Reply Review \(^-^)/

YashiUchiHatake: Ini udah updet :D waduh gimana dong klo ga sesuai keinginan, hehe~^-^

Akasuna no ei-chan: Wah~ kurang sadis ya, saya gak tega bikinnya klo terlalu sadis, hehe~ *ngeles* XD Terima kasih udah review

Mizuira Kumiko: Happy ending ko^-^

Arisa: Iya, saya buat cerita tambahannya. Tapi entah apa masih tetap GaJe ya, fufufu~ maaf klo masih mengecewakan. Heee, Raditya (?) jangan-jangan dirimu cowok dong?! (O.o)a Aku kira selama ini Arisa itu cewek #plakk

Fishy ELF: Ini udah updet dan tamat ^-^ maaf ya Sasukenya OOC

Akuma Cherry-chan: Wah, meski ga log-in masih sempat review (*_*) Terima kasih. Ini udah updet dan tamat :D

Special Thanks to ALL READERS


=0=0=0=0=

HOLD MY HAND

=0=0=0=0=

Last Chapter

Sasuke Uchiha x Sakura Haruno

NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

Warning: OOC, typo, alur GaJe cerita se-mau-gue

Story by

FuRaHeart

If you don't LIKE? Read? Don't Read?

WHATEVER!

~Itadakimasu~

.

.

.

Orochimaru berhasil dibereskan. Kami semua kembali ke markas Taka. Mengobati luka sisa pertarungan dan beristirahat. Untung saja tak ada yang mendapatkan luka serius. Hanya beberapa lebam dan lecet, yang mudah diobati dengan obat yang tersedia.

Suasana berubah ramai dalam perayaan kemenangan ini. Beberapa tampak minum dan makan dengan gembira. Berkaraoke. Saling membanggakan cerita perkelahiannya masing-masing. Sementara itu aku dan Sasuke hanya duduk terdiam di sofa di sudut ruangan.

Sruff…

Aku menyeruput habis orange juice-ku dan sekali lagi menghela nafas lega. Membayangkan apa yang baru saja kualami, ini masih membuatku merinding ngeri. Jadi begini rasanya diculik. Saat leherku dipukul. Saat kedua tangan dan kakiku terikat. Saat aku tak bisa teriak. Hanya meronta dan menangis. Aku takut melihat mereka semua berkelahi. Takut orang-orang yang kusayangi terluka. Takut terjadi sesuatu pada Sasuke.

"Maaf, aku jadi melibatkanmu." kata Sasuke, memecah keheningan diantara kami.

Aku menggeleng pelan, "Terima kasih sudah menolongku."

"Hn."

"…"

Kami terdiam lagi.

"Eu, bagaimana lukamu?" tanyaku.

Sebelah alis Sasuke terangkat, diperlihatkannya beberapa luka gores di kedua tangannya. "Ini bukan apa-apa."

Kuperhatikan wajah Sasuke lekat-lekat. Menyelidiki apa ada lebam di wajah tampannya. Sejenak aku menghela nafas lega, "Syukurlah…" Masih porselen putih tanpa cacat.

"Oi, SasuSaku…" panggil Suigetsu pada kami berdua, "Mau ikut kami keliling kota gak?"

"Kita harus menyebarkan berita ini pada yang lain. Orochimaru sudah tamat dan Taka-lah yang terkuat." lanjut Tobi.

"Terima kasih. Aku disini saja." Aku menolak ajakan itu.

"Ya, sebaiknya kau beristirahat Sakura. Kasihan juga kau, setiap berurusan dengan kami, kau selalu terluka." kata Jugo.

"…"

"Hmm, kalau gitu aku juga mau pulang saja. Cukup refreshingnya. Pameran BIG BANG ledakan superku akan diadakan bulan depan. Tak boleh santai. Aku harus segera kembali ke galeri. Jaa~…" pamit Deidara.

"Oh, Shit! Kas keuangan Taka terancam. Anggaran pesta kemenangan kali ini perlu ditekan. Aku harus mendampingi Hidan belanja. Karena dia suka seenaknya membeli barang tak perlu." Kakuzu lekas pergi menyusul Hidan yang sudah lebih dahulu pergi bersama Zetsu.

