Disclaimer; Yu Gi Oh! Adalah milik Kazuki Takahasi

Rated: M (just in case. Nothing too vulgar)

Main Character: Yugi, Yami Yugi

Genre: General

II

Drug

Pagi yang indah. Suara kicauan burung yang bertengger di atas pepohonan. Angin pagi yang sejuk. Bau rerumputan yang terkena embun terasa menyegarkan. Ini hari yang menakjubkan bukan? Itulah yang dibayangkan oleh seorang Mutou Yugi, anak lelaki remaja berusia enam belas tahun, yang kini duduk di bangku kelas dua SMU. Memang ini adalah pagi adalah sebuah saat-saat yang indah, tapi itu hanyalah yang terbayang oleh Yugi. bagaimanapun, perasaannya mengatakan hal lain. Ia merasa sangat enggan untuk meninggalkan kasurnya yang menjadi penghangant dirinya itu. Ia menggosok kedua bola matanya bulat yang indah dan besar yang warnanya menyerupai sebuah batu Amethyst itu. Sambil turun dari tempat tidurnya, Yugi meregangkan tubuhnya yang tergolong mungil tersebut agar otot-ototnya tidak terasa kaku.

Yugi keluar dari kamarnya dan menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri, tapi ia tidak yakin itu akan berhasil. Sama seperti halnya anak remaja biasa, yang sangat malas untuk pergi ke sekolah. Yugipun merasakan demikian, tapi alasannya berbeda dari anak-anak kebanyakan. Pria mungil ini bukanlah anak yang malas belajar atau semacamnya, hanya saja, Yugi sudah lelah dengan kehidupannya yang sekarang.

Yugi bukan berasal dari keluarga yang kaya, maupun yang berkecukupan. Ia hanyalah seorang anak piatu, yakni anak yang sudah tidak memiliki ibu lagi. Ibu yugi meninggal karena suatu penyakit. Yugi masih memiliki seorang Ayah, namun ayahnya tidak bisa disebut sebagai ayah yang bertanggung jawab. Sang Ayah sama sekali tidak bekerja, pekerjaannya hanyalah minum-minum dan pergi ke bar. Bagaimana mereka hidup? Tentu saja berkat Yugi yang bekerja keras. Yugi menjadi pekerja part-time di beberapa tempat di kota sebelah, karena ia tidak ingin teman-temannya memergokkinya saat ia sedang bekerja. Selain Bekerja, pria berambut tiga warna ini juga menghabiskan waktunya untuk belajar agar beasiswanya tidak dicabut. Entah bagaimana nasibnya jika ia sudah tidak memiliki beasiswa lagi, otomatis ia harus berhenti sekolah.

Beberapa hal yang membuat Yugi beberapa kali berpikir untuk berhenti sekolah. Pertama, ia tidak memiliki teman dan merasa kesepian. Kedua, banyak anak-anak di sekolahnya yang membuli dia. Ketiga, selain dibuli, beberapa anak berandal di sekolahnya sering meminta uang padanya, jika tidak diberi, tubuhnyalah yang akan menjadi korban pukulan dan tendangan anak-anak itu. Yugi memegangi perut sebelah kanannya yang kemarin baru saja mendapat tendangan dari Ushio, salah satu anak yang sering merampas uangnya.

Air dingin mulai membanjiri wajahnya yang lesu itu, tapi belum sempat bersantai, suara teriakkan kasar mulai terdengar dari lantai bawah.

"YUGI! MANA MAKANANKU!?"

"Se-Sebentar!" Yugi langsung mengeringkan tubuhnya dan berpakaian. Secepat kilat ia turun ke bawah dan menyiapkan sarapan untuk Ayahnya.

"Ini, Ayah…." Dengan ragu Yugi menghampiri Ayahnya yang sedang menonton televisi di ruang tamu yang berantakan dengan kaleng bir dan berbagai hal lainnya.

"MAKANAN APA INI!?" nampan yang dipegang oleh Yugi ditepis oleh ayahnya sehingga terlempar. Sarapan yang telah ia siapkan untuk ayahnya tercecer di lantai dan sebagian mengenai tembok dari ruangan yang sempit itu. Yugi sendiri hanya terdiam dengan wajah seperti biasanya, lesu. Ia tidak terkejut oleh perilaku ayahnya, hal ini sudah biasa terjadi. Mungkin ayahnya masih sedikit mabuk, karena jarang sekali ia melihat ayahnya dalam keadaan tidak mabuk. Ayahnya tidak dalam keadaan mabuk jika ia ada urusan penting di luar, yang sangat jarang.

