THE LEGENDIARY OF KORRA

Disclaimer: Twilight Saga and Quileute legends belong to their owner, respectively. I gain no financial advantages upon this fanfiction, other than my own satisfaction.

.


.

48. Shi'pa

Tuesday, 8th December 2015

03:19 PM

.


.

Pertempuran berjalan cepat hingga bahkan aku tak percaya semua selesai sebelum matahari menghilang di balik bentang lautan. Dan di sana aku, tegak di batas langit. Buluku merah semerah senja. Sebagaimana juga ia yang menenggelamkan dunia dalam kegelapan, berdiri aku di atas onggokan tubuh yang tak lagi berwujud, menenggelamkan sorak sorai dan seruan para serigala dalam kebisuan.

Getir darah terasa kental di lidahku, sementara kekuatan baru mengalir memenuhi tiap utas nadiku. Semesta tampak merah, dan kurasakan tak hanya tenaga, tapi juga kuasa, membanjir memenuhi dadaku. Kurasakan pijar-pijar aura mengelilingi tubuhku bak lidah api.

Kusapukan pandangan ke lingkaran serigala yang mengelilingiku, menunggu tantangan selanjutnya. Tapi mereka bungkam. Tak ada yang cukup berani, atau cukup bodoh, untuk maju menggugat, lebih lagi berusaha merebut kekuasaan dari tanganku.

Karena aku melampaui diriku. Aku adalah mentari, terang dan bersinar. Aku adalah gelombang pasang, merekah dan membuncah. Aku adalah angin topan, menggelegak dan menggolak. Aku adalah tarian semesta. Aku kembali menjadi pusat segala.

Kulolongkan auman panjang kemenangan. Awalnya tak bersambut, namun satu per satu, para serigala mulai mengikuti jejakku. Lolongan tindih menindih, susul menyusul menggetarkan udara.

Di antara gegap gempita perayaan itu, sempat aku melirik ke arah sang Makhluk Dingin. Wajahnya pasi. Bukan kegembiraan dan kebanggaan yang ada di sana, tetapi ketakutan dan kengerian. Ia bahkan tampak terlalu terpukul untuk dapat berpura-pura bernapas.

Tak ada kesempatan bagiku untuk memikirkan apa yang dirasakannya terhadapku, atau menelaah rasa tertohok yang mendadak menghujam dadaku karenanya. Kutegakkan dada dan kembali melolongkan serenade kemenangan. Badai boleh bergolak, langit boleh runtuh, tapi tak ada yang dapat menggugat kekuasaanku.

.


.

1808

Delapanbelas tahun telah berlalu sejak aku kembali di puncak takhta. Dalam delapanbelas tahun itu, banyak sekali perubahan terjadi. Padaku, pada suku, dan yang paling penting: pada hubunganku dengan dunia.

Awal-awal kembalinya takhta Quileute ke tanganku bukannya berjalan tanpa hambatan. Begitu banyak onak dan duri merintangi langkahku, sebagian besar justru datang dari bangsaku sendiri. T'lixapix mungkin jatuh, tetapi keluarga dan para pendukungnya tidak tunduk begitu saja. Bahkan karisma Kisa, yang berhasil menggalang dukungan dari para budak dan bangsa asing, tak cukup untuk meredam mereka. Beberapa kali terjadi upaya pemberontakan, sehingga tindakan tegas harus kuambil, yakni dengan menggulung dan menjebloskan para pemimpin mereka ke penjara.

Sejatinya, itu adalah langkah yang merugikan. Para serigala merah adalah prajurit-prajurit terkuat di suku kami, menghabisi mereka sama artinya dengan menghancurkan kekuatan utama suku. Dan mereka tidak takut mati. Tapi membiarkan mereka, seperti telah kubuktikan berulang kali, sama saja artinya dengan kekalahanku. Tak pelak, aku harus memasang jaminan, dan itu adalah dengan menjadikan para putri mereka sebagai tawanan.

Namun ketimbang mengurung gadis-gadis itu dalam ruang bawah tanah, aku memperlakukan mereka bak putriku sendiri. Kuajari mereka banyak hal, entah itu bertarung, berburu, menenun, bahkan juga menari dan membuat syair. Kulatih mereka tak hanya untuk menjadi prajurit terbaik suku, tetapi juga menjadi pelayan yang setia padaku.

Dari sekian putri, aku menaruh perhatian lebih pada satu orang. Ia adalah putri pertama T'lixapix, namun ia terlalu kecil pada saat aku merampasnya dari tangan ibunya untuk mengingat asal usul dan namanya. Kuberi ia nama Shi'pa, kata yang memiliki makna sama dengan namaku.

Shi'pa terbukti sebagai seorang gadis yang luar biasa. Ia kuat, berani, tangguh, dan cerdas. Sama sekali tak mengherankan, ketika aku memilihnya sebagai calon inangku. Pada akhirnya, ketika tubuh Kisa tak kuat lagi menopangku—akibat luka dalam yang tak bisa benar-benar pulih sejak T'lixapix menyiksanya tempo lalu—aku pun merasuki tubuhnya.

Tiga tahun kemudian, yakni pada tahun 1808 menurut penanggalan bangsa asing, sebuah perubahan besar terjadi.

.


.

Camar yang bergaok-gaok ribut dan aroma tak mengenakkan yang menguar dari arah laut membawa kabar itu, bahkan sebelum para serigala yang bertugas menjaga daerah tepi pantai mengantarkannya padaku. Sebuah kapal memasuki asing, tapi bukan milik bangsa-bangsa yang pernah singgah di pantaiku sebelumnya.

*Kapal Rusia,* lapor salah seorang serigala padaku, setelah aku mengutusnya untuk mencari tahu.

*Rusia?* aku mengerung, mengingat-ingat. *Bukankah itu kerajaan di utara Eurasia? Yang mendirikan koloni di Alaxsxaq, bukan? Bukannya mereka tidak biasa melakukan rute pelayaran ke sini?*

*Benar, Paduka,* jawabnya. *Dari bentuknya, sepertinya itu bukan kapal dagang.*

Kalimat yang terakhir membuat gumaman mengguruh dalam pondok sempit itu. Sebagian diwarnai kemarahan dan kegeraman.

*Ada urusan apa kapal Rusia menjamah pantai kita?* pertanyaan itu menyerukan apa yang ada di benak semua orang yang ada di sana.

*Ini jelas ancaman. Tindakan tegas harus diambil secepatnya,* seru yang lain, yang lekas disambut gumam persetujuan nyaris seluruh Dewan Suku.

Tindakan tegas berarti satu di antara dua: menyerang kapal itu dan menenggelamkannya, atau memaksa mereka mendarat dan merampas seluruh isinya. Itu memang keputusan yang paling masuk akal di saat seperti ini.

