Barangkali hari ini akan berjalan tenang seperti biasa, barangkali, kalau saja Sakura tidak tiba-tiba memutar percakapan dan berkata, "Kudengar, dia akan mendatangi acara reuni angkatan kita Sabtu malam ini."

Dan Naruto juga tak semestinya merespons ucapan tunangannya yang berambut merah muda itu hingga pembahasan topik ini pun berbuntut panjang.

"Hah? Benarkah?"

"Serius, Shikamaru sendiri yang mengabariku—yah, dia kan ketua acara reuni kali ini, kau dapat membayangkan bagaimana ia meneleponku sambil bergumam 'merepotkan, merepotkan' berulang-ulang."

"Kalau begitu, baguslah—dan tidak, sayang, terimakasih, aku tidak ingin membayangkan wajah Shikamaru saat ini—sebab, menurut kabar simpang siur, semenjak pernikahannya dibatalkan, ia hampir tidak pernah menunjukkan keberadaannya lagi."

Yang diajak berbicara hanya tersenyum masam.

"Setahun sudah berlalu, tapi sampai sekarang aku masih merasa kasihan padanya. Padahal undangan sudah disebar, dan kukira mereka selama ini merupakan pasangan ideal," lantas sepasang mata Sakura tiba-tiba menyipit, "awas saja kalau kau juga berbuat seperti itu kepadaku."

"Sakura, bagaimana mungkin aku bisa—"

Ah.

Sasuke tidak ingin menceritakan lebih lanjut bagaimana kedua sejoli yang tengah makan siang bersamanya tiba-tiba melancarkan adegan mesra seperti yang sering ia lihat sekilas di opera sabun. Jujur saja, ia bahagia sewaktu Naruto mengumumkan bahwa Sakura menerima cintanya tiga tahun lalu, tepat setahun setelah mereka wisuda dari Kyoto University. Fakta bahwa Sakura sudah dapat lepas dari 'cinta diam-diamnya kepada Sasuke' tentu membuatnya lega. Terlebih, gadis asal Osaka itu akhirnya mau membuka hati untuk Naruto yang telah memendam cinta kepadanya semasa kuliah. Sasuke juga turut senang ketika Naruto mengabarkan rencana pernikahannya dengan Sakura enam bulan mendatang. Wajar saja, baik Naruto maupun Sakura sudah berusia dua puluh enam tahun, usia yang pantas untuk melakukan pernikahan. Hanya saja, belakangan mereka semakin keterlaluan—kadang, tanpa sebab, Sakura tiba-tiba saja merajuk, menanyakan kesetiaan Naruto, dan apakah, kelak, ia akan meninggalkannya. Otomatis, adegan bak sinetron kian sering hadir di kehidupan Sasuke.

Contohnya yang barusan ini.

Jengah, Sasuke pun mengizinkan dirinya. Tanpa menunggu persetujuan Naruto dan Sakura, ia beranjak keluar restoran—tentunya setelah meninggalkan bill. Arlojinya menunjukkan pukul setengah satu, tanda waktu istirahat makan siang masih tersisa setengah jam. Mengendarai mobilnya, ia memutuskan berkeliling mencari udara segar sebelum kembali ke kantor. Beruntung, jalanan di distrik Minato bagian utara lumayan lengang, beda jauh dengan kawasan Tokyo pusat, sehingga Sasuke tak perlu khawatir dengan macet dan kemungkinan terlambat—beban pekerjaannya sudah cukup besar, ia tidak ingin menambah masalah dengan mengusik ketenangan atasannya.

"Ah," pria bermata hitam gelap itu berseru kecil saat mendapati rokok di saku jaz-nya hanya tinggal sebatang, "dasar Naruto, tunggu saja sampai Sakura tahu kebiasaanmu mencuri rokokku," gumamnya sembari menyulutkan pemantik dengan sebelah tangan. Nyala oranye kemerahan perlahan membakar ujung rokok favoritnya. Sasuke diam beberapa detik—sedikit mengingat pesan ibunya kemarin lusa untuk berhenti merokok dan segera mencari pasangan—sampai akhirnya ia menyerah dan menghirup rokok beraroma mintz itu dalam-dalam, kemudian melepaskan asapnya ke luar jendela.

Perkataan Sakura samar-samar terngingang di kepalanya.

"Kudengar, dia akan mendatangi acara reuni angkatan kita Sabtu malam ini."

