THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: based on Twilight Saga by Stephenie Meyer

.


.

86. Menjelang Badai

Thursday, August 27th, 2015

1:14 AM

.


.

Ketika bangun, hal pertama yang dirasakan Seth adalah ... nyaris tidak ada. Tidak sakit, tidak pening, dan yang paling aneh—hal yang tak pernah ia rasakan bertahun-tahun hingga ia tak merasa menempati jasad kasarnya—ia tidak merasakan keterikatan. Tidak pada tanah tempatnya berpijak, tidak pada sosok-sosok di hadapannya, tidak pada apapun. Ia seperti mengambang...

Wajah Embry adalah yang pertama tertangkap oleh retinanya. Pemuda itu tersenyum, mengucapkan kata-kata standar seperti 'Syukurlah kau sudah sadar' dan 'Kau merasa baikan?', tapi anehnya, senyum itu tak sampai ke matanya, bahkan juga tak terasa pada nada suaranya. Mengembara sedikit ke belakang, dilihatnya kawanan mengisi titik-titik yang dapat diisi di ruangan berjendela besar yang sudah jelas kamar Carlisle dan Esme. Sebagian dari mereka langsung bangkit dari duduknya atau beranjak dari tempat mereka berdiri mematung, langsung berhamburan mendekati sang Alfa. Suara demi suara memanggil namanya, wajah demi wajah mampir mengisi ruang dominan di ruangan matanya. Senyum demi senyum ditawarkan. Tapi lagi, tiada kecerahan yang sampai ke mata mereka. Hanya kesenduan dan ... apa itu? Kesedihan?

"Jacob?" entah mengapa, nama itu adalah yang pertama kali mencuat di benaknya. Ia berusaha bangkit, namun tangan Embry lekas menahan dadanya. "Apa yang terjadi dengan Jacob?"

"Jacob tidak apa-apa," jawab Embry. "Operasi ketiganya sukses selagi kau tidur. Saat ini Carlisle sedang melihat perkembangannya, untuk memutuskan kapan ia bisa menjalani operasi selanjutnya. Ia ada di tangan yang tepat, kau tak perlu khawatir."

Seharusnya kata 'Jacob tidak apa-apa' bisa memberinya kelegaan, tetapi nyatanya tidak. Tidak karena di balik senyum Embry, ia masih menangkap sesuatu yang salah. Sesuatu yang hilang, atau malah disembunyikan.

Jika permasalahannya bukan pada Jacob, apakah ini mengenai dirinya? Seth menunduk, berusaha mengecek keadaan tubuhnya sendiri. Saat itulah, ujung matanya menangkap sesuatu yang salah—bukan di tubuhnya, tetapi justru di lengan Embry. Terlambat ketika Embry menyadari utas napas tertahan dan mata Seth yang terfokus pada satu titik di lengannya, dan berusaha menutupinya saat itu juga. Seth sudah menariknya.

"Apa ini?" tunjuk Seth pada bekas cakaran yang belum sembuh di lengan kanan Embry.

Embry berusaha menarik kembali tangannya, tapi tak ada yang bisa mengalahkan Seth jika sudah menyangkut determinasi.

"Ada apa sebenarnya, Em? Katakan padaku."

Embry makin salah tingkah, dan bukan hanya sekali sejak ia terbangun, lagi-lagi Seth merasa jantungnya berdegup lebih daripada seharusnya. Dan rasa was-was tersebut sama sekali tak berkurang, justru makin menekan, kala matanya secara otomatis menjelajah ke arah kawanan, berusaha mencerna setiap titik yang sekiranya dapat menjelaskan perasaan aneh yang menekannya.

Segala sesuatu tidak ada pada tempatnya. Terlihat dari bagaimana Quil, lebih daripada yang lain, merunduk, tak berani menatapnya. Bagaimana Ben berulang kali menghapus tetes air mata yang jatuh ke pipinya. Bagaimana Pete bersikukuh tinggal di titik tempatnya berdiri, sementara matanya menatap kosong ke luar jendela. Dan bagaimana duo Copper saling berpandangan, tampak seolah tak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Bayangan hal terakhir yang terjadi sebelum ia kehilangan kesadaran bertubi-tubi kembali muncul di ruangan matanya. Dan itu menjelaskan lubang-lubang kosong dalam skema kronologis kejadian yang ia tinggalkan sewaktu ia tak sadarkan diri, lebih daripada seharusnya.

Tanpa ia sadari, Seth melepaskan cengkeramannya pada tangan Embry, dan bergerak meraba dadanya sendiri. Hampa yang sejak tadi terasa seakan membesar, bak lubang hitam menelan apapun di sekitarnya.

Ia bukan lagi Alfa.

Dan itu artinya, kawanan telah...

"Maaf...," bisiknya, tak kuasa lagi menatap mata kawanan. Maaf aku telah gagal… Maaf aku telah mengecewakan kalian… Maaf aku tak bisa mempertahankan kalian...

"Tidak, Seth," kali itu yang angkat bicara adalah Quil. Suaranya lirih dan gemetar. "Aku yang tak cukup kuat untuk melawan Kierra. Kawanannya mempecundangi kami, dan aku terpaksa menyerah. Aku tak punya pilihan lain..."

Ia tak lagi meneruskan. Kepalanya tertunduk penuh, seakan siap menerima kemarahan sang mantan Alfa. Tapi bukan kemarahan yang meraja di benak Seth saat itu, tidak ketika pikirannya hanya terfokus pada satu kata dalam kalimat Quil.

"Kierra?"

Apa sebenarnya yang teraba dari nada suaranya kala mengucapkan satu kata itu? Kengerian? Ketakutan? Kegelisahan? Ketakutan atas apa? Kengerian atas apa?

Adalah Embry yang memecah kebekuan dengan berusaha menyediakan penjelasan pada sang mantan Alfa. "Kami … mengejar satu makhluk yang kami kira adalah lintah," ucapnya hati-hati. "Kami … sama sekali tak menduga bahwa ternyata dia …," ia menelan ludah, "dia adalah…"

"Korra…"

Tak hanya satu, tapi enam utas napas tertahan memberati udara kala kata itu terlepas dari bibir Seth. Dan kala seseorang—Embry?—berusaha kembali bicara, suaranya sarat ketidakpastian.

"Kau … tahu?" Tapi detik kemudian ia menggeleng keras. "Tidak, tidak, maafkan aku, Seth. Tentu saja kau tahu, dan pasti kau juga sama bingungnya dengan kami. Pasti kau juga shock ketika Korra mendadak berubah dan ia bukan lagi serigala yang pernah kita lihat sebelumnya. Bodohnya aku, sesaat aku mengira kau…"

Kata-kata Embry mendadak mengambang di udara. Adakah itu karena ia juga menangkap ada yang janggal pada reaksi Seth, dan suatu kesadaran menerpanya jauh dari yang seharusnya? Yang jelas raut wajahnya, sorot matanya, mendadak berubah penuh horor. Dan ketika ia bicara, suaranya bergetar penuh kengerian.

"Seth? Tolong katakan itu tidak benar…"

Tapi tak ada reaksi dari Seth, yang membuat nanar menyala di mata Embry.

"Seth!" serunya.

"Kenapa?" tanya Ben bingung, sama sekali tak mengerti apa gerangan yang membuat sang Beta mendadak terguncang. Hal yang sama juga sepertinya dirasakan sebagian kawanan, melihat beberapa dari mereka saling berpandangan.

Tapi Embry tidak menggubris, tidak pula menawarkan penjelasan. Diguncangnya bahu Seth, tidak peduli Seth meringis kesakitan karenanya.

"Sejak kapan, Seth? Sejak kapan kau tahu?"

Seth tak langsung menjawab. Tapi tatkala ia mengangkat kepala, matanya tampak berat.

"Sejak Collin terkubur di jurang…" ucapnya, lirih.

"Sejak perang di jurang… Artinya, sebelum insiden di rumah Jacob?"

Samar, Seth mengangguk. Tapi gestur kecil itu sudah lebih dari cukup untuk membuat dunia Embry runtuh. Dilepasnya cengkeramannya dari lengan Seth, seolah kulit Seth membakarnya.

"Mengapa…?"

Pertanyaannya Embry terhenti, seakan ia tidak kuasa mengucapkannya, tapi Seth tahu apa yang ingin ia utarakan. 'Mengapa kau tidak mengatakannya?'

Dan di baliknya, ia tahu masih banyak pertanyaan lain. Dan bukan cuma pertanyaan. Terlihat dari sorot matanya, dan tajam nada suaranya—menyuarakan kalimat-kalimat yang lebih kencang daripada seandainya tuduhan itu diucapkan.

'Mungkinkah, kau berkonspirasi dengan Kierra? Apa kau memang mengetahui rencana Kierra untuk menjatuhkan Jacob dan mengambil alih kawanan? Kau ambil bagian dalam insiden itu, jadi apa kau benar-benar kaki tangan Kierra? Apa kau memang telah menyeberang?'

Tuduhan yang sama yang juga telah diucpkan Jacob, pada hari setelah pertempuran jurang. Pada hari ketika Seth tak melakukan apapun sementara Collin…

Collin!

Kepala Seth langsung terhentak begitu cepat hingga lehernya seakan patah. Mendadak kepalanya dijejali pikiran mengerikan yang berkembang entah dari mana.

