Disclaimer; Yu Gi Oh! Adalah milik Kazuki Takahasi

No Pairing. Only about friendship. Cerita ini terjadi setelah upacara yang mengirim Atem ke alam bazrah di lakukan, tapi di cerita ini, Atem bukan kembali ke alam bazrah melainkan mendapat tubuh sendiri. Saya menggunakan sediki OC untuk mendukung cerita, maaf kalau tidak berkenan ada juga beberapa character dari Yugioh GX. Tapi karena tokoh utama di sini adalah Yugi, saya tidak menjadikan ini crossover. Maaf kalau boring ^^;

Schism

Chapter II. New Life isn't so bad

Yugi P.O.V

Stasiun Domino City, di sinilah aku sekarang berada, menunggu kereta yang akan mengantarkan aku menuju kehidupan yang baru, menjauhi segala kepedihan di hatiku.

Sekarang waktu masih menunjukkan pukul 06:00, aku berada di sebuah restoran kecil di dalam stasiun bersama Jii-chan. Kami sedang menghabiskan sarapan dan bersantai dengan minum kopi di sana. Diriku yang satu lagi tidak diberi tahu, dan bahkan ia masih tidur karena kemarin dia dan yang lainnya pulang ke rumah cukup malam. Jii-chan sengaja tidak membangunkannya karena tau bahwa aku tidak ingin seorangpun mengetahui bahwa aku akan pergi hari ini.

"kau yakin akan pergi, yugi?" kata kakek sambil mendesah pasrah, tau akan jawaban dari pertanyaan yang ia lontarkan sendiri.

"Ya, kek, maafkan aku…" jawabku sambil sedikit menunduk. Bagaimanapun juga, lari dari teman-temanku berakibat bahwa aku akan berpisah dengan kakekku sendiri.

"aku akan kesepian, bagaimanapun kau adalah satu-satunya cucuku."

"aku juga akan kesepian tanpamu, Jii-chan….tapi aku tidak akan tahan dengan segalanya yang ada di kota Domino ini, terlalu menyakitkan. Aku akan mengirimu surat, Jii-chan. Dan masih ada diriku yang satu lagi diruma." Kataku sambil tersenyum. Tentu saja aku tidak khawatir mengenai diriku yang satu lagi, ia sudah menganggap Jii-chan sebagai keluarganya sendiri, begitu pula Jii-chan sudah menganggapnya sebagai cucunya sendiri.

Aku melirik ke arah jam tanganku dan menyadari jam sudah menunjukkan pukul 06.25, yakni kereta tujuan kota Bridge akan segera datang. Aku bangkit dan menyandangkan tasku pada bahu sebelah kiriku, dan mengangkat sebuah tas lagi dengan tangan kananku.

"kau yakin, barang yang kau bawa itu sudah cukup?" kata Jii-chan sambil berdiri, aku hanya mengangguk. Kemudian kami berjalan menuju platform. Sesampainya di sana, ternyata pengunjung tidaklah banyak, hanya segelintir orang yang berdiri di sana untuk menanti kedatangan kereta. Aku hanya mengangguk mengiyakan, setelah itu, menyadari ini adalah detik-detik kami akan berpisah, Jii-chan memelukku dengan erat, aku sempat berpikir, Jii-chan akan memelukku bahkan sampai kereta pergi agar aku tidak meninggalkan sisinya. Tapi tiba-tiba, Jii-chan memegang kedua lenganku dan mundur sedikit. Pandangan matanya turun dari arah mataku, menuju tempat millennium puzzle selama ini kugantungkan.

"ke mana Millenium Puzzle?" katanya.

"Aku….meletakkannya kembali ke dalam kotak, dan mengembalikannya ke wujud semula saat kau memberikannya padaku, Jii-chan."

Jawabanku membuat mata Jii-chan terbelalak. Bukan hanya tidak mengenakannya, tapi aku juga meninggalkan dan menghancurkan Puzzle tersebut sehingga menjadi kepingan-kepingan yang tidak membentuk piramid itu lagi.

