku yang tengah serius dia baca. 'Persiapan Kuliah di Luar Negeri' kira-kira itulah judulnya. Aku tak begitu yakin karena ditulis dalam bahasa asing dan hanya melihat sampulnya sepintas. Isi bacaannya pasti sulit. Namun yang bisa kupahami saat melihat orang itu adalah...

...

...

"Dia pasti punya impian besar..." gumamku pelan.

"Hah? kau bilang apa Sakura?" tanya Ino, membuyarkan lamunanku.

Aku mendongak sebentar, memandang sahabat baikku itu sebelum kembali menghela nafas panjang dan membenamkan kepalaku dalam lipatan tangan di atas meja.

"Hei, kenapa sih? Tampak frustasi begitu." Ino mendekat, menyibakkan rambut soft pink-ku yang menutupi wajah. Blue sapphire-nya tiba-tiba membulat, pasti terkejut melihat sembab di mataku. "Heh Sakura, kau menangis? Apa terjadi sesuatu? Ada masalah apa?"

Aku lekas mendongak. Menggeleng pelan. Menutup bibirku rapat-rapat, menggigitnya agar tak berucap. Tapi makin ku tahan, iris mataku malah makin tak kuat. Melihat Ino yang memandang penuh rasa cemas, linangan air mata itu pun tak terbendung. Aku lekas menerjang memeluk gadis berambut pirang ekor kuda itu erat-erat. Menumpahkan kesedihanku di atas bahunya. Dia tak keberatan dengan tindakanku yang tiba-tiba membasahi kemeja seragamnya. Justru pelan-pelan diusapnya rambutku dengan lembut.

"Sakura, tenang dulu. Ceritakan pelan-pelan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Ino~ gimana ini... hik hik... aku... aku..." ucapku disela isak tangis, "Hik, aku harus melepaskan impianku untuk menikah..."

"Heee?"

...

...

...

Aku, Sakura Haruno. Putri pertama keluarga Haruno yang selama lebih dari separuh hidupnya ditanamkan dalam diri untuk menjadi penerus keluarga. Mengelola klinik Haruno. Karena itulah menjadi seorang dokter adalah cita-citaku. Tak ada yang lain. Bukan karena ambisiku yang ingin mengambil alih bisnis keluarga, tapi karena itu adalah impianku. Namun semuanya kini harus berakhir.

"Sakura, hentikan keegoisanmu!" bentak Ibuku malam itu, "Kau tak perlu lagi berpikir untuk menjadi dokter. Mulailah berlatih untuk jadi istri."

"Seenaknya saja kalian memutuskan. Bukannya dulu sebelum Sasori lahir, semua menginginkan aku jadi dokter? Kenapa sekarang malah melarangku? Lagipula menikah itu bagiku terlalu cepat. Tak pernah terbayangkan, bahkan setelah lulus SMA nanti, aku tak habis pikir kalian menyuruhku cepat menikah. Kalau seperti ini siapa sebenarnya yang egois?"

"Sakura, kau tahu kan ini sudah jadi keputusan kakek. Klinik hanya akan diwariskan kepada anak laki-laki saja. Maka dari itulah, kini tanggung jawab itu diserahkan pada Sasori."

Mataku terbelalak saat mendengarnya. Sasori Haruno. Dia adik laki-lakiku. Umurnya baru lima tahun. Adik yang lucu, berwajah imut dengan rambut kemerahan dan mata yang bulat. Ekpresinya menggemaskan setiap kali memanggilku, "Onee-chan", membuatku selalu ingin mencubit pipinya yang merona merah dan memeluknya erat penuh kasih sayang.

"Konyol. Memangnya yang kuinginkan itu klinik? Aku hanya ingin mengejar impianku."

"Lupakan Sakura. Kau menurut saja. Ini sudah diputuskan."

"Aku akan tetap pada impianku." jawabku sembari melengos pergi, mengakhiri pembicaraan menyebalkan malam itu.

...

...

...

Hari-hari berlanjut dengan pertengkaran yang sama. Mereka terus memaksakan kehendaknya. Memintaku melepas impianku menjadi dokter dan menurut untuk dijodohkan. Terkadang masalah ini membuatku tertekan dan aku mulai merasa galau. Sampai pada suatu waktu aku tertegun memperhatikan seseorang yang tampak serius membaca sebuah buku di dalam bis. Sosoknya saat itu benar-benar menampilkan kesungguhan. Saat melihatnya, ada sesuatu yang bergejolak dalam diriku. Kagum bercampur iri. Yang membuatku tersadar bahwa selama ini aku hanya bisa mengeluh dan marah-marah tak jelas. Hanya banyak bicara, tak ada usaha untuk meraih hal yang kuinginkan.