"Collin…," tuntutnya ngeri, "Apa yang terjadi dengan Collin?"

Wajar jika ia ketakutan, bukan? Seth bukan satu-satunya kandidat Alfa jika Jacob tumbang, faktanya bahkan bukan ialah yang seharusnya menjadi Alfa. Collin adalah pemilik hak pertama. Jika Seth juga tumbang, bukankah sewajarnya hak tersebut kembali pada Collin? Dan kini pemuda itu tak tampak di manapun di ruangan itu. Dan kalau tak salah dengar, bukankah Quil tadi mengatakan ia terpaksa menyerah? Mengapa Quil sampai harus tertimpa beban Alfa? Apakah itu artinya Collin … telah…

Embry tak menjawab, justru memalingkan muka. Kentara sekali ada rasa jijik di wajahnya.

"Tenang, Seth. Ia selamat. Kuharap...," Quil mengambil alih. Ada nada menggantung dalam kalimatnya yang membuat Seth meradang.

"Apa maksudnya 'kuharap'? Kierra mengalahkannya? Ia sekarat?"

Ia tahu nadanya justru terdengar berharap pada kalimat terakhir. Tidak terlalu bagus untuk situasinya sekarang, tapi ia tak bisa menahannya. Karena dalam legenda, bukankah Kierra selalu memangsa sang Alfa yang kalah demi mendapatkan kekuasaan?

Mungkin itu diartikan lain, karena warna hijau di wajah Embry makin kentara. Quil berpaling pada yang lain, seolah meminta dukungan. Tapi adalah Clark yang menjawab. Getir.

"Collin kabur."

"Kabur?"

"Tepatnya, ia dan Brady melarikan diri. Mungkin ia takut menyadari saat ini, hanya ia target Sang Ibu yang masih berdiri. Atau takut dengan Kierra, atau perang ... dan memutuskan..."

"Omong kosong!" bentak Seth, sontak bangun, yang langsung membuat tulang-tulang dan sendinya berderak sakit. Mengaduh, ia berusaha kembali berbaring dengan susah payah. "Collin bukan pengecut! Mustahil ia..."

"Tapi itu yang terjadi," timpal Harry. Nadanya sama apatisnya, juga dilapisi kebencian dan kekecewaan yang jelas. "Kami juga awalnya tak percaya, ketika Kierra mengatakannya pada pertempuran. Tapi kami melihat buktinya sendiri. Rumah mereka kosong..."

"Kierra mengatakannya?" Seth memicing curiga. "Ia tahu lebih dulu ketimbang kalian?"

"Ya."

"Dan kalian tidak merasa aneh?"

"Aneh seperti?"

"Bahwa ia mungkin menyembunyikan, atau lebih: membunuh Collin?"

"Itu tidak mungkin," kali ini Pete yang angkat bicara. "Jika salah seorang dari kawanan mati, yang lain pasti akan merasakannya, bukan? Itu yang pernah kaubilang. Setidaknya Quil pasti merasakannya. Begitu, 'kan?" ia menoleh pada Quil, seakan meminta konfirmasi. Kendati kalimatnya pasti, ada bersit ketidakpastian dalam suaranya. "Dan kami memang menangkap baunya menjauh dari perbatasan."

"Ditambah, kami tidak merasakan lagi tarikan padanya, tak hanya sebagai Alfa, tapi juga sebagai bagian dari kawanan. Setidaknya, jika ia masih anggota kawanan, kami akan merasakan resistansi ketika Kierra menaklukkan kami. Tapi tidak," Clark menambahkan.

"Atau tidak sekuat seharusnya...," bisik Quil, masih menunduk.

"Bodoh!" umpatnya. "Begitu rendah kepercayaan kalian pada Cole? Kalian tidak berpikir kemungkinan Kierra atau mungkin Sang Ibu menyeretnya keluar La Push dan membunuhnya, atau ia dipaksa memisahkan diri dari kawanan sebelum dibunuh? Jika begitu kejadiannya, kalian takkan bisa merasakan ia masih hidup atau tidak!"

Seth mengedarkan pandangannya ke seluruh kawanan, berusaha mendapat reaksi mereka. Tapi sama sekali tak ada yang angkat suara. Entah karena putus asa, atau apa, semua hanya membisu. Kepala mereka tertunduk, atau membuang muka. Dan itu sungguh membuatnya gerah.

"Ben!" ia menujukan seruannya pada serigala yang sedari tadi diam. Pemuda yang dituju tampak mengejit, takut-takut akan menerima dampratan Seth. Jarang-jarang Seth marah, dan kalau ya, jelas ini masalah serius. "Kau yang paling kenal Collin! Menurutmu ia akan kabur?"

"Ti-tidak...," ia mencericit.

"Kalau begitu kalian harus percaya! Collin takkan begitu saja menelantarkan tugasnya, bahkan walau ia tidak berdaya! Musuh-musuh kita selalu melakukan permainan pikiran untuk mengoyak-ngoyak persatuan kita! Jika ia memang ditawan di luar sana, kita harus membebaskannya. Jika ia memang dibunuh, kita harus membalaskan dendamnya!"

"Sayangnya itu tidak terjadi, Sethie...," bak nyanyian, suara itu menyelusup. Mengenali nadanya, Seth menahan geramannya, mengawasi asal suara tersebut dengan mata nyalang. Pintu menjeblak terbuka, dan satu sosok melewati ambangnya, berjalan dengan dada membusung dan kepala tegak. Di belakangnya, seperti biasa, tangan kanannya yang setia mengikuti tanpa suara.

Tak mungkin tidak, Seth menyadari perubahan pada kawanan begitu perempuan itu masuk. Seketika ruangan menjadi demikian hening. Jangan kata bersuara, bahkan tak seorangpun berani mengangkat kepala. Embry dan Quil bahkan mundur, memberi kesempatan bagi perempuan itu untuk duduk di pembaringan Seth seolah ia (masih) berhak.

Karena ia memang sudah tidak berhak, bukan? Semua haknya untuk menyentuh Seth hilang, pada detik ia melayangkan cakarnya membabat tubuhnya. Dan itu tak berubah, apapun yang ia lakukan untuk mendapatkannya kembali. Bahkan tidak dengan menjadi Alfa kawanan. Terutama tidak dengan merebut kedudukan Alfa.

"Kau...," desis Seth dengan tatapan membakar, seakan berusaha melubangi lawannya bak daun kering. "Jadi benar, kau membunuh Collin..."

Tapi perempuan itu sama sekali tak terpengaruh amarah Seth. Ia berpura-pura terkesiap sesaat, lantas menjawab dengan nada mengejek, "Astaga, Seth! Begitu kauanggap aku? Mana mungkin aku membunuh Tuan Muda Littlesea kita yang tercinta? Jikapun aku mau, Korra takkan mungkin membiarkan, bukan begitu?"

Itu kalimat sederhana, sungguh, tapi sungguh itu membuat Seth tak tahan lagi. "Jangan sebut-sebut soal Korra seolah kau tahu perasaannya!" serunya marah. "Dasar kau Ba—"

Makian itu berhenti di tengah-tengah. Bukan karena Seth tak tega mengatakannya, tapi karena ia tak bisa. Dadanya terasa begitu sesak hingga ia nyaris tak mampu bernapas.

Kierra tampak menyunggingkan senyum aneh. Ia mengangkat tangan, seolah berusaha menyentuh bahu Seth, namun Seth buru-buru menangkisnya.

"Lho, kenapa, Sethie?" masih sempat-sempatnya, wajah itu menampakkan ekspresi terkejut. "Aku tak boleh menyentuhmu? Apa salah jika aku peduli pada tunanganku sendiri?"

"Jangan lagi ucapkan kata terkutuk itu!" desis Seth, mati-matian berusaha menahan amarahnya. Dicengkeramnya dadanya kuat-kuat. "Tak mungkin aku masih mau menikahimu, setelah apa yang kaulakukan!"

"Kau memutuskanku?" Sesaat sirat terluka tampak di wajah Kierra, sebelum kepalsuan itu lenyap dan digantikan oleh decakan. "Oh, Sethie… Ternyata kau belum tahu situasimu sendiri… Kaupikir hanya karena cincin imitasimu pecah, kau bisa membatalkan pernikahan ini? Apa kaupikir keputusan itu ada padamu?"

Ia menjulurkan tangannya, berusaha menyentuh pipi Seth. Sekali lagi Seth berusaha menampiknya, tapi apalah Kierra jika tak bersikeras? Dengan tangan satunya lagi, ditangkapnya tangan Seth. Mata Seth membelalak kala menyadari bahwa kuncian Kierra benar-benar membuatnya terkunci, bahkan mungkin ia bisa berbuat lebih—meremukkannya, misalnya.

Kierra tersenyum puas melihat Seth tak berdaya. "Aku telah memenangkan kawananmu dengan cara yang sah, jadi menurutmu bagaimana itu mempengaruhi kedudukanmu? Tidak hanya sebagai Alfa, tapi juga sebagai serigala?" tanyanya pongah. "Kau sendirian, Seth, tanpa kawanan, tanpa tanah… Aku bisa saja mengusirmu, seperti dahulu Kaliso mengusirku. Tapi apa kau tahu apa yang akan terjadi pada seorang Alfa yang terbuang?"

Ia bangkit, dan mulai berjalan berputar-putar bak antagonis manapun, mulai melakukan monolog dengan nada lambat yang membosankan.

