_Minah Hartika_

"Jadi?"

Usapan di dada dan juga helaan nafas tetap ia coba lakukan. Membuat tubuhnya kembali membaik semenjak serangan mendadak terjadi. Wajah yang cantik namun mampu membuat jantungnya seperti diremas. Inilah apa yang dirasakan Cho Kyuhyun.

"Apa kau merasa ngilu?"

"Tidak! Seharusnya hyung menikah! Bukan hanya memikirkan orang lain.."

"Apa dayaku jika Kyuhyun tak setuju, huh? Aku lebih memilih menjaga kalian untuk saat ini. Apa cukup?"

[CHAPTER 12]

Donghae bungkam ketika Leeteuk tengah mendorong kursi rodanya, membawanya keluar dari ruangan terapy. Ia hanya diam dengan keringat membasahi wajah dan juga tubuhnya yang lain. Membuat Leeteuk tiba-tiba bertanya, "apa kau tak merasa ngilu?"

"Huh?"

Sekali lagi Leeteuk harus mengulang pertanyaannya, karena Donghae nampak tak menangkap pertanyaannya dengan utuh. "Apa saat terapy tadi, kau tak merasakan sakit sedikitpun pada kakimu?" ulangnya. Lama Donghae tak menjawab, atau memang tak berniat untuk menjawabnya.

Bahkan ketika Leeteuk telah sampai mengantar Donghae hingga menuju ruangannya. Tepat di sisi ranjang Donghae. Ia menatap Donghae yang terlihat melamun dalam posisi duduknya. "Hae?" panggil Leeteuk.

"Hm?" jawab Donghae dengan cepat dan menatap Leeteuk.

Leeteuk heran. Satu bukti bahwa Donghae tidak melamun. Namun ia merasa ada yang lain dengan sorot mata Donghae. "Kau baik-baik saja?" tanya Leeteuk. Ia lalu menyentuh lutut kiri Donghae. "Katakan jika sakit. Jangan ditahan!" peringatnya.

Namun Donghae menggeleng keras. "Sungguh tidak sakit!" kilahnya. Ia segera menarik kain pada baju sang hyung. "Hyung akan mengajakku bertemu Kyuhyun, kan? Kau berjanji padaku tadi!" ucapnya tiba-tiba.

Leeteuk menghela nafasnya. "Mungkin tidak sekarang," jawabnya sambil menyibak rambut di kening Donghae. Helaian rambut Donghae yang nampak basah. Ia tengah menyeka keringat di wajah Donghae dengan telapak tangannya. mengusap wajah yang nampak lelah dan pucat itu dengan lembut. "Kurasa kau lebih butuh banyak istirahat," ungkapnya.

Tak ada rengekan atau ucapan yang membuat Donghae nampak keras kepala. Kali ini Donghae hanya diam sambil berkedip perlahan. Matanya nampak sayu, dan seperti berat untuk ia gerakkan. Diusapnya kedua mata itu, lalu berkata "sepertinya aku mengantuk," dalam nada pelannya. "Aku akan tidur setelah memastikan Kyuhyun baik-baik saja. Aku ingin melihatnya sebentar saja."

Leeteuk menggeleng. Ia sedikit mengangkat tubuh Donghae dari posisinya. Ia bantu Donghae untuk terbaring di tempat tidurnya. "Hyung yang akan melihatnya nanti. Dan hyung yakin dia baik-baik saja. Tidurlah.."

Entah, mungkin ini nampak aneh! Donghae benar-benar seperti telah kehilangan tenaganya. Ia tak mempertahankan inginnya kali ini. Tak bersikap terlalu manja, dan dengan cepat menutup matanya sesuai dengan perintah sang hyung. Ia jatuh terlelap ke dalam tidurnya dengan cepat.

Tersisa Leeteuk yang menyelimuti Donghae. Sejenak menatap wajah sang dongsaeng dan lalu mengusap rambutnya. Ia sedikit tersenyum dan lalu meninggalkan Donghae yang sudah nampak jauh terbawa ke alam mimpinya.

...

Berulang kali Kyuhyun menghela dalam nafasnya. Matanya terpejam lelah. Ia terduduk di sisi ranjang pemeriksaan bersama Hankyung di sampingnya. Ada juga Kibum, dan juga sang ibu yang menemaninya.

"Apa dia tidak apa-apa?" tanya ibu Lee kemudian.

Hankyung hanya menggeleng. "Tidak. Sejauh ini kesehatannya sudah berkembang. Mungkin tadi karena dia kelelahan. Dan kenapa pergi dari rumah sakit sebelum aku ijinkan, huh?" marah Hankyung pada sang pasien, yang nyatanya kabur dari pengawasannya.

Kyuhyun menekuk wajahnya. "Aku sungguh merasa sehat jika saja tak melihat dokter itu!" dengusnya. Ia memicingkan matanya ke arah Hankyung. "Apa hubungan dia dengan seseorang pemilik jantung ini? Bukankah aku berhak tahu, siapa yang berbaik hati memberikan nyawa ini untukku?"

Siapapun hanya mampu terdiam. Mampukah mereka menjawab? Mungkin jika ibu Lee dan Kibum tak akan mampu menjawabnya, karena merekapun tak mengetahuinya. Namun ada yang lain yang tersimpan di balik raut wajah Hankyung. Dia seharusnya tahu, bukan?! Namun gelengan adalah hal yang mampu ia berikan pada Kyuhyun. Dengan menyesal ia katakan, "sayang aku tak berhak untuk mengatakannya. Mungkin kau bisa menanyakan langsung padanya?"

Kyuhyun menggeram frustasi. "Aku bahkan tak mampu melihat wajahnya, hyung! Itu membuatku sakit!" rutuknya. Setelahnya wajahnya menjadi sendu. Menghindari tatapan dari sang ibu, Kibum dan juga Hankyung. Memilih menatap kedua lututnya yang tertekuk di sisi ranjang kala itu. "Tak bisakah kalian menolongku?"

"Kyuhyunie.."

Kyuhyun mendongak, menatap sang ibu yang melirihkan namanya. Sang ibu yang nyatanya telah menghampirinya lalu memberinya pelukan hangat. Segera Kyuhyun larut dalam pelukan hangat tersebut. "Sepertinya orang ini tak benar-benar menginginkan bagian tubuhnya ada dalam tubuhku.."

"Bukan begitu," bantah Hankyung.

Namun tetap Kyuhyun menggeleng. "Kenapa harus seperti ini?" tanyanya dalam bisikan. "Ini mengerikan! Lebih menakutkan dari apa yang kubayangkan!"

Kibum memilih diam. Ia hanya memandangi jendela di ruangan tersebut. Yang ia pikirkan adalah, 'Bukankah akan mengerikan jika jantung Donghae yang ada disana?' bisiknya dalam hati, diiringi senyuman tipis. Ia terus mendengarkan lantunan dari mulut Kyuhyun yang terisak kecil dalam pelukan sang ibu.

"Tolong aku, ibu! Kembalikan saja.."

"Apa yang kau bicarakan, sayang.."

"Tolong aku, Kim! Hyung!" racau Kyuhyun dalam tangisnya.

...

Donghae membuka matanya kala beberapa suara mengusik tidurnya. Dilihatnya Kibum dan Kyuhyun tengah berdebat di ambang pintu menuju ruang rawatnya. Ia mengernyit tak suka, karena tidurnya terusik. Ia raih bantal miliknya dan lalu melemparnya ke arah Kyuhyun dan Kibum.

"Bisakah kalian diam, huh?" marah Donghae.

"Hyung! Kau bangun?!" ujar Kyuhyun.

Rasa marah Donghae lenyap saat di dengarnya suara Kyuhyun terlantun dengan indah. Ia segera mengulum senyumnya dan mengajak Kyuhyun untuk lebih mendekat padanya. Ia rentangkan kedua tangannya, hingga Kyuhyun memberinya satu pelukan. "Kau baik-baik saja, Kyu!" pekik Donghae. Bukan pertanyaan! Namun Donghae tengah mengatakan apa yang dilihatnya kini.

"Aku baik!" balas Kyuhyun. Ia tersenyum saat merasakan Donghae menepuk-nepuk punggungnya perlahan. Bahkan ia merasakan nafas kelegaan dari balik hembusan nafas Donghae.

"Syukurlah! Syukurlah Tuhan!" ucap Donghae, memekik senang tepat di telinga Kyuhyun.

Namun hal tersebut membuat Kyuhyun menarik dirinya dari pelukan Donghae. Ia mengernyit menatap Donghae. "Kau nampak berbeda!" simpulnya. Ia melihat Donghae yang nampak berubah. Tak seserius seperti biasanya. Nampak berseri, seolah tak bosan memperlihatkan rona wajahnya yang bahagia.

