Author: Hai semua, udah lama saya tidak menulis di web ini…yah, saya pernah menulis di fandom ini juga jadi ini bukan yang fanfict pertama saya. Tapi karena sudah lama tidak menulis, mungkin akan ada beberapa hal yang kurang berkenan dan membosankan. Cerita ini terinspirasi dari cerita yang sudah ada, tapi jalan cerita dan isinya berbeda, hanya idenya saya pinjam Mohon maaf. Hope you enjoy.

Disclaimer; Yu Gi Oh! Adalah milik Kazuki Takahasi

Attention: No Pairing. Only about friendship. Cerita ini terjadi setelah upacara yang mengirim Atem ke alam bazrah di lakukan, tapi di cerita ini, Atem bukan kembali ke alam bazrah melainkan mendapat tubuh sendiri. Maaf kalau ngawur xD

Schism

Chapter I. It's did not happen the way I want it

Yugi P.O.V

Cahaya matahari mulai menyerbu masuk dan menerangi kamarku. Suara alarm dan kicauan burung di luar sana mulai membangunkanku dari tidurku yang nyenyak. Mata amesthy-ku yang tidak memancarkan cahaya kehidupan ini mulai terbuka dengan perlahan, dan tubuhku mulai menyingkapkan selimut yang menjadi penghangat tubuhku malam itu dan melipatnya. Aku bangun dari tempat tidur dan mulai merapikan kamar, sambil merenungi dan menyayangkan waktu tidurku yang sudah berakhir hari itu. Tidur yang merupakan hal yang paling indah yang bisa kulakukan, sebab di dalam mimpi, aku memiliki banyak teman yang sangat berarti dan kami tidak terpisahkan. Tidur adalah saat di mana aku bisa melupakan segala kesedihan dan beban berat yang kuhadapi. Tidur adalah di mana aku bisa lari dari kenyataan pahit yang terjadi saat ini.

Kalian pasti berpikir. Kenapa aku harus menganggap bahwa tidur adalah pelarianku dari hidupku, padahal aku memiliki sekelompok teman yang menjadi kebanggaanku, yang setia berada di sampingku apapun yang terjadi? Itu memang benar, mereka adalah temanku yang paling kupercaya dan tidak pernah meninggalkan aku. Mereka memang temanku, tapi itu dulu.

Aku memang masih menganggap dan berharap bahwa kami adalah teman yang akrab seperti dulu, namun mungkin itu hanyalah keinginanku seorang diri. Mereka memang tidak mengatakannya secara langsung, tapi dari tindakannya, aku tau. Mereka telah memilih diriku yang satu lagi, dibandingkan aku. Apa yang telah kuperbuat? Apakah dengan adanya diriku yang satu lagi, aku tidak berharga? Memang aku mendapatkan teman, karena aku meminta pada Millenium puzzle yang telah kuselesaikan. Memang diriku yang satu lagi-lah yang telah berhasil menjadi raja game. Memang dialah yang menyelamatkan kami saat kami terancam menjadi boneka selamanya saat Millenium ring menguasai Ryou-kun. Dialah yang mengalahkan Pegasus-san dan berkat itu mata Shizuka-chan bisa sembuh. Dialah yang mengalahkan Malik yang dikuasai oleh kehendak jahat dari Millenium Rod. Dan dialah raja yang sesungguhnya.

Tapi apa karena itu, teman-temanku memilih dia? Apa ini adil? Aku sekarang merasa bahwa aku sangat buruk, karena selain tidak bisa apa-apa, secara tidak langsung aku malah menyalahkan keberadaan diriku yang satu lagi. Secara tidak langsung aku tidak mensyukuri bahwa dirinya bisa berada di tengah-tengah kami. Di tengah-tengah mereka.

Aku senang bahwa ia masih tetap berada di dunia ini dan membuat teman-teman tersenyum dan bahagia. Tapi apakah aku salah, jika bersedih karena di tinggal?

Akhir dari pertarungan aku dan pharaoh, dimenangkan olehku. Oleh sebab itu, Pharaoh dapat kembali ke alam bazrah. Kami memang senang ia bisa bebas dan kembali ke alam bazrah dan beristirahat dengan tenang, namun kesedihan kami dan kuatnya ikatan kami semua yang tidak ingin terpisahkan lebih kuat dari itu, dank arena Pharaoh sendiri ingin tetap bersama kami, entah bagaimana, pintu Alam bazrah tertutup, dan diriku yang satu lagi muncul dengan tubuhnya sendiri, namun ia tidak mendapatkan perawakan sang pharaoh, ia mendapat wujud nyata selama ia menjadi yami-ku.