"Jika kau hanya serigala biasa, paling-paling kau akan dihadang kawanan lain, entah penguasa teritori tertentu atau kawanan nomaden. Tapi seorang Alfa yang terbuang tak punya tempat di manapun. Ia hanya mungkin salah satu di antara tiga: Alfa yang dikalahkan, desertir, atau pelanggar hukum yang dibuang dari kawanannya sendiri. Tapi tak sejatinya, kehadiranmu sendiri adalah ancaman. Kau akan diburu ke manapun kau pergi. Dan apapun jalannya, takdirmu hanya satu…" Dengan itu ia berbalik, merundukkannya tubuhnya untuk berbisik di telinga Seth, "… mati."

"Kau tak bisa mengancamku, Kierra!"

"Oh, kaupikir itu ancaman? Katakan saja itu sedikit pandangan dari sang ahli. Ya, memang sulit meyakinkan katak dalam tempurung sepertimu jika kau tak mengalaminya sendiri. Tapi jika aku jadi kau, aku tak mau mencari tahu."

Ia tersenyum, senyum yang membuat Seth merinding.

"Jadi kau hanya memiliki dua pilihan untuk mengembalikan kawananmu," diacungkannya jemarinya satu per satu. "Satu, kau menantangku bertarung. Jika aku mati, kau bisa mengklaim kembali kedudukanmu. Dan dua, tentu saja, aku harus menaklukkanmu."

Hening melanda setelah kalimat itu terucap. Tak hanya Seth, bahkan seluruh kawanan pun menahan napas.

"Tapi aku akan berbaik hati padamu, Seth, aku akan memberimu pilihan ketiga. Pilihan yang sangat mudah, bahkan, dan sangat menguntungkan. Kau tahu apa itu?"

Seth menggigit bibir. Ya, ia tahu apa jawabannya. "Pernikahan…," ucapnya pelan.

"Ya, pernikahan. Hanya dengan satu upacara, dan semua yang hilang darimu akan kembali. Lebih dari itu, malah. Kau tahu aku takkan berhenti hingga mencapai semua yang kuidam-idamkan, dan itu adalah penyatuan seluruh shifter di dunia ini dalam naungan Aliansi. Dan sebagai pendampingku, kau takkan cuma menjadi Alfa tanah kecil terpencil ini. Kau akan menjadi Maharaja seluruh Aliansi—tidak, seluruh semesta. Kekuasaanmu akan tak terbatas."

Tapi Seth menggeleng keras. "Kau jelas hidup di abad yang salah, Kierra. Ini abad 21. Tak ada lagi gold and glory, tak ada lagi reconquista. Dan apa maksudnya kekuasaan tak terbatas? Kau tak bisa…"

Kierra mendengus sebelum Seth sempat meneruskan. "Kau tak tahu apa yang bisa dan akan kulakukan, Sethie…," ucapnya, dalam nada misterius yang membuat bulu kuduk Seth merinding.

Tak peduli, siluman itu kembali menjalankan jemarinya menelusuri rahang Seth. Gesturnya penuh afeksi, namun Seth tak bisa menerjemahkannya dengan kata lain selain 'menjijikkan'.

"Kau tahu aku bisa mendapatkan pria atau wanita manapun yang kumau, dan aku menginginkanmu. Banyak Alfa sudi memohon atau bahkan menyembah demi menanti uluran tanganku, tapi aku menginginkanmu. Walau semua orang menentang, atau mempertanyakan, aku tetap menginginkanmu. Aku telah menempuh banyak sekali kesulitan untuk mendapatkanmu, Sethie, dan aku takkan berhenti. Jangan kata hanya sebuah suku kecil bernama Quileute… Oh, aku bahkan bisa membalik gunung ataupun mengeringkan lautan, hanya demimu…"

"Kau gila!"

"Oh Sethie… Betapa perjuanganku hingga detik ini demimu, kau sama sekali tidak tahu. Tapi jangan besar kepala dengan mengira akulah yang membutuhkanmu, karena nyatanya, kaulah yang lebih membutuhkan aku. Kau membutuhkanku demi sukumu, demi kawananmu, demi keluargamu… Kau membutuhkanku demi orang-orang yang kaucintai. Demi ibumu, demi Jacob… Atau jika kau memang tidak peduli dengan mereka, bagaimana jika kukatakan … demi Leah?"

Mata Seth membelalak pada kata terakhir. Bukan hanya dari cara Kierra menyuarakannya. Ini bukan pertama kalinya Kirra mengungkit-ngungkit nama Leah. Dan ia tahu, dari keheningan kawanan, meski mereka tidak bersuara, mereka juga mempertanyakan hal yang sama.

"Kau tahu tentang Leah?" bisiknya tak percaya. Namun ketidakpercayaan itu lekas berubah menjadi geraman, kala ia menyadari apa artinya semua itu. "Apa yang kaulakukan pada Leah? Aku bersumpah, jika kau sampai menyentuhkan satu saja jarimu pada Leah…"

Kierra tertawa. "Oh, dia baik-baik saja, Seth… Astaga, mengapa kau harus selalu berasumsi aku melakukan hal buruk?" decaknya. "Hanya patut kukatakan, bahwa nasibnya di masa depan bergantung pada keputusanmu, mungkin begitu?"

Sesaat ia menganga, tapi lantas ia menggelengkan kepala keras-keras. "Kau berusaha mem-blackmail-ku? Dengan Leah? Jangan bodoh, Kierra. Aku tahu kau hanya menggertak. Kau tak mungkin tahu di mana keberadaan Leah, tidak jika aku saja sebagai adiknya tidak…"

"Astaga Sethie, tidakkah kau pernah belajar untuk tidak mengecilkan aku? Aku memiliki kawanan di berbagai penjuru dunia, Demi Roh Semesta! Sesulit apa bagiku untuk mengetahui keberadaan seekor serigala betina Quileute, dengan aura yang sangat khas dan bulu yang sangat langka? Jikapun ia memang bersembunyi entah dengan alasan apa, apa menurutmu sama sekali ia tak pernah berhubungan dengan siapapun? Apa tidak mungkin mendapatkan keberadaannya dari seseorang yang dekat dengannya? Mantan kekasihnya, mungkin?"

Kalimat itu membuatnya terkesiap. Tidak mungkin Sam…

"Rasanya aku tak perlu memberitahumu, apa arti dari seorang Leah Clearwater. Di nadinya tak hanya mengalir darahku, tetapi juga darah tiga keluarga. Ia ditakdirkan menjadi serigala Alfa betina, satu-satunya dan yang pertama setelah kematianku. Dengan kata lain, seseorang yang sangat potensial untuk menjadi inangku … dan juga untuk melahirkan keturunanku."

Seth menggeram. "Kau tidak akan bisa mendapatkan penerus dari Leah! Ia mandul, dan kau tahu itu!"

"Hhhh, tidak Sam tidak kau, apa kalian benar-benar yakin Leah mandul hanya karena ia tidak menjadi imprint Sam?" desah Kierra lelah. "Leah spesial, sama sepertiku. Dan karenanya, hanya serigala dengan gen yang tepat yang dapat membuahi kami. Kaliso, contohnya. Oh, sebelum kau bertanya-tanya, kau tahu, Shi'pa adalah salah satu putri T'lixapix, keturunan T'lopa yang pernah berusaha merebut kekuasaanku. Di dalam nadinya mengalir darah serigala merah, darah yang sama dengan darah yang menurunkan marga Black. Sedangkan Kaliso … ayahnya adalah serigala hitam, dan ibunya masih memiliki kaitan darah dengan T'lopa. Ya, kondisi yang sama denganmu. Kau yang memiliki darah Black, Uley, dan Ateara sekaligus. Mungkin, satu-satunya yang memiliki potensi untuk bisa membuahi Korra…"

"Tidak menjawab mengapa kau menginginkan Leah!"

"Oh, Seth, apa kau memperhatikan penjelasanku, atau memang aku harus menunjuknya terang-terangan? Ini memang hanya asumsi, tapi aku berani bertaruh. Jika apa yang dibutuhkan untuk mendapatkan penerus adalah perkawinan antara seseorang berdarah Alfa dengan seseorang yang memiliki darah campuran, maka aku bisa memperluas kesempatanku. Jika memang kau tak bisa melakukannya, mungkin Leah bisa. Mungkin Leah bisa menjadi inangku, selebihnya aku tinggal mencari seseorang berdarah Black… Bisa Jacob, atau Collin, atau anak berkacamata itu, atau anak Jacob dan Renesmee—aku yakin keturunan hibrida akan tumbuh cepat, aku hanya tinggal menunggu satu dekade. Tidak masalah untukku."

Di titik itu ia berputar. Matanya lekat menatap mata Seth. Di bulir matanya, Seth dapat melihat bayangan dirinya. Terperangkap dalam lingkaran merah yang menggulung bak pusaran neraka. Tanpa bisa menghindar, tanpa bisa melepaskan diri.

"Atau kau bisa membuatnya lebih mudah, Sethie," ucapnya dalam nada manis bak bernyanyi. "Kau menjadi pendampingku. Berikan aku penerus. Berikan aku apa yang kuinginkan. Dan aku akan membiarkan Leah hidup bebas. Kau akan kembali mendapatkan kawananmu," ia berpaling pada kawanan, "dan kalian pun akan mendapatkan saudara kalian kembali. Bukankah semua akan berakhir bahagia?"