Sasuke menghela napas lagi.

Sudah berapa lama semenjak Sasuke terakhir kali bertemu dengan 'orang itu'?

Tiga tahun?

Empat tahun?

Benar, benar, empat tahun, dia ingat betul—tepatnya saat wisuda kuliah. Setelah itu, Sasuke beranjak ke Tokyo, bekerja sebagai junior arsitek di perusahaan pengembang real estate ternama milik Nona Tsunade. Ada kira-kira tiga tahun Sasuke sama sekali tidak mendengar kabar tentang 'orang itu' (mendengar namanya saja tidak), hingga suatu hari, sebuah paket warna merah muda berisi undangan pernikahan tiba di pintu apartemennya.

Hyuuga Hinata & Kiba Inuzuka.

Kyoto, 31 Desember 2011.

Lantas ingatannya yang telah terkunci seakan kembali terbuka—jalanan Kyoto yang dipenuhi kelopak bunga sakura saat musim gugur, langit yang hampir tak pernah terik, deretan kuil Shinto, tikungan di jalur sepeda dekat asrama mahasiswa, tempat membaca favoritnya di perpustakaan fakultas, momiji yang berwarna kemerahan, bangku-bangku kuliah yang ditata rapi, jus tomat dingin di vending machine kantin, mamezen soba, rintik hujan sore hari, sketsa bangunan masa depan yang ia rancang bersama Sai, surat cinta di selipan tasnya, dan seorang gadis dengan mata perak-lavender besar serta rambut indigo tua.

Hinata Hyuuga.

"Hah, aku mesti membeli rokok lagi."

Dia kembali.


Reaching You

by: Aya Kohaku

I just own the story, the original Naruto only belongs to Kishimoto-sensei.


Prologue: The Canceled Marriage

Mungkin Sasuke pernah mencintainya, mungkin juga tidak.

"Hinata, giliranmu!" Sakura mengulurkan mikrofon ke tangan gadis di sampingnya, diiringi tepuk tangan dan hiruk pikuk sebagian besar manusia yang ada di ruangan delapan kali sepuluh meter ini. Hinata, seperti biasa, tersenyum malu-malu seakan enggan, namun tangannya tetap saja menggenggam mikrofon yang diberikan Sakura kepadanya. Beberapa suara memberikan usulan soal lagu apa yang semestinya ia bawakan. Lagi-lagi, menjadi Hinata yang biasanya, ia hanya tertawa sambil menggeleng, mengatakan dengan pelan namun tegas bahwa ia akan menyanyikan lagu lain.

Sasuke melengos.

Benar, malam reuni yang telah direncanakan itu pun tiba. Karena yang hadir tidak begitu banyak, hanya 21 dari 45 alumni arsitektur Universitas Kyoto angkatan 2005 yang ada, Shikamaru selaku ketua acara memutuskan untuk menyewa satu ruang VVIP di tempat karaoke keluarga ternama di kawasan Shinjuku. Rata-rata yang datang memang mereka-mereka yang bekerja dan tinggal di sekitar Tokyo. Padahal, Shikamaru sudah memilih tanggal 29 Desember 2012 yang bergandengan langsung dengan libur panjang untuk memudahkan mereka yang berdomisili jauh, tapi ternyata masih saja ada kendala yang menghalang, seperti kehabisan tiket dan semacamnya—awalnya, ia ingin mengadakan reuni pada tanggal 31, sekaligus merayakan pergantian tahun, namun banyak yang menolak dengan alasan ingin menghabiskan waktu bersama keluarga. Jadilah, jadwal acara yang telah matang-matang disusun mesti dirombak habis-habisan. Untungnya, reuni masih dapat berjalan lancar.

"Yap, Hinata, kau ingin menyanyikan lagu apa?"

Tetapi ada hal lain yang lebih mengejutkan.

"Etto..."

Sebab ternyata, Hinata Hyuuga benar-benar datang.

"Emm..."

Ia benar-benar menampakkan dirinya.

"A-aku ingin menyanyikan lagu sedih," Sasuke dengar suara lembut itu berujar, "lagu tentang patah hati," Hinata melanjutkan dengan polos, namun tawanya masih belum hilang.

Tepuk tangan kembali diberikan untuknya, diikuti teriakan-teriakan salut dan kagum yang sedikit dipaksakan.

