Gia : Hai semuanya~ Sesuai janji, multichap baru telah keluar! Dan pastinya gaje dan abal~

Yurika : Apa-apaan nih!? Baru beberapa menit setelah yang WnKA selesai! Lu udah publish yang baru lagi!?

Gia : Ehehehe

Yami : Saya ingatkan kalau ini timelinenya sebulan setelah Ceremonial Battle dan ada beberapa genderbend, dan jugi fanfic ini adalah semi-canon, berarti ada beberapa yang diubah *nada datar*

Gia : He? Tutoring lu hebat juga~ Sekalian jelasin genderbendnya dong

Yami : Di sini, saya tetap sebagai lelaki, Ryou, Malik dan Atem sebagai wanita

Yurika : Yugi sama Jou?

Yami : Yugi tetap sebagai lelaki dan Jou... Kata author liat saja nanti

Yugi : Apa jangan-jangan Seto lagi yang jadi cewek? Oh ya! Lu gak bakal malu-maluin gue kan di sini? *Curiga*

Gia : Entah~? Liat aja nanti

Atem : Happy reading~!

.

.

The Next Journey

.

By : Gia-XY

.

Summary :

Sebulan setelah Ceremonial Battle, para dewa memberikan para Yami kesempatan hidup sekali lagi? Tunggu-tunggu! Tapi kenapa? /"Kami tidak mau kalian kembali ke alam barzah dengan penuh penyesalan."/"Pharaoh, masih ada janji yang harus kau tepati kan?"/'Ini aibou, Anzu, Seto, dan... Siapa wanita berambut pirang yang merangkul bahu Seto ini?'/

.

Disclaimer :

Yu-Gi-Oh! © Takahashi Kazuki

Story, Gia's OC : Yukarina Hikari, Kisaragi Yurika, Kisaragi Yuki © Gia-XY

.

Warning :

OC, OOC, OC as main lead, genderbend, typo(s), misstypo(s), semi-canon, sedikit bahasa Jepang, krisis kosakata, DLDR, dll.

.

Journey 1

The Memories Still Unsolved?

.

.

-Yugi's POV-

Kau, sahabat terbaikku...

Aku ingat, kau pergi karena aku.

Maaf, aku sama sekali tidak bermaksud. Saat aku menangis waktu itu, kau malah tersenyum dan berkata,

"Aku kalah... Aibou. Berdirilah. Bagaimana mungkin seorang pemenang menangis sambil bersimpuh begini? Kalau aku adalah kau, aku tidak akan menangis."

Kau memang baik, kau selalu menguatkan hatiku. Kaulah tujuanku selama ini. Arigatou, mou hitori no boku...

Kupikir, itu adalah terakhir kali aku dapat bertemu denganmu... Tapi aku salah...

Cerita selanjutnya... Baru saja akan dimulai...

~29th June~

-Normal POV-

Sebulan sejak ceremonial battle, Yugi dan teman-temannya kembali ke kehidupannya yang seperti biasa tanpa para Yami. Bukan berarti mereka melupakan para Yami, mereka hanya sadar kalau mereka harus menerima kalau para Yami sudah kembali ke alam barzah. Memang butuh waktu yang lama untuk mereka, terutama untuk Ryou dan Malik yang sudah jatuh cinta pada Yaminya masing-masing. Dalam hati, Yugi bersyukur dengan gendernya, jadi dia tidak perlu sestres Ryou dan Malik yang sampai jatuh cinta pada Yami mereka sendiri.

Sedangkan lain pihak, ternyata ada kenyataan mengejutkan yang diterima oleh para Yami...

~Afterlife~

"Apa!? Hidup di dunia sekali lagi!?" teriak para Yami yang ada di hadapan para dewa saat ini.

"Kalian tidak bercanda kan!?" tanya Bakura.

"Tidak, kami tidak bercanda. Bahkan kami sudah memikirkan ini matang-matang. Kami tidak mau kalian kembali ke alam barzah dengan penuh penyesalan," kata Osiris.

"Ta-tapi kenapa tiba-tiba kalian membuat keputusan seperti ini?" tanya Marik.

"Pharaoh, masih ada janji yang harus kau tepati kan?" tanya Obelisk sambil menatap Atemu.

"Ja-janji?" Tanya Atemu bingung.

"Sudah kuduga. Ingatanmu belum kembali sepenuhnya," kata Ra.