Masih tak tahu harus membalas apa, mata Seth berkelana. Ditangkapnya bayangan Kuroi, yang sejak awal hanya berdiri bersandar di salah satu tiang tempat tidur tanpa bergerak sama sekali. Wajahnya menunduk, dan gesturnya memperlihatkan bahwa ia tak tertarik atau malah menjaga jarak dari isi pembicaraan. Tentu saja, ia hanya ada sebagai pengawal Kierra, jadi apa kepentingannya dengan seluruh pembicaraan ini? Jangan kata mendampingi Kierra dalam misinya memojokkan seorang Alfa terbuang agar sudi menjalin hubungan dalam tali pernikahan, jika diperintahkan, Seth yakin Kuroi takkan ragu menghabisi nyawanya. Mengapa Seth harus berharap lain?

Mengapa Seth harus berharap gadis itu bereaksi? Apapun…

Ia tidak berhalusinasi, bukan, ketika ia melihat satu sosok hitam melompat melindunginya, detik ketika Kierra melancarkan serangan penghabisan? Ia tidak bermimpi bukan, ketika di ujung kesadarannya, ia melihat kelebatan dua bayangan bertarung? Satu hitam, dan satu putih? Ia tidak hanya berharap, bukan, ketika ia merasa dirinya digulirkan di punggung seorang serigala?

Dan bulu yang tersentuh di bawah jemarinya begitu lembut, meski di beberapa bagian lembab dan basah oleh darah. Dan tubuh yang terasa di bawah pipinya begitu hangat, membalutnya dengan rasa aman dan perlindungan. Dan aroma yang ia bawa di bawah pekat darah mengingatkannya pada hutan bambu. Tenang lagi menyejukkan…

Bukankah Kuroi yang menyelamatkan nyawanya?

Mengapa ia melakukannya, jika sekarang ia membiarkan Kierra melakukan semua ini?

Kierra tak membiarkannya hanyut dalam pikirannya sendiri. Merunduk, disamakannya ketinggian matanya dengan mata Seth. Diulurkannya tangannya demi meraih tangan Seth. Tapi kali itu ia tidak memaksa. Tangannya berhenti di udara, beberapa senti dari tangan Seth. Seakan menunggu.

"Kau hanya perlu mengatakan, 'Aku terima'…"

Dirinya, atau Leah…

Ia tidak bereaksi. Tidak menolak, dan juga tidak menyambutnya. Tapi rupanya itu cukup untuk diterjemahkan sebagai sebuah izin, karena tangan Kierra kembali bergerak. Hati-hati, ia menempatkan tangannya di atas tangan Seth, lantas membaliknya perlahan. Seth tak berkata apa-apa tatkala Kierra membuka telapak tangannya. Rajah sial itu masih menampakkan diri, rangkaian garis-garisnya terasa mengejek sekaligus mengancam.

"Kau adalah milikku, Sethie, selamanya milikku. Apa kau masih belum menyadari itu?"

Kierra tersenyum sekilas, sebelum mengangkat tangan Seth, membimbingnya menyentuhkan telapak tangannya ke rajah serupa di dadanya.

"Kau tahu…," ucap Kierra, melepaskan telapak tangan Seth dari dadanya dan mengecupnya perlahan. Seth tak tahu bagaimana tampaknya itu di depan kawanan, tapi otaknya sudah begitu buntu bahkan untuk memikirkannya. "… Aku sudah bicara dengan Carlisle dan ia menyetujui pembangunan kembali rumah Zacharias. Bukan berarti aku butuh izinnya, karena pada dasarnya itu tanahku, jauh sebelum ia menempatinya dan Clakishka menjadikannya tanah paria. Ck, masalah teritori memang agak rumit sekarang, tapi kita akan mudah menyelesaikannya begitu kita menikah." Ia tersenyum, tapi bukan senyum angkuhnya yang biasa. Kali itu wajahnya terlihat teduh, matanya begitu lembut kala melanjutkan dengan nada mengawang. "Oh, Sethie, coba bayangkan, betapa sempurnanya hidup kita nanti. Kau akan memberiku penerus, dan kita akan hidup bersama. Dan tak ada kekuatan apapun, tidak kawananmu, tidak Jacob Black, tidak juga Collin Littlesea, yang dapat memisahkan kita. Bahagia. Seperti seharusnya."

Seperti seharusnya…

Berapa kali sudah Kierra mengatakan dua kata itu? Selalu dengan nada mengawang, selalu dengan mata yang memandang jauh ke depan. Ia tak tahu kabut fatamorgana macam apa yang menyelubungi mata Kierra, atau ilusi apa yang tampak di ruangan matanya kala mengucapkannya. Tapi tak bisa tidak ia memejamkan mata rapat-rapat, bibirnya bergetar bak selembar daun, kala bak disihir, ia turut mengucapkannya lamat-lamat, "Seperti seharusnya..."

Mendengar dua kata itu terlontar dari bibir Seth, sinar kepuasan tampak mengilat di mata Kierra. "Bagus kalau kau mengerti," ujarnya tersenyum. Seraya bangkit, ia menyatakan dengan nada perintah, "Pernikahan kita akan dilangsungkan malam ini. Segeralah bersiap-siap."

"Ma-malam ini?"

"Oh, hanya upacara kecil di bawah bintang," kibas Kierra ringan. "Resepsi dan pengangkatanmu sebagai Maharaja akan dilangsungkan sebulan lagi, seperti yang telah direncanakan."

"Ta-tapi semua ini begitu mendadak… Mana mungkin..."

"Dan kita akan berperang besok. Kau tak ingin terjun ke medan perang sebagai serigala terasing, bukan?"

Dilihatnya tak hanya dirinya, yang merasa dunianya sudah runtuh tanpa sisa, yang tampak terperanjat. Seluruh kawanan membelalak. Tak terkecuali Kuroi. Meski yang disebut terakhir lekas menunduk begitu menangkap mata Kierra terarah padanya.

Adalah Ben yang cukup berani untuk memprotes. "Kierra! Kau tak sungguh-sungguh berniat menurunkan Seth di garda depan, 'kan? Ia masih belum sembuh betul!"

"Aku telah merapatkan kembali luka-lukanya, dan dengan ramu-ramuan serta pengobatan yang cukup, penyembuhan alaminya akan bekerja lebih cepat ketimbang biasa. Tidak ada alasan untuk tidak menurunkan salah satu serigala terbaik, apalagi dalam keadaan kurang tenaga seperti ini."

"Tapi..."

"Tidak ada kata tidak untuk perintahku!" tegasnya, tak menyisakan ruang untuk argumentasi. Melihat Ben membeku dengan mata membelalak, merasakan efek Titah Alfa yang diucapkan tanpa keraguan, ia berpaling pada Seth. "Kau juga takkan lebih memilih tidur-tiduran sementara saudara-saudaramu di ambang maut, bukan?"

Suaranya tercekat di tenggorokan, dan seluruh semangatnya hilang luruh, tatkala ia mengucapkan satu kata dengan suara lirih, "Ya..."

"Seth!"

"Cukup!"

Kawanan jarang-jarang mendengar Seth membentak, sehingga sesaat mereka terhenyak. Mata mereka tampak rawan, mencari-cari bayangan emosi pada wajah Seth. Apa ia merasa marah dan kecewa dengan kelemahan dan ketidakberdayaan kawanan yang tak mampu mempertahankan diri? Apa ia merasa lelah dan putus asa, hingga terpaksa menerima pinangan Kierra?

"Sudah cukup...," bisiknya. "Kalian tahu aku takkan pernah meninggalkan kalian, dan kalian juga tahu bagaimana perasaanku jika hanya bisa menunggu tanpa berbuat apa-apa. Lebih lagi sekarang, ketika aku tidak memiliki koneksi dengan kalian. Aku takkan tahu jika kalian terluka, atau bahkan sekarat. Aku takkan tahu jika aku akan kehilangan satu lagi saudara, atau bahkan sudah. Kumohon, jangan lakukan itu lagi padaku..."

"Bagus," Kierra menepukkan kedua belah telapak tangannya, tampak puas. "Matahari sudah hampir tenggelam," ia memandang ke luar jendela, "Aku ada keperluan sebentar. Sementara itu, silakan kau bersiap-siap. Kutunggu kau tepat tengah malam di altar."

Ia bergerak mengecup kening Seth, lantas bangkit dan lekas berbalik meninggalkan ruangan, diikuti Kuroi. Bahkan tanpa dikomandoi, satu per satu kawanan menyusul meninggalkannya. Beberapa sempat melirik ke arah Seth dengan tatapan rawan. Kecuali Embry, yang hanya sekilas melontarkan pandang ke arahnya sebelum terburu-buru keluar seolah ruangan itu panas bak neraka. Dan sungguh, Seth tak berani mengangkat kepalanya untuk mencari tahu arti pandangan mata Embry.

.


.

Inikah pernikahan? Inikah rasanya, apa yang selalu didengung-dengungkan orang sebagai momen sakral dan romantis, yang dibesar-besarkan sebagai saat terbaik dalam hidup, penuh taburan bunga-bunga dan bubuk berkilauan? Inikah saat yang selalu dinanti-nantikannya dengan dada berdebar dan penuh harap?

