The Next Journey

.

By: Gia-XY

.

Previously:

"Kazami Ryo, dia adalah …"

Ishizu memberi jeda pada perkataannya. Dari ruangan yang berada di belakang pungung Ishizu, kini keluar seorang lelaki bersuarai hitam kelam. Yurika dan Rei terhenyak kaget melihat sosok itu.

"… Reinkarnasi dari pengawal istana bernama Kaura …. Benar begitu, Ishizu-san?" tanya lelaki itu sambil membuka kedua iris hijaunya yang tadinya terpejam sambil tersenyum tipis yang mampu membuat semua wanita berteriak kegirangan kalau melihatnya—tentunya pengecualian untuk Yurika yang tidak tertarik pada lelaki, Ishizu yang tidak tertarik pada lelaki yang lebih muda, dan Ryou yang terlalu polos.

"Ryo! Ternyata setelah pindah dengan sepupumu, sekarang kau tinggal di Domino! Oh, jangan bilang … kalian satu sekolah ya?!" tanya Rei degan nada tidak percaya sambil menatap Yurika dan Ryo secara bergantian.

Kedua orang itu hanya mengangguk saja. Ishizu lalu berdehem tanda ingin melanjutkan penjelasannya.

"Komentarnya nanti saja. Kulanjutkan. Kaiba Seto, dia adalah reinkarnasi dari High Priest Seth, pemegang Sennen Rod setelah Rhei dan pendeta tertinggi pada masa pemerintahan Pharaoh Atemu. Aku sendiri, Ishtar Ishizu, adalah reinkarnasi dari Priestess Aishishu. Jounouchi Katsuya, dia adalah reinkarnasi dari Jouno, personal servant Pharaoh Seth sekaligus adik dari sang gadis naga putih—tepatnya orang yang memiliki Blue Eyes White Dragon sebagai ka-nya—Kisara. Lalu, orang yang merupakan reinkarnasi dari pemilik ka Red Eyes Black Dragon adalah … orang yang baru saja datang. Kalian harus menebaknya sendiri," ucap Ishizu.

Baru saja Yurika akan berkomentar untuk protes, Ishizu sudah kembali melanjutkan perkataannya.

"Dan yang terakhir … yang merupakan inkarnasi masa lalu Pharaoh Atemu adalah …"

.

Summary:

Baru saja identitas Pharaoh Atemu akan terungkap, tetapi tiba-tiba Atem datang, dengan membawa Yugi dan Yami?!

.

Disclaimer:

Yu-Gi-Oh! © Takahashi Kazuki

Story; Gia's OC: Kisaragi Yurika, Yukarina Hikari, Suzuki Rei, Rikku, Rhei © Gia-XY

Ryo's OC: Kazami Ryo © Aertyu Ghfd

.

Warning:

OC, OOC, OC as main lead, genderbend, typo(s), misstypo(s), semi-canon, sedikit bahasa Jepang, krisis kosakata, DLDR, dll.

.

Journey 12

Is All Revealed Now?

.

.

"Dan yang terakhir … yang merupakan inkarnasi masa lalu Pharaoh Atemu adalah …"

"Ishizu-san, bukankah sebaiknya kita biarkan orangnya mengaku sendiri?"

Semua menoleh ke asal suara itu. Terlihat kini Atem berjalan menuju ke arah mereka. Holy Elf langsung menghilangkan sosoknya dari sana begitu malihat Atem menghampiri majikannya.

"A-Atem?" tanya Yurika kaget melihat sosok gadis yang dikenalnya itu.

Atem tersenyum kecil, lalu menoleh ke belakang. Di belakangnya, terlihat Yugi sedang menyeret Yami bersamanya untuk masuk ke dalam.

"KALIAN BERDUA! APA MAKSUDNYA SEMUA INI HAH?!" Seru Yami kesal.

Dirinya meronta berusaha melepaskan diri dari tarikan Yugi. Yami lalu melepaskan tangannya yang ditarik lengan Yugi dan melipat tangannya di depan dada.

"Kenapa semuanya berkumpul di sini?" tanya Yami.