"Aku meletakkannya dalam kotak emas wadah kepingan Puzzle itu dulu di kamarku bersama Duel-disk milikku, Jii-chan, kau bisa mengambilnya kapan saja." Kataku sambil tersenyum. Aku sudah memutuskan, aku tidak akan berhubungan dengan mereka, juga ingin memutuskan link ku dengan diriku yang satu lagi. Aku tidak akan meninggalkan Duel Monster, karena itu merupakan Passionku juga. Tapi Duel-disk itu adalah alat yang jadi kenangan kami dalam meraih segala kemenangan selama ini. Dalam Duel-disk itu, tidak hanya jiwaku yang ada di sana, tapi diriku yang satu lagi juga. Lagipula, aku tidak tau apa di tempat baruku nanti, duel-disk itu popular. Jika iya, aku akan beli yang baru, jika tidak, aku akan bermain dengan cara lama, yakni dengan papan field. Aku juga meninggalkan Deck-ku. Mungkin aku akan kembali menyusun Deck milikku seperti dulu lagi jika beruntung, tapi aku akan mencari kartu-kartu itu sendiri, dan meninggalkan yang lama.

Kereta akhirnya datang, dan pintunya terbuka di hadapanku. Aku mulai melangkah masuk dan saling bertatapan dengan Jii-chan yang masih di luar kereta, tentu saja, ia tidak akan pergi bersamaku.

"Sampai jumpa, Jii-chan."

"Sampai jumpa, cucuku."

Pintu kereta tertutup, aku masih memandangi dirinya dari kaca yang terdapat di pintu tersebut. Aku menuju tempat dudukku dan membuka jendelanya, kemudian kami saling melambaikan tangan tanda perpisahan.

Kereta telah melaju selama kurang lebih dua jam, dan aku masih saja menyanggah kepalaku dengan tanganku sambil menempel di jendela, memandangi perjalananku meninggalkan kota Domino. Sendirian terasa membosankan dan perjalanan terasa semakin lama. Tapi aku sudah terbiasa, toh bulan-bulan terakhir, aku memang harus menjalani semuanya sendirian. Mataku mulai tertutup setengah akibat kebosanan. Aku sudah tidak ingin memikirkan apa-apa lagi dan pikiranku sudah cukup rileks. Mungkin kalian bertanya-tanya, di mana aku akan tinggal di kota baru ini? Apa aku punya sanak saudara? Jawabannya adalah tidak, aku tidak memiliki keluarga selain Jii-chan dan…hum….Diriku yang satu lagi. Tapi Jii-chan telah mencarikanku sebuah apartemen kecil bertingkat dua, dari foto-foto yang ditunjukkan, terlihat bahwa apartemen itu sangat sederhana, selayaknya sebuah asrama kecil. Bagian bawah terdapat beberapa kamar, tanpa ruang depan, jadi seperti rumah susun yang langsung menuju kamar-kamar dari arah lapangan, tidak ada ruang kantor atau sebagainya. Untuk mencapai lantai dua, terdapat sebuah tangga yang menuju sebuah beranda yang menunjukkan beberapa pintu kamar. Apartemen ini tidak memiliki banyak kamar, dan penghuninya juga tidak banyak. Aku yang memilih tempat ini karena kurasa cukup nyaman. Jauh dari jalan raya dan sementara aku tidak ingin dikelilingi banyak orang.

Memikirkan kehidupan baruku yang tenang membuatku tidak sadar bahwa kereta sudah memasuki stasiun. Aku cepat-cepat mengambil tasku dan berlari menuju keluar. Tepat sebelum pintu kereta tertutup, aku berhasil keluar dengan selamat.