"APA YANG KAU TUNGGU? ENYAH DARI HADAPANKU!" lagi-lagi teriakkan sang Ayah tidak membuat Yugi terlonjak, hanya sedikit meringis karena suaranya yang sangat kencang.

Yugi segera pamit, yang tentu saja tidak digubris ayahnya, dan meninggalkan ruangan yang kecil dan remang-remang itu. Ia membuka pintu dan turun. Rumahnya berada di lantai dua. Dari sebuah gang sempit, ada sebuah tangga yang menuju ke rumahnya, sedangkan bagian bawah dari tempat tinggalnya adalah sebuah kedai kecil. Gang ini terletak di sudut kota di mana tidak banyak orang yang melalui daerah ini.

"Lagi-lagi ia membuang makanan buatanmu ya, yugi?" Yugi menengok dan mendapati paman pemilik kedai kecil tersebut. Yugi hanya mengangguk sambil tersenyum lemah lalu pamit dengannya.

Yugi pergi ke sekolah pagi-pagi karena semakin cepat ia masuk ke kelas, kemungkinan anak-anak tidak akan menjahilinya, kecuali tentunya yang berada satu kelas dengannya. Di sekolah ia berusaha tidak menunjukkan bahwa dirinya lemah. Ia memang pendiam, tapi tidak ada yang tau tentang keadaan keluarganya. Meski ditindas terkadang Yugi berusaha membela dirinya meski tentu saja ia sering gagal.

"Wah wah, lihat siapa yang kita temukan pagi-pagi begini? Fansku!" sebuah suara yang sangat kukenali terdengar dari belakang Yugi saat ia duduk di bangku kelasnya.

"Cih…Aku bukan fansmu, Yami Atemu." Tungkas Yugi sambil berwajah kesal. Yami Atemu adalah salah satu dari banyak orang yang sering mengejeknya, meski ia tidak main fisik, tapi kata-katanya sangat menyebalkan, ia memanggil Yugi sebagai fansnya karena mereka memiliki model rambut yang mirip. Laki-laki bermata merah darah tersebut adalah seseorang dari keluarga di atas rata-rata. Menurut rumor yang beredar, ia saat ini tinggal sendiri di suatu apartemen. Ia juga merupakan orang terpopuler di sekolah, bahkan tidak jarang Yugi melihatnya bersama gadis-gadis yang berbeda tiap harinya.

"Oh ya? Lalu bagaimana kau jelaskan tentang penampilan kepalamu itu, cebol?" katanya dengan cengiran khasnya sambil mengangkat dagu pria mungil.

"Ini alami, bodoh!" Yugi menepis tangannya, lalu sambil tertawa, Yami pergi bersama teman-temannya. Yugi sangat kesal dengan anak-anak di sekolah ini, dua per tiga orang di sekolah ini senang mengerjainya. Apa mereka tidak memiliki hal lain untuk dilakukan? Terkadang Yugi berpikir seperti itu.

"Hey, Yugi-kun." Suara yang terdengar sebagai suara iblis kembali terdengar dari belakang pria mungil. ia menoleh pelan-pelan dengan penuh ketakutan dan menemukan seorang pria dengan tubuh tinggi besar sedang menyeringai terhadap dirinya dengan tatapan buas.

"Kau bawa uangnya?" Tanya pria itu

"U-Ushio-san…aku tidak punya uang sekarang…." Jawab Yugi sambil ketakutan

"Hm….kalau begitu ikut aku." Jawabnya sambil menarik pergelangan tangan Yugi dan membawanya keluar kelas. Yugi sibuk meringis kesakitan karena ditarik oleh Ushio dengan cengkramannya yang kencang sampai ia tidak menyadari sepasang bola mata merah terkejut saat menyaksikan dirinya di tarik dengan kasar.