"Apa!? Ingatanku belum kembali sepenuhnya!?" tanya Atemu shock dengan pernyataan Ra barusan.

"Pharaoh, apa kau ingat saat di dunia ingatan, ada seorang wanita yang menyelamatkanmu dengan menggunakan Holy Elf saat kau akan jatuh ke jurang saat bertarung dengan Bakura?" tanya Osiris.

"Hm... Sebentar. Biar kuingat-ingat," kata Atemu sambil memegang dagunya.

-Flashback-

"Tch! Bakura!" seru Atemu yang berpegang pada ujung jurang dengan nada kesal.

"Aku mendapatkannya," kata Bakura tersenyum licik sambil mengambil Sennen Puzzle yang tadinya tergantung di leher Atemu.

"Hehehe. Sayonara, Ousama," kata Bakura masih sambil tersenyum licik penuh kemenangan lalu menghentakkan kakinya di dekat tebing tempat Atemu berpegang.

Hanya satu hentakan, tetapi dapat membuat tanah yang digenggam Atemu pecah dan jatuh ke dalam jurang bersama dengan Atemu.

"Aaaaahhhh!" teriak Atemu.

Tiba-tiba sebuah cahaya muncul.

Sring...

"Holy Elf!?" tanya Atemu tidak percaya.

Ya, cahaya itu berubah menjadi Holy Elf.

"Kh... Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan ousama! Aku tidak boleh gagal! Holy Barrier!" seru seorang wanita yang tidak jauh dari tempat Atemu dan Bakura sambil bersimpuh dan menyatukan kedua tangannya untuk mengendalikan Holy Elf.

Lalu muncul cahaya yang menyelimuti tubuh Atemu dan roh wanita itu terbang mengikuti arah Atemu jatuh.

"Kau!" seru Atemu kaget saat melihat sosok seorang wanita dengan kulit seputih susu yang dikenalinya itu.

"Ousama! Cahaya itu akan melindungimu! Kau harus selamat apapun yang terjadi! Walau aku harus mengorbankan nyawaku sekalipun," kata wanita berambut pirang dengan mata aquamarine itu sambil tersenyum miris.

"Mengorbankan nyawa!? Apa maksudmu Hikari!?" tanya Atemu tidak mengerti.

"Kau tidak ingat? Aku sudah pernah memberitahu kan kalau aku sama sekali tidak pernah menggunakan ka milikku. Itu karena kalau sekali saja aku menggunakannya, aku akan kehilangan seluruh ba milikku, dengan kata lain... Meninggal... Itu sudah takdir yang diberikan para dewa untukku. Begitulah kata Ra yang saat itu muncul di mimpiku," Kata wanita yang dipanggil Hikari oleh Atemu itu.

"Hei! Kau bercanda kan!?" tanya Atemu tidak percaya.

"Gomen, Ousama... Ousama, aishiteru," kata Hikari sebelum tubuhnya menghilang.

"Hikari! Hikariii!" teriak Atemu histeris.

Entah, walaupun Atemu tidak memiliki ingatan tentang gadis itu, tapi rasanya dadanya sangat sakit. Rasanya sangat sesak baginya.

-Flasback end-

"Oh! Aku ingat! Wanita kulit putih yang pelayan pribadiku itu ya? Memang ada apa dengannya?" tanya Atemu.

"Pharaoh, kau punya janji yang harus kau tepati padanya," kata Ra.

"Janji apa? Aku sama sekali tidak ingat," kata Atemu sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Sisa ingatanmu yang belum kembali akan kembali jika kau bertemu kembali dengannya," kata Obelisk.

"Maksudmu pelayan itu sudah bereinkarnasi kembali!?" tanya Bakura tidak percaya.

"Ya, benar. Dan kalian juga akan kembali bereinkarnasi," jawab Ra.

"Tapi, kapan? Aku sudah rindu pada Hikariku!" seru Marik.

"Sekarang," jawab Osiris tanpa basa-basi lagi.

Belum sempat para Yami kembali berbicara, sebuah cahaya sudah menyelimuti mereka.

"Selamat jalan, para Yami..."

~Kame Game Shop~

Di rumahnya, terlihat Yugi yang sedang membantu jii-channya tercinta itu untuk menjaga toko game yang bobrok itu (Sugoroku : HEH! Apa maksud lu bobrok!?)

BRAK! BRUK! GEDUBRAK!

