THE LEGENDIARY OF KORRA

.

Disclaimer: Based on The Twilight Saga by Stephenie Meyer, but not closely related with the canon. Spin-off of fanfic The Another Black, from Korra's perspective...

.

Warning: Rated T+, maybe M. Read on your own guard...

.


.

1. Kakak

Thursday, February 14, 2013

6:50 PM

.


.

Mungkin aku seharusnya memulai ceritaku dari masa yang lebih ke belakang. Tiga tahun lalu, misalnya. Atau tiga bulan lalu. Tapi tidak, aku memulainya hari ini, saat ini, ketika aku berada dalam pesawat dalam penerbanganku ke Seattle. Menemui keluargaku yang tersisa.

Keluarga? Manis sekali mengucapkan itu… Seolah mereka akan dengan mudah menerimaku, menganggapku keluarga. Aku anak hilang. Anak yang tidak diinginkan siapapun sejak awal. Bahkan bisa dikatakan anak yang hanya akan menghancurkan segala yang telah mereka bangun bertahun-tahun. Kehadiranku hanya akan merusak keluarga mereka. Aku bagian dari masa lalu yang ingin mereka kubur hidup-hidup, tidak tersentuh lagi, tidak terlihat lagi. Tidak terdengar lagi kabar beritanya. Kalau bisa.

Tapi tidak. Aku pulang. Aku kembali, mimpi buruk bagi mereka. Bukannya aku ingin. Tapi aku harus. Karena aku punya tugas. Mereka memiliki yang kubutuhkan. Mereka adalah kepingan puzzle yang harus kurangkai. Karena di sana, di tempat yang mengelilingi lingkungan tempat mereka tinggal, ada serpih-serpih kisah yang menentukan takdir hidupku. Masa laluku. Masa lalu mereka yang terkait denganku. Masa depanku.

Seandainya saja aku bisa menghindar, menyerah, pergi dari tugas ini…

Tidak, tabahkan hatimu. Kau tak boleh lari…

Aku menghela napas berat, mencuri-curi pandang ke sekelilingku. Pramugari yang cerewet itu, yang menyuruhku menutup ponsel setiap kali ia melewatiku, tidak ada dekat-dekat sini. Ia sedang sibuk bicara dengan pramugari lain di ekor pesawat. Aku pura-pura cuek, menatap ke luar jendela, lalu diam-diam mengeluarkan ponsel. Tentu saja aku tidak sebodoh itu mengaktifkan ponsel selagi dalam penerbangan, tidak mempedulikan paduan keselamatan udara… Bagaimanapun aku pasti mati jika aku jatuh dari ketinggian seperti ini dalam kecelakaan pesawat. Dan aku tidak ingin, belum ingin mati sekarang. Belum boleh mati sekarang.

Ponselku sedang dalam Airplane Mode. Tentu saja ada teknologi bagus yang mengakomodasi keharusan mengaktifkan ponsel dalam kondisi seperti ini. Huh, memangnya aku cewek bodoh?

Jemariku memainkan kursor, memasuki menu Message. Kulihat sekali lagi sms dari dia, satu-satunya keterkaitanku dengan tempat yang akan kudatangi.

Dad

Kau jadi datang hari ini kan, Korra? Aku sudah menugaskan kakakmu menjemput… Akan kukirimkan fotonya lewat MMS. Aku akan menyiapkan pesta besar. Kutunggu kehadiranmu.

-end-

Ah, ayahku… Seperti apa dia? Bagaimana rupanya, jika aku melihatnya langsung dan bukan lewat foto? Bagaimana suaranya, jika aku mendengarnya langsung dan bukan hanya lewat telepon? Bagaimana rasanya sentuhannya, pelukannya, kehadirannya di sisiku? Apakah aku akan merasa tenteram?

Ha-ha-ha, jangan terlalu berharap...

Aku sudah tahu kalau kenyataan selalu berbanding terbalik dengan harapan. Pesimis? Ya. Tapi aku menyatakannya karena aku tahu. Aku belajar dari pengalamanku, ibuku, orang-orang yang bersinggungan denganku selama ini.