Yami tau bahwa Yugi sering sekali menerima ejekan dan sering dikerjai oleh teman-temannya, tapi sampai saat ini ia belum pernah melihat Yugi berurusan dengan Ushio yang merupakan anak yang paling berandal di sekolah ini. Anak lain takkan berani untuk macam-macam yang akan menyebabkan diri mereka diskors. Tapi lain halnya dengan Ushio, ia takkan segan-segan untuk melakukan apa yang ia inginkan. Dengan rasa penasaran, Yami mengikuti Ushio dan Yugi diam-diam.

.

BRUAK

Tubuh Yugi dibenturkan ke tembok dengan sangat keras sehingga tubuhnya nyaris terpental lagi layaknya sebuah bola yang dipantulkan ke dinding. Suara tersebut membuat Yami meringis di tempat persembunyiannya. Di tembok tempat Yugi terbentur tadi, terlihat sedikit noda merah yang menandakan kepala lelaki mungil tersebut terluka.

Belum puas dengan itu, Ushio menjambak rambut Yugi dan menahannya di dinding, lalu dengan kepalan tangannya, ia menyerang perut pria mungil itu berkali-kali sehingga Yugi memuntahkan sedikit darah. Merasa kurang, ia menjatuhkan tubuh Yugi dan menendang tubuhnya berkali-kali sehingga tubuhnya kini tergeletak lemas.

Yami hanya bisa memandangi kejadian itu sampai Ushio pergi meninggalkan tubuh Yugi yang sudah tidak berdaya itu. Bukannya tidak ingin menolong, hanya saja Yami terlalu terkejut untuk bertindak. Tidak heran Yugi sering kali masuk ke dalam kelas dengan wajah serta pakaian yang berantakan, beberapa anak mengatakan bahwa Yugi sering berkelahi jadi ia pikir, itu adalah hal yang normal. Tidak ia sangka bahwa Yugi sudah menjadi korban Ushio.

Belum sempat menghampiri Yugi dan menanyakan keadaannya, Yugi bergerak dan duduk dengan susah payah, lalu mengeluarkan sebungkus kecil yang berisi serbuk putih. Sambil penasaran Yami menahan diri untuk keluar dan kembali memeriksa keadaan.

Yugi melihat kanan-kiri dan memastikkan bahwa di sekitarnya tidak ada orang, lalu perlahan-lahan ia mulai menghirup serbuk tersebut. Beberapa saat kemudian, tubuhnya terlihat rileks dan wajahnya terlihat tenang.

Bola mata crimson milik Yami terbelalak. Yugi, seorang pria mungil dengan otak cerdas dan kepribadian yang bagaikan malaikat itu, sedang menghirup narkoba! Tanpa sadar Yami langsung keluar dari persembunyiannya. Kehadirannya membuat Yugi panik dan ketakutan.

"Y-Yami Atemu…." Ucapnya lemah. Ia tidak percaya bahwa yang memergokinya sedang menggunakan narkoba adalah salah satu anak yang sering mengejeknya dan tidak menyukai keberadaannya. Habislah sudah, selain tidak bisa melanjutkan sekolah, ia takkan bisa bekerja lagi dan akan dipenjara.

"Yugi.."

"Se-Sedang apa kau di sini!?"

"Yugi, Kau…"

"Ha! Kau melihatnya!? Sekarang apa!? Melaporkanku kepada kepala sekolah agar aku enyah dari hadapanmu? Melaporkanku pada polisi supaya aku masuk penjara? Huh! Aku tidak peduli!" sepertinya efek dari narkoba itu masih ada, karena Yugi bisa berlari kencang meninggalkan Yami tanpa merasakan rasa sakitnya. Sementara Yami hanya bisa terdiam mematung, tapi itu tidak bertahan lama, karena ia segera lari berusaha untuk menyusul Yugi.

Yugi lari ke arah rumahnya tanpa tau bahwa Yami tidak jauh di belakangnya. Lagi-lagi Yami hanya bisa terperangah begitu melihat di mana Yugi tinggal. Di sebuah gang sempit yang kotor. Dari tangga yang menuju lantai dua sebuah bangunan terdengar suara pintu di banting.

"Kau teman Yugi?" Tanya seorang pria setengah baya yang merupakan pemilik kedai tersebut. Yami hanya bisa mengangguk, bingung mau menjawab apa.

"Aneh, biasanya yugi selalu tidak ingin seseorang mengetahui tempat tinggalnya. Ah, sudahlah, lebih baik kau jangan masuk, Ayahnya sedang ada di rumah."

