"Khh…"

Akashi menggigit bibir bawahnya sambil menutup mulutnya, mencegah suara-suara aneh yang bisa lolos dari mulutnya kapan saja. Tangan satunya berusaha mendorong dada bidang Aomine, meski tanpa emperor eyes-nya, Akashi tau itu tidak akan membuat pemuda diatasnya bergeming. Kedua mata heterochrome pemuda berambut merah itu berair, menahan segala sensasi yang diciptakan oleh pemuda berkulit gelap terhadap tubuh bagian bawahnya.

"Che, tidak bisa melawan, Seijuuro-sama?" Aomine menyeringai sambil mencengkram tangan yang menutupi mulut Akashi. Dengan kasar, Aomine membawa tangan Akashi keatas kepala pemuda berambut merah itu serta menguncinya, membuat si pemilik tangan mengerang kesakitan dan tak bisa menggerakkan tangannya.

Kuso! Akashi merutuki siapapun yang menukar minuman Aomine dengan minuman perangsang. Sekarang ia benar-benar dikendalikan oleh nafsu. Akashi juga merutuki dirinya yang membiarkan Aomine menginap di apartemennya.

Semua ini diluar perhitungan Akashi.

Akashi benci mengakuinya, namun Aomine benar-benar hebat soal seks.

Akashi membantah emperor eyes-nya yang mengatakan bahwa tidak ada celah sedikitpun untuk lolos dari Aomine yang sekarang. Dia harus melakukan sesuatu—apapun itu. Namun sayang, panasnya suhu ruangan dan tubuh serta perlakuan Aomine terhadap tubuhnya membuat otak cerdas Akashi tak bisa berpikir jernih.

Kesal. Aomine memajukan pinggulnya dan memasuki Akashi lebih dalam. Akashi memejamkan kedua matanya erat, Menggigit bibirnya hingga mengeluarkan darah. Air mata berhasil lolos dari mata kiri pemuda itu.

"Hng...nggh...!" erangan tertahan berhasil lolos dari mulut Akashi. Ia merutuki tubuhnya yang begitu sensitif.

"Akhirnya menyerah juga, hn?"

Gunting! Benar! Mana guntingnya!?

Merasa tangan kanan Akashi yang berusaha mendorong Aomine melemah, Aomine menyingkirkan tangan Akashi dan mendekati wajah Akashi, berusaha mencium bibir merah muda yang berdarah itu.

Kedua mata heterochrome Akashi melebar, sebelum bibir Aomine menyentuh bibirnya, Akashi menolehkan kepalanya ke kanan dengan cepat. Menghindari ciuman dari Aomine.

Namun rupanya, itu adalah gerakan yang salah.

Aomine menyeringai, kemudian menggigit leher pucat dan sensitif Akashi yang terekspos hingga membentuk bitemark. Sebuah tanda tak terbantahkan, bahwa sang kapten tim basket Teikou yang paling ditakuti itu telah menjadi milik sang ace tim basket Teikou. Menggigit dan menjilati, terus begitu, membuat pemuda kecil dibawahnya mendesah tak karuan.

Akashi mengumpulkan seluruh kesadarannya. Kedua mata heterochrome yang setengah terpejam itu menangkap sebuah benda tajam—gunting di meja samping kasurnya. Dengan cepat, ia mengambil gunting itu, mencoba melukai secuil pipi Aomine, sekedar membuatnya berhenti.

Ternyata hal ini sudah diperkirakan oleh Aomine. Aomine menahan tangan yang membawa gunting itu.

"Percuma melawan-" membuang gunting itu ke sembarang arah, mengunci kedua tangan Akashi dengan satu tangan besar Aomine, "—waktumu habis, Seijuuro-sama." Menyeringai.

Belum sempat Akashi memprotes, Aomine memasuki dirinya lebih dalam lagi dengan kasar. Satu desakan membuat Akashi melenguh, melemparkan kepalanya ke bantal merah miliknya, mendesah dengan mulut terbuka. Aomine menjilat bibirnya, wajah Akashi saat ini begitu menggoda, begitu seksi.

Hal ini tidak disia-siakan oleh Aomine. Ia mencium bibir Akashi dengan ganas, memasukkan lidahnya kedalam mulut Akashi dan mengajak lidah Akashi untuk beradu dengan lidahnya.

"Mmphft!" Akashi berusaha untuk melepaskan diri dari ciuman Aomine. Jalur saliva mulai turun dari ujung bibir Akashi.

Aomine melepaskan ciumannya setelah ia merasakan taring Akashi menggigit lidahnya, "Aku tidak tau kau begitu kotor, Seijuuro-sama."

Aomine terus menghujamkan miliknya ke titik yang membuat Akashi mendesah liar.

