Disclaimer: Udah jelas-jelas Kazuki Takahashi punya!

Author: *Niup terompet tahun baru* HyaaaHAaaa! Akhirnya update jugaaa!

Yugi: *sweatdrop, nutup kuping* Begitu aja langsung rebut

Author: Memangnya kenapa?! Sewot lu..

Ehm, ehm.. Karena Yugi, Yami, Marik dan Bakura sudah muncul, jadi sekarang..

Ryou: Kapan gue nongolnya nih author?

Author: Ntar Ryou babe.. Mulai dari sini, peranmu mulai keliatan. Oke dah. Selamat membaca! RnR please.. ^_^

-Chapter 2: The Ghost-

"Yugi, tolong aku"

Bayangan putih itu muncul sesaat dan menghilang lagi setelah mengucapkan kalimat itu. Lampu pun kembali menyala setelah kejadian itu.

"Hah?! A.. apa itu tadi?! Ja..jangan-jangan..hantu yang tadi.. Tapi..ba..bagaimana bisa hantu itu tahu namaku?!" Yugi berlari keluar ruangan dengan jantung yang berdegup sangat kencang dan wajah yang pucat.

"Kenapa aku selalu merasa kalau ada sesuatu yang mengikutiku?"

Keringat mulai mengucur dari dahinya. Ketakutan yang ia rasakan belum juga hilang. Ia berlari tak tentu arah, asalkan ia segera menjauh dari ruangan itu.

XxX

Disisi lain, keluar tiga orang dari mobil mewah.

"Hari ini ada pelajaran IPA" kata seorang pria berambut putih.

"Waah.. Darah segar terasa tercium dari sini" pria berambut ash blonde yang berdiri disamping kedua temannya bergaya dengan lebaynya.

"Sudah kalian berdua. Aku mau masuk dulu" seorang pria berambut jabrik dengan tiga warna menengahi kedua temannya.

"Perlu kami antar sampai ke dalam?"

"Tidak usah. Aku bukan anak-anak yang harus kau temani kemana sampai masuk toilet" pria berambut bintang unik itu berbalik pada kedua sahabatnya.

"Baiklah tuan Yami"

"Aku bukan tuanmu. Jangan panggil aku begitu Marik. Sebaiknya kalian segera kembali" ucapnya mulai kesal.

"Baik,baik. Aku menyerah. Ayo Bakura, kita pulang" mereka berdua naik ke dalam mobil lagi.

"Oh, ya. Satu pesan untukmu. Bawakan aku darah segar saat pulang nanti ya? Hehe" lanjutnya sebelum masuk ke dalam mobil.

"Aku bukan anak buahmu" ia berbalik dan memasuki halaman kampusnya dengan cepat.

"Hei, apa kau dengar pembicaraan mereka?" tanya seorang gadis berambut biru pada kekasihnya.

"Iya. Mereka orang-orang yang aneh"

"Aku jadi takut"

XxXxXxX

Yugi masih belum dapat melupakan kejadian yang baru saja terjadi padanya.

'Apa aku benar-benar melihat hantu? Tidak. Tidak mungkin. Mana ada hantu di dunia ini? Tidak ada manusia yang dapat melihat hantu bukan? Mungkin aku hanya terlalu lelah semalam' ia mencoba menghilangkan rasa takut yang melandanya dengan berpikir positif.

Yugi memang penakut. Rasa takutnya pada hantu belum dapat ia usir sejak dari kecil walaupun ia sendiri tak pernah melihat hantu itu muncul. Ia sudah berlatih untuk melupakan kata 'hantu' dalam hidupnya. Latihannya terbukti berhasil dan ia sudah dapat tinggal sendiri di rumah pemberian orangtuanya dan tak takut pada kegelapan. Tetapi, setelah ia berhasil melupakan masa lalunya tentang hantu, kini hantu yang tidak pernah ia lihat sejak dari kecil itu tiba-tiba muncul dihadapannya. Ia dapat melihat hantu itu melayang dan ia mendengar hantu itu memanggil namanya dengan jelas. Namun Yugi masih tidak mengerti apa yang diinginkan hantu itu dari dirinya. Berbagai pertanyaan mulai berputar-putar diotaknya. Siapa sebenarnya hantu itu? Mengapa dia tahu namanya dan apa maunya? Dan mengapa ia meminta tolong pada Yugi? Pertanyaan itu masih ia simpan dalam otaknya. Ia berhenti belari dan mulai berjalan dengan kakinya yang masih bergetar. Ia menggeleng, mengusir fikirannya tentang hantu yang tak jelas itu. Kamera masih ia genggam ditangannya. Tak berapa lama, matanya tertuju pada rak-rak yang dipenuhi piala.

