Chapter 1: Keusilan Harvest Goddess

CLAIRE POV

Aku tahu tentang Gray, dia pendiam, bermulut kasar, pembentak dan tidak suka diajak bercanda. Tapi walaupun begitu didasar hatinya dia tidak berniat buruk, mungkin hanya perasaan kesalnya karena kakeknya yang tidak menghargai kerja kerasnya yang membuat dia pemarah. Sebenarnya Gray sangat peka pada perasaan seseorang, dia mempunyai kelebihan sikapnya yang cool dan wajahnya yang tampan. Kalau tidak, tidak mungkin Mary tergila-gila padanya, dan tidak mungkin hatiku tertambat pada Gray. Aku mencinta Gray, tapi...

" Claire?! jangan bercanda! dia itu cewek yang menyebalkan, tidak ada yang manis padanya dan dia sangat cerewet!"

Aku mendengar dengan telingaku, melihat dengan mata kepalaku dan merasakan nada membentak dari mulutnya! Aku tahu selama di Mineral town aku dan dia adalah teman berkelahi, dia memang sangat kasar dan... SUNGGUH BODOH AKU MENCINTAI ORANG SEPERTI DIA!

BRAK!

Aku membuka pintu dengan keras, suasana hening dan semua mata tertuju padaku. Cliff terlihat khawatir, Kai sedang tersedak minuman karena saking kagetnya, Ann menjatuhkan nampan beserta minuman, Doug bersuil pura-pura tidak merasa bukan urusannya atas perkataan Gray padaku tadi, dan gray sedang membelalak menatapku.

"Doug, aku bawa tepung yang kau minta belikan di Supermarket" aku menghentakan kaki dengan kesal dan terburu-buru. Doug berterimakasih padaku saat aku menyerahkan tepung padanya, aku membalasnya lalu keluar menutup pintu dengan kencang. Penginapan terdengar ribut saat aku keluar, mereka terdengar panik dan menyebut-nyebut nama Gray. Aku tidak perduli dan berlari menuju air terjun.

HARVEST GODDESS POV

Dia selalu kemari dan suka ngobrol denganku, sering dia curhat masalah apapun padaku dan minta solusinya. Aku tidak keberatan, dia sahabat bagiku. Dan dia adalah seorang gadis berambut pirang dan mata biru yang baru disini setahun yang lalu. Gadis yang periang dan tangguh itu bekerja sebagai petani di Mineral town, semua menyukai dia yang baik hati dan perhatian, bahkan sang kurcaci dan Kappa. Lalu nama gadis itu adalah Claire.

Tapi satu yang kusadari, gadis itu akhir-akhir ini sering membicarakan satu orang saja. Dimulai dari mimik marah, senang sampai sedih. Dan orang yang beruntung itu adalah seorang pria yang sangat dekat denganya di Mineral town

"GODDESS! DENGAR! GRAY LAGI-LAGI...!" teriak Claire sambil membuang strawberry ke kolam air terjun.

Ya, pria itu adalah seorang yang bekerja di Blacksmith, cucu dari Saibara yang bernama Gray. Dan hari inipun Claire membuka topik tentang orang itu lagi.

"Gray sangat jahat! bodoh kalau aku mencintai dirinya..." Claire merengek dan menyeka kedua matanya.

Claire menangis lagi, berarti tadi pria itu melakukan hal buruk padanya. Hal ini sudah biasa, tapi kasihan mereka berdua. Sebenarnya aku tahu bahwa Claire dan pria itu sama-sama saling mencintai. Hanya saja sikap Claire yang terlalu baik membuat dia sungkan karena sahabatnya yang di perpustakaan menyukai Gray juga. Dan Gray terlalu keras kepala untuk mengakui perasaannya.

Tapi ini akan menarik jika aku campur tangan pada kedua cinta mereka!

"Claire... jangan sedih" aku melembutkan nada bicaraku dan menepuk kepalanya dengan lembut."Semua akan baik-baik saja"

"Goddess..."

Terdengar suara gonggongan anjing, disana ada Kerberos anjing peliharaan Claire. Claire melirik jam tangannya, mendekati pukul 04:00 PM.

"AH! gawat! aku harus mencari sesuatu untuk dijual di sebelum Zack datang!" Claire dengan spotan berdiri tegap, dia berteriak terimakasih sambil berlari diikuti anjingnya. Aku tersenyum dan melambaikan tangan.

Dan saat malam tiba, semuanya akan dimulai!

GRAY POV

*Beberapa menit setelah Claire mendengar bentakan Gray. Semua menyalahkan Gray dan dia kabur ke Blackmith.*

PRANG!

Aku memecahkan benda pesanan dari Barley, Kakek melirik tajam padaku. Aku siap untuk menerima yang terburuk.

"Kau! sudah kubilang hati-hati dengan kaca itu!" geram saibara, wajahnya terlihat memerah karena marah. "Keluar! biar kukerjakan sendiri!"

Aku menggeram dan mengepalkan tinjuku erat. Aku tahu aku salah, tapi seharusnya dia tidak perlu membentak seperti itu. Aku memakai kembali jaket dan topiku, menutup pintu dengan kencang.

"Kalau begitu lakukan saja sendiri!"

Aku kembali ke penginapan dan langsung menuju kamarku. Melepaskan jaket dan topi, langsung loncat menuju kasur. Kedua tangan disatukan kebelakang untuk membuat mereka seperti bantal. Mataku menerawang.

Perkataanku tadi pada Claire sebenarnya tidak ingin kukatakan, kalau saja si bodoh Kai tidak memancingku mengatakan hal itu. Dia menggodaku mengakui aku mencintai Claire, si tolol itu mau aku mengatakannya didepan semua orang di penginapan? tentu saja aku masih waras, mana mungkin kukatakan. Aku terpaksa berbohong.

Aku gusar berbalik dan kembali melamun.

Claire... gadis itu lain dari yang lain. Berdiri di dekat gadis itu tidak hanya menjengkelkan, tapi juga gagap jantung. Aku mengutuk hari saat muncul hormon dalam tubuhku. Jika Claire sedang berdiri di dekatku, aku akan merasa degup hatiku seperti mempercepat . Senyumnya akan selalu memiliki cara untuk membuat hatiku meleleh dan terbakar pada saat yang sama. Mata sapirnya yang besar itu seperti menghipnotis diriku, mengirimkanku ke wonderland imajinatif.

Si rambut pirang mungkin tidak menyadari hal itu, tapi aku tersiksa dengan perasaan itu. Apalagi bahwa aku semakin yakin di dasar hatiku aku tidak keberatan dengan perasaan itu. Hal itu seperti mengejek diriku. Aku mengepalkan tangan dan memaki diriku sendiri. Berhenti menjadi idiot, idiot!

Kamar menjadi sedikit gelap, Cliff dan Kai kembali. Aku melihat bahwa sudah waktunya malam, selimut kubuat menutupi seluruh tubuhku. Aku malas mendengar ocehan mereka jika mereka tahu aku masih bangun. Kucoba menenangkan pikiranku. Aku hanya ingin tidur dengan tenang.

Dimalam yang larut ketika semua orang terlelap. Aku bersumpah melihat segercah sinar yang menyelimutiku.