"Aku penasaran dengan reaksi mereka saat melihatmu yang mendesah tak karuan seperti ini…"

Akashi membuka matanya, menggelengkan kepalanya dengan cepat. Oh ya ampun, apapun asal jangan itu! Mau ditaruh dimana mukanya?

"…hen-nggh!-tikan…!"

"Tidak sampai aku benar-benar puas."

Sungguh, Aomine harus berhenti sekarang. Akashi benar-benar tidak kuat lagi dan akhirnya mencapai klimaks-nya yang pertama.

"Ngh…hhah…" Akashi hanya bisa mendesah lemah. Ia lelah, sangat lelah. Astaga, mengapa ini lebih melelahkan daripada bermain basket empat quarter penuh?

Satu mata terpejam, sedangkan satunya setengah terpejam dan mengeluarkan air mata. Bukan, bukan air mata karena nikmat. Lebih tepatnya karena kesakitan. Nafas terengah-engah, wajah yang memerah sempurna dengan mulut terbuka serta saliva—entah milik siapa dari ujung bibir Akashi yang kini turun ke lehernya.

Sebuah pemandangan yang menggoda bagi siapapun yang melihatnya.

Akashi Seijuuro, kapten tim basket Teikou yang ditakuti, kini terbaring tak berdaya dibawah Aomine Daiki, ace tim basket Teikou.

Aomine mendekatkan bibirnya ke telinga Akashi,

"Aku belum selesai, Seijuuro-sama." Bisiknya.

Akashi sudah tidak bisa berpikir lagi. Hanya mengerang lemah dibawah Aomine yang terus menyerang bagian dalam dari Akashi yang paling sensitif. Cairan merah kental mulai mengalir, menelusuri kaki mulus Akashi.

Aomine mengerang tertahan saat Akashi menghimpitnya dengan erat. Ia menumpahkan benihnya didalam Akashi.

Akashi melenguh saat Aomine menarik dirinya keluar. Aomine melepaskan kedua tangan Akashi dan beranjak dari tempat tidur. Kemudian memakai celana jeansnya.

"Terima kasih atas 'hidangan' malam-nya." Aomine keluar dari kamar Akashi.

Pemuda berambut merah itu menggigit bibirnya hingga berdarah, lagi.

"Kuso…!" rutuknya sambil mengeratkan cengkramannya pada piyama merah besar dengan beberapa kancing yang telah lepas yang ia pakai.

.

.

This isn't LOVE!

I own nothing but this fic

.

.

Aomine benar-benar tidak tau apa yang telah terjadi.

Terakhir yang ia ingat, dia meminum minumannya yang entah kenapa terasa seperti wine dan membuat tubuhnya panas setelah meminumnya. Ia juga ingat Akashi yang menemukannya tergeletak di gym dalam keadaan setengah sadar. Ia juga ingat—sangat ingat, bahwa Akashi-lah yang membiarkannya menginap di apartemen Akashi.

Setelah itu apa?

Aomine melihat ke sekelilingnya. Jelas-jelas ini adalah rumahnya. Namun mengapa ia tertidur di lantai? Terlebih lagi dengan kemeja yang kancingnya telah terbuka semua.

Bagaimana cara ia bisa kembali dari apartemen Akashi menuju ke rumahnya?

Apa yang terjadi saat dia tidak sadar?

Aomine bangun dari tidurnya, peluh membasahi kulit hitamnya.

Mengapa ia berkeringat sebanyak ini?

"Argh!" Aomine menggeram. Terlalu banyak pertanyaan di kepalanya.

Bagaimanapun juga, ia harus pergi ke sekolah sekarang…

.

.

This isn't LOVE!

.

.

"Eh? Akashi belum datang?"

Momoi mengangguk pasti.

"Biasanya ia tak pernah terlambat saat latihan." Kata Momoi, "Dai-chan, kau tau sesuatu?" tanya perempuan berambut merah muda itu.

Aomine mengangkat kedua bahunya, "Bagaimana kalau kita coba ke apartemennya-"

"Tidak perlu."

Tatapan Momoi dan Aomine tertuju pada Akashi yang kini berdiri didepan pintu gym. Akashi berjalan masuk ke gym dengan langkah yang terseret-seret.

"Akashi-kun! Kau tidak apa-apa!?" Momoi berlari kearah Akashi, kemudian mengamati seluruh tubuh pemuda berambut merah itu.

"Aku baik-baik saja, Satsuki." Akashi berjalan melewati Momoi.

"Tunggu!" Momoi menangkap lengan kiri Akashi, "Ada apa dengan pergelangan tanganmu? Merah, seperti bekas cengkraman." Tanya Momoi penuh simpati.

Namun Akashi menepis tangan Momoi, "Satsuki, aku sudah bilang aku tidak apa-apa."—berjalan menjauhi Momoi. Momoi tau, Akashi paling benci dikhawatirkan. Bagaimana mungkin Momoi tidak khawatir? Saat ini kondisi Akashi buruk—sangat buruk. Wajahnya pucat dan terus mengeluarkan keringat seperti menahan sakit.

