Previous chapter...

"Hinata, datanglah ke pesta pernikahan Dobe."

"Ah, t-tapi..."

"Sudah, datang saja!" potongnya cepat.

"B-baiklah."


x0o0o0x

Esperanza

x0o0o0x

Disclaimer: Naruto by oom Kishi, Esperanza by Kana Nishino, dan fic gaje ini by me
Warning: OOC (terutama Sasu), typo, alur cepat, dll

Pairing: SasuHina slight NaruSaku

Chapter 2

Sasuke's POV

Sial, sial, sial... padahal ini hari terakhir aku bertemu dengannya. Tapi pria 'cantik' tak dikenal itu malah menyeret Hinata menjauh. Kalau bukan karena ingin mengungkapkan sesuatu padanya, untuk apa aku berpura-pura menunggu baka aniki?

BRAKKKK

Aku tidak bisa mengontrol emosiku. Tempat sampah yang tidak bersalah itu pun tergeletak dengan menumpahkan separuh isinya.

"Kenapa dengan orang itu?"
"Entahlah, mungkin dia sedang bermasalah..."

Cih, karena ulahku menendang tempat sampah barusan aku malah jadi pusat perhatian orang-orang. Tapi mereka langsung mengalihkan pandangan ketika aku melempar tatapan psikopat.

Tak lama kemudian aku baru menyadari handphoneku berbunyi. Apa aku tadi melamun sampai tidak menyadarinya? Ketika kuperiksa ternyata sudah ada 2 panggilan tak terjawab.

Ah, aku sudah bisa menebak kalau semua panggilan itu dari baka aniki. Dengan malas aku mengangkatnya...

"Hallo, kau ada dimana sekarang baka otouto? Kalau bukan karena menunggumu seharusnya kita telah tiba di bandara sekarang."

"Ck... baiklah baka aniki, aku segera ke sana..."

"Cepatlah, 30 menit lagi pesawatnya—"

Tuuut tuuut

Langsung saja kututup teleponnya. Dasar aniki cerewet sekali, sepertinya ia sudah tidak sabar pergi ke Spanyol. Aku terpaksa ikut karena harus melanjutkan perusahaan ayahku...

Flashback off

Tak terasa tiga hari telah berlalu. Tinggal beberapa jam lagi menjelang pernikahan Dobe. Hh... aku tidak tega melihat Hinata menangis, namun ini adalah kesempatan emas bagiku. Hei, kenapa dari tadi aku mendengar suara samar-samar—

"Bagaimana menurutmu Teme..."

"..."

"Oi, Teme..."

"..."

"TEMEEE... Kau dengar tidak?"

"Uwaaa, apa-apaan kau Dobe!?" Kaget, aku baru sadar kalau wajahnya hanya berjarak beberapa cm dari wajahku. Kalau saja aku tidak segera mundur mungkin ia sudah menciumku.

"Teme, aku bukan gay! Kalau iya, tak mungkin aku menikahi Sakura kan?" Sepertinya ia bisa menebak dari ekspresi wajahku yang menatapnya jijik.

Pandangan mataku beralih pada penampilannya. "Heh, kenapa kau memakai pakaian aneh begitu? Tuksedo itu tidak cocok dengan wajah idiotmu!"

"Huuuweeee... Sakura-chan, Teme jahat. Padahal menurutku ini cocok untukku.." Ia merengek menarik-narik gaun pengantin Sakura. Persis anak anjing yang diperlakukan dengan kejam oleh majikan.

"Diam, jangan mengelap ingusmu dengan gaunku bodoh!"

Beberapa detik kemudian wajah idiot Dobe telah dipenuhi memar dan benjol. Salahkan perbuatannya memancing emosi calon istrinya yang ganas itu.

"Sasuke-kun, kenapa ekspresi wajahmu aneh? Beberapa hari ini kau sering melamun." Sakura menyadari bahwa sejak pulang dari Spanyol yang kupikirkan hanya Hinata.

"Bukannya dari dulu wajahnya memang aneh?"

"DOBEEEE..."

Aku tidak peduli sehancur apa wajahmu di hadapan para tamu nanti, tapi kau tidak akan kumaafkan kalau menghina seorang Uchiha...

End of Sasuke's POV

.

.

