Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto, saya cuma minjam tokoh-tokohnya saja

Story by Morena L

Pairing: Sasusaku dan pairing lainnya

Warning: AU, OOC, Typo (s), Lemon, DLDR

.

.

.

.

Sakura mencunci pintu kamarnya dengan sangat tergesa-gesa, setelah pintu terkunci gadis berambut soft pink itu bersandar pada pintunya dengan napas memburu. Pembicaraan dengan Uchiha Sasuke dua jam yang lalu bagaikan mimpi di siang bolong untuknya. Bagi Sakura, lelaki itu menawarkan solusi sekaligus masalah baru untuknya.

Keringat dingin mengalir pada pelipisnya, bukan karena cuaca yang panas, bukan itu. Rintik-rintik sedang berlomba untuk mencapai bumi di luar sana. Tentu saja, saat ini adalah pertengahan bulan Juni, di mana pada bulan tersebut sampai satu setengah bulan ke depan Jepang mengalami musin hujan. Hujan boleh saja sedang membasahi bumi di luar, akan tetapi Haruno Sakura sedang mengalami gejolak badai bagaikan badai angin di padang pasir. Dentuman jantungnya belum mereda. Melahirkan anak Uchiha Sasuke? Ini gila!

oOo

"Syaratku, Haruno Sakura, kau harus melahirkan anakku."

"A-apa Katamu?" tubuh Sakura menegang mendengan kata-kata yang diucapkan pria bermata tajam itu.

"Aku tidak mengulangi kata-kataku," jawab Sasuke datar

Sakura masih mematung, ia masih belum bisa mempercayai pendengarannya. Ia seolah kehilangan sinkronisasi antara otak dan anggota tubuhnya yang lain.

Pria tampan itu menyeringai sebentar kemudian berjalan melewati Sakura yang masih mematung. Tepat saat dirinya berada di samping gadis itu ia menyelipkan secarik kertas di tangan di tangan kanan sang gadis yang agak mengepal.

"Waktumu tiga hari mulai dari hari ini, jika kau bersedia hubungi nomor itu." Setelah berkata demikian, Sasuke segera pergi meninggalkan Sakura yang masih diam tak bergerak di dalam kelas.

oOo

"Kenapa harus melahirkan anaknya? Kenapa tidak syarat yang lain saja?" gadis ini masih tidak habis pikir dengan penawaran yang ia terima. Apa Uchiha Sasuke hanya mempermainkannya?

Sepanjang malam Sakura tidak bisa tidur memikirkan semuanya. Ia sudah berusaha memejamkan matanya, menghitung domba, meminum susu, namun hasilnya tetap nihil. Dirinya masih terjaga bahkan sampai waktu menunjukkan pukul 02.30 dini hari.

Masalahnya bisa selesai jika ia berkata 'Ya', ia tahu betapa berkuasanya keluarga Uchiha. Apalagi saat ini Sasuke bisa dibilang adalah pemegang kekuasaan tertinggi Uchiha baik di Uchiha Group maupun di dalam internal keluarga Uchiha sendiri. Hanya dengan satu jentikan jari semua yang diinginkan pria itu dapat tercapai.

Sungguh jika ia diminta membunuh salah satu lawan bisnis bungsu Uchiha itu, tanpa berpikir dua kali pasti akan langsung diiyakan olehnya. Tapi gadis ini malah diminta melahirkan anak oleh pria itu. Wajah Sakura merona seketika. Jika ia harus melahirkan anak Sasuke, maka ada beberapa cara seperti bayi tabung atau teknologi modern lain atau bisa juga terlebih dahulu ia harus tidur dengannya, kan?

"Apa yang kaupikirkan Sakura? Ini masalah gawat, kenapa kau malah berpikir yang ke arah sana?" kata Sakura membantah dirinya sendiri dengan wajah merona.

Selama delapan belas tahun dirinya hidup, berpacaran sekali pun tidak pernah. Sekarang dia malah diminta untuk melahirkan anak seseorang. Ini benar-benar membuat dirinya dilema. Waktunya tiga hari untuk berpikir, terhitung dari siang tadi maka waktunya hanya sampai hari Jumat.

"Hhhhhh ..." Sakura mengembuskan napasnya lagi. Sungguh membingungkan.

.

oOo

.

"Forehead…"

"Forehead…"

"FOREHEAAAAAAAAAAD!" teriak Ino di telinga Sakura.

Sakura seketika itu langsung tersadar dari lamunannya. "Ada apa, pig? Aku tidak tuli."

Ino memandang kesal pada sahabat karibnya itu. "Aku sudah memanggilmu dari tadi, forehead-ku sayang!"

"Baiklah, baiklah. Ada apa?"

"Kau ikut tidak? Hari ini aku dan Hinata-chan mau mengerjakan tugas dari Yamato-sensei di rumahnya."

"I-iya Sa-Sakura-chan, apa kau mau ikut?" tanya Hinata dari bangkunya.

Gadis dengan nama bunga kebanggan Jepang itu menimbang-nimbang sebentar. "Ya, aku ikut."

Sepulang sekolah mereka bertiga langsung menuju ke rumah Hinata untuk mengerjakan tugas tersebut. Sebenarnya Sakura ingin segera pulang ke rumah, tapi ia tidak enak menolak ajakan kedua sahabat yang selalu memberikan perhatian padanya itu.

"Wah, rumahmu bagus sekali, Hinata-chan." Ino begitu terkagum-kagum melihat rumah Hinata yang masih berarsitektur asli Jepang dan sangat luas itu.

Hinata hanya tersenyum kecil melihat reaksi sahabatnya itu, sedangkan Sakura tidak memberikan reaksi apa pun. Yang ada dalam pikirannya bukan kemewahan rumah Hinata atau tugas dari Yamato-sensei. Yang menguasai pikirannya adalah masalah keluarganya dan Uchiha Sasuke.