"Itulah dia yang sebenarnya," imbuh Kibum, mulai mendekat setelah ia pungut bantal yang Donghae lempar. Ia simpan bantal tersebut di ujung ranjang, di sekitar kaki Donghae. "Seharusnya seperti inilah dia sejak awal!" cetus Kibum. "Ceria! Sedikit manja! Bukankah bagus melihatnya seperti ini?"

Kyuhyun tersenyum. Berbeda dengan Donghae yang langsung memicingkan matanya ke arah Kibum. "Hentikan itu, Kibumie! Jangan katakan hal yang tidak-tidak!"

Kibum mengangkat bahunya tak peduli. "Kau tahu, Kyu? Dia bahkan tak bisa memakai piyama yang bukan miliknya. Kulitnya akan gatal-gatal! Dia bahkan lebih manja!"

"Itu tidak benar!" kilah Donghae.

Kibum terduduk di tempat tidur putih tersebut. Ia memandang Kyuhyun yang berdiri, dan juga Donghae yang masih dalam posisi terduduk. "Kalian boleh menjadi lebih dekat! Tapi, berani kalian melupakanku, huh?"

"Eh?"

Nampak pula helaan nafas lelah dari Kibum. Ia dilupakan oleh keduanya beberapa saat lalu. Padahal, "kalian tahu? Kamilah yang paling cemas!" ungkapnya. Ia pandangi Kyuhyun dan Donghae bergantian. "Berulang kali harus menahan nafas dan menangis kala mendapati nyawa kalian yang hampir melayang," tuturnya.

Sedangkan Kyuhyun dan Donghae menjadi diam. "Bahkan harus ada pertengkaran saat harus memilih satu di antara kalian," ucap Kibum sambil menunjukkan getir dalam senyumnya. Matanya jauh menerawang menuju ingatan terburuk beberapa waktu yang lalu.

"Aku.." sela Donghae.

"Jangan ulangi!" ucap Kibum dalam nada datarnya namun terkesan serius. Ia seperti enggan, namun tetap menatap dalam ke arah dua bola mata Donghae. "Tak ada alasan untuk saling berkorban satu sama lain! Aku tak suka!"

Kyuhyun nampak menegang mendengar nada dingin Kibum. Sedang Donghae nampak menunduk dalam. "Bisakah kita lupakan itu? Kita bicarakan hal lain saja?" pinta Donghae. "Kau bukan seperti dirimu saja, Kibumie.."

Nampak Kibum beranjak dari posisinya. "Lupakan saja! Kau benar!" ucapnya sambil mencoba untuk memberikan senyumannya kembali.

"Kau membuatku takut, Kim!" cerocos Kyuhyun kemudian..

...

Satu remasan kuat kali ini Leeteuk dapatkan, pada ujung kain pakaian yang kini dikenakannya. "Tidak, Hae!" tegasnya. Entah untuk yang keberapa kali di malam itu ia memberikan bentakan cukup keras untuk Donghae. "Dokter bilang lusa! Kau harus menurutinya. Kau akan tetap pulang meskipun dua hari mendatang."

Donghae menekuk wajahnya. "Aku bosan, hyung! Aku ingin pulang sekarang!" rutuknya pelan. Ia lepaskan kaitan jemarinya pada pakaian Leeteuk. Mengalihkan kedua tangannya tersebut untuk segera terlipat di dadanya. Ia tak lagi memandang Leeteuk.

Leeteuk mendesah kecil. Ia terduduk di sisi Donghae. "Lagipula ini sudah malam," bujuknya. "Gunakan satu malam ini untuk beristirahat penuh, ya?"

Dengan segera Donghae merebahkan tubuhnya. Tanpa kata sedikitpun untuk bantahan. Bahkan disaat Leeteuk menarik selimutnya, ia tak bergeming. Hingga satu orang datang kemudian.

"Apa Donghae sudah tidur?"

Donghae bangkit kembali. Ia segera terduduk dan tersenyum pada sang ayah yang baru saja menanyakan dirinya. "Belum! Ayah, kau akan membawaku pulang sekarang?" ucapnya pada tuan Lee, membuat Leeteuk sedikit terkejut.

"Umh.."

Donghae mengernyit kecewa. "Kau sudah berjanji akan membawaku pulang!" ketusnya. Ia melihat ketidakyakinan dari wajah sang ayah.

"Ayah tak menjanjikan hal yang macam-macam padanya kan? Pantas saja dia merengek terus padaku hari ini!" tutur Leeteuk pada ayahnya. Ia nampak sedikit kesal.

Tuan Leepun menggaruk kepalanya dan terlihat kebingungan. "Kupikir ayah tak akan memiliki kerjaan yang memakan banyak waktu hari ini," jelasnya pelan-pelan. "Untuk itu, ayah berencana membawa Donghae pulang.."

"Apa?!"

Tuan Lee hanya tersenyum kaku. "Kau pasti sudah tahu Kyuhyun dan ibumu pulang, kan? Ayah ingin kita makan malam bersama. Jadi.."

"Ayah mengatakan akan membawaku pulang hari ini!" timpal Donghae dengan nada sedikit girang.

Leeteuk menatap sang ayah sedikit tak percaya. "Tapi dokter belum mengijinkan!" desisnya. "Lagipula ini sudah malam.."

Kembali sang ayah kebingungan. "Kupikir juga begitu," imbuhnya. "Ayah ingin menjenguknya saja dan mengatakan untuk menunda kepulangan ini.."

"Bagaimana bisa!" protes Donghae. Ia menatap sang ayah dengan rajukan di wajahnya. Ia mengerucutkan bibirnya, pertanda bahwa dirinya tengah kesal karena tuan Lee melanggar janjinya. "Aku bosan disini! Aku ingin tidur di rumah!" mohonnya.

"Sudah malam, biar ayah menginap disini sebagai gantinya, bagaimana?"

"Tidak mau!" tolak Donghae. "Aku ingin pulang.." ratap Donghae.

Leeteuk nampak tak peduli. Memangnya apa yang mampu dilakukan Donghae? Ia tak mungkin bertindak bodoh dan pulang sendiri. Namun sesaat kemudian, sang ayah tiba-tiba saja menyibak selimut yang tengah menutupi separuh kaki Donghae.

"Baiklah! Kita pulang saja!"

"Hey!" raung Leeteuk akhirnya. Ia tak percaya saat melihat sang ayah yang menampakkan punggungnya di hadapan Donghae.

"Kita pulang! Biarkan hyung mu saja yang mengurus segalanya. Kita pulang!"

"Jangan berbuat seperti ini, ayah! Kau seperti anak kecil! Hentikan!" panik Leeteuk. Namun apa yang didapatnya? Cibiran puas dari Donghae. Sang dongsaeng yang memeletkan lidah ke arahnya. Sang dongsaeng yang lalu terkekeh pelan ketika dia malah bersandar nyaman di punggung sang ayah.

"Ya!" kesal Leeteuk. Ia tak habis pikir, karena dua orang itu pergi begitu saja meninggalkannya. Tanpa harus berfikir panjang? Membuatnya mendengus sebal.

...

"Maaf, karena aku tak dapat mencegahnya. Dia benar-benar keras kepala!"

Leeteuk tengah membungkuk ke arah sang dokter yang diketahuinya adalah dokter yang akan menemani perawatan untuk kaki Donghae. Dokter wanita yang cantik, yang ternyata berada satu usia dengannya.

"Tidak apa-apa. Dia sudah baik-baik saja sekarang. Pulang lusa atau sekarangpun sama saja, bukan?"

Leeteuk mengangkat wajahnya. Ditatapnya paras cantik di hadapannya. Lalu ia kembangkan senyumnya dengan tulus. Lalu ia katakan, "terima kasih!" tuturnya. Dan entah datang darimana, sebuah kalimat aneh yang nampak membuat dirinya bodoh. "Apa anda akan pulang sekarang? Sendiri?"

Sang dokter hanya mengangguk, hingga ia kembali berujar, "kurasa akan lebih baik jika anda menerima undangan makan malam dari Donghae?"

"Eh?"

...

"Aku pulang!"

Perlahan Donghae menyentuh permukaan kayu, milik pintu kediamannya. Rumah sang ayah. Rumah Kyuhyun. Rumah Leeteuk, dan juga, "rumahku?" lirihnya sambil melirik tuan Lee yang nampak tengah menahan separuh bobot tubuhnya. "Ya. Selamat datang, Donghae, anakku.."

Donghae mengernyit dengan satu kuluman senyum di bibirnya. "Benarkah?"

Sang ayah tak lagi menjawab. Ia bukakan pintu untuk sang putra. Ia papah Donghae masuk ke dalam. Bukankah wajar jika rasa ragu menyerang keduanya. Setelah apa yang terjadi, tentu mengawali adalah hal yang sulit. Terlebih kaki Donghae manapak dalam damai kali ini. Tak ada beban lagi saat dirinya memasuki rumah tersebut. Semua rasa menyakitkan itu terlepas sudah..

"Terima kasih," ucapnya pada sang ayah.