Semua orang di sana menatap Yami dengan tatapan semua mengenal Yami—yah, tentu saja beberapa dari mereka mengenal Yami hanya dalam bentuk dirinya yang di masa lalu.

"I-itu … ouji-sama …? A-atau gadis yang di sebelahnya itu yang ouji-sama …? Atau mungkin lelaki yang satunya lagi …?" tanya Rei kaget.

Atem menggeleng pelan, lalu menununjuk Yami dan Yugi. Yugi hanya menatap Yami saja, mengisyaratkan lelaki itu untuk berbicara.

"Mou hitori … maksudku … Yami, bukankah saatnya kau bicara?" tanya Yugi dengan senyum lebar.

Yami mengernyitkan alisnya bingung. Apa maksud Yugi? Yugi menyuruhnya mengakui identitas masa lalunya pada semua orang di sana? Oh Ra, permainan apa lagi yang harus dihadapinya.

"Pharaoh Atemu, tidak baik membuat semua orang menunggu, 'kan?" tanya Atem dengan nada menuntut sambil memejamkan matanya.

Yami menatap Atem dengan tatapan bingung. Ada apa sebenarnya di sini?

"Hmph, Ishizu, apa kau juga yang memanggil mereka bertiga ke sini?" tanya Ryo dengan nada datar.

Ishizu menggeleng pelan. Dirinya lalu menatap Atem dan Yugi bergantian dengan tatapan bingung.

"Kalian ini … siapa …? Bagaimana kalian tahu kalau aku mengumpulkan mereka semua di sini …?" tanya Ishizu kaget.

Atem menatap Yugi dan Ishizu bergantian, lalu menghela napas pelan.

"Maaf, sepertinya aku lupa memperkenalkan diri ya?" tanya Atem.

"Yah, bukan hanya kau, sepertinya aku juga, Athemurin," ucap Yugi sambil menyeringai lebar.

Atem tersentak mendengar panggilan yang digunakan Yugi padanya. Panggilan itu kan …

Yugi lalu berjalan menghampiri Yami dan berlutut di hadapannya. Yami hanya menatap kelakuan aibou-nya itu dengan tatapan bingung. Kenapa tiba-tiba Yugi berlutut di hadapannya? Dan apa maksud perkataannya tadi?

"Perkenalkan, Pharaoh, namaku Mutou Yuugi, reinkarnasi dari penduduk Lembah Dewa bernama Heba. Aku orang yang ditugaskan ketiga dewa untuk membantumu dan personal servant-mu, Yukarina Hikari mendapatkan kembali ingatan kalian, terntunya bersama reinkarnasi dari Athemurin," ucap Yugi sambil tersenyum kecil.

Yurika, Atem, dan Yami terbelalak mendengar pengakuan Yugi. Atem perlahan tersenyum kecil, lalu mengikuti tindakan Yugi dengan berlutut di sebelah Yugi.

"Dan, Pharaoh, namaku Sennen Atemu, tepatnya kembaranmu, dan juga reinkarnasi dari penduduk Lembah Dewa bernama Athemurin. Aku dikirim ketiga untuk membantumu dan personal servant-mu, Yukarina Hikari, begitu kau diberi tubuh di dunia ini," ucap Atem dengan nada hormat.

Yami hanya bisa terdiam saja melihat tindakan aibou dan futago-nya. Yurika yang bingung akhirnya mulai membuka mulutnya.

"Apa maksudnya semua ini?! Aku benar-benar tidak mengerti!" seru Yurika.

Atem berdiri dari tempatnya, lalu menghampiri Yurika.

"Yurika, tepatnya, Hikari-sama, anda tidak ingat pernah membantu Heba menyelamatkanku saat aku hampir terjatuh ke jurang?" tanya Atem sambil tersenyum kecil.

Yurika terkesiap kaget. Ingat! Dirinya ingat! Ya, benar! Ia pernah melihat kejadian itu di mimpinya!

"Jadi, kau Athemurin, saudara kembar Pharaoh Atemu?" tanya Ishizu sambil tersenyum kecil.

Atem hanya tersenyum lebar saja, lalu menatap Yami dengan tatapan tajam. Yugi berdiri, lalu merangkul Yami dan berbisik ke arahnya dengan nada mengerikan.

