The Next Journey

.

By: Gia-XY

.

Previously:

Kepala Jou tiba-tiba saja seperti mendapat sebuah pukulan kencang. Bayangan-bayangan asing kembali muncul di kepalanya.

"Bodoh! Kenapa kau menyelamatkanku?! Kau lihat akibat perbuatanmu sekarang?! Kau jadi tertusuk seperti ini!"

"Jo-Jouno… aku melakukan semua ini untuk melindungimu …. A-aku mencintaimu …."

"Kau bodoh! Bodoh! Bodoh! Aku tidak ingin kau meninggal! Kau satu-satunya orang yang kupunya! Aku tidak ingin kalau harus kehilanganmu!"

"A-aku tidak akan meninggalkanmu …. Ka-ku, naga hitam, akan selalu bersamamu …. Aku akan memberikan ka-ku padamu …."

"Jangan bercanda, Ryuu! Kalau kau memberikan ka-mu padaku, maka kau akan benar-benar—"

"Aku tidak peduli…. Aku hanya ingin kau aman …. Naga hitam, kumohon … jaga Jouno …."

Hening ….

"Ryuu? Ryuu! RYUU! BANGUN! RYUU! RYUUUUUU!"

Jou meremas kepalanya.

Pusing ….

Semua ingatan itu muncul di kepalanya begitu saja.

Malik tersenyum kecil melihat reaksi Jou.

Seperti membuat Jou ingat pada masa lalunya lebih mudah dari pada membuat Yurika mengakui masa lalunya.

"Daijoubu ka, Jou?" tanya Malik.

Jou mengangguk cepat sambil berusaha menahan pusingnya.

"A-ah, sudah jam segini …. Aku harus pulang. Jaa ne, Malik …," ucap Jou sambil berjalan meninggalkan museum.

Malik kembali menatap batu tulis tadi dengan tatapan datar.

"Tinggal Seth …. Apa mungkin Seth akan dengan mudahnya mengingat masa lalunya …?"

.

Summary:

Pertemuan singkat Ryuuji dan kawan-kawannya, dan Yurika kini curiga pada Ryuuji. Di sisi lain, Yurika sepertinya menghindari Yami, bahkan ia sampai pulang duluan. Apa benar itu karena dirinya menghindari Yami?

.

Disclaimer:

Yu-Gi-Oh! © Takahashi Kazuki

Story; Gia's OC: Kisaragi Yurika, Yukarina Hikari, Suzuki Rei © Gia-XY

Ryo's OC: Kazami Ryo © Aertyu Ghfd

Erlangga's OC: Kazami Shun © Erlangga186

.

Warning:

OC, OOC, OC as main lead, genderbend, typo(s), misstypo(s), semi-canon, sedikit bahasa Jepang, krisis kosakata, DLDR, dll.

.

Journey 11

The Truth, Will Be Revealed!

.

.

"BERHENTI MENELPONKU, IDIOT! Memangnya kau tidak punya hal yang penting di luar menelponku hah?!" seru Yurika yang kini sedang marah-marah pada seseorang yang ada di ujung telepon.

Di ruang tamu, saat ini kedua orang lainnya; Yugi dan Atem, hanya bisa terdiam mendengar omelan Yurika pada sang penelepon.

"Siapa yang menelponnya?" tanya yang Yami yang baru saja masuk ke ruang tamu.

Atem hanya menggeleng tidak tahu, sementara Yugi hanya terkekeh kecil saja.

"Mantan, Yam," ucap Yugi dengan nada isengnya sambil melihat Yurika yang sedang mengomel seakan sedang menonton bioskop.

Menonton bioskop? Tentu saja! Bayangkan saja, di depan mereka bertiga sekarang ada tontonan seru, dan sekarang Yugi menonton dengan santainya sambil memakan cokelat berbentuk bola kecil-kecil yang ada di dalam toples yang tadi sempat dibawa Yurika.

"Aku hanya ingin mendengar suaramu, memangnya tidak boleh?" tanya suara dari ujung telepon.

Yurika hanya menggeram kesal saja, lalu mengepalkan tangannya kencang-kencang seakan ingin bersiap-siap memukul sang penelepon yang merupakan mantan pacarnya itu kalau saja orang itu ada di depannya.