Mereka bertiga telah sampai di kamar Hinata dan mulai mengerjakan tugas dari guru mereka itu. Ino masih belum berhenti mengagumi rumah sahabatnya ini, Hinata masih tersenyum malu, dan Sakura sedang berusaha mengembalikan konsentrasinya pada tugas yang sedang mereka kerjakan.

"Kau sangat beruntung, Hinata-chan, bisa tinggal di rumah seperti ini."

"Carilah suami kaya, pig, biar kau bisa tinggal di rumah mewah," sela Sakura.

"Forehead, jangan sebut kata suami. Aku sedang sensitif dengan kata suami, istri, dan pernikahan!" seru Ino kesal.

"Hahahaha.. kau lucu, pig," tawa sakura. Sungguh ia mencoba agar dapat tertawa alami di depan dua sahabatnya ini.

"Me-memangnya a-ada apa, Ino-chan? Ki-kita kan sahabat, jadi aku ingin tahu itu pun kalau boleh," kata Hinata yang ingin tahu.

Ino menarik napas dan melihat ke arah Hinata, "Pria yang kusukai sejak kecil akan menikah."

"Ma-maaf ... Ino-chan"

"Tidak apa-apa, Hinata-chan, si pig ini sudah bisa menerima nasib. Iya kan, pig?"

"Diam kau, forehead! Kau selalu membuatku kesal." kemudian mereka bertiga tertawa bersama.

"Oh, ya, Hinata-chan, kau tinggal dengan siapa saja di rumah sebesar ini?" tanya ino lagi.

"A-Aku tingal de-dengan orangtua dan saudara-saudaraku. Aku pu-punya se-seorang kakak laki-laki dan seorang a-adik perempuan."

"oh…" Ino menangguk.

"Aku ke toilet sebentar, ya," Sakura segera berdiri dan menuju kamar mandi yang ada di pojok kamar Hinata.

"Sa-Sakura-chan, toilet di ka-kamarku sedang diperbaiki. Kau pakai saja toilet yang di luar, di pojok se-sebelah ka-kanan dari kamarku."

"Baik. terima kasih," Sakura segera keluar menuju toilet yang dimaksud Hinata.

Setelah keluar dari toilet dirinya merasa haus, jadi dia segera menuju dapur yang berada tak jauh dari situ. Dapur dalam keadaan kosong tanpa ada seorang pun pelayan jadi Sakura berinisiatif untuk mengambil sendiri air putih.

Setelah meminum air putih ia meletakan gelas kosong di atas meja.

"Kau siapa?" terdengar suara berat dari belakangnya.

Sakura membalikan badan dan melihat seorang pria dengan mata seperti Hinata dan berambut coklat panjang. Pria itu sedang menatapnya dengan tatapan datar.

"Aku Haruno Sakura, teman Hinata. Maaf aku sudah lancang masuk dapur ini."

"Hn. Tidak masalah, aku cuma bertanya saja. Memastikan tidak ada orang asing yang tidak dikenal masuk di dalam rumahku," jawabnya angkuh.

"Kalau begitu aku permisi dulu," timpal Sakura yang segera keluar dari dapur dan kembali ke kamar Hinata.

Dia tidak menyadari jika pria itu menatapnya dari belakang dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kau tidak mengingatku, Hime?" tanyanya dengan tatapan sendu.

.

oOo

.

Waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam, setelah selesai mengerjakan tugas mereka—yang lebih banyak diisi dengan mengobrol—Sakura dan Ino pamit untuk pulang.

"Hinata-chan, aku dan pig pamit pulang dulu, ya. Sampai jumpa besok di sekolah."

"Tu-tunggu, ini sudah malam. Makan malam saja dulu di sini," tawar Hinata.

"Ah, terima kasih Hinata-chan. Tapi tidak perlu repot-repot," ujar Sakura.

"Ka-kalau begitu tunggu sebentar, biar aku bilang pada kakakku untuk mengantarkan kalian."

"Hinata-chan, itu tidak―" sebelum Sakura menyelesaikan kata-katanya Hinata sudah melesat keluar. Tidak lama kemudian dia kembali dengan wajah berbinar.

"Ka-kalian tunggu di depan. Kakakku mau mengantar kalian," ujarnya senang.

Mereka bertiga kemudian berjalan ke arah teras teras depan dan menunggu di situ. Tidak lama kemudian muncullah sebuah sedan berwarna silver dan berhenti di depan mereka.

"Hati-hati di jalan, ya," ujar Hinata pada kedua sahabatnya. Sakura dan Ino tersenyum kemudian melambaikan tangan pada Hinata. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam mobil. Ino duduk di sebelah Neji dan Sakura duduk di kursi belakang.

Setelah menanyakan alamat mereka, Neji mengantarkan Ino terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan suasana di dalam mobil agak kaku. Ino lebih banyak cemberut karena ternyata ia melihat Shikamaru sedang jalan berdua dengan Temari. Sakura juga diam saja karena pikirannya kembali ke masalah yang sedang ia alami. Neji? Jangan ditanya, ia memang orang yang pendiam.

"Terima kasih sudah mengantarkan kami," ucap Ino setelah sampai di depan rumahnya. Ia kemudian turun dan masuk ke dalam rumah.

"Pindahlah ke depan. Aku tidak mau disangka supirmu kalau kau duduk di belakang," seru Neji pada Sakura.

"Eh? Baiklah." Dan Sakura pindah dan duduk di sebelah Neji.

Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Sakura. Sakura sedikit merasa canggung karena pria di sebelahnya ini beberapa kali tertangkap basah sedang menatapnya.

"Ada apa melihat ke arahku?" ia mencoba untuk bertanya.

Neji hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Sakura. Melihat reaksi pria itu, muncul kerutan siku di dahinya. Apa-apaan pria ini? Tidak jelas sekali. Betul-betul mirip Uchiha sombong itu. Sakura seketika merona karena mengingat tentang Sasuke dan penawarannya. Ia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan pikiran itu dari kepalanya.

"Tidak usah malu begitu berada di sebelahku," kata Neji.