Aku keluar dari stasiun dan memandangi kota tempat aku akan memulai hidup baru. Kota ini bukanlah kota besar seperti Domino. Tidak ada Amusement park, tidak ada gedung-gedung tinggi, tidak ada stadium yang luar biasa besar. yang ada hanyalah pertokoan-pertokoan yang tidak begitu besar. aku melangkahkan kaki untuk berjalan-jalan. Keluar dari stasiun, terdapat hamparan delta. Untuk melewatinya menuju kota, aku harus menyebrangi jembatan besar, tempat para pejalan kaki dan kendaraan-kendaraan banyak keluar masuk stasiun, atau aku harus memutar jalan di pinggiran delta, yang aku yakin akan memakan waktu jauh lebih lamadari pada menyebrangi jembatan tersebut.

Akupun mulai berjalan sambil mengamati sekitar, dan sesekali melirik alamat yang terdapat dalam kertas yang sedang kupegang. Aku melihat kanan-kiri untuk melihat papan petunjuk arah untuk mencari jalan di mana tempat apartemen yang akan kutinggali itu berada.

Setelah berjalan cukup lama, aku sampai di apartemen baruku. Tempatnya sejuk karena di kelilingi banyak pohon dan terdapat lapangan luas di depan apartemen itu. Untuk mencapai apartemen ini, terdapat sebuah jalan aspal untuk mobil melaju, tapi letaknya sekitar 500 meter dari apartemen tersebut, sisanya kita harus berjalan kaki. Tentu saja mobil bisa sampai tepat di depan apartemen, namun harus berjalan di atas tanah dan rumput, bukan di atas aspal.

Aku memperhatikan apartemen baruku tersebut. Setelah puas, aku mulai mengetuk kamar di lantai satu bernomor 101, itu adalah kamar pemilik apartemen ini. Tidak lama setelah aku mengetuk, sebuah suara menjawab dari dalam, dan kemudian pintu terbuka.

"Hai, anda siapa ya?" kata seorang wanita yang sepertinya berumur akhir 20-an.

"uhm…saya Mutou Yugi. Penghuni baru yang akan menetap di sini." Jawabku sambil memperkenalkan diri.

"Oh, kau penghuni baru, tidak kusangka kau seimut ini! Di data tertulis bahwa kau berumur 17 tahun, aku benar?" tanyanya ramah.

Di bilang imut, tentu saja wajahku bersemu, apa aku memang masih terlihat seperti anak kecil? "ya, itu benar, nyonya-unm…"

"Sara, dan jangan panggil aku nyonya, itu membuatku merasa berumur lima puluhan!" katanya lagi.

"uhm baiklah Nyo- Sara-san! Lalu, apa ada peraturan di apartemen ini? Dan di kamar mana aku bisa tinggal?" tanyaku sambil tersenyum. Sepertinya pemilik apartemen ini sangat ramah.

"oh ya, aku akan memanggil suamiku, dia yang akan mengurus tentang hal itu, silahkan masuk!" dengan itu, aku mengucapkan 'permisi' dan membuka sepatuku, lalu mengikuti Sara-san masuk ke dalam. Dalam kamar miliknya itu, terdapat sebuah ruang tamu yang dilengkapi dua sofa yang dirapatkan hingga membentuk siku-siku, dan terdapat sebuah meja di depannya. Di hadapan meja, terdapat sebuah layar TV LCD. Tidak jauh dari tempat itu, terdapat sebuah meja makan untuk empat orang dan sebuah dapur kecil. Di dinding terdapat foro keluarga dan foto seorang pemuda yang sedang berpose sambil memegang kartu duel monster! Melihat ini aku jadi tersenyum. Kembali ke ruangan, di sana terdapat tiga pintu lainnya. Menurut penjelasan Sara-san, ruang pertama adalah tempat kerja suaminya, dan ruang kedua adalah kamar mereka. Sedangkan yang satu lagi adalah kamar mandi.

Setelah duduk dan di suguhi segelas jus jeruk, tidak lama kemudian seorang pria berkacamata dengan rambut coklat sebahu, yang diikat ke belakang, datang.