Seth tidak seromantis Leah dalam membayangkan sebuah pernikahan. Atau setidaknya seperti dulu Leah membayangkan sebuh pernikahan. Bagaimanapun ia laki-laki, dan seperti biasa, anak laki-laki cenderung tidak terlalu terbuai, atau tepatnya secara kultural tidak dituntun untuk sengaja membuaikan diri dengan beragam ide romantis yang ditawarkan media dan lingkungan. Tapi besar dengan seorang kakak perempuan yang kerap memaksa memonopoli televisi dengan tayangan Disney Princess, dan bergaul (baca: berbagi pikiran) dengan para Damsel in Distress yang memuja konsep imprint, mau tak mau ia terpengaruh. Menapaki langkah demi langkah menuju altar, Seth merasa bayangannya mengenai pernikahan, yang dibangun dengan hati-hati dari waktu ke waktu, dari pengalaman demi pengalaman, dari idealisme demi idealisme, runtuh satu per satu.

Pernikahan itu sederhana, sangat sederhana, bahkan terlalu sederhana dalam kapasitasnya sebagai pernikahan seorang ratu, terlebih jika dibandingkan dengan rencana Alice. Seth, sang mempelai pria, tampil sederhana. Ia tidak mengenakan tuksedo, tidak juga busana tradisional mewah yang rancangannya pernah ia lihat dalam buku sketsa Alice, yang menurut Korra dikembangkan dari busana yang dikenakan Kaliso dalam pernikahannya dahulu. Kali itu ia hanya mengenakan kemeja putih polos dan celana berwarna sama. Pinjaman dari Jasper, tentu, karena tak ada ceritanya di semesta ini, Seth akan mungkin memiliki celana putih, sedangkan setelan yang ia pesan untuk busana pernikahan masih belum jadi.

Senada dengan busananya, nyaris tidak ditemui kemeriahan apapun dalam dekorasi di sekitarnya. Tidak ada karangan bunga atau untaian lampu-lampu nan romantis. Tidak ada tirai-tirai menjuntai penambah suasana syahdu. Jalan setapak menanjak yang dilalui Seth tak bertabur bunga, tak pula diterangi deretan obor atau lilin-lilin kecil. Altar yang menjadi akhir dari perjalanannya, dan awal dari masa depan yang menantinya, didirikan di puncak tebing, sebagaimana rencana, tapi sesungguhnya itu pun tak layak dikatakan sebagai altar. Hanya ada tumpukan kayu membukit yang didirikan asal-asalan, dengan sebatang obor berdiri di sisinya, menjadi satu-satunya sumber cahaya di malam kelam tak berbintang itu. Siapapun yang melihatnya sekilas dan tak tahu apa-apa tentu hanya mengira mereka hanya akan mengadakan acara api unggun atau kamping biasa. Satu-satunya hal yang agak tidak wajar untuk hanyalah keberadaan sekitar selusin orang, berdiri berjejer di depan tumpukan kayu tadi, seakan menunggu sesuatu.

Menunggu sang mempelai pria.

Mana itu pakem tradisional pernikahan tatkala ia dihadapkan pada pernikahannya sendiri? Di mana-mana, bukankah sang mempelai wanita yang berjalan menapaki bentangan karpet merah menuju altar, diantar oleh sang ayah, menghampiri mempelai pria yang tak hanya akan menjadi suami, tetapi juga rumah barunya? Tapi di sana ia, menapaki langkah demi langkah menuju altar seorang diri. Tanpa pengiring. Tanpa pendamping.

Kierra menunggu di depan tumpukan kayu api unggun tatkala ia sampai di altar. Sebagaimana Seth, ia pun membalut dirinya dengan busana sederhana. Ia tak mengenakan hiasan apa-apa, tidak perhiasan emas perak, tidak permata, bahkan juga tidak sematan bunga. Kendati demikian, entah karena permainan sinar obor atau apa, wajahnya tampak bercahaya. Agung dan berkilau.

Para pendamping yang berdiri berjejer di depan api unggun terbagi menjadi dua kelompok. Sisi kanan api unggun diisi oleh kerabat mempelai pria, atau lebih tepat disebut sebagai pihak pemberi penyerahan, di sini diisi oleh kawanan. Sedangkan di sisi Kierra, berdiri kawanannya: Kuroi dan Path, serta tentu saja keluarga Cullen.

Keberadaan Carlisle di sana sama sekali tidak aneh, malah jika Seth mau jujur, ia sudah memperkirakannya sejak awal. Ia juga tak ingin mempermasalahkan jika bersama Carlisle, berdiri pula seluruh (atau sebagian) keluarganya—Esme, Alice, dan Jasper. Ya, tiga orang yang sangat ia hormati dan cintai, mereka yang selama ini ia anggap lebih dari sekadar sekutu. Mereka yang ia ia anggap sebagai saudara. Sedikit rasa sakit sempat menghantam, kala ia meraba lebih jauh mengenai arti posisi berdiri keluarga Cullen, jika dihubungkan dengan keberpihakan dan pola aliansi dalam perang yang akan terjadi, tapi ia bisa menelannya. Tetapi yang membuatnya bak ditusuk belati beracun, disayat-sayat dan dicincang hingga hancur, adalah ketika ia menoleh ke sisi Quileute, dan matanya menangkap sosok-sosok yang tak ia inginkan ada.

Para Tetua: Billy, Sam, dan ibunya.

Billy dan Carlisle maju ke muka begitu Seth tiba di altar. Jujur saja pengaturan ini demikian aneh: bagaimana mungkin Korra diwakili Carlisle, sementara ayahnya sendiri justru mewakili Seth, sedangkan Sue ada di tempat? Tapi Seth tak ingin mempertanyakannya. Tidak ketika jelas apa sebenarnya arti pernikahan ini bagi mereka semua.

Karena ini bukan pernikahan biasa. Tidak karena ini bukan hanya ikatan dua manusia, dan bukan pula ikatan dua suku, melainkan lebih bak upacara penyerahan. Tidak ada kata lain, ketika ia, sebagai Alfa, menempatkan kedaulatan kawanan dan seluruh sukunya ke bawah cakar seorang ratu.

Atau tidak, ini bukan upacara penyerahan kawanan, karena bukankah kawanan memang sudah ditaklukkan? Ini adalah penyerahan dirinya. Ia: harta rampasan perang. Budak. Domba persembahan yang harus dibayarkan agar sukunya dapat menggenggam kembali sedikit kedaulatan kawanan yang telah terenggut. Setinggi apapun jabatan yang dikatakan akan diembannya kelak sebagai pendamping seorang ratu, itulah sejatinya ia.

Menapaki langkah pertama prosesi pernikahan, Billy dan Carlisle bertukar salam dengan adat tradisional Quileute. Menyusul dinyalakannya pipa tembakau sebagai pertanda salam perdamaian, bergantian, satu per satu menghirup dan melepas asap tembakau ke udara, kemudian menghembuskannya ke arah kedua mempelai. Asap, sebagaimana juga air, merupakan sarana penyucian diri, demikian ia pernah mendengar. Asap lahir dari api, dan membawa harapan membumbung tinggi ke langit, mengantar pesan dan doa bagi para leluhur dan roh penjaga semesta.

Seluruh prosesi dilakukan dalam bahasa Quileute Kuno. Kemampuan Seth dalam menggunakan bahasa nenek moyangnya sedikit lebih tinggi ketimbang Jacob, tapi kali ini pun ia menyerah. Alasan mereka menggunakan langgam yang sudah tak pernah digunakan dalam akad pernikahannya sama sekali tak bisa ia mengerti, tapi kali itu pun ia tak menaruh peduli. Tidak karena kemungkinan terburuk memang sudah terjadi.

Alice, bertindak selaku perwakilan dari pihak mempelai wanita, maju membawa sebentuk benda dalam baki emas, dan menyerahkannya pada Sue. Meski dalam keremangan malam yang hanya diterangi cahaya obor, Seth dapat melihat isi baki itu. Sebuah kotak kayu yang kelihatannya antik, dihiasi dengan ukiran-ukiran rumit. Sue sama sekali tidak membukanya, sehingga ia hanya dapat menerka-nerka. Mungkinkah itu mahar pernikahan? Apa isinya? Emas? Permata? Batu mulia? Apapun itu, kelihatannya ibunya sendiri sama tidak mempedulikannya seperti dirinya. Perempuan itu hanya mengangguk kecil, sebelum kembali menunduk.

Dan sepintas, sebelum kembali ke tempatnya berdiri, ia menoleh ke arah Seth. Apa itu yang tersirat di wajahnya? Sedih? Kasihan? Dan kilau itu … yang jatuh selintas di pipinya sebelum ia menghapusnya … apa itu? Air mata?

Apa yang perlu ditangisi? Apa ia perlu dikasihani?

Jalannya upacara selanjutnya tak terlalu ia perhatikan. Ia hanya mengikuti alur, atau tepatnya mengikuti contoh yang diberikan Kierra dan Carlisle. Menghormat ketika Kierra menghormat, menerima obor dan menyalakan api unggun ketika Carlisle menyodorkannya, mengucapkan sumpah yang diminta ia ucapkan tanpa benar-benar mengerti artinya… Dan tatkala Carlisle memintanya memasangkan cincin dan mencium sang pengantin, ia juga melakukannya. Tanpa rasa apapun. Tanpa getaran apapun.

Ia bak cangkang. Kosong dan tak berjiwa.

