BETTER THAN FOR...

PARK JUNGSOO

LEE DONGHAE

AND

OTHER CAST

=====0000=====

Sepasang kaki mengayuh sepeda di pagi hari yang dingin tak menyurutkan semangat nya untuk mengantarkan koran seperti hari-hari sebelumnya. Tapi tak seperti hari-hari kemarin yang dilalui nya dengan sendiri namun sekarang ini jok belakang sepedanya terisi penumpang juga. Mereka mengelilingi kompleks tanpa beban karena itu lah yang harus mereka kerjakan untuk menyambung hidup. Dinginnya pagi tak menyurut kan semangat sang pengayuh sepeda untuk terus mengayuh sepedanya dari rumah kerumah.

"Hyung?", suara seorang yang ada dibelakang jok tersebut sambil bersender kepunggung sang namja didepannya.

"Ne Hae-ya", sahut sang namja yang dipanggil dengan Hyung tersebut.

"Kenapa belum selesai juga?", sambil merekatkan tangannya dipinggang sang Hyung.

"Satu blok lagi dan kita akan pulang dongsaeng yang cerewet".

"Aku tak cerewet Teuki Hyung", gerutu nya dan sang Hyung hanya tersenyum mendengar suara sang Dongsaeng.

Begitulah keseharian antara sang Hyung Lee Jungsoo atau biasa dipanggil Leeteuk dan sang Dongsaeng tercintanya Lee Donghae. Mereka berdua hidup sebatang kara tanpa kedua orang tua yang mengharuskan mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan keduanya. Apalagi Leeteuk tak membiarkan sang dongsaeng untuk bekerja karena fisik nya yang lemah. Leeteuk harus bekerja untuk membiayai kebutuhan sehari-hari mereka dan biaya sekolah Donghae dan dirinya sendiri.

Bekerja pagi hari sebagai pengantar koran dan susu serta malam sebagai pelayan kafe karena dia juga harus kuliah. Leeteuk tak memikirkan bagaimana lelahnya dia karena harus kuliah sambil bekerja untuk membutuhi kebutuhan dia dan dongsaengnya yang terpenting adalah kebahagian sang dongsaeng. Lee Donghae adalah salah satu kekuatan Leeteuk untuk menjalani hidup yang keras, Lee Donghae yang harus dijaganya karena dia menyayanginya dan juga karena kewajibannya.

Mereka berdua harus bernapas lega karena mereka berdua mendapatkan beasiswa untuk pendidikan mereka. Leeteuk sebagai mahasiswa semester 6 di Seoul National University dan Lee Donghae menjadi murid kelas 1 di Anyang High School. Mereka selalu bersyukur akan hidup yang mereka jalani saat ini karena dilalui dengan berdua.

=====0000=====

"Yak Lee Donghae! Kenapa tidur lagi", ditariknya tangan Donghae sampai terduduk.

"Aku mengantuk Hyung", ucap Donghae yang kembali memejamkan matanya.

"Sudah Hyung bilang tidak usah ikut, jadi seperti ini kan?", omel Leeteuk sambil terus menarik tangan Donghae hingga terduduk kembali.

"Tapi kalau tidak seperti itu, aku tidak bisa bersama dengan Hyung lebih lama", jawab Donghae sendu sambil menunduk. Leeteuk hanya bisa terdiam tanpa melanjutkan kata-katanya. Dibawa nya Donghae kedalam pelukan hangat sang Hyung. Tanpa dirasa keduanya menjatuhkan air mata yang sudah ditahan.

"Mianhae", hanya satu kata itu yang terucap dari Leeteuk untuk mewakili semua yang ada dibenaknya.

Dan penutup pagi itu sebelum mereka melakukan aktivitas mereka lalui dengan saling mencurahkan isi hati mereka.

=====0000=====

Tanpa sepengetahuan sang hyung, Donghae yang sebulan terakhir ini menjadi pelayan dikedai eskrim Shin Ahjussi. Dia bekerja untuk membantu sang hyung walaupun Donghae tau pasti hyung nya akan marah karena dia bekerja. Donghae selalu berfikir kenapa dia tidak pernah boleh membantu bekerja oleh sang hyung padahal dia tidak akan sampai kelelahan. Karena dia juga sendiri tau akan kondisi fisiknya.