*Hamba juga merasa itu tindakan yang tepat, Paduka,* akur petinggi suku lainnya. *Mungkin mereka melihat bangsa Spanyol dan Inggris diberi tempat, dan mereka ingin ikut mencengkeramkan cakar di sini. Ini tak bisa dibiarkan! Hemat hamba, kita serang kapal itu dan bunuh seluruh awaknya!*

*Hamba setuju, Paduka! Sebelum bangsa-bangsa lain menganggap kita lemah dan seenaknya mengotak-ngotakkan tanah kita, seperti yang mereka lakukan di selatan sana!*

*Benar, Paduka!*

*Serang!*

*Tenggelamkan!*

*Jadikan mereka budak!*

*Tidak! Bunuh saja semuanya!Pancang kepala mereka di pantai sebagai peringatan!*

Kurasakan seseorang menegang di tak bicara apapun, oh bahkan ia tak perlu bernapas, sehingga tak ada tarikan napas tertahan atau apapun yang keluar darinya. Tapi sungguh, hawa ketegangan yang menguar darinya sungguh mengganggu. Jadi aku berpaling padanya, bertanya, *Kau ingin mengatakan sesuatu, Bapa?*

Gemuruh ketidaksetujuan lekas menggaung di ruangan. Namun seolah sama sekali tidak terpengaruh oleh gaung kebencian di sekitarnya, Kar'lay berputar menghadapku, dan bicara dengan nada tenang yang menjadi ciri khasnya. *Ampun Yang Mulia, pada hemat hamba…*

Belum lagi ia mengutarakan apapun, salah satu petinggi suku lekas membentaknya. *Diam kau, Budak! Siapa bilang kau berhak angkat suara di majelis terhormat ini?!*

*Tak apa,* aku mengangkat tangan. *Aku ingin mendengar pendapatnya.*

*Tapi, Yang Mulia! Dia bagian dari mereka! Ia yang bertanggung jawab atas bercokolnya bangsa Spanyol di pelabuhan. Dan kini bukan hanya berupaya menguasai perdagangan, mereka membawa lebih banyak lagi kaumnya untuk menjajah tanah ini! Ia hanya akan membawa kehancuran! Anda tak seharusnya terus mendengarkannya!*

*Cukup!* seruku. *Aku percaya padanya. Jika kalian meragukannya, itu sama artinya dengan kalian menentangku!* Aku mengedarkan pandangan, menantang mata setiap serigala dan Tetua yang ada di ruangan. Tak ada yang berani mengangkat kepala, lebih lagi mengangkat suara. Semua hanya diam dengan wajah tertunduk. Merasa puas, aku mengembalikan perhatian pada Kar'lay. *Katakan pendapatmu, Bapa!* titahku.

*Terima kasih, Yang Mulia,* balas Kar'lay. Sempat kulihat salah satu Tetua mendengus, tapi itu tak menghentikan Kar'lay untuk maju dan bicara. Suaranya mengalun lembut, tapi tak menanggalkan kesan pribadi yang percaya diri dan penuh harapan, sebuah kesan yang selalu tampak dalam tiap tutur katanya dalam beberapa tahun terakhir. Dan sesaat, pikiranku melayang.

.

Banyak hal berubah dalam delapanbelas tahun ini, termasuk hubunganku dengan Kar'lay. Di muka umum, kedudukannya memang hanya sebagai pelayan pribadiku. Namun sejatinya, ia mengemban peran yang terbilang penting. Ia adalah penasihatku, tempatku berpaling meminta pendapat untuk nyaris semua tugas kenegaraan. Tapi lebih dari itu, ia adalah orang kepercayaanku. Tak hanya karena pengetahuan dan wawasannya, atau kemampuannya untuk menelaah segala hal secara menyeluruh dan mencari jalan keluar di tengah situasi bak memasukkan benang ke lubang jarum. Ia satu-satunya orang yang mengetahui kekuatan dan kelemahanku, dan tidak seperti orang lain, ia takkan menggunakannya untuk mengkhianatiku.

Setidaknya, begitu menurutku saat itu.

Mungkin orang selalu bertanya, bagaimana bisa aku menggantungkan kepercayaan pada seekor lintah, makhluk yang jelas-jelas sangat licik dan licin. Dan aku bisa menjawabnya dengan sangat sederhana: aku membutuhkannya.

Aku tidak buta. Merasuki raga Kisa memberi sebuah pelajaran bagiku, pelajaran yang kudapat dengan merengkuh ingatannya dan melihat sesuatu dari sudut pandang yang baru. Dunia berubah, kutahu, dan aku tak dapat lagi menggenggamnya jika terus berpegang pada cara-cara lama. Quileute bukan lagi satu-satunya kekuatan di tanah ini, dan upaya untuk membendung datangnya kekuatan asing sama saja dengan menyaring air. Tak ayal lagi, aku membutuhkan suatu cara baru, pandangan baru. Mungkin juga seseorang yang dapat menjadi kepanjangan tanganku dalam melakukan perundingan dan perjanjian, seseorang yang bisa mereka percaya tapi menggantungkan kesetiaan padaku. Dan siapalah selain Kar'lay, yang kutahu dapat membantuku? Wajarlah, jika pada akhirnya Kar'lay tak hanya menjadi penasihat, tapi sekaligus juga dutaku dalam segala yang berhubungan dengan bangsa asing.

Upaya Kar'lay meretas jalan demi menggaet kepercayaanku sebenarnya tidak semulus yang semua orang sangka. Bahkan, pada awalnya hubungan kami sangat kaku. Setelah aku membunuh T'lixapix dan mengambil alih kawanan, ia nyaris tak dapat menatap mataku. Kadang ia mencuri-curi memandang ke arahku dengan mata menerawang, namun lekas menunduk begitu sadar aku menangkapnya. Ia membuang harga dirinya dan menempatkan diri sebagai budak, bersikap tunduk dan hormat padaku dengan cara yang berlebihan. Biasanya yang seperti itu membuatku senang. Aku serigala penakluk dan penguasa, sudah naluriku untuk menuntut ketertundukan dan penyerahan. Tapi tidak demikian jika menyangkut dirinya.

Beberapa kali aku mengajaknya bicara, entah di balik pintu pondokku yang tertutup atau di balik keremangan hutan, jauh dari telinga para serigala. Namun sikapnya tetap sama. Tak pernah ada kasih sayang yang ia tunjukkan di gua waktu itu, atau kepercayaan diri yang dahulu selalu ia tampilkan di hadapan orang lain. Apa yang kulihat itu? Penyesalan? Rasa takut?

*Paduka pernah memberi hamba kebebasan, sebelum hamba kembali dan mengabdikan diri pada Tuan Putri Kisa. Mohon kiranya Paduka sudi bermurah hati mengembalikan kemerdekaan hamba,* demikian ucapnya pada suatu waktu, ketika aku memberanikan diri menemuinya di pondok pengobatan para budak tempatnya mengabdikan diri.

'Kemerdekaan', apa artinya? Bahwa ia tak ingin diperlakukan sebagai budak? Atau bahwa ia tak tahan berada di sini, di sisiku, dan ingin segera hengkang dari tanah ini?

Kemungkinan kedua membuat sesuatu menggeliat tidak nyaman di dalam batinku, dan seketika aku merasa sesak. Bukankah ia pernah berjanji akan bersamaku selamanya? Bukankah ia berjanji akan memperbaiki apapun kesalahan di masa lalu, dan takkan pernah meninggalkanku? Bukankah ia berharap dapat mendampingiku, menebus masa-masa yang hilang?

Tapi aku tak tahan dengan caranya menatapku, atau tepatnya tidak menatapku. Itu bukan rasa takut yang biasa dari seorang budak terhadap tuannya. Itu adalah rasa ngeri. Seakan-akan aku adalah iblis.

Dan bukankah aku memang iblis? Manusia macam apa, yang lahir dengan merobek perut ibunya sendiri dan menenggak darahnya? Makhluk macam apa, yang begitu menjijikkan hingga jangan kata merawat, ayahnya pun tak sudi menatapnya? Makhluk macam apa, yang begitu berdosa hingga Roh Semesta mengurung rohnya dalam keabadian, terperangkap dalam perputaran takdir hingga tak bisa menemukan kedamaian apalagi pembebasan? Makhluk macam apa, yang begitu terkutuk hingga seorang makhluk yang tak bisa dikatakan manusia pun mengutuk keberadaannya?