.

.

Normal POV

"Hhh... hh... akhirnya sampai juga..."

Hinata mengelap keringatnya yang bercucuran. Ia mengenakan gaun ungu lavender yang panjangnya selutut. Jepit rambut mengkilat dan sebuah tas mini semakin mempercantik penampilannya walaupun make upnya sedikit luntur terkena keringat.

Pernikahan itu diselenggarakan di sebuah gedung resepsi mewah. Di kanan dan kiri gerbangnya tertulis ucapan-ucapan sukacita berukuran raksasa. Tak jauh dari sana ada sebuah danau yang dilengkapi fasilitas perahu angsa.

Melihat tamu-tamu yang datang, Hinata jadi merasa rendah diri. Sebagian besar dari mereka adalah rekan-rekan bisnis ayah Naruto yang notabene adalah seorang pengusaha sukses di Tokyo.

"Gawat, terlalu banyak orang. Bisa-bisa aku malah tersesat." Hinata melihat sekelilingnya—berusaha menemukan tempat duduk. Namun, yang dilihatnya hanya kerumunan tamu yang rata-rata bertubuh lebih tinggi darinya sehingga ia kesulitan melihat.

Sudah satu jam berdiri, Hinata mulai lelah. Hak sepatunya yang terlalu tinggi membuat kakinya pegal. Bahkan ia tidak menemukan satupun orang yang dikenalnya.

Tiba-tiba ia merasa seseorang tanpa sengaja menabraknya dari belakang. Hinata jatuh terduduk di lantai.

"M-maafkan aku, kau tidak apa-apa?" Hinata merasa mengenali pemilik suara itu.

"N-Naruto-kun..."

"Hinata-chan, ternyata kau datang!" Ia tersenyum lalu mengulurkan tangannya. Tapi Hinata tidak segera menerima uluran tangan itu. "Kau bisa berdiri?"

"Sa-sakit..." Hinata memegangi kakinya yang memar karena terlalu lama berdiri. "Ku-kurasa aku tidak bisa berdiri."

Sosok berambut pirang itu berjongkok. "Naiklah ke punggungku."

"Eh?"

"Cepat naik, kau tidak bisa jalan kan?"

"I-iya."

Naruto menggendongnya ke tempat teman-teman seangkatannya yang lain. Semuanya tampak memasang wajah ceria melihat Hinata. Hanya Sasuke yang memasang tampang sebal.

"Ehem, bisa kau turunkan dia, Dobe?" Sasuke tersenyum, namun ada aura-aura mengerikan yang membuat suasana menjadi tak nyaman.

"B-baiklah Teme."

'Kelihatannya moodmu sedang jelek.' Batin Naruto ketakutan.

"N-Naruto-kun... terimakasih sudah mengantarku. T-tapi, kau tadi sedang apa?"

"Mencarimu. Semuanya menunggumu."

Kedua bola mata lavendernya membulat. Hinata tak menyangka teman-teman seangkatannya ternyata rela menunggunya. Bahkan pengantinnya sendiri.

"Hinata, ini momen yang istimewa. Sejak dulu kau tak pernah ikut setiap kali kami mengajakmu." Sakura menepuk bahunya pelan. "Sekali ini saja, aku ingin teman-teman seangkatanku lengkap."

Tanpa sadar air matanya sudah menggenang. Walau sudah mengusapnya berkali-kali namun airmatanya tetap jatuh. Ia sudah bosan menangis berkali-kali, namun sekarang bukan karena patah hatinya.

Kali ini ia merasa lega. Ia merasa sebagai seseorang yang penting dan dibutuhkan oleh teman-temannya.

"Sudah hampir pukul 7 malam. Ayo, Sakura-chan." Naruto menggandeng calon istrinya ke altar. Tempat mereka akan mengucapkan sumpah setia.

Sasuke menuntun teman-temannya ke kursi VIP. Kursi yang telah dipersiapkan oleh Naruto sebelumnya khusus untuk teman-teman seangkatannya.

.

.

.

.

Riuh penonton bertepuk tangan setelah mereka mengucapkan janji dan saling bertukar cincin. Hinata tentunya sudah bersiap-siap menghadapi momen yang satu ini—saat pengantin pria mencium pengantin wanita.