"Perlukah kau bersikap sungkan, huh?"

Tuan Lee nampak mengacak helaian rambut Donghae dengan gemas. Lalu dipapahnya Donghae lagi untuk segera memasuki rumah tersebut. "Mari! Masuklah! Mereka mungkin sudah menunggu kita.."

Benar saja! Donghae segera mengembangkan senyumnya kala melihat dua orang yang tengah dirindunya. Padahal baru tadi siang mereka bertemu. "Kyu! Ibu!" panggilnya kemudian. Dengan sedikit kesulitan ia menghampiri Kyuhyun yang tengah menatap bosan ke arah hidangan di meja makan.

"Donghae!" sambut ibu Lee kemudian. "Kenapa kalian lama sekali?" ucapnya sambil mencoba membantu Donghae untuk terduduk di kursi di samping Kyuhyun.

"Ugh," Donghae nampak meringis kala ia harus sedikit menekuk kaki kirinya saat duduk di kursi. Hal tersebut menarik perhatian Kyuhyun di sampingnya.

"Kau baik-baik saja?"

Donghae mengangguk setelahnya. Ia menatap aneh ke arah mereka yang kini tengah menatapnya. "Aku baik-baik saja. Hanya sedikit terasa ngilu!"

"Benarkah?"

Binar-binar senang terpancar dari wajah tuan Lee. Bukan rahasia lagi mengenai lumpuhnya Donghae akan rasa sakit. Kali ini, bukankah menjadi berita baik jika Donghae dapat merasakan sakit di tubuhnya meski hanya sedikit? "Itu artinya kau sudah lebih membaik," tutur tuan Lee.

Donghae hanya turut tersenyum saja. Matanya teralih untuk menatap beberapa hidangan yang tertata rapih di atas meja. Makanan yang belum tersentuh, menandakan "apakah kalian menungguku?" ucapnya. "Salahkan ayah yang telat menjemputku!" ungkapnya. Tangannya terulur untuk menyentuh satu hidangan, bulgogi. Namun..

"Biar aku bantu ibu untuk menghangatkannya dulu. Ini sudah dingin.." cetus Kyuhyun tiba-tiba. Ia mengambil piring berisikan bulgogi yang tadi akan disentuh Donghae.

Donghae segera menahan kepergian Kyuhyun. "Tidak apa-apa," cegahnya. "Bagiku sama saja.."

Hening kemudian. Menyisakan Donghae yang kembali mengambil sepiring bulgogi dari tangan Kyuhyun. Ia menyumpit irisan daging sapi tersebut dan melahapnya, seperti melupakan siapapun yang kini ada di sampingnya. Namun beberapa menit kemudian ia tersadar akan hal tersebut.

"Ah!" pekiknya tertahan. "Aku lupa! Apa kalian menunggu Leeteuk hyung? Seharusnya aku juga menunggunya, kan!"

Tuan Lee bernafas lelah. "Tidak. Lanjutkan makanmu, Donghae," ucapnya sambil tersenyum lembut.

Kyuhyun hanya menatap miris ke arah Donghae yang kembali ke dalam acara makannya. Berbeda dengan sang ibu yang lalu menarik kursinya agar lebih mendekat ke arah Donghae. Ia tersenyum melihat putranya begitu semangat saat makan, meski semangat disana adalah semangat dalam artian lain.

"Apa dari semua hidangan, kau menyukai bulgogi?"

Donghae hanya mengangguk di sela kunyahannya. "Hm!" ucapnya.

"Kenapa?" tanya sang ibu.

Donghae diam kemudian. Ia menatap makanannya, beralih menatap Kyuhyun dan juga ayahnya. Seharusnya jawaban apa yang tepat, kala kita mendapat pertanyaan 'mengapa kau menyukainya' selain soal rasanya. Lantas dia? Dia ucapkan, "aku suka warnanya.."

Kyuhyun memilih untuk meneguk satu gelas penuh air putih. Meski tetap saja mata dan telinganya terus mengamati Donghae. Begitupun dengan tuan Lee.

"Kau tak ingin mengetahui bagaimana menariknya makanan ini? Rasanya? Kau tahu kan ini terbuat dari apa?" sementara itu sang ibu terus saja mengajak Donghae bercakap-cakap dalam nada santai, dan cukup tenang. Ia suapi putranya tersebut dengan sabar. "Ini rasanya gurih dan agak manis, kira-kira.."

Donghae memandang lekat ibunya. Ia tersenyum ramah, dan sangat lembut. "Aku akan mengingatnya!" timpalnya dengan ceria. Ia tutupi kecewa di hatinya, kala tak mampu merasakan apa yang diucap ibunya tersebut.

"Ibu cukup senang kau menyukai ini, meski hanya karena warnanya saja. Ibu yakin kau merasakannya. Warna dari sebuah masakan, menandakan rasanya juga.."

"Aku mengerti, bu.."

"Kau bisa merasakannya perlahan," imbuh sang ibu, lalu mengajak Kyuhyun dan suaminya untuk bergabung mencicipi hidangan dingin lainnya.

"Lain kali aku akan memberimu makanan pedas!" cetus Kyuhyun tiba-tiba. "Lihat saja!" candanya.

Mereka akhirnya tertawa, larut dakam kehangatan di acara makan malam tersebut. Sayang keluarga Kim tak turut hadir, termasuk Leeteuk. Leeteuk yang seolah merusak segalanya. Kehadirannya berpuluh menit kemudian bersama seseorang yang cantik, nyatanya mampu merusak suasana hati Cho Kyuhyun tiba-tiba.

"Aku sudah selesai!" ketusnya saat mendapati Leeteuk yang datang bersama perempuan itu. Ia menutup matanya untuk sosok cantik tersebut. Membuat Donghae bersama dua orang tua mereka kebingungan. Dia bahkan melangkah kasar menuju kamarnya.

"Ada apa?" bingung Donghae. "Kupikir akan menyenangkan jika anda bergabung," ucapnya pada sang dokter.

...

"Saya Park Hyena. Dokter yang menangani Donghae. Dan mengenai Kyuhyun.."

Kini perbincangan antara orang dewasalah yang terjadi. Jauh dari Kyuhyun yang memilih menekuk lututnya di balkon kamarnya. Ia hanya memandang langit yang penuh akan bintang disana. Wajahnya mendongak, di sela jemarinya yang kini kembali meremas dadanya.

"Siapa dia!" bisiknya. "Dan ada hubungan apa dengan jantung ini!" ringisnya. Terlihat raut kesal di wajahnya, sesaat setelah rasa tak nyaman itu lagi-lagi hinggap padanya, dikarenakan wajah cantik yang harus ditemuinya lagi.

Bukankah membingungkan?

Kyuhyun akhirnya menghabiskan waktunya seorang diri. Memandang kegelapan malam, beserta langit malam dan gemerlap bintang disana. Cukup lama ia berdiam seorang diri, hingga suara ribut terdengar dari bawah sana. Ia merunduk untuk melihat. Sejumlah orang kini menapaki pekarangan rumahnya.

Sang ayah, ibu, sang hyung bersama wanita itu! Sontak Kyuhyun merekatkan pegangan tangannya pada sisi pembatas balkonnya. Namun matanya tetap mengamati. Nampaknya sang hyung harus mengantar pulang wanita cantik tersebut. "Kenapa harus!" lirihnya. Ia terlihat jengah, hingga akhirnya membalikkan tubuhnya, seiring dengan mobil Leeteuk yang membawa sang hyung bersama'nya' menjauh. Ia sandarkan punggungnya di sisi pembatas balkon tersebut.

"Tak ada kerjaan, eoh?"

Kyuhyun akhirnya dapat menangkap bayangan Donghae yang mendekat padanya. Donghae yang berjalan tertaih dengan bantuan sebuah tongkat besi di satu sisi tubuhnya. "Aku sedang mencari udara segar!" kilah Kyuhyun. Ia segera meraih Donghae sebelum sang hyung terjatuh.

Kyuhyun bawa Donghae kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia biarkan Donghae duduk di sisi ranjangnya. "Kau ingin tidur denganku?" tawarnya.

"Memangnya boleh?"

Kyuhyun mengangguk disertai tawa kecilnya. "Mengapa tak boleh? Tempat tidurku cukup luas untuk kita berdua.."

Sedang Donghae menjadi lebih ceria, dan lalu menarik dirinya agar terbaring di satu sisi tempat tidur milik Kyuhyun. "Tidurlah jika begitu," suruh Donghae. Meski ia belum sepenuhnya terbaring, hanya bersandar pada kepala tempat tidur tersebut. Ia ajak sang pemilik tempat tersebut, yang mana Kyuhyunpun mengambil posisi yang sama. Bersandar seperti halnya sang hyung, yang lalu membuat kepala miliknya dan juga Donghae saling beradu.