Jadi aku meluluskan permintaannya. Musim panas tahun berikutnya, ketika kapal dagang Inggris singgah, ia meninggalkan suku. Aku tak mengantarnya pergi, atau mengucapkan selamat tinggal. Ia akan kembali, demikian sebagian batinku berharap, walau kutahu itu bukan sesuatu yang harus kupupuk. Ia telah mengkhianatiku, dan ia mengkhianatiku lagi. Tidakkah cukup alasanku untuk tidak percaya?

Aku tak ingin berpikir tentangnya, dan menenggelamkan diri pada masalah yang ada di depan mata. Pihak Spanyol menantang kami, menyusul kejadian buruk dalam salah satu perundingan beberapa bulan sebelumnya. Sejujurnya, aku sudah tak ingin berhubungan dengan mereka, terlebih setelah mereka balik gagang pada pertempuran dengan T'lixapix tempo lalu. Tapi mereka malah bersikap tak tahu diri, dan menuntutku untuk memberikan hak dagang dan monopoli seperti yang pernah saja kujanjikan. Tentu saja aku menolak. Perundingan berujung perdebatan, dan perdebatan berujung ketersinggungan. Salah satu di antaranya malah melecehkanku, membuatku balas menghina ratu mereka. Pemimpin mereka sudah menarik pedang, beberapa anak buahnya sudah mengokang senjata, dan aku sudah siap menerkam; ketika Kar'lay—yang saat itu kupanggil untuk menjadi penerjemah—maju memisahkan kami.

Cih! Sudah kuduga, seharusnya mereka memang tidak diperkenankan membawa pedang! Sesuai hukum adat, senjata apapun dan milik siapapun harus ditanggalkan ketika memasuki area suci gerbang perkampungan. Namun Kar'lay bersikeras agar senjata itu dikembalikan, hanya untuk memberi mereka sedikit rasa aman, seolah menunjukkan bahwa kami takkan mengundang mereka ke sarang serigala tanpa memberi kesempatan untuk membela diri. Tapi apa hasilnya? Makhluk-makhluk rendahan tak tahu diuntung itu menyalahgunakan kemurahan hatiku!

Darah batal tertumpah hari itu detik itu, tapi bukan berarti masalah berhenti sampai di sana. Pihak Spanyol masih saja menggugat. Masalah ini berkembang menjadi sedemikian pelik hingga mempengaruhi pelayaran dan perdagangan dengan bangsa-bangsa lain. Akhirnya, tak ada jalan keluar selain perang.

Aku, sebagaimana seluruh Tetua dan petinggi suku, menyambut perang ini dengan gembira, tentu saja. Tak ada ceritanya penghinaan terhadap suku dapat kami terima begitu saja. Bagiku sendiri, ini adalah pembuktian, yang harus kulakukan demi menutup mulut mereka yang masih saja mempertanyakan keabsahanku untuk kembali bertengger di pucuk pimpinan.

Tak dinyana, peristiwa itu pun memiliki dampak terhadap hubunganku dengan Kar'lay. Setelah para Tetua menghujat campur tangannya dan menuntut agar ia tak lagi diikutkan dalam urusan suku, ia menarik diri dariku. Lebih daripada sebelumnya, ia menenggelamkan diri di pemukiman para budak, tak pernah menemuiku bahkan jika kupanggil. Dan akhirnya, dia meninggalkanku. Tepat ketika kami tengah menghadapi kemungkinan perang.

Aku tak tahu alasannya adalah karena ia tak tahu, atau ia tak peduli. Jujur saja, aku tak yakin alasannya adalah yang pertama. Ia mungkin tak lagi diikutkan dalam perundingan, dan aku tak diperkenankan untuk membicarakan perkara suku dengan orang luar yang tak bisa dipercaya, apalagi para budak. Tapi bukankah ia ada ketika ketegangan itu terjadi? Bagaimana mungkin ia tak dapat membacanya?

Tapi itu bukan masalah bagiku. Aku telah menghadapi berpuluh-puluh perang sebelumnya tanpa keberadaannya. Apa bedanya kini?

Sebagai serigala, aku tak pernah ragu dan takut untuk berperang. Jangan kata bersama kawanan, sendiri pun, aku takkan mungkin terkalahkan. Aku selalu berpegang pada kebanggaan itu, hingga aku tak pernah memperhitungkan kekuatan macam apa yang dimiliki oleh musuh-musuhku. Tepatnya, kekuatan sebesar apa yang menyokong mereka di belakang.

Aku masih tak mau mengakui, kala di depan mataku, kami porak-poranda. Kami tak hancur semata karena tekanan dari luar. Beberapa keluarga mengkhianatiku dengan mengabaikan perintah dan meninggalkanku dalam kancah pertempuran, hanya bersama beberapa serigala yang bahkan kuragukan kesetiaannya. Aku mati. Benar-benar mati, tanpa seorang calon inang yang cukup cakap dan terdidik untuk menggantikan memikul rohku. Aku sudah akan mendekap akhir itu, menerima hujaman demi hujaman peluru menembus tubuhku, kala sesuatu (seseorang?) menjadikan dirinya perisai guna melindungiku. Dalam kesadaran yang memudar, sesuatu yang dingin mendekapku. Deru pertempuran terasa jauh dan kian jauh … dan tubuhku melayang…

Pandanganku tersaput kabut; campuran antara asap dan debu pertempuran, bau tajam mesiu, serta perih menahan sakit yang membuat kelopak mataku nyaris tak bisa membuka. Namun di antara semua kabut itu, bisa kutangkap samar sosoknya.

Dia. Sosok yang tak mungkin ada. Sosok yang sudah pergi, lagi, dan mungkin kali ini takkan kembali. Jadi hanya ada satu kesimpulan: dia hanyalah bayangan.

Menyedihkan, ketika di ambang kematianku, justru bayangannya yang hadir menyapa. Dan jika aku ingin menelaah, sesungguhnya alasan di balik kehadirannya adalah sesuatu yang merisaukanku.

Tapi saat itu aku tidak memikirkannya. Ilusi atau nyata; pentingkah itu? Mengapa alam bawah sadarku justru memunculkan bayangannya, dan bukan yang lain; pentingkah itu? Apa yang melahirkannya: kenangan atau harapan; pentingkah itu? Pentingkah semua pertanyaan, ketika di sana, tatkala ia menyentuh kulitku, dan kurasakan kesejukan itu membasuhku? Pentingkah sebuah jawaban, kala suaranya yang penuh kekhawatiran terngiang di telingaku, dan aku seakan menangkap harmoni alam semesta? Pentingkah sebuah alasan, ketika aku menengadah, dan bola mata yang indah itu menatapku balik, menghanyutkanku dalam pusaran dunia yang tak bertepi?

Ya, tak apa jika ia tak nyata. Sebuah bayangan sederhana, hanya kenangan kecil, mungkin itu yang kubutuhkan. Hanya impian terakhir yang ditawarkan alam bawah sadarku, tatkala aku menyongsong akhir setelah semua gegap gempita pertempuran seumur keberadaanku?

Mungkin, akhirnya, aku bisa merasakan kedamaian.