"Waah! Pialanya penuh. Padahal dulu tak sebanyak ini. Coba aku lihat" ia berjalan mendekati rak-rak piala itu dan mulai mengambil beberapa gambar piala yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.

CKLEK

Wuuussshhhh

Bayangan putih itu muncul lagi dihadapan Yugi.

"Aaagghhh! Ba..bayangan itu lagi. Kenapa dia selalu muncul dihadapanku?" Yugi mulai takut dan ingin berlari lagi. Namun..

"Ke..kenapa ini? Kenapa aku tidak bisa bergerak?"

"Aaagh!" bayangan itu merasuki tubuh Yugi. Yugi merasa lemas dan ia merasa tubuhnya akan segera jatuh. Ia menutup matanya rapat-rapat. Namun, sebelum tubuhnya terjatuh dan membentur lantai, ia merasa seperti tubuhnya ditangkap oleh seseorang. Yugi mencoba membuka matanya perlahan-lahan dan ia melihat seorang pria berambut bintang dengan tiga warna unik, warna rambut yang sama dengannya.

"Untung saja kau tidak membentur lantai tadi"

"….." Yugi masih melamun meihat sosok pria dengan paras yang begitu menggoda baginya. Mata amethystnya tak berkedip sedikitpun menatap merahnya mata pria yang ada di depannya saat ini. Bagi seorang gadis sepertinya, mencintai seseorang itu tak mudah. Namun, kali ini? Yugi tak bisa mengingkari kenyataan bahwa pria yang ada dihadapannya benar-benar tampan. Dan ia rasa, ia telah menemukan cinta pada pandangan pertama.

"Hei, kau masih bernafas? Haloooo!" Yami melambaikan tangannya di depan wajah Yugi.

"Hah? Aku umm.. hampir menjatuhkan kameraku" Yugi menjadi salah tingkah dengan itu.

"Kenalkan, aku Yami Atemu. Murid baru disini" Yami memperkenalkan dirinya.

"Oh, aku Mutou Yugi. Salam kenal"

"Ngomong-ngomong, kenapa tadi kau bisa terjatuh?"

"Aku…" Yugi tak berani mengatakannya. Ia hanya tak ingin kalau dirinya nanti diejek jika ia mengatakan yang sebenarnya. Tapi, Yugi bukanlah tipe orang yang suka berbohong. Ia sudah terbiasa berkata jujur.

"Kau kenapa?"

"Aku.. tadi melihat hantu" Yugi memberanikan diri untuk mengatakannya.

Yami terlihat serius dan berfikir dengan jawaban itu.

'Bagus, aku mengatakan hal yang bodoh lagi. Dia tak menanggapiku' wajah Yugi mulai cemberut.

"Sudahlah. Lupakan saja. Jawabanku memang tidak masuk akal"

"Tidak. Itu tidak bodoh. Kau mengatakannya dengan jujur. Kau mengatakan apa yang kau lihat" Yami menajamkan matanya.

"Sudahlah. Yami, boleh kuambil gambarmu?" Yugi mulai tersenyum lembut pada Yami.

"Tentu. Kenapa tidak? Silahkan"

CKLEK

"Baiklah, sampai nanti, Yugi" Yami pergi meninggalkan Yugi sendirian.

"Aku harap begitu.." senyum masih mengembang di bibirnya. Pertemuan yang menyenangkan itu membuat jantung Yugi berdegup kencang dan bersorak riang dalam hati. Belum pernah ia mendapat yang seperti ini. Yugi tak percaya bahwa ia telah jatuh cinta pada seorang murid baru bernama Yami pada pandangan pertama saat menyelamatkannya. Padahal, saat bertemu Seto dulu, ia tak merasakan hal seperti ini. Semua kisahnya dan Seto butuh proses. Beda halnya dengan Yami. Yami adalah orang pertama yang dapat memikat hati Yugi selain Seto.

"Hangat sekali.." Yugi memeluk dirinya sendiri sambil tersenyum-senyum sendiri.