"Kau juga mau pergi?" tanya Sasuke pada Yahiko yang sudah bersiap memakai jaket kulitnya.

Cowok itu menyeringai seraya memakaikan kacamata hitamnya, "Aku ada rekaman dan juga kencan." jawabnya, langsung menyambar kunci mobil di atas meja dan melengos pergi.

Hh…

Aku memutar mataku melihat kesekeliling ruangan yang kini jadi sepi. Semua orang pergi. Padahal sesaat lalu masih ramai dan berisik. Sekarang hanya tinggal aku dan Sasuke. Jantungku jadi berdebar kencang. Mengingat disini kami berdua saja. Aku sedikit melirik kearah Sasuke, tampak kebingungan dan juga salah tingkah.

"Tch, dasar mereka semua… kenapa mendadak pada punya urusan," dengus Sasuke seraya berdiri kemudian menoleh padaku. "Kau juga sebaiknya pulang saja, Sakura."

Aku sedikit menyunggingkan bibirku. Terkekeh mendengarnya. Sasuke mengernyit heran melihatku mendadak begitu.

"Kenapa?" tanyanya.

"Rasanya lucu. Kau selalu saja menyuruhku pergi, Sasuke. Selalu saja menyuruhku pulang," Aku menatapnya dalam, "Padahal aku masih ingin bersamamu."

Sasuke terperangah mendengar jawabanku. Matanya lekas menghindar. Itu seperti sudah jadi kebiasaannya. "Jangan bicara sembarangan."

"Aku katakan sebenarnya. Aku ingin bersamamu. Sasuke."

"Hentikan!" bentak Sasuke, "Kau tak boleh bicara seperti itu."

"Kenapa?! Memang apa salahnya?" balasku seraya bangkit dan menghadangnya.

"Kau… harusnya tau diri. Kau itu siapa bagiku."

"Siapa?" tanyaku, "Aku Sakura Haruno. Yang entah sejak kapan diam-diam memperhatikanmu. Perlahan mengenalmu. Berteman denganmu. Berlari ke tempatmu. Kau yang waktu itu menarik tanganku. Menggenggamnya. Dan sekarang membuatku jatuh cinta."

Sasuke mencengkeram pergelangan tanganku. Rasanya sedikit sakit. Onyx hitamnya memandangku tajam, "Jangan lupa kalau kau itu juga tunangannya kakakku!" tegasnya.

Aku merasa begitu sakit mendengarnya. Tak seharusnya dia mengingatkan aku tentang hal itu. "Sudah kubilang aku memilihmu, Sasuke."

Sasuke kembali menghempaskan tanganku, "Cukup, jangan bicara lagi."

"Kau… mustahil tak menyadari perasaanmu sendiri, kan? Seperti tadi, kenapa kau datang menolongku?"

"Itu karena Orochimaru salah paham. Dan aku juga tak mau ada orang lain yang terlibat dalam masalahku dengannya."

"Lalu, bagaimana dengan saat kau membelaku dihadapan Orochimaru, kau bilang aku gadismu."

"Itu hanya khayalanmu saja, Sakura," kata Sasuke seraya berbalik. "Berhentilah membicarakan hal ini. Membuatku muak. Aku tak…"

Aku cepat menarik lengan Sasuke, membalikkan badannya agar menghadapku kembali. Ku dongakkan wajahku dan berjinjit. Cepat mendaratkan bibirku ke atas bibirnya. Membungkam kata-kata yang ingin diucapkannya. Aku tak mau mendengar kebohongan lagi. Biar kubuktikan sendiri perasaan ini.

Onyx hitam Sasuke membulat, terkejut dengan tindakanku yang tiba-tiba. Dia mencoba melepaskan diri, tapi aku kian erat mencengkeram kerah bajunya. Lebih menekankan bibirku lagi. Menciumnya. Karena aku yakin kami memiliki perasaan yang sama. Saat kemudian mata kami sama-sama terpejam.