"Memangnya kenapa?" Tanya Yami penasaran.

"Loh? Dia tidak cerita?"

Belum sempat Yami menjawab, sebuah suara keras datang dari arah pintu tempat Yugi masuk tadi, suara-suara teriakkan amarah mulai terdengar dari dalam sana. Tidak lama kemudian, Yugi keluar dari pintu tersebut dengan berlinang air mata dan beberapa luka lebam baru yang terlihat pada wajah dan tubuh pria mungil itu, namun begitu melihat sosok Yami, matanya kembali memancarkan amarah dan ia kembali berlari menuju arah yang berlawanan.

"Tunggu!" Yami berusaha menghentikkannya namun tidak digubris oleh Yugi. setelah beberapa menit berlalu, Yami berhenti untuk mengatur nafas karena tadi ia terus berlari kencang untuk mengejar Yugi, namun tidak berhasil. Dibalik penampilannya yang kecil itu, ternyata Yugi bisa berlari sangat kencang. Kemudian Yami berjalan sambil melihat kanan dan kiri untuk memastikan keberadaan Yugi.

Sebuah suara yang ia kenali dan satu suara lagi yang asing dari sebuah gang menarik perhatian Yami, iapun mengintip untuk melihat keadaan.

"Sekarang, Yugi-kun, kau tau kan jika kau tidak mempunyai uang tapi menginginkan barang ini, kau harus berbuat apa?" seorang pria dengan rambut kelabu yang berhiasi bandana bercorak bendera amerika berkata sambil mendempetkan tubuhnya pada tubuh Yugi. Yugi hanya bisa membuang muka sambil menutup matanya rapat-rapat. Ia mulai merasakan bibir Lelaki bernama Keith itu mulai menciumi daerah lehernya dan meraba tubuhnya. Tapi belum sempat melakukan hal lebih jauh, ia terinterupsi dengan sebuah pukulan keras. Yugi terjatuh sambil bersandar di dinding, lalu dengan perlahan ia membuka matanya. Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa Yugi terkejut dengan apa yang ia lihat di sana meski tubuhnya tidak menunjukkan apa-apa. Yami tengah berdiri di hadapannya sambil menghadap ke arah Keith yang sekarang terkapar di jalan. Sebelum Keith sempat bangun, Yami menarik tangan Yugi dan berlari meninggalkan tempat itu.

Setelah berlari cukup lama dan sampai di tempat yang tidak begitu ramai, Yugi berhenti mendadak dan menepis tangan Yami.

"Apa-apaan kau!?" Bentak Yugi sambil marah. Yami hanya terdiam, tidak bisa berkata apapun. Meski ia yakin Yugi tidak menyukai perbuatan lelaki berambut kelabu tadi, yang mendatangi lelaki tersebut adalah Yugi sendiri, dan dari percakapan tadi, Yami tau bahwa Yugi melakukannya untuk mendapatkan obat terlarang tersebut.

"Kenapa?" Tanya Yami pelan.

"Apa?" sambil kembali menatap mata Yami dengan amarah, Yugi bertanya.

"Kenapa kau melakukan itu? Memakai obat terlarang? Melakukan…..perbuatan tidak senonoh itu! Kupikir kau orang yang lebih baik, Yugi!"

"Kaupikir! Kaupikir! Memang kau siapa!? Aku tidak mengenalmu! Kau tidak mengenalku! Kau tau apa!? Orang yang hidup dengan kehidupan bahagia sepertimu tau apa!? Kau takkan bisa mengerti perasaanku!" Air mata kembali menghiasi kedua pipi Yugi yang telah penuh lebam dan luka tersebut. Matanya tidak menunjukkan sebuah semangat maupun kemurnian hidup lagi. Yang ada hanyalah kekosongan dan derita.

"Aku memang tidak akan bisa mengerti perasaanmu. Tidak akan pernah. Setiap orang memiliki cara berpikir dan merasakan yang berbeda-beda. Aku bohong jika aku berkata aku bisa mengerti perasaanmu. Tapi, Yugi, jalan yang kau ambil ini salah." Yami berkata dengan tenang, sambil berusaha menyentuh bahu Yugi yang kini bergetar hebat.

