Spiral

Warning : Typo

Chapter 18

Semua mata terpana kepada putri tunggal keluarga Inuzuka yang berdiri di tengah-tengah para tamu. Wajah cantik yang terbalut make up tipis itu kini terlihat basah dengan air mata yang jatuh dari kedua matanya. Banyak pertanyaan terlintas di pikiran para tamu, pertanyaan yang terlihat jelas dari ekpresi mereka. Apa yang sebenarnya terjadi?

Mata coklat Hana menatap Deidara yang bediri di pintu dengan pandangan benci. Dirinya benci karena telah kalah oleh seseorang yang tidak jelas seperti Deidara. Perempuan yang tiba-tiba datang ke dalam kehidupan Itachi dan merenggut cinta laki-laki itu untuk dirinya. Seorang perempuan yang membuat Itachi melanggar janjinya sendiri. Wajahnya menekuk ketika pandangannya kini tertuju kepada Itachi yang terlihat syok dan mematung sambil menggenggam cincin emas putih di tangannya.

"Hana..." Itachi memanggil namanya pelan. Hana menarik napas dalam dan menyeka air matanya.

"Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak mencintaiku." Hana berkata tegas. Matanya menatap Itachi dalam.

"Aku tidak sudi menikah dengan orang yang hanya melakukannya karena permintaan, bukan, paksaan orang tuanya. Aku ingin menikah dengan orang yang benar-benar mencintaiku." Hana berkata dengan nada tegas.

Itachi merasa rasa bersalah menjalar di dalam hatinya ketika matanya bertemu dengan mata Hana. Gadis periang yang selalu terlihat kuat itu kini bagaikan sebuah kaca tipis yang apabila tidak hati-hati memegangnya maka akan pecah tidak berarti. Mata Itachi melebar ketika Hana merebut cincin pertunangan dari tangannya dan melemparkannya ke lantai sekuat tenaga.

"Itachi, kau... berbahagialah dengan orang yang benar-benar kau cintai." Hana berkata sebelum melangkah meninggalkan Itachi yang berdiri diam di tengah ruangan. Langkah kakinya cepat. Terlihat jelas bahwa gadis berambut coklat itu ingin segera keluar dari ruangan besar itu.

"Buat dia bahagia, Dei..." Deidara menoleh ke arah Hana yang mengucapkan kata-kata itu seraya melewatinya. Mata biru Deidara menatap perempuan yang dia tahu tidak mau mengalah itu dengan sedikit kagum. Wajah Deidara kini teralih ke arah Keluarga Inuzuka yang berjalan mendekati keluarga Uchiha. Namun, percakapan yang untungnya dilandasi dengan kemakluman dari keluarga Inuzuka itu tidak begitu tertangkap oleh telinga Deidara. Penyebabnya? Tentu saja Itachi yang kini melangkah menghampirinya. Deidara merasa Sasuke mendorongnya dari belakang, membuatnya hampir terjerembab ke depan. Mata biru Deidara kini menatap Itachi yang berdiri di hadapannya, menatapnya dengan pandangan yang lembut dan tidak percaya.

"Ita-" kata Deidara terpotong ketika pewaris Uchiha itu memeluknya erat, terlalu erat sehingga Deidara kesulitan bernapas. Gadis berambut pirang itu merasakan sesuatu membasahi pundaknya, di mana Itachi memenamkan wajahnya. Itachi menangis.

Wajah Deidara melembut dan seulas senyum muncul di wajahnya. Kedua tangan pucatnya melingkari tubuh Itachi, membalas pelukan erat laki-laki itu. Matanya terpejam menikmati hangatnya pelukan orang yang dicintainya itu. Sebuah tawa pelan keluar dari mulut Deidara ketika Itachi mengecup lehernya pelan. Sepertinya mereka tenggelam di dunia mereka sendiri.

