Spiral

Chapter 1

Summary : Uchiha Itachi lupa kalau dia disuruh memperkenalkan pacarnya oleh ibunya. Takut kena marah, Itachi menyeret perempuan pirang di pinggir jalan. "Sasori, aku pinjam sepupumu Deidara dulu ya. Mau kujadikan pacar." Kata Itachi singkat, padat dan jelas. "AKU TIDAK SUDI!" Warning : FemDeidara

Seorang laki-laki muda tampan berusia 21 tahun memejamkan matanya. Di sampingnya, sebuah ponsel bergetar, menandakan ada sms masuk. Itachi tidak mengubris kotak kecil itu. Pikirannya melayang membayangkan apa yang akan dilakukan oleh sang ibu. Sudah lama sekali ia tidak pulang. Ya sejak masuk ke Konoha University yang jaraknya 150 km dari rumahnya, entah mengapa ia betah di asramanya dan memutuskan untuk pulang setelah kuliah. Alhasil, sang ibu terus ngomel-ngomel tiap kali ia telepon. Dibilang nggak cinta keluarga lah, nggak kangen sama adiknya yang lucu lah, ada saja.

"Tuan Muda, hp Anda sudah bergetar 10 kali loh." Sang supir, Kojou, bertanya. Mata hitamnya sedari tadi memperhatikan wajah tuan mudanya. Kojou bisa dibilang takjub dengan perubahan tuan mudanya. Walau tidak bertemu hanya selama 4 tahun, dia bisa bilang kalau Itachi berubah drastis. Dulu sewaktu masih di rumah, Itachi itu sangat ramah, murah senyum, sopan dan mungking memiliki wajah paling santai yang pernah Kojou tahu. Sekarang, Itachi terlihat lebih dewasa dan sangat serius.

"Biarkan saja. Paling juga Kisame atau Kakuzu."

"Kisame-kun yang mirip hiu itu kan?" Kojou bertanya, mencoba mengingat-ingat wajah teman Itachi sejak kecil itu. Itachi tertawa kecil. Setiap kali ia menyebut nama Kisame, pasti orang langsung menyebut hiu.

"Iya yang mirip hiu. Trus Kakuzu itu yang mata duitan ."

"Memang kenapa dengan Kisame-kun atau Kakuzu–kun? Kok sms terus"

"Oh, aku hutang 1000 Yen sama Kakuzu dan 1500 Yen sama Kisame. Aku sudah bilang akan bayar kalau aku pulang. Kisame kayaknya ketularan penyakit ngiritnya Kakuzu deh. Nagih terus kayak rentenir." Itachi geleng-geleng kepala sementara sang supir hanya tertawa. Kojou senang akhirnya dia berhasil membuat Itachi berbicara. Bisa dilihat Itachi sudah lebih rileks sekarang. Berbicara tentang teman-temannya memang selalu membuat Itachi lebih rileks.

"Hmm, Itachi-sama, ponselnya bunyi tuh." Itachi mengambil ponselnya dan seketika memencet tombol jawab.

"UCHIHA ITACHI!" Suara perempuan terdengar seperti bunyi petir. Itachi segera menjauhkan ponselnya dari telinganya, takut tuli. Kojou berusaha tidak tertawa ketika mendengar teriakan khas sang Nyonya Besar.

"Kemana saja kau ini, huh? Di sms berkali-kali nggak di balas!" Itachi menaikkan satu alisnya. Oh jadi yang dari tadi sms itu ibunya toh. Waduh...

"Nggap punya pulsa, Bunda" Itachi menjawab. Mata hitamnya melirik Kojou yang senyum-senyum sendiri.

"Nggak punysa pulsa gimana? Kamu itu kan setiap bulan Bunda kirim uang banyak. Trus kata Sasuke, kamu juga kerja sambilan di sana. Kok bisa nggak punya uang untuk beli pulsa?" Itachi memijit-mijit keningnya. Kalau sang Bunda Mikoto sudah ngomel-ngomel begitu nggak akan ada yang bisa memotong.

"Oh ya, kamu nggak lupa kan permintaan ibu kemarin?"