"Nah, Pharaoh, jangan memperpanjang kebingungan semua orang di sini. Cepat katakan," ucap Yugi dengan senyum mengerikan.

Yami hanya meringis saja mendengar nada bicara Yugi. Di lain pihak Yurika, Rei, dan Ryo menatap Yami dengan tatapan horor.

"Yuu, apa maksud semua ini sebenarnya?" tanya Yurika dengan nada menuntut.

Yugi menyenggol lengan Yami, mengisyaratkan mantan pharaoh itu untuk berbicara. Yami hanya mengangguk pasrah, lalu menatap Yurika, Rei, dan Ryo dengan tatapan terpaksa. Belum sempat Yami berbicara, seseorang sudah mendahuluinya untuk bicara.

"Lama tidak bertemu, Ouji-sama," ucap Rei dengan senyum menyindir.

Yurika, Yami, dan Ryo terbelalak mendengar nada bicara Rei. Yurika terbelalak melihat perubahan sifat mantan pacarnya itu. Bukan, Yurika tahu yang di depan mereka sekarang itu bukan Rei. Ia adalah …

"Ri-Rikku?"

Semua yang ada di sana langsung menoleh ke arah Yurika dan menatap gadis itu dengan tatapan kaget—tentunya kecuali Rikku yang sejak tadi hanya tersenyum lembut ke arah gadis itu. Bagaimana bisa ia membedakan yang mana Rei dan mou hitori no Rei? Yah, untuk Yurika, itu bukan suatu hal yang sulit. Gadis itu 'kan sudah pernah berpacaran dengan Rei selama setengah tahun, tidak aneh kalau ia bisa membedakan Rei dan Rikku.

"Sudah beberapa hari tidak bertemu, Hime," ucap Rikku.

Yurika hanya mendengus kesal saja mendengar ucapan Rikku. Dasar, bisa-bisanya ia masih bicara dengan nada santai begitu dalam keadaan seperti ini. Yurika menghela napas pelan, lalu tersenyum kecil. Yah, begitulah Rikku, santai tetapi serius.

"Kau … siapa …?" tanya Yami dengan penasaran.

Rikku menoleh ke arah Yami, lalu tersenyum kecil. Yurika memajamkan matanya, berusaha mengingat-ngingat sosok masa lalu Rei yang sempat disebutkan oleh Ishizu tadi.

"Kau lupa padaku, Ouji-sama? Ah, benar juga. Kita 'kan sudah lama tidak bertemu, tidak aneh kalau kau lupa denganku. Lagipula aku hanya bagian kecil dari ingatan masa lalumu. Kalau begitu, perkenalkan, Ouji-sama, namaku Rikku, ingatan masa lalu Suzuki Rei sebagai Rhei," ucap Rikku sambil tersenyum kecil.

Yurika terbelalak medengar ucapan Rikku. Ia lalu langsung membuka mulutnya sebelum sang mantan pharaoh sempat berbicara.

"R-Rhei? A-aku ingat!" ucap Yurika dengan nada kaget setengah tidak percaya.

Rikku hanya tersenyum kecil saja mendengar ucapan Yurika.

"Akhirnya kau ingat, Hikari. Yah, kau tahu, waktuku sudah tidak lama," ucap Rikku sambil tersenyum kecil.

Yurika memandangi Rikku dengan tatapan sedih. Dirinya mengerti, Rei pasti mulai mengingat dirinya sebagai Rhei, sebab itulah waktu Rikku sudah tidak lama lagi.

Rikku akan segera menghilang …, pikir Yurika sedih.

Butiran mutiara bening mulai berusaha keluar dari kedua iris blue aquamarine Yurika. Rikku tersenyum lembut pada Yurika, lalu menghapus air mata gadis itu.

"Aku tidak akan menghilang, Hikari. Kita akan bertemu lagi. Aku akan bersatu dengan ingatan Suzuki Rei, kami akan menjadi satu. Kita akan bertemu lagi, pasti …," ucap Rikku sambil memeluk gadis di depannya itu.