"Ahem." Sebuah suara membuat keduanya hampir meloncat kaget. Itachi dan Deidara melepaskan pelukan mereka. Uchiha Fugaku berdiri di depan mereka dengan wajah tanpa ekspres namun tatapan matanya memberikan sebuah sinyal tidak suka dengan apa yang ada di hadapannya.

Itachi berdiri di depan Deidara, menjadikan dirinya sebuah perisai bagi gadis berambut blonde itu dari sang ayah. Tatapan matanya seakan memperingatkan semua orang, tidak hanya ayahnya, untuk tidak macam-macam karena dia tidak akan segan-segan melakukan sesuatu.

"Itachi..." suara lembut Mikoto mengalihkan pandangan Itachi dari sang ayah. Mikoto berjalan menuju putra sulungnya dan meletakkan tangannya di pipi Itachi. Mikoto menatap putranya lembut beberapa detik sebelum melirik Deidara yang berada di belakang putranya. Perempuan setengah baya itu bisa melihat ketakutan di mata Deidara.

Mikoto berdiri di sebelah putranya. Tangannya berada di pundak Itachi dan matanya menatap Fugaku dengan tajam namu wajahnya menunjukkan ekspresi tegas.

"Ayah, bagaimana kalau kita ubah pertunangan ini menjadi pertunangan Itachi dan Deidara?" tanya Mikoto lembut. Fugaku mengerutkan dahinya.

Mengubah pertunangan ini bukanlah hal yang mudah. Dari undangan dan berita dari mulut ke mulut semua orang sudah tahu bahwa ini adalah pertunangan Itachi dan Hana. Apalagi dengan tamu yang sebagian besar dari keluarga Uchiha dan Inuzuka. Mau ditaruh di mana muka Fugaku? Dulu dia pernah membatalkan pertunangan Itachi dan Deidara di depan beberapa tamu di sini, apa dia sekarang harus menyatukan mereka dengan mudahnya?

"Tidak." Jawab Fugaku tegas. Mata hitamnya menyipit, menatap keluarganya yang kini berada di depannya.

"Kenapa tidak? Kalau para tamu tidak keberatan tidak masalah kan?" Tanya Sasuke kesal dari belakang Deidara. Celetuk Sasuke itu membuat Itachi menyapukan matanya ke arah para tamu yang datang. Terlihat bahwa ekspresi shock mereka telah terganti dengan wajah maklum seperti halnya keluarga Hana yang telah melangkah keluar menyusul anak perempuan mereka.

"Dari pada pesta ini sia-sia." Tambah Sasuke dengan nada sedikit tinggi yang cukup membuat para tamu mendengarnya. Fugaku menarik napas dalam dan menutup kedua matanya. Tampak garis-garis lelah di wajahnya, membuatnya terlihat terlalu tua untuk ukuran laki-laki 49 tahun.

"Sudahlah Fugaku. Tidak apa-apa. Kami tidak keberatan kok." Kata seorang wanita gemuk yang merupakan pemimpin klan Inuzuka. Wanita itu berjalan menuju keluarga Uchiha.

"Menyatukan dua sejoli yang mencintai satu sama lain merupakan perbuatan yang mulia bukan? Jujur saja kami dari keluarga Uchiha kecewa dengan hal ini dan aku yakin sebaik apapun Tsume dan keluarganya berpura-pura untuk tidak kecewa, merek sebenarnya sama saja. Namun, kecewa bukan berarti menentang semua yang terjadi. Kami memang klan yang keras, namun kami bukanlah klan yang tidak punya hati. Tunangkanlah saja mereka, tidak apa-apa. Hubungan klan Inuzuka dan klan Uchiha tidak akan tergoyahkan hanya karena ini. Hana juga sudah menerimanya bukan? Karena itu jangan kau kecewakan permintaannya. Jangan pisahkan dua orang yang saling mencintai hanya karena keegoisanmu." Wanita tua itu berkata sambil tersenyum ke arah Fugaku. Fugaku menarik napas dalam dan menatap putra sulungnya itu.