...

Memasuki halte tujuan, perlahan bis mulai berjalan lambat. Pemuda itu segera beralih dari aktifitas membacanya. Dia lekas menutup buku dan sebentar meregangkan badan. Pintu bis terbuka, kaki panjangnya melenggang berjalan keluar dari bis bersama beberapa penumpang lainnya yang hendak turun. Aku masih memperhatikan sosok itu.

Deg!

Tak sengaja mata kami bertemu. Sesaat aku membeku dipandangi oleh onyx hitamnya. Meski itu hanya beberapa detik sampai pintu bis perlahan kembali tertutup.

Dia curiga tidak yah, daritadi aku memperhatikannya? Tapi tak ada alasan untuk dia marah atau protes kan? Toh ini tempat umum dimana kau bebas melihat apa yang bisa kau lihat. Kalau dia sedikit narsis, pasti sadar kalau dirinya mempesona dan cukup menarik perhatian orang. Terutama bagi para kaum hawa.

Bahkan sampai sosoknya menghilang di ujung jalan, aku masih tak melepaskan pandanganku darinya. Entah kenapa setelah melihat orang itu, tekad dalam diriku muncul.

"Aku juga punya impian besar."

.

.

=0=0=0=0=0=0=

.

.

Sejak saat itu aku mulai berpikir serius. Tak seharusnya kemarin-kemarin kuhabiskan waktu dalam kebimbangan tak berarti. Mulai saat ini akan kutunjukkan kesungguhanku dalam mengejar impianku. Tak peduli meski aku ditentang. Ini kulakukan untuk diriku sendiri. Karena rasanya aku akan menyesal kalau aku hanya berdiam diri dan menerima keegoisan mereka tanpa berbuat apa-apa.

Belajar. Itulah tahap awal yang harus kulakukan. Aku mulai mengikuti kelas persiapan ujian masuk universitas. Mencari informasi fakultas kedokteran. Lebih sering berkunjung dan berinteraksi dengan orang-orang di klinik. Apapun kulakukan untuk meraih impianku itu. Aku ingin jadi dokter.

...

...

Dengan langkah ringan aku masuki sebuah toko buku. Berjalan menuju rak yang sebelumnya telah kuincar. Aku mengernyit heran saat buku yang kucari tak ada. Sekali lagi kutelusuri satu per satu judul buku yang ada, siapa tahu terselip di rak lainnya. Tapi hasilnya nihil. Kenapa tak ada?

Sambil mendengus kesal aku berjalan menuju meja kasir, "Pak, buku Instruksi Kedokteran yang dua hari lalu masih dipajang di sana kok gak ada?" tanyaku to the point.

"Oh, buku yang itu kemarin sudah terjual. Dan kami tak ada rencana untuk menyetok ulang bukunya." jawab si bapak separuh baya.

"Wah, Pak! Tapi aku serius mau beli buku itu." kataku, meminta dengan sangat. "Pliss, stok ulang bukunya ya pak..."

"Nona mau membelinya?" Bapak tersebut mengernyit. Sambil membenarkan letak kacamatanya yang sedikit melorot, dia sengaja memandangku dari atas hingga ke bawah. "Memangnya buku sulit seperti itu bisa dimengerti oleh orang seperti nona? Lagipula harganya mahal."

Haah?!... aku tercengang mendengar ucapannya. Dia meremehkanku?!

"Heh, Pak, meski aku perempuan, aku ini mau jadi dokter. Jadi kalau bapak..."

"Kalau bapak mendiskriminasikan pria-wanita dan tebal-tipisnya dompet, suatu saat toko ini bakal bangkrut lho pak." jawab seseorang yang langsung menyela perkataanku.

Aku sontak menoleh, memandang ke arah sumber suara itu dan terkejut mendapati wajah rupawan mempesona yang sama seperti yang kulihat tempo hari di dalam bis. Onyx hitam dan rambut raven orang itu, aku yakin kalau itu memang dia.

"Sudah ada orang yang pasti bakal beli, bapak kan tinggal jual, apa susahnya sih Pak? Lagipula apa peduli bapak, dia mau mengerti isi bukunya atau tidak, memang dia minta bapak ajari?" lanjut cowok itu lagi.

"Huh, iya iya, aku akan menyetoknya nanti." dengus bapak itu, "Kata-katamu sinis seperti biasa."

Senyumku merekah mendengar keputusannya, "Wah~ beneran ya pak?"