Yurika membalas pelukan Rikku, lalu mulai mengeluarkan seluruh air matanya dan menangis dalam pelukan Rikku. Yami hanya bisa menahan emosinya saja sambil mengepalkan tangannya kencang-kencang. Oh, Ra, dirinya memang tidak bisa tahan kalau gadis yang dicintainya berdekatan dengan lelaki lain. Sementara di lain pihak, Ryo masih berwajah datar, tetapi di tubuhnya mulai mengeluarkan aura membunuh yang membuat Yugi hanya bisa bergidik ngeri di tempatnya.

Perlahan, tubuh Rikku mulai memberat dalam pelukan Yurika. Yurika terkesiap, ia berusaha menahan tubuh Rikku—tepatnya Rei yang mulai tertarik oleh sang magnet bumi. Ishizu menghela napas pelan, lalu mulai berbicara.

"Sepertinya Suzuki Rei dan Rikku sudah bersatu sepenuhnya. Saat ia sadar nanti, ia pasti sudah mengingat semuanya," ucap Ishizu sambil tersenyum kecil.

Yurika menghapus air matanya, lalu berusaha memapah lelaki yang tadi dipeluknya itu dan menyandarkan punggungnya di dinding. Yugi dan Atem hanya tersenyum mengejek saja pada Yami, sementara Yami mendengus kesal menerima tatapan kedua orang itu. Menyebalkan merupakan satu kata yang tepat bagi Yami untuk mendeskripsikan keadaan yang baru saja terjadi.

"Lalu, ada yang ingin kau sampaikan, saudara kembar?" tanya Atem dengan nada menyindir.

Yami hanya menatap Atem dengan tatapan membunuh saja, lalu berdehem pelan.

"Ah, ya, baiklah, aku mengaku sekarang juga," ucap Yami dengan nada kesal sambil menoleh ke arah Yugi dan Atem yang kini tersenyum puas penuh kemenangan.

Yurika dan Ryo menoleh ke arah Yami. Yurika menatap Yami dengan tatapan horor, sementara Ryo hanya menatap Yami dengan tenang seakan ingin mengatakan, "Aku sudah tahu semuanya."

"Aku … Atemu …," ucap Yami sambil mengehela napas pasrah.

Yurika hanya menaikkan sebelah alisnya saja, lalu mendakati Yami. Dan ia … demi Osiris! Siapa sangka Yurika akan menyentil dahi mantan majikannya itu! Yami hanya meringis kesakitan saja sambil menatap Yurika dengan tatapan, "Untuk apa sentilan itu?!"

"Ha! Aku tidak menyangka tebakanku benar! Kau, pharaoh tidak tahu diri! Saatnya kau mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu bodoh!" seru Yurika kesal.

Semua orang terbelalak kaget melihat reaksi Yurika barusan. Demi Obelisk! Tidak ada yang menyangka Yurika akan menghadapi semua kenyataan dengan santai begitu! Mereka kira Yurika akan shock, lalu menghindari Yami beberapa hari, seperti yang biasa dilakukannya! Ckck, seorang Kisaragi Yurika memang sulit ditebak.

"H-hei! Mempertanggung jawabkan apa?!" seru Yami kesal.

Yurika hanya menatap sang mantan pharaoh dengan tatapan sinis.

"Kau memang belum ingat, pura-pura tidak ingat, atau tidak tahu?! Tentu saja mempertanggung jawabkan semua perbuatan menyebalkanmu yang seenaknya di masa lalu!" seru Yurika kesal.

Ia lalu menyeret Yami keluar dari museum. Yami hanya kelabakan saja dengan tindakan mantan pelayan pribadinya itu. Jika kalian melihat baik-baik, maka kalian akan melihat sebuah senyuman tipis terlukis di wajah gadis berambut blonde itu.

Aku ingat semuanya. Tetapi, kenapa bisa semudah ini aku mengingat semuanya? Ah, tidak penting, yang penting aku sudah ingat semuanya. Tentang Rhei, Kaura, Athemurin, Heba, dan yang terpenting, tentang kenanganku bersama Atemu-san …, batin Yurika senang.