"Hinataaa, fighting!" nah, Naruto bahkan ikut memberikan semangat kepada gadis melankolis itu.

"Bagaimana kalau Someone Like You?" usul Chouji cepat. "Suaramu pasti cocok sekali menyanyikan lagu itu, Hinata."

Shikamaru berdecak kesal.

"Jangan," larangnya sambil merengut, "Temari hampir tiap hari menyanyikannya di kamar mandi. Setiap mendengar lagu itu, aku teringat suaranya."

"Hei, aku akan melaporkannya kepada kakakku," sahut Gaara tanpa menoleh, serius memerhatikan papan catur di hadapannya, "malam ini kau bersiap saja tidur di jalan, kakak ipar—yak, skak mat. Sasuke, kau berada di ujung tanduk sekarang."

Tekukan di wajah Shikamaru kian menebal.

"Baik, baik, aku diam. Jangan laporkan apa-apa padanya," dengus laki-laki berambut nanas itu yang disambut tawa riuh semua orang, bahkan Gaara yang 'mengintimidasi'-nya ikut terkekeh puas meski perhatiannya masih terpusat pada permainan caturnya dengan Sasuke—bungsu keluarga Uchiha itu sendiri tak dapat menyembunyikan senyum tipisnya, antara kasihan dan heran bahwa Shikamaru, teman semasa kuliahnya yang begitu jenius itu, bisa-bisanya takluk oleh seorang wanita.

Memang, sejak dulu, Shikamaru telah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Temari—ia sedang mengerjakan tugas kelompok di apartemen Gaara saat kakak perempuannya yang cenderung bertingkah blak-blakan itu datang berkunjung. Semenjak pertemuan singkat itu, Shikamaru terus mendekati Gaara demi mendapatkan akses lebih terhadap Temari. Yang didekati justru merasa risih dan salah paham. Gaara sampai berkata di hadapan umum bahwa ia laki-laki normal dan tidak memiliki sedikit ketertarikan pun terhadap Shikamaru. Bukan main piasnya wajah Shikamaru kala itu. Terlebih, khalayak publik yang sudah terlanjur menyaksikan 'penolakan' Gaara pun ikut salah paham dan menertawakannya.

Tapi kabar mengejutkan selalu datang di akhir. Empat bulan lalu, sebuah pernikahan sederhana digelar. Timeline di twitter sontak penuh dengan ucapan selamat kepada Shikamaru dan Temari—termasuk dari Gaara yang sebelumnya tidak pernah menunjukkan dukungan akan hubungan laki-laki pemalas yang jenius itu dengan kakaknya.

"Ka-kalau begitu, aku tidak jadi menyanyikan lagu patah hati," satu suara lembut kembali melantun. "Hmm, khusus untuk Shikamaru dan Temari-san, ka-karena aku tidak sempat menghadiri, err, pernikahan kalian," sejenak, Sasuke menautkan alisnya—suara Hinata terdengar sedikit bergetar sewaktu melafalkan kata 'pernikahan', "a-aku akan membawakan Tokyo ni mo Attanda!"

Sekonyong-konyong, penolakan terdengar dari berbagai penjuru.

"Etto, Hinata, bukankah itu juga lagu sedih?" protes Shikamaru.

"Itu lagu kesukaan mantan pacarku, aku tidak ingin mendengarnyaaa."

"Ano, Hyuuga-san, aku sarankan, kau tidak perlu menyanyikan lagu untuk mereka berdua, energimu akan terbuang sia-sia."

Oke, yang terakhir jelas merupakan saran-setengah-berbisik milik Gaara.

"Tidaaaak, Hinata, nyanyikan lagu Paramore, Paramore!" Naruto ikut menyuarakan pendapatnya. "Kau tahu, Decode, nyanyikan itu lagi seperti saat kuliah dulu!"

"Nee, nyanyikan Take a Bow dari Rihanna saja, aku juga sedang patah hati, Hinata-chan~"

Sampai di sini, argumen pun bertambah seru.

"Ah, tidak, One direction! Kau harus membawakan lagu One Direction."

"Jangan, AKB48!"

"SNSD!"

"Gangnam Style!"

Well, duh.

Sasuke hampir saja tidak ingat bahwa, semasa kuliah, gadis timid ini memang dikenal memiliki suara yang bagus.