"Jangan sentuh! Kau tidak pernah merasakan bagaimana hancurnya hidupmu yang harus menghidupi seorang ayah yang tidak bertanggung jawab! Bagaimana hancurnya seorang anak yang diperlakukan sebagai sampah oleh ayahnya! Kau takkan mengerti rasanya dikerjai dan dihina saat kau hanya ingin menempuh ilmu untuk memperbaiki hidup! Kau tidak tau rasanya saat kau harus menjual diri untuk mendapat 'kebahagiaan sesaat' dan untuk mendapat uang agar bisa hidup sedikit lebih layak! Kau tidak pernah merasakan saat-saat ayahmu akan membunuhmu hanya karena kau pulang di saat yang tak tepat dan tidak membawa uang! Hanya karena uang kerja kerasmu diambil oleh orang tidak berperasaan di tempat yang harusnya aku mendapatkan ilmu! Kau tidak tau'kan, Yami? Hidupmu bahagia! Bahkan tanpa tau perbedaan antara kita, kau masih mengganggu kehidupanku yang di ambang kehancuran ini! Oh tidak, mungkin aku sudah hancur!" Yugi meledak-ledak. Yami lagi-lagi hanya bisa terdiam terpaku. Ia tidak menyangka kehidupan teman mungilnya itu separah itu. Hidupnya memang baik-baik saja dan ia tidak pernah membayangkan bahwa seseorang yang berada sedekat itu dengannya memiliki hari-hari bagaikan neraka. Yami hanya bisa menatap prihatin pada kembaran kecilnya itu. Tapi tangis Yugi tidak bertahan lama, ia mulai menenangkan diri dan bangkit.

"Kau mau ke mana?" Tanya Yami perlahan.

"Bukan urusanmu." Jawab Yugi dengan ketus.

"Kau tidak bisa pulang kan?"

"Tidak berarti aku harus berada di sini'kan?"

"Ikutlah ke tempatku…." Yugi terbelalak dengan pernyataan Yami tadi. Setelah mengetahui kehidupan kelamnya dan sikap kasarnya, Yami masih mau mengajaknya menginap? Pasti rasa kasihan.

"Aku tidak ingin di kasihani."

"Lalu? Kau mau apa? Aku memang kasihan terhadapmu tapi bukan sekedar mengasihanimu seperti anak jalanan, aku peduli. Kita memang tidak dekat, tapi kurasa tidak ada salahnya kan memberikan kenyamanan pada teman sekelas sendiri?" sekarang giliran Yugi yang terdiam mendengar perkataan Yami. Tapi akhirnya ia mengangguk dan membiarkan Yami membawanya ke tempat tinggal Yami.

.

Yami membukakan pintu apartemennya untuk Yugi dan Yugi pun berjalan masuk perlahan. Ruangan ini begitu rapi. Perabotan berwarna merah yang dipadukan dengan warna hitam membuat ruangan ini begitu elegan. Apartemen tersebut memiliki dua pintu lain dan sebuah pintu kaca. Pintu kaca menuju beranda, sedangkan dua pintu lain merupakan pintu kamar Yami dan pintu kamar mandi. Yami sudah menghilang di balik pintu kamar tidurnya sementara Yugi duduk di sebuah sofa berwarna merah berbantal hitam yang berada di ruangan tersebut. Tidak lama kemudian Yami keluar dengan pakaian yang berbeda, Yugi berasumsi bahwa ia telah mandi untuk menghilangkan kepenatan setelah lari berkeliling kota tadi. Kemudian Yami melemparkan sepasang piyama berwarna biru pada Yugi dan menyuruhnya untuk pergi mandi.

"Itu baju sepupu perempuanku, tapi semoga itu pas di tubuhmu."

Ntah ingin marah atau berterima kasih pada Yami, Yugi langsung melesat ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Sudah lama ia tidak bisa menikmati nyamannya saat mandi, tanpa terasa menit-menit telah berlalu, Yugi pun segera kembali berpakaian dan keluar dari kamar mandi. Ia melihat sekitar dan mendapati Yami berada di balik sebuah counter. Counter tersebut adalah sebuah meja tempat makan karena di depannya terdapat dua buah kursi tinggi, sedangkan di sebrangnya terdapat dapur minimalis, di mana Yami sedang membuat sebuah omelet-rice.