Dalam hatinya, Yurika sudah merencanakan untuk menyelesaikan semua masalah lainnya setelah ia menyelesaikan masalahnya dengan mantan majikannya itu.

Ishizu hanya tersenyum kecil saja melihat Yami dan Yurika yang kini menjauh meninggalkan museum itu. Kini Ryo menatap Yugi dan Atem dengan tatapan datar, lalu ia tersenyum tipis.

"Sudah kuduga, kalian memang Athemurin dan Heba …," ucapnya.

Yugi tersenyum kecil, lalu menatap Atem dan Ryo secara bergantian.

"Yah, aku juga sudah tahu, kau pasti Kaura. Aku minta maaf karena tidak bisa membantumu meraih cintamu. Masalahnya gadis menyebalkan itu sudah memilih calonnya," ucap Yugi sambil menghela napas pelan.

Ya, Yugi dan Atem—tepatnya Heba dan Athemurin—mengenal Kaura. Kaura adalah pengawal yang sempat menemani Hikari saat gadis itu berjalan berkeliling Lembah Dewa. Bertepatan pada hari saat Kaura menemani Hikari, pada hari itulah Hikari membantu Heba menyelamatkan Athemurin.

"Aku … tidak masalah …. Selama ia bisa mendapatkan apa yang membuatnya bahagia, aku sama sekali tidak keberatan, walau harus mengorbankan perasaanku sendiri …," ucap Ryo sambil tersenyum kecil.

Yugi dan Atem lalu menoleh ke arah Rei yang kini terduduk tidak sadarkan diri.

"Berarti, tinggal dia …. Apa dia akan merelakan Yurika bersama Yami …?" tanya Atem dengan nada khawatir.

Yugi menyentuh pundak Atem, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum lembut, mengatakan agar Atem tidak usah khawatir dengan masalh itu.

"Itu masalah mereka, Atem. Sekarang aku yang ingin bertanya …"

Yugi menatap Atem dengan tatapan serius. Atem hanya mengernyitkan alisnya bingung.

"Kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau kau adalah kembaran Pharaoh Atemu, hah?" tanya Yugi sambil tersenyum mengerikan.

Atem hanya tersenyum canggung saja, lalu melirik Ishizu , berusaha meminta bantuan reinkarnasi dari mantan priestess penjaga Sennen Tauk itu.

"Yuugi-san, ada alasan sendiri kenapa Athemurin tidak pernah memberitahu Heba soal hal itu," ucap Ishizu.

Yugi menatap Ishizu dengan tatapan bingung, sementara Atem hanya menghela napas lega saja karena lepas dari tatapan mengerikan Yugi.

"Jika yang ratu melahirkan anak kembar, maka hanya anak yang lelaki yang boleh tinggal di istana dan menjadi pemimpin kerajaan. Jika yang lahir memiliki gender yang sama, yang lebih tua 'lah yang berhak tinggal dan memimpin kerajaan. Dan lagi, yang dibuang harus melepas status mereka sebagai kerabat penguasa kerajaan itu," jelas Ishizu.

Yugi tersentak kaget, ia lalu menatap Atem yang menunduk lesu dengan tatapan tidak percaya. Semiris itukah nasib Athemurin? Dibuang dan dilupakan oleh seisi kerajaan? Itu sungguh kejam!

"Maaf, aku tidak tahu kalau sebenarnya kau mendarita selama ini," ucap Yugi dengan nada menyesal sambil menghampiri gadis itu.

"Tidak apa-apa …. Lagipula, itu bukan berarti orang tuaku di masa lalu melupakanku …. Mereka masih mengunjungiku diam-diam, walau dilarang dalam peraturan kerajaan …. Lagipula aku tidak berpikir aku menderita. Aku bersyukur karena memiliki sahabat sebaik Heba dan yang lainnya," ucap Atem sambil tersenyum lembut.

Yugi tersipu malu mendengar ucapan Atem. Sungguh, perasaannya memang tidak bisa dibohongi. Dirinya kembali mencintai gadis itu walau sudah 3000 tahun berlalu ….

"Ah, dan, Yugi, kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau ini Heba, dan juga soal kau yang juga ditugaskan ketiga dewa?" tanya Atem bingung.