Yugi yang mendengar suara-suara kencang nan aneh itu langsung kaget dan berlari menuju ke tangga yang ada di dalam rumah dengan perasaan panik.

'Jangan-jangan jii-chan...'

Yap! Benar saja! Sugoroku jatuh dari tangga!

Yugi yang panik langsung membantu jii-channya itu untuk berdiri.

"Jii-chan! Kenapa tiba-tiba jii-chan bisa jatuh dari tangga begini!?" tanya Yugi yang masih dilanda dengan kepanikan.

"Adududuh! Tadi aku mau mengambil barang yang ada di bawah, lalu aku buru-buru saat menuruni tangga. Eh, aku malah tersandung dan jadilah seperti ini," jawab Sugoroku masih dengan cengiran khasnya.

"Makanya lain kali hati-hati jii-chan! Memangnya tadi jii-chan mau ambil apa?" tanya Yugi.

"Aku tadi mau mengambil sapu untuk membersihkan kamar yang akan dipakai orang-orang yang akan tinggal di rumah kita," jawab Sugoroku.

"Hah? Orang-orang yang akan tinggal di rumah kita? Maksudnya?" tanya Yugi tidak mengerti.

"Oh! Aku belum bilang ya? Akan ada 3 anak yang seumuran denganmu yang akan tinggal di sini. Yang dua kembar, mereka anak dari temanku yang baru meninggal karena kecelakaan baru-baru ini. Adik dari temanku menitipkan mereka di sini. Aku juga belum pernah melihat mereka berdua. Kalau yang seorang lagi, kau sudah mengenalnya kok. Yang anak temanku itu akan datang hari ini," jelas Sugoroku.

Yugi hanya menggaruk-garuk kepalanya dengan wajah bingung.

"Sudahlah, kau liat saja nanti," kata Sugoroku yang tahu kalau Yugi masih bingung dengan penjelasannya.

Baru saja Sugoroku akan berdiri, tapi tiba-tiba...

"ADAW! Adududuh! Itai...," keluh Sugoroku sambil mengelus-ngelus punggungnya.

"Jii-chan! Lebih baik kau istirahat saja! Biar aku yang membereskan kamarnya!" kata Yugi sambil membantu Sugoroku berdiri.

"Aduduh! Pelan-pelan Yugi," kata Sugoroku sambil mengaduh kesakitan.

"Iya-iya," kata Yugi sambil mengantar Sugoroku kembali ke kamarnya.

~Domino Apartement~

~209 Room~

"Huamm..."

Terlihat Ryou baru saja terbangun dari tidur lelapnya dan sedang berjalan keluar dari kamarnya menuju ke ruang tamu sambil mengucek-ngucek matanya.

"Ada apa ini sebenarnya!? Kenapa tiba-tiba aku bisa disini!? Hei para dewa! Ini tidak lucu! Mana Pharaoh geblek itu dan Marik!?" seru sesosok lelaki berambut putih yang mirip dengan Ryou.

"Kura? Ada apa tiba-tiba marah-marah begitu?" tanya Ryou yang masih belum sadar kalau Yaminya itu sekarang seharusnya sedang ada di alam barzah.

'Ya-yadounushi? Jadi ini kamar apartemen yadounushi? Benar juga! Kenapa aku tidak sadar daritadi!? Siapa tahu mereka sedang ada di rumah para Hikari mereka masing-masing,' pikir Bakura mencoba berpikir logis.

Ryou yang tadinya setengah tertidur, langsung terbelalak setelah sadar dengan apa yang ada di depannya.

"Ba-Bakura!? Ke-kenapa kau ada di sini? Bukannya kau harusnya ada di alam barzah!?" tanya Ryou tidak percaya.

"He? Jadi kau tidak senang aku kembali? Yah, sudah sewajarnya sih. Dulu kan aku sering mengambil alih tubuhmu seenaknya, jadi aku terima saja kalau kau memang tidak suka padaku," kata Bakura.

"Bu-bukan begitu Kura! Aku tidak benci padamu kok! Sungguh! Aku hanya kaget dan bingung kenapa kau bisa ada di sini sekarang!"

"Para dewa memberiku dan 2 Yami lainnya kesempatan untuk bereinkarnasi kembali. Yah, sepertinya aku akan merepotkanmu sekali lagi, yadounushi," kata Bakura sambil terkekeh kecil.

Mutiara bening langsung keluar dari kedua mata Ryou. Ryou langsung berlari memeluk mantan Yaminya itu.