Selama berbulan-bulan setelah itu, diriku yang satu lagi, yang kini kami panggil Yami atau Atem, tinggal di game shop bersama diriku dan Jii-chan. Kami sering membantu Jii-chan dan sering memainkan game bersama. Ia bahkan pergi ke sekolah yang sama dengan kami. Awalnya semua itu indah, kami berlima sering bermain bersama seperti dulu. Namun lama kelamaan semua itu berubah. Perasaan Anzu makin terlihat, ia terus menatap dan member perhatian pada diriku yang satu lagi. Hal itu membuatku sedikit cemburu, tapi aku tidak mempermasalahkannya selama Anzu dan diriku yang satu lagi bahagia. Jounouchi-kun sangat menganggumi dia, mereka sering menghabiskan waktu untuk berduel dan Jou sering bersamanya untuk belajar memperkuat decknya. Shizuka-chan pindah ke sekolah yang sama dengan kami, oleh sebab itu, di mana ada Jounouchi-kun, ada Shizuka-chan, di mana ada Shizuka-chan, ada Honda-kun. Begitulah.

Awalnya semua terasa normal. Namun makin lama, semua seperti tidak menganggapku ada. Aku sering melihat Jounouchi-kun dan Anzu jalan bertiga dengan sang Pharaoh. Mereka sering berkeliling kota sehabis sekolah tanpa mengajakku. Honda-kun sedang mabuk kepayang dengan Shizuka-chan, ia tidak begitu memperdulikan sekelilingnya dan hanya menghabiskan waktu dengan Shizuka-chan. Semakin jauh mereka, semakin aku merasa kembali seperti dulu. Kecil, sendiri, tidak berguna, dan bukan siapa-siapa. Dan semakin hari, makin banyak anak-anak yang membuli aku. Mereka tidak lagi mengakui aku sebagai raja game, karena gelar itu adalah milik diriku yang satu lagi. Setiap aku dibuli, Jounouchi-kun tidak datang untuk membelaku. Anzu tidak sekalipun membentak anak-anak yang mengerjaiku itu. Honda-kun tidak pernah melihat keadaanku. Mereka sudah tidak menyadari segala hal yang terjadi pada diriku.

"Jounouchi-kun, bagaimana kalau sesekali kita berduel?" kataku berusaha untuk tetap berkomunikasi dengannya.

"Maaf Yug, aku ingin berusaha mengalahkan Atem dulu sekarang!" katanya. Diriku yang satu lagi tidak mengatakan apa-apa, ia hanya diam sambil melihat-lihat kartu deck miliknya.

Mereka masih meresponku, itu saja sudah membuatku senang. Tapi komunikasi kami lama-lama terputus. Dan hatiku sakit saat lagi-lagi aku melihat mereka pergi tanpa diriku.

Sudah berbulan-bulan aku berusaha mengajak mereka pergi bermain atau belajar bersama, tapi semua penolakkan yang kuterima. Aku semakin dibuli oleh para anak berandal, dan tidak seorangpun dari mereka menyadarinya. Bahkan belakangan ini, setiap aku pulang sendirian ke rumah, beberapa preman datang dan memerasku serta menerorku. Aku sangat lelah.

Sesampainya di rumah, Jii-chan memberikan aku beberapa tiket untuk pergi ke amusement-park. Aku sangat senang dan tidak sabar untuk mengajak semuanya untuk pergi. Jadi keesokan harinya, aku mulai menanyai mereka satu persatu.

"Jounouchi-kun, ayo kita main ke Amusement-park, sudah lama kita tidak bermain bersama!" ajakku dengan semangat.

"Jangan sekarang, Yug, aku sedang konsentrasi menyusun deck baruku."

"Tapi…kita kan sudah lama ti-" kata-kataku dipotong oleh helaan nafas dan sebuah jawaban tidak bersahabat.

"Kau tau Yug? Konsentrasiku hilang! Sudah berapa kali aku bilang aku ingin fokus untuk berlatih dengan Atem menjadi Duelist kuat saat ini! Bukannya bermain denganmu!" ucapan Jou menusuk hatiku. Apa aku segitu menganggunya? Dengan perasaan berat, aku pergi meninggalkannya yang sedang serius menatapi kartu-kartu ditangannya.

"Anzu!" panggilku saat keluar dari kelas. Aku melihat Anzu sedang berjalan di lorong, mungkin ia mau pergi bermain, jadi aku memanggilnya dan berlari ke arahnya saat ia menengokkan kepala.