Tak ada yang berjalan benar dari hidupku selama 16 tahun ini. Mungkin malah sebelumnya, sejak alasan keberadaanku di dunia ini mulai mengambil tempat. Tidak ada yang menginginkan keberadaanku, kalau boleh dibilang. Tidak juga orang tadi, yang kupanggil Dad. Oh, salah. Patut kukatakan, dialah yang paling tidak menginginkan keberadaanku.

Aku tak pernah bertemu dengannya, tidak sekali pun. Mungkin ya, ibuku pernah mengajakku bertemu, kalau tidak salah ia pernah cerita. Tapi itu katanya ketika usiaku sekitar 3 tahun, jadi mana mungkin aku ingat? Dan, sebagai tambahan, sebagai hasil pertemuan itu, ayahku kehilangan istrinya dalam kecelakaan mobil. Bagus sekali.

Ya, aku adalah bencana. Bahkan sejak sebelum aku dilahirkan, aku sudah ditakdirkan untuk membawa bencana bagi semua yang ada di sekitarku.

.


.

Kisahku seharusnya dimulai sekitar 17 tahun lalu, di sebuah perkampungan suku masyarakat asli Amerika di Semenanjung Olympic. Jangan salah sangka, mereka sama sekali bukan suku terasing. Suku yang sangat maju yang bahkan punya sistem pemerintahan sendiri yang independen, di bawah konstitusi negara. Aku agak-agak mengerti soal sistem pemerintahan ini karena aku mempraktikkannya langsung... Tapi masalah itu kukesampingkan dulu. Aku ingin bercerita tentang diriku, dan kisah yang membalut legenda tentangku.

Hahaha... Legenda...

Ya. Hidupku adalah legenda.

Seperti semua legenda, ada pertemuan dan cinta. Dan kemudian ada penyihir. Sayangnya, akulah sang penyihir.

Manis sekali.

Ibuku bertemu ayahku sejak mereka masih sangat kecil. Bisa dibilang mereka tumbuh bersama. Mereka bersepupu. Manis? Ya.

Tapi itu belum semuanya. Di suku mereka, setiap orang saling berkaitan darah satu sama lain. Jadi agak wajar bila ada pasangan-pasangan yang ternyata berkerabat. Tapi biasanya tidak yang sedekat itu. Tidak pada taraf sepupu tingkat pertama. Dan tidak juga karena ibuku adalah skandal bagi suku: ia lahir dari persatuan seorang wanita suku dengan orang asing tak dikenal, yang menghamilinya dan langsung pergi begitu saja. Sebenarnya mungkin wajar, kala itu awal 1960-an, era Rebellious Sixties. Nenekku ada di kota besar saat itu, menjadi calon perawat di sebuah rumah sakit, tapi pastinya dekat dengan kehidupan anak-anak muda pada umumnya. Aku yakin banyak juga anak yang mengalami nasib seperti ibuku. Tapi tidak ketika nenekku memutuskan untuk pulang dan hidup dalam suku yang skema kekeluargaannya sangat kental. Kondisi sulit nenekku makin diperparah karena kami semua bahkan tidak tahu nama kakekku, tidak tahu juga nama keluarganya. Aku dan ibu menyandang nama keluarga suami nenek yang dinikahinya setelah ibuku lahir: Gerrard.

Ya. Gerrard. Dia juga orang asing. Bukan orang asli suku nenek. Mungkin hanya ia yang mau menerima nenek, yah... dengan segala nama buruk yang melekat padanya sejak kelahiran ibuku.

Ibuku tumbuh besar di komunitas suku, tapi hampir selalu terasing. Agak aneh, sebenarnya, karena dari ceritanya, entah mengapa aku menangkap bahwa latar belakang keluarga ibuku cukup terpandang. Mungkin ibuku dikucilkan karena asal usulnya yang tidak jelas. Ha-ha-ha, klise.

Mungkin itu sebabnya, satu-satunya yang dekat dengan ibuku sejak kecil adalah ayahku. Sepupunya sendiri. Dan begitu beranjak remaja, seperti standarnya fiksi romantis manapun, mereka saling jatuh cinta.