"Selamat datang di Bridge City, Yugi-kun. Bagaimana perjalananmu?" katanya sambil tersenyum. Rasa senang melandaku begitu tau sepasang suami istri pemilik apartemen ini begitu ramah, paling tidak aku bisa mengandalkan mereka.

"perjalananku baik-baik saja. Dan kota ini begitu indah." Kataku sambil tersenyum.

"aku belum memperkenalkan diri, kau bisa memanggilku Zero. Dan sekarang aku akan menjelaskan tentang apartemen ini. Apartemen ini memiliki 30 kamar saja, masing-masing 15 kamar tiap lantai. Lantai satu disewakan bagi orang yang tidak tinggal sendiri atau sudah berkeluarga. Kamarnya tepat seperti kamar kami, hanya saja untuk ruang seperti ruang kerjaku, mereka bebas merubahnya untuk jadi apa saja, termaksud menjadi kamar." Aku mengangguk mendengarkan penjelasannya.

"lantai dua adalah lantai di mana kau akan tinggal, kau bisa melihat sendiri kamarnya nanti. Tidak ada perarturan yang spesifik di sini karena apartemen ini cukup bebas. jadi Yugi-kun, mari kuantar kau ke kamarmu" Terangnya, lalu iapun berdiri dan menuju pintu dengan aku yang mengekor di belakangnya.

Sesampainya di lantai dua, aku bisa menikmati pemandangan yang cukup menyegarkan dari beranda, tidak jauh dari apartemen ini, terdapat sebuah pagar pendek yang menjaga agar kami tidak jatuh. Tidak jatuh dari apa? Di sana terdapat sebuah tebing yang tidak begitu tinggi dan di bawahnya adalah laut yang terhubung dengan delta yang kulihat tadi.

"ini dia kamarmu, Yugi-kun, semoga kau bisa berteman dengan penghuni lainnya. Memang beberapa ada yang bermasalah tapi kebanyakan dari mereka adalah penghuni yang baik." Kata Zero-san sambil menunjuk kamarku, yaitu kamar nomor 206 dan menunjuk kamar-kamar lainnya.

"terima kasih Zero-san,"

"kalau kau butuh sesuatu, silahkan tanya pada istriku atau aku, kami menghabiskan banyak waktu di rumah."

Setelah itu, ia meninggalkan aku dan aku mulai membuka kunci kamarku. Aku memasuki kamarku dan memperhatikan tempat itu. Kamar ini sedikit berbeda dari kamar milik Sara-san dan Zero-san, saat memasuki kamar, terdapat sepetak tempat untuk rak sepatu, lalu dengan beda tinggi sedikit, di situlah mulai kamar. kamar ini memiliki satu kamar mandi, dan satu ruang utama. Di ruang utama terdapat sebuah tempat tidur yang merapat di dinding, dan di dinding tersebut terdapat sebuah jendela dengan tirai warna biru. Di samping tempat tidur terdapat sebuah meja dan kursi untuk belajar dan di sampingnya terdapat sebuah rak pendek yang tingginya hanya beberapa inchi lebih tinggi dari meja belajar. Di samping rak tersebut terdapat sebuah lemari yang terdiri dari laci-laci panjang, yang besarnya sama dari rak tersebut, aku berasumsi bahwa itu adalah lemari untuk menyimpan pakaian dan barang berhargaku.

Lalu di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah meja pendek, meja tersebut bisa berfungsi sebagai meja makan, dan tidak ada tempat duduknya, tidak masalah karena duduk di lantai tidak akan membuat kami kedinginan, sebab lantainya beralaskan sebuah tatami. Di seberang kasur, lemari, dan sebagainya, terdapat sebuah kompor dan lemari es kecil, juga meja counter dan tempat untuk mencuci piring, di sebelahnya terdapat pintu untuk menuju kamar mandi. Tepat di antara ujung kasur dan kompor terdapat sebuah pintu lagi, menuju beranda pribadi.