Mendengarnya kerutan siku di di dahi Sakura semakin tajam. "Apa? Maaf saja ya aku tidak malu berada di sebelahmu!" jawabnya ketus dan langsung membuang muka. Sepanjang perjalanan Sakura memilih untuk diam dan melihat ke arah jendela mobil. Lebih baik melihat pemandangan di jalan daripada mengurusi pria menyebalkan di sebelahnya itu.

"Sudah sampai di sini rumahmu, kan?" tanya Neji setelah mereka sampai di depan restoran sushi.

"Ya, terima kasih sudah mengantarkanku."

Neji terus memandang Sakura yang berjalan ke dalam rumahnya dari belakang. Sepertinya ada sesak yang membuncah dalam dadanya. Ia segera memegang dadanya dengan tangan kanannya.

"Akhirnya, Hime. Akhirnya kau kutemukan juga. Kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi. Kau milikku, selamanya milikku."

.

oOo

.

Suasana di dalam rumah seperti yang Sakura duga. Ayah dan ibunya belum pulang malam ini, masih berusaha mencari pinjaman di sana-sini. Sedangkan Karin sejak dua hari yang lalu sudah masuk ke pusat rehabilitasi narkoba. Saat ini hanya Sakura sendiri yang berada di rumahnya.

Ketika menyalakan lampu, betapa terkejutnya Sakura melihat kondisi rumahnya yang sangat berantakan. Banyak barang yang hancur, dan yang paling mengenaskan adalah foto keluarga mereka sudah hancur tak berbentuk. Piguranya pecah dan foto itu disobek-sobek. Di dinding terdapat tulisan yang sangat besar berwarna merah seperti darah.

"Ini baru restoran dan lantai satu rumahmu. Dua hari lagi jika kau belum bisa membayar maka lantai dua rumahmu yang akan kami rusak. Dan sampai batas waktunya tiga hari lagi kau belum membayar, bersiaplah melihat kedua anakmu di rumah pelacuran!" Sakura segera menutup mulutnya setelah membaca tulisan tersebut. Ini benar-benar mengerikan.

Seperti orang kerasukan setan, Sakura segera berlari menuju kamarnya. Ia menyibakan barang-barang di atas meja belajarnya, mencari secarik kertas yang diberikan Uchiha Sasuke padanya.

"Maafkan aku merusak harapanmu, Karin-nee, ini demi keluarga kita." Sakura kemudian menghubungi nomor itu melalui ponselnya.

"Halo." terdengar suara dari seberang.

"Ha-Halo, apa ini nomor Uchiha Sasuke," kata Sakura dengan napas memburu

"Hn."

"Ini aku, Haruno Sakura."

"Jadi?"

"Aku terima tawaranmu. Asal semua masalahku selesai kulakukan apa pun maumu."

Sasuke menyeringai mendengar jawaban dari gadis itu, "Baiklah. Besok orangku akan menjemputmu sepulang sekolah, kita bicarakan kesepakatan kita besok."

"Ya." Sakura kemudian mematikan telepon tersebut. Ia kemudian merosot ke bawah. Air mata mengalir dari kedua pelupuk matanya. Gadis itu menangis sambil memeluk kedua lututnya.

"Kau kuat, Sakura. Kau sudah berjanji jika masalahmu bisa selesai, kau bersedia mengorbankan segalanya," kata Sakura menguatkan dirinya sendiri.

.

oOo

.

Uchiha Sasuke nampaknya tidak main-main. Sakura dijemput oleh dua orang berjas hitam. Dia diantar ke tempat yang sama sekali tidak diketahuinya. Mobil itu melewati gerbang yang sangat besar. Ia menahan napas melihat betapa luasnya halaman yang baru dimasukinya itu, belum lagi sebuah rumah yang jaraknya cukup jauh dari gerbang berdiri kokoh. Rumah itu merupakan percampuran gaya tradisional Jepang dan Eropa klasik.

Isi dalam rumah itu pun membuat Sakura kesulitan bernapas. Siapa pun pasti akan digantung jika merusak salah satu dari barang-barang tersebut.

Sakura disambut oleh seorang pria bermasker dan berambut perak. Setelah menunduk hormat, pria itu memperkenalkan dirinya.

"Anda pasti Nona Haruno Sakura. Perkenalkan, nama saya Hatake Kakashi, asisten pribadi Tuan Sasuke. Tuan sudah menunggu anda di atas."

Sakura mengikuti pria yang bernama Hatake Kakashi itu sampai ke depan sebuah ruangan dengan pintu kayu berukiran kipas di tengahnya.

"Silakan masuk, Nona Haruno, tuan ada di dalam," kata Kakashi mempersilahkan Sakura untuk masuk.

Setelah Kakashi pergi, Sakura memandang ragu pada pintu itu. Ia menarik napas dalam-dalam kemudian membuka pintu dan masuk ke dalamnya.

Ruangan itu tampak seperti ruangan kerja, dan ada banyak buku yang tersusun rapi di dalamnya. Pria berambut biru donker itu sedang sibuk dengan laptopnya saat Sakura masuk. Bungsu Uchiha itu kemudian mengangkat mukanya dan mengarahkan pandangannya pada Sakura.

"Hn. Kau sudah datang," katanya saat gadis manis itu sudah berdiri tepat di hadapannya. "Duduklah," lanjutnya lagi.

Sakura segera duduk di kursi yang ada di sebelahnya. "Uchiha-san, aku ..."

"Aku tahu. Sekarang kita bicarakan kesepakatan kita. Kutanya sekali lagi, apa kau benar-benar setuju?"

Pemuda itu sangat serius. "Aku setuju dan aku serius, Uchiha-san," jawab Sakura tanpa ada keraguan di matanya.

"Tapi bolehkah aku bertanya? Kenapa aku harus melahirkan anakmu?"

Sasuke memandangnya sejenak, "Kau tidak perlu tahu. Lakukan saja tugasmu dan akan kulakukan apa yang kujanjikan."