Ibuku senang memberi bumbu romantis pada kisah-kisah percintaan mereka, yang sering didongengkannya dulu sebelum aku tidur. Tapi aku tak percaya lebih dari separuhnya. Tidak karena kenyataannya tidak seindah itu. Dengan segala status yang disandang ibuku sejak kecil, wajar jika begitu mereka beranjak remaja dan saling menyadari perasaan yang berkembang di antara mereka, tak ada yang berani mengungkapkan cinta itu, lebih lagi mengesahkannya, di depan semua orang. Jadi apa yang indah dari cinta sembunyi-sembunyi, tidak direstui, perselingkuhan, dan anak yang lahir di luar nikah?

Semua itu wajar, sebenarnya. Tapi nyatanya di sini adalah, yang terlibat dalam perselingkuhan ayah, secara hukum, adalah ibuku dan bukan wanita lain. Maksudnya, ayah menikahi wanita lain dan bukan ibuku. Manisnya, selama itu, diam-diam ia tetap menjalin hubungan dengan ibuku. Mereka memang sempat tidak bertemu bertahun-tahun ketika ayah menikah, dan ibuku pergi menyelesaikan studinya di kota besar. Dan begitu pulang, ibu mendapati sang kekasih sudah memiliki tiga anak. Tapi mungkin memang ibuku yang bodoh, ia tetap mencintai laki-laki itu. Rela menjadi simpanan.

Ya. Lebih manis lagi, mereka memunculkan anak dari hubungan itu. Dan mudah ditebak, anak itu adalah aku.

Sudah kubilang. Dari awal pun, aku tak pernah diinginkan.

Begitu mendapati dirinya mengandung aku, ibuku mengajak ayah pergi. Kawin lari. Apapun. Tapi ayahku menolak, tentu saja. Ia tak bisa meninggalkan ketiga anaknya. Terutama tidak yang bungsu. Anak laki-laki satu-satunya. Penerus keluarga.

Hahaha, manis sekali...

Jadi di sanalah ibu. Wanita yang tersingkirkan. Pergi membawaku dalam kandungannya. Berusaha menutup lembaran yang bertahun-tahun ia jalani dengan sangat menyedihkan. Aku lahir tanpa mengenal ayahku, tanpa mengenal keluarga besarku, tanpa mengenal kampung halamanku. Bisa dikatakan, mungkin aku memang tidak punya kampung halaman.

Kami tinggal di kota besar. Kota menyediakan banyak kesempatan dan tidak ada yang peduli dengan asal usul kami- aku dan ibu. Ibu melakukan apapun untuk bisa membayar hutang biaya persalinan, menyewa apartemen bobrok, dan menghidupi kami berdua. Bekerja sambil meneruskan kuliah. Mencari jenjang pendidikan dan status sosial yang lebih tinggi. Berusaha melupakan ayah. Menjalani hidup.

Tapi ia kembali. Ke sukunya. Empat tahun setelah ia meninggalkan ayah. Hanya untuk mendapati bahwa seharusnya ia tidak kembali.

Apapun yang ia tinggalkan, sudah bukan lagi miliknya. Ayah membangun keluarga yang bahagia, sama sekali tidak ada tempat bagi ibuku dan aku. Ibuku menyadari ini, dan memutuskan untuk menyingkir selamanya. Tapi takdir hanya membuatnya lebih buruk. Wanita itu, ibu tiriku, mengetahui kehadiran ibuku. Ia sama sekali tak menerima penjelasan bahwa ibuku hanya berkunjung. Ia akhirnya mengetahui bahwa hidupnya selama ini hanya kebohongan, dan semuanya bersumber dari ibuku, dan memutuskan untuk tak menerima apapun kebohongan lagi dalam hidupnya. Dalam hidupnya yang hanya beberapa jam sejak keputusan itu dibuat, kalau boleh kutambahkan. Karena setelah itu ia meluncur pergi dengan mobilnya, membawa anak laki-lakinya bersamanya. Entah apa yang terjadi, yang jelas ia tak kembali dengan selamat. Kecelakaan mobil, katanya. Mobilnya menabrak pembatas jalan dan terguling ke dalam jurang nan curam. Ia meninggal di tempat. Ajaibnya, anak laki-lakinya, kakak tiriku, selamat.

Mungkin tidak seharusnya ia selamat. Karena mungkin kalau begitu kejadiannya, ayahku bisa memutus ikatan dengan keluarganya, dengan sukunya, dan pergi bersamaku dan ibu.