Kurasakan sensasi geli saat tangan Sasuke bergerak menyusup diantara leher dan telingaku. Membuatku sedikit lunglai. Perlahan bibirnya membuka bibirku. Membuat lidah kami bertemu dan saling bertaut. Tubuh kami kian merapat dalam pelukan. Kurasakan jantungnya dan jantungku berdegup dengan irama yang sama. Kami menikmati ciuman lembut itu sampai akhirnya Sasuke menarik diri dan mendorongku jauh.

"Tidak…" Sasuke menggeleng pelan. "Ini tidak benar…" lanjutnya seraya menyeka bibirnya dengan punggung tangan.

"Sasuke…" aku merasa sakit melihat tindakannya. "Kenapa?"

"Tak seharusnya kita seperti ini, Sakura. Kau dan kak Itachi. Kau itu calon…"

"Tidak!" bantahku cepat, "Kita merasakannya barusan, Sasuke, kita punya perasaan yang sama. Ciuman tadi…"

"Lupakan!" bentak Sasuke, "Itu tak berarti apa-apa, Sakura. Anggap tak terjadi."

"Apa?! Bagaimana bisa bukan apa-apa, sedang kita berdua menyadarinya. Kau juga mencintaiku, kan?"Aku menatap Onyx-nya lekat-lekat, mencari pembenaran.

Sasuke memalingkan wajahnya, "Tidak." Seraya berbalik dan melenggang pergi.

"Sasuke…" Mataku yang berkaca-kaca menatap sedih punggung tegapnya yang menjauh itu. Kian membuat hatiku merasa sakit, "Kau curang Sasuke. Curang. Padahal kita memiliki perasaan yang sama. Kau juga mencintaiku…" kataku lirih.

.

.

=0=0=0=0=0=0=

.

.

"Coba lihat. Hari ini kau cantik sekali."

Aku mengangkat pandanganku, melihat sosok yang tampil di dalam cermin itu. Tampak seorang gadis yang memakai gaun warna putih susu berpadu pink yang manis dan anggun. Make-up di wajahnya tak terkesan mencolok, justru semakin mempertegas kecantikan alaminya. Rambut soft-pink itu ditata cantik, dipilin hingga sedikit bergelombang dibagian bawahnya. Disisi sebelah kanan rambut diberi jepit bermanik bentuk kupu-kupu yang serasi dengan model pakaiannya. Sederhana namun tetap elegan. Penampilannya sudah sempurna. Tapi ada satu hal yang kurang…

"Senyum dong, Sakura. Kenapa wajahmu suram sekali? Ini kan hari pertunanganmu."

Entah sudah berapa kali Kaa-san mengatakan hal itu padaku. Aku hanya menorehkan senyum samar. Lalu kembali menghela nafas. Menundukan kepala. Rasanya dadaku sesak. Berat sekali menghadapi detik demi detik di hari ini. Aku masih tak percaya saat seperti ini akan tiba juga. Ketika pertunanganku dan Itachi akhirnya diresmikan.

"Persiapannya sudah selesai. Ayo cepat kita pergi sekarang, sebelum terlambat." ajak Kaa-san seraya menarik tanganku.

Hh…

Aku berjalan dengan langkah tak bersemangat. Mengikuti Kaa-san menuju mobil dimana Too-san dan Sasori sudah menunggu. Kali ini Kaa-san tidak duduk di bangku depan, tapi bersamaku dan Sasori dibelakang. Mereka berdua mengapitku di tengah. Sebelum berangkat, Kaa-san dengan teliti memeriksa setiap pintu mobil, memastikannya terkunci. Dan sepanjang perjalanan menuju rumah keluarga Uchiha, lenganku tak pernah lepas dari dekapannya. Wajar saja Kaa-san sampai se-waspada itu, mengingat aku pernah mencoba kabur sebelumnya.

"Kaa-san, tanganku keram nih…." kataku manja, minta dilepaskan.

"Hmmmm…?" Kaa-san memicingkan matanya, menatapku curiga. Kepalanya menggeleng-geleng pelan, menolak permintaanku.

"Ya, ampun, Kaa-san. Aku tak akan kabur kok. Sumpah," kataku dengan sangat memohon. Keram ditanganku itu tak bohong. "Aliran darahku tak lancar nih kalau terus Kaa-san peluk erat begini."