"Grrhh …. Kau tidak mengerti istilah mengganggu ya? Kalau mengerti, itulah yang kau lakukan padaku sekarang!" seru Yurika kesal.

"Baiklah-baiklah, aku akan cukup mengganggu untuk pagi ini. Kau harus berangkat ke sekolah, 'kan? Selamat jalan, Hime," ucap sang penelepon lagi sebelum menutup telepon dengan seenaknya.

Yurika langsung buru-buru memasukkan handphone-nya ke dalam tas sekolahnya dengan kesal, lalu mengajak ketiga orang lainnya untuk berangkat sekolah. Mereka bertiga hanya menurut saja, lalu mengikuti Yurika, berusaha tidak membuat mood-nya menjadi tambah jelek.

Dari tangga, Pegasus yang sejak tadi mengawasi mereka, hanya menatap kepergian keempat orang itu dengan tatapan datar. Dirinya lalu meneruskan menuruni tangga saat keempat remaja itu sudah meninggalkan ruang tamu. Di sisi lain, Yurika saat ini masih saja mengumpat kesal atas telepon tadi pagi.

Hah … pagi yang menyebalkan …. Benar-benar bisa membuat mood orang menjadi jelek sebelum berangkat sekolah, benar , 'kan? Yah, kalau Atem yang polos menerima telepon seperti itu dari mantannya saja, mungkin dia juga bisa berteriak marah seperti Yurika tadi. Seperti menghadapi stalker gila saja.

~XxX~

Brak!

Oh, ini buruk …. Kali ini ada seseorang menabrak Yurika … dalam keadaannya yang sedang bad mood ….

OKAY! APALAGI KALI INI?! pikir Yurika kesal.

Yugi dan yang lainnya hanya bisa menatap horor kejadian barusan. Baru saja Yurika akan mengomeli orang yang menabraknya, tetapi ia mengurungkan niatnya begitu mengetahui yang ditabraknya adalah Kazami Ryo, orang yang sepupunya telah membantunya dua hari lalu.

"Maaf, aku tidak melihatmu sedang berbelok tadi," ucap Ryo dengan nada datar khasnya pada Yurika.

Yurika berusaha tersenyum, lalu berkata, "Tidak apa, aku juga tidak melihatmu tadi."

Yugi dan Atem hanya terbengong-bengong saja melihat kejadian barusan. Wow! Tentu saja! Seorang Kazami Ryo bisa membuat Yurika yang sedang bad mood tidak marah padanya saat menabrak Yurika?! Yah, tentu saja kaget, mereka kan tidak tahu kejadian dua hari lalu.

"Ah, Ryo-san, bagaimana kabar Shun-san?" tanya Yurika sambil tersenyum tipis.

Mendengar nama Shun disebut, Yami mulai mengepalkan tangannya kuat-kuat dan menggertakkan giginya. Dirinya berusaha menahan kekesalan yang mulai muncul pada dirinya.

Ya, ampun. Yami, gaman-gaman …. Tenangkan dirimu …, pikir Yami berusaha menenangkan dirinya.

"Dia … baik-baik saja," ucap Ryo dengan nada datar.

Entah kenapa, sepertinya Yurika mendengar sedikit keterpaksaan dari nada bicara Ryo. Yami yang sepertinya sudah tidak bisa menahan kekesalannya lebih lama lagi, langsung menarik tangan Yurika dan bersiap membawanya pergi dari sana.

"Ah, maaf, Kazami-san, kami harus segera pergi ke kelas," ucap Yami berusaha tersenyum dan bicara dengan nada ramah—walau kita semua tahu sang bintang utama ini sedang menahan kekesalannya.

Yami lalu menarik Yurika pergi sana dengan paksa. Ryo hanya terdiam sambil menatap kepergian kedua orang itu dengan tatapan datar, sedangkan Atem dan Yugi yag menyadari keemburuan Yami, hanya berusaha menahan tawa mereka saja. Dan …

"KYAAA~! ITU DIA RYO-KUN!" seru serombongan gadis dari arah berlawanan menunjuk-nunjuk Ryo dengan antusias.