Tapi tidak. Ia hidup. Penuh luka dan butuh penyembuhan berbulan-bulan, katanya, tapi hidup. Dan ibuku yang disalahkan atas kejadian itu. Seolah ia yang mengerjai rem atau semacamnya di mobil itu. Seolah ia yang mengemudikan truk yang menabrak mobil wanita itu dan melemparnya ke jurang. Ibuku tidak salah apapun, dan ia disalahkan. Tidak ada yang peduli pada fakta bahwa ayahku mengenal ibuku jauh sebelum ia mengenal wanita itu. Tak ada yang peduli bahwa cinta mereka berkembang jauh sebelumnya. Bahwa wanita itulah, bukan ibuku, sang pencuri cinta ayah. Tidak ada, karena bagi mereka ibukulah sang penyihir. Dan aku sama dengannya, putri penyihir.

Tak perlu kubilang bahwa kami diusir dari suku. Permanen. Sejak itu kami hidup nomaden. Untungnya ia cerdas, dan punya gelar. Itu penting di tengah masyarakat yang mementingkan status. Dengan itu kami bisa pergi jauh, sejauh-jauhnya, memutus segala hubungan dengan suku yang hanya membuat ibuku menderita.

Kami hidup bahagia. Aku dan ibu. Tidak punya rumah. Tidak punya keluarga. Tapi kami bahagia. Namun semua berubah ketika...

Ketika apa? Ketika Negara Api menyerang?

Ha-ha-ha. Manis sekali jika memang seperti itu. Karena jika demikian, maka aku akan menjadi pahlawan. Seperti dalam film animasi kesayanganku itu. Terutama sekuelnya, yang ada namaku sebagai pemeran utama. Avatar Korra... Bagus sekali.

Tapi tidak. Sudah kubilang akulah sang penyihir. Aku selalu ada di bagian antagonis. The Legend of Korra, dengan aku sebagai pemeran utama, adalah kisah mengenai kejahatan, pengkhianatan, pembantaian, penguasaan, penikaman dari belakang, skema buruk adu domba... Dengan aku sebagai dalang di balik semuanya.

.


.

Suara pramugari yang menyatakan pesawat akan mendarat membangunkanku dari lamunan. Aku mengerjap, iseng mengintip bentangan tanah dan teksturnya yang makin jelas bentuknya di bawahku. Baguslah aku segera turun. Aku tak pernah begitu suka di udara. Bahkan tidak berubah walau aku begitu sering dan terbiasa bepergian dengan pesawat. Tidak ada di antara kami yang suka. Agak melawan insting, mungkin.

Tak berapa lama kemudian pesawat mendarat dan kami semua sibuk mengurus bawaan yang tidak dimasukkan ke dalam bagasi, atau riasan, atau anak, atau mengecek dompet dan ponsel, atau apapun itu. Aku diam saja dalam kehebohan itu. Aku tak punya banyak bawaan rumit. Bawaanku cuma sebuah ransel yang tersimpan aman di bagasi pesawat. Beserta dompet dan ponsel yang dari tadi juga kupegang.

Aku yang paling akhir turun. Aku tidak begitu suka terperangkap dalam kehebohan dan kekisruhan di tengah kerumunan orang. Mengangguk sedikit pada pramugari yang memberi ucapan "Terima kasih… Silakan pakai penerbangan kami lagi" di pintu, aku meluncur turun dari tangga pesawat. Santai. Tidak terburu-buru.

Suhu udara Seattle yang dingin segera menyergapku begitu aku melangkah keluar pesawat. Aku menggigil. Terlalu lama di daerah dekat khatulistiwa membuatku agak tak terbiasa dengan dingin. Meski seharusnya aku tak bereaksi seperti ini. Lagipula, cuaca katanya mulai menghangat.

Hah! Menghangat apanya? Masih berapa bulan lagi hingga musim panas? Dua bulan? Hih... Dan musim panas di daerah subtropis tidak pernah seindah di daerah tropis... Apalagi di sana, di tempat yang kutuju... Daerah mendung dengan curah hujan paling tinggi, katanya?

Kupasang syal motif paisley-ku dan kurapatkan jaket coklat kesayanganku. Aku pastinya satu-satunya yang paling menderita di antara jenisku kalau menyangkut cuaca dingin. Dan itu baru belakangan ini saja. Dulu aku tak pernah seperti ini. Apa boleh buat. Tiap keputusan memiliki konsekuensi tersendiri.