"Ke-kenapa aku? Bukankah banyak wanita lain yang menginginkanmu?"

"Hanya dua orang. Dari semua orang yang kukenal dan kutahu hanya dua orang yang tidak menunjukkan ketertarikan padaku. Kau dan Temari."

"Lalu?"

"Aku tidak mungkin meminta Temari untuk melahirkan anakku. Itu sama saja dengan aku mengajak Shikamaru berperang, dan aku tidak mau menghadapi Shikamaru yang sedang serius," jawab lelaki itu santai.

"Apa Uchiha-santidak mempunyai gadis yang disukai?"

"Kau terlalu banyak bertanya, Nona, dan itu menyebalkan!"

Sakura menunduk mendengar kata-kata Sasuke yang tajam itu.

"Sekarang kau tanda tangani ini," kata Sasuke sambil menyerahkan sebuah map berwarna hitam padanya.

Sakura mengambil map tersebut dan membukanya, di dalam map tersebut ada beberapa berkas. Yang membuat Sakura terkejut, salah satu berkas tersebut adalah …

"U-Uchiha-san ini? Ini?" tanya gadis itu dengan sangat terkejut.

"Hn, tanda tangani saja. Itu bagian dari kesepakatan kita," jawabnya.

"Ini ... surat pernikahan, kan?"

"Ya."

"Kenapa Uchiha-san?"

"Dengar, aku menginginkan anak yang sah, karena itu kau harus jadi istriku biar anak yang lahir nanti adalah anakku yang sah di mata hukum. Mengerti?"

Sakura mengangguk mendengar jawaban itu.

"Jangan buat aku kehilangan kesabaran denganmu. Tanda tangani semua berkas itu maka saat kau pulang malam ini semua masalahmu akan beres," kata Sasuke tajam.

Setelah menandatangani semua berkas itu Sakura mengembalikannya pada Sasuke.

"Uchiha-san, bukankah agar berkas pernikahan itu resmi harus ada pengacara dan saksi di sini?"

"Kau meragukanku?"

Oh, Sakura. Kau lupa siapa yang ada di hadapanmu itu? Dia bisa melakukan apa pun yang ia mau.

"Kau boleh pulang ke rumahmu, dan nanti persiapkan dirimu untuk tinggal dalam waktu yang lama di sini."

Sakura membelalakan matanya mendengar itu. Raut keheranan semakin tampak di wajahnya.

"Kau akan tinggal di rumah ini setelah mengandung anakku dan sebaiknya tidak ada seorang pun yang tahu jika ada seseorang yang sedang mengandung anakku. Karena itu, setelah kau mengandung anakku nanti kau tidak akan keluar dari rumah ini."

Gadis berambut soft pink itu menggeram, kata-kata pria itu benar-benar di luar logikanya.

"Aku bukan pelacur pribadimu, Uchiha-san," katanya setengah berbisik dengan wajah yang sangat sendu.

"Dan siapa yang bilang kau pelacurku, Nyonya Uchiha?" balasnya sambil menyeringai dan penuh penekanan khusus saat memanggil Sakura dengan Nyoya Uchiha.

.

oOo

.

Sakura melamun sepanjang perjalanan pulang dari rumah Sasuke. Tentu saja siang tadi ia baru saja menandatangani dokumen pernikahan dengan Uchiha Sasuke. Sekarang ia sudah resmi menjadi istri pria itu secara hukum.

Lamunannya terhenti saat mobil yang dibawa Kakashi itu sampai di depan rumahnya. Kakashi segera turun dan membukakan pintu mobil untuk istri tuannya itu.

"Terima kasih, Tuan Hatake," katanya setelah turun dari mobil.

"Panggil Kakashi saja, Nyonya Uchiha. Saya akan menjemput anda lagi nanti. Selamat malam," gadis pink itu, salah, wanita itu merona ketika mendengar Kakashi memanggilnya dengan sebutan 'Nyonya Uchiha'.

Sakura kemudian masuk ke dalam rumah setelah mobil mewah yang mengantarnya pulang itu melaju meninggalkan rumahnya.

Ketika masuk dirinya sangat takjub melihat keadaan rumahnya. Barang-barang di dalam rumahnya yang kemarin dirusak sudah diganti dengan barang-barang baru yang harganya pasti tidak murah. Wajah kedua orangtuanya pun tidak lagi murung seperti kemarin-kemarin. Senyum terpatri di wajah pria dan wanita paruh baya itu.

"Tadaima."

"Okaeri Saku," jawab ibunya

"Ada apa ini? Semua barang di rumah kita diganti baru?" tanya nona pink itu.

"Duduklah Sakura." Sakura kemudian duduk bersama orang tuanya di sofa. Ia mengambil tempat dia antara ayah dan ibunya.

"Ada seorang baik hati, ia menyumbangkan hartanya dan memberikannya kepada Ayah. Dia ingin pergi ke pedesaan dan menghabiskan hari tuanya di sana," kata Kizashi sambil tersenyum. "Dia berkata tidak membutuhkan harta lagi, dia mendengar dari temannya tentang keadaan keluarga kita dan mau membantu kita. Awalnya Ayah tidak mau tetapi dia memaksa dan berkata bahwa ini tulus. Pria tua itu mengatakan ini adalah permintaan terakhirnya dan Ayah harus mau menerimanya."

"Jadi, Ayah terima?" tanya Sakura.

"Ya, karena tidak tega pada pria tua itu yang terus memohon agar Ayah memintanya akhirnya Ayah terima, dia memberikan cek sejumlah enam ratus juta yen dan dia juga membelikan semua barang-barang baru di rumah ini dan di restoran kita. Apalagi dia mengatakan ini demi keluarga kita, demi kedua anak ayah. Seumur hidup Ayah tidak akan melupakan jasa pria tua itu. Dia sudah menyelamatkan keluarga kita."