Dan kubiarkan diriku merengkuhnya, hanyut dalam kedamaian yang menyelimutiku, kala mataku menutup dan bibirku perlahan bergumam, *Kar'lay... Kau pulang...*

.

Waktu yang berlalu, dan kesadaranku yang perlahan kembali seiring pemulihan tubuhku, menyatakan bahwa semua itu bukan mimpi. Kar'lay memang kembali. Ia menaiki kapal ke selatan, namun di perjalanan kapalnya tertunda karena badai. Di sana, ia mendengar desas-desus akan adanya perang dengan suku pribumi di utara, dan makin dikuatkan dengan kehadiran gelombang kapal-kapal perang berbendera Spanyol yang melintasi lautan. Merasa khawatir, Kar'lay pun berusaha kembali. Sayang, sulit mendapatkan kapal yang mau berlayar ke tanah ini dengan ancaman akan ada pertempuran, sehingga ia harus menempuh jalan darat. Alhasil, ia datang sangat terlambat.

Ketika ia melihat api pertempuran sudah hampir padam, dan pihak Spanyol bersorak-sorai merayakan kemenangan mereka, ia sudah mengira aku mati. Ia berusaha melacak bauku, tetapi sulit menangkap apapun di tengah bau mesiu dan asap ledakan. Untung sekali, ia melihat di satu titik, pertempuran belum selesai. Seperti diduganya, itu adalah aku. Terpojok dan sudah jelas akan kalah, tapi masih hidup dan bertahan. Ia tak perlu berpikir dua kali untuk menjadikan dirinya tameng guna melindungiku.

Sejujurnya, aku merasa lebih baik mati. Aku kalah. Kepala Suku macam apa, yang masih sanggup menegakkan kepala, setelah dipecundangi di medan perang, tak kurang oleh makhluk kulit pucat yang tak punya kekuatan seperti kami, dan hanya bisa masih bernapas berkat campur tangan seekor lintah? Tapi Kar' lay berupaya membangkitkan semangatku. Aku belum kalah, ujarnya. Kerugian tak semata diderita pihak Quileute. Pihak Spanyol pun kehilangan sangat banyak hingga tak mampu melanjutkan pertempuran, amat tak mungkin menentukan siapa yang menang dan kalah dalam keadaan seperti itu. Bahkan pemimpin mereka tewas dalam pertempuran, dan badai yang bergolak di selatan sana menahan bala bantuan berikutnya. Lagipula, jika Quileute hancur, itu hanya akan menimbulkan masalah baru. Mereka takkan mampu mengendalikan pemberontakan yang pasti akan timbul dari suku-suku jajahan, ditambah lagi ancaman dari negara-negara saingan. Ya, aku belum kalah sepenuhnya. Masih ada celah untuk menyelamatkan nama baik kami, yaitu lewat perundingan.

Menyetujui perundingan dengan musuh sama saja dengan kekalahan bagiku, tapi Kar'lay terus berusaha membuka mataku. Perundingan ini tak hanya akan menyelamatkan suku saat ini, demikian katanya, sebuah kerjasama—bukan cuma gencetan senjata—antara kedua bangsa dapat membawa masa depan yang lebih baik bagi suku. Masih, ia mengagul-agulkan budaya bangsa asing; bagaimana mereka yang berada di tempat dingin terpencil nun jauh di balik lautan ganas dapat menguasai separuh dunia. Betapa besar pencapaian yang mereka lakukan hanya dalam beberapa abad terakhir, melampaui apa yang diraih manusia beribu tahun sebelumnya. Bukan berarti tanpa harga, memang, tapi bukankah orang yang belajar dari tangan kedua dan selanjutnya lebih dapat menilai dari kesalahan para pendahulu mereka? Kami dapat mempelajari banyak hal, menggunakannya untuk kemajuan kami, sementara menyelaraskannya dengan prinsip dan cara hidup kami. Quileute bisa menjadi bangsa yang mahsyur, lebih dari apa yang dapat kubayangkan.

Aku tahu seharusnya aku menutup telinga dari bisikannya, tapi tak bisa tidak aku membenarkan apa yang ia katakan. Bisa kulihat buktinya di hadapanku: bagaimana makhluk-makhluk lemah itu dapat mempecundangi kami hanya dengan berbekal senjata dan kapal. Bayangkan jika senjata dan kapal itu ada di tanganku. Bayangkan jika kami bisa menguasai semua pengetahuan dan pencapaian yang mereka punya. Kami bisa menyaingi, bahkan melebihi mereka. Tak hanya separuh, seluruh dunia ada di genggaman tanganku. Jadi apa salahnya bersikap lunak sedikit, jika dengan itu, aku bisa mendapatkan lebih? Toh aku tak perlu terburu-buru; bukankah aku memiliki waktu sepanjang usia jagat raya?

Persetujuanku membawa senyum di bibir Kar'lay dan memercikkan binar di matanya. Lekas ia mengatur, bahkan ambil bagian dalam perundingan. Warna kulit dan kemampuannya berbicara membuatnya dipercaya oleh bangsa asing, sehingga ia pun ditempatkan sebagai penengah. Di luar ia tampak tak berpihak, tapi jelas bagiku, ia berusaha membuktikan kesetiaannya dengan membela kepentingan kami. Pada akhir perundingan, bangsa Spanyol dinyatakan kembali berhak berdagang serta menempati dermaga dan tanah sekitarnya, tapi kami juga mendapat keuntungan besar dari pajak dan upeti. Mereka pun tunduk pada hukum kami, antara lain tidak diperkenankan memasuki tempat-tempat tertentu, seperti tanah keramat dan pekuburan, serta dilarang berdagang pada waktu-waktu tertentu seperti musim perburuan paus dan hari-hari suci. Di samping itu, mereka harus membayar hak untuk tinggal, yang Kar'lay sebut sebagai 'sewa tanah'.

Sejatinya, konsep 'sewa tanah' bukan hanya hal yang asing bagi kami, tapi juga tak dapat kami pahami. Namun kami bersedia menerapkannya, karena jika tidak sama artinya dengan memindahkan kepemilikan tanah ini kepada mereka. Mengutip Kar'lay, *Cara pandang orang Eropa terhadap tanah berbeda dengan kalian. Bagi mereka, tanah sama seperti benda lain, dapat dimiliki oleh perorangan, dipindahtangankan, bahkan dimanfaatkan sebanyak-banyaknya demi kepentingan mereka.*

Jujur saja aku heran dengan cara pandang ini. Bagaimana caranya kepemilikan atas tanah bisa dianggap sama dengan kepemilikan atas benda lain, jika kau tak bisa memindahkannya? Siapapun tahu bahwa seseorang atau bahkan satu suku tak bisa selamanya menempati satu tanah yang sama. Jika terjadi bencana atau semacamnya, dan satu desa harus mengungsi, bagaimana caranya kau membawa tanahmu bersamamu? Tanah hanya berhak ditempati, bukan dimiliki. Bahkan sebagai serigala, kami pun mengakui hukum dasar itu. Tapi jika memaksakan cara pandang kami, kerugian justru akan menimpa kami. Seperti dikatakan Kar'lay, mereka tidak menganggap tanah dan segala di atasnya bernyawa. Mereka bisa saja memperkosa Ibu Bumi, merampoknya habis-habisan, dan meninggalkannya begitu saja ketika sudah tak tersisa sedikit pun. Jika sudah begitu, siapa yang akan menanggung murka Ibu Bumi?