Kamar ini cukup nyaman dan aku merasa sangat puas. Aku segera membereskan bajuku dan memasukkannya ke dalam lemari. Aku juga telah membeli ponsel baru, namun tidak memberikan nomorku pada Jii-chan, aku tidak ingin terlacak, jadi aku bilang pada Jii-chan bahwa akulah yang akan meneleponnya dan berharap bukan diriku yang satu lagi yang mengangkat teleponku.

Aku meneepon Jii-chan dan menunggu telepon di angkat.

"Mutou di sini." Itu suara Jii-chan!"

"Jii-chan! Ini aku!"

"Yugi! Kau sudah sampai? Bagaimana di sana?"

"aku cukup puas, Jii-chan, tapi…jangan sebut namaku kencang-kencang…."

"hohoho…aku tau, tapi jam segini Yami sedang pergi ke sekolah/"

"begitu," 'jadi dia tidak menyadari kepergianku?' batinku berkata."Baiklah, Jii-chan, aku ingin beres-beres, dan mengurusi administrasi di sekolah baruku. Jaa ne!"

Setelah aku menutup telepon, aku berusaha mengabaikan perasaan sakit di hatiku.

Setelah selesai merapikan barang-barangku yang tidak banyak itu, aku memutuskan untuk sedikit berbelanja dan jalan-jalan. Aku harus mengenal kota dan sekaligus harus mengisi persediaan makanan untuk apartemenku. Tapi begitu aku melangkahkan kaki keluar….

"Awas! Awas! AWAS!" BLAM seseorang menubrukku tepat sesaat aku keluar dari kamarku. Kami berdua sama-sama terjatuh dan mengaduh.

"adudududuh….hey! maaf, bro. aku tidak melihatmu dan sedang berlari ke kamarku!" orang yang menabrakku meminta maaf dan bangun. Aku masih memegangi kepalaku tapi menjawab uluran tangannya yang membantuku untuk bangun.

"Ti-tidak apa-apa. Tapi apa kau sedang terburu-buru?" kataku menjawab.

"Tidak, hanya saja aku sedang lari dari orang yang ngotot mengajakku pergi ke danau! Yang aku tau akan terjadi hal-hal aneh! Man! Tidak bisakah ia meninggalkan aku selama lima menit?"

"hahaha….jadi kau sudah lolos?"

"sepertinya iya, karena dia jarang bisa mengejarku sampai sini."

"oh begitu,"

"ngomong-ngomong! Kau penghuni baru?"

"ya, perkenalkan, aku Mutou Yugi."

"Sweet! Aku Jaden Yuki. Duelist yang akan menjadi King of Game berikutnya!" katanya semangat. Jleb. King of Game…

"Tunggu….." tiba-tiba ia seperti baru tersadar dari sesuatu.

"Kau! Mutou Yugi! The King of Game'kan? Hey! Aku fansmu! Ayo duel!" aku hanya bisa ber-sweatdrop ria karena tiba-tiba ia mengajakku berduel.

"Maaf Jaden-san, aku….bukanlah King of Game yang kau cari. Dan aku tidak bisa berduel saat ini." Jaden-san terperangah dan terdiam sambil menatapku.

"Apa?"

"ya, mungkin kau tidak akan percaya tapi…." Aku mulai menjelaskan seluruh peristiwa. Mengenai kejayaan diriku yang satu lagi dan jati dirinya yang seorang Pharaoh, semua duelist juga sudah tau. Yang belum mereka ketahui adalah, tentang kembalinya diriku yang satu lagi. Aku tidak mengerti kenapa, tapi aku merasa bisa mempercayai Jaden-san. Selama aku bercerita wajahnya menunjukkan ekspresi seperti ia tidak percaya.

"Jadi….kau ditinggalkan oleh teman-temanmu karena Pharaoh mendapat tubuhnya sendiri!? That's not friendship, man!" katanya. Aku hanya menunduk dan merasa itu benar. Aku memang sudah kehilangan teman-temanku. Hatiku terasa tertusuk beribu-ribu pisau mengingat hal itu.