Di kedai eskrim ini Donghae lumayan cukup terkenal karena bukan hanya paras nya saja yang manis dia terbilang cukup ramah dengan pelanggan. Donghae selalu bekerja keras untuk membantu sang hyung walaupun teuki hyung nya itu tak pernah tau.

"Donghae-ya!", seru suara yang cukup keras dari luar, kenapa cukup keras karena bisa membuat Donghae kembali dari lamunannya.

"minnie hyung kau tak perlu sekeras itu memanggiku", kesal Donghae karena mendengar suara cempreng milik sahabat yang sudah dianggap sebagai hyung nya itu Lee Sungmin.

"ah, sudahlah jangan permasalahkan itu. aku ingin bertanya, kenapa kau terlihat seperti sedang melamun?", ucap Sungmin sambil memandang wajah Donghae yang terlihat pucat.

"ak.."

"yak! Lee Donghae, kenapa wajahmu pucat?", sela Sungmin sebelum Donghae menjawab pertanyaan yang tadi.

"gwenchana hyung, aku kan belum menjawab pertanyaan mu yang pertama kau sudah memotongnya", jawab Donghae kesal.

"dasar kau ini, aku hanya mengkhwatirkan mu. Kalau ada apa-apa denganmu aku yang akan merasa bersalah karena sudah mencarikan pekerjaan buatmu", Sungmin pun menjitak sayang jidat Donghae.

"tenang saja aku takkan apa-apa, dan hyung juga tak perlu merasa bersalah karena aku yang memintanyakan", jawab Donghae untuk mengurangi kegelisahan Sungmin. Donghae tidak mau mebuat Sungmin khawatir seperti itu makanya dia mencoba untuk menahan sakit dikepalanya yang menyerang sejak tadi.

Tapi akhirnya Donghae tidak kuat dengan rasa sakit dikepalanya dan membuat dia limbung kearah Sungmin. Sungmin pun yang ada didepan Donghae reflek menangkap tubuh Donghae.

"yah Hae-ya. Donghae-ya. Gwenchana?", tanya Sungmin dengan khawatir karena Sungmin tahu Donghae masih bisa mendengarnya.

"minnie hyung, jangan beritahu teuki hyung", pinta Donghae sambil menahan rasa sakitnya.

"ta..tapi Hae".

"jeb..bbb..bal hy..ung", dan Donghae akhirnya kehilangan kesadarannya.

=====0000=====

PRANG~

Tanpa sengaja Leeteuk menjatuhkan piring yang berada ditangannya. Perasaannya saat ini tidak tenang, Leeteuk menjadi terfikir akan sang dongsaeng. Keadaan Donghae yang membuatnya selalu khawatir saat tidak bisa melihat dongsaengnya itu karena pekerjaan yang menyita waktunya itu.

"Teuki gwenchana?", suara heechul rekan kerjanya sekaligus sahabatnya itu memanggilnya dengan khawatir.

"gwenchana Chulie, aku hanya teringat Hae-ya", jawab Leeteuk menenangkan Heechul.

"sudahlah Teuki jangan seperti itu, Donghae takkan apa-apa", Heechul lalu membantu membeersihkan pecahan piring yang masih berserakan. Akhirnya mereka berdua kembali bekerja sesudah membersihkan pecahan piring tersebut.

"Teuki ini pesanan meja nomor 15, tolong antarkan aku masih ada pekerjaan lain", salah satu pegawai memberikan nampan untuk dibawa Leeteuk kemeja yang disebut.

"baiklah", lalu Leeteuk membawa pesanan tersebut dengan ceria kembali karena sudah tak memikirkan Donghae lagi.

Leeteuk membawa pesanan meja nomor 15 tersebut dan ketika sampai dimeja dia lalu memberikan makanan itu.

"ini tuan pesa..nannya", suara Leeteuk tercekat karena melihat siapa yang ada dihadapannya sekarang. Kejadian masa-masa yang ingin dilupakannya pun seolah tertarik kembali karena melihat sosok yang ada dihadapannya tersebut. Kilatan-kilatan kebencian yang biasanya tak pernah nampak dari wajah malaikat Leeteuk seakan lenyap begitu saja hari ini.