"Yah, aku hanya ingin membuatmu kaget pada saatnya saja. Ahahaha!" ucap Yugi sambil tertawa puas.

Atem menggembungkan pipinya kesal. Berani-beraninya Yugi mengerjainya seperti itu!

"Maaf, bukannya mau mengganggu, tetapi aku ingin bertanya …."

Yugi dan Atem lalu menoleh ke arah Ryo yang kini mulai mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya.

"Apa kalian yang mengirim surat seperti ini kepadaku dan Rei …?"

Di tangan Ryo, kini terdapat sebuah amplop putih dengan tulisan, "Kepada: Kazami Ryo (Kaura)"

Yugi dan Atem terbelalak kaget melihat surat di tanan Ryo. Tidak, mereka tidak pernah mengirimi surat seperti itu pada siapapun! Merasa mengenali tulisan di amplop yang dipegang Ryo, Yugi mulai melangkah mendekati lelaki berambut hitam kelam itu.

"Aku tidak pernah mengirim surat seperti ini pada siapapun, dan sepertinya Atem juga. Ah, ya, maaf, aku boleh pinjam sebentar?" tanya Yugi.

Ryo mengangguk, lalu memberikan amplop di tangannya itu kepada Yugi. Yugi mengamati amplop itu dengan seksama. Dirinya berusaha mengingat-ngingat tulisan siapa yang mirip dengan tulisan di atas surat itu. Dirinya lalu terbelalak mengingat tulisan milik siapa yang berada di atas surat itu.

"I-ini kan tulisan …"

~XxX~

"Jadi, pertanggung jawabkan semuanya dengan menjawab pertanyaanku, Ousama," ucap Yurika dengan nada kesal.

Kini Yurika dan Yami berada di kamar milik Yurika sambil duduk di atas kasur yang berada di kamar itu.

"Kenapa kau berani memerintahku seenaknya saat dulu?" tanya Yurika masih dengan nada kesal.

Yami hanya menggaruk-garuk pipinya canggung sambil berusaha memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan gadis itu.

"Er … karena … aku lebih berkuasa …?" ucap Yami ragu.

Yurika mendengus kesal, lalu menatap sang mantan majikan dengan tatapan tajam.

"SERIUS!" seru Yurika kesal.

"Baik-baik! Aku … hanya ingin memonopolimu …. Aku kesal melihatmu didekati oleh Rhei dan Kaura …," ucap Yami jujur pada akhirnya.

Yurika tertegun mendengar jawaban Yami. Dirinya lalu tersenyum kecil pada lelaki itu.

"Baiklah, kurasa kau tidak ingin membahas ini lebih jauh lagi. Lalu, aku ingin bertanya … soal perkataanmu sebelum aku diculik oleh Bakura …. Apa kau serius dengan perkataanmu …?" tanya Yurika sambil menundukkan kepalanya.

Yami terdiam mendengar pertanyaan mantan pelayan pribadinya itu. Kenapa gadis itu masih mempertanyakan soal hal itu? Sudah jelas 'kan kalau dirinya serius saat itu?!

"Aku serius saat itu, sangat serius …. Aishiteru …. Perasaan itu masih sama sampai sekarang …. Bagaimana denganmu?" tanya Yami.

Wajah Yurika memerah mendengar jawaban Yami. Jadi ia serius? Dan lagi perasaan itu masih ada sampai sekarang …?

"A-atashi …. Oke-oke, dengarkan aku baik-baik, Baka Pharaoh, karena tidak ada siaran ulang setelah ini," ucap Yurika pada akhirnya.

Yami hanya tersenyum senang saja sambil menatapi sang gadis berambut blonde itu.

"Hai, aku masih menunggu jawabanmu, Ririi-chan," ucap Yami.

"Atashi …, matte …. Kenapa kau memanggilku seperti itu?" tanya Yurika bingung.

"Namamu Yurika, Yuri dalam artian lain itu Ririi, 'kan? Lagipula, bukannya itu nama yang kau gunakan di program chatting?" tanya Yami bingung,

Yurika tersentak kaget. Yami tahu nama yang digunakannya dalam salah satu program chatting yang dipakainya?