Selembar kain telah dibentangkan di pundak mereka berdua. Air suci telah dipercikkan dan kidung mantra telah dinyanyikan. Dupa telah dinyalakan, sulur-sulur asapnya telah menyelimuti mereka dalam aroma mistis nan memabukkan. Benang merah telah mengikat kedua tangan mereka menjadi satu. Ke empat arah mata angin, salam telah dipanjatkan. Dengan perantara air, api, angin, dan udara, doa telah dilantunkan. Atas berkat Roh Langit, Roh Laut, Roh Bulan, Roh Matahari, Roh Api dan Ia yang Menguasai Semesta Alam, mereka resmi menjadi suami istri. Bibir Kierra terasa dingin kala menyentuh bibirnya ... ataukah ia yang tak lagi merasakan sensasi kehangatan apapun? Dan Seth menutup mata. Dibiarkannya takdir membawanya.

.

.

.

Ia terbangun tatkala garis-garis pertama sinar matahari pagi menyapanya dari celah-celah tirai yang menutupi jendela. Masih dengan kepala berat dan mata setengah terpejam, tangannya mengembara, meraba-raba ruangan di sisinya. Sontak matanya terbuka, dan rasa aneh menghujamnya kala menyadari bahwa tak hanya ruang itu kosong, bahkan bantal-bantalnya pun tertata rapi. Permukaan sprei di bawah telapak tangannya tampak licin, pun terasa dingin. Mengembara sedikit, matanya memindai setiap lekuk dan sudut di ruangan besar itu. Ruangan itu bersih, berselimut keharuman lavender. Namun matanya tak menangkap apa yang seharusnya ada, apa yang sebelumnya ada— kelopak-kelopak bunga mawar yang bertebaran memenuhi seantero kamar, lilin-lilin padam, lembar-lembar busana yang tertanggalkan dalam ketergesaan. Tak ada bekas apapun—tidak ada jejak keberadaan siapapun, tidak ada jejak bau siapapun, tidak ada jejak bau apapun. Seolah kejadian semalam tak pernah terjadi. Seolah seluruh kejadian semalam hanya ilusi.

Namun ketika ia bangkit dari tidurnya dan beranjak duduk, antitesis dari pernyataan sebelumnya langsung menghantamnya tanpa ampun. Tak hanya tubuhnya terasa linu, seluruh tulang-tulangnya terasa sakit, seolah habis dipecahkan berkeping-keping dengan palu godam dan lantas direkatkan kembali dengan seluruh engsel dan sendi yang salah. Dan itu, ia yakin, bukan sekadar buah yang sewajarnya dari kejadian semalam.

Mendesis, ia memaksakan diri untuk bangkit dan melangkah menuju cermin untuk menginspeksi tubuhnya. Bayangan yang menyapanya begitu rusak hingga ia tidak yakin itu adalah dia, yang masih hidup dan bernapas, bukannya semacam zombie yang bangkit dari liang lahat. Luka-luka yang sebelumnya ia dapat dari Kierra tampaknya sudah merekat, meski bekas cakaran merah panjang di punggung Korra—serupa dengan luka yang ia dapat—menjanjikannya bahwa bekas itu akan melekat permanen. Namun itu belum semuanya. Selain penanda standar yang sudah sewajarnya diharapkan—seperti tebaran cupang merah dan goresan-goresan kecil bekas cakaran—lebam-lebam merah kebiruan menghiasi permukaan tubuhnya di sana-sini. Pergelangan tangannya linu ketika digerakkan, dan ketika ia mengamati lebih lanjut, dilihatnya tapak memar menyerupai bekas cengkeraman membekas di sana. Tapi tak ada yang membuat dadanya sesak, nyaris tak mampu bernapas, lebih dari luka berbentuk bulan sabit di leher yang menatapnya balik dari permukaan cermin.

Itu bukan bekas taring—Kierra, bagaimanapun, bukanlah Anak Bulan dan bukan pula bagian dari gerombolan vampir bercakar. Tidak pula demi mengesahkan ikatan di antara mereka, Kierra memaksanya melakukan persetubuhan dalam wujud serigala. Tapi bekas gigitan itu nyaris serupa dengan bekas gigitan vampir. Sangat serupa, malah, hingga fakta keserupaan antara gadis yang menikahinya dan makhluk yang seharusnya menjadi musuhnya membuat perutnya serasa terpuntir. Tapi lebih dari itu, satu hal lain membuatnya nyaris muntah.

Bak cap panas, luka itu, seperti luka di punggungnya, akan ia sandang seumur hidup. Takkan bisa hilang, sebaik apapun proses penyembuhannya. Tidak karena itu adalah tanda yang menyatakan bahwa bahwa ia, tak diragukan dan tak dapat diganggu gugat lagi, selamanya adalah milik Kierra.

Tidak apa, Seth, ia memejamkan mata kuat-kuat, sementara batinnya berusaha menghibur dirinya sendiri. Ini adalah apa yang harus kaulakukan. Sam telah melakukan bagiannya, sekarang kau harus melakukan bagianmu. Hingga saatnya tiba…

Hingga saatnya tiba.

Hanya saja, ia tidak tahu, kapan saat yang dinantikan tiba, atau bahkan apa yang sebenarnya harus ia nantikan.

Ketukan di pintu menyadarkannya dari rentetan pikiran yang tak berujung. Lekas ia meraih pakaian yang tergantung di stok terdekat, mengenakannya cepat-cepat di bawah ketukan kedua. Selintas bau yang mengambang di udara memberitakan kedatangan seseorang yang tidak ia inginkan. Setidaknya tidak saat ini.

Meredakan apapun reaksi yang tak seharusnya ia keluarkan di saat seperti ini, ia berdehem beberapa kali, memastikan tubuhnya tertutup sempurna, sebelum menjawab, "Masuklah, Kuroi."

Pintu terbuka dan sosok ramping gadis berambut hitam tampak di ambangnya.

"Permisi, Kuriiwateru-sama. Saya datang membawa pesan. Kierra-sama mengharapkan kehadiran Anda secepatnya," ucapnya kaku. Tanpa salam, tanpa emosi. Tanpa melihat ke arahnya. Sengajakah ia kala melakukan yang terakhir? Apakah ia juga sama, sepertinya, berusaha menggigit rasa aneh yang mengganjal?

Seth berusaha menegakkan diri dan berkata wajar, walau tak bisa menahan kesinisannya atas semua keanehan itu. "Oh, kau menjadi pembawa pesan sekarang?" ia mendengus. "Kenapa Kierra tidak datang sendiri ke sini, kalau ia memang menginginkan aku turun?"

"Kierra-sama tengah menerima beberapa anggota Aliansi yang hendak ambil bagian dalam pertempuran. Rapat pimpinan akan segera digelar untuk mendiskusikan strategi. Harap Kuriiwateru-sama segera bersiap-siap." Dan dengan selesainya kalimat yang diucapkan dengan agak terburu-buru untuk ukurannya, ia menghormat, lantas kembali menutup pintu.

Menggigit bibirnya yang memang sudah terasa asin, Seth meraih cincin emas yang tergeletak di nakas di samping tempat tidur. Jika ia memang harus mengambil peran, maka ia akan melakukannya.

.


.

Duapuluh satu.

Duapuluh satu orang, tujuh kawanan. Itu jumlah tentara yang dibawa Kierra. Jumlah yang sedikit, jika menimbang bagaimana Kierra terus-menerus membual mengenai betapa besar dan kuatnya aliansi. Jumlah itu hanya selisih sedikit dengan jumlah anggota kawanan pada perang dengan Volturi enam tahun lalu. Hanya dua kali lipat jumlah anggota kawanan sekarang. Bahkan jika ditambah trio Kierra-Kuroi-Phat, sudah jelas mereka masih kalah jauh ketimbang kekuatan Sang Ibu.

Tapi minimnya jumlah balabantuan itu tidak terlihat begitu ia bertemu muka dengan mereka langsung. Atau lebih lagi, ketika ia merasakan aura mereka. Tekanan yang berat membebani udara, ketika insting serigalanya waspada merasakan keberadaan serigala asing di teritorinya. Rasanya setiap saat ruangan tengah rumah Cullen dapat berubah menjadi kolam darah.

Tujuh kawanan ambil bagian dalam pertempuran, yang berarti ada tujuh Alfa bawahan yang hadir di tempat. Itu hanya sebagian dari jumlah keseluruhan anggota Aliansi, menurut Kierra, ia tak hendak mengambil resiko memusatkan konsentrasi Aliansi di sini sementara tanah-tanah mereka sendiri tidak dijaga. Karena alasan yang sama pula, para Alfa yang datang tidak membawa serta seluruh anggota kawanan mereka. Ada yang membawa satu atau bahkan empat, tapi ada pula yang datang sendirian.

Dari kawanan serigala Prancis, hadir Alfa Enjolras dan wakilnya, Grantaire. Kawanan Afrika diwakili oleh dua orang cheetah, si kembar Kat dan Zero. Kawanan Rusia diwakili oleh tiga serigala kutub yang lebih mirip Siberian husky, dipimpin oleh pemuda Kaukasia bertubuh tegap dan tinggi, berambut pirang pasir dan bermata abu-abu, bernama-sesuatu yang agak-agak mirip Dimitri Mikhaelov atau semacamnya. Utusan terbanyak berasal dari kawanan theriomorph Thailand, aka (mantan) anak buah Phat. Tak kurang, mereka berjumlah lima orang. Kawanan mereka adalah kawanan campuran, yang berarti mengambil wujud yang berbeda-beda, masing-masing dengan kekuatan dan keunikan tersendiri. Sang pemimpin, Putri Chinaradi Annupongpichart, adalah seorang harimau loreng. Ia memiliki kecantikan khas Asia Tenggara, dengan pembawaan yang agung dan berwibawa, nyaris seperti Phat. Dan ia yakin, kekuatan mereka pun tak dapat disepelekan.