"Aku sangat merindukanmu Kura!" teriak Ryou menangis tersedu-sedu sambil memeluk Bakura.

Bakura yang bingung hanya salah tingkah saja.

"He-hei! Bukan berarti kau bisa memelukku seenaknya saja!" kata Bakura dengan wajah memerah.

Ryou tidak mempedulikan kata-kata Bakura dan masih memeluknya dengan wajah tersenyum senang.

Bakura merasa Hikarinya sangat berubah. Padahal dia ingat dulu Hikarinya yang satu ini sangat benci padanya karena dia sering mengambil alih tubuh Ryou dengan seenaknya dengan tujuan membahayakan teman-temannyanya. Tapi sekarang Ryou malah memeluknya dan mengatakan kalau dia merindukan Yaminya yang egois ini. Bukannya tidak senang sih, Bakura senang, malah sangat, karena dia mencintai Ryou. Tapi dia jadi tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi sikap Hikarinya yang begitu lembut sekarang.

~Ishtar's Residence in Japan~

Malik saat ini sedang menelepon sambil marah-marah dengan wajah terlihat kesal. Entah, apa sebabnya.

"Jangan bercanda Ryou! Mana mungkin itu terjadi! Aku tahu kau sangat merindukan Bakura sampai-sampai berhalusinasi begitu! Aku tetap tidak percaya! Ha! Saat ini saja aku sama sekali tidak melihat Yamiku yang satu itu! Sudahlah! Aku lelah berdebat denganmu!"

Marik lalu mematikan teleponnya dengan kasar lalu membanting handphonenya ke atas meja dan merebahkan dirinya ke kasur.

'Ryou itu sedang demam ya? Apa mungkin aku harus membawanya ke rumah sakit jiwa? Masa dia bilang kalau Bakura dan para Yami sudah kembali? Hah... Marik... Aku sebenarnya juga sangat berharap dia ada di sini sekarang...,' pikir Malik dengan wajah sendu.

'Malik! Kau tidak boleh begini! Kalau begini terus kau hanya membuat Marik yang ada di alam barzah menjadi tidak tenang! Yosh! Semangat Malik!' pikir Malik berusaha menghibur dirinya sendiri.

Malik lalu keluar dari kamarnya dengan tujuan mencari cemilan di dapur untuk mengalihkannya dari kesedihannya. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti karena melihat sesosok lelaki berambut pirang duduk di sofa ruang tamu rumahnya.

'Si-siapa di sana? Seingatku tidak ada orang berambut pirang di rumah ini selain aku! Jangan-jangan... PENCURI!? Eh, tunggu... Atau jangan-jangan...'

"Kemana mereka berdua? Apa mereka juga ada di rumah Hikari mereka?" kata lelaki itu bicara sendiri.

'Hi-Hikari!? Apa jangan-jangan Ryou benar? Apa jangan-jangan dia memang...'

"Ma-Marik?" panggil Malik dengan nada terbata-bata dan tidak yakin.

Lelaki itu menoleh kearah Malik dan menunjukkan wajah kaget.

"Malik?"

Air mata Malik langsung mengalir begitu saja. Malik berlari kearah lelaki itu—Yaminya, Marik, dan memeluknya. Akhirnya, setelah sebulan, dia dapat mendengar kembali suara orang yang dicintainya.

"Marikkk! Aku sangat merindukanmu!" seru Malik.

"Aku juga sangat merindukanmu Hikari," kata Marik sambil mengelus kepala Malik.

"Bagaimana kau bisa di sini?" tanya Malik sambil menghapus air matanya.

"Para dewa memberikan kesempatan hidup sekali lagi untukku dan kedua Yami lainnya. Yah, pokoknya, mohon bantuannya sekali lagi Malik," kata Marik dengan cengiran lebar.

"Mmm! Iya!" kata Malik sambil menatap Marik dan tersenyum senang.

~In A Car~

"Mi... Yami... Bangun, Yami! Yami!" teriak seorang perempuan berpenampilan seperti Atemu yang memakai kaos putih dan celana jeans pendek membangunkan lelaki berkulit putih cream yang mirip dengannya di sampingnya yang memakai tank top berwarna hitam dan leather pants beserta beberapa aksesoris metal di tubuhnya.

"Ngh..."

Lelaki yang dipanggil Yami itu membuka matanya dan mendapati sosok gadis berkulit tan yang ada di sampingnya itu.