"Iie, aku akan tetap membawakan Tokyo ni mo Attanda," ucapnya, tertawa renyah, "ka-kalian tahu 'kan, aku penggemar berat Masaharu Fukuyama."

Dan Sasuke juga hampir lupa bahwa gadis ini dekat dengan nyaris semua orang.

Hinata mungkin memang sering mengklaim bahwa ia tidak pintar bergaul, terutama dengan laki-laki. Awalnya, Sasuke percaya saja, melihat kegugupannya manakala berinteraksi dengan orang lain. Tetapi, dari apa yang Sasuke kerap lihat, seiring berjalannya waktu, hasilnya justru berbeda jauh. Barangkali karena dasarnya Hinata itu periang dan ramah (namun malu-malu) ia menjadi gampang dekat dengan perempuan yang ada di jurusan, entah itu seangkatannya, kakak angkatan, adik angkatan, ibu kantin, sampai dosen. Di samping itu, selama kuliah, laki-laki di kelasnya juga cenderung nyaman bila berada di dekat Hinata. Nyaman, dalam artian, mereka tidak merasa terusik ataupun terganggu. Netral, kurang lebih begitu. Sasuke rasa, sikap Hinata yang tenang dan tidak agresif adalah salah satu faktor penyebabnya.

Maka, tidak salah jika ucapan suka cita kontan berdatangan ketika undangan pernikahannya dengan Kiba Inuzuka, laki-laki yang kabarnya sudah ia pacari semenjak sekolah menengah atas, tersebar.

"Tokyo ni mo... Attanda... Konna, kirei na yuuhi ga..."

Begitupun sebaliknya.

Sewaktu kabar batalnya pernikahan Hinata resmi beredar.

"Damn, Hinata, kau membuatku ingin menangis," Sakura menutup muka dengan sepasang tangannya, menyembunyikan simpatinya.

"Aku bahkan sudah menitikkan air mata, Sakura-chan, ahaha."

"Yap, suara Hinata memang cocok menyanyikan lagu ballad semacam ini."

"Ah, aku jadi ingat ketika Hinata menyanyi di pentas seni fakultas—pertama kalinya aku tahu bahwa ia memiliki suara yang indah."

"Sebentar, sebentar, yang mana? Kapan? Aku tidak ingat."

"Haaah, kau ini bagaimana. Semester empat akhir, fakultas kita mengadakan pentas seni antar jurusan."

"Oh, ya, ya, aku ingat sekarang. Kalau tidak salah, dia membawakan, umm..."

"I can't make you love me," Sakura cepat menyahut, tak lagi berusaha menutupi sepasang matanya yang memerah dan berair, "aku ingat betul, dan dia membawakannya dengan piano. Aku ingin dengar Hinata menyanyikan lagu itu sekali lagi."

"Aku juga, aku juga ingin dengar Hinata menyanyikan lagu itu sekali lagi!"

"Uh, Naruto, kau menangis?"

"Diam, aku sedang berada dalam keadaan emosional!"

"Sakuraaa, kurasa tunanganmu mabuuuk."

Tawa riuh kembali mengalun, memenuhi seisi ruangan.

Sasuke mengalihkan matanya dari Gaara yang tersenyum sadis karena telah memenangkan permainan catur di antara mereka berdua, perlahan melirik pada kerumunan di hadapannya. Banyak jiwa yang berada di sana, banyak kepala dengan bermacam gaya rambut dan semprotan parfum bertumpukan jenis, tetapi lagi-lagi yang mampu ia tangkap hanyalah warna indigo biru tua, samar-samar, jatuh kontras di permukaan kulit putih porselen dan sepasang mata perak keunguan.

Sialan.

Selalu seperti ini, entah bagaimanapun Sasuke berusaha mencegahnya, namun matanya selalu bergerak sendiri, mencari-cari, lantas berhenti pada figur seorang Hinata Hyuuga.

Hinata Hyuuga yang begitu plain Jane, begitu biasa, begitu lugu, begitu polos, begitu aneh, begitu kikuk, begitu kaku, begitu pucat, begitu pemalu, begitu... begitu Kyoto, dan begitu... begitu Hinata.