"Ya, Ayah. Kita tidak boleh melupakan jasa pria tua itu," kata Sakura sambil tersenyum. "Kakak sudah diberi tahu?"

"Sudah, dan dia sangat senang. Ng ... Sakura, sebenarnya ada satu kabar lagi," kata Mebuki, ibunya. Sakura lalu memandang ibunya dengan penasaran.

"Pria tua itu juga membayar rehabilitasi kakakmu dan memindahkannya ke tempat rehabilitasi terbaik di Konoha. Hari ini begitu banyak hal baik yang terjadi," ujar Mebuki penuh dengan ungkapan syukur.

"Kau sudah makan, nak?" tanya ayahnya.

"Sudah."

"Kalau begitu istirahatlah dan tidur dengan nyenyak, ya. Mimpi buruk kita selama hampir tiga minggu sudah berakhir," kata sang ayah sambil mengusap kepalanya.

Sakura menngangguk dan segera bangkit berdiri. Saat dia hampir melewati pintu ruang keluarga sang ibu memanggilnya.

"Saku, kau baik-baik saja?"

Sakura menoleh ke arah orang tuanya, "Aku baik-baik saja, Bu. Ada apa?"

"Tidak, hanya cara berjalanmu aneh seperti menahan rasa sakit. Kau benar-benar tidak apa-apa, nak?" tanya ibunya lagi.

"Aku terjatuh waktu olahraga tadi makanya kakiku agak sakit. Ayah dan ibu tidak usah kawatir," jawabnya sambil memasang senyum termanis di wajahnya.

.

oOo

.

Sesampainya di kamar Sakura segera melempar tasnya ke tempat tidur. Sambil meringis menahan sakit ia terduduk dan bersandar di sisi tempat tidurnya. Air mata tampak mulai mengalir dari mata emerald itu. Ia menangis dalam diam sampai terdengar ponselnya berdering.

"Halo."

"Halo, Nyonya Uchiha. Bagaimana? Sudah sampai di rumahmu?"

"Ya, terima kasih sudah menepati janjimu, Sasuke-kun," jawab Sakura lemah.

"Tinggal mengurusi Hozuki Suigetsu saja maka semua janjiku padamu sudah kupenuhi," kata Sasuke dengan menyeringai. Pria itu sedang berada di balkon kamarnya, menelepon Sakura sambil bersandar pada salah satu tiang di balkon itu.

"Aku tahu, jika hasilnya sudah ada aku akan segera memberitahukannya padamu."

Sasuke makin menyeringai mendengar jawaban wanitanya itu. "Hn, kutunggu kabar baik darimu."

Sakura menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah melepas pakaiannya ia memandang dirinya di cermin. Rambut kusut, mata sayu, wajah lelah dan lemas, dan bercak merah di sekujur tubuhnya. Dia tersenyum sendu memandang sosok di dalam cermin itu. Sosok itu terlihat sangat menyedihkan di matanya.

"Selamat Haruno Sakura, salah … maksudku Uchiha Sakura. Selamat karena keluargamu sudah lepas dari masalah." Sakura semakin memandangi sosok di cermin itu dengan tatapan mengasihani.

"Sakura, setidaknya kau sudah sah sebagai istrinya. Hiks ... hiks ... kau bukan perempuan murahan Sakura. Kau tidak menjual tubuhmu demi uang ... hiks … hiks …" air mata terus mengalir dari pelupuk matanya bagaikan sungai yang meluap.

Ia menggigit bibirnya agar bisa meredam air matanya. Wanita itu kemudian berendam, sepertinya ibunya sudah menyiapkan air hangat untuknya sebelum ia pulang.

Sambil berendam ia menutup matanya dengan telapak tangan kirinya. Ya, Haruno Sakura sudah bukan gadis lagi sekarang. Sekarang ia adalah wanita milik Uchiha Sasuke. Pria itu sudah memiliki dirinya seutuhnya.

Uchiha Sasuke sudah menepati janjinya. Saatnya Sakura untuk menepati janjinya pada pria itu. Dia akan menjaga benih pria itu yang telah ada dalam dirinya saat ini. Dia akan menjaga calon Uchiha baru yang mungkin saja mulai tumbuh dalam dirinya.

.

oOo

.

Sakura memasuki sebuah kamar yang sangat mewah dengan dominasi warna biru. Kamar ini ditata sedemikin rupa dengan sangat elegan. Terdapat tempat tidur berukuran king size di tengah ruangan itu. Sakura merasakan tubuhnya mulai menggigil, ia tahu apa yang akan terjadi padanya sebentar lagi.

"U-Uchiha-san, apa kita akan―"

"Aku bukan pria yang sabar, Nyonya Uchiha. Aku harus memastikan sendiri semuanya sesuai," jawabnya sedikit menyeringai.

Sakura semakin menegang dan meremas kencang kedua tangannya. Tubuhnya merinding, ia menarik napas lebih cepat dari biasanya. Sebentar lagi ia akan kehilangan kegadisannya.

Sasuke mendekapnya dari belakang, dan berbisik di telinganya, "Kau gugup? Tidak usah tegang begitu. Biarkan aku menyelesaikan semuanya. Saat kau pulang ke rumah nanti semuanya akan beres. Aku janji," bisiknya dengan suara yang sangat sexy.

Sakura mengangguk tegang. Ini adalah yang pertama untuknya, dan dia benar-benar tidak siap. Dia tidak menyangka semuanya akan terjadi begitu cepat. Yang ada dalam pikirannya ketika datang tadi hanya untuk membicarakan perjanjian mereka. Ternyata pria itu menuntut pemenuhan janji itu hari ini juga.

.

.

Sasuke membalikan tubuh Sakura hingga berhadapan dengannya. Dieratkannya pelukan di pinggang ramping itu. Dia menyesap sejenak aroma cherry yang menguar dari rambut gadis di hadapannya itu.

Perlahan-lahan dia mulai menciumi gadis itu. Mulai dari puncak kepalanya, mulai turun ke pelipis kanannya, pipi gadis itu, telingan kanannya. Tak lupa ia sedikit mengulum ujung telinganya dan menjilat belakang telinga Sakura.