Kamar tidur tersebut memang redup, karena memang lampu disana belum menyala. Hanya ada lampu kecil di atas nakas, di sisi ranjang Kyuhyun yang nampak terang. Menciptakan redup yang nyaman. "Kau akan tidur tanpa berganti pakaian?" tanya Kyuhyun pada Donghae.

"Tidak usah! Besok saja!" acuh Donghae. Ia lalu melihat Kyuhyun tersenyum dan segera menarik selimut agar menutupi tubuh mereka hingga mencapai lutut. Menyisakan hening..

Begitu senyap jika saja Kyuhyun tak lagi melontarkan katanya. "Bukankah ini sangat nyaman, hyung?" ucapnya membuat Donghae mengangguk. "Melegakan sekali.." ucapnya dalam hembusan nafas yang penuh kelegaan. Semua hal yang terjadi kini, seolah telah terlepas dari kemelut yang ada. Meski bagi Kyuhyun, hatinya belum mampu untuk membaik. Debaran jantung yang belum mampu ia rasakan oleh dirinya sendiri. Mungkin karena bagian tubuh itu belum seutuhnya ingin menyatu dengan dirinya.

...

"Sebenarnya, aku tak ingin mengatakannya pada siapapun. Pada kalian terutama.."

"Dia adalah adikku. Adik tercintaku yang pergi dari rumah karena suatu hal. Hingga akhirnya kudapati ia yang sudah tak dapat tertolong. Aku tahu ini takdir. Aku rela melepasnya, dan memberikan kehidupan lain untuk adikmu, meski satu hal yang kusesali adalah, aku tak mampu untuk mengucap maafku padanya untuk yang terakhir kali. Maaf jika nyatanya aku harus hadir di antara kalian dan merusak segalanya."

"Kau percaya Tuhan? Ini adalah takdir Tuhan! Aku tak menyesal, Leeteuk-shi.."

Leeteuk larut dalam kesunyiannya. Ia tarik bibirnya agar terbentuk sebuah lengkungan senyum yang indah di bibirnya. Namun itu tak bertahan lama. Ia angkat lima jemarinya hanya untuk menutup hembusan nafas kasar dari mulutnya. Saat ini dirinya tengah menatap kedua dongsaeng yang nampak tenang dalam tidur mereka.

"Kau tak perlu mengetahuinya," ucapnya tiba-tiba. Matanya terarah pada Kyuhyun yang masih memejamkan matanya. "Jangan pernah merasa buruk, atas anugerah yang telah Tuhan berikan untukmu," lanjutnya. "Ini takdir, Kyu! Ini jalan Tuhan.." bisiknya.

Sekian lama, akhirnya Leeteuk menempatan dirinya di sisi ranjang yang ditempati Donghae. Ia pandangi lekat wajah salah satu dongsaengnya tersebut. Ada segurat pedih yang nampak setelah itu. Jemarinya terulur untuk mengusap helaian rambut Donghae. "Mungkin aku tak akan mampu untuk setegar dirinya jika hal itu menimpamu kemarin!" bisiknya, yang mana kali ini ia bisikkan kata tersebut untuk Donghae.

Hatinya tergerak setelah mendengar kisah serupa yang menimpa seorang Park Hyena, kawan barunya tersebut. Sama bukan? Meski jalan yang Tuhan berikan pada akhirnya berbeda.

"Beruntung aku masih bisa melihatmu, Hae.."

Leeteuk meneteskan air matanya. Ia lalu tersenyum dalam tangisnya. "Apa hyung egois?" ujarnya. Ia mengusap wajahnya perlahan. "Tidak kan, Hae? Hyung yakin, Tuhan masih ingin memberiku kesempatan agar mampu mengutarakan maaf padamu.."

Gelapnya malam adalah saksi mati yang melihat, bagaimana kala Leeteuk menangis tersedu. Ia mengangkat tubuh Donghae yang tengah terlelap, dan lalu merengkuhnya dalam dekapannya. "Maafkan hyung," bisiknya dengan buliran air mata yang semakin banyak tertumpah. Ia dekap erat sang dongsaeng dengan isakan pedihnya sambil diulangnya ucapan maaf itu berulang kali. "Maaf.."

Satu gerakan terjadi. Donghae menggeliat dalam pelukan Leeteuk. "Hyung?" tanyanya bingung dengan mata yang sebagian besar masih terpejam. Suaranya terdengar parau. Sedang Leeteuk segera mengusap air matanya dan menyembunyikan tangisnya.

"Hyung.." panggil Donghae lagi.

Sepertinya Donghae mengigau, karena Leeteuk masih merasakan beban dari tubuh Donghae padanya. Ia kemudian tersenyum, lalu menepuk pelan kepala Donghae. "Selamat datang, Hae! Hyung hanya ingin mengucapkan ini. Tidurlah lagi," titahnya dengan lembut.

Leeteuk mengusap-usap punggung Donghae dan masih memeluknya, membuat Donghae tidur dalam posisi terduduk meski tubuh Leeteuk yang menjadi sandaran baginya. Dan di waktu yang sama pula, dengan ujung matanya Leeteuk menangkap pergerakan Kyuhyun, yang lalu merapatkan tubuhnya pada Donghae.

Leeteuk tersenyum kecil dibuatnya. Satu tangan ia berikan untuk mengelus lembut surai Kyuhyun. "Tidurlah, dongsaengku.." ucapnya pelan-pelan..

...

Selang beberapa hari berlalu. Donghae tengah tersenyum di antara udara pagi yang menyapanya. Ia tengadahkan wajahnya untuk menyapa sang mentari yang hangat di pagi tersebut. Menyentuh permukaan wajah yang terbalut kulit putih nan lembut itu.

"Kau sedang apa, hyung?"

Donghae melirik, dan mampu melihat Kibum yang kini berdiri di sampingnya sambil memasang wajah herannya. Kedua tangan ia tekuk di dua sisi tubuhnya, dengan kening mengerut. "Kenapa?" tanya Donghae kemudian. "Aku hanya sedang menikmati apapun yang ada di sekitarku, seperti katamu!" ujarnya dengan satu cengiran kecil di wajahnya.

Kibum menggelengkan wajahnya. "Tapi kurasa kau terlalu berlebihan, sedikit.." imbuhnya. "Lihat! Ada banyak siswi yang melirik ke arahmu. Kau sengaja, eoh? Mencari perhatian?" tuding Kibum.

"Tidak!" bantah Donghae dengan sebal. Ia mendengus ke arah Kibum. Meski setelahnya ia harus membungkukkan tubuhnya pada beberapa siswa dan siswa saat tersadar, ternyata sudah waktunya untuk memasuki sekolah. Ia memang tengah berada di depan gerbang sekolahnya. Sekolah yang baru ia injak kembali setelah melewatkan waktu berliburnya yang cukup panjang.

Terpaksa Donghae harus menebar senyumnya, kala mendapati mereka-mereka yang menatapnya dengan tatapan heran, dan mungkin terlihat aneh akan tingkahnya. Terlebih..

Srak.

Donghae melirik kaki kirinya yang masih harus berdiri dengan sebuah penyangga. Ia tahu, mungkin hal tersebut terlihat mencolok dan menarik perhatian. Membuatnya tersenyum dan nampak sedikit kecewa, meski lebih banyak perasaan itu ia abaikan begitu saja. "Ayo masuk!" ajaknya pada Kibum. "Kyuhyun dimana?"

Kibum terheran. "Bukankah dia tadi berpamitan agar terlebih dahulu menuju kamarmu, karena harus membawa barangmu dan memindahkannya ke kamar kami?"

"Jadi kita akan tinggal satu kamar di asrama?! Itu bagus!" sorak Donghae.

"Pelankan suaramu!" dengus Kibum. Ia menarik Donghae, atau lebih tepatnya memapah Donghae ke arah gerbang masuk sekolah mereka. Namun karena sedikit kesal, ia tarik Donghae agar keras, membuat Donghae merintih sambil berjalan tertatih.

"Argh! Pelan-pelan, Kim Kibum!" pekik Donghae.

Satu kesimpulan dapat Kibum ambil kemudian. "Kenapa? Sakitkah?" tanyanya penuh akan harap.

"Sedikit.."

"Benarkah?"

Donghae tetap sedikit meringis kala Kibum tetap memapahnya saat berjalan. "Sebenarnya akhir-akhir ini aku sering merasa takut jika kaki kiri ini bergerak! Apa itu namanya sakit? Ngilu?" ringisnya.

Kibum mengulum senyumnya. 'Aku tahu kau mampu, hyung!' batinnya, sambil bersorak riang di dalam hatinya.

Sedang jauh di sudut lain, dimana Donghae dan Kibum masih dapat terjangkau keberadaannya, tuan dan nyonya Lee nampak tersenyum. "Bukankah anak-anak kita sudah baik-baik saja sekarang?" tutur ibu Lee, pada suaminya yang tengah terduduk di kursi kemudi.