Dia lupa kapan tepatnya, dia lupa apa alasannya dan bagaimana bisa, tahu-tahu hal ini sudah menjelma menjadi sebuah kebiasaan. Yang pasti, jauh sebelum penampilannya—atau bisa dibilang university debut-nya—di pentas seni fakultas akhir semester empat bertahun-tahun yang lalu, Sasuke sudah menyadari keberadaan gadis nyentrik itu. Ia bahkan tidak mengerti, mengapa harus Hinata Hyuuga, mengapa harus 'dia' yang Sasuke perhatikan gerak-geriknya, cara bicaranya, langkah kakinya, matanya yang membentuk bulan sabit setiap tertawa, kibasan rambutnya di bawah tiupan angin Kyoto, guguran sakura merah mudah yang jatuh di atas sepatu kanvasnya, bagaimana ia begitu senang dan tersenyum berlebihan acap kali hujan turun, dan hal aneh lain yang sebenarnya tak ingin Sasuke ketahui.

Mungkin Sasuke pernah mencintainya, mungkin juga tidak.

Ia bahkan bukan wanita yang dapat dibilang begitu cantik. Bukan, bukan berarti Sasuke mengatakan bahwa Hinata tidak menarik, tapi jika dibandingkan sekian banyak perempuan yang pernah ia kenal, Hinata masih berada di posisi menengah ke bawah. Postur tubuhnya agak chubby—tidak kurus tinggi langsing bak model papan atas—gaya berpakaiannya terkesan kuno, kulitnya terlalu pucat, dan rambutnya juga tak pernah dimodel macam-macam, paling-paling hanya diikat satu ke atas. Kadang, ia terlihat berbicara sendiri. Kadang pula, ia mengaitkan jimat sebagai gantungan kuncinya dan menyebarkan garam. Sasuke pernah mendengar gosip bahwa Hinata sebenarnya memiliki indera ke-enam. Background keluarganya pun sungguh tak biasa. Ibunya sudah lama meninggal, ayahnya seorang master dan pelatih kendo, kakak laki-lakinya yang merupakan seorang dokter memiliki rambut panjang dan kulit yang lebih halus ketimbang wanita, sementara adik perempuannya dikenal sebagai cenayang jenius yang sering melakukan penyucian roh halus pada beberapa upacara adat. Ia tinggal di rumah bergaya Jepang lengkap dengan doujo tempat ayahnya mengajar kendo, klinik kecil tempat kakak laki-lakinya membuka praktik di malam hari, dan jimat penolak bala buatan adiknya yang digantung di dahan-dahan pohon.

Yang paling parah, sewaktu Hinata ditanyai apa tujuannya seusai lulus dari universitas, bukannya memberi jawaban sebagaimana mahasiswa arsitektur pada umumnya, ia berkata akan menjadi guru taman kanak-kanak dan membuka sanggar menari tradisional.

Aneh, dia sangat aneh.

"Onegai da... Namida wa... kakusanaide kure~"

"Hi-na-taaa! Fighting!"

"Onegai da... Kokoro wa... nakusanaide kure~"

Tapi Sasuke sempat mencintainya.

"Yak, se-semuanya, ikut aku menyanyi! Tokyo ni mo... Attanda... Konna.. kirei na yoake ga~"

Mungkin memang iya, mungkin tidak sama sekali.

"Ureshii na Kimi ni misetai na... Kimi wa... genki kana..."


oOoOo


Sayangnya, Dewi Furtona sedang malas berada di pihak Sasuke.

"Hei, Sasuke," ia ingat Shikamaru memanggil namanya secara sembunyi-sembunyi di penghujung acara reuni, "apartemenmu dekat dari sini, kan?"

Firasatnya sudah tidak enak, namun tetap ia jawab saja pertanyaan mencurigakan laki-laki berambut nanas itu.

"Hn, kenapa?"

Dan instingnya sontak terjawab.

"Bagaimana kalau Hinata menginap di tempatmu? Ayolah, malam ini saja!"

Berusaha tetap tenang, Sasuke balik bertanya, "Bukankah adik perempuannya, sepengetahuanku, kuliah di Universitas Tokyo? Mengapa tidak menginap di tempatnya saja?"

"Adiknya tinggal di asrama mahasiswa," jelas Shikamaru, frustrasi, "malam sudah terlalu larut, asrama mahasiswa tutup dua jam yang lalu, ia belum mem-booking hotel, Sakura tinggal dengan Naruto, aku sudah menampung Gaara, yang lainnya sudah kutanyai satu-satu dan tak ada yang bisa, yang dapat kuharapkan hanya kau, Sasuke—tambahan lagi, apartemenmu 'kan luas. Kau tega membiarkannya pontang-panting sendiri di jalan? Ingat, Tokyo bukan kota yang aman bagi perempuan."