"Permintaan?"

"Iya, ibu kan suruh kamu bawa pacar kamu."

"Mati aku" Itachi membatin. Dia benar-benar lupa...! Waduh, jangan sampai deh Ibunya tahu dia lupa, apalagi kalau ibunya tahu-

"Kamu lupa ya Itachi? Kok bisa lupa sih? Kamu itu kan genius! Seorang genius seperti kamu seharusnya nggak lupa. Atau jangan-jangan kamu nggak punya pacar ya? Waduh kamu ini gimana toh? Punya otak encer, wajah ganteng kok nggak punya pacar? Kalah kamu sama adikmu. Sasuke kemarin pulang bawa pacarnya. Kakak kelas loh, hebat kan? Kamu jangan sampai kalah. Seorang Uchiha itu selalu laku, jangan sampai nggak laku!" Kepala Itachi mulai cenat-cenut.

"Aku punya pacar kok." Itachi berbohong.

"Beneran?"

"Iya."

"Yang bener, Itachi?"

"Bener, Bunda."

"Sumpeh lo?"

"Bunda, iya Itachi punya pacar kok. Ini di samping Itachi." Itachi membalas kesal.

"Bagus deh. Bunda nggak sabar mau ketemu. Ya udah ya, Bunda siapin semuanya dulu buat nyambut pacarmu."

-Klik-

Itachi mematikan teleponnya. Dilihatnya sang supir memperhatikannya dengan khawatir.

"Itachi-sama, kalau Nyonya Mikoto tahu Anda tidak bawa siapa-siapa bagaimana?" Kojou bertanya. Khawatir sang genius bakal dihukum oleh Nyonya Besar. Hukumannya paling dikuliahi berjam-jam, tapi lebih baik dihukum apapun deh daripada mendengarkan kuliah dari Nyonya Besar.

"Biarkan aku berpikir sebentar, Kojou-san" Itachi mengerutkan dahi. Mata hitamnya memandang ke luar jendela. Wajahnya semakin lama terlihat semakin serius. Tiba-tiba sharingan muncul dari kedua matanya.

"Paman, berhenti sebentar."

"Eh?"

"Itu, di samping cewek pirang yang pakai baju merah." Kojou melirik ke kiri jalan. Kojou seketika menginjak rem. Sang tuan muda dengan cepat membuka pintu dan menarik perempuan itu ke dalam mobil. Otomatis sang perempuan berteriak. Siapa coba yang enggak?

"Hush, diam...!" Itachi menutup mulut sang perempuan dan segera menutup pintu.

"Jalan, Kojou-san!" sang supir dengan cepat menginjak gas. Sementara itu sang cewek meronta minta dilepaskan. Kojou memandang pasangan muda di belakang dengan cemas. Bagaimana nanti kalau dia dan Itachi dikira penculik?

"Ow..! Sakit tahu!"

"Biarin, lagian siapa kamu? Tiba-tiba dan dengan seenaknya narik orang ke dalam mobil. Kamu mau menculik ku, huh? Dasar tidak sopan! Dasar mesum! Dasar orang gila!" Perempuan pirang itu memukul Itachi dengan tas merahnya sekuat tenaga.

"Stop!"

"Nggak!"

Itachi merebut tas merah itu dengan paksa sebelum meraih kedua tangan sang perempuan.

"Bisa diam tidak. Biar aku jelasin!" Itachi menggertak. Dia sudah kehabisan kesabaran.

"Siapa kamu?" tanya sang cewek kasar.

"Uchiha Itachi. Kamu Uzumaki Deidara kan? Sepupunya Sasori."

"Iya, kenapa?" Deidara memandang pria yang kelihatannya lebih tua itu dengan death glare-nya. Itachi terdiam dan memandang Deidara dengan ekspresi tenang. Deidara menaikkan alisnya, kebingungan dengan sikap sang "penculik".

"Hn" Itachi melepas kedua tangan Deidara sebelum mengambil ponselnya yang terjatuh di bawah jok mobil. Dia memencet beberapa tombo.

"Halo?" terdengar suara mengantuk dari seberang.