"Agh! Apa yang kufikirkan ini?! Aku sudah punya Seto! Aku tidak boleh menduakannya. Lagipula, aku belum mengenal Yami seperti apa"

KRIIIINGG KRIIIIINNGG

Bel masuk telah berbunyi. Yugi mulai berlari menuju kelasnya. Ia sudah berlari terlalu jauh dari kelasnya karena hantu tadi.

"Oh tidak! Aku terlambat!"

Ia menuju ke kelas sains.

"hh..hh.." Yugi mencoba mengatur nafasnya yang memburu. Kakinya telah sampai di depan ruang kelasnya. Ia mencoba masuk kelas dengan diam-diam agar dosennya tak mengetahui kedatangannya.

"Terlambat lagi?"

"Ssht! Jangan keras-keras, Ryou"

"Yugi, kenapa kau tidak membayar tiap kali kau terlambat?" dosennya telah menyadari kedatangan Yugi.

"Eh? Ma..maaf pak, aku tidak akan mengulanginya lagi"

""Ya sudahlah. Sekarang, saya akan memperkenalkan guru baru yang akan mengajar di kampus ini. Ini adalah Keith, guru kesenian dan anaknya, Pegasus"

"Yugi, lihat apa yang kubawa" Ryou mengeluarkan pisau lipat miliknya.

"Pisau lipat? Untuk apa itu?"

"Aku ingin melakukan percobaan dengan menggunakan darah. Coba lihat ini" Ryou mengiris jari tengahnya dengan pisau lipat tadi. Darah segar mengalir dari luka sayatan yang telah dia buat.

"D-D-Darah!"

BRUUK

Yugi pingsan setelah melihat darah Ryou.

"Yugi! Pak! Tolong! Yugi tiba-tiba pingsan!"

Ryou panik melihat sahabatnya tiba-tiba pingsan saat melihat darahnya. Padahal, Yugi tidak pernah takut pada benda semacam darah. Ryou membawa Yugi pulang ke rumahnya atas tumpangan dari Seto.

'Apa yang terjadi pada Yugi? Kenapa tiba-tiba dia menjadi aneh seperti ini? Padahal sebelumnya dia tak pernah takut pada darah. Apalagi dia sampai pingsan seperti ini hanya karena melihat darahku. Pasti ada sesuatu. Aku harus mencari tahu. Yugi adalah sahabatku. Kalau dia mempunyai masalah, aku harus bisa membantunya. Yugi, cepatlah bangun' Ryou menatap kawannya yang masih menutup matanya.

TBC

Yugi: Hiyaaaaa! O Kenapa pendek amat?

Author: Yugi? Lu kan harusnya masih pingsan. Udah sono bobo lagi!

Yugi: Tapi pendek amat ficnya.

Author: Maaf ya semua! Padahal tadi mau lebih panjang dari yang chap 1, tapi jadinya malah lebih pendek. Soalnya, Maya lagi banyak kerjaan, terlebih lagi tugas yang sedang menunpuk.

Yami: Akhinyaaa~ aku keluar juga di chap 2 ini. Legaaaa

Seto: Aku malah gak ada.. T-T

Jou: Sama!*tos*

Author: Salah kalian berdua! Napa mau dapet peran kayak gitu.

Jou: DASAR AUTHOR BAKAAA! YANG MILIH PERAN BUKAN GUE TAOOOO!

Seto: He'eh! Ntu author bego banget. Harusnya lu ngasih gue peran yang lebih bagus lagi kek. Masa' gue harus pasangan sama si puppy Jou?! Ngaca dong.. Gak level

Jou: Apa kau bilang?!

Author: Nih gue udah ngaca. Ternyata gue oke juga ya?! Hehe *ngaca di mobil Seto*

Ryou: Udah. Daripada ngurus itu, mending kita bales review aja!

To Gia-XY: Makasih ya Gia, udah mau repot-repot baca ficku.. Nih udah update. Kapan-kapan kita collab yuk!

To Ruega Kaiba: Hai kaaak! ^_^ makasih kak udah di review. Aku fikir nih fic gak bakalan ada yang baca hahaha

Author: Yupp! Segitu aza. Namanya juga baru pemula toh. Ntar aku usahain lebih baik deh.. Cemoga gak telalu mengecewakan para reader yoo.. Chapter berikutnya bakal aku usahain updatenya cepet-cepet. Makasih semua udah mau membaca..