Ketika bibir mereka bertautan, Hinata seakan membeku. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya selama beberapa detik, lalu menunduk sambil mencengkram kuat roknya.

My midsummer love is freezing
I want you touch me by your warmth
how much longer should I cry?
I just want to be the one who you love

If I were that girl
I'm sure I wouldn't saying selfish things
I don't need anything I'm not afraid of anything
because I love you more than anyone

"Kau menangis?" Sasuke yang duduk di sebelah Hinata tampak khawatir.

"A-aku... s-sudah terlalu banyak menangis hari ini." Ia menggigit bibir bawah seakan ingin menangis, namun tidak ada setetespun airmata yang mengalir.

"Kau berlagak sok kuat di hadapan mereka dengan memasang senyum palsu, padahal sebenarnya kau lemah."

Hinata mengangkat kepalanya. Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Sasuke katakan padanya, padahal mereka hampir tidak pernah saling bicara.

"Aaakh, k-kau mau membawaku ke mana?"

"Diam dan ikuti saja!"

Mendadak Sasuke menariknya dengan paksa. Hinata tak sanggup meronta dan hanya bisa pasrah diseret seperti itu. Mereka menerobos kerumunan tamu yang masih berdiri hingga akhirnya tiba di sebuah danau kecil.

Tempat itu hanya berjarak beberapa meter dari gedung resepsi, namun sangat sunyi. Hanya mereka berdua yang berdiri di pinggir danau dengan penerangan yang minim. Hanya ada sedikit lampu taman yang menyala dan kunang-kunang yang terbang mengitari danau.

"I-ini... kenapa kau membawaku ke sini?" Hinata masih kebingungan, namun tidak dipedulikan oleh Sasuke.

Sasuke menyewa sebuah perahu angsa yang hanya berkapasitas dua orang. Tanpa basa-basi ia memberi isyarat agar Hinata naik.

Keheningan meliputi mereka berdua ketika mereka diatas perahu. Sasuke memegang kendali perahu membawa mereka berkeliling. Tak ada yang bicara sepatah katapun sejak tadi hingga seekor kunang-kunang melintas diatas kepala mereka.

"Lihat itu Sasuke-kun, mereka cantik ya!" Hinata memandang seekor kunang-kunang yang terbang bersama betinanya.

"..."

"Aku iri melihat mereka. Sejak dulu aku hanya berharap bisa seperti itu dengan Naruto-kun."

"Dasar, selalu Dobe yang kau pikirkan. Apa kau tidak pernah melihat orang lain hah?" Sasuke seolah tersulut mendengarnya. Ia mencengkram kedua bahu Hinata.

"M-memang benar, t-tapi... itu dulu. K-kupikir aku sudah bisa melihat orang lain sekarang." Cengkraman di bahu Hinata pun melonggar.

"Aku akan melanjutkan apa yang ingin kukatan sewaktu kita lulus kuliah."

"A-apa itu—KYAAAAA"

BYUUUUURRRR

.

.

.

.

"Uhuk... uhuk... ukh..."

"Sial, basah kuyup begini..."

Sasuke tidak menyadari posisinya tadi saat mencengkram bahu Hinata. Karena terbawa emosi ia malah membuat perahu menjadi tidak seimbang dan terbalik. Beruntung mereka tidak terluka dan posisinya dekat dengan tepi danau.

"TEMEEEEE... HINATA-CHAAANN..." Terdengar suara cempreng mengagetkan mereka.

"Aku disini, Dobe." Sasuke melambaikan tangan ke arah sosok Naruto yang mendekat.

"Kenapa kalian malah disini dan... kenapa kalian basah kuyup begitu?" Naruto menganggukkan kepala tanda mengerti ketika Sasuke menunjuk perahu angsa yang terbalik. "Oooh... yasudahlah, acara berikutnya akan segera dimulai. Lebih baik kau pakai ini, Teme." Sasuke menangkap sebuah jas yang dilemparkan padanya.

"A-acara berikutnya?" Hinata makin tak mengerti.

"Sebelumnya Teme belum memberitahumu ya? Teman-teman seangkatan kita diundang bukan hanya untuk merayakan pesta pernikahanku dengan Sakura-chan, tapi—"

"Acara reuni untuk merayakan kepulanganku dari Spanyol." Potong Sasuke cepat.