"Ya. Semua sudah benar-benar membaik," timpal tuan Lee. Namun sesaat kemudian, ia menyerahkan sebuah ponsel, dimana sebuah pesan masih nampak tersaji disana. "Lalu bisakah kau jelaskan ini, sayang?"

Ibu Lee terlihat terkejut. Ia meraih ponsel yang nyatanya ponsel miliknya. "Mengapa ini bisa ada padamu?"

"Katakan!" desak tuan Lee. "Sejak kapan dia menerormu seperti ini? Mengataimu 'wanita jalang' dan juga kata-kata kasar lainnya. Hingga mengancammu seperti ini! Sekarang masalah seperti ini kau sembunyikan sendiri?"

Ibu Lee nampak gugup sekarang. "Awalnya kupikir, yang menerorku adalah istrimu. Ibu Leeteuk dan Donghae. Untuk itulah aku diam.."

"Apa?"

"Tapi, setelah dia meninggalpun, ini tetap ada. Ancaman ini tetap ada. Meski aku tak takut, apapun yang akan dilakukan olehnya nanti! Entah siapa, namun dugaan awalku salah, kan? Kukira istrimu tak akan melakukannya!"

"Tapi ini berbahaya!" pekik tuan Lee. "Aku akan mencari tahu!"

...

"Kenapa?"

Entahlah, mungkin hari indah itu berubah buruk dengan cepat bagi Kyuhyun. Wajah-wajah yang menyebalkan kembali menghiasi harinya. Seperti biasa! Tiga sosok dengan tampang meremehkan di mata Kyuhyun.

"Jangan menggangguku lagi! Ucapan kalian sudah tak berpengaruh bagiku!" sergah Kyuhyun kali ini. Bukankah dia telah berubah? Dia sudah tak lagi memikirkan hal yang tak berguna, seolah tak memiliki waktu untuk mengurus hal yang tidak-tidak.

"Menyingkir!" ketus Kyuhyun, menyikut salah satu di antara mereka yang menghalangi jalannya saat ini. "Tsk! Bahkan kalian mengganggu di hari pertamaku sekolah!" dengusnya.

Kyuhyun lalu bergegas meninggalkan ketiganya. Aneh, karena mereka sama sekali tak membalas umpatan kesal darinya. Namun satu yang Kyuhyun yakin. 'Mereka tak akan melepasku begitu saja!' batinnya semenjak ada beberapa langkah yang membuntuti di belakangnya.

Bahkan ketika dirinya menapaki tangga menuju atap sekolah. Tempat yang mana ia tahu, Donghae dan Kibum tengah menunggunya disana sejak tadi. Sesekali Kyuhyun melirik ke belakang dari ujung matanya. Ia percepat langkahnya untuk segera menuju atap.

"Kyu!"

Kyuhyun bernafas lega. Ia melihat Donghae terduduk di lantai berdebu itu. Maka segera ia hampiri sang hyung. "Mana Kibum? Dia meninggalkanmu?" tanyanya heran.

"Dia sedang membelikanku minuman, Kyu. Dia akan segera kembali. Dan.."

Ucapan Donghae berhenti, saat melihat tiga anak yang juga tak asing baginya, tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Donghae masih ingat, nama salah satu dari mereka. Ia beranjak dari posisinya lalu menatap Kyuhyun. "Kau baik-baik saja, Kyu? Mereka?"

Kyuhyun mendengus sebal sambil menoleh ke arah belakang, dimana mereka berada. "Apa yang kalian inginkan sebenarnya, huh? Jangan ganggu aku!" omelnya.

Salah satu dari mereka hanya tersenyum menjijikan. Ia ambil satu langkah ke depan dan menunjuk wajah Kyuhyun sambil mendekat perlahan. "Aku hanya senang melakukannya! Senang melihatmu menderita! Mengapa baru masuk sekolah, eoh?"

Kyuhyun mengepalkan erat tangannya. Ia memandangi dia yang mendekat padanya. Ia masih diam meskipun sosok itu mencengkram kerah pada seragamnya. Mata mereka bertemu dan saling beradu, tajam.

Sedang Donghae mulai resah di tempatnya. "Kyu," bisiknya. Iapun marah, namun apa daya? Kakinya sulit ia gerakkan. Seketika bisikan pelan itu menyadarkan sang musuh akan kehadirannya dan akhirnya melihat ke arahnya. "Kau kan sedang pincang!" ledeknya. "Jadi diam saja sekarang! Tak usah lagi membelanya!"

Donghae semakin panik. Ia berusaha menggapai Kyuhyun, namun dua teman musuhnya yang lain segera menghampirinya dan mengunci pergerakannya, bahkan menyeretnya, membuatnya sedikit mengaduh.

"Jangan sakiti dia!" teriak Kyuhyun.

Satu tepukan di pipi Kyuhyun dapatkan. "Hey! Hawatirkan dirimu sendiri!" peringatnya dengan satu seringaian di bibir.

Namun siapa yang menyangka? Dengan amarah yang menjadi, Kyuhyun berbalik menyerang. Setelah menghempaskan cengkraman di lehernya, ia pukul sang musuh, dan lalu menjatuhkannya ke lantai. Ia tindih tubuh itu dan memukulnya membabi buta.

"Hentikan, Kyuhyunie!"

Di sisi lain Donghae memekik tak percaya atas kebrutalan sikap Kyuhyun. Sedang pegangan di tubuhnya tidak terlepas sama sekali, karena dua orang teman sang musuh masih terpaku. Meski pada akhirnya mereka berinisiatif untuk membantu kawan mereka, membuat Donghae semakin kalap dibuatnya.

Dua orang itu akan menyerang Kyuhyun dan melepaskan Donghae begitu saja. Donghae yang lalu berjalan tertatih untuk mencegah mereka. Namun sangat sulit baginya.

Dengan cekatan Donghae menarik pakaian salah satu di antara mereka. Bermaksud mencegah sosok itu, namun ia tak memiliki cukup tenaga. Hingga sosok itu berbalik ke arahnya sambil merutuk. "Jangan mengganggu, sialan!" umpatnya lantas menarik rambut Donghae dengan cepat. Menariknya agar wajah Donghae tertunduk, yang lalu disambut hantaman lututnya dari bawah.

Bugh.

Semilir angin serasa menampar seorang Kim Kibum cukup kencang. Seperti terkena tamparan, saat dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Donghae yang jatuh terpental, dan akhirnya menyentuh lantai dengan posisi terlentang. Dengan jelas ia melihat hantaman keras dari lutut tersebut mengenai wajah Donghae.

Amarah segera merasuk ke dalam diri seorang Kim Kibum. Ia remas botol minuman di satu tangannya, sedang minuman di tangannya yang lain, ia lemparkan pada salah satu di antara mereka yang bahkan berniat melukai Kyuhyun. "Brengsek!" umpatnya.

Kibum tak lagi menunda waktu. Ia hampiri dua musuhnya, sedang Kyuhyun terus berkutat dengan satu musuhnya, seolah tak ingin melepasnya sedikit saja. Kibumpun sama. Ia beradu dengan dua musuhnya. Ia merasa yakin, dirinya lebih kuat. Pukulan dan tendangan ia berikan, hingga membuat salah satu di antaranya tumbang. Dan satu lagi?

"Cepat pergi, dan jangan biarkan aku melihatmu lagi! Aku tak ingin menjadi pembunuh!

Setidaknya Kibum berusaha mengendalikan dirinya. Satu hantaman terakhir ia urungkan saat melihat musuhnya seperti menahan tangis. Maka ia membiarkan dia pergi bersama satu temannya. Sedangkan Kyuhyun? Iapun selesai dengan urusannya setelah sang musuh tak sadarkan diri dengan wajah yang seperti hancur.

"Hyung!" pekik Kyuhyun setelah melihat Kibum yang mencoba mendudukkan Donghae. Ia menghampiri Donghae segera. "Kau baik-baik saja?" tanyanya. Ia meringis kala melihat hidung Donghae yang memerah.

"Aku baik-baik saja," jawab Donghae. Namun, sesaat setelah ia duduk dengan baik dan sedikit menundukkan wajahnya, darah mengalir, menetes cukup banyak dari hidungnya. Dan ia bersandar di bahu Kibum, saat tiba-tiba semua terasa berputar. Ia seperti melayang tak menapak atau merasakan apapun.

"Hyung!" ujar Kibum sedikit panik. Ia masih dapat mendengar Donghae yang bergumam 'tidak apa-apa,' juga dapat melihat Donghae yang mengusap-usap matanya sendiri, dan juga darah yang terus mengalir.

Kyuhyun berinisiatif untuk menggendong Donghae. "Aku akan membawanya ke ruang kesehatan," usulnya dan mendapat anggukan dari Kibum. Sedang dirinya?

"Aku akan menngurusnya!" ucapnya sambil menoleh pada korban pukulan Kyuhyun yang tak sadarkan diri. Ia menghela nafasnya sambil menghampiri sosok itu. Sosok yang ketika ia lihat wajahnya, ia bergumam "kau lagi!" sambil mendengus.

