Disclaimer; Yu Gi Oh! Adalah milik Kazuki Takahasi

No Pairing. Only about friendship.

a/n: di chapter sebelumnya, saya bilang bahwa saya benar-benar akan meninggalkan fandom ini dan hanya menge-post cerita untuk yang mau baca saja. tapi setelah mendapat beberapa review dan PM (yang bagi saya cukup banyak) saya memutuskan untuk menyelesaikan cerita ini dulu di sini. ini chapter terakhir, maaf jika terkesan terburu-buru karena saya sebenarnya sudah tidak punya passion di fandom ini, tapi saya tidak mau memutuskan cerita di tengah jalan. Silahkan menikmati. plot sebenarnya masih panjang tapi saya persingkat saja. silahkan yang mau komentar macam-macam. review dan saran yang membangun di terima, sedangkan flame akan berakhir di report spam.

Schism

Chapter IX. It's because of him!

Yugi's p.o.v

Perjalanan menuju rumah sakit tempat Jii-chan dirawat tidaklah jauh, namun aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri sehingga tidak memperdulikan hal tersebut. kekosongan hatiku membuat diriku sendiri bertanya-tanya. aku memang lega karena tidak ada lagi beban dalam diriku, tapi aku merasa ada sesuatu yang salah dengan diriku. Aku tidak merasa bersalah ketika tau bahwa aku yang membuat Yami terlihat sedih. Aku tidak merasa harus memaafkan dirinya meski ia terlihat sangat menyesal. Tapi, aku jadi merasa bersalah pada diriku sendiri karena sepertinya rasa simpati yang dulu selalu meluap dalam diriku, kini menghilang seutuhnya. Apa karena aku sudah lelah? atau sudah pasrah? Ntahlah. aku menggelengkan kepalaku dan memfokuskan pikiranku pada pintu rumah sakit yang kini sudah ada tepat di hadapanku.

"Jii-chan," sapaku sambil memasuki ruangan tempat Jii-chan menginap.

"Ah, Yugi," sapanya sambil tersenyum ke arahku.

aku duduk di kursi yang telah disediakan di samping tempat tidur Jii-chan. kami hanya terdiam selama beberapa menit sampai Jiichan menarik nafas panjang.

"Yugi, bagaimana hubunganmu dengan Yami dan yang lainnya?"

pertanyaan Jiichan tidak membuatku terkejut. tentu saja Jiichan pasti ingin tau apa reaksiku juga teman-teman saat kami bertemu. aku hanya menghela nafas dan memberitahu Jiichan semuanya. dahinya mengkerut dan alisnya terpaut tanda kurang setuju.

"Yugi, aku tau kalau kau tersakiti, tapi tidakkah kau melihat kesedihan dan penyesalan mereka?"

mendengar itu aku menjadi sedikit panas. Kenapa Jiichan jadi membela mereka!? aku hanya mengunci mulutku rapat-rapat sambil menggertakkan gigi. melihatku tidak mau menjawab, Jiichan sedikit memaksa.

"Bukankan dia sudah menyesal dan minta maaf? ayolah Yugi, mana sifat pemaafmu?" mendengar perkataan Jiichan tidak membuatku merasa bersalah atau merasa lebih baik, aku semangkin marah.

"Jiichan! Jiichan tau apa yang mereka lakukan padaku sehingga aku pergi! kenapa membela mereka? kenapa!? apa gara-gara aku meninggalkan Jiichan selama beberapa bulan, lantas Jiichan lebih memilih Yami? begitu!?" aku terengah-engah dan langsung melesat keluar dari kamar Jiichan, tanpa menghiraukan teriakkan jiichan yang meminta aku kembali. aku sangat kesal dan mengutukki Yami dan yang lainnya.

"Sialan!" teriakku sambil berlari ke sebuah danau.

sesampainya di sana, aku menjatuhkan diri ke rerumputan yang hijau dan berusaha menenangkan diri. lalu terlintas sesuatu di pikiranku.

Kenapa aku semarah ini?

'tentu saja! Jiichan mulai berpihak mereka!' batinku meneriakki diriku.

Sebelum aku mulai berdebat dengan diriku sendiri, suara yang sangat familiar terdengar memanggilku. Aku menolehkan kepalaku dan melihat Yami dan yang lainnya menghampiriku.

"Mau apa kalian?" kataku menggeram.

"Yugi...Jiichan bukan berpihak padaku, dia hanya ingin-"

"Kau mencuri dengar!?" aku memotong perkataan Jounouchi-kun dengan berteriak.

"Kami tidak sengaja! serius!" kata Honda berusaha membela diri.

"Kalian bukan siapa-siapa, tapi berani coba-coba untuk curi dengar percakapanku dengan Jiichanku!?"

"hahaha, benar, kalian kan sudah membuang Yugi!" aku tersentak mendengar suara yang familiar itu, dengan cepat aku menolehkan kepalaku dan menatap orang tersebut.