Di belakang gadis-gadis itu, muncul gadis-gadis lainnya yang sejak tadi mencari Ryo di tempat yang berbeda. Tanpa banyak bicara, Ryo langsung mundur beberapa langkah sebelum berbalik badan dan …

"KABUUUR!" seru Yugi yang panik sambil menarik Ryo dan Atem pergi dari sana.

Eh? Tunggu-tunggu! Kenapa malah Yugi yang panik duluan? Ah, seperti kata temen author, orang bodoh memang panikan, jadi abaikan saja.

Mari kita ganti scene sebelum Yugi protes.

~XxX~

Di koridor, terlihat Yami menarik Yurika pergi dengan wajah kesal. Yurika kaget dengan tindakan Yami barusan, lalu memprotes tindakan sang mantan pharaoh itu.

"He-hei! Yami-kun! Kenapa kau tiba-tiba seenaknya begini?!" seru Yurika kaget setengah bingung.

"Tiba-tiba? Bukannya aku memang selalu seenaknya?" ucap Yami dengan nada kesal.

"Ah, iya, kau memang benar! Kau memang pharaoh yang seenaknya!" seru Yurika tanpa ragu dengan nada kesal karena Yami menjawab pertanyaannya dengan nada ketus.

Langkah Yami terhenti, ia lalu menatap Yurika dengan tatapan kaget. Yurika yang sadar akan ucapannya, langsung buru-buru menutup mulutnya. Yami lalu menatap gadis berambut blonde itu dengan tatapan tajam.

"Apa maksudmu?" tanya Yami dengan nada tajam.

"Ma-maksudku, kau pasti suka seenaknya saat menjadi pharaoh saat dulu!" seru Yurika buru-buru meralat kata-katanya sebelum Yami bertanya lebih jauh.

Yami menatap Yurika dengan tatapan curiga. Tidak mungkin, itu yang Yurika maksud. Pasti maksudnya tentang Pharaoh Atemu yang selalu bersikap seenaknya pada pesonal servant-nya, Hikari.

"Kau bohong, 'kan?" tanya Yami dengan nada curiga.

"Terserah kalau kau tidak percaya," ucap Yurika dengan nada berusaha meyakinkan sambil berjalan pergi dari sana dengan setengah canggung.

Baka! Bagaimana kalau Yami-kun curiga padaku?! ARGH! Tenanglah Yurika! Dia belum tentu si Atemu tidak jelas itu! pikir Yurika berusaha meyakinkan dirinya dalam hati.

Di lain pihak, kini Yami sangat yakin, Yurika pasti akan menjaui dirinya lagi …. Yah, hidup memang penuh tantangan. Memang nasibmu mendapat gebetan seperti itu, Yam. Tipe-tipe orang keras kepala dan sulit menerima kenyataan seperti Yurika memang susah untuk dihadapi.

~XxX~

"Wah, Otogi!"

"Hei, kau kembali!"

"Ya Tuhan! Makhluk dadu! Kau belum berubah sama sekali!"

"Wow, lensa kontak yang keren, Otogi-kun!"

Sang pemilik iris red crimson, Otogi Ryuuji, hanya mendengus kesal mendengar komentar teman-temannya saat dirinya memasuki kelas Jou untuk menemui gadis itu. Benar-benar, baru saja dia datang, ada saja yang memangginya makhluk dadu?! Terkutuklah Honda! Ia pasti menjadi sombong karena mendapatkan Shizuka dan memenangkan perang mereka! Yah, tak masalah juga, toh Ryuuji sendiri sudah menemukan cintanya.

"Siapa kau?" tanya Yurika sambil menatap Ryuuji dengan tatapan bingung.

Jou langsung merangkul Yurika dan tersenyum lebar pada gadis itu.

"Ah, Yurika, ini Otogi Ryuuji, teman kami yang baru saja kembali dari Amerika! Ryuuji, ini Kisaragi Yurika, teman lama si jamur, Yugi, dan Anzu yang baru saja kembali dari London," ucap Jou sambil memeperkenalkan kedua orang itu.

"Salam kenal, Yurika-san," ucap Ryuuji sambil tersenyum tipis.

Yurika menatap Ryuuji dengan tatapan curiga. Entah Cuma perasaannya atau apa, sepertinya sejak tadi Ryuuji terus memandangi Jou dengan tatapan yang agak … berbeda …. Apa mungkin Ryuuji menyukai Jou?

