Disclaimer; Yu Gi Oh! Adalah milik Kazuki Takahasi

No Pairing. Only about friendship.

a/n: chapter terakhir dari saya karena saya akan meninggalkan fandom ini. Saya tidak berhenti menulis jadi bagi readers yang benar-benar ingin membaca lanjutan cerita ini, silahkan PM saya. Saya tidak menerima orang yang merendahkan saya, dan saya juga tidak merasa begitu nyaman di fandom ini. Saya malas panjang lebar karena mungkin orang berpikiran sempit tidak akan mengerti (hey, aku tidak bicara ini pada semua readers, hanya beberapa) Cuma satu hal yang akan saya sampaikan, Seseorang atau beberapa orang yang merasa dirinya hebat dan menganggap bahwa fandom ini berada dalam kekuasaanyalah yang membuat saya muak di sini. Semoga chapter terakhir dari saya ini bisa menghibur anda. Jika readers tidak memiliki account untuk PM saya, silahkan meninggalkan alamat email atau sejenisnya.

Chapter ini sangat pendek, tapi saya akan buat kelanjutannya nanti, dan tidak dipublish, hanya bisa di baca orang-orang yang PM saya dan saya kirimkan ceritanya. Silahkan review jika berkenan. Silahkan membuat spam jika anda ingin di report spam.

Schism

Chapter VIII. Feeling Empty

Yugi's P.O.V

Sinar matahari mulai melewati celah-celah tirai jendela kamarku dan menyinari bagian tubuh dan wajahku. Aku membuka mata dan meregangkan tubuhku sambil mulai membangkitkan diri. Aku melihat ke sekelilingku dan menyadari bahwa ini adalah kamarku di rumah Jii-chan, dan suasana terasa sangat sepi dan sunyi. Mataku berlari menuju jam yang terletak di dinding dan menyadari sekarang sudah menunjukkan pukul tujuh.

Aku mulai berjalan keluar dari kamarku dan menuju dapur. Sepanjang jalan aku menguap dan mengusapkan kedua mataku karena masih merasakan kantuk. Mungkin aku merasa lelah karena kemarin sudah melakukan perjalanan yang cukup jauh dan mengalami berbagai hal.

Aku menghentikan langkahku saat aku teringat akan sesuatu. Kejadian semalam tidak hilang dari benakku. Perlahan aku menangkupkan tangan kananku di dadaku tempat mahluk misterius itu menyusup ke dalam tubuhku. Aku tidak merasakan sesuatu yang aneh. Apakah itu hanya bayanganku atau mimpi? Entahlah, aku tidak ingin memusingkannya.

Sesampainya di dapur, aku mulai membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan makanan. Aku mulai menyiapkan sarapanku dan juga untuk satu orang lagi, mengingat bahwa kini tempat ini adalah rumahnya juga. Entah kenapa aku tidak merasakan beban berat dalam diriku lagi, mungkin semua sisa kesedihan telah kucurahkan lewat air mataku semalam. Hatiku terasa ringan dan rasa takutku hilang, bahkan setelah Atem menampakkan diri di pintu dapur.

"Aibou…." Dengan ragu ia menyapaku, aku merasakan sesuatu dalam diriku yang saat ini tidak bisa kujelaskan.

"Selamat pagi, Atem-san," kataku sambil tersenyum. Dia sedikit tersentak karena panggilan dariku. Ya, aku telah memutuskannya untuk memanggilnya seperti itu, aku tidak siap untuk kembali dalam lingkaran persahabatan mereka.

"….maafkan aku," katanya pelan setelah duduk di kursi yang berada di depan counter.

"…Kenapa minta maaf?" hatiku tidak mencelus, hatiku tidak gentar, dan aku tau jawaban dari pertanyaanku sendiri, tapi aku ingin mendengarnya dari mulut sang Pharaoh.

"Aibou…Aku sadar bahwa kau merasa aku…membuangmu."

"aku tidak merasa, Atem-san, Aku sadar kalau kalian menyingkirkan aku."

"ya…aku tak bisa mengelaknya….keegoisanku memang menyakiti hatimu, Aibou, bahkan aku tak sadar akan hal itu sampai kau menghilang. Aibou, Aku-"

"Atem-san." Aku memotong perkataannya. Melihat ia terdiam, maka aku lanjutkan perkataanku, "bisa berhenti memanggilku 'Aibou'?" orang yang pernah berbagi tubuh denganku itu terkejut dengan spontanitasku. Aku sadar bahwa aku terdengar seperti orang lain tapi aku tidak bisa menahannya, entah kenapa aku sangat ingin mengatakan hal itu padanya. Dan aku tidak mengerti kenapa melihat wajahnya yang tertunduk dan aura kekecewaan pada dirinya sendiri yang menyeliputinya itu membuatku merasa puas.

"Maafkan aku, Ai-….Yugi." katanya lagi, aku tidak tersenyum ataupun sedih, aku tidak merasakan apapun saat aku membalikkan tubuhku sehingga hal yang dapat ditatap Atem hanyalah punggungku yang kini melanjutkan masakanku.

Setelah selesai, aku meletakkan sebuah piring berisi telur mata sapi dan roti bakar dihadapan Atem, lalu mulai memakan bagianku. Kami makan dalam diam. Aku tau Atem tidak merasa nyaman dengan situasi ini, berkebalikan denganku yang tidak merasakan apa-apa. Acara makan pagi itu tidak berlangsung lama, aku meletakkan piring kotor ke dalam tempat cuci piring dan kembali menuju kamarku setelah selesai makan.

Aku kembali turun setelah selesai menyiapkan diri untuk mengunjungi Jii-chan. Aku kembali melewati dapur dan melihat Atem masih berada di sana, sedang mencuci peralatan makan yang kami gunakan tadi. Tanpa menyapa, aku menuju pintu keluar dan meninggalkan rumah.