Napas Sakura semakin memburu. Saat Sasuke mengulum ujung telinganya lagi, ia menahan suaran erangan yang hampir keluar dari bibirnya. Sasuke tersenyum licik melihat itu. Bibir pria itu sekarang telah sampai pada ujung bibir Sakura.

Dia tidak segera melumat bibir ranum gadis itu, tetapi dia memberikan kecupan-kecupan kecil pada bibir merah muda alami itu. Setelah agak lama baru pria bermata onyx itu mulai melumat pelan bibir incarannya itu. Ia menjilat bibir bagian bawah gadis itu dan sedikit menggigitnya.

Sakura memejamkan matanya rapat-rapat. Keringat mulai membasahi tubuhnya. Lumatan-lumatan pria yang mendekapnya itu benar-benar membuatnya hilang akal. Sampai dia merasakan dadanya diremas oleh tangan kokoh itu. "Ahhnn…" erangan lolos dari bibirnya

Tidak menyia-nyiakan kesempatan Sasuke segera memasukan lidahnya. Mengabsen satu persatu gigi gadis itu, menjelajahi kehangatan di dalamnya. Membuat gadisnya semakin hilang akal. Seakan tidak pernah puas, pria ini semakin menguasai ciuman panas mereka.

"Oh… ahn... aaaahh..." lenguhan gadis itu semakin membakar gairah Sasuke. Segera digendongya gadis itu menuju ke tempat tidur di tengah kamarnya.

Pria itu memposisikan dirinya tepat di atas Sakura dan kembali memberikan lumatan-lumatan nakal pada bibirnya. Sakura terus menahan erangan dan lenguhan agar tidak keluar dari bibirnya.

Kancing-kancing seragam Sakura perlahan-lahan dibuka oleh jemari pria itu. Dan Sasuke melakukannya tanpa melepaskan tawanannya pada bibir yang menggoda itu. Setelah berhasil melepas seragamnya, Sasuke menyeringai melihat kaitan bra yang menjadi incarannya ada di depan, tepat di belahan dada gadisnya. Segera ia melepasnya dan membuang bra itu.

Sambil terus melumat bibir Sakura, Sasuke mengusap kedua puncak payudara pink itu dengan usapan-usapan ringan. Seringan kupu-kupu. Ia merasakan puncak payudara itu mulai mengencang dan mengeras akibat belaiannya.

Sasuke menurunkan jajahan bibirnya ke leher dan bahu gadis itu. Awalnya dia memberikan kecupan-kecupan ringan. Semakin lama, kecupan itu semakin mengganas dan menyebabkan dari leher sampai bahu dan bagian atas dada Sakura penuh dengan bercak-bercak merah bahkan sampai ada yang membiru.

"Ahhhnn... aaaah... Uchiha-san..."

"Panggil aku Sasuke!" perintahnya.

Mulut nakal pria itu semakin menggodanya. Sakura mengerang nikmat pada saat Sasuke akhirnya mengulum puncak payudara kanannya. Awalnya Sasuke hanya menggunakan ujung lidahnya saja, menggoda gadis itu dengan sangat mahir. Sakura melengkungkan tubuhnya menahan gairah dan kenikmatan luar biasa yang dirasakannya. Dalam dirinya ia ingin pria itu menyentuhnya lebih dari ini.

Menyadari hal itu, seringai Sasuke semakin lebar. Perlahan-lahan ia membelai, menghisap, dan mengulum puncak payudara Sakura itu. Tangan kanannya memelintir puncak payudara kiri Sakura yang bebas. Setelah puas dengan yang kanan. Mulutnya berpindah pada payudara kiri itu. Memberikan perlakuan yang sama dengan payudara kanannya tadi. Sakura menggelinjang nikmat. Mulut dan tangan menggoda pria itu terus menerus membuainya.

Sasuke bangkit sejenak dan membuka kemeja yang ia kenakan, melemparnya entah kemana dan kembali menciumi daerah dada gadis itu. Sakura merona dengan sangat hebat saat memandangi tubuh atletis pria itu. Tangan Sasuke mulai turun ke bawah, setelah melepas rok gadis itu dia mulai memberikan ciuman mulai dari belahan dada gadisnya dan terus turun ke bawah.

"Jangan ditahan, keluarkan saja eranganmu. Aku ingin mendengarnya," katanya di sela-sela kegiatannya menciumi seluruh tubuh Sakura.

Kepala Sasuke telah sampai di atas perut rata itu dan menciuminya dengan sayang. Sakura menekan kepalanya ke belakang, tangannya meremas helaian raven di kepala pria itu. Bibir pria itu tengah asik menciumi perut ratanya. Pria itu tersenyum lagi, tampaknya ia menyukai pergerakan tangan Sakura di kepalanya.

Sakura merasakan hawa panas semakin memenuhi tubuhnya saat ia mendongakan kepalanya melihat apa yang sedang dilakukan pria itu. Sasuke sedang menarik kain penutup tubuhnya yang terakhir menggunakan gigi-giginya yang nakal. Setelah melepas celana dalam gadis di bawahnya, Sasuke kembali menaikan tubuhnya sehingga posisi kepalanya sejajar dengan Sakura.

"Sudah kubilang, jangan tegang, kau mempersulit dirimu sendiri kalau kau tegang. Banyak yang harus kulakukan denganmu untuk mengusir ketegangan itu." Sasuke lalu menurunkan tubuhnya lagi sehingga kepalanya tepat berada di antara kedua paha Sakura.

Sasuke memandang kewanitaan itu dengan napas memburu. Daerah paling sensitif itu benar-benar menggoda hasratnya, kewanitaan itu tambak basah berkedut, dan terlihat jelas belum tersentuh siapa pun. Lelaki itu kemudian memberikan ciuman-ciuman kecil mulai dari pangkal paha kiri sampai pada kewanitaan gadisnya. Lidahnya menyusuri celah di antara kewanitaan itu. Jarinya yang nakal menemukan klitoris gadisnya. Dengan sengaja dimainkannya klitoris gadis itu dan membuat sakura mengerang tak berdaya.