"Iya, iya. Nah, coba tulis disini data buku yang kau pesan, juga alamatmu."

...

Setelah menuliskan pesananku, aku buru-buru keluar dari toko. Celingukan mencari sosok lelaki yang tadi menolongku sudah pergi lebih dulu. Gaya rambut pantat ayam khasnya memudahkanku menemukan dia di tengah kerumunan orang yang berlalu-lalang. Aku berlari-lari kecil menghampiri.

"Hei kau, tunggu sebentar!" panggilku setengah berteriak.

Dia menoleh dan menghentikan langkahnya. Menungguku datang mendekat dengan nafas yang masih terengah-engah. Keningnya sedikit berkerut memandangku dengan tatapan heran.

"Eu, yang tadi itu, terima kasih banyak." ucapku sembari kembali mengatur nafas.

"Hn."

"Aku juga berpendapat sama. Dadaku jadi lega setelah kau bantu mengatakannya tadi. Memang tak seharusnya pedagang itu mendiskriminasikan pembeli."

"Hn, ya, lain kali ucapkan sendiri dengan tegas. Orang tak akan tahu kalau kau hanya diam." kata pemuda itu seraya melenggangkan kakinya pergi.

"Iya." kataku sambil mengangguk mantap dan berjalan di belakang menuju arah yang sama dengannya.

Kami sampai di halte bis. Dia lekas duduk di sebuah bangku kosong. Matanya menatap tajam saat aku juga ikut duduk di sebelahnya.

"Aku juga mau pulang. Bukan berarti aku ini mengikutimu." ucapku padanya secara langsung, padahal dia sama sekali tak bertanya.

Pemuda itu terkekeh, "Ternyata kau cepat belajar ya, sekarang sudah bisa ngomong dengan tegas."

Melihat ekspresi orang itu yang mencair, wajahku terasa panas. Pasti merona merah. Tak kusangka dia akan menanggapi ucapanku dan tak mengacuhkanku. Aku merasa sedikit malu. Di sebelahku, pemuda itu membuka sebuah buku dan memulai aktifitas membacanya. Dalam keheningan diantara kami, diam-diam aku mencuri pandang. Aku memperhatikan sosok yang selalu saja terlihat penuh kesungguhan di mataku itu.

"Kau tertarik belajar di luar negeri?" tanyaku membuka pembicaraan, "Selalu kuperhatikan buku yang kau baca semuanya bahasa asing."

"Hn."

"Setiap kali aku melihatmu pasti sedang baca buku. Rajin sekali. Kupikir kau pasti punya impian besar yang ingin kau raih. Aku juga. Dulu sempat merasa putus asa. Tapi sejak melihatmu yang tampak sungguh-sungguh, semangatku kembali bangkit."

"Hn. Aku sungguh-sungguh? tidak seperti itu kok." jawab pemuda itu seraya menutup buku yang tadi dibacanya. Matanya kini menerawang jauh menatap sebuah pesawat yang tampak melintas di atas sana, menorehkan jejak kepulan asap putih pada langit biru yang cerah. "Pendapatmu tentang aku terdengar menggelikan. Apa kau tahu, katanya dengan mengikuti jalan seseorang mungkin kita tak akan tersesat. Tapi bila kita melalui jalan itu, kita hanya akan memandangi punggung orang yang berjalan di depan kita."

Sejenak aku berpikir, mencerna maksud perkataannya. "Hmm, memang seperti itu kan? Tapi aku gak terlalu ngerti." kataku, sambil garuk-garuk kepala tak gatal.

Cowok itu masih memandang ke arah langit, menatap dengan wajah yang kini berubah serius. "Aku sangat mengagumi kakakku. Selama ini didepanku selalu ada kakak. Dia panutanku. Aku benar-benar ingin seperti dirinya. Karenanya mungkin aku ini justru orang yang tak punya impian sendiri. Padahal kalau kakak mewarisi perusahaan, aku sudah putuskan untuk membantunya. Tapi kakakku malah menyuruhku untuk menemukan jalanku sendiri. Aku harus melangkahkan kakiku dan tak mengikuti jejaknya. Dia menyuruhku mencari hal-hal baru. Mengetahui luasnya dunia, lebih dari apa yang ku lihat, ku dengar dan ku rasa. Pergi ke tempat yang jauh."

"Hmm, begitu, ya..." Aku tertegun mendengar perkataannya. "Ternyata aku benar kan? Kau memang orang yang punya impian besar."

"Hh?" Cowok itu menoleh padaku. Dari tatapan matanya terlihat kalau dia butuh penjelasan.