Yami menyadari kehadiran Yugi dan mematikan api kompor, lalu duduk di sofa. Ia mengintruksikan Yugi untuk mendekat dan duduk, Yugi pun mengikuti intruksinya. Yami mengeluarkan kotak obat dari dalam laci dan mulai mengobati luka-luka Yugi.

Pria mungil itu sedikit merasa bahwa air matanya akan keluar lagi. Ia benci dirinya yang cengeng, tapi sudah lama ia tidak merasakan diperlakukan seperti selayaknya manusia seperti ini. Yami melihat hal itu dan hanya menepuk-nepuk kepalanya saja. Selama ini Yami berpikir bahwa Yugi hanyalah anak pendiam, jadi ia sering mengejek Yugi karena siapa tau Yugi akan mulai terbuka untuk sekedar membalasnya. Ia tidak menyadari bahwa tindakkannya menorehkan luka kecil dan menambah buruknya hari-hari Yugi.

Setelah selesai mengobati luka Yugi, mereka makan bersama. Yugi makan dengan perlahan, namun tiba-tiba ia merasa tubuhnya lemah dan ia terjatuh dari kursi. Entah kenapa ia merasakan tubuhnya panas dan emosinya mulai menguasai dirinya. Yugi segera berlari dan mengacak cucian kotor yang ia tinggal di kamar mandi sampai ia menemukan sebuah bungkusan berwarna putih. Tapi sebelum ia sempat menghirupnya, Yami menahannya.

"Lepaskan! Berikan itu padaku!" Yugi meronta-ronta.

"Tidak! Kau harus berhenti merusak tubuhmu!" Yami dengan cekatan membuang obat tersebut ke dalam closet dan menyiramnya. Yugi makin emosi dan mulai berlari keluar dari apartemen, tapi Yami menahannya. Yugi memasuki tahap brutal karena ia tidak bisa mendapatkan obat tersebut untuk menenangkannya. Yugi mulai berontak karena Yami terus menahannya agar tidak pergi keluar hingga tubuh Yugi kembali lemas karena kehabisan tenaga.

Yami hanya menghembuskan nafas karena lelah dan membawa Yugi ke kamarnya. Ia merebahkan tubuh Yugi di atasnya dan menatap simpati pada pria mungil tersebut. Setelah Yakin Yugi tertidur pulas, ia pergi keluar dari kamar tersebut dan menelepon seseorang.

.

"Kenapa kau melaporkan Ayahku ke penjara!?" Yugi membanting tangannya dengan kencang ke meja di hadapan Yami. Baru seminggu Yugi menginap di tempat Yami dan sekarang Yami menjebloskan Ayahnya ke penjara.

"Yugi, ia masuk ke penjara hanya jika laporanku terbukti benar. Dan lihat? Ia masuk penjara artinya semua laporanku terbukti. Ayahmu di tangkap karena melakukan kekerasan padamu dan itu ia akui saat ia sedang mabuk, ia tidak sadar bahwa yang menanyainya adalah polisi." Yami tidak bisa menahan cengirannya saat itu.

Yugi memang marah karena Yami memasukkan Ayahnya dalam penjara, tapi tidak dapat dipungkiri ada perasaan lega karena satu beban hidupnya sudah hilang.

"Tapi…bagaimana nasibku?" Yugi berkata lemah, tanpa Ayahnya, ia bisa saja di masukkan ke dalam sebuah panti asuhan karena usianya belum 18 tahun.

"Dengan persetujuan ayahku dan pihak kepolisian, kau akan tinggal bersamaku dan melakukan rehabilitas agar kau lepas dari obat-obatan itu. Aku tidak melaporkanmu pada polisi, ini adalah inisiatifku, jadi tenang saja.

"Terima kasih, Yami….kenapa kau begitu baik?" kata Yugi sambil terperangah. Ia tidak percaya, dalam seminggu ia sudah berubah dari musuhnya menjadi temannya.

"Tidak apa, sudah kubilang, orang sepertimu pantas untuk diberikan kesempatan hidup yang baik." Kata Yami sambil tersenyum.

Setelah itu, Yugi perlahan terlepas dari obat-obatan terlarang itu berkat rehabilitas. Ia terus berterima kasih pada Yami yang mengubah hidupnya menjadi lebih baik.

.

2nd Oneshots end