"Ya, salam kenal juga, Ryuuji-san …."

~XxX~

Setelah pulang sekolah, entah kenapa, Yurika langsung bergegas pergi dan berpesan pada Yugi untuk puang duluan bersama si kembar. Kini Yami benar-benar yakin, Yurika benar-benar menghindarinya. Bayangkan saja, di sekolah, Yurika sama sekali tidak mengajaknya bicara, dan sekarang, Yurika pergi entah ke mana tiba-tiba dan berpesan pada Yugi agar mereka bertiga pulang duluan! Tetapi apa benar kali ini Yurika pergi mendadak benar-benar karena menghindarinya?

Sementara di tempat lain—tepatnya Museum Domino—terlihat Yurika berdiri di depan museum satu-satunya di Domino itu dengan tatapan agak ragu. Dirinya lalu melangkahkan kakinya memasuki museum itu.

Di dalam museum, dirinya melirik ke sekitar, melihat keadaan museum itu. Benda-benda bekas pameran kemarin masih tertata rapi di tempat, hanya saja museum ini tidak seramai saat Yurika mendatangi tempat itu bersama yang lainnya.

Di depan sebuah batu tulis besar, kini terlihat Ishizu yang berdiri bersama seorang lelaki berambut dark chocolate. Mereka berdua terlihat membicarakan sesuatu yang serius. Yurika terbelalak lebar saat menyadari siapa lelaki yang berdiri di samping Ishizu saat ini.

"R-Rei …?" tanya Yurika tidak percaya sambil menunjuk sosok lelaki itu.

Ishizu dan lelaki itu, Suzuki Rei, langsung menoleh ke arah Yurika. Rei sempat terbelalak kaget, lalu tersenyum kecil saat menyadari kehadiran Yurika di tempat itu.

"Hisashiburi dana, Hime," ucap Rei dengan senyuman yang terlihat menyebalkan di mata Yurika.

Ishizu lalu berdehem pelan, dan berkata, "Jadi, kalian tahu kenapa kalian ada di sini sekarang?"

Ya, Ishizu sebelumnya memang sempat mengirimkan e-mail pada Yurika untuk menemuinya di Museum Domino. Tetapi siapa sangka dirinya akan bertemu dengan mantan pacarnya di museum itu?! Kalau tahu, Yurika juga tidak akan mau datang ke tempat itu! Dirinya bertambah kesal saat mendengar perkataan Ishuzi barusan, "kalian"? Berarti sejak awal, Ishizu yang memang berniat memanggil Rei dan dirinya ke tempat itu?!

"Yah, kau yang mengirimkan surat padaku seminggu lalu agar aku segera datang ke Domino dari Tokyo, 'kan? Dan kau bilang tadi, tentang mou hitori no ore yang tidak pernah kuketahui keberadaannya sebelumnya di dunia nyata dan kuanggap sebagai hantu di mimpiku. Jadi apa benar kalau dia—"

"Apa maksudnya semua ini, Ishizu-san?" tanya Yurika memotong perkataan Rei dan berusaha menahan emosinya.

"Yurika, kau harus tahu kenyataannya. Asal kau tahu, sebenarnya bukan hanya kau yang mengalami semua mimpi aneh itu, Rei juga mengalami mimpi-mimpi itu," ucap Ishizu.

Yurika terbelalak mendengar ucapan Ishizu. Apa katanya? Rei juga … mengalami mimpi aneh tentang Mesir Kuno itu …?

"Apa itu benar, Rei …?" tanya Yurika sambil menatap Rei dengan tatapan tidak percaya.

Rei mengangguk pelan.

"Ya, dan aku selalu melihat seseorang yang mirip dengan diriku bersama dengan seorang gadis yang mirip denganmu. Kalau aku tidak salah ingat, orang itu memangglnya Hikari," ucap Rei.

Yurika semakin terbelalak kaget. Hikari …? Jadi, Rei juga salah satu bagian dari masa lalunya …?

"Kau …? La-lalu, apa maksudmu tentang Ishizu-san membicarakan tentang Rikku …?" tanya Yurima penasaran, masih dengan nada tidak percaya.