...

Satu jam berlalu. Donghae hanya diam dan terduduk di sisi raniang ruang perawatan dengan satu lubang hidungnya yang tersumbat kapas. Ia memandang dia yang berbaring di ranjang lain, dan masih dalam keadaan pingsan. "Aku takut kau tadi memukulnya sampai meninggal, Kyu. Bodoh!" rutuknya.

Kyuhyun dan Kibum yang memang berdiri di dekat Donghae menjadi saling memandang. "Dia yang memulai, kau tahu sendiri kan!" balas Kyuhyun kemudian.

Ketiganya sedang berbincang kecil, ketika akhirnya muncul Leeteuk tanpa di duga. "Kalian baik-baik saja? Kyu, kau terluka?"

Kyuhyun mengernyit. "Kenapa kau kemari? Siapa yang memanggilmu hyung?" herannya sambil memandang ke arah Kibum dan Donghae yang saling mengangkat bahu mereka.

Leeteuk tak menggubris keheranan yang melanda ketiganya. Cemas jelas ia rasakan ketika melihat jejak darah di hidung Donghae. "Jadi kau yang terluka? Mereka memukulmu, Hae?"

"Umh, aku baik-baik saja. Sebenarnya.."

Brak!

Pintu ruang tersebut terbuka, menampakkan seorang ibu yang menjeritkan nama "Jinwoon!" dengan paniknya. Ya. Jeong Jinwoon yang pernah Kibum bahas, itulah dia yang diserang Kyuhyun hingga tak sadarkan diri sekarang. "Jinwoon-ah!" panggil ibu tersebut, dan lalu memanggil pria lain agar masuk dan menggotong putranya tersebut.

"Anda ibunya?" tanya Kyuhyun tiba-tiba. Namun yang di dapatnya hanya delikan tajam dari wajah tersebut. Sang wanita yang enggan bicara dan segera mengundurkan dirinya kembali, padahal baru saja Leeteuk berkata untuk menyelesaikannya baik-baik. Bagaimanapun, dongsaengnya terlibat jelas.

Baik itu Kibum dan Kyuhyun menjadi heran. Dia bahkan tak berniat menoleh ke arah mereka. Bukankah urusan ini harus diselesaikan? Berbeda dengan Donghae yang seperti mengingat sesuatu. Ia tarik Leeteuk agar mendekat padanya. "Hyung, kau tak ingat padanya?"

"Huh?"

Donghae menoleh pada Leeteuk. "Dia teman dekat ibu! Sahabat ibu! Apa mungkin karena hal ini mereka mengusik Kyuhyun? Aku harus bicara padanya!"

"Donghae!" potong Leeteuk, sambil menahan Donghae yang akan turun dari ranjang. "Tidak sekarang! Hyung akan membawamu ke rumah sakit!"

"Kenapa?" kaget Donghae. "Aku baik-baik saja! Aku tidak sakit! Aku tidak mau!"

"Kau harus memeriksakan kakimu!"

"Tapi tidak sakit!"

"Hyung tahu itu, karena semua hal tidak akan sakit bagimu! Tapi siapa yang mengetahuinya?!" ujar Leeteuk, begitu berkeras kali ini.

Kibum hanya diam, sedangkan Kyuhyun mendengus sebal. "Bilang saja kau ingin bertemu dengan dokter itu, hyung. Kau ingin mencari alasan untuk bertemu dengannya, kan?" tuding Kyuhyun.

"Bukan begitu, Kyu.." bantah Leeteuk.

"Ah, sudahlah! Aku tidak mau membahasnya.." dengus Kyuhyun. Ia memilih mendudukkan dirinya di samping Donghae. Enggan menatap Leeteuk, hingga Kibum turut membuatnya kesal saat mengatakan, "bawa saja, hyung! Sepertinya hidungnya juga harus diperiksakan!" candanya.

"Ish! Kau sama saja!"

...

Menjelang malam, Donghae dan Leeteuk sudah berada di dalam mobil mereka. Saling diam, mengingat Donghae baru saja terbangun dari tidurnya.

"Apa saja yang kau bicarakan dengannya, hyung? Lama sekali!" tanggap Donghae dengan bibirnya yang menguap panjang. Ia gerakkan tubuhnya, sementara Leeteuk memasang seat beltnya dan bergegas menghidupkan mesin mobilnya. "Satu jam, huh?" dengus Donghae, saat melihat jam di tangannya, karena harus menghitung berapa lama sang hyung telah meninggalkannya. "Kau benar-benar berkencan dengannya!"

"Tidak!" bantah Leeteuk. Ia mulai fokus pada jalanan yang dilaluinya. "Aku membicarakan kakimu, Hae. Semua tentangmu. Hanya itu!" terang Leeteuk.

"Pembohong!" ketus Donghae. "Satu jam hanya membicarakanku? Tidak masuk akal! Betah sekali kalian," cibir Donghae. Namun entah mengapa kali ini Leeteuk nampak diam tak menanggapi godaannya. Membuat Donghae kembali menyandarkan tubuhnya dengan nyaman. Menikmati jalanan kota yang mulai terhiasi indahnya lampu-lampu di sepanjang jalan.

Menghabiskan waktu berdua saja dengan sang hyung, sepertinya membuat Donghae sedikit nyaman. Dan entah di menit keberepa setelahnya, akhirnya kembali Donghae membuka percakapan. "Apa kau menyukainya?" satu pertanyaan yang membuat Leeteuk sulit untuk menjawabnya.

"Kau menyukainya, hyung?" tebaknya. Mungkin sang dokter yang ia maksud.

"Tidak," kilah Leeteuk.

"Benarkah?" goda Donghae. "Padahal aku setuju saja jikapun kau menikah dengannya.."

"Eh?"

Donghae tersenyum sambil melirik Leeteuk. "Kau sudah tua hyung! Kau harus menikah, kau tahu?! Jangan hanya memikirkan hal lain.."

Entah mengapa Leeteuk nampak meringis mendengarnya. "Tapi kau tahu Kyuhyun bahkan tak ingin melihat wajahnya, kan? Apa dayaku jika dia tak suka! Mungkin ia belum siap. Jadi, biarkan aku hanya menjaga kalian untuk saat ini. Apa ini cukup?"

Donghae hanya mengangguk samar. Ia alihkan pandangannya pada sisi jendelanya. "Lalu, bagaimana jika Kyuhyun setuju suatu saat nanti?" tanyanya. "Saat dimana seharusnya hal itu terjadi. Saat dimana kau harus melepas kami sebagai tanggung jawabmu, hyung! Semua pasti akan tetap terjadi!"

Leeteuk akan membalas ucapan Donghae, jika saja bocah itu tak memotong ucapannya. "Tapi bukankah seharusnya kau mengucapkan perasaanmu terlebih dahulu padanya?"

...

Berbulan-bulan terlewati. Bahkan musim telah berganti. Apa saja yang telah terjadi pada mereka? Pekerjaan, sekolah, semua terjadi dalam hal yang wajar. Berita baiknya, adalah Donghae yang telah selesai dengan semua pengobatannya, dan telah mampu kembali berjalan dengan kedua kakinya.

Bahkan saat ini..

"Ibu, ini kurang manis!" Donghae berani berkomentar pada setiap masakan yang dibuat ibu Lee untuknya. Meski, "Ini terlalu manis, hyung!" kerap kali lidahnya masih selalu mengantarkan 'rasa' yang salah dan rumit baginya. Namun sejauh ini, semua berjalan baik-baik saja dan nampak menyenangkan.

Akhir pekan adalah saat bagi mereka untuk bersama. Menghabiskan waktu mereka seutuhnya di rumah untuk menjaga kebersamaan dan juga kehangatan yang ada.

"Dimana Leeteuk hyung?"

Tanya Kyuhyun tiba-tiba, kala tak mendapati sang hyung yang seharusnya berkumpul bersama mereka. Dilirknya jendela dari rumahnya tersebut. Cukup jauh dari tempatnya berdiri, meski masih menampakan percikan air disana. Benar! Di luar sedang hujan deras. Untuk itulah mereka lebih memilih untuk menghabiskan waktu mereka dengan berkumpul di ruang tengah sambil menikmati secangkir kopi ataupun coklat hangat.

"Dia sedang ada urusan," jawab tuan Lee.

Kyuhyun segera memicingkan matanya ke arah Donghae. "Benarkah itu?" selidiknya pada Donghae. Satu-satunya orang yang tak pandai berbohong padanya di antara semua orang di rumah tersebut. "Hyung!" desak Kyuhyun kemudian, membuat Donghae harus tersedak saat meneguk coklat hangatnya.

"Aku tidak tahu, Kyu!" imbuh Donghae.

Sedang ibu Lee tersenyum untuk menengahi keadaan tersebut. "Memangnya kenapa jika ibu katakan hyung mu tengah berkencan, hm?" tanyanya pada Kyuhyun.