"Kita sudah mau sampai! Jangan tidur terus dong!" kata wanita itu marah-marah.

"Eh? Si-siapa kau!? Apa kau cross gender dariku?" teriak Yami yang shock dengan polosnya. (Gia : Sejak kapan Yami tahu yang namanya cross gender? -_-)

"Yami! Kau demam ya!? Tentu saja aku cross gender dirimu! Aku kan kembaranmu!" seru wanita itu kesal.

"Apa!? Saudara kembar!? Seingatku terakhir kali aku ada di alam barzah bersama para dewa dan—"

Atemu—atau lebih tepatnya Yami sekarang, memutus perkataan setelah sadar apa yang terjadi.

"Hah? Alam barzah apanya sih? Kau demam ya?" tanya wanita itu.

'Sepertinya memang ada yang salah dengan kakak kembarku,' pikir wanita itu.

"Ka-kalau aku memang sudah bereinkarnasi kembali... Siapa wanita ini?" tanya Yami pada dirinya sendiri, masih kebingungan dengan semua yang ada di depannya sekarang.

"Yami? Kurasa kau memang demam. Kau lupa padaku? Aku kan Sennen Atemu, lebih tepatnya Atem, saudara kembarmu!" kata wanita itu—Atem, berusaha menyadarkan Yami yang tak lain lagi adalah Atemu beberapa saat sebelum ini.

'Atemu? Atem? Bukannya itu namaku?' tanya Yami kaget dalam hatinya.

Yami lalu melihat tangannya sendiri. Dia mebolak-balik tangannya dengan wajah kebingungan dan tidak percaya.

'Kulit putih!? Ada apa ini sebenarnya!?' tanya Yami lagi dalam hatinya.

"Ah! Kita sudah sampai! Ayo turun Yami!" ajak wanita itu.

Yami hanya menurut saja lalu turun dari mobil yang ditumpanginya. Matanya langsung terbelalak lebar beitu melihat apa yang ada di depannya.

"I-ini... Kame Game Shop? Rumah aibou?" tanya Yami pada dirinya sendiri.

Atem lalu menurunkan semua koper yang ada di bagasi mobil itu lalu berjalan menuju ke pintu depan Game Shop itu dan membunyikan belnya setelah melihat tanda closed di depan pintu.

Ting! Tong!

"Ya! Sebentar!" sahut Yugi yang masih ada di dalam rumah bergegas membuka pintu depan.

'Suara aibou?'

Krek!

"Ah! Kau pasti cucu dari Mutou Sugoroku! Aku Sennen Atemu, panggil saja Atem, dan yang di sebelahku ini kakak kembarku, Sennen Yami. Kami mulai hari ini akan tinggal di sini!" kata Atem dengan nada ceria.

Mata Yugi langsung terbelalak lebar begitu melihat kedua sosok yang ada di depannya. Jari telunjunya langsung menunjuk-nunjuk mereka dengan agak gemetar.

"Kalian... Mou hitori... No boku?" tanya Yugi masih shock.

"Aku tahu kau mau bertanya apa, tapi masalahnya aku juga masih belum sepenuhnya mengerti dengan semua yang terjadi di sini, aibou," kata Yami.

Atem memengernyitkan alisnya dan menatap kembarannya itu.

"Yami? Kau sudah kenal dengannya?" tanya Atem.

"Err, begitulah," kata Yami.

"Ah, lebih baik kalian masuk du—"

Belum sempat Yugi menyelesaikan kata-katanya, Sugoroku sudah keluar dari rumah dan berteriak memotong omongan Yugi.

"Yugi! Sudah kubilang tunggu aku!" teriak Sugoroku sambil berjalan tertatih-tatih.

"Jii-chan, aku sudah bilang kan kalau kau sebaiknya jadi anak baik dan istirahat hari ini!" seru Yugi sambil memarahi Sugoroku dan menatapnya dengan tatapan agak kesal.

"Tapi aku kan juga mau menyambut anak dari temanku!" protes Sugoroku layaknya anak kecil yang dilarang untuk membeli mainan yang disukainya.

"Sugoroku jii-san kan? Dulu ayah banyak sekali bercerita tentangmu!" seru Atem dengan senyuman lebar.

Yang dipanggil hanya menengok dan menunjukkan wajah kaget.

"Atemu!?" tanya Sugoroku tidak percaya.