Mendengar alasan Shikamaru yang serinci itu, bagaimana Sasuke mampu menolaknya?

Maka, dengan perpaduan antara ikhlas, gugup, dan berat hati, Sasuke pun menyanggupi permintaan sahabatnya. Dan, akhirnya, di sinilah dia, di apartemennya, berdua saja bersama gadis yang empat jam terakhir tak berhenti membuatnya sakit kepala.

Hyuuga Hinata.

"Malam ini, kau bisa tidur di sini," Sasuke membukakan pintu kamar tamunya untuk Hinata. "Di dalam sudah ada kamar mandi—water heater juga ada, kalau-kalau kau mau berendam air hangat."

"Ha-hai, terimakasih, Uchiha-san."

Gadis di sampingnya mengangguk gugup, mencengkeram kopernya semakin kuat. Dalam posisi demikian, Sasuke dapat mencium jelas wangi parfum yang ia kenakan, perpaduan antara segar jeruk dan sedikit manis vanilla. Lampu apartemen Sasuke yang terang pun memberikannya detail lebih jelas. Di tempat karaoke tadi, selain tempat duduk mereka yang berjauhan, nyala lampu yang temaram menyebabkan ia tak dapat memandang Hinata dengan jelas. Barulah sesampainya di apartemen, Sasuke sadar bahwa telah banyak yang berubah darinya.

Amat banyak.

"Ku-kurasa a-aku akan masuk sekarang," pamit Hinata, tak dapat menutupi semburat merah pada wajahnya.

"Aa, kalau kau butuh sesuatu, aku ada di ruang televisi."

"H-hai."

Sifat kikuk yang selalu kumat saat ia dekat-dekat dengan Sasuke memang masih belum hilang, malah kian parah, namun secara fisik, banyak perbedaan yang berhasil Sasuke amati. Satu yang paling mencolok, rambut panjangnya yang dulu mencapai pinggang, kini hanya berada sekitar sepuluh sentimeter di bawah bahunya. Kulitnya terlihat lebih segar, namun kantung matanya justru menebal. Dan yang membuat Sasuke paling heran, gadis yang tadinya sedikit chubby dan berpipi tembem itu berubah menjadi kurusan. Ah, tidak, bukan kurusan lagi namanya, tapi kehilangan cukup banyak berat badan. Mungkin sekarang ia sudah berukuran hampir sama dengan Sakura.

Jujur saja, Sasuke tidak suka melihatnya.

"Aku masih tidak percaya bahwa pernikahan Hinata dibatalkan."

"Sama, aku sungguh tidak menyangka."

"Gadis malang, padahal undangan sudah disebar, gedung pernikahan juga sudah dipesan—segalanya sudah dipersiapkan, tapi dua minggu sebelum hari H, mereka sepakat untuk berpisah."

"Kabarnya, mempelai pria yang membatalkan pernikahannya."

"Ah, masa? Si Kiba Inuzuka? Mahasiswa fakultas hukum yang sering terlihat bersama anjingnya itu, kan? Bukankah mereka sudah berpacaran sejak SMA?"

"Uh-uh. Kabarnya lagi, Kiba meninggalkannya untuk gadis lain."

"Apa? Dasar laki-laki tidak tahu diri! Berani-beraninya dia—"

"Jangan bicara begitu, kita tidak tahu kejadian yang sebenarnya."

"Yap, Kiba dan Hinata pasti memiliki alasan sendiri. Lagipula, mereka memang sudah tampak tak begitu mesra sejak semester tiga awal."

"Tunggu, tunggu, omong-omong soal ini, aku sering melihat teman-teman Hinata menggodanya setiap ia berada di dekat Sasuke."

"Kalau tidak salah, bukannya Hinata memang pernah menyukai Sasuke? Dia sempat kagum dengan Naruto di awal kuliah, namun setahuku, yang Hinata sukai adalah Sasuke—aku tidak tahu 'suka' dalam konteks bagaimana."

"Benarkah? Aku tidak bermaksud menyepelekannya, namun, Sasuke? Yang benar saja? Mereka bahkan seolah tidak hidup dalam dunia yang sama."