Ishizu lalu melangkah mendekati Yurika, lalu mulai kembali angkat bicara.

"Soal mou hitori no Suzuki Rei yang biasa kau sebut dengan Rikku, dan juga orang yang selalu menghantui Rei di mimpi dan terkadang dapat mengambil alih kesadaran Rei … sebenarnya dia adalah … memori masa lalu dari Rei sendiri …," ucap Ishizu dengan nada tenang samba menatap kedua orang itu.

Kini kedua orang lainnya terbelalak. Mereka lalu memandangi satu sama lain dengan tatapan tidak percaya.

"Suzuki Rei, kalau kau sadar, pasti dulu banyak sekali beberapa kejadian yang tidak kau ingat. Dan juga, pasti ada beberapa kencan dengan Yurika yang tidak kau ingat. Itu semua terjadi karena kesadaranmu hilang mendadak, benar begitu?" tanya Ishizu.

Rei hanya mengangguk saja, masih belum mampu berkata-kata. Ishuzu lalu beralih pada Yurika dan menatapnya.

"Kisaragi Yurika, kau pasti mengenal sisi lain dari Suzuki Rei yang tenang dan selalu serius. Dia menggunakan nama Rikku, benar begitu?" tanya Ishizu.

Yurika mengangguk pelan dengan ekspresi sama seperti Rei. Memang benar, dirinya pertama kali menyadari keberadaan Rikku di kencan kedua dirinya dan Rei—tepatnya Rikku. Rikku, mou hitori no Rei sendiri yang memnta dipanggil seperti itu.

"Dan kembali padamu, Rei. Kau pasti juga sadar kalau hilang kesadaranmu semakin jarang terjadi beriringan dengan mimpi-mimpi aneh yang mulai kau alami dan munculnya memori-memori asing di kepalamu, benar?" tanya Ishizu pada Rei.

Lagi-lagi Rei mengangguk. Dirinya lalu mulai bertanya pada mantan pemilik Sennen Tauk itu.

"Apa hal itu terjadi karena aku mulai mengingat tentang hidupku sebelum aku hidup sebagai diriku yang sekarang? Dan apa sosok 'Rikku' yang merupakan ingatanku mulai menghilang karena aku mulai mengingat semua? Dan juga, apa Rikku akan menghilang kalau aku sudah mengingat semuanya?" tanya Rei penasaran.

Ishizu menggeleng, lalu berkata, "Iie, dia bukan hilang, tetapi dia mulai menyatu dengan dirimu.

Kini giliran Yurika membuka mulutnya dan bertanya dengan nada kaget, "Ja-jadi Rei benar-benar begian dari masa laluku?!"

Ishizu tersenyum kecil mendengar ucapan Yurika. "masa laluku", itu merupakan suatu peningkatan besar untu Yurika yang sejak awal selalu menyangkal mimpi-mimpi aneh yang dialaminya. Ishizu tahu, ini semua pasti berkat ka milik Yurika sendiri yang pernah dipinjamkannya pada Aishisu di masa lalu, Holy Elf.

"Kau sudah percaya dengan semuanya? Ah, pasti berkat Holy Elf," ucap Ishizu masih dengan senyuman di wajahnya.

Yurika langsung buru-buru menutup mulutnya. Ia mengutuki dirinya dalam hati karena bicara tanpa berpikir terlebih dahulu.

Sudah kuduga kalau Aishisu-san sadar dengan keberadaanku selama ini, ucap Holy Elf dengan santainya.

Yurika langsung menoleh ke arah Holy Elf. Dirinya kaget dengan kehadiran ka-nya yang begitu mendadak barusan.

Kau sadar kalau Ishizu-san menyadari keberadaanmu?! Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?! tanya Yurika pada Holy Elf dengan kesal.

"K-kau, monster dalam permainan Duel Monsters itu, 'kan?" tanya Rei sambil menunjuk Holy Elf.

Yurika menoleh dan menatap Rei dengan tatapan tidak percaya. Rei bisa melihat Holy Elf?!

Aku yakin kau mengenalku lebih dari itu, Rhei-san, ucap Holy Elf sambil terkekeh kecil.

"R-Rhei?" tanya Yurika bingung begitu mendengar panggilan yang dipakai Holy Elf untuk memanggil Rei.