"Kau mau pergi ke taman bermain?" aku bertanya dengan senyum, sambil berharap bahwa ia akan mau bermain bersamaku.

"Maaf Yugi…aku tidak…"

"Sekali ini saja Anzu!"

"tidak Yugi."

"Kumohon…"

"Yugi, kau harus tau, kau itu mengganggu! Kau selalu muncul kapan pun dan mengajak kami bermain saat kami punya sesuatu yang lebih penting untuk di kerjakan! Bisakah kau memberikan aku privacy!? Aku bukan baby-sittermu! Aku punya sesuatu yang lain untuk kuperhatikan! Dan dia lebih penting darimu!" bentakan dari teman keduaku ini membuatku makin terpuruk. Aku tau siapa 'dia' yang ia maksud. Aku hanya menunduk dan tidak berkata apa-apa. Aku bahkan tidak memperdulikan Anzu yang menyebutkan namaku dengan pelan seakan menyesali apa yang ia katakana, saat aku berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu. Aku yakin ia tidak bermaksud mengatakan itu, tapi mengetahui kebenaran ternyata sangatlah menyakitkan.

Aku berjalan perlahan dan berharap menemukan Honda-kun, saat aku melihatnya di lapangan, aku mulai memanggil namanya, namun ia seakan tidak dengar dan tetap bercanda dengan Shizuka-chan. Berasumsi bahwa aku tidak akan digubris olehnya, aku meninggalkan sekolah. Lagi-lagi sekelompok berandal menarik bajuku ke arah gang sempit dan mulai memintai uang padaku.

"A-aku tidak punya. Kalian sudah mengambil semuanya kemarin." Jawabku lemah.

"tidak berguna!" mereka mulai menghajarku. Dua orang memegangi kedua lenganku, sedangkan yang seorang lagi mulai meninju wajahku dan menendang ulu hatiku. Mereka mulai menjambak rambutku dan menendang perutku. Terakhir mereka membanting tubuhku kea rah tumpukan sampah dan menendangku lagi. Setelah puas, mereka meludahiku dan pergi meninggalkanku begitu saja. Tubuhku sudah tidak bisa digerakkan dan semua terasa mati rasa. Sambil mempertahankan kesadaran, aku melihat lagi-lagi Diriku yang satu lagi sedang berjalan bersama Anzu dan Jounouchi-kun sambil tertawa. Hatiku sangat sakit melihat itu. Dulu, entah bagaimanapun caranya, mereka tau kalau aku sedang tersiksa dan datang menolongku kapan saja. Kini, bahkan mereka sudah menolakku untuk jadi bagian dari mereka.

Dengan sisa kekuatanku, aku mulai bangkit berdiri dan menggunakan dinding sebagai penopang badan. Aku berjalan terpincang-pincang dengan merapa ke dinding pertokoan yang ada tanpa melihat pandangan-pandangan yang diberikan oleh warga kota. Setelah serasa berabad-abad berjalan, aku sampai di depan toko game milik kakekku, yakni rumahku. Aku ambruk setelah sempat membuka pintu. Kakekku langsung menyerbu ke arahku dan dengan lembut mengangkat kepalaku yang terkulai lemas di lantai.

"Yugi….apa yang terjadi denganmu!?"

Mendengar Jii-chan yang sangat khawatir, aku mulai meneteskan air mata, dan menangis di pelukannya.

Setelah tenang, aku meminta Jii-chan agar aku diizinkan untuk pergi ke kota lain.

"kumohon Jii-chan….aku sudah tidak ingin ada di sini."

Aku tidak menceritakan semuanya kepada Jii-chan, tapi aku tidak ingin ada di sini untuk menempuh hidup kesepian dan menderita seperti ini. Jii-chan meyakinkan aku untuk tetap tinggal, namun aku sudah tidak tergoyah lagi, dengan berat hati. Jii-chan menyetujui supaya aku pindah ke kota lain, dan dengan permintaanku, Jii-chan tidak akan memberitahukan siapapun, termaksud diriku yang lain. Aku yakin mereka tidak akan keberatan dengan menghilangnya diriku. Aku akan lenyap dari hidup mereka dan mereka akan merasa lebih lega. Aku akan mencari hidup baru.

Aku sangat senang diriku yang satu lagi kembali ke sini. Namun tentang persahabatan kami semua. It's did not happen the way I want it.

Please review maaf kalau banyak kekurangan dan terlalu berbelit. Serita cerita yang tidak begitu panjang (kebiasaan dari dulu ga bisa nulis panjang-panjang) tapi semoga kalian menikmatinya :D

See you in next chapter.