"Baiklah."

Hana duduk di dalam kamarnya. Tubuhnya sudah berganti dengan gaun tidur sederhana. Matanya menatap foto dirinya dan Itachi. Sudah hampir dua jam sejak dia meninggalkan kediaman Uchiha bersama keluarganya. Dia amsih bisa mendengar ocehan Kiba yang marah karena kakaknya dibuat menangis oleh Itachi. Acara pertunangan itu pastilah sudah hampir berakhir. Dadanya sakit ketika otaknya membayangkan Itachi dan Deidara berdiri di tengah-tengah ruangan, saling menatap bahagia karena akhirnya bersama.

"Hana..." panggilan lirih ibunya itu membuyarkan lamunannya. Hana segera meletakkan foto dirinya dan Itachi dan memasang senyum palsu untuk ibunya.

"Kau tidak apa-apa?" Tsume bertanya. Wanita yang terkenal galak itu kini berubah menjadi pribadi halus di hadapan putrinya.

"Aku tidak apa-apa."

"Apakau sudah yakin dengan keputusanmu?"

"Tentu saja." Hana tertawa hambar, "Aku mencintai Itachi, karena itulah aku melakukan ini. Demi kebahagiaan Itachi."

Tsume membelai rambut panjang putrinya. Wajahnya menatap wajah sendu putrinya dengan iba.

"Hana..."

"Ya?"

"Nak Kimimaro ada di sini." Kalimat ibunya itu membuat Hana kaget. Kimimaro masih mau menemuinya?

Deidara menatap keluarga Itachi dengan gugup. Pesta telah berakhir satu jam yang lalu dan sekarang dia duduk di ruang makan keluarga Uchiha setelah membantu membersihkan ruangan, hal yang sebenarnya dia lakukan sebentar saja karena Itachi menyeretnya dan berkata bahwa mereka telah menyewa orang untuk hal seperti itu.

Mata Deidara menatap Sasuke yang baru saja mengantarkan Neji pulang dan sekarang sedang menyantap makanan sisa pesta di atas meja. Sepertinya ini anak ketularan sifat rakusnya Naruto. Masih fresh di kepala Deidara ketika Naruto dan Sasuke lomba makan di tengah-tengah pesta tadi dan harus dijewer oleh Kakashi yang sadar bahwa mereka membuat beberapa tamu jijik. Sedangkan kekasih Sasuke, Neji, malah tertawa melihat tingkah pacar dan gebetan sepupunya itu.

Sasuke menghentikan aktivitas makannya ketika Mikoto, Fugaku dan Itachi memasuki ruang makan. Itachi langsung menempatkan diri di sebelah Deidara sedangkan Mikoto dan Fugaku duduk di hadapan mereka. Deidara merasa jantungnya berdebar lebih keras.

"Deidara-san, meskipun kalian telah bertunangan bukan berarti aku merestui hubungan kalian 100%." Kata Fugaku dengan serius.

"Kekecewaanku terhadap apa yang kalian lakukan dulu masih ada dan aku berharap hal itu tidak akan terjadi lagi. Kau harus membuktikan padaku bahwa kau adalah gadis terbaik untuk Itachi. Kau harus membuktikan padaku bahwa kau bisa membuat Itachi bahagia sekaligus menjadi anggota baru keluarga Uchiha yang baik."

"Ayah tidak perlu memberikan syarat-syarat seperti itu. Deidara adalah gadis yang aku cintai dan yang terbaik untukku." Kata Itachi sedikit kesal.