Jika dikatakan bahwa perjanjian ini menjadi batu landasan bagi kerjasama kedua bangsa, itu memang benar. Jika dikatakan bahwa ia adalah batu loncatan menuju kemahsyuran Quileute, mungkin itu juga benar. Tapi masih panjang perjalanan untuk membuktikannya, dan itu tak semudah kedengarannya. Tantangan hadir dari beragam pihak, dan aku menghabiskan nyaris seluruh usiaku dalam tubuh Kisa untuk menjawab semua itu. Gemuruh api dalam sekam sudah agak mereda di akhir era Kisa, atau seperti istilah Kar'lay: 'stabil', hingga pada masa-masa perpindahan rohku ke raga Shi'pa—masa yang biasanya penuh gejolak—aku nyaris tak menghadapi pemberontakan berarti. Namun saat kupikir semua sudah berjalan sesuai keinginanku, tahu-tahu saja ada masalah seperti ini.

.

Dengan mata memicing, kuawasi tanggapan para Tetua sebuat Kar'lay memaparkan pendapatnya. Pada dasarnya, Dewan Suku yang sekarang adalah orang-orangku, para petinggi kawanan dahulu yang setia padaku. Tapi sejak menempati jabatan Tetua, anehnya, penyakit para Tetua lama terwarisi juga pada mereka. Terlihat jelas pada rona hijau di wajah sebagian besar dari mereka, antara ketidaksetujuan dan rasa jijik. Dan aku tahu, itu bukan hanya karena isi pendapat Kar'lay.

Bahkan setelah berbelas tahun berlalu, dan Kar'lay telah membuktikan tak hanya kesetiaannya padaku, tapi juga upayanya untuk memakmurkan suku, banyak serigala yang masih memandang miring padanya. 'Makhluk Dingin Terkutuk', 'Mata-mata Kulit Pucat', 'Lintah Sial', 'Budak Tak Tahu Diri' hanyalah sedikit dari sekian sebutan penghinaan yang dialamatkan padanya, dan itu masih belum seberapa ketimbang yang lain. Aku pernah menghukum orang yang meludahi Kar'lay dan menyebutnya 'Pelacur Busuk', hanya karena Kar'lay mencoba menyentuhnya setelah ia terluka terkena aritnya sendiri sewaktu memanen tembakau. Kar'lay menahanku menderanya hingga pingsan dengan cakarku sendiri, tentu saja, meski tak urung aku menimpakan hukuman cambuk sepuluh kali dan mencuci mulut kotornya dengan tanah. Ujung-ujungnya ia pingsan juga walau baru terkena enam cambukan. Tapi bahkan hingga akhir pun, ia tak mau meminta maaf dan menarik kembali caciannya.

Kebencian pada Kar'lay tak hanya didasari pada siapa dia, atau apa yang ia katakan. Sebagian juga menghubungkannya denganku, dan perubahan yang terjadi padaku dalam beberapa belas tahun terakhir.

Kami tak pernah membuka jati diri Kar'lay yang sesungguhnya pada siapapun. Begitu rapat aku menutupinya, hingga bahkan dalam wujud serigala, tak ada siapapun yang mendapatkan kebenaran itu dariku. Tapi tanpa itu pun, tekanan dan penolakan atas kehadiran Kar'lay sudah sangat berat. Mereka sama sekali tak pernah melihat apa yang Kar'lay telah perbuat bagi suku. Dalam sepuluh tahun terakhir saja, telah banyak perubahan yang ia bawa. Pengobatan dan kesehatan yang lebih layak bagi semua, pemukiman yang lebih baik bagi para budak (yang artinya mengurangi kerugian harga penjualan budak akibat banyaknya budak-budak yang sakit atau mati), sistem jual beli yang lebih mudah dan menguntungkan, pajak bagi para pedagang dan pemukim asing, sistem pengawasan dan peningkatan kesejahteraan bagi daerah jajahan, pembangunan jembatan dan sarana lain yang mempermudah hubungan dengan suku-suku lain, hingga perkembangan di bidang seni dan budaya. Itu hanya sebagian, karena masih banyak lagi yang ia rencanakan, tetapi belum ada kesempatan untuk diwujudkan.

Namun semua itu luput dari mata mereka. Yang mereka lihat hanya satu: seekor lintah pelacur, berusaha mengisikiku siang malam, mempengaruhiku dengan teluh dan tubuhnya. Aku hanyalah Kepala Suku boneka; pengendali suku ini sesungguhnya adalah dia, sang mata-mata bangsa asing, yang pasti sedang berusaha meretas jalan menuju kehancuran suku.

*Kurang ajar! Beraninya kau, Lintah Sial!* terdengar cacian di tengah penjelasan Kar'lay. Kar'lay, seperti biasa, langsung terdiam dan menunduk, walau auranya yang tak berubah dan sikapnya yang tetap tenang tak menunjukkan ia tak terganggu sedikitpun. *Kaubilang kami harus mendatangi mereka dan menunjukkan itikad baik, hah?! Apa maksudmu? Kami harus merendah dan memberi persembahan?! Kaupikir kami lebih hina dari mereka?*

Kar'lay berpaling padanya dan menghormat dengan sangat anggun. *Sama sekali itu bukan maksud hamba, Yang Dipertuan Agung Kaltak. Hanya memberi sedikit hadiah untuk menunjukkan itikad baik bukanlah tanda takluk. Yang hamba sarankan adalah sebuah perjanjian dan kerjasama. Justru itu akan memberikan kesan Quileute sebagai bangsa yang beradab.*

*Perjanjian apa? Kerjasama apa? Mereka, sama seperti yang lain, tidak pernah punya itikad baik!* Masih menancapkan pandangan penuh kebencian, ia berpaling padaku, *Jangan lupa, Yang Mulia, belum sampai delapan dasawarsa lalu mereka mendarat di Alaxsxaq dengan dalih ingin melakukan perdagangan. Tapi apa? Mereka mengaku-ngaku tanah Alaxsxaq sebagai milik mereka, menjarah apapun yang ada di sana dan menjadikan bangsa Unangan sebagai budak! Baru empat tahun lalu mereka menghancurkan benteng bangsa Tlingit di Shis'gi Noow, membantai para pejuang Kiks-adi yang gagah berani dan menginjak-injak Sheet'ka X'aat'i. Sebagai hasilnya, Sheet'ka Kwaan harus terusir dari tanah mereka sendiri! Kita seharusnya menunjukkan dukungan kita, bukannya malah bermanis-manis pada makhluk-makhluk serakah itu!*

*Itu benar, Paduka,* sambung Tetua lain. *Bahkan hamba dengar, mereka sengaja menyebarkan penyakit untuk membunuh kaum pribumi. Sama seperti yang pernah mereka lakukan di suku ini! Bangsa Unangan adalah para pelaut tangguh, klan Kiks-adi amat mahsyur kehebatannya, tapi siapa yang bisa melawan kematian, tatkala Dewa Maut mengendap-endap di balik pondok tertutup, menyebar ketakutan dan keresahan? Sungguh perbuatan pengecut, dan sangat hina! Bahkan mereka tak hendak memberikan kehormatan bagi para pejuang T'lingit untuk mati di medan laga!*

*Hamba setuju,* tambah yang lain. *Paduka, Anda harus menempatkan keamanan suku jauh di atas yang lain. Tak hanya suku Quileute, suku-suku lain di semenanjung ini bergantung pada keputusan Anda. Dahulu kita membiarkan satu bangsa mendaratkan sauh di pantai kita, dan kini apa? Tak hanya satu, tiga bangsa memeras dan menodai tanah kita. Jika kita terus bersikap lembek, tak tahu apa yang akan terjadi kelak.*