Tapi China—demikian ia bersikeras ingin dipanggil—bukan satu-satunya kucing betina di sini. Saga sang macan kumbang Sumatera juga turut ambil bagian. Dan mengenai Saga, ada satu fakta tentangnya yang terus mengiang di kepala Seth. Ya, itu Saga yang sama dengan yang pernah diceritakan oleh Phat dan Noah. Wakil Korra yang menggantikannya memimpin kawanan kecil yang ia dapatkan setelah membunuh seekor harimau dan merebut dua pasangannya. Dengan kata lain, mantan istri Korra. Atau masih istrinya? Selirnya? Ia tak tahu.

Tak hanya Saga yang memiliki hubungan dengan Korra, atau dalam hal ini Kierra. Radja, mantan anggota kawanan inti dan Alfa para singa India, adalah kakak dari mendiang Gweneira Rajagopalachari, inang Kierra sebelum Korra. Tapi tak ada yang membuat jantung Seth berhenti, selain Malik dari kawanan Sahara. Ia adalah selir utama Kierra sebelum Korra mengambil alih, demikian Phat mengisikinya—yang juga menjelaskan mengapa pria itu terus mencuri-curi pandang ke arah Seth, dengan tatapan yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Sejauh ini, semua orang berusaha meyakinkan Seth bahwa Kierra memilih pasangannya dengan sangat hati-hati, terutama jika ia sampai memberi mereka kedudukan khusus. Sangat mungkin Malik dipilih tak hanya karena ketangguhan dan kekuatannya, tapi juga darah dan ketampanannya. Tapi mana mungkin Seth tahu yang terakhir?

Tidak karena seluruh wajah Malik dibalut rapat oleh perban bak mumi. Itu jelas luka lama, jika Malik sampai menutupinya. Tapi luka apa yang sampai tak dapat disembuhkan oleh pemulihan serigala?

Jawabannya hanya satu. Tak salah lagi, Kierra-lah yang menyebabkan luka itu. Pertanyaannya, apa yang membuat Kierra sampai melukai selir kesayangannya? Jika itu adalah sebuah pengkhianatan, mana mungkin Kierra masih membiarkannya hidup? Apalagi menurut Phat, Malik telah dikalahkan dan seharusnya dibunuh oleh Alfa yang baru sesuai adat setempat. Tetapi tak hanya melepaskannya dari takdir itu, Kierra masih membiarkannya memegang jabatan. Jadi kesalahan macam apa yang begitu besar, tetapi tidak cukup fatal hingga ia tak perlu memberikan nyawa?

Tidak, pertanyaan yang lebih penting sebenarnya lebih personal. Jika kedudukan sebagai orang terdekat saja tidak bisa menyelamatkan seseorang dari amarah Kierra, apa yang membuatnya bisa yakin bahwa ia aman? Bahwa ia—entah bagaimana—satu saat takkan menemui masa depan seperti Malik?

"…Yang? Sayang?"

Sentuhan dingin di tangannya membuatnya mengejit. Seth mengerjap. Sekali, dua kali. Bayang wajah Kierra yang penuh kekhawatiran perlahan tampak jelas di hadapannya. Dan begitu ia mengedarkan pandangan, dilihatnya wajah-wajah lain mengitari meja oval di ruang makan keluarga Cullen, tempat ia dan Kierra duduk di kepalanya. Mata-mata yang asing terpusat padanya dengan sorot ingin tahu.

"Kau kenapa? Tidak enak badan?"

Seth tidak langsung menjawab. Kepalanya, entah mengapa terasa penuh. Kata-kata tak berwujud—tak dapat dicerna, tak dapat dipahami satu per satu—berdengung bagai lebah di kepalanya.

Ia berusaha kembali meluruskan pikiran. Apa tadi yang sedang ia lakukan? Oh ya, setelah para anggota Aliansi memperkenalkan diri, para serigala biasa kembali ke posko jaga masing-masing, meninggalkan para Alfa di ruangan guna merundingkan strategi. Tampaknya perundingan itu baru separuh jalan, melihat peta yang masih tergelar di atas meja, dengan bidak-bidak kecil dengan dua warna berbeda mengisi nyaris separuh permukaannya.

Dan di tengah perundingan, ia justru teralihkan oleh urusan harem Kierra? Sangat profesional, Seth…

"Mungkin kau harus kembali ke kamar dan beristirahat…" Sarankah itu? Perintah? Titah Alfa?

Sesungguhnya Seth ingin menggeleng—bagaimanapun ini adalah rapat penentuan strategi perang. Bukan hanya karena kedudukannya, ia diwajibkan ikut. Ini juga demi kawanan. Bagaimana jika tanpa sepengetahuannya, Kierra merencanakan sesuatu yang buruk—alih-alih hanya memerangi Sang Ibu, ia juga menggalang kekuatan Aliansi untuk mengambil alih seluruh tanah Quileute, misalnya?

Oh, tunggu… Bukankah itu sudah?

Seth mengedarkan pandangannya sekali lagi, dan baru ia sadari ada yang salah dari susunan petinggi yang duduk di meja. Ada sesuatu yang kurang… Dan kesadaran akan apa yang mungkin makhluk itu lakukan di saat ini membuatnya tahu keputusan apa yang harus ia ambil.

Ia berusaha memasang senyum, sewajar yang bisa ia berikan di hadapan mata para Alfa lain. Mereka mungkin mengawasi sekecil apapun reaksinya, berusaha menilai dirinya … dan menerka apa yang mungkin ia sembunyikan di baliknya. Kedudukan sebagai suami seorang Maharani bukan hanya prestisius, melainkan pula sangat riskan. Bukan hanya sekali, ia telah diperingatkan mengenai hal itu.

"Kau benar, Kierra." Atau haruskah ia memanggilnya 'Sayangku'? 'Alfaku'? 'Ratuku'? 'Junjunganku'? "Mungkin aku terlalu lelah."

Ia bisa menangkap deheman kecil di antara para penonton, tapi ia tidak menaruh peduli. Tidak karena Kierra juga tidak. Senyum terbentuk di wajah perempuan itu kala ia berpesan, "Hati-hati…"

Hati-hati?

Seth tidak berusaha untuk mengurai ucapan Kierra yang misterius. Memaksakan satu senyum lagi, ia bangkit dan mencium pipi Kierra—hanya karena ia tak tahu di mana menempatkan kecupan perpisahan yang layak di hadapan para Alfa, menimbang statusnya dan status Kierra. Sempat ia mengucapkan salam pada hadirin, yang membalas dengan penghormatan yang lebih dari wajar, belum buru-buru meninggalkan ruangan.

Di dalam, rapat kembali dilangsungkan, kali ini bahkan disertai perdebatan. Di kepalanya, suara-suara dengungan itu kian meninggi.

.


.

Ia tahu ia belum pulih benar. Saliva Kierra, atau mungkin klaimnya di malam pernikahan mereka, memang membuat penyembuhannya bergerak lebih cepat, tetapi tetap saja itu terkesan merangkak ketimbang yang biasa. Namun di antara semua ketidakberuntungan yang seolah menggayuti jendelanya belakangan, Seth bisa bersyukur atas satu hal. Setidaknya, indera penciumannya kembali.

Itu pula yang membuatnya meninggalkan sarang mewah tempatnya menghabiskan satu hari terakhir bak tawanan. Tak ada yang mengatakan itu, dan sikap Phat yang membukakan pintu depan dengan mudah baginya juga tidak menyatakan demikian, tapi tetap saja ia merasa begitu. Jika tidak, Phat takkan bertanya ke mana ia pergi, bukan?

Ia tidak melihat selintas pun bayangan kawanan sejak ia bangun. Semula ia mengira mereka sedang berlatih teknik tempur atau melakukan tugas penjagaan, melihat selain kawanan, si tangan kanan Kierra pun tak ada di manapun. Namun sejauh ini, ia masih tak dapat menemukan mereka. Jangan kata berpapasan langsung, merasakan keberadaan mereka pun tidak.

Jika ia tak dapat merasakan kawanan kemarin, itu masih wajar. Tapi bukankah kini, setelah Kierra mengklaimnya, seharusnya ia telah terintegrasi ke dalam kawanan? Bukankah ia kembali menjadi Alfa Quileute?

Tenang, Seth, ia berusaha menyabarkan diri, meski dadanya carut marut tak karuan. Ya, mungkin mereka tidak sedang berada dalam wujud serigala. Mungkin mereka diperkenankan kembali ke reservasi sementara. Mereka toh harus menyelesaikan apa yang harus mereka selesaikan sebelum perang besok. Mencari alasan untuk ketidakhadiran mereka di sekolah atau tempat kerja, atau menghabiskan waktu bersama keluarga dan orang terdekat … mengucapkan selamat tinggal…

Bayangan terakhir sungguh membuatnya pilu, tapi ia mengenyahkan rasa itu jauh-jauh. Tidak ada gunanya sekarang, bukan?