Kyuhyun yang lalu terlihat menekuk wajahnya. "Bukan masalah berkencan, bu! Aku hanya heran, tidakkah ada perempuan lain selain dia?!" rutuknya sebal.

"Memangnya kenapa, Kyu?" timpal Donghae. "Hyena noona cantik. Dan juga pintar. Tidakkah kau akan bangga jika melihat Leeteuk hyung menikah dengan sosok sempurna sepertinya?" tutur Donghae.

Terlihat Kyuhyun yang mengusap dadanya kali ini. "Jantung ini yang membuatku tak menginginkannya, hyung! Bukan aku!"

Donghae menegang di tempatnya. Sepertinya ia terlalu banyak bicara dan membuat Kyuhyun tak nyaman. Ia letakkan cangkir di tangannya. Disimpannya di atas meja, dan lalu ia menghampiri Kyuhyun dan merangkul dongsaengnya tersebut. Membuat Kyuhyun sedikit tenang.

"Ayah pikir, sudah saatnya kau memberanikan diri untuk bertemu dengannya.."

"Kyu, hyungmu sudah terlalu dewasa untuk hidup seorang diri. Sudah saatnya ia memiliki keluarga kecilnya sendiri.."

"Tapi tidak dengan wanita itu!" sentak Kyuhyun tiba-tiba, membuat siapapun terkejut dibuatnya. Ia bangkit dengan tak sabar, dan lalu melangkahkan kakinya dengan kasar. Tak ia pedulikan Donghae yang mengejar di belakangnya. Mengejar hingga meninggalkan suara keras yang tak mampu ia hiraukan sejak penat itu kembali menyerangnya. Ia banting kasar pintu kamarnya, meringkuk di atas kasurnya dan dengan cepat memejamkan matanya.

...

"Jadi?"

"Maafkan aku.."

Leeteuk tersenyum kecil di antara rintik hujan yang turut membasahi jendela dan seluruh permukaan luar kendaraannya. Menambah kesan dingin di dalam mobil tersebut. Dingin di antara kecanggungan yang begitu menyeruak dalam, tertanam di antara dua wajah yang kini bahkan tak mampu untuk saling menghadap dan menatap.

Segera Leeteuk menundukkan wajahnya. Menutupi segurat kecewa di wajah itu. Beruntunglah ponselnya berbunyi, menyamarkan perasaan di hatinya saat ini. "Hallo?" sapanya. Namun, suara dari seberang sana membuatnya panik seketika.

"Donghae jatuh. Sepertinya kaki kirinya masih belum pulih dengan benar. Kau dimana? Bisakah kau pulang?"

Leeteuk menutup ponselnya dan melirik pada wanita di sampingnya. Ia katakan, atau lebih tepatnya meminta pada sosok tersebut. "Bisakah kau menemui Donghae? Terjadi sesuatu dengan kakinya. Kupastikan ini yang terakhir kalinya aku meminta padamu.."

...

"Apa yang terjadi?" tanya Leeteuk begitu sampai di rumahnya bersama sang dokter cantik, dan langsung menghampiri Donghae yang masih nampak meringis, terduduk di atas sofa. Sedangkan sang dokter segera menghampiri Donghae, dan memeriksa kondisi kakinya.

Tuan Lee enggan bicara, hingga istrinyalah yang harus menjawab dengan yakin, bahwa "Donghae terjatuh saat mengejar Kyuhyun menuju tangga. Kyuhyun.."

.

"Aku terima. Ini takdirku. Tentang sebatas jumlah nyawa yang Tuhan berikan padaku. Sudah seharusnya aku meninggal, dan kau hidup. Hidup dengan hatiku. Ini adalah jalan Tuhan. Bukan salah siapapun, dan aku tak menyalahkanmu. Hanya saja, bisakah kau sampaikan maafku? Padanya. Pada noona cantikku. Bisakah?"

.

Kyuhyun membuka matanya seketika. Sorot mata yang penuh akan keterkejutan yang dalam, dan juga nampak sedikit kosong terasuki lamunan yang penuh arti. Nafasnya memburu. Perlahan bola matanya memutar ke semua penjuru ruangan. Seperti mencari sesuatu yang juga tak ia temukan.

Lantunan nafasnya cukup teratur meski tersendat. Kakinya mulai menuruni tempat tidurnya. Di antara ketidaksadarannya ia mulai berjalan di antar dinginnya lantai. Membuka pintu kamarnya dan lalu mengernyit saat mendengar suara wanita yang terlantun indah di lantai bawah.

"Aku akan pulang. Donghae baik-baik saja. Kalian tak usah cemas. Selamat malam.."

Kyuhyun seperti memfokuskan pendengarannya pada suara tersebut. Perlahan ia menapaki tangga menuju lantai bawah. Tak dihiraukan olehnya, tatapan heran dan juga panggilan atas namanya. Matanya hanya mencari sosok yang ingin ditemuinya saat ini.

'Dimana?' batinnya. Ia lewati ruangan demi ruangan di dalam rumahnya tersebut, mengantarkannya pada tetesan hujan yang terbawa angin cukup kencang. Hujan memang cukup kencang malam tersebut. Namun Kyuhyun seperti tak menghiraukan tubuhnya yang kini terguyur hujan. Ia menghampiri dua sosok yang kini berada di sisi sebuah mobil dimana salah satu pintunya telah terbuka.

Tangannya terulur untuk menangkap satu tangan pemilik jemari lentik yang kini terkena tetesan air hujan. "Tunggu," ucapnya dalam nada bergetar.

"Kyu!" Leeteuk memekik kaget saat tersadar Kyuhyun kini ada bersamanya, tengah menggenggam lengan Hyena. "Kenapa? Ada apa?!" paniknya. Ia sendiri tengah memegang sebuah payung, yang mana payung tersebut sedang melindungi tubuh sang gadis dari hujan.

Sedang Kyuhyun hanya diam. Dalam tubuh basahnya ia mulai gemetar. Namun matanya tak gentar untuk terus menatap wajah wanita yang lebih tua darinya tersebut. Ragu! Dengan jelas guratan ragu itu terpancar kuat dari wajahnya. Namun, entah datang darimana kalimat-kalimat yang akhirnya tertuang kemudian dari mulutnya tanpa sadar.

"Maaf.. Maafkan aku, noona.."

"Eh?"

Kyuhyun memejamkan matanya. "Maaf, karena aku telah egois padamu. Maafkan, karena aku menganggapmu lebih mementingkan orang lain daripada diriku. Seharusnya aku tahu, bahwa kau menyayangiku, benar kan? Seharusnya aku tak pergi malam itu. Seharusnya aku lebih bersabar untuk menunggumu, noona. Maafkan aku.."

Langit semakin bersemangat untuk meneteskan tiap airnya. Ditemani gemuruh menjadi, dan juga angin yang kian kencang. Suara air yang jatuh ke bumipun, semakin nampak terdengar. Sedangkan sang dokter cantik bermarga Park itu akhirnya menatap Kyuhyun dengan perih di matanya. Mungkin ia telah menangis.

Dengan satu gerakan ia mengusap wajah Kyuhyun, lalu beralih untuk mengusap dada Kyuhyun, dimana jantung itu berdetak. Jantung milik saudaranya, yang masih berdetak meski berada di tubuh orang lain. Ia percaya bahwa, "ini kau, hm?" bahwa untaian kalimat dari bibir Kyuhyun, adalah satu pesan yang dibawa dari saudaranya yang telah tiada.

Sedang Kyuhyun membuka matanya. "Aku tidak tahu," ucapnya bingung. "Aku hanya bermimpi. Mungkin itu dirinya?" tuturnya.

Leeteuk mengamati. Ia turut tersenyum kala melihat gadis tersebut memeluk adiknya dan akhirnya tersedu di antara tubuh basah Kyuhyun.

"Aku tahu! Aku memaafkanmu. Semoga Tuhan menempatkanmu di tempat terindah, dan maafkan aku.."

Leeteuk menangis dalam diam. Ia bisa merasakan sakitnya kehilangan, meski yang di alaminya, bukan seutuhnya kehilangan, namun hampir kehilangan. Dan itu menyesakkan. Sangat menyakitkan! Membuatnya menyentuh punggung sang gadis dan mengusapnya perlahan. Memberikan ketenangan baginya agar mampu lebih kuat.

Kyuhyun menunggu. Menunggu tangisan itu mereda. Begitupun hujan yang hanya meninggalkan rinciknya saja. Ia tetap berdiri, begitupun sang hyung dan juga 'dia'. Dia yang lalu Kyuhyun beri senyuman. Senyuman yang mengartikan sebuah penyesalan yang dalam. "Maaf atas sikapku. Aku.."

"Tidak apa-apa."