"gamsh..", sebelum pelanggan tersebut berbicara Leeteuk sudah meninggalkan meja tersebut.

'ada apa dengan pelayan itu' batin sang pelanggan tersebut.

Tanpa menunggu waktu nya pulang Leeteuk sudah meminta izin kepada Kim ahjussi karena ada sesuatu yang terjadi. Kim ahjussi yang selalu senang dengan kerjaan Leeteuk tanpa banyak pertanyaan mengizinkannya untuk pulang.

Disepanjang perjalanan Leeteuk selalu memikirkan pertemuannya dengan sosok yang tidak ingin sama sekali diingatnya kembali.

"kenapa aku bertemu dengan dia lagi?", gumam Leeteuk sepanjang perjalanannya kerumah.

=====0000=====

Dengan langkah gontai Donghae berjalan menuju kerumahnya. Memikirkan masalah yang tengah dihadapinya, bagaimana dia bisa menyelasaikan masalahnya tanpa memberitahu sang hyung. Dia teringat lagi percakapannya dengan dokter tadi ketika Sungmin membawa nya kerumah sakit.

"anda harus segera menjalani operasi, karena kanker ini akan semakin menyebar apabila tidak segera diangkat".

Kata-kata itu yang sekarang ini terus berputar dikepalanya. Lelah akan hidup yang dijalaninya bagaimana dia harus memberi tahu hyungnya, karena selama ini dia sudah terlalu banyak menyusahkan sang hyung. Dan saat ini Donghae bertekat untuk tidak memberi tahu Teuki hyung tentang penyakitnya itu. "Mianhae hyung", gumam Donghae sambil menahan air matanya yang akan segera tumpah.

=====0000=====

Ketika tiba didepan rumah Leeteuk melihat Donghae yang juga baru pulang. Masalah tadi yang semenjak tadi dipikirkannya hilang begitu saja melihat Donghae yang berjalan dengan gontai.

"Hae, gwenchana?",tanya Leeteuk dengan khawatir. Tanpa menunggu jawaban Donghae Leeteuk menarik tangannya untuk segera masuk karena hawa malam ini sangat dingin.

Tanpa berbicara sepatah katapun Donghae beranjak kekamarnya untuk beristirahat. Karena waktu juga sudah hampir malam Leeteuk tidak memandang curiga pada Donghae yanng sangat lesu dan pulang telat dari waktu pulang sekolah.

Setelah memastikan Donghae tertidur Leeteuk segera membersihkan diri dan setelah itupun dia mengikuti Donghae untuk tidur. Tapi Leeteuk tidak bisa tidur karena memikirkan kejadian tadi sore bertemu seseorang yang sangat tidak ingin lagi dia temui. Membuat Leeteuk kembali mengingat keadian yang tidak ingin diingatnya lagi.

=====0000=====

15 tahun yang lalu ~

Disebuah rumah yang sangat mewah terjadi sedikit perdebatan antara seorang namja dan yeoja. Dan lama-lama perdebatan tersebut menjadi pertengkaran yang tidak bisa lagi dielakkan.

"kenapa seperti ini Kangin-ah?", suara sang yeoja yang parau terdengar sekali dia habis menangis.

"aku sudah bosan denganmu Eunmiya, kau tidak pernah bisa mengerti aku", jawab Kangin dengan datar tanpa memandang lawan bicaranya.

"M..mmmwo?", suara yeoja itu tercekat dan dia tidak bisa menahan isakan tangisnya yang sudah berhenti tadi. Eunmi langsung berjalan dengan gontai kekamarnya dengan air mata yang menghiasi wajahnya.

Tanpa mereka sadari sesosok namja kecil tengah melihat perdebatan tersebut. Matanya penuh dengan amarah, dia terus menatap sang ayah dengan pandangan bencinya.

Keesokan harinya tanpa disadari oleh Eunmi dan Leeteuk ternyata Kangin membawa selingkuhannya kerumah mereka. Dan tanpa ada rasa kasian Kangin mengusir mereka berdua.