"K-kau … bagaimana kau bisa tahu …?" tanya Yurika penasaran.

Yami melipat tangannya di depan tangan sambil memejamkan matanya. Yurika menatapi Yami, menunggu jawaban yang keluar dari mulut sang mantan pharaoh.

"Simpel saja, aku Dark_Pharaoh, Ririi-chan," ucap Yami sambil terdenyum lebar.

"HAH?! I-ITU KAU?! TUNGGU! Itu masih belum memberi alasan yang jelas untuk pertanyaanku!" seru Yurika kesal.

"Oke-oke, akan kujawab dengan jelas. Aku tahu itu kau karena 'Kirei Ririi' itu sebenarnya arti namamu sendiri, 'kan?" tanya Yami.

Yurika tertegun sebentar, lalu mengangguk pelan.

"Kalau begitu, aku sekarang menuntut jawabanmu, Ririi," ucap Yami.

Yurika tertunduk malu sebentar, ia lalu mulai membuka mulutnya untuk berbicara.

"A-atashi … Yami-kun, aishiteru mo," ucap Yurika dengan wajah tersipu malu.

Yami hanya tersenyum kecil, lalu memeluk Yurika dengan erat. Yurika tersenyum kecil, lalu membalas pelukan Yami.

"Ngomong-ngomong, apa Yuu dan Atem belum kembali juga, ya?" tanya Yurika penasaran.

Yami melepaskan pelukannya, lalu menatap Yurika dengan tatapan bingung. Benar juga, suara mereka belum terdengar daritadi. Kira-kira apa yang mereka lakukan di museum sampai belum pulang sore begini? Tanpa disuruh, Yami mulai berdiri dan beranjak keluar dari kamar sambil menarik tangan Yurika. Yurika hanya mengikuti Yami saja tanpa melakukan perlawanan.

Baru saja keluar dari kamar, mereka berdua sudah disambul oleh Pegasus yang terlihat sedang berjalan dengan wajah gelisah.

"Pegasus-san?"

Pegasus langsung menengok ke arah kedua orang itu, lalu memegang kedua bahu Yami, masih dengan wajah gelisah.

"Yami Boy, Mahaado meneleponku! Katanya Sugoroku …"

~XxX~

"HAAAH?! PERTUNANGAN APA?!"

Di ruang tamu mansion keluarga Kaiba, terlihat Mokuba menatap Seto dengan tatapan bingung sekaligus kesal. Bagaimana tidak kesal? Bayangkan saja, kakakmu baru saja keluar dari ruang kerjanya, dan setelah itu, dengan ajaibnya, ia langsung berkata kau akan ditunangkan?! WOW! Benar-benar sebuah kejutan besar!

"Jujur, aku juga tidak setuju, tetapi …. Dengar aku Mokuba, ini wasiat dari ayah dan ibu. Aku tidak sanggup menolak permintaan mereka," ucap Seto dengan nada agak terpaksa.

Mokuba hanya menggeram kesal saja. Di atas meja, kini terdapat sebuah amplop. Kata sang pengacara yang sempat menghubungi Seto, amplop itu berisi surat dari ayah dan ibu kandung Seto dan Mokuba, beserta dengan foto tunangan Mokuba.

"Bertunangan bukan berarti menikah, 'kan? Terima saja. Kalau kau tidak suka dengan lelaki itu, kita batalkan pertunangan itu," ucap Seto dengan santainya.

Mokuba terdiam. Ia memutar otaknya, berusaha memberikan pilihan yang tepat untuk permasalahan yang dihadapinya.

"Baiklah …. Kalau begitu aku hanya cukup membuat lelaki itu kesal padaku. Bukan begitu, Nii-sama?" tanya Mokuba sambil menyeringai kesal.

Seto hanya mengangguk, kagum dengan kepintaran adiknya itu. Sejujurnya, Seto juga belum tahu siapa tunangan Mokuba. Ia sama sekali belum membuka amplop di depan mereka itu. Amplop itu ditujukan untuk Mokuba, karena itu Seto tidak berani membuka amplop itu. Hei, walau menyebalkan, Seto masih tahu etika!