"Setuju. Maksudku, lihat saja, Sasuke adalah tipe laki-laki impian perempuan. Dia tampan, pintar, bersih, rapi, tidak genit, dan pendiam. Satu-satunya perempuan yang pernah ia pacari semasa kuliah adalah Ino. Dan, yah, kalian tahu, kan, bagaimana Ino memiliki paras setara model?"

"Bukan setara lagi, Ino memang banting setir menjadi model setelah lulus kuliah, sama sekali tidak berminat bekerja sebagai arsitek. Ah, Hinata, gadis malang, padahal sikapnya begitu ramah dan manis. Yah, kuharap dia bahagia."

"Ya, kuharap dia bahagia."

Percakapan panjang namun memuakkan ini pertama kali ia dengar diam-diam setahun lalu di reuni perdana angkatannya, dan hingga sekarang, ia masih tak bisa lupa. Awalnya, orang-orang sibuk bertanya di mana gerangan Hinata, mengapa ia tak menampakkan dirinya. Padahal, ini merupakan reuni pertama angkatan mereka setelah tiga tahun tidak bertemu, dan acara juga diadakan di Kyoto, daerah asal Hinata sendiri. Sasuke ingat, waktu itu tanggal 26 Desember, 5 hari sebelum pesta pernikahan Hinata digelar. Rencananya, selain untuk keperluan reuni, mereka memang sengaja memilih Kyoto demi menghadiri pesta pernikahan Hinata bersama-sama. Tak ada prasangka buruk, tak ada firasat jelek, sama sekali tak ada. Maka wajar saja bila mereka kaget bukan main sewaktu yang datang justru ayah Hinata, bukannya putrinya yang kikuk dan berambut indigo tua. Selama ini, yang mereka tahu, beliau adalah laki-laki yang cukup dikenal dan dihormati di kawasan Kyoto—tapi Hiashi Hyuuga yang datang di hadapan mereka terlihat begitu rapuh, begitu lemah. Mereka tak pernah menduga sebelumnya bahwa seorang Hiashi Hyuuga akan datang dengan sepasang mata berair lantas membungkuk di lantai, menahan sesengguk.

Mereka tak pernah menduga sebelumnya bahwa seorang Hiashi Hyuuga akan berkata, "Maafkan saya, maaf, namun Hinata tidak jadi menikah."

Maafkan saya.

Hinata tidak jadi menikah.

.

.

.

Tidak jadi menikah.

"A-ano, Uchiha-San, a-apa boleh aku ikut duduk di sini?"

Laki-laki bermata hitam itu mendongak, mendapati sepasang mata lain berwarna perak-lavender tengah menatap lantai, menghindari dirinya.

"Hn," jawabnya singkat, tak paham mesti berkata apa lagi. Segera, wangi jeruk ditambah setitik manis vanila khas Hinata kembali tercium oleh cuping hidungnya, memenuhi rongga paru-parunya. Sasuke mendesah kecil, berusaha membuang jauh aroma gadis Kyoto itu. Rokok, ia butuh rokok. Rokok dan pemantik. Rokok, dan pemantik, dan kebulan asap.

"A-aku tidak pernah tahu kalau kau merokok, U-Uchiha-san."

Shoot. Gerakan tangan Sasuke otomatis terhenti.

Astaga, bagaimana bisa dia lupa bahwa Hinata tidak pernah tahan dengan asap rokok?

"Maaf, aku akan merokok di ruangan lain," ucapnya yang buru-buru dicegah oleh Hinata.

"Iie, ti-tidak apa-apa, a-aku akan kembali ke kamar."

"Tidak, jangan dulu, jangan sekarang," Sasuke ingin mengatakan ini, namun mulutnya terkunci—tak bisa. Sebaliknya, ia membalas perkataan Hinata dengan, "Tidak perlu, setelah kupikir, aku lebih baik tidak merokok."

"Ah, ma-maaf, aku tidak bermaksud demi—"

"Sama sekali bukan," Sasuke mengibaskan tangan kanannya, "aku memiliki alasan lain," yaitu ibuku, tambah Sasuke dalam hati, "kau tidak perlu khawatir."

"Ehm, ba-baik."

Lantas keduanya saling diam, membiarkan suara televisi memenuhi tiap sudut ruangan.

Dalam kesunyian itu, Sasuke tahu, Hinata terus melirik ke arahnya—ia tidak kaget, tidak ada yang mengherankan.