Malik kegelapan!

"Yugi!" dari arah belakangnya, Malik, Judai, Ryou, dan Bakura berlari ke arah kami, dan terhenti setelah Malik kegelapan tepat beberapa langkah di hadapan mereka.

"Apa yang kau lakukan di sini, Malik!?" Bakura berteriak, tidak menyadari bahwa Malik yang berada di sampingnya sedikit meringis karena namanya diteriakkan sekasar itu.

Malik kegelapan hanya tertawa, lalu mendekatiku. Aku mundur perlahan sampai ia tepat di hadapanku.

"bibit kegelapan yang kutanam pada dirimu sudah berkembang rupanya." katanya sambil menyengir.

Apa? Bibit kegelapan? Aku sedikit bingung dan kaget, dan kulihat semua orang yang ada di situ juga memiliki ekspresi yang sama.

"Kau tidak sadar?" Malik kegelapan mulai tertawa terbahak-bahak.

"Apa yang kau lakukan pada aibou!?" Yami mulai melangkah geram, tapi secara otomatis aku melihat ke arahnya dengan menajamkan mataku sehingga ia berhenti di tempat.

"Yugi, yugi, yugi. hatimu sekarang sudah diliputi kegelapan, tidakkah kau sadar?" katanya sambil menggerak-gerakkan jarinya, selayaknya seorang guru yang sedang menasehati muridnya.

"Apa yang kau lakukan padaku, Malik?" kataku dengan suara rendah, hal ini malah membuatnya semakin tertawa.

"Kelemahan hatimu membuat kegelapan milikku bisa masuk ke dalam dirimu! dan sekarang apapun yang kau lakukan, kegelapan itu takkan hilang, dan kau akan seperti diriku. dipenuhi dendam." katanya sambil tersenyum licik. lalu sesuatu muncul di kepalaku.

tepat saat aku pulang kerumah, sesuatu kegelapan merasuki diriku. pasti itu!

"Jadi itu ulahmu!?" kataku geram.

"Loh? berterima kasihlah karena sekarang bebanmu hilang!" katanya ceria. aku jadi muak terhadapnya. tanpa pikir panjang aku mendorong tubuhnya sehingga ia terjatuh, tapi dengan cepat ia bangkit dan menyingkirkan aku. aku terlempar ke arah Yami dan teman-temannya.

"Yugi! kau baik-baik saja?" Anzu langsung berlutut dan hendak membantukku.

"Jangan sentuh!" kataku sambil mendorongnya dan bangkit sendiri.

Apa-apaan ini? Aku yang dulu tidak akan mendorong Anzu sampai terjatuh. Aku tidak merasa bersalah namun merasakan keanehan dalam diriku.

mengacuhkan pikiran itu, aku membuang muka dan siap menghadapi Malik lagi. tapi sebelum aku menerjang malik, seseorang meraih tanganku.

"Ap-" kata-kataku terhenti saat Yami mengalungkan Millenium Puzzle padaku. seluruh kenangan kami semua meluncur di benakku. wajah Yami dan kawan-kawan yang menampilkan kesedihan itu mulai menggerakkan hatiku.

"Yugi..." Jounouchi dan Anzu mulai mendekatikku. Honda meletakkan tangannya pada pundakku. dalam sekejap, seluruh memori tentang persahabatan kami memenuhi otakku dan perasaan sedih bercampur senang mulai memenuhi hatiku lagi.

"Maafkan kami, Yugi." kata mereka berempat bersamaan. seketika pikiranku jernih dan Millenium Puzzle bersinar. Malik sambil mengutuki dan berteriak tidak percaya mulai lenyap perlahan.

suasana menjadi sunyi. Bakura dan yang lainnya perlahan mendekati kami, dan ketika aku membuka mulut, Anzu memelukku, lalu Honda dan yang lainnya menyusul.

aku tersenyum. Kenapa aku bisa membiarkan kegelapan merasuki hatiku? tentu mereka membuat kesalahan tapi itu karena mereka manusia biasa'kan? Aku merasa senang bisa kembali lagi seperti dulu, tidak lupa juga dengan teman-teman baru.

beberapa minggu setelah itu, kami menjalani hari-hari biasa. Aku kembali ke sekolah lama, namun aku masih berhubungan dengan Ryou-kun dan yang lainnya via mail. Jiichan juga sudah diizinkan keluar dari rumah sakit.

Aku senang karena kehidupanku sekarang sudah menjadi lebih cerah. Tanpa kepedihan. kenangan pahit sudah kukubur dalam peti hatiku dalam-dalam dan kuharap tidak ada lagi yang berusaha membuka peti tersebut.

T.H.E E.N.D

maaf endingnya sedikit maksa. terima kasih pada orang-orang yang sudah mereview dan +fav cerita ini. saya sangat menghargai itu :D