"Halo, Sasori?"

"Iya, ada apa Itachi?"

"Aku pinjam sepupumu Deidara dulu ya. Mau kujadikan pacar." Kata Itachi singkat, padat dan jelas.

"Eh?"

-Klik-

"APA MAKSUDMU AKU MAU DIJADIKAN PACAR? AKU NGGAK SUDI!" Deidara berteriak marah. Dia berusaha membuka pintu mobil dengan paksa. Itachi mendengus kesal dan berusaha menenangkan perempuan pirang itu.

"Aku bayar deh..." Katanya tenang.

"Aku bukan cewek murahan yang bisa dibayar dengan uang. Nggak sudi! Lagian siapa kamu?" Deidara cemberut ketika tidak berhasil membuka pintu. Sepertinya mobil itu bukan mobil biasa yang pintunya bisa seenaknya dibuka.

"Aku temannya Sasori, Uchiha Itachi."

"Mau temennya Sasori-danna, kek. Mau pacarnya, Sasori-danna, kek. Aku nggak peduli. Turunin aku sekarang!" Mata biru Deidara mengkilat marah.

"Aku ini Uchiha Itachi lho... "

"Terus?"

"Idola cewek"

"Narsis banget sih kamu. Muka kayak gitu idola cewek? Ditambah lagi dengan kelakuanmu yang seenaknya nyambar cewek pinggir jalan dan dijadikan pacar. Sama sekali nggak pantas untuk menjadi idola." Deidara menunjuk-nunjuk dada Itachi dengan telunjuknya.

"Aku kan nggak asal nyambar cewek. Aku nyambar kamu." Itachi berkata tanpa ada rasa bersalah.

"Maksud mu?"

"Ya, aku ini seorang Uchiha. Walau cari pacar bohongan, aku nggak boleh asal milih. Aku denger kamu dari Sasori dan sudah pernah lihat foto kamu. Kamu itu cantik dan merupakan salah satu siswi unggulan di Iwa University kan? Berbobot luar dalam. Jadi aku pilih kamu." Deidara merasa pipinya merah ketika mendengar ucapan Itachi.

'Wow, apa Sasori-danna benar-benar berbicara seperti itu tentang ku? (_) Kyaa... Mungkin Itachi itu nggak terlalu buruk'

"Lagian aku kenal Sasori, jadi kalau ada apa-apa sama kamu, aku tanggung jawabnya gampang"

Mungkin tidak...

"APA MAKSUDMU? JANGAN-JANGAN KAMU PUNYA MAKSUD YANG TIDAK-TIDAK YA?" Deidara berteriak marah.

"Bukan, OW, LEPASIN RAMBUTKU!" Itachi meronta kesakitan ketika tangan kecil Deidara menyambar rambut hitam panjangnya.

"NGGAK!"

"LEPASIN ATAU KUCIUM KAMU!"

"HEH, COBA SAJA!" Deidara menarik rambut Itachi lebih kuat. Itachi meraih tangan kecil itu dan dengan sigap menarik Deidara ke pelukannya. Digenggamnya kedua tangan kecil itu dengan tagan kirinya, sementara tangan kanannya melingkari pinggul ramping Deidara. Deidara menahan napas ketika punggungnya menentuh dada bidang Itachi.

"Diam." Itachi berkata penuh ancaman. Deidara menelan ludahnya. Diliriknya laki-laki yang kini memangkunya dan dia tidak bisa menahan ngeri ketika mata Itachi berubah merah mengerikan. Seketika dia terdiam.

"Nah, begitu kan bagus. Cewek itu nggak boleh kasar-kasar." Kata Itachi sembari mencium pipi mulus Deidara. Sontak Deidara menyikut perutnya. Ketakutannya hilang seketika.

"Dasar Mesum!" Itachi hanya tertawa kecil membuat pipi Deidara memerah karena malu dan marah.

Sementara itu sang supir Kojou yang sejak tadi memperhatikan tingkah kedua insan muda itu hanya tersenyum penuh arti.

'Sepertinya sesuatu yang baik akan tejadi kepada Itachi-sama' pikirnya.

TBC