*Maafkan hamba, Tuan-Tuan sekalian,* balas Kar'lay. *Mereka tetap akan datang, entah diterima dengan sikap bersahabat atau diperangi habis-habisan. Anda tidak tahu apa yang ada di belakang mereka. Makin besar kapal, makin tinggi gelombang...*

*Beraninya kau mengancam kami, Budak! Sekali lagi kau mengangkat suara, aku...*

*Cukup!* bentakku, bangkit dari dudukku. Semua yang ada lekas menunduk, meski aura kemarahan masih berkobar di udara. *Aku tak ingin mendengar perdebatan lagi! Para Tetua sekalian, Anda benar ketika mengatakan bahwa kita perlu waspada dengan kedatangan bangsa asing, apapun sikap yang mereka tunjukkan. Tetapi Bapa juga benar ketika mengatakan kita tak boleh mengambil tindakan gegabah. Aku tidak takut untuk berperang, tetapi kita tak perlu mengorbankan begitu banyak prajurit suku di hadapan meriam-meriam mereka, ketika kita bisa menempuh cara lain! Jangan lupa bahwa banyak tantangan yang harus kita hadapi, banyak hal yang lebih patut kita persiapkan, jika kita ingin Quileute bangkit sebagai bangsa yang besar.*

*Dan tantangan itu ada di depan mata sekarang ini, Paduka. Sekali kita biarkan mereka meninjak pantai kita, membiarkan satu saja jari mereka menyentuh tanah kita, sama artinya membiarkan mereka mencengkeram dan membuat kita kehabisan napas!*

Aku berdecak. *Oh, Tetua Kaltak, betapa pendeknya pikiranmu…*

Terlihat jelas wajah tua itu berubah hijau. *Pendek?!* serunya, jelas merasa terhina. *Yang Mulia!*

*Dan aku yakin kalian semua juga merasakan hal yang sama,* aku mengedarkan pandangan ke seisi ruangan, menatap mata mereka satu per satu. *Tapi jika ada satu yang harus Anda sekalian camkan, Para Yang Dipertuan, adalah bahwa apapun yang kulakukan, apapun keputusan yang kuambil, adalah demi masa depan yang lebih panjang. Oh, Yang Dipertuan, aku tidak buta. Aku bisa melihat arus pergerakan politik tak hanya di tanah ini, tapi juga di dunia. Percayalah, kerajaan-kerajaan yang menyebut diri mereka 'besar' itu akan jatuh, pendudukan mereka di tanah ini akan berakhir juga dengan sendirinya, kemungkinan besar oleh perang dan perselisihan antarmereka sendiri. Itu adalah kesempatan bagi kita untuk bangkit dan menaklukkan dunia. Tapi hingga saat itu tiba, kita harus bersabar. Dan kita mesti mempersiapkan diri. Kita butuh pengetahuan mereka. Kita butuh kapal. Kita butuh pasukan. Kita butuh segala yang melampaui apa yang kita punya sekarang. Jika itu berarti sedikit kerjasama dan bermanis-muka, maka itu yang akan kita lakukan.*

*Tapi, Yang Mulia!*

*Dan jangan memotong perkataanku, Yang Dipertuan Kaltak!* seruku, menancapkan tatapan tajam yang membuatnya diam di tempat. *Itu berlaku bagi kalian semua. Keputusanku sudah ditetapkan. Kita akan mengirim utusan, melihat apa yang bisa kita lakukan, dan melakukan perundingan kerja sama. Tidak ada, sekali lagi kukatakan, tidak ada serangan pada kapal Rusia. Sekarang kalian boleh bubar.*

Dengung ribut meninggi di udara. Tak ada satu pun yang bangkit untuk meninggalkan ruangan, tapi aku tak ingin menunggu. Aku menoleh pada Kar'lay dan mengangguk, tanda baginya untuk mendekat dan menyampirkan kain penahan dingin menutupi pundakku. Merapatkan kain itu, aku melangkah menuruni panggung tempatku bertakhta. Kar'lay seperti biasa mengikutiku dalam diam. Tapi baru saja aku menapaki undakan terakhir, seorang tetua menghampiriku.

*Anda tak seharusnya menyimpan gundik itu begitu dekat, Paduka,* bisiknya penuh peringatan. *Ia hanya akan membawa kehancuran bagi suku.*

Aku tersenyum, berhenti melangkah dan berpaling padanya. *Sungguhkah itu, Yang Dipertuan Kurkhan? Itu ramalan Anda?*

*Bintang-bintang berbicara, Yang Mulia. Anda patut melihat tanda-tandanya. Angin badai berhembus dari barat, dan api ungu… Seekor macan yang terluka akan datang dalam wujud kambing persembahan, dan membasuh altar dengan darah. Seorang pembawa petaka akan lahir ke muka bumi. Anda telah diperingatkan, namun Anda terlalu tenggelam dalam cinta untuk mengingatnya.*

Kembali aku tersenyum. Hingga kapan orang-orang ini akan terus berkubang dalam takhayul? *Aku akan mengingatnya,* anggukku, sebelum kembali melangkah pergi.

*Ingat, Paduka,* masih kudengar suaranya yang lirih dan bergetar, *Kehancuran akan datang…*

.


.

Dan kehancuran memang datang, bukan olehku, tapi oleh mereka sendiri. Keesokan harinya, betapa murka aku, tatkala mendapat laporan bahwa mereka telah mengangkangi wewenangku. Tanpa persetujuan, tanpa perintah, beberapa orang menyerang kapal Rusia. Tak hanya membantai para awak kapal, mereka bahkan menenggelamkan kapal itu. Beserta barang-barang berharga di dalamnya sekalian.

Tidak ada kapal, tidak ada emas, tidak ada budak. Dan tidak ada kemungkinan untuk membuka perundingan kerjasama dengan Rusia. Sudah jelas siapa yang mereka serang di sini.

Dan mereka sama sekali tidak menampakkan diri. Tak ada satu pun yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Tidak ada yang selamat artinya tidak ada saksi mata dan tidak ada bukti. Ketika aku menurunkan perintah dan berusaha mencari tahu lewat ikatan pikiran kawanan, aku hanya menabrak kabut pekat. Sama sekali tak ada yang buka mulut, bahkan ketika aku mengancam akan menyiksa para petinggi yang mereka hormati.

Tentu saja aku punya kecurigaan. Siapa lagi, memang? Jelas, orang-orang yang masih bertalian darah dengan T'lixapix, lagi-lagi berusaha mengancam kekuasaanku. Akhirnya, aku tak punya pilihan selain menjebloskan mereka ke penjara.

Aku tak melakukannya hanya karena merasa harga diriku diinjak-injak. Aku juga melakukannya demi citra dan nama baikku. Karena tak sampai seminggu semenjak peristiwa penyerangan kapal Rusia, kecaman demi kecaman datang dari bangsa-bangsa asing. Mereka, yang selama ini selalu saling bersaing, berusaha menjatuhkan satu sama lain demi menguasai jalur perdagangan di sini, kali itu bersatu menentang satu hal yang tidak kulakukan.