Rei hanya menggaruk-garuk bagian belakang keaplanya yang tidak gatal dengan canggung. Ishizu tersenyum kecil menatap Holy Elf. Dirinya menatap Holy Elf seakan ingin berterima kasih pada roh suci itu. Holy Elf hanya mengangguk sebagai isyarat mengatakan sama-sama.

"Ishizu-san, aku masih memerlukan penjelasan di sini," ucap Yurika dengan nada tajam.

Ishizu terkekeh kecil dengan sikap tidak sabaran Yurika. Ia lalu menatap Rei sambil tersenyum lembut.

"Kau aktor yang cukup baik, Rei. Aku yakin, kau pasti sudah mengetahui semuanya dari Kazami Ryo, benar begitu, Suzuki Rei? Ah, iie, maksudku, Rhei-san?" tanya Ishizu sambil menatap Rei dengan tatapan tajam dan tersenyum mengerikan—setidaknya di mata Rei.

Yurika langsung menatap Rei dengan tatapan tajam. Rei menelan ludahnya menerima tatapan Yurika. Yurika lalu menatap Ishizu dengan tatapan serius setelah menyadari sesuatu.

"Kazami Ryo? Maksudmu … Kazami Ryo juga adalah reinkarnasi dari orang yang kukenal di masa lalu?!" tanya Yurika dengan nada tidak percaya.

Ishizu kembali tersenyum kecil, sementara Rei menatap Yurika dengan tatapan, "Kau mengenalnya?!"

"Benar sekali. Sekarang akan kujelaskan. Kisaragi Yurika, kau reinkarnasi dari Yukarina Hikari, personal servant dari Pharaoh Atemu," ucap Ishizu.

Sang reinkarnasi dari priestess pemegang Sennen Tauk itu lalu menatap Rei.

"Suzuki Rei, kau adalah reinkarnasi dari High Priest Rhei, pemegang Sennen Rod dan pendeta tertinggi sebelum Seth pada masa pemerintahan Pharaoh Aknamkanon," ucap Ishizu.

Rei mengangguk membenarkan perkataan Ishizu.

"Rikku, mou hitori no Suzuki Rei, dia adalah ingatan Rei sebagai High Priest Rhei yang akan bersatu dengan Rei seiring dengan kembalinya ingatan Rei," ucap Ishizu.

Kedua orang lainnya kini menatap Ishizu dengan tatapan tegang. Holy Elf hanya menatap ketiga orang lainnya dengan tatapan datar.

"Kazami Ryo, dia adalah …"

Ishizu memberi jeda pada perkataannya. Dari ruangan yang berada di belakang pungung Ishizu, kini keluar seorang lelaki bersuarai hitam kelam. Yurika dan Rei terhenyak kaget melihat sosok itu.

"… Reinkarnasi dari pengawal istana bernama Kaura …. Benar begitu, Ishizu-san?" tanya lelaki itu sambil membuka kedua iris hijaunya yang tadinya terpejam sambil tersenyum tipis yang mampu membuat semua wanita berteriak kegirangan kalau melihatnya—tentunya pengecualian untuk Yurika yang tidak tertarik pada lelaki, Ishizu yang tidak tertarik pada lelaki yang lebih muda, dan Ryou yang terlalu polos.

"Ryo! Ternyata setelah pindah dengan sepupumu, sekarang kau tinggal di Domino! Oh, jangan bilang … kalian satu sekolah ya?!" tanya Rei degan nada tidak percaya sambil menatap Yurika dan Ryo secara bergantian.

Kedua orang itu hanya mengangguk saja. Ishizu lalu berdehem tanda ingin melanjutkan penjelasannya.

"Komentarnya nanti saja. Kulanjutkan. Kaiba Seto, dia adalah reinkarnasi dari High Priest Seth, pemegang Sennen Rod setelah Rhei dan pendeta tertinggi pada masa pemerintahan Pharaoh Atemu. Aku sendiri, Ishtar Ishizu, adalah reinkarnasi dari Priestess Aishishu. Jounouchi Katsuya, dia adalah reinkarnasi dari Jouno, personal servant Pharaoh Seth sekaligus adik dari sang gadis naga putih—tepatnya orang yang memiliki Blue Eyes White Dragon sebagai ka-nya—Kisara. Lalu, orang yang merupakan reinkarnasi dari pemilik ka Red Eyes Black Dragon adalah … orang yang baru saja datang. Kalian harus menebaknya sendiri," ucap Ishizu.

