Naruto Belong to Masashi Kishimoto

Cinta ? Belong to Me

Genre: Family/romance/Drama

Pair: Sasusaku/Saisaku/Sasuhina/Naruhina

Itachi berjalan menuju salah satu ruangan didalam gedung besar tersebut. Entah sudah berapa lama adiknya–orang yang ingin ia temui itu tidak pulang ke rumah. Sesibuk apakah manusia penggila tomat itu ? benaknya, hingga tanpa sadar ia sudah berada di depan pintu ruang kerja sang adik. "Sasuke?" panggilnya setelah pintu tersebut dibuka tanpa seizin sang empunya tentunya–kebiasaan.

Itachi menatap pemuda yang lebih muda lima tahun darinya itu, ia berdecak "ternyata kau perlu istirahat juga workaholic?" dirapikannya jas sang adik yang menjadi pengganti selimut hangat. Merasa tak tega membangunkannya Itachi hanya menatap sang adik dalam diam "aku jadi ingat saat kau masih kecil," kekehnya .

Sebuah ketukan membuyarkan lamunan Itachi yang sebelumnya telah berkelana ke masa-masa dimana ia dan adik kesayangannya itu masih berebut mainan. Itachi membalikkan badannya "Masuk," suara baritone khas laki-lakinya mengalun dibawa angin sehingga orang yang berada dibalik pintu tersebut menggerakan knop pintu hingga pintu itu terbuka.

"Itachi-sama?" gadis bersurai merah itu terkejut melihat kakak dari atasannya ada di dalam ruangan. Itachi menempelkan telunjuk kanannya kearah bibir mengisyaratkan sekertaris adiknya itu untuk jangan terlalu berisik. Karin–gadis tersebut mengangguk mengerti saat dilihat Sasuke sedang tertidur pulas "Aku hanya mau mengantar ini," Karin melangkah hingga jaraknya lebih dekat dengan Itachi, diserahkannya map dengan lambang Uchiha Corp. kepada Itachi "itu data yang diminta Sasuke-sama beberapa hari yang lalu, data kecurangan yang dilakukan oleh salah satu perusahaan besar di Suna," Karin tak menjelaskan lebih lanjut lagi.

Itachi membaca dengan seksama berkas tersebut "Akasuna?" Itachi mendongak menatap Karin, gadis tersebut mengangguk mengiyakan. "Kalau begitu saya permisi dulu, Itachi-sama." Ucapnya dan menghilang dari balik pintu.

Itachi mendudukkan dirinya disofa yang terletak di ruangan tersebut. "Untuk apa Sasuke mencari tahu akan hal ini?" Itachi merasa bingung karena sepengetahuannya baik Uchiha Corp yang dipimpin ayahnya, dirinya maupun adiknya tak ada yang menjalin kerjasama dengan perusahaan besar yang bergerak di bidang teknologi tersebut. Lalu apa yang sebenarnya terjadi ?

.

.

.

.

"Bagaimana keadaan Hinata?" Sakura menyesap capuchino-nya sambil menatap pemuda dihadapannya. Pemuda tersebut–Uchiha Sai–mengedikkan bahunya tak peduli "kau tak tahu? Ayolah jangan bercanda Sai," diaduk-aduknya capuchino tersebut "kau kan tinggal disana," tambahnya. Sai masih saja tak bersuara ia lebih memilih untuk menikmati sarapan paginya itu ditemani alunan merdu lagu yang diputar oleh pemilik café daripada menjawab petanyaan tak penting–menurutnya–dari sahabat masa kecilnya.

Sakura kesal dengan sikap sahabatnya itu "Oi kalau aku sedang bicara, dengarkan aku baka!" umpat Sakura akhirnya. Sai menghentikan kegiatannya "Aku mendengarkanmu," disesapnya Americano yang tinggal setengah dan tersenyum, ah bukan senyum palsu seperti biasa tapi senyum tulusnya. Sai memang tak pernah bisa menampakkan senyum palsunya itu dihadapan gadis musim semi dihadapannya ini.

"kalau begitu jawab pertanyaanku Sai!"

"sudah kukatakan aku tidak tahu Sakura," Sai menghabiskan sarapan paginya "sebenarnya kau mau kemana ?" kali ini pemuda berambut klimis itu yang bertanya. Sakura menatap Sai, disesapnya lagi minumannya "ke kediaman Uchiha," dilirik jam tangannya "Ah! Aku harus berangkat sekarang," Sakura bangkit dari bangkunya hingga terdengar bunyi gesekan antara lantai dengan kursi "kau yang bayar ya Sai-kun." Senyumnya mengembang lalu berlari pelan keluar dari café langganannya itu.

Sai terus menatap punggung kecil sang gadis hingga mobil milik Sakura sudah tak terlihat lagi dipandangannya. "Dasar ceroboh." Sai menatap bangku disampingnya dengan maklum karena kecerobohan gadis itu meninggalkan tasnya sendiri.