Aku tidak takut berperang, aku berani bersumpah untuk hal itu. Tapi melawan empat bangsa asing sekaligus, dengan tentara-tentara bayaran yang sebagian di antaranya juga diambil dari suku-suku timur dan selatan? Bahkan jika aku mengerahkan seluruh kekuatan suku-suku taklukan, aku tak yakin itu adalah jalan keluar yang menguntungkan. Atau setidaknya, tidak merugikanku.

Masih untung, pihak Rusia bersedia mengadakan perundingan, kendati begitu alot dan penuh tekanan—baik dari pihak Rusia sendiri maupun dari para Tetua Quileute. Perundingan tersebut menggarisbawahi beberapa hal, antara lain pengakuan dan penetapan batas wilayah, perdagangan dan lalu lintas kapal, serta hal-hal yang berkaitan dengan wewenang atas tanah dan penduduknya. Intinya, Rusia mengakui batas wilayah Quileute dan tidak akan melanggar dengan alasan apapun, termasuk perdagangan. Jika ingin melintas, mereka harus meminta izin dan membayar pajak. Demikian pula halnya dengan Quileute jika ingin memasuki wilayah Rusia.

Dan di situlah titik penting yang membuat para Tetua marah dan merasa terhina. Perjanjian ini seolah mengkhianati suku-suku Alaxsxaq, dengan mengakui pendudukan bahkan kepemilikan Rusia atas tanah itu. Ditambah, ini meniadakan kesempatan bagi kami untuk membantu suku-suku seperti Tlingit untuk mendapatkan kembali tanah mereka. Selama ini Quileute berada di garis depan dalam perang melawan bangsa asing. Setelah begitu banyak suku menyerah, terusir, diperbudak, bahkan terancam musnah oleh perang dan penyakit… Setelah kerajaan-kerajaan besar di selatan hancur, dan banyak suku-suku tangguh tinggal nama yang segera terlupakan… Setelah hak-hak kami terpereteli dan harga diri kami terinjak-injak… Setelah bangsa asing berani-beraninya mengakui tanah kami sebagai hak milik dan mendirikan sebuah negara, sementara menganiaya penduduknya yang asli dan menodai Ibu Bumi? Apa jadinya jika Quileute pun gentar dan takluk?

Aku sudah merasa cukup dengan semua omong kosong mengenai 'harga diri suku'.

Aku tak bisa membiarkan Quileute terus seperti ini. Jawaban dari seluruh masalah kami hanya satu: kemajuan. Hanya kemajuan yang dapat membawa pada kekuasaan dan kemahsyuran. Dan bukankah aku telah bertekad akan membawa Quileute menjadi bangsa yang besar?

Aku kian giat mempelajari kebudayaan dan pencapaian bangsa asing. Dengan perantara Kar'lay, aku makin mendekatkan diri dengan mereka. Kuubah namaku dengan kata yang lebih mudah mereka ucapkan, 'Kierra', dari kata bahasa asing, 'Ciara' yang memang memiliki arti sama dengan namaku. Pada saat-saat tertentu, khususnya ketika menerima undangan pesta atau perayaan di benteng, kukenakan pakaian mereka dan kutata rambutku dengan gaya para perempuan asing yang kutiru dari lukisan-lukisan indah yang Kar'lay perlihatkan. Tak hanya ilmu perang dan persenjataan, aku juga mempelajari seni tari dan musik. Seperti pondok Kisa dahulu, kini pondokku dipenuhi berbagai benda aneh. Mulai dari buku dan peta berhiaskan huruf-huruf indah berukir di sisinya, alat-alat aneh yang tak pernah kulihat sebelumnya, hingga alat-alat musik yang bisa mengeluarkan nada yang tak pernah kutahu ada. Ragaku memang masih di sini, tapi aku merasa cakrawalaku terbuka. Tak lama lagi, aku pasti bisa menaklukkan dunia.

Sayangnya, orang-orang di sekitarku menafsirkannya dengan cara yang salah.

Aku sama sekali tidak merasa heran, ketika ketidakpuasan itu berubah menjadi kudeta. Aku pun tak heran ketika salah seorang Tetua turut ambil bagian, sungguhpun sebagian diriku merasa kecewa. Setidaknya, walau ada Tetua yang terlibat, aku tak pernah berharap itu adalah dia.

Tetua Kaltak dahulu adalah salah satu serigala kepercayaanku. Ia termasuk kerabat dekat Kisa dari keluarga serigala hitam, tapi bukan darahnya yang membuatnya beroleh kedudukan mulia di sisiku. Ia berani, tangguh, dan setia. Bahkan ketika T'lixapix mengekang kehendaknya, kutahu hatinya masih memihakku. Tak heran jika di masa Kisa, ia pernah menjabat sebagai wakilku di kawanan, menggantikan ayah Kisa yang lebih dahulu tewas. Tentu saja, itu di luar kemampuannya untuk memahami kebutuhanku dan melayaniku sesempurna mungkin di atas ranjang, meski sebagian besar orang berpendapat demikian.

Mungkin jika ia bisa memberiku penerus, atau kesetiaannya tetap padaku, aku akan mengangkatnya sebagai pasangan. Tapi tidak. Ia mendapatkan pasangan hanya beberapa tahun setelah Kisa naik takhta, dan memohon untuk dibebaskan dari tugas sebagai gundik. Setelah anak keenamnya lahir, hampir bersamaan dengan perasukanku ke tubuh Shi'pa, malah ia berharap dapat menua bersama pasangannya, dan meminta dilepaskan dari tanggung jawabnya di kawanan. Tentu saja aku tak begitu saja melepaskannya, dan memintanya tetap mengabdi sebagai Tetua.

Mungkin itu dia kesalahanku. Seharusnya aku bisa mencium ada yang tidak beres dengan permintaan itu. Kaltak baru berusia 50 tahun-an, dan berhubung baru tiga tahun lepas dari kawanan, perawakan dan tampangnya masih tampak seperti ada di usia 30-an. Persetan mengenai 'menua bersama istri', alasan sesungguhnya lebih dari itu.

Seharusnya aku melihat siapa istrinya. Tak lain, perempuan dari garis keluarga serigala merah.

Ya, T'lixapix mungkin tewas, keluarganya tercerai-berai, pendukungnya kupenjara atau sebagian kuusir keluar suku. Tapi bukan berarti seluruh garis darahnya hancur. Darah mereka begitu agung dan kekuatan mereka tak terbantahkan, bagaimana mungkin aku bisa merusak potensi sebesar itu? Jadi aku memasukkan para putri yang masih kecil ke bawah sayapku, baik suka maupun terpaksa. Mereka kubesarkan dengan tanganku sendiri, kudidik menjadi prajurit yang setia. Sedangkan mereka yang sudah akil balig diberi dua pilihan: tunduk padaku atau hengkang dari suku. Sebagian besar memilih pergi, bahkan ada beberapa yang merasa lebih baik mati.

Tapi mungkin itu salahku, ketika menganggap semua selesai sampai di situ. Jika sampai ada pemberontakan seperti ini, sudah jelas ada sesuatu yang bergerak di belakang layar, bukan? Apa aku terlalu berlebihan, jika menganggap entah bagaimana keluarga serigala merah secara diam-diam berusaha menggerogoti kekuasaanku, dengan mempengaruhi orang-orang yang dekat denganku?

Dan itu bukan cuma pemberontakan biasa. Kaltak membawa kata itu ke tingkat yang belum pernah dicapai siapapun, bahkan T'lixapix sekalipun. Ia menggalang dukungan banyak pihak, dan dalam satu keributan kecil, ia berhasil membebaskan para pendukung T'lixapix dari penjara dan kabur ke balik pekat hutan. Begitu pandai mereka menutupi, atau malah mengalihkan jejak, hingga bahkan aku tak bisa mengendusnya.