Aku merasa sepasang mata menatapku, dan begitu aku mengangkat kepala, Jaden-san tersenyum.

"Lupakan saja mereka! Mulailah hidup baru di sini! Dan hey, ayo keliling Bridge City, kau bilang tadi kau meninggalkan semua deckmu? Ayo beli kartu-kartu baru!"

Mendengar ajakannya, aku tersenyum. Mungkin aku bisa berteman dengan Jaden-san. Sudah lama aku tidak ngobrol seperti ini dengan anak sebayaku. Yah, meski dirinya lebih muda. Aku senang akhirnya aku bisa mendapatkan kembali senyumku. Aku mengiyakan dan kamipun berjalan menuju kota. Tapi tidak jarang aku melihat Jaden-san melihat kanan kiri seperti khawatir akan sesuatu.

"oh ya, tadi kau bilang sedang di kejar? Di kejar siapa? Tentunya bukan penagih hutang kan?" tanyaku sambil sedikit berhumor

"oh, shush! Aku tidak berhutang! Gadis ini bernama Blair. Waktu aku masih di Duelist academy, dia datang karena jatuh cinta pada Zane. Tapi entah kenapa sekarang dia malah mengejar aku. Aku merasa sedikit seram. Apalagi dia sering menemukanku di mana-mana." Katanya sambil menunjukkan muka merinding dan memegang kedua bahunya sendiri. Aku hanya tertawa kecil mendengar hal itu.

Kami menuju sebuah pertokoan, pertama aku membeli beberapa minuman kaleng dan bahan makanan untuk kusimpan di lemari pendingin. Kemudian Jaden-san mengajakku masuk ke sebuah toko, yang ternyata adalah sebuah toko kartu. Aku membeli beberapa bungkus kartu, karena aku sama sekali tidak memiliki deck saat ini, tentunya aku butuh banyak kartu untuk menyusun yang baru.

Di kota ini tidak begitu banyak yang bermain Duel Monster, tapi ada beberapa duelist yang tersebar di sini, contohnya seperti Jaden-san dan gadis Blair tersebut. Beberapa anak kecil juga memainkannya, namun mereka tidak menggunakan Duel-disk dan masih menggunakan papan field, jadi aku membeli sebuah field.

Setelah pulang ke apartemen, Jaden-san membantukku menyusun sebuah Deck, dan bahkan memberiku beberapa kartu miliknya. Tanpa terasa, waktu sudah malam, dan Jaden-san pergi ke kamarnya sendiri. Aku tersenyum sambil mengistirahatkan tubuhku di atas tempat tidur. Hari yang tidak buruk.

Mungkin. New Life isn't so bad….

.

.

.

Tbc…

Chapter 2 selesai, makasih buat yang udah mereview atau yang sudah membaca meski tidak meriview. Bahkan satu review memberikan semangat buat saya meneruskan sebuah cerita. Jadi mohon reviewnya ^^

Maaf kalau ada beberapa typo atau kalimat yang sulit dimengerti. Saya masih belajar lagi untuk menulis. Hope you enjoy the story!

Review replier:

To Gia-XY:

Makasih untuk reviewnya :D saya sebenarnya ga mau bashing character x_x tapi demi memenuhi cerita terpaksa saya buat. Semoga chapter ini tidak membosankan, dan semoga tetap berkenan untuk dibaca ^^

To Blue Clouds:

Makasih reviewnya~ Yugi tentunya dapat teman baru, contohnya Jaden Yuki (hahaha, nambahin dari Yu Gi Oh series lain) tapi tentang Yami dkk, itu masih rahasia ;) silahkan menunggu dan semoga tidak bosan dengan cerita saya ^^

To the reader who didn't review (kalau ada):

Makasih udah mau mampir-mampir baca ^^ saya berharap review kalau berkenan