Dering mms masuk begitu aku menginjakkan kaki di lobi kedatangan. Sempurna sekali waktunya. Mms dari ayahku, berisi sebuah foto. Dua orang Native berangkulan, tawa menghias wajah mereka. Rambut pendek dan kulit coklat.

Foto itu disertai sebuah pesan singkat.

Dad

Itu para penjemputmu. Cari saja Native tinggi besar sangar bertampang bingung. Pasti mudah ditemukan.

-end-

Oh ya, Dad, sangat membantu.

Kusambar ranselku yang terselip di antara banyak kopor lain, dan langsung berjalan menjauhi kerumunan. Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Turis, kulit putih, kulit hitam, kulit coklat, kulit kuning, kulit merah... Berjubel di mana-mana. Native... mana mereka? Oh, oh, tidak... Banyak rupanya. Yang sedang bergerombol di pojok sana, atau yang baru datang, atau para pekerja bandara, atau para penjaga di konter asesori dan cenderamata, atau yang sedang menawarkan paket rekreasi, atau yang sedang menjemput dengan membawa papan-papan nama besar. Aku menelusuri papan nama itu. Tak ada namaku.

Astaga, kenapa Dad tidak memberiku nomor ponsel si penjemputku itu?

Aku celingukan bagai anak hilang. Dan ya, aku kan memang anak hilang... Yang baru mau pulang ke kampung halaman yang tak pernah dikenalnya seumur hidup.

Native tinggi besar sangar bertampang bingung... Native tinggi besar sangar bertampang bingung...

Dan saat itulah satu perasaan menghentakku. Aura yang menekan, mengintimidasi. Rasa tidak nyaman yang membelit dadaku. Membuat kerongkonganku kering, detak jantungku berdebar lebih kencang. Aliran darahku berdesir lebih deras. Rasanya ada tali-tali yang menekan lututku, memaksaku tunduk. Dan ada kekuatan lain yang memaksaku berontak. Perasaan itu bahkan mengambil wujud di tanganku, yang mulai bergetar halus. Jantungku secara otomatis memompa aliran darah mengisi urat-urat dan otot dalam tubuhku.

Aku memejamkan mata, menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Berkonsentrasi pada asal perasaan itu, dan bukan pada efeknya. Ritme jantungku kembali melambat. Aliran darahku kembali normal. Urat-urat yang bermunculan di lenganku kembali menyusut. Getaran di ujung-ujung jemariku mereda. Perasaan menekan itu perlahan memudar, kendati masih bisa kurasakan.

Membuka mata, aku langsung mengarahkan pandangan ke sebelah kiriku. Ke tempat asal aura tersebut. Kucoba melihat menembus kerumunan orang.

Oh ya, itu dia. Aku melihatnya. Dua orang Native sangar bertubuh besar, melihat sekelilingnya dengan tampang bingung.

Itu dia penjemputku. Salah satunya adalah kakak tiriku. Putra ayahku. Orang yang seharusnya mati bertahun-tahun lalu. Orang yang karena kehadirannya, maka tak kurasakan cinta ayah...

Aku menarik napas panjang sekali lagi, berusaha menenangkan diri. Memasang tampang ceria nan manis dan bergerak menembus kerumunan.

Oh, takdir tentunya gemar mempermainkanku...

Ya. Itu kakakku, Jacob Black.

Ia juga shifter. Sama sepertiku.

.


.

catatan:

Halo...

Entah kenapa aku jadi pengen bikin cerita dari sudut pandang Korra. Mengenai semua yang terjadi di The Another Black. Fanfic dari fanfic? Hahaha... Mungkin ga akan sebegitu kerasa Angst-nya. Biar gimana Korra cuma anak cewek usia 16 tahun. Misterinya juga agak dikurangin, mungkin malah lebih banyak ke romance dan drama... dengan sedikit sentuhan tragedi... hahaha...

Oh ya, porsi Jacob mungkin bakalan kurang... Fokusnya bakal banyak ke Korra, Seth, dan Collin...

Mungkin bisa melengkapi semua yang ga diceritain di The Another Black?

Yang baca, tolong kasi review ya... hehehe :D