.

.

.

.

"Ohayou Mikoto-basan!" sapa Sakura saat wanita paruh baya yang masih terlihat muda dan cantik itu menghampirinya di ruang tengah kediaman Uchiha. Mikoto tersenyum senang melihat Sakura yang telah datang "Ohayou Sakura-chan, bagaimana pekerjaanmu? Tak apakan aku memintamu kesini?"

Sakura menggeleng pelan "Tak apa Obasan,"

"Kalau begitu kita ke kamar Hinata, aku benar-benar khawatir padanya," Mikoto beranjak mengajak Sakura menuju kamar Hinata yang terletak di lantai dua. Dibukanya pintu kamar tersebut dan masuk kedalam, sedangkan Sakura mengekori dari belakang. "dari semalam tubuhnya sangat panas, padahal besok adalah hari pertunangannya dengan Sasuke," Mikoto berucap. Sakura terdiam mendengar ucapan Mikoto "aku akan memeriksanya," Sakura tersenyum kaku kearah Mikoto lalu mendekati Hinata dan memeriksanya.

"Taka pa Obasan Hinata hanya demam tinggi, aku telah menyuntikkannya obat penghilang panas. Dan jika Hinata bangun tolong berikan Obat ini," Sakura meletakkan beberapa botol obat diatas nakas "dan juga jangan lupa untuk selalu meminum obat yang kuberikan minggu lalu, itu akan membantunya." Sakura tersenyum palsu saat mata emerald indahnya menangkap foto Hinata bersama seorang pemuda. Hatinya terasa sakit dan sesak.

"Saku, kau jangan lupa datang besok malam," Mikoto mengingatkan Sakura. Sakura terdiam hingga akhirnya seulas senyum tipis ia berikan pada Mikoto "Ne, pasti. Aku pasti datang," sakura menghela nafasnya "kalau begitu aku pamit Basan," Sakura berbalik "titip salam untuk semua." Mikoto hanya mengangguk dan kembali masuk kedalam kamar Hinata.

"Senyumanmu menjijikan," Sakura tersentak, langkahnya menuruni anak tangga terhenti dan refleks tubuhnya berbalik "Sai?"

"kau harus berguru padaku untuk memberikan senyum palsu kepada orang lain," Sai melangkah mendekati Sakura. Tangannya terangkat dan mengacak rambut gulali Sakura "tenang saja aku tak memungut biaya, bagaimana?" Sai tersenyum.

Sakura merapikan rambutnya yang berantakan "aku tak tertarik," ucapnya lalu menuruni anak tangga dengan langkah kesal.

"Hey! Sakura!" Sai berjalan mengikuti ada jawaban yang keluar. "Sakura!" kesal, Sai akhirnya menarik pergelangan Sakura agar berbalik kearahnya. Sai terdiam. Sakura benar-benar terlihat menyedihkan dimatanya sekarang. Emerald yang selalu memancarkan keindahannya, sekarang terlihat sangat sedih. Liquid bening itu sudah menganak sungai di pipinya, tak ada isakan yang keluar dari bbir mungilnya hanya liquid bening yang terus mengalir. Sedetik kemudian Sai telah membawa Sakura kedalam dekapannya, mencoba menenangkannya. "menangislah," jeda sejenak "Cherry!"

Dan disaat itulah dua pasang mata Onyx itu bertemu. Sai menyeringai menatap pemuda yang sekarang berada didepannya.

Pemuda tersebut menatap keduanya dengan tatapan mematikan terutama pada Sai yang tengah merengkuh gadisnya. Tangannya terkepal melihat pemandangan tersebut. Terutama saat Sai semakin mengeratkan pelukannya dengan seringai dan berkata tanpa suara "Dia akan menjadi milikku" hanya pergerakkan bibirnya. Namun Sasuke mengerti ucapannya. Sai telah mengibarkan bendera perang padanya.

TBC

Author's Note:

saya tahu chap kemarin kependekan, trus chap skrang kurang memuaskan jadi mohon maaf buat readers.

satu lagi, kemarin ada kesalahan, seharusnya di pair itu Naruhina bukan Narusaku.

oke sekarang saya balas review

AkasunaAnggi: Terimakasih sudah mau me-review fic abal dan perdana saya :3 pair utamanya Sasusaku, tapi say gak janji akhirnya seperti itu, karena mood saya suka berubah-ubah hehehe. review lagi boleh :3

Ichikawa soma: ceritanya menarik ? kamu suka ? ah terimakasih saya juga senang kamu mau review :3 satu lagi terimakasih kritikannya itu membantu sekali. kalau boleh review lagi ya, kritikan juga gak apa-apa :3

terus buat silent reader terimakasih sudah mau baca walau tanpa menghilangkan jejak. yang nge-fav dan follow juga trims :3

RnR, please ?