Sebab sejak dahulu, Hinata memang selalu seperti ini.

Sebab sejak dahulu, Hinata...

"Apartemenmu luas, Uchiha-san," ujar Hinata lirih, serupa gumaman, "pasti harga sewanya sangat mahal, apalagi ini daerah Minami-Aoyama..."

"Hn, tidak juga. Gedung apartemen ini merupakan salah satu proyek perusahaan tempatku bekerja, dan kebetulan, aku yang mendesainnya. Karena hasilnya memuaskan, aku diberi satu unit gratis—yang sekarang kutempati."

"E-eh? Ka-kau yang mendesainnya?"

"Hyuuga-san, aku seorang arsitek," Sasuke mengernyitkan keningnya, seolah reaksi Hinata tidak wajar—dan kau juga arsitek, semestinya.

"A-ah, pa-pantas aja aku merasa familiar dengan gaya bangunan dan tatanan interiornya," ujar Hinata malu-malu, "semasa kuliah, a-aku selalu mengagumi karyamu, jadi... Uhm..."

Ah, gadis itu melirik ke arahnya lagi—Sasuke merasakan darahnya seketika berdesir.

Ia ingin berkata "Terimakasih, tapi tidak, karyaku masih kalah jauh dibanding milik Sai, dan karena itulah ia berhasil membangun karir di luar negeri sekaligus mengambil hati Ino yang sempat kuperangkap tiga hingga empat tahun lalu." namun ada sesuatu yang seolah melarangnya. Di bawah cahaya kekuningan yang datang dari penerangan di ruang televisi ini, ia terlihat begitu kecil, begitu berbeda dengan Hinata yang selama ini segar di bayangannya. Satu dua tetes air dari rambutnya jatuh ke sofa hijau tempat mereka berdua duduk, membuat jalan air tipis di punggung baju tidurnya. Sepasang mata itu masih mencuri pandang padanya, mengiriminya tatapan tak terbaca, semacam kehampaan yang tak dapat Sasuke deskripsikan.

Lalu kesabarannya habis.

Ada banyak yang ingin Sasuke tanyakan kepada Hinata, terlalu banyak sampai-sampai Sasuke tak mampu menyebutkan detailnya. Mengapa kau menjadi sekurus ini, mengapa kau selalu berbicara terbata, mengapa sedari dulu kau suka mencuri pandang ke arahku namun selalu menundukkan kepala setiap kita berpapasan, mengapa kau selalu bertingkah sok lugu, mengapa kau begitu aneh, mengapa kau sering berbicara mengenai hal yang tidak-tidak, mengapa aku harus bertemu lagi denganmu, mengapa kau harus menampakkan diri, mengapa kau mesti berada di sini, di apartemenku, duduk di atas sofaku, menonton tayangan yang ditampilkan televisiku, mengapa begitu banyak kata 'mengapa' yang ingin kutujukan padamu, dan mengapa...

"Mengapa kau tidak jadi menikah, Hyuuga-san?"

Sasuke hanya ingin tahu alasannya.


oOoOo


.

.

.

"Aku tidak mencintai Kiba."


oOoOo

To be continued.

A/N:

Jadi, gimana? :D

Yak, ini cerita terbaru saya :D rencananya, cerita ini akan lebih kompleks dan serius dari yang sebelumnya. Tapi ya dasar sudah lama nggak nulis, jadi masih belum lancar main kata-kata lagi :D eh iya, di sini, Neji author posisikan sebagai kakak kandung Hinata. Sasuke juga author buat lebih manusia, nggak cool-cool amat, nggak ketus-ketus amat. Terus, terus, mumpung liburan, saya mau menamatkan dua cerita saya yang lain, lantas fokus di cerita baru ini-kali ini beneran deh, nggak bohong, hehe. Rencananya, Saihate dan From Y to Y akan diupdate besok, sekarang masih dalam proses pengeditan ^^ dan kalau bisa, tiap tiga hari diupdate, soalnya semester 4 kayaknya saya bakal lebih sibuk :') anyway, terimakasih buat semua yang masih setia menunggu kelanjutan cerita-cerita saya, maafkan author yang malas ini, ya :') akhir kata, semoga saya mampu memenuhi janji saya kali ini. Yosh, arigatou, minna-saaan! ^o^

Yogyakarta, 2013