Semua tidak selesai sampai di situ, tentu saja. Perang gerilya kecil-kecilan terjadi di sana-sini, upaya untuk mempereteli kekuatanku sekaligus menutupi rencana yang lebih besar.

Dengan perantara Kar'lay, aku mendapat dukungan dari bangsa asing. Aku meniatkan perjanjian itu sebagai semacam benteng, mengantisipasi agar Kaltak tidak mencari bantuan dari luar seperti T'lixapix dahulu. Tetapi justru di situlah ular itu beraksi. Kaltak memanfaatkan dukungan itu untuk menjelek-jelekkan namaku, mengatakan aku telah menjual seluruh tanah ini beserta penghuninya kepada para kulit pucat. Upayaku untuk mendekatkan diri dengan bangsa asing, antara lain dengan kerap mengikuti perundingan dan pesta-pesta yang mereka selenggarakan, ditambah perubahan namaku, disebutnya sebagai bukti bahwa aku telah menyeberang. Dengan itu ia menggalang banyak sekali dukungan. Tak hanya dari suku-suku taklukan, tetapi juga dari suku-suku tetangga. Sebagian memang dilandasi ketakutan, bahwa jika memang benar aku menjual tanah ini, mereka pun akan terkena dampaknya. Lainnya? Anggap saja memang mereka hanya ingin mendompleng dalam arus perubahan, demi kepentingan mereka sendiri.

Sekitar tahun 1811-1814, terjadi perubahan besar dalam peta politik di Eropa. Kerajaan-kerajaan besar saling berperang, berusaha merebut kekuasaan satu sama lain. Dampaknya terasa sampai ke tanah-tanah jajahan mereka yang tersebar di berbagai belahan bumi. Bak barang jarahan, negeri-negeri di selatan dan barat daya berpindah tangan. Quileute masih menjadi bangsa yang merdeka, tapi bukan berarti arus perubahan di luar sana tidak mempengaruhi kami.

Goyahnya satu kerajaan berarti goyah pula kedudukannya atas tanah-tanah yang ia kuasai, siapapun tahu hukum dasar itu. Jika hal ini terjadi satu dekade ke belakang, sudah pasti aku akan memanfaatkan arus itu untuk menyerang bangsa asing, guna merebut kembali tanah-tanah yang mereka tempati. Mungkin aku bahkan bisa langsung mengambil alih tanah-tanah jajahan mereka. Tapi itu tak bisa kulakukan sekarang. Aku telah menempuh langkah salah dengan menaiki kapal yang oleng diterjang badai dan hampir tenggelam. Balik gagang dengan malah melubangi dan menenggelamkannya hanya akan merugikanku, lebih lagi ketika kutahu aku sendiri tidak memiliki kekuatan cukup di belakangku. Satu-satunya cara adalah dengan menunggu arus berubah, berharap badai berhenti dan aku masih bisa menaiki kapal itu untuk mencapai tujuanku.

Tak perlu kukatakan, keragu-raguanku diterjemahkan sebagai bukti bahwa aku telah benar-benar menyeberang. Dengan sendirinya, itu adalah undangan terbuka bagi semua musuh-musuhku untuk melawanku. Suku-suku di jazirah ini, tak terhitung banyaknya, melancarkan perang terbuka untuk menjatuhkanku. Dan kedua bangsa yang seharusnya menjadi tulang pelindungku sedang bertarung satu sama lain di tanah yang tak kutahu. Masa depan tanah ini tergantung dari perang itu, dan Kaltak membuat segalanya makin rumit. Jangan salahkan aku, ketika aku beralih meminta dukungan bangsa asing.

Dengan adanya Kesepakatan Nootka lebih dari satu dekade sebelumnya, Spanyol tak lagi menjadi kekuatan dominan di tanah ini. Terlebih, rangkaian perang dalam dekade terakhir, baik secara militer maupun dalam perdagangan, baik di tanah ini maupun di benua asal mereka, benar-benar mengubah peta politik jazirah ini. Bukan lagi Spanyol, melainkan Inggris yang menjadi pemegang kunci. Tentu saja Inggris bersedia membantu, dengan dua syarat. Pertama, aku bersedia melepaskan hubunganku dengan Spanyol dan memberi dukungan pada Inggris. Dan kedua, aku benar-benar harus melepas tanah dermaga. Setelah sekian puluh tahun aku berusaha mempertahankannya, akhirnya kulakukan juga hal terkutuk lagi. Lagi, punyakah aku pilihan lain?

Dengan harga yang sedemikian besar, aku berhasil memadamkan pemberontakan. Musim dingin 1818 menandakan pertempuran terakhir, ketika kami akhirnya dapat memojokkan pertahanan mereka di Salishan, dan menangkap seluruh pemberontak. Nasib mereka sudah jelas: tak ada tempat selain penjara, sementara menunggu persidangan yang akan mengantar mereka ke akhir yang sudah pasti.

Tapi rupanya jeruji besi dan tembok batu yang dingin pun belum cukup untuk mematikan mereka. Lagi, mereka merencanakan kudeta, kali ini dengan melibatkan para pesakitan dan pengkhianat. Untung sekali aku keburu mencium gelagat tak baik itu bahkan sebelum api pertama terpercik. Aku tak banyak bicara lagi. Mengabaikan dengung keberatan Kar'lay, atau para Tetua yang masih saja menunda-nunda kata putus seolah berharap angin akan berubah haluan, aku mengambil alih sidang dan melontarkan vonis yang seharusnya kuambil sejak awal. Aku tak lagi peduli entah mereka keluarga Kaltak, atau para bangsawan dari suku-suku taklukan. Laki-laki, perempuan, anak-anak sekalipun… Jika aku harus menumpas habis mereka, bahkan jika itu berarti memangkas kekuatan terbesar kami, itu akan kulakukan.

Itulah, kali pertama aku bertemu Kaliso.

.


.

Catatan

yak, selesai chap ini! sebenernya chap ini udah selesai dari sebulan yang lalu, tapi kutunda karena (tadinya) aku mau nambahin beberapa adegan soal Kaliso. Tapi rupanya aku bingung… ahahahha… jadilah chap Kaliso kutunda dulu. Maaf ya temanz2...

Revisi 17/3/2016: aku baru sadar kalo Spanyol harusnya udah ga bercokol terlalu kuat di akhir dekade 1810-an. 1819 tu akhirnya, ketika Spanyol mundur dari Timur Laut Pasifik. Jadi Nootka Convention (ada 3 kali di era 1790-an) itu intinya sih ngebuka kawasan itu jadi mangsanya Inggris. Yah, kebeneran jaman Perang Napoleon kawasan itu rada2 terabaikan kan, jadi ceritanya Tupkuk baru bisa bikin perjanjian ama Inggris setelahnya (Prancis udah kalah pas itu) Oh, 'tanah dermaga' ini jadi rada2 rancu ya, antara Port Angeles ato port-port lain? Ya sudahlah aku biarkan saja... wkwkwkwk...

Btw aku masih bingung sama Adam Onis Treaty (1819). Jadi intinya Spanyol hengkang, daerah situ jadi rebutan antara Britain dan United States dengan joint settlement? Hmmm harusnya reaksi Tupkuk parah nih...

Buat yang masih ngikutin, terima kasih banyak… jangan lupa review hahahaha