"Eh? Kenapa kalian berdua kaget begitu melihat kami?" tanya Atem bingung.

"Kau akan mengerti kalau aku cerita nanti, Atem," kata Yami.

"Le-lebih baik kalian masuk dan ceritakan semua yang terjadi," kata Sugoroku mengajak mereka masuk ke dalam rumah.

Mereka berempat lalu masuk ke dalam rumah.

~In the House~

"Kau bercanda kan Yami!? Masa kau baru bereinkarnasi bersama 2 roh lain yang terkunci dalam Sennen Item dan sebelum ini kau adalah pharaoh yang punya nama yang sama denganku dan terkunci dalam Sennen Puzzle!? Lalu siapa Yami yang selama ini bersamaku!?" tanya Atem tidak percaya.

"Tapi aku tidak bercanda Atem. Mungkin para dewa membuat semacam 'role' kehidupan untukku di masa ini. Jadi seakan-akan aku sudah sejak dulu lahir di zaman ini. Mungkin mereka akan segera membuatku mengingat tentang memoriku di masa ini," jawab Yami sambil menerka-nera tentang apa yang terjadi.

"Ja-jadi kau sekarang sama sekali tidak ingat tentang kecelakaan chichi dan tentang Mahaado yang menitipkan kita ke sini atas perintah chichi?" tanya Atem.

"Mahaado!?" seru Yami dan Yugi bersamaan.

"Itu bukannya nama pendetamu yang menjadi Black Magician itu?" tanya Yugi pada Yami.

"Makanya aku juga bingung," kata Yami.

"Er, Mahaado itu paman kita, Yami," jelas Atem yang baru ingat kalau kakaknya itu sedang dalam keadaan yang 'agak' sulit dijelaskan.

"Oh! Ngomong-ngomong soal Mahaado, bagaimana kabarnya?" tanya Sugoroku pada Atem.

"Dia baik-baik saja. Oh! Kurasa dia sempat mengirim surat ke sini! Apa sudah sampai?" tanya Atem.

"Surat? Aku sama sekali belum mengecek kotak surat. Aku akan memeriksanya nanti," kata Sugoroku.

"Ah, lalu, berarti Bakura dan Marik juga sudah bereinkarnasi kembali kan?" tanya Yugi.

"Begitulah," jawab Yami sekenannya.

"Yokatta. Jadi Ryou dan Malik tidak perlu murung lagi seperti kemarin-kemarin," kata Yugi senang.

"Lalu, para dewa bilang ingatanmu belum kembali sepenuhnya. Lalu apa kau berniat mencari ingatan masa lalumu itu?" tanya Sugoroku pada Yami.

"Ya, aku akan mencarinya," jawab Yami tanpa keraguan.

"Hah, kurasa aku harus memikirkan semuanya hari ini... Kepalaku sangat pusing. Aku akan kembali ke kamarku," kata Atem sambil memegang kepalanya dan berjalan menuju kamarnya yang sudah di tunjukkan oleh Sugoroku padanya tadi.

"Well, sepertinya aku juga harus kembali ke kamarku. Ada yang harus kulakukan," kata Yugi sambil beranjak menuju ke kamarnya.

"Ah, aku ikut," kata Yami yang sekamar dengan Yugi.

~Yugi's Room~

Terlihat Yugi sedang chatting di laptopnya sedangkan Yami sedang memperhatikan Yugi dengan tatapan bingung.

Hikari_Ririi

-hei, apa jii-chan sudah memberitahumu kalau aku akan tinggal di rumahmu besok?

Yuugi-Ou

-eh?

-belum tuh

-dia cuma bilang tentang 3 orang yang akan tinggal di rumah

-tapi dia tidak memberitahu siapa orangnya

-yang 2 sih sudah ada di sini

-jadi yang 1 lagi kau?

Hikari_Ririi

-iya

-itu aku

-eh tunggu

-3 org?

Yuugi-Ou

-iya

-ada 2 orang lagi

-tenanglah, aku yakin kau akan menyukai mereka ;)

Hikari_Ririi

-kuharap juga begitu :)

-ngomong-ngomong, apa jii-chan sudah bilang kalau aku menyuruhmu menjemputku besok?

Yuugi-Ou

-belum

-tadi jii-chan jatuh dari tangga dan sepertinya dia jadi lupa memberitahuku karena kesakitan :(

"Aibou, kau sedang apa?" tanya Yami dengan wajah penasaran.