"Ayah tahu. Namun untuk menjadi seorang menantu, bukan hanya kau yang harus Deidara buat jatuh cinta. Deidara harus dapat membuat seluruh keuarga Uchiha jatuh cinta kepadanya. Anggota klan Uchiha, terutama para tetua, akan selalu mengamatinya untuk menemukan kelemahan atau kekuatannya. Karena kejadian beberapa waktu lalu, kabar miring telah banyak beredar dan Ayah tidak ingin hal itu terus berlanjut. Deidara harus membuktikan apa yang dikatakan orang lain salah. Deidara harus membuktikan bahwa dia adalah orang yang tepat untuk menjadi bagian dari keluarga Uchiha." Fugaku berhenti sejenak. Mata hitamnya bergantian menatap Deidara, Itachi dan Sasuke yang menyimak di hadapannya.

"Ketika seorang gadis bertunangan dan menikah dengan seorang pria, statusnya bukan lagi seorang anak dari keluarganya. Namun juga akan berubah menjadi seorang istri dari suaminya, anak dari orang tua suaminya, kakak bagi adik suaminya, bibi dari keponakan-keponakan suaminya, sepupu perempuan bagi sepupu-sepupu suaminya, cucu bagi kakek dan nenek suaminya dan nantinya ibu dari anak-anaknya. Dia akan menjadi bagian dari semua silsilah keluarga dan hal itu tidak akan bisa diterima dengan baik kalo perempuan itu hanya berdiri di depan suaminya. Dia harus mau membuktikan kepada semua anggota keluar bahwa dia bisa mengemban banyaknya tugas dari posisi-posisi yang akan dia terima nanti. Karena perempuan adaah objek observasi semua kalangan. Baik buruknya sebuah keluarga dilihat dari bagaimana perempuan dari sebuah keluarga itu bersikap. Ayah tidak menuntut Deidara untuk berubah menjadi seperti Neji, Ayah hanya ingin dia membuktikan dan menunjukkan siapa dirinya." Ceramah Fugaku.

"Wow..." celetuk Sasuke kagum. Kontan celetukkan pura bungsu itu membuat tawa Mikoto dan Itachi meledak. Sementara Deidara menatap Fugaku dengan suatu kekaguman. Sepertinya Fugaku telah memperlihatkan sisi lembutnya, bukan lagi sisi kerasnya. Deidara merasa bersyukur karena dengan semua ceramah Fugaku bertujuan untuk kebaikan dirinya. Meskipun Fugaku tidak mau mengakuinya sebagai menantu sekarang, tapi terlihat bahwa Fugaku menyukainya. Yah, Fugaku sebenarnya memang sudah menyukainya sejak bertemu kan?

"Fugaku-san, Anda tidak usah khawatir. Saya akan melakukan apa yang Anda inginkan. Saya berjanji." Kata Deidara tegas. Mata birunya menatap mata hitam Fugaku.

"Jangan kecewakan aku untuk kedua kalinya, Deidara-san." Deidara mengangguk mantap. Itachi menggenggam tangan Deidara dan kedua sejoli itu tersenyum bahagia.

"Kamu mau kemana Sasuke?" Pertanyaan Fugaku membuat Itachi dan Deidara menoleh ke arah Sasuke yang kini telah berdiri dari kursinya dan sibuk dengan ponselnya.

"Mau ngirim ceramah Oto-san ke Neji biar dia siap-siap. Untung aku rekam." Jawab Sasuke asal. Kontan jawaban nyleneh Sasuke itu membuat keluarganya kaget.

"APA MAKSUDMU SIAP-SIAP, HUH BOCAH? KALIAN KAN MASIH SMA?" Fugaku berdiri dari tempat duduknya dan berkacak pinggang, namun Sasuke tetap berjalan tanpa menghiraukan Ayahnya.

"DENGAR SASUKE, KALAU AKU MENERIMA LAPORAN BURUK DARI KELUARGA HYUUGA KAU AKAN KUNIKAHKAN DENGAN PUTRI KELUARGA YAMANAKA!" Ancam Fugaku.

"NGGAK SUDI!" Jawaban kurang ngajar Sasuke membahana membuat Mikoto, Itachi dan Deidara tertawa mendengarnya.

