NARUTO MILIK MASASHI KISHIMOTO

CINTA ? MILIK DOROBBONG

Pair: Sasusaku/Saisaku/Sasuhina/Narusaku

Hidupnya tak lagi seperti dulu, saat ibunya masih bersamanya. Sakura tersenyum menatap foto sang bunda yang ada diatas meja kerjanya. "Kaa-san bagaimana kabarmu disana ? apa surga menyenangkan ?" itulah kata-kata yang selalu diucapkannya setiap menatap foto sang bunda sebelum memulai pekerjaannya sebagai dokter disalah satu rumah sakit terbesar di Konoha.

Sakura mengetuk-ngetukkan jarinya diatas meja kerjanya sambil membaca beberapa hasil laporan medis dari beberapa pasien yang ia tangani. Sakura mebolak-balik hasil laporan medis tersebut hingga ponselnya berdering tanda panggilan masuk "Ne, moshi-moshi ?" sapanya pada lawan bicaranya diseberang sana tanpa mengalihkan perhatiannya dari pekerjaannya.

Sakura membalik lembar berikutnya matanya bergulir mengamati goresan tinta-tinta tersebut "Aku dirumah sakit Obasan, Nande ?" Sakura mengangguk mendengar ucapan lawan bicaranya "Baiklah aku akan kesana," jeda sejenak "Ne, Mikoto-basan." Sakura mengakhiri pembicaraannya dengan senyum manis walau ia tahu lawan bicaranya tak akan mungkin melihat senyumannya itu. Diletakkannya ponsel berwarna putih trsebut diatas meja, diliriknya jam tangan yang melingkari pergelangan kecilnya lalu focus kembali pada pekerjaannya.

.

.

.

.

"Itachi-kun, bagaimana keadaan Hinata ?" wanita paruh baya itu terlihat khawatir akan keadaan gadis yang sedang terbaring lemah di kamarnya itu. "Kenapa Sasuke tak ada di saat Hinata seperti ini ?" tanyanya entah pada dirinya sendiri atau anak sulungnya yang tengah bersiap-siap ke kantor. "Sudahlah Kaasan, Hinata baik-baik saja, kau tak perlu khawatir," Itachi mendekat menghampiri sang Ibu, dielusnya bahu sang Ibu agar lebih tenang "Sasuke pasti sangat sibuk sekarang dengan perusahaannya. Lagipula, Sakura akan datang sebentar lagi, jadi ibu tak perlu khawatir,"

Mikoto mengangguk paham mendengarkan Itachi, wanita cantik itu sekarang sudah lebih tenang. "Kalau begitu aku berangkat dulu ya Kaasan." Itachi berpamitan dan mencium pipi sang ibu sebelum ia benar-benar pergi. "Hati-hati Itachi."

"Hn, jangan lupa sampaikan salamku pada Sakura-chan." Dan Itachi pun menghilang dari pandangan sang ibu.

Derap langkah kaki menuruni tangga, menginterupsi Mikoto. Dilihatnya keponakannya tengah berjalan menghampirinya dengan senyum palsunya–seperti biasa. "Kau sudah bangun Sai ?"

"Hn, Itachi-nii sudah pergi ?"

"Ne, baru saja. Kau sarapan dulu baru berangkat ya !" titah Mikoto lembut kepada keponakan yang sudah ia anggap sebagai anaknya sediri itu "ah, satu lagi panggil aku Okaasan, kau mengerti ?" Mikoto member tatapan bahwa itu adalah perintah yang tak dapat ditolak. Sai terkekeh "Ha'i Okaasan. Tapi aku sudah ada janji hari ini, jadi aku buru-buru. Aku berangkat." Sai pun berlalu menuju motor sportnya terparkir.

.

.

.

.

Sakura bangkit dari duduknya, dirapikannya meja kerja yang sediki berantakan itu. Setelah selesai Sakura mengambil tas vintage selempangnya dan keluar dari ruang kerjanya. Sakura berjalan menyusuri lorong rumah sakit, beberapa perawat menyapanya dan dibalasnya dengan anggukan dan senyuman. Tidak jarang Sakura yang memulai untuk menegur para perawat, pasien, ataupun keluarga pasien yang sedang berlalu lalang di lorong.

Ia berjalan menuju tempat parkir,berniat menghapiri mobilnya tapi baru berjalan dua langkah tangannya ditarik seseorang. Sakura terkejut dan refleks berbalik dan memukul pelaku yang seenaknya menarik lengannya. Namun aksi memukulnya terhenti saat melihat sang pelaku. "Kau janji menemaniku sarapan hari ini kan ?" Tanya pemuda tampan dihahadapannya ini. Sakura tersenyum "Ne, aku tak lupa hanya tak ingat saja." kekehnya setelah mengakhiri kalimatnya. Pemuda tersebut menjitak jidat lebar Sakura "Itu sama saja bodoh."

"Bodoh katamu ?" Sakura menggembungkan pipinya kesal dianggap bodoh oleh pemuda selaku sahabat sejak kecilnya itu "Setidaknya orang bdoh yang kau maksud itu sudah menjadi seorang dokter sekarang." Sakura membanggakan dirinya.

pemuda berkulit putih pucat itu melirik gadis disampingnya yang tengah menggembungkan pipinya. 'lucu' pikirnya dalam hati. "Uang memang hebat…" ucapnya menyindir Sakura dengan bercanda. "Yup, uang memang hebat sampai bisa menjadikan manusia cengeng sepertimu menjadi fotografer dunia yang handal." Ujar Sakura tak kalah sarkastik. Sai menatap Sakura, yang ditatap balik menatapnya "apa ?" ketusnya. Dan keduanya pun tertawa bersama sepanjang perjalanan menuju café diseberang jalan.

Dan tanpa sepengetahuan mereka ada sepasang mata yang tengah melihat keduanya "Akhirnya kau kutemukan Haruno Sakura" pria dengan rambut merah darah itu tersenyum. Pria tersebut menaikkan kaca jendela mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan tempat itu.

TBC

RnR, please :3