"cepat pergi dari rumahku!", teriak kangin sambil mendorong tubuh Eunmi dan juga Leeteuk.

"jebal Kangin-ah, jangan usir kami hiks..hiks. Kasian dengan Leeteuk dan hiks..hiks..bayi yang ada dikandunganku", sambil berlinangan air mata dan bersimpuh dihadapan Kangin meminta untuk tinggal ditempat itu. dan jangan lupakan lagi Leeteuk sosok namja kecil tersebut hanya bisa menangis melihat sang eomma diperlakukan seperti itu.

"Pergi kau jalang!", sambil mendorong keras Eunmi keluar dan Leeteuk."jangan pernah menunjukkan wajah kalian didepanku", teriak Kangin lalu berlalu masuk kerumahnya tanpa memandang lagi kebelakang.

JEDDDAR~, suara petir yang menggelegar membuat tangisan Leeteuk menjadi sangat kencang. Dan membuat sang eomma harus mendekapnya lebih erat lagi.

"sst uljima.. Teuki jangan menangis nanti dongsaeng nya ikutan menangis", Eunmi mengusap punggung sang anak agar tenang kembali.

Dengan langkah yang gontai akibat hawa malam yang dingin apalagi setelah hujan membuat keduannya basah karena terkena hujan, Eunmi dan Leeteuk merasakan hawa yang cukup menusuk dikulit.

"aaaww!", jerit Eunmi merasa sakit diperutnya dan dia langsung terduduk dikursi halte tersebut dan pingsan dipangkuan Leeteuk.

"Eomma, hiks..hiks bangun eomma", tangis Leeteuk semakin menjadi karena melihat ada sedikit darah yang mengalir dikaki sang eomma.

Sesampainya dirumah sakit oleh bantuan dari supir taksi yang lewat, Leeteuk terus menangisi sang eomma yang berada diruang operasi tanpa mau mengalihkan matanya dari pintu yang tertutup.

"Eomma", suara lirih yang keluar dari Leeteuk kecil terus memanggil sang eomma yang sedang terbaring diruang operasi. Leeteuk yang hanya anak 7 tahun tersebut takut apabila terjadi sesuatu dengan sang eomma dan dongsaengnya.

Lampu hijau yang menandakan telah selesai nya operasi didalamnya dan saat itu keluar seorang dokter yang lalu mendekati Leeteuk.

"adik manis, dongsaeng mu sangat lucu. Dan sekarang eommamu ingin bertemu denganmu", kata sang dokter lalu menyuruh Leeteuk masuk.

"eom..ma", tangisan Leeteuk yang tadi sudah berhenti kembali bergema diruangan tersebut, menyayat hati sang eomma yang sudah sangat lemas itu.

"Teuki tak boleh menangis, nanti Donghae ikut bersedih", Eunmi menyuruh Leeteuk untuk naik diatas kasur didekat sang dongsaeng.

"seorang namja tak boleh cengeng, anak eomma jangan menangis nanti Donghae siapa yang menjaga kalau Teuki cengeng", "Donghae siapa eomma?", tanya Leeteuk yang mengusap air matanya.

"Dongsaeng Teuki, eomma kasih nama Donghae. Teuki harus selalu menjaganya dan melindunginya walau apapun keadaan kalian", Eunmi mengusap air matanya dan mulai melanjutkan perkataannya.

"eomma akan senang apabila Teuki menjaga Donghae dengan baik karena mungkin Eomma tidak bisa menjaga kalian lagi. Eomma janji akan menjaga kalian berdua bersama Tuhan nanti", Eunmi merebahkan dirinya kembali sambil terus memandang kedua malaikatnya.

"jaga dirimu baik-baik dan dongsaeng mu yang Teuki, maafkan eomma tak bisa menjaga kalian lagi", perlahan-lahan mata indah sang eomma tertutup untuk selama-lamanya. Membawa luka yang sangat dalam bagi Leeteuk karena eomma nya meninggalkan dia dan sang dongsaeng yang masih kecil.

Saat setelah pemakaman sang eomma Leeteuk pergi membawa sang dongsaeng entah kemana kaki kecilnya melangkah. Tapi dia tak pernah peduli yang penting dia harus membawa sang dongsaeng pergi darisini dan membawa dendam yang mendalam dihati Leeteuk yang masih kecil.