Baru saja Yurika akan berkomentar untuk protes, Ishizu sudah kembali melanjutkan perkataannya.

"Dan yang terakhir … yang merupakan inkarnasi masa lalu Pharaoh Atemu adalah …"

.

.

Tsuzuku

.

.

Gia: Yap, akhirnya saya memutuskan untuk memperpendek plot-nya! Demi meringankan beban!

Yurika: Maaf kalau update-nya lama. Maklum, author-nya macet karena PLiS alias MOS dan FLC alias camping. Apalagi author-nya sempet sakit maag dan pusing

Yami: Peran gue sedikit!

Seto: Gue cuma nampang nama?!

Yami: CUKUP! Nanti aja kalau udah tutup layar protesnya! Tanpa panjang lebar, bales review!

.

Psycho Childish Semi Hiatus:

Yurika: Gue juga ogah nyebutnya …. Males nginget si tua bangka nyebelin itu ….

Yuki: Itu masih muda kali =A="

Yugi: Maunya ngeledakin, cuma takut dibenci Atem aja TTwTT

Yami: Ha! Kalian mending cuma teriak-teriak! Jii-chan sempet kaget sampe pingsan coba pas tau ada scene sama surat itu!

Sugoroku: Kapan gue nongol lagi? TTwTT

Gia: Rencananya lu dinongolin lagi kok, Kek~ Mencurigakan u, Yura =A="

Jou: Muahaha! Gue emang pas-pasan, tetapi bukan berarti gue bego~

Gia: APA?! Nanti gue cariin typo-nya! OAO Buru-buru sih bikinnya! Chap ini juga pasti alurnya kecepetan dan typo-nya lumayan banyak yang kelewat TTwTT

Ryo: Tenang saja, itu bukan ayahmu kok

Gia: Gue gak mau dibunuh Kisara A dengan make Akhmer di sini TTwTT

Bakura: Selama keputusan si Gia itu Ryou ending-nya tetap sama gue sih oke aja, masalahnya, ini masih belom jelas! OAO

Gia: Udah jelas kok, cuma gue males kasih tau lu aja~

Yami: GAAAK! HARUSNYA GUE YANG DIDUKUNG! OAO

Yurika: HA! MAKAN TUH PHARAOH EGOIS!

Gia: Bahagianya yang bebas. Selamat nak! XD

Yami: Iya deh, gue bersyukur TTwTT

Atem: Thanks for review!

.

fetwelve:

Yugi: SETUJU! BOLOS A—

Yurika & Atem: *Deathglare Yugi*

Yugi: *Merinding*

Seth: Enak aja, gue bukan setan =A="

Seto: maksudnya gue sama si anjing ini? *Nunjuk Jou*

Jou: Gue manusia!

Gia: Ya. 'kan?! XD

Atem: Thanks for review!

.

The Exodia:

Pegasus: *Nongol* SIAPA?! KAU TAU ANAKKU DI MANA?! OAO

Shun: *Dorong Pegasus* Jangan minta info di sini, Pak

Gia: Soal anak Pegasus, bakal kubahas lagi di chapter depan, pas Yurika dan trio kembar pulang ke rumah :3

Yurika: Gue jadi penasaran soal anaknya Pegasus nih -w-

Yugi: Yosh, thaks for review! ;D

.

Gia: Oke, saya minggat dulu! Masih ada fic GX yang mesti gue urus dan dua fic DM lainnya! *Kabur*

Yurika: Ceh, nih anak kayaknya akhir-akhir ini sibuk terus

Yaami: Maaf kalau ada typo dan kesalahan lain

Atem: Maaf juga atas update yang lama

Yugi: Makasih udah baca chapter ini!

Seth: Author sangat berterima kasih untuk para readers yang sampai saat ini masih mengikuti fic yang entah kenapa makin gaje dari hari ke hari ini ….

Seto: Selamat menunggu chapter depan, jika berkenan ….