Dengan tampak sedikit terpaksa akhirnya Kaa-san melepaskan tanganku. Berganti memegang ujung rok gaunku. Aku melohok tak percaya, Kaa-san memperlakukanku seperti layaknya tawanan.

"Kenapa tak sekalian saja aku diborgol?" dengusku kesal sambil mengebas-ebaskan tanganku yang pegal.

Suasana di rumah keluarga Uchiha tampak ramai. Tamu undangan dari berbagai kalangan menghadiri acara ini. Aku tak menyangka untuk acara pertunangan saja yang datang sampai sebanyak ini. Memang sih, relasi dari kedua belah pihak keluarga sangat banyak. Apalagi mengingat pertunangan ini juga berpengaruh terhadap hubungan bisnis antara keluarga Haruno dan Uchiha di masa depan.

Kami langsung disambut hangat oleh paman Fugaku dan bibi Mikoto. Mereka tampak serasi. Bibi Mikoto memakai long-dress biru beludru dengan hiasan manik-manik putih disekitar kerah lehernya yang terbuka. Rambut hitamnya yang biasa terurai kini digelung keatas, tampak menawan. Paman Fugaku pun terlihat tampan dengan stelan jas warna senada, kemeja putih dan dasi biru muda bermotif. Begitu pula dengan Itachi yang terlihat tampan dalam balutan tuxedo hitamnya, menampilkan sosok dewasa dan sangat mempesona.

"Kami sangat senang, akhirnya hari ini datang juga."

"Ya, setelah sebelumnya sempat tertunda karena berbagai hal."

"Maafkan kecerobohan putri kami untuk yang sebelumnya."

"Ah, tidak apa-apa. Yang penting pertunangan ini bisa segera diresmikan."

"…"

Mereka semua mulai tenggelam dalam obrolan. Sementara itu dengan perasaan berdebar, mataku mulai mencari-cari kesekeliling ruangan.

Sasuke…

Setengah dalam diriku berharap ingin bertemu dengannya. Setengah lainnya merasa cemas, bagaimana bisa aku melihat pria yang kucintai hadir di acara pertunanganku sendiri. Terlebih lagi yang akan bertunangan denganku itu kakaknya. Tidak, justru karena itulah ini menjadi semakin menyakitkan bagiku.

"…"

"Sakura-chan, kau mencari Sasuke?" bisik Itachi di telingaku.

"Hhh?" Aku terperangah mendengarnya. Selama beberapa saat aku sempat melamun.

"Kenapa?" tanya bibi Mikoto, heran melihat gelagatku.

Itachi tersenyum, "Tidak. Hanya saja, padahal ini hari pertunangan kami, tapi wajah Sakura-chan suram sekali."

"Sakura…" desis Kaa-san sambil memberikan deathglare-nya padaku. "Senyum…"

Kusunggingkan sedikit bibirku dan terseyum samar. Tak bisa kulakukan dengan baik, meski itu hanya satu senyuman palsu. Hatiku yang tak bahagia menahan semuanya. Aku menunduk, menghela nafas panjang. "Kak Itachi, apa aku masih boleh jadi dokter biar sudah menikah denganmu?" tanyaku lirih.

"Taruhan kita belum selesai lho, cepat sekali kau berputus-asa." kata Itachi, sama sekali tak menjawab pertanyaanku.

Aku juga sebenarnya tak ingin putus asa seperti ini. Tapi melihat orang yang kutunggu tak juga datang rasanya menyesakkan. Sasuke benar-benar tak memilihku.

Seorang pelayan tiba-tiba datang menghampiri dan berbisik pada paman Fugaku dan bibi Mikoto. Mendengar sekilas nama Sasuke disebutnya, diam-diam aku mencuri dengar isi pembicaraan mereka.

"Saya heran kenapa kemarin malam dia sudah menyiapkan barang-barangnya. Ternyata tuan muda Sasuke bermaksud pergi dengan penerbangan pertama ke negara Hi pagi ini. Dia baru saja berangkat. Katanya tak perlu pamit, mengingat anda semua sibuk mempersiapkan acara…" bisik pelayan itu.