"Chatting," jawab Yugi sesingkat mungkin karena terlalu serius dengan chattingnya.

"Chatting? Apa itu? Kurasa kau tidak pernah melakukan hal seperti itu sebelum ini," kata Yami sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Chatting itu cara untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui jaringan internet. Semacam e-mail, tapi kalau chatting, kita bisa mengirim banyak pesan singkat sekaligus dan orang menjadi lawan bicara juga harus sedang menggunakan program chatting yang sama dengan kita di di saat yang bersamaan dengan kita," jelas Yugi sebisanya.

"Oh, aku mengerti," kata Yami sambil menyudahi kegiatannya memperhatikan Yugi yang sedang chatting.

Yami berdiri dari kasur yang di dudukinya dan berjalan menuju rak buku dan mengambil sebuah buku bersampul biru di rak itu.

'Album?'

Yami membuka album foto yang baru saja di ambilnya dan membolak-balik halamannya. Tangannya berhenti membolak-balik halaman album itu ketika matanya menangkap satu sosok asing yang terasa sangat familiar baginya di salah satu foto dalam album itu.

'Foto kelulusan aibou? Ini aibou, Anzu, Seto, dan... Siapa wanita berambut pirang yang merangkul bahu Seto ini?' Tanya Yami dalam hatinya.

Di foto itu terlihat foto Yugi, Anzu dan seorang wanita berambut pirang yang terlihat seperti memaksa Seto ikut berfoto, terlihat jelas dari wajah iseng wanita itu dan muka Seto yang terlihat sangat terpaksa. Di bawah foto itu ada suatu tulisan.

Foto kelulusan SMP

Seto, Yurika, Yugi, Anzu

Dan di bagian paling bawah foto itu ada tulisan lagi.

Sayonara Yurika, semoga berhasil di Inggris

'Kalau dilihat baik-baik, wanita ini mirip pelayan itu, Hikari,' pikir Yami sambil memperhatikan foto itu dengan seksama.

Tiba-tiba secercah ingatan mulai muncul di kepala Yami.

"Aku satu SMP dengan anak cebol bernama Mutou Yuugi, dan 2 gadis yang merupakan teman masa kecilnya, Masaki Anzu dan..."

Ingatan Yami tiba-tiba terputus.

'I-itu apa? Lelaki di ingatanku tadi, Seto? Apa ingatanku di zaman ini?' Pikir Yami dalam hatinya.

Tiba-tiba ingatan itu mulai muncul lagi di kepala Yami.

"Siapa namanya Seto?" tanya seorang lelaki yang sedang duduk di sofa bersama Seto—Yami.

"Namanya Kisaragi Yurika! Yah, kau tahu, gadis itu selalu memaksaku bersosialisasi dengan yang lainnya," kata Seto dengan wajah agak kesal.

"Tapi dia benar Seto, kau itu harus bersosialisasi," kata Yami.

Seto hanya menghela nafas panjang mendengar kata-kata Yami.

"Aku sudah sangat puas dengan kehidupanku sekarang dan aku tidak perlu teman. Mokuba, kau dan Atem sudah cukup untukku," jelas Seto sambil meminum kopinya.

"Yah, sebetulnya terserah padamu saja sih, tapi aku hanya tidak mau sepupuku kesepian karena tidak punya teman," kata Yami dengan nada agak pasrah.

Satu demi satu ingatan yang lain mulai muncul di kepala Yami. Saat dia lahir, saat dia masih anak-anak, saat kecelakaan yang menyebabkan kedua orang tuanya meninggal, saat pamannya merawat mereka selama seminggu setelah orang tuanya meninggal, dan ingatan-ingatan lainnya.

'Aku... Ingat... Aku Sennen Yami, putra dari Sennen Aknamkanon dan Kazunari Takara. Kakak kembar dari Sennen Atemu. Sepupu dari Kazunari atau lebih tepatnya sekarang Kaiba Seto dan Mokuba,' pikir Yami sambil memegangi kepalanya yang masih pusing.

"Mou hitori no boku? Kau tidak apa-apa?" tanya Yugi khawatir.

"A-aku tidak apa-apa aibou. Hanya saja kepalaku sedikit pusing karena ingatan-ingatanku di masa ini tiba-tiba muncul," jelas Yami.

"Ingatanmu di masa ini? Maksudmu ingatanmu sebagai Sennen Yami?" tebak Yugi.