Jari telunjuk Sasuke memasuki lorong hangat itu kemudian dia menggerakan-gerakan jarinya di dalam sana. Ditambah lagi jarinya, dua buah jari bergerak seperti gunting di dalam kewanitaanya. Hasrat Sakura semakin melambung tinggi. Napasnya terputus-putus, sebentar lagi dirinya akan mencapai sesuatu. Erangan kenikmatannya semakin menjadi-jadi saat tiga jari Sasuke bergerak liar di dalam sana. Kepalanya bergerak liar ke kanan kiri. Ini dia, Sakura sudah sangat dekat dengan puncak kenikmatannya.

Saat dirinya tinggal sedikit lagi mencapai klimaknya Sasuke menarik ketiga jari tangannya dengan sengaja. Sakura menahan napasnya, kepalanya menjadi pening. Dirinya sudah sangat dekat, namun Sasuke tiba-tiba menghentikannya. Dia memandang Sasuke dengan wajah memelas dan tatapan yang sulit diartikan.

"Sabarm, sayang... tidak seru jika kau terlalu cepat mencapai puncak permainan kita," jawabnya sambil mengulum ketiga jarinya yang dipenuhi cairan cinta gadisnya itu. Sakura tercekat memandang Sasuke yang begitu menikmati cairan miliknya.

Sasuke kemudian menyeringai. "Kau tahu, ini pertama kalinya aku menikmati cairan seorang wanita."

Sakura makin meremas sprei di bawahnya saat merasakan lidah Sasuke memasuki tubuhnya. Pria itu menjilat lorong hangatnya itu dengan tidak sabar. Lidahnya bergerak keluar masuk lorong kewanitaan Sakura dengan sangat ahli dan dengan segaja jari telunjuk dan jempol tangan kanannya digunakan untuk menjepit dan menggerak-gerakan klitorisnya. Tangan kirinya meremas-remas payudara Sakura di atas sana. Sakura benar-benar tidak tahan lagi, sensasi yang diterimanya terlalu banyak.

Belum puas, dia kemudian melanjutkan dengan mengulum klitoris Sakura. Menyentil klitoris itu dengan ujung lidahnya. Dan dilanjutkan dengan lumatan nikmat pada tonjolan yang memikat itu. Sambil menghisap klitoris Sakura, Sasuke kembali memasukan dua jarinya ke dalam milik Sakura dan menggerakan dengan buas kedua jari tersebut. Sakura tidak tahan lagi, hasratnya sudah melambung terlalu tinggi. Ini harus segera diselesaikan. Oh, dia bersumpah, jika Sasuke berhenti di tengah jalan lagi maka ia akan menghajar kepala pria itu.

"Ahhhn... eeng, oooh, aaah ... aaah ... jangan berhenti aahhhn… Sasuke... kuuuun~"

"Aaahh ... aahhh… Sasuke-kun, aahhhn ... ahhh ... Sasukee~"

Klimaks pertamanya datang bagaikan banjir. Sasuke tetap berada di situ dan menghisap cairan yang keluar dari kewanitaan gadisnya. Saking banyaknya cairan itu sedikit mengalir dari sudut bibir Sasuke.

Sakura tampak lemas dan tidak berdaya. Mulutnya terengah-engah. Gelombang kenikmatan tiada tara menerpanya dengan sangat kuat.

Melihat ekspresi gadisnya yang begitu menggoda, Sasuke tidak tahan lagi. Celana yang masih dikenakannya semakin menggangu. Sepertinya sekarang saatnya memasuki hidangan utama.

Setelah melepaskan celana panjang dan boxernya Sasuke segera mengambil posisi. Ia menggigit bibirnya. Ia tahu sekaranglah saatnya di mana pria itu akan menguasainya secara utuh.

Sakura sedikit meringis membayangkan apa yang akan terjadi. Walaupun tidak memiliki kekasih, tapi ia tahu pengalaman pertama seorang gadis pasti akan sangat menyakitkan.

"Kurasa kau sudah siap sekarang," katanya sambil mengesek-gesekan ujung kejantanannya di permukaan kewanitaan Sakura.

Sakura mengerang tertahan, meringis menahan rasa sakit saat milik Sasuke mulai memasukinya. Sasuke menahan berat badannya dengan kedua tangannya yang ia posisikan di kanan dan kiri bahu gadis itu.

"Sa-Sakit."

"Tahan sebentar, ini memang sulit karena kau benar-benar sempit." Sasuke menggeram sejenak merasakan penghalang pada kenjantanannya yang terus memesuki lorong hangat gadisnya. Dengan satu dorongan kuat miliknya menembus penghalang itu. Seketika itu juga jeritan kesakitan Sakura menggema di seisi kamar Sasuke. Darah kesuciannya mengalir membasahi sprei berwarna biru donker itu.

Air mata mengalir dari sudut matanya. "Sssst, jangan menangis. Aku janji sebentar lagi tidak akan sakit." Sasuke berkata sambil menciumi jejak-jejak air mata pada pipinya. Sasuke terus membisikan kata-kata yang menenangkan gadis itu sambil memberikannya kecupan-kecupan mesra. Sakura sendiri secara alami membiasakan diri dengan milik Sasuke yang ada di dalam tubuhnya.

Akhirnya, Sasuke tersenyum saat pinggul Sakura bergerak. Tanda bahwa gadis―wanitanya―sudah bisa membiasakan diri. "Aku akan pelan-pelan. Hentikan aku jika menurutmu aku berlebihan."

Mata tajam lelaki itu memandang emerald Sakura. "Tatap aku, dan sebut namaku..."