Haah?!... Kakiku langsung bergerak sendiri. Berlari menuju pintu keluar.

"Sakura!..." teriak mereka semua, terkejut. "Kau mau kemana?!"

Kaa-san yang paling panik berteriak memanggil-manggilku. Aku tak berbalik menanggapinya. Tak peduli orang-orang menatapku keheranan. Aku terus berlari. Dalam pikiranku sekarang hanya ada Sasuke.

Kenapa…

Sasuke?!

Kau pergi begitu saja….

Aku menyukaimu, sampai tak tertahankan…

Kalau kau mau bersamaku, aku tak akan menyesal dan pasti akan bahagia…

Tak apa bila kau tak bisa memilihku, aku akan menerimanya…

Tapi aku mohon, tetaplah disini…

Jangan pergi…

Langkahku terhenti di depan pintu gerbang utama yang tertutup rapat. Penjaga keamanan sepertinya cepat diberitahu untuk menghentikanku. Kucengkeram teralis pagar yang tak bisa kubuka itu. Memandang jauh keluar sana. Perlahan semuanya tampak samar. Tertutup genangan air mata yang berkumpul di atas iris emerald-ku.

Begitu ya, Sasuke…

Kau akhirnya memilih jalan yang bisa mewujudkan impianmu, ya…

Aku semakin merasa sesak. Bukan karena lelah berlari tadi, tapi ada pada hatiku yang seperti diberi beban berat. Ini sangat berat. Hingga aku tak bisa lagi menahannya. Aku mulai merosot jatuh, tapi kemudian seseorang menahanku.

Itachi menatapku lekat-lekat, tampak begitu cemas. Lalu dengan tangan kekarnya, perlahan dia membantuku berdiri. Mendekapku dengan hati-hati seolah aku ini barang yang bisa hancur berkeping-keping kalau tak diperlakukan dengan lembut. Aku langsung terisak didadanya. Itachi tak berkata apapun. Dia hanya menepuk-nepuk punggungku pelan. Menenangkan.

Sekilas aku menatap diriku di kaca. Tampak kacau. Dengan riasan sedikit luntur dan mata yang sembab. Sejenak aku menghela nafas panjang, menenangkan diriku lagi sebelum kuikuti langkah Itachi kembali masuk ke dalam rumah.

Semua orang tampak menunggu kami. Masih berpandangan heran dan berbisik-bisik membicarakan kejadian tadi. Itachi menjelaskan sebisa mungkin pada mereka semua kalau tadi aku hanya gugup. Kaa-san langsung memelukku erat dan menggenggam tanganku. Sepertinya dia panik sekali. Khawatir putrinya kabur lagi. Kaa-san bersyukur, Itachi berhasil membawaku kembali.

Pikiranku kosong. Lama aku tenggelam dalam lamunan, sampai tak sadar kalau acara sudah dimulai daritadi. Aku kini berdiri berhadapan dengan Itachi. Di tengah kami, seorang wanita cantik tampak membawa nampan dengan kotak merah velvet diatasnya. Terbuka memperlihatkan sepasang cincin. Jantungku berdebar melihatnya.

"Tunggu," aku langsung menyela.

"Sakura, apa yang kau…" desis Kaa-san, memandang marah padaku.

"Ada hal yang ingin aku katakan…" kataku cepat.

Semua orang berpandangan heran menatapku yang tiba-tiba menghentikan acara. Mereka berbisik-bisik, bertanya-tanya apa yang hendak kulakukan. Mendadak aku merasa gugup karena jadi pusat perhatian. Aku sedikit menelan ludah. Menarik nafas dalam-dalam. Mempersiapkan hatiku sejenak.

"Dulu, ada orang yang pernah bilang padaku, kalau kita tidak mengatakannya dengan tegas, orang tidak akan pernah tahu. Kaa-san, Too-san… Paman Fugaku, Bibi Mikoto… kak Itachi… aku tahu aku masih egois dan belum begitu memahami batas pendapat diri sendiri. Tapi, setidaknya sekarang, aku merasa sekarang bukan saatnya aku mematuhi perintah orangtua. Aku…"

SREG…

Pintu terbuka. Semua perhatian orang-orang kini teralih kebelakang, dimana seorang pemuda yang mendadak muncul langsung berjalan masuk tanpa permisi. Suasana makin riuh saat melihatnya menghampiriku. Aku terbelalak tak percaya melihat sosok itu.