"Begitulah...," jawab Yami sekenannya

"Berarti ingatanmu di masa ini sudah jelas kan? Tinggal mencari yang di masa lalu, itupun kalau kau memang masih menginginkan ingatan itu...," kata Yugi.

"Kalau aku masih menginginkannya? Maksudmu apa aibou?" tanya Yami sambil mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan maksud perkataan aibounya itu.

"Yah, kau sekarang hidup di masa ini kan? Berarti ingatan masa lalu itu sebenarnya sudah tidak berguna lagi karena kau tidak memerlukannya lagi. Kecuali kalau kau memang penasaran tentang sesuatu," jelas Yugi.

'Benar juga kata aibou. Aku kan tidak harus mencari ingatanku sebagai Pharaoh Atemu karena saat ini aku sudah hidup sebagai Sennen Yami. Tapi...,'

"Pharaoh, masih ada janji yang harus kau tepati kan?"

"Aku tetap harus mencari ingatan itu. Masih ada hal yang ingin kucari tahu," kata Yami dengan penuh kepastian.

"Oh, aku mengerti. Aku pasti akan membantu sebisaku," kata Yugi sambil tersenyum tulus pada mantan Yaminya itu.

"Arigatou, aibou," kata Yami.

~London, England~

"Sudah lama sekali ya, Yuu, An-chan, Seto? Kita akan segera bertemu sebentar lagi. Ya, sebentar lagi...," kata seorang wanita berambut pirang tersenyum lembut sambil menatap sebuah foto dengan bingkai foto coklat simple.

Foto itu, foto yang sama dengan foto yang di temukan oleh Yami di dalam album foto milik Yugi tadi.

Wanita itu lalu memasukkan foto itu ke dalam koper di atas kasurnya dan menutup koper itu.

"Jadi... Kau benar-benar akan kembali ke Domino?" tanya seorang lelaki yang mirip dengan wanita tadi sambil berdiri di ambang pintu.

Wanita tadi hanya menengok kearah lelaki itu dengan wajah terkejut.

"Yuki?" tanya wanita itu agak kaget.

"Apa keputusanmu... Sudah bulat?" tanya lelaki yang di panggil Yuki itu lagi dengan wajah agak sedih.

Wanita tadi hanya tersenyum lembut pada Yuki.

"Ya, aku sudah memikirkannya matang-matang. Pria misterius itu bilang, apa yang kucari ada di Domino, walau aku tidak tahu apa itu. Tapi kurasa aku memang harus mencari tahu tentang maksud omongan pria itu dan tidak ada salahnya kan aku mencoba mencari tahu? Lagipula aku juga sudah sangat merindukan teman-temanku," jawab wanita itu dengan nada penuh kepastian.

'Dan mungkin saja aku bisa mengerti tentang mimpi dan bayangan-bayangan yang menghantuiku akhir-akhir ini,' pikir Yurika.

"Kau tahu, aku pasti akan sangat merindukanmu, ore no futago," kata Yuki sambil memeluk wanita itu—kembaran dari Yuki.

"Aku juga akan sangat merindukanmu, atashi no futago," kata wanita itu sambil balas memeluk Yuki.

"Kau bisa kembali kapanpun kau mau, Yurika," kata Yuki sambil melepaskan pelukannya dari kembarannya itu—Yurika.

"Iya. Arigatou, Yuki...," kata Yurika sambil tersenyum lembut pada Yuki.

Saat itu, Yurika sama sekali tidak tahu kalau... Dirinya akan mengalami suatu takdir baru yang melibatkan dirinya dan... Masa lalunya...

.

.

-Tsuzuku-

.

.

Marik : Panjang juga...

Bakura : Gue hidup sekali lagi!? Terus gue sama Marik dikasih role kehidupan juga gak?

Gia : Liat aja nanti~

Yurika : Awas aja kalo lu berani macem-macem sama gue di cerita ini

Ryou : Terus tokoh utamanya Yami?

Malik : Yup, sama Yurika

Yurika : *Terharu liat fic di atas* Yami masih polos~ Tapi paling terakhir juga akan jadi mesum lagi seiring berjalannya fic ini

Gia : Bener banget! Mwahaha!

Yami : Thanks for reading! Maaf atas typo dan semua kecacatan yang ada

Atem : Silakan menunggu chapter depan jika masih ingin membaca!