Kyuhyun menelan gugup ludahnya. Ia nampak ragu untuk kembali berbicara. Namun sepertinya, apa yang ingin ia ucapkan begitu mendesak. Terlebih saat dirinya melihat wajah sang hyung. Tatapan Leeteuk pada wanita itu, dimata Kyuhyun tidaklah main-main. Ia terpikirkan satu hal. Namun..

Suara petir menyembar. Dengan satu kilatan bercahaya yang membuat Kyuhyun tersadar, ada sebuah cincin tersemat di jari manis sang dokter. Apa artinya? Sedang ia tahu, sang hyung bahkan belum mengutarakan cintanya. Apa semua terlambat karena ulahnya selama ini?

Kyuhyun terpaku. Larut dalam kekecewaannya, hingga Leeteuk menyadarinya. "Cepatlah masuk dan ganti pakaianmu, Kyu. Kau bisa sakit. Aku akan mengantarnya terlebih dahulu.."

Kyuhyun merasa lidahnya kelu. Bahkan ketika Leeteuk mendorong tubuhnya agar segera masuk ke dalam rumah. Ia tetap larut dalam kecewanya. Tak berani menatap Leeteuk. Atapun untuk sekedar mengucap maaf. Hingga keduanya akhirnya menghilang dari pandangannya.

...

"Aku pulang.."

Sudah sangat larut, saat ketika Leeteuk pulang dan mendapati Kyuhyun tengah menungguinya. Terduduk di atas sofa dan menundukkan wajahnya. Leeteuk sempat mengira, mungkin Kyuhyun telah tertidur. Namun sang dongsaeng akhirnya mendongakkan wajahnya ke arah Leeteuk dengan wajah sendunya.

Satu tarikan nafas terjadi, saat Leeteuk memutuskan untuk duduk di samping Kyuhyun. Seolah tahu apa yang dipikirkan Kyuhyun, ia mengatakan bahwa, "Hankyung lebih cepat daripada aku.."

"Huh?"

Leeteuk memandang Kyuhyun sambil tersenyum tipis. "Mereka akan menikah, besok!"

Dengan cepat beberapa air mata berkumpul dikedua sudut mata Kyuhyun yang langsung saja memerah. Ia tak berani lagi untuk menatap sang hyung. "Maafkan aku," sesalnya dalam sebuah bisikan.

Leeteuk tersenyum getir. "Bukan salahmu, Kyu. Bukan. Aku tak menyalahkan siapapun.."

Kyuhyun mendelik tajam pada Leeteuk. "Sampai kapan hyung akan bersikap seperti ini?" dengusnya. "Sampai kapan kau harus terus mengesampingkan segala hal tentangmu sendiri, huh? Hanya memikirkan kami dan kami! Kau harus menjalani hidupmu, hyung! Jangan selalu ingin berkorban! Kau membuatku merasa bersalah! Kau membuatku merasa buruk! Kau- hiks!"

Leeteuk segera membawa Kyuhyun ke dalam pelukannya. "Tidak apa-apa," bisiknya sambil mengusap punggung Kyuhyun. "Semua baik-baik saja. Aku tidak apa-apa. Jangan sesali apapun. Itu tidaklah baik, Kyu! Semua jalan hidup kita, telah ditentukan oleh Tuhan. Kita tak boleh menyesalinya.."

Kyuhyun akhirnya menangis tersedu di bahu sang hyung. Terus diucapkannya kata maaf itu, dari bibirnya yang bergetar karena tangis yang ada. Keduanya tetap di posisi yang sama dalam waktu yang lama. Jauh meninggalkan seorang Donghae yang tersenyum di antara anak tangga yang sedang dihuninya.

Ia tersenyum. Sejak tadi ia ada dalam posisi tersebut. Berdiri, mendengar, melihat dan mengamati apapun yang terjadi disana. Ia yang akhirnya mampu bernafas lega, karena semua terlihat baik-baik saja meski cerita akhirnya berbeda. Setidaknya kabar menikahnya wanita pujaan hati sang hyung dengan pria lain, merupakan hal buruk pula baginya. Namun semua masih bisa diperbaiki, bukan?!

Perlahan Donghae mengundurkan dirinya. Menapaki ruang tidur yang beberapa bulan ini dihuninya bersama Kyuhyun. Ia yang akhirnya terduduk di sisi tempat tidur. Hanya terduduk, sambil mengamati sebuah kalung salib yang barusaja ia ambil dari laci pakaian miliknya. "Tuhan," tuturnya. "Bagaimana ibu disana? Ia baik-baik saja, kan?"

Entah mengapa di malam tersebut, tiba-tiba saja Donghae mengingat kembali ibunda tercintanya. Membayangkan kehadiran sang ibu di sampingnya. Ada menemaninya, hingga ia terbaring di atas tempat tidur. Masuk ke dalam sela-sela mimpinya, membuat tidurnya berseri.

"Aku merindukanmu, bu.."

-TBC-


Maaf ini cukup lama. ^^ ada banyak hal yang membuat saya merenung! Memikirkan beberapa bagian yang saya kurang yakin. Soal makanan 'bulgogi' salah satunya, lah saya tidak tahu yang sebenarnya. Hanya mengira-ngira. Maaf jika salah. :') Yang lain? Soal fict ini! Maaf jikapun ada pihak yang tidak setuju 'kenapa Donghae kena siksa mulu?' 'Kenapa banyak yang pengen Kyuhyun mati?' ini membuat saya banyak berfikir kemarin, ^^

Semua yang ada disini bukan semata-mata saya buat karena saya ingin 'siksa' mereka. Oke saya tau mungkin kalian bercanda saja. Disini saya hanya ingin utarakan, bahwa dari chapter awal hingga yang sekarang, itu saya buat dengan banyak pertimbangan. Banyak membaca tentang hal yang berkaitan. Butuh pemikiran keras juga. Terutama, kesinambungan tiap chapter, itu benar-benar menguras ide saya. Saya tak ingin cerita ini kesannya jadi terlalu mengada-ada.

Sejauh ini saya sangat senang dengan semangat ripiu kalian semua. :D terima kasih banyak! Banyak - banyak - banyak, sangat! Saya tidak menyangka fict ini bisa berjalan hingga sejauh ini. Heu. Untuk kritik dan komentar kalian, saya akan lebih senang jika kalian mengkritik tulisan saya, karya saya, ide/cerita di dalamnya. Jangan sangkutpautkan sama perasaan 'hati' kalian terhadap keberadaan bias kalian disini. Ini hanya cerita gila milik saya. Tak ada niat menyakiti siapapun. Lagipula ini OOC kan? Saya gak bawain karakter asli mereka disini? ^^ Jadi, nikmatilah.. ^/^

OH! Baiklah! Mungkin untuk sekarang saya cantumkan nama yang akan saya beri 'kasih dan cinta' dari saya karena telah ripiu kemarin, Ohhoohhoo..

Wapuchi ^ BryanTrevorKim ^ AriskaXian ^ ShinJoo24 ^ haelfishy ^ teukiangle

meimeimayra ^ xxx ^ hijkLEETEUK ^ Guest ^ rini11888 ^ Aisah92 ^ tinahudzaifah

gyu1315 ^ anastasia ^ Gyurievil ^ Changmin loppie ^ BunnyKyunnie

Chokyu ^ Vivi Kurnia ^ elfwidya ^ Ike. aulia ^ anastasya regiana ^ HaElf ^ auhaehae

diahretno ^ yolyol ^ sfsclouds ^ calista ^ N. E. Skyu ^ kihae forever

fikyu ^ joanbabykyu ^ casanova indah ^ ADS ^ Guest ^ Nemohaedong ^ choyeonrin

Lee HwaKyung ^ AlifELFyeoja ^ chan ^ ShixieL ^ ayu ^ nureazizah

arumfishy ^ Cho Kyura ^ tya andriani ^ rini11888 ^ Yulika19343382 ^ Mira Haje

92Line ^ Vincent Brianna Cho ^ Augesteca ^ Ainun861015 ^ ExitoHaeFishyQueen ^ TeukHaeKyu

Safa Fishy ^ Love Baby Hae ^ oelfha100194 ^ Angelika Park ^ dhedingdong

TeuKyu ^ namihae ^ KimKeyNa2327 ^ rrannteuk ^ ekha sparkyu ^ vicya merry

keyla ^ Kim Haemi ^ haekyuLLua ^ riekyumidwife ^ dyayudya ^ Sutriia Ningsiih

Blackyuline ^ Lee kyula ^ bella0203 ^ Guest ^ GaemGyu92 ^ Arum Junnie ^ Guest

Cho yasin ^ nnaglow ^ Chokyu ^ Dew'yellow ^ vhA chandra ^ minniekyu ^ ataaaaa


Nah, segini dulu untuk chapter ini. Masih menunggu chapter selanjutnya? Gak juga ga apa-apa. Maaf ya sebelumnya, jika perkataan saya menyinggung. Saya malah mengatakan hal yang tidak-tidak. Abaikan saja lah ya. HeuHeu.

Semoga chapter depan tak lama. Yu marii~