Sasuke?!

Kuperhatikan peluh di wajahnya. Bajunya tampak sedikit basah. Dia berkeringat. Apa dia berlari sampai kesini?

"Sasuke, kau bukannya…"

"Aku datang untuk mengambil sesuatu yang tertinggal," kata Sasuke. Kemudian berdiri menghadap keluarganya. Wajahnya tampak serius sekali.

Kami semua penasaran menanti apa yang hendak dia lakukan.

"Ehm, kepada keluarga kedua belah pihak," Sasuke mulai berbicara, "Bisakah kalian mengizinkan aku ini, Sasuke Uchiha menjadi pengganti Itachi Uchiha untuk menikahi Sakura Haruno?" lanjutnya sambil membungkukkan badan. "Aku mohon, berikan dia padaku..."

Haahh?!

Semua orang terkejut mendengar kata-kata Sasuke itu. Para orangtua kami saling berpandangan. Tampak kebingungan. Melihat hal nekat yang baru saja dilakukan adiknya, senyuman Itachi malah mengembang.

"Ckck… adikku ini, bisa-bisanya bicara tegas begitu." kata Itachi sambil terkekeh.

"Sasuke~…" Aku memandang Sasuke lekat-lekat.

Sambil tersenyum, dia balas menatapku lembut. "Gimana nih, Sakura?" tanya Sasuke, sekilas onyx-nya bergulir, "Sepertinya kita tak direstui. Kalau gitu…"

Seraya mengulurkan tangan, aku tersenyum dan mengangguk mantap.

"Kami akan kawin lari." lanjut Sasuke langsung menarik tanganku dan berlari pergi membawaku.

"Eeehhh?!..." Semua orang shock…

"Tenang saja. Kami tidak akan bunuh diri bersama, kok!" kataku sambil menoleh kembali melihat keluarga kami yang makin terkejut dibuatnya.

Dengan perasaan bahagia, aku tertawa bersama Sasuke yang dengan erat menggenggam tanganku.

Berlari bersama keluar.

"Aku tak akan pernah melepaskanmu, Sakura." kata Sasuke.

Aku mengangguk, "Peganglah tanganku, Sasuke."

Selalu…

Selamanya…

=0=0=0=0=0=0=0=

~F.I.N~

=0=0=0=0=0=0=0=

AfterWord:

YA-HA!... Akhirnya fic GaJe ini tamat juga \(^.^)/ Mohon maaf klo agak garing… (=_=)a *Garing banget malah mpe gosong*… #fufufufu~

Tamatnya ini disesuaikan dengan cerita aslinya Sakura In Spring.

Yang belum pernah baca komik one shoot Sakura in Spring, biar tau bedanya saya jelaskan sedikit…

Judul: Sakura in Spring ~The Little Incident of SAKURADA's Store in Meiji Era~

Karya: Matsuri Hino (pengarang Vampire Knight, Merupuri, Wanted)

Cerita ini adalah cerita tambahan dalam komik Wanted (diterbitkan El*x)

Settingnya zaman Meiji, era perkembangan kependudukan.

Tokoh:

Sho Kamura - Sakura Haruno

Takao Sakurada - Sasuke Uchiha

Kyosuke Sakurada - Itachi Uchiha

Aslinya jelas banget beda, jangan bandingkan dengan karya sensei seperti beliau. Fic ini penuh adegan lebay, tokoh ga penting sekali lewat, alur GaJe cerita se-mau-gue *halah*

Ending yang saya post di blog juga cuma sampai sini. Jadi SasuSaku kawin lari? ^-^ fufufufu~…

Klo mengikuti cerita asli SAKURA IN SPRING sih iya, mereka kawin lari. Tapi klo saya buat ending yang berbeda dengan cerita Sakura in Spring...