Tiba-tiba Momoi menyadari sesuatu, kedua matanya melebar.

...

...

"Akashi-kun...lehermu..."

...

...

-sambil menunjuk beberapa bercak kemerahan—bitemark yang ada di leher belakang Akashi.

...

...

Diam.

Menyentuh leher belakangnya, kemudian menghela napas.

"Shintaro…"

Midorima yang tengah berlatih shoot langsung mengalihkan perhatiannya kepada Akashi.

"Perban."

"Hmph." Midorima membetulkan letak kacamatanya, berjalan kearah Akashi sambil mengambil perban dari saku celananya.

-snip. Akashi menggunting, kemudian melilitkan perban tersebut ke sekeliling lehernya.

"Sepertinya telah terjadi sesuatu."

"Bukan urusanmu."

"Keras kepala seperti biasa?" –membetulkan letak kacamatanya.

Mengembalikan perban milik Midorima.

"Aku tidak suka dengan orang yang berbicara balik padaku." –berbalik. "Latihanmu kutambah 18 kali lipat."

Dan perdebatan mereka pun berhenti.

.

.

"Nee, nee, Kurokocchi."

Kuroko yang tengah menyeruput vanilla milkshake-nya menoleh kearah Kise.

"Sebenarnya apa yang terjadi pada Akashicchi ya?" Kise berbisik, "Kau tau, soal bitemark itu."

"Tidak baik mencampuri urusan orang, Kise-kun."

"Bu-bukan. Maksudku…uhm…kita berbicara tentang Akashicchi disini." –menoleh kearah Aomine, "Aominecchi, menurutmu apakah itu benar-benar sebuah bitemark?"

"Ha!? Mana mungkin!" Aomine yang entah kenapa jumpalitan sendiri mendengar pertanyaan Kise.

Kise pun ikut-ikutan kaget karena melihat reaksi dari Aomine.

"A-ah, tentu saja tidak mungkin ya. Maksudku…hey! Akashicchi yang kita bicarakan sekarang. Kalaupun ada yang mencoba menjatuhkan harga dirinya, pasti orang itu sudah lenyap dicabik-cabik gunting Akashicchi!"

Aomine terdiam. Entah mengapa dia merasa bersalah saat ini.

.

.

This isn't LOVE!

.

.

Aomine berpisah dengan Kuroko dan Kise.

Ia berjalan menuju rumahnya sambil sedikit bersenandung. Ah, betapa ia sangat ingin tidur sekarang.

Pokoknya Aomine bersumpah untuk melompat ke tempat tidurnya dan langsung tidur saat sampai dirumah nanti.

Membuka pintu rumahnya, dan—

"Tadaima-"

SYUUT!

TAP!

-setidaknya Aomine mengharapkan sebuah ucapan selamat datang dari para maid. Tapi, tunggu, dia bahkan tidak punya seorang maid.

Oke, lupakan. Saat ini sebuah gunting merah tertancap tepat di dinding samping Aomine. Jarak antara gunting dengan pipinya hanya 0,1 milimeter.

Ah, dia beruntung karena gunting itu tidak tepat mengenai wajahnya. Wajah Aomine pucat pasi seketika.

"Daiki…"

Gulp.

Aomine kenal betul suara itu. Ditolehkan kepalanya kearah sumber suara.

Akashi Seijuuro, dengan aura hitam disekitarnya yang berjarak tak jauh dari Aomine.

"Oi! Apa-apa'an kau!? Tadi itu hampir saja tau!"

Akashi menyeringai, "Fuh, lebih baik kena saja tadi."

"Ap-"

Belum sempat Aomine memprotes, sebuah alat tes kehamilan mendarat tepat di wajahnya. Aomine mengambil alat itu.

Terlihat tanda tambah merah disana.

Akashi melipat kedua tangannya didepan dadanya, "Aku hamil,"

"Eh?"

TBC

Note:

1. Ini M-rated pertama saya, mohon maklum jika mess be-ge-te.

2. Aomine itu manggil 'Seijuuro-sama' dengan nada ngejek. Err...yah begitulah(?)

3. Rencana mau bikin nih fic romance/humor. Tapi kenapa kesannya romance gak pake humor ya? Ada saran?

4. YANG MEMBUAT SAYA BIKIN NIH FIC, TANGGUNG JAWAB! HARUS DAN WAJIB REVIEW! #dibuang

5. Saya rasa judulnya masih kurang pas, ada saran? Atau memang udah pas begini?

6. Kronologisnya ada di chapter depan, bakal apdet kalau yang request nih fic review *ngambek ceritanya*

7. Mohon kripik dan sarannya #bows

8. Keep or delete?