Selain kawanan, ia juga tidak melihat para vampir. Tapi kalau mengenai mereka, ia bisa mengerti. Rumah penuh para shifter, jelas itu bukan sesuatu yang nyaman. Jika bukan ikut patroli mempertahankan benteng, satu-satunya kemungkinan yang lebih pasti adalah mereka berburu. Masa bodoh Kuroi memandang mereka dengan dingin setiap kali mereka berpapasan, ini toh tanah mereka.

Ditambah lagi, waktu pertempuran sudah ditentukan. Esok malam, demikian ia mendengar keputusan Kierra pada rapat barusan. Sangat wajar jika mereka mengisi amunisi sebelum pertempuran, bukan?

Serasa ada sesuatu yang membuat perut Seth bergejolak pada saat yang bersamaan.

Esok malam…

Esok malam, dan nasib seluruh suku akan ditentukan.

Dengan adanya hutan Quileute sebagai tempat pertempuran, yang berarti takkan ada yang bisa menjaga benteng Cullen, mereka memutuskan akan mengungsikan Jacob dan Billy. Carlisle sudah mengatur keberangkatan mereka, esok pagi-pagi sekali. Jacob akan dibawa ke Seattle dengan helikopter, tentu saja dengan didampingi Sue, yang memang memiliki pengetahuan medis dan tak perlu terjun dalam pertempuran. Dari situ, ia akan diterbangkan ke Alaska, tempat Edward siap menjemputnya ke rumah aka laboratorium pribadinya. Jacob akan aman di bawah tanggung jawab Edward, demikian jamin Carlisle.

Kendati sebagian hati Seth mencelos mengetahui bahwa tidak semua Cullen akan ambil bagian dalam pertempuran ini, tapi ia bisa memaklumi. Ini bukan pertempuran mereka. Dan mungkin satu sisi dalam dirinya merasa lega. Ia tak tahu bagaimana jalannya pertempuran kelak, seperti apa akhir yang akan menunggu mereka. Ia bahkan tak tahu bagaimana perasaannya, ketika ia terpaksa terjun ke pertempuran yang tak ia inginkan terjadi. Ia tak ingin hal yang sama juga dialami oleh orang-orang yang ia cintai.

Kierra mengatakan Sang Ibu takkan mengancam keselamatan para perempuan dari keluarga Black, tapi Seth tidak begitu yakin. Bukankah darah serigala juga diturunkan dari para perempuan? Untung sekali saat ini bisa dikatakan tidak ada keturunan langsung marga Black yang sedang ada di La Push. Connie Black-Littlesea biasanya juga jarang di rumah, dan sekarang tengah sibuk mengurusi kasus terbarunya di Seattle, tentu saja dengan didampingi sang suami. Para Tetua memutuskan untuk menutup-nutupi kasus menghilangnya Collin dan Brady, termasuk pada ayah Brady yang kebetulan sedang menghadiri konferensi di Los Angeles, hanya agar mereka tidak kembali saat ini. Keturunan Black yang lain, Emmie dan Benjamin, sedang ada di Sao Paulo, dalam rangka menyemangati Ben yang sedang mengikuti olimpiade robotika internasional. Rachel bersikukuh akan tinggal, tapi Paul memaksanya ikut dalam helikopter Jacob. Baguslah. Seburuk apapun perasaan Seth pada perempuan yang ia anggap mengkhianati adiknya sendiri itu, ia tak ingin apapun terjadi pada Rachel. Dan ia yakin, begitu juga yang dirasakan Jacob.

Tapi itu bicara mengenai 'keturunan langsung', sedangkan siapapun tahu bahwa sebagian besar suku mereka memiliki hubungan darah. Jika Sang Ibu benar-benar ingin memusnahkan seluruh wangsa Black, ia harus menghabisi setidaknya sepertiga suku.

Bicara tentang hubungan keluarga…

Pertempuran besok bukan hanya pertempuran balas dendam, atau upaya mempertahankan sukunya dari kehancuran. Apa yang terjadi sesungguhnya lebih daripada apa yang tampak di permukaan. Ini adalah perang saudara. Dan sebagaimana dibuktikan oleh sejarah bermilenium-milenium sebelumnya, perang saudara, apapun alasannya, selalu melahirkan kehancuran bagi pihak-pihak yang terlibat.

Ia tak tahu bagaimana bisa Kierra membiarkan semua terjadi. Ia juga tak tahu apa motif Kierra bersikukuh untuk melanjutkan perang seolah ia tak punya pilihan lain. Ia tak seharusnya ikut terlibat, tapi ia melibatkan diri. Dan apa pula itu urusan memaksanya menikah demi mendapatkan pewaris, dengan bayaran ia akan membantu mereka melawan putrinya sendiri—pewaris yang sudah ia dapat? Semua sama sekali tak masuk akal.

Atau ia memang hanya makhluk gila kuasa. Keluarga, darah, kasih sayang? Apa arti semua baginya? Tidak ada.

Soal Kierra dan perasaannya, ia tak lagi mau peduli. Tapi di sana, ia tahu, ada satu orang yang terjepit dan tak punya jalan keluar.

Seseorang yang terpaksa untuk berpihak, walau ia sendiri sesungguhnya yang paling tidak menginginkan ini terjadi. Perang ini tidak mendatangkan apapun selain kekalahan dan penderitaan baginya. Tak peduli siapa yang menang.

Dan tetap, ia harus terlibat.

Bagaimana rasanya, jika ia sendiri yang harus campur tangan mendatangkan penderitaan bagi orang-orang yang ia kasihi?

Dan orang yang sudah terjebak, tak lagi punya harapan, mengira kiamatnya sudah datang, cenderung melakukan hal-hal bodoh. Hal yang mungkin merugikan dirinya sendiri. Atau lebih buruk, merugikan suku.

Ia tak terkecuali.

Dan itulah yang membuat Seth menerobos hutan dan semak, menghindari serigala yang berseliweran, membaui setiap berkas aroma di udara, menangkap keberadaan makhluk itu.

Ia berusaha keras mempertahankan geraknya dalam kecepatan sedang, menjaga detak jantungnya tetap stabil, bersikap kasual pada serigala manapun yang kebetulan berpapasan dengannya—entah kebetulan ada di sana atau memang suruhan Phat, tetapi ia tak ingin bertanya. Dari luar, ia seperti hanya ingin berjalan-jalan santai melepas ketegangan. Namun sesungguhnya, ia tak sekadar berjalan-jalan. Ya, ia memiliki tujuan. Ia memiliki sesuatu yang membimbing arahnya. Dan itu adalah sebuah bau, samar di antara bau-bau lain, tapi masih terasa jejaknya. Bau manis yang sudah sangat ia kenal.

Bau itu membimbingnya menerobos hutan dan lembah. Detak jantungnya sedikit naik ketika ia menyadari bahwa ia hampir keluar dari tanah Cullen, memasuki daerah netral, dan mengarah ke tanah Quileute. Terlebih ketika jelas, akhir dari jejak bau itu adalah sebuah titik yang familiar.

Crescent Lake.

Dan di situ, bau tersebut menghilang.

Ia bisa melihat danau yang berkilat-kilat bak kaca-kaca keemasan di balik serat-serat dedaunan. Langit dengan sulur-sulur lembayung terpantul di permukaannya. Berapa kali ia menghabiskan waktu di sana, kadang hanya untuk melihat bagaimana warna permukaan danau berubah dari jernih kebiruan menjadi kilat-kilat perak dan emas, hingga merah menelannya dan mengubahnya menjadi hitam kelam? Dan kali itu pun, tarian cahaya di permukaan danau menari-nari untuknya. Seakan memanggilnya mendekat.

Tapi ia tidak datang untuk itu.

Kembali ia berusaha mengendus jejak bau-bauan di udara, berusaha mengupas aroma yang bercampur selapis demi selapis, menyingkap satu aroma samar yang bersembunyi di baliknya. Tapi tak ada. Bau itu, secara harfiah, berhenti di sana.

Apa dia menyeberang? Itu satu-satunya yang mungkin, bukan? Air pasti akan dapat menyamarkan bau apapun… Tapi masalahnya, untuk apa ia menyeberang? Dan kalaupun ya, mengapa ia tak meminta izin padanya?

Pertanyaan Seth terhenti, pada detik hidungnya mencium bau yang lain dari arah barat. Bau manis, ya… Tapi juga bercampur bau yang lain. Bau kayu terbakar. Dan sungguh, jantungnya benar-benar berhenti berdetak, kala retinanya menangkap sesuatu di udara.

Di sana, di balik kerimbunan pepohonan di seberang danau di barat sana, seutas asap melayang di udara. Semula tipis bak selembar pita, namun makin lama makin tebal, seiring derak api yang meraung di kejauhan. Menggulung, membumbung tinggi menodai angkasa.

Asap ungu.

.


.

Catatan:

yeah, i've done! Maafin karena lama banget, tapi akhirnya selesai juga! Aku sempet bingung di akhir nih, serius, aku sampe ubah sedikitnya 4 kali (karena aku ga nemu2 adegan yang pas). Di tengah juga akhirnya ada adegan2 yang aku buang, kaya adegan si Kuroi dan Seth ketemu untuk terakhir kali sebelum pernikahan, dan adegan soal Leah. ghaaaa, aku ga ngerti gimana lanjutinnya!

thx banget buat atensinya

c u