Simak versi lainnya :D


~OMAKE~

=0=0=0=0=0=

.

.

.

SREG

Pintu gerbang cepat tertutup sebelum kami berhasil melewatinya.

"Danzo, buka!" perintah Sasuke.

"Maaf tuan muda, tapi..."

"SAAASSUUUKKEEE!" terdengar gelegar teriakan seorang pria.

Sontak kami berdua menoleh. Makin kueratkan dekapanku pada lengan pria di sisiku, ketika kulihat para anggota keluarga berlarian menghampiri kami yang tengah terpojok tak bisa melarikan diri. Tak ingin tertangkap, kami terus berusaha kabur bahkan sampai nekat mencoba menaiki teralis pagar besi rumah keluarga Uchiha yang tinggi. Sulit untuk melakukannya sementara aku memakai gaun.

"Cukup berhenti sampai disitu, dasar anak kurang ajar!" teriak paman Fugaku, memperingatkan.

"Apa yang kau lakukan, Sakura? Cepat kembali kemari, nak!" bujuk Kaa-san dengan berurai air mata.

"Kyaaa~ jangan!" panikku, saat mereka berhasil menangkapku dibantu petugas keamanan lain. "Lepaskan aku! Jangan! Aku mohon…" Aku terus meronta sambil menangis. Mencoba membebaskan diri dari cengkeraman mereka yang memaksa memisahkan aku dan Sasuke. "Aku ingin bersamanya, hik hik, aku mohon... Sasuke~ jangan lepaskan aku..."

"Sakura!" Sasuke pun sama, terus berusaha tak ingin lepas dariku. Sementara kami berdua digiring kearah berlawanan, kami saling menggapaikan tangan coba meraih satu sama lain.

"Jangan macam-macam, Sakura! Tunanganmu itu Itachi, kau tak boleh bersamanya!"

Aku menggeleng, tak terima. "Aku mencintainya. Aku hanya inginkan dia. Tak ada yang lain. Aku mohon Kaa-san. Sasuke~..."

"CUKUP!" teriak Itachi tiba-tiba, cepat menyela dan membantuku dan Sasuke membebaskan diri. "Biarkan saja mereka..."

Setelah berhasil bebas, aku cepat berlari kembali ke sisi Sasuke. Meski tahu ini belum berakhir dan kami masih terpojok, setidaknya aku ingin yakinkan mereka kalau aku sungguh tak ingin terpisah darinya.

"Apa maksudmu, Itachi?!" marah Mikoto.

"Apa kalian tak lihat?" Itachi malah balik bertanya. "Mereka saling mencintai. Biarkan saja mereka lakukan apa yang mereka inginkan."

"Tapi―"

"Iya benar, aku mencintainya! Aku cinta Sasuke!" tegasku berulangkali. "Aku cinta dia! Aku hanya mencintainya. Aku mohon, biarkan kami bersama..."

"Sasuke, apa kau juga sama?" tanya Fugaku, "Apa kau berani membangkang dan mengambil sesuatu yang tak berhak kau miliki?!"

Diam sesaat. Sasuke tak lekas menjawab. Lelaki itu bergeming dan justru menundukkan kepalanya, tampak seperti benar-benar menyesali perbuatannya. Selalu saja, menyinggung hal tentang Itachi―kakak yang dia cintai―tetap jadi persoalan penting bagi Sasuke. Ditengah suasana tegang begitu, aku semakin gugup dibuatnya. Kenapa tak seperti aku, kenapa Sasuke tak tegas mengatakannya, apa dia kembali ragu?

"Sakura itu milik Itachi. Bagaimana bisa kau merebutnya begitu saja," lanjut Fugaku. "Kau tak sayang pada kakakmu, heuh?! Kau ingin rusak kebahagiaannya?"

Aku menggeleng. Tak terima pernyataan itu. Siapa yang milik Itachi? Kebahagiaan siapa yang dirusak disini? Makin kueratkan dekapanku yang merangkul sebelah lengan Sasuke.

"Aku―" Sasuke mulai bicara, "Tak ingin merusak kebahagiaan kakak." gumamnya.

Eh?!