Sasuke mulai menggerakan pinggulnya dengan irama perlahan. Agak sulit pada awalnya karena ini adalah yang pertama untuk Sakura. Milik Sasuke melakukan gerakan in dan out dengan teratur. Bibirnya terus menciumi wajah dan leher Sakura dengan lembut. Tangan kirinya meremas-remas payudara kanan Sakura dan tangan kanannya memeluk istrinya itu.

Sakura sendiri terus mengerang dan melenguh. Tanpa sadar ia mengalungkan tangan kirinya ke leher pria itu dan mengusap-usap tengkuknya. Sedangkan tangan kanannya bergerak mengelus sepanjang bahu dan punggung pria di atasnya ini. Kaki wanita itu sudah melingkar di pinggang kokoh Sasuke dengan sempurna.

Perlakuan Sakura itu membuat Sasuke menggeram nikmat. Erangan Sakura merupakan melodi tersendiri yang terus membakar gairahnya, membuat dirinya semakin membara menguasai permainan ranjang mereka. Wanita ini memang di luar dugaannya. Semua yang ada pada Sakura benar-benar memabukan dan menjadi candu untuknya. Aroma tubuhnya, spontanitasnya, lekukan menggoda tubuh itu, bibir ranumnya, lenguhannya, dan caranya menyebutkan nama Sasuke sungguh membuat gairah pria ini sampai ke tahap tertinggi yang tak pernah disangkanya.

Tidak pernah ada seorang wanita pun yang pernah membuatnya merasakan gairah seperti ini dan ini pertama kalinya dia bercinta. Selama ini ia tak pernah menyebutnya bercinta, semua hanya seks semata dan ia tidak pernah lupa menggunakan pengaman. Hanya pelarian dari kepenatannya. Tetapi dengan Sakura semuanya berbeda seolah-olah Sakura adalah semua pengecualian dalam hidupnya.

Oh, tidak lupa juga dada menggoda gadis ini. Dada Sakura memang tidak besar, tetapi juga tidak kecil. Tetapi dada itu sangat sempurna untuknya. Dia menyukai saat menggenggam dada itu, saat mengulum dan melumatnya.

"Sa... Sasuke... Le-lebih cepaaat," rengek Sakura

Dan Sasuke menambah irama gerakannya dengan lebih menggila. Dirinya benar-benar liar sekarang. Sakura semakin mengerang dengan perlakuan suaminya itu. Ranjang besar itu ikut berdecit akibat liarnya kecepatan pinggul Sasuke. Lorong kewanitaan Sakura semakin mengencang, ada sesuatu dalam dirinya yang memaksa keluar. Sensasi ini melebihi saat orgasme pertamanya yang tadi.

"Sasukee… aaaaaaahn…" Dengan tusukan yang keras dan paling dalam dari Sasuke akhirnya klimaks Sakura sampai. Cairan dari dalam kewanitannya mengalir deras keluar.

Sasuke tidak langsung berhenti. Beberapa kali hujaman lagi dan pria itu menggeram. "Arrgh!" ia membenamkan wajahnya di perpotongan leher dan bahu Sakura. Menyembunyikan geraman dan ekspresi kenikmatannya. Ia masih menggerakan tubuhnya menikmati sisa-sisa klimaksnya.

Sakura dapat merasakan cairan hangat mengalir ke dalam rahimnya. Ia tahu banyak sekali cairan mengalir akibat klimaks lelaki di atasnya ini. Ia lelah, kesulitan benapas, dan peluh membasahi seluruh tubuhnya. Demikian pula dengan Sasuke. Karena keringat yang tidak henti-hentinya, rambut mencuat pria itu pun turun. Sakura mengangkat tangannya mengusap-usap rambut dan bahu pria itu. Sasuke sangat menyukai sensasi dari gerakan tangan sakura. Tampaknya dia tidak memilih orang yang salah.

Sasuke melirik pada jam digital di atas meja di sebelah tempat tidurnya. Matanya agak berat, dia ingin istirahat sejenak. Sakura sudah memejamkan matanya sejak tadi. Dibawanya Sakura ke dalam dekapannya tidak lupa menarik selimut dan menutup tubuh mereka berdua. Kemudian ia menutup kedua matanya dan membiarkan dewi tidur membawanya ke alam mimpi.

.

.

.

.

.

Di sebuah kamar yang gelap Hyuuga Neji sedang duduk di tempat tidurnya dengan bersandar pada tepi tempat tidur itu. Hanya lampu di sebelah tempat tidurnya saja yang menyala remang-remang. Dia memandang sebuah foto seorang gadis berambut soft pink yang sedang tersenyum. Gadis dalam foto itu kira-kira berusia sekitar empat belas tahun. Sesekali Neji mendapati dirinya tersenyum kecil.

"Masih sama, senyum itu masih sama, dahi lebar itu masih sama, rambut merah muda itu masih sama, mata emerald indah itu juga masih sama. Hanya tatapannya yang berubah. Hime-ku sayang. Kali ini kita akan bersama untuk selamanya," kata Neji kemudian mencium foto tersebut.

.

.

.

Tbc

AN:

Arrrrgggggh. Aku tidak percaya sudah membuat lemon! Ini pertama kalinya aku membuat lemon jadi mohon maaf jika ada kekurangan.

Nah, sudah Chapter 3 sekarang, semoga kalian puas dengan Chapter ini. Err, sebenarnya konflik keluarga Sakura itu hanya konflik pembuka saja. Konflik yang sebenarnya masih ada. Dan Neji yang paling berperan besar dalam konflik utama di sini. Aku juga minta maaf jika ada yang merasa alurnya terlalu cepat. Karena itu saran dan kritik yang membangun sangat kuperlukan.

Terima kasih sebanyak-banyaknya buat yang sudah mereview, maaf aku belum bisa membalasnya satu persatu karena sedang sangat sibuk sekarang. Chapter berikutnya mungkin agak lama untuk update karena akan memasuki masa ujian. Jadi chapter ini kupersembahkan untuk kalian semua. Sekali lagi RnR ya. Terima kasih semuanya ^^