"B-begitu..."

"Lebih baik kau antar Hinata-chan pulang sebentar untuk mengganti pakaian. Rumahnya tidak jauh dari sini kan?" Naruto memasang senyum nakal.

"Cih, apa-apan wajahmu itu? ayo, Hinata..."

"Baik."

.

.

.

.

'Saat menggandeng tanganku kulitnya terasa begitu dingin. Sangat berbeda dengan Naru— ah, lagi-lagi aku malah memikirkan dia.' Batin Hinata.

"Hei, kita sudah sampai. Aku tidak perlu mengantarmu sampai ke dalam kan?"

"T-tapi... kau juga basah, sebaiknya masuk saja."

"Aku sedang tidak ingin bertemu dengan keluargamu. Biarlah kutunggu diluar."

Hinata berjalan beberapa langkah sebelum akhirnya berhenti sesaat. "Sasuke-kun..."

"Hn?'

"Terima kasih..." Hinata tersenyum manis, lalu menutup pintu rumah secepatnya. Perlahan tubuh mungil Hinata merosot hingga terduduk di lantai.

Tanpa ia sadari, Sasuke juga tersenyum tipis di balik pintu. Setelah dia merasa Hinata sudah jauh dari pintu depan rumahnya, Sasuke melanjutkan apa yang ingin ia katakan saat di perahu tadi.

"Hinata, sebenarnya tadi aku ingin mengatakan aku menyukaimu, entah sejak kapan. Tapi yang ada di pikiranmu hanya ada si Dobe." Sasuke berhenti sejenak. "Yah, mungkin kau tidak mendengarnya ya..."

Hinata masih terduduk di depan pintu dengan wajah merona. Ia mendengarnya. Pengakuan jujur yang dikatakan Sasuke.

"Sasuke... sekali lagi terima kasih... aku akan berusaha melihatmu, menghargai keberadaan orang lain sesulit apapun melupakan Naruto-kun..."

Kali ini rona tipis menghiasi wajah Sasuke. Ia juga mendengar apa yang dikatakan Hinata walaupun terhalang oleh pintu.

midsummer love is freezing
I want you touch me by your warmth
how much should I cry
I just want to be the one who you love

"Kenapa Neechan tersenyum sendiri? Dan kenapa tubuhmu basah?" Hanabi menatap heran tingkah aneh kakaknya.

"T-tidak ada apa-apa kok, sungguh!"

Hinata berlari-lari kecil menuju kamar mandi. Setidaknya ia sudah berhasil untuk tidak menangis saat momen yang menyakitkan baginya tadi. Dan juga ia telah menemukan seseorang yang kelak akan mengisi hatinya—seseorang yang sedang menunggunya sekarang.

.

.

.

.

終わり

.

.

.

.

Epilog

1 tahun kemudian...

"Sakura-chaaaann..."

"Baka, jangan teriak-teriak begitu! Kau membangunkan Shinachiku!" Sakura memeluk bayi mungil yang baru berumur dua minggu itu.

"Eee... m-maaf sudah membangunkanmu nak." Perlahan bayi itu membuka matanya dan menangis.

"Kau ini... ada apa sih memangnya?"

Naruto menyodorkan sebuah amplop biru bertuliskan 'undangan' pada istrinya. Sakura tersenyum kecil ketika membacanya. "Wah, tak kusangka... kali ini kita yang mengunjungi mereka."

Sakura meletakkan amplop itu diatas meja dalam keadaan terbuka lalu kembali menidurkan bayinya. Sebuah amplop berisi undangan pernikahan Sasuke dan Hinata.

.

.

.

.

Epilog End

AN: Yeiy! Akhirnya tamat juga fic ini! maunya sih publish pas ultahnya Zo, tapi karna sudah lewat jadinya telat deh... =3=
Sekali lagi ane ucapkan HBD ZOOO~ #Suruh Pein jadi cheerleaders (?)

Dan bagi Readers yang belum pernah dengar lagu yang menginspirasi ane bikin fic ini, silakan buka linknya watch?v=V-tTc4UDrAM

PV aslinya sudah di remove, jadi tinggal lagunya... T^T

Last, mind to review?

V

V

V

V