Tetapi, siapa sebenarnya tunangan Mokuba?

.

.

Tsuzuku

.

.

Gia: "YES! MISTERI BESAR AKHIRNYA SELE—"

/BLETAK!/

Yugi: "DODOL LU! MASIH BELOM SEMUA! ITU SURAT! SURATNYA KAZAMI DARI SIAPA?!"

Shun: "Ehem, di sini Kazami ada dua."

Atem: "Er, maksudnya Yugi Kazami Ryo."

Rei: "Ha! Bener! Dari siapa tuh surat?!"

Ryo: *Ngedengus kesal* "Iya, itu surat dari siapa sih?"

Yami: "Emang isi suratnya apaan?"

Anzu: "Terus tentang anak Pegasus?"

Bakura: *Ngamuk* "KISAH CINTA GUE!"

Ryuuji: *Naha Bakura* "Soal Jou juga belom!"

Noa: "GUE JUGA BELOM NIH!"

Seto: "SIAPA YANG BERANI JADI TUNANGAN ADEK GUE HAH?!"

Gia: "Hadeh, pokoknya paling mentok Cuma boleh sampe 20 chapter deh nih fic!"

Yurika: "Ehem, kenapa ingatan kita semua bisa balik secepet itu? Apa karena author-nya gak bener?"

Gia: "HEH! SEMBARANGAN! Ada sesuatu di belakang semua itu tahu! Ah, ya, maaf chapter ini kesannya buru-buru!"

Jou: "Ano, bales review dulu."

.

yanty she angel:

Yurika: "Bukan mulai percaya, ini mah namanya percaya banget …."

Yami: "BUAHAHA! KISAH CINTA GUE SUDAH TUNTAS DARI SEGALA MARABAHAYA~"

Bakura: "GAH! GAK TERIMA! CURANG LU!"

Ryuuji: "Katsu masih aman kok di sini~"

Mokuba: "Gue nongol di scene terakhir! Yey!"

Gia: "Makasih, Dew!"

Atem: "Thanks for review!"

.

Ega Erlangga:

Yugi: "Gegara gue mirip mereka makanya disebut trio kembar."

Gia: "Ah, lu terlalu merendahkan diri, Ryo~"

Shun: "Peran yang gak mengnakkan banget, jadi pengawal. Gue jadi preman. Ckck."

Ryo: "Preman dari mana? Tampangmu sama sekali gak preman kok."

Anzu: "SIAPA?!" *Antusias*

Seto: *Ngelempar naskah ke Anzu* "Tuh, baca."

Anzu: *Baca naskah* "HAAAH?! MASA ANAKNYA PEGASUS ITU—"

Honda: *Bekep Anzu* "Jangan spoiler!"

Yugi: "THANKS FOR REVIEW!"

.

PC Semi Hiatus:

Yami: "Gue~!" *ngacungin tanda peace*

Gia: "Ah, gak apa kok! Gue juga males kok sejujurnya!"

Yurika: "Ya udah gak usah lanju—"

Gia: "GUE AUTHOR BERBAKTI YANG MAU NUNTASIN FIC SEBELUM PINDAH FANDOM TAU! Oh, ya, yang OC itu Rei dan Yurika beserta inkarnasi dan pribadi lainnya, punyaku. Ryo dan Shun juga OC, Cuma bukan punyaku. Sekian."

Yami: "Tenang, saingan tinggal sebiji."

Rei: *Glare Yami*

Jou: "Huahaha, katanya sih tuh author ngambil namanya dari game YGO yang entah judulnya apa."

Sugoroku: "YES! GUE PASTI NONGOL CHAP DEPAN! MUAHAHAHA!"

Gia: "Kakek-kakek sarap." *Sweatdrop*

Mokuba: "Thanks for review!"

.

Gia: "Oke, gue lanjut lagi fic lain!" *Ngibrit kabur*

Yurika: "Maaf kalau ada typo dan kesalahan lain."

Yugi: "Thanks for reading."

Atem: "Kalau berkenan, silahkan tunggu chapter depan!" *Senyum malaikat*