-Kamar Itachi-

"Aku tidak apa-apa ke kamarmu malam-malam begini?" Tanya Deidara takut. Jam sudah menunjukkan tengah malan dan rumah itu sudah sunyi senyap. Deidara takut kalo Fugaku tahu dia di kamar Itachi tengah malam begini akan menimbulkan prasangka tidak baik atau fitnah.

"Tidak apa-apa, toh kamarmu kan di sebelah." Jawab Itachi. Pemuda itu kini sedang memakai kaus hitam kesukaannya. Rambut hitam panjangnya digerai karena basah.

"Kamu punya nggak sih pakaian selain hitam?" Tanya Deidara yang sibuk membaca tulisan di kaos Itachi. Gadis pirang itu memutar bola matanya ketika menemukan tulisan "Uchiha is the Best"

"Ada sih, biru tua, coklat tua-"

"Maksudku yang warna cerah. Hijau, biru langit, pink mungkin?"

"Aku benci pink." Jawab Itachi seraya duduk di sebelah Deidara. Deidara memiringkan kepalanya dan menatap wajah Itachi dengan rambut terurai. Ini pertama kalinya dia melihat Itachi tanpa kuncir di kepalanya dan Deidara tidak bisa menyangkal kalo pemuda itu mirip perempuan.

"Kenapa? Terpesona?" tanya Itachi bergurau. Deidara memutar bola matanya kembali dan merebahkan tubuhnya ke atas kasur empuk miliknya. Itachi tersenyum dan ikut terlentang di sebelah Deidara.

"Besok kalau aku jadi istrimu, aku renovasi ini kamar. Nggak ada seninya."

"Ok."

"Aku juga akan membuang semua bajumu dan membelikanmu baju yang baru."

"Ok."

"Aku juga akan memasang lukisan-lukisan ku di dinding mu yang bersih tanpa ada apapun."

"Ok."

"Aku juga akan kencan dengan Kimimaro-san."

"Ok-HAH?" Deidara tertawa ketika Itachi langsung menaikkan sebagian tubuhnya dan menatap kesal tunangannya.

"Bercanda."

"Jangan bercanda dengan hal-hal seperti itu. Aku tidak suka." Jawab Itachi ketus. Yah, sampai kapanpun dia tidak akan membiarkan laki-laki albino itu mendekati Deidara. Deidara adalah miliknya.

"Itachi..."

"Hmm?"

"I love you." Kata Deidara seraya membelai wajah tampan Itachi. Itachi tersenyum dan merunduk.

"And I you." Katanya sebelum mencium lembut bibir merah muda Deidara. Sayang kebahagiaan pasangan tersebut harus diganggu dengan bunyi ponsel Itachi. Itachi mengambil ponselnya, melihat siapa yang menelpon malam-malam begini.

"Shit!" Kata Itachi.

"Siapa?"

"Sasori." Jawaban Itachi cukup membuat merinding Deidara. Mereka lupa bahwa mereka masih harus berhadapan dengan The Red Devil.

"Kami-sama, tolong segel itu setan demi kebahagiaan hambamu yang teraniaya ini..." Kata Itachi lirih yang disambut dengan tawa oleh Deidara.

"Tenang saja. Sasori-danna itu seperti Fugaku-san kok. Dia kelihatannya keras tapi juga punya sisi lembut."

"Masalahnya Dei, sisi lembutnya itu hanya untukmu, bukan untukku." Deidara meletakkan kedua telapak tangannya di kedua sisi kepala Itachi. Matanya menatap Itachi lembut dan sebuah senyum menghiasi wajah cantiknya.

"Tidak apa. Aku akan bersamamu."

The End

AN : Maaf kalo endingnya buruk –bow bow bow- saya merasa bersalah karena fic ini hanya tinggal satu chapter dan saya PHP. Terima kasih untuk yang sudah meluangkan waktu membaca dan mengikuti fic ini sampai selesai. Saya ucapkan terima kasih –bow bow bow-