Aku tak percaya saat dia katakan itu dengan jelas didekatku. Terlebih lagi perlahan dia menarik diri dariku, melepaskan dekapan tanganku. Cairan bening seketika berkumpul diatas iris emerald dan kian mendesak turun ketika aku benar-benar terhempas dari sisi Sasuke.

"K, kenapa? Kau tak memilihku, Sasuke?" tanyaku lirih. Kesedihan sukses mengisi hatiku. Apa pada akhirnya aku tak bisa melebihi arti keberadaan Itachi di hatinya? Apa artinya dia tadi datang padaku, menarik tanganku, menggenggamnya, membawaku pergi sejauh ini sedang kemudian dia tetap melepaskanku?

"Aku ingin kakak bahagia," kata Sasuke. Dia angkat kepalanya dan menatap lurus semua orang. Melihat ekspresi datar dan sikap serius yang dia tunjukkan, aku semakin merasa kalah. "Tapi―" lanjutnya. Aku terkejut saat tangan Sasuke perlahan kembali menggenggam tanganku. Kali ini dengan lebih erat. "Aku juga berhak bahagia, kan? Bersama orang yang aku cintai. Aku mencintai Sakura."

Deg!

Aku mencintai Sakura

Mendengar kata 'cinta' pertama yang dia ucapkan membuat hatiku bergetar. Perasaan senang, haru, terkejut, bercampur aduk dalam diri. "Sasuke..." kutatap intens onyx-nya. Masih setengah tak percaya, kucari pembenaran atas apa yang dia ucapkan. Apa dia sungguh hati mengatakannya?

Sasuke masih tak menoleh padaku, pun tak balas tersenyum atau sekilas menatapku. "Aku katakan aku mencintai Sakura," ucapnya dengan tegas. "Dan sekali aku bilang aku tak akan melepaskan tangan ini, aku tak akan pernah lepaskan―"

Iya, benar. Genggamlah selalu tanganku, Sasuke.

"―Karena itu, maaf," pandangan Sasuke sedikit layu, "Nii-san, kali ini aku harus mengabaikanmu."

"Ah, haha~…" Itachi justru terkekeh mendengarnya, "Itu baru adikku." ucapnya bangga.

"Eh, tidak boleh begini. Lalu bagaimana dengan acaranya..." panik Kaa-san, "Kalau Sakura dan Itachi tak jadi bertunangan, bagaimana kita jelaskan pada..."

"Sudah ada Sasuke kan, ba-san," sela Itachi, dia angkat sebelah alisnya sementara onyx itu menyapu pandangan kearah kami berdua. "Asal itu dengan seorang Uchiha, tak masalah bukan? Sasuke itu adikku, kalian tak akan menyesal menyerahkan Sakura padanya. Justru kalau tak biarkan mereka bersama itu yang gawat. Karena kulihat keduanya bisa berbuat nekat, hehe~..."

Bagus, Itachi mendukung kami.

"Daripada nanti jadi kawin lari atau bunuh diri, lebih parah kan?"

"Tapi―"

"Kaa-san aku mohon..." pintaku, benar-benar berharap.

Para orangtua saling berpandangan. Sebentar berdiskusi mengambil keputusan.

"Hmm, baiklah. Kami restui hubungan kalian."

Bahagia luar biasa mengisi hatiku. Lekas kuekspresikan dengan memeluk Sasuke erat-erat. Tangisku tumpah. Tapi kali ini bukan berarti kesedihan. Aku senang. Aku bahagia. Terlebih aku tahu Sasuke pun merasakan hal yang sama. Dia balas memelukku erat seraya membelai helaian rambutku dengan lembut.

=0=0=0=0=0=


Jiahahaha~ sudah ah tambahannya sampai sini aja ^-^v

Saya tahu ceritanya aneh, feel ga kena, GaJe, abal, etc…

Terima kasih sudah baca sampe chapter terakhir dan tidak menyesal, hehe~ m(_ _)m maaf klo ceritanya jelek dan mengecewakan.

Klo ada yang ingin disampaikan, silahkan review :D

Sampai jumpa di Fic Project FuRaHeart lainnya -(^o^)/