"Jalan di depanmu sekarang memang ada orang lain, tapi tujuanmu bukan dia kan? Keinginan yang berasal dari dirimu sendiri itulah impianmu. Kesungguhan hati, tanpa paksaan. Aku melihat hal itu dalam dirimu. Tapi kalau kau berpikir untuk membantu kakakmu, kau jadi tak bisa meraih mimpimu sendiri. Memangnya kakakmu itu begitu tak bisa diandalkan hingga harus dibantu olehmu?"

Pemuda itu memicingkan matanya, "Bicaramu ini blak-blak-an juga ya."

"Aa, Maaf, gak sengaja..." Aku menutup mulutku dengan sebelah tangan, terkekeh dibaliknya.

"Hhh~ sudahlah..." Sejenak dia menghela nafas panjang, "Aku juga, kenapa jadi membicarakan hal seperti ini dengan orang asing."

Sambil tersenyum aku menggeleng pelan, "Gak apa-apa kok. Aku justru senang."

Dari kejauhan tampak bis yang ku nanti datang mendekat. "Aku pulang dulu. Sampai Jumpa." pamitku seraya bangkit dari duduk.

Bis itu sudah berhenti di depanku, tapi aku masih terlalu berat untuk melangkah masuk. Aku merasa kalau aku pergi sekarang, aku akan menyesal. Maka aku pun kembali berbalik dan cepat mengulurkan tanganku pada pemuda itu. "Hei, aku tak mau jadi orang asing bagimu. Namaku Sakura. Sakura Haruno. Perkenalkan."

Dia sedikit terperangah dengan tindakanku yang tiba-tiba. Aku menunggu responnya, tapi pemuda itu hanya menatapku dan tetap mengacuhkan uluran tanganku. Membuatku tampak bodoh. "Ah, ha ha ha~... Tidak mau yah?" aku tertawa hambar, menarik kembali tanganku dan menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal.

Tiit… tiit…

Supir bis sudah mengklakson dua kali, tanda kalau bisnya akan segera berangkat. Aku mulai melangkah pergi. Harus cepat-cepat naik kalau tak mau tertinggal.

Ini sedikit mengecewakan. Tapi kalau takdir, suatu saat pasti akan ada kesempatan lain. Saat aku bisa lebih mengenal dirinya. Pikirku optimis.

"Sakura…"

Langkahku terhenti sesaat setelah masuk ke dalam bis. Mendengar namaku disebut, aku kembali menoleh dan melihat pemuda itu sudah berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Menatapku sedikit lembut dengan senyuman samar terlukis di wajahnya. Dalam diam, aku menanti apa yang akan dilakukannya.

"Namaku Sasuke." ucapnya pelan.

SREG… pintu langsung tertutup dan bis mulai bergerak maju.

Jantungku berdegup kencang. Terkejut dengan kejadian barusan. Tapi emerald-ku masih menatap keluar jendela. Bibir cowok itu kembali berucap mengulangi menyebutkan namanya.

"Sa… Su… Ke… Uchi.."

Sasuke…?

Aku tak bisa dengan jelas membaca semua gerak bibirnya. Tapi ada satu kata yang ku ingat dan ku simpan dalam hatiku.

Sasuke.

=0=0=0=0=

TBC … Next to chapter 2

=0=0=0=0=


AfterWord:

Yo minna~... Sebenarnya ini Fic multi chapter pertama saya jauh sebelum bikin Senior~ I Love U dan Love me again. Tadinya ragu mau publish di FFn coz ancur banget dan udah jadul. Tapi berhubung ada pengunjung blog yang minta di publish juga di sini, ya udah saya updet deh. Sekalian berbagi buat Readers lainnya yang mungkin belum baca postingan Fic GaJe ini, haaa~ (=_=)a

Jalan cerita Fic ini terinspirasi dari kisah one-shot SAKURA IN SPRING dalam komik WANTED karya Matsuri Hino (Pengarang Vampire Knight). Apa ada yang udah pernah baca?

Tapi dijamin isi cerita Fic ini jauh berbeda.

Saya cuma ambil ide tentang cewek yang harus melepaskan impian karena perjodohan yang diatur oleh keluarga. Tapi dia terlanjur jatuh cinta ma orang lain. Dan ternyata orang itu adalah adik dari calon tunangannya.

Walo disini Sasuke belum menunjukan diri sebagai Uchiha ^-^ hohoho~

Terima kasih udah baca, kalo berkenan silahkan Review ya m(_ _)m

Lanjut ke chap 2 -(^o^)/