=====0000=====

Leeteuk buru-buru menghapus air matanya karena merasa ada pergerakan dari Donghae. Dia melihat sang dongsaeng yang ternyata masih tidur dengan damai dan Leeteuk pun mengikuti jejak sang adik kealam mimpi sambil mendekap erat Donghae.

Dan tanpa disadari Leeteuk ternyata Donghae juga menangis setelah melihat hyungnya menangis. Dan itu membuat Donghae semakin bertekat tidak ingin menyusahkan hyung nya yang sedang ada masalah pikirnya.

Dan malam itu keduanya tertidur dengan perasaan yang sangat kacau balau berharap hari esok akan lebih indah. Semoga.

=====0000=====

Seminggu berlalu, dan hari-hari hyung dan dongsaeng tersebut kembali ceria tanpa ada beban yang ditunjukkan satu sama lain. Leeteuk yang masih diam akan bertemunya dia kembali dengan sang appa. Dan Donghae yang menyembunyikan penyakitnya dari sang hyung.

Dan keduanya sekarang ini tengah bersiap-siap untuk pergi berdua dihari minggu karena keduanya libur. Sekarang ini yang bersemangat untuk pergi adalah Lee Donghae tentunya. Dia tidak sabar untuk pergi ketaman hiburan berdua dengan sang hyung. Akhirnya setelah menunggu seabad lamanya yang dpikirkan oleh Donghae mereka akhirnya berangkat.

"YEAY!", seru Donghae semangat.

Setelah sampai ditempat yang dituju ternyata bukan taman bermain melainkan taman yang penuh dengan tanah yang menggunung yaitu pemakaman. Namja yang paling muda mengerucutkan bibirnya karena tahu bukan ini tempat tujuan mereka sebenarnya.

"sudahlah saengi jangan seperti itu, kau tidak rindu dengan eomma", goda Leeteuk agar dongsaengnya berhenti mengeluh. Tapi bukannya membaik Donghae malah semakin mengerucutkan bibir indahnya. Leeteuk terus menyenggol tangan Donghae agar dia kembali baik.

"bukannya aku tak rindu dengan eomma tapi kan hyung sudah janji denganku", setelah sekian lama terdiam akhirnya Donghae mengeluarkan uneg-uneg nya.

"bukankah waktu itu kau lebih senang melihat eomma, kenapa sekarang tidak? Apa kau sudah melupakannya", jawab Leeteuk pura-pura sedih. Mendengar ucapan itu dari sang hyung Donghae merasa sangat bersalah sekarang.

"mianhae hyung, bukan itu maksudku", Donghae menggerakan jari-jarinya agar tidak menangis sekarang ini.

"baiklah, kita bermain disini saja", Leeteuk menyuruh Donghae duduk sambil menyembunyikan senyumnya.

Tanpa terasa sudah sore mereka menghabiskan pekan mereka bercerita dengan sang eomma tanpa mereka sadari ada sesosok namja yang memperhatikan mereka daritadi. Ada perasaan rindu, senang, sedih dan yang teramat besar adalah rasa bersalahnya. Dengan keberaniannya yang sangat tinggi itu namja tersebut menghampiri Leeteuk dan Donghae.

"nae aegy", sapa namja tersebut yang pastinya menghentikan percakapan mereka. Leeteuk yang merasa familiar dengan suara tersebut hanya berdiri terpaku dan tidak ingin bergerak sedikitpun. Sedangkan Donghae dia sudah menatap bingung ahjussi dihadapannya tersebut dan terkejut karena ahjussi itu menangis.

"ww..ae ahjussi?", tanya Donghae perlahan. Tapi sebelum namja tersebut menjawab Leeteuk sudah menarik tangan Donghae untuk pergi dari tempat itu.

"hyuung kenapa menarikku? Kau tidak lihat ahjussi itu", Donghae sedikit meringis karena genggaman tangan Leeteuk begitu kuat.

"dia bukan siapa-siapa Donghae-ya, tak sepantasnya berbicara dengan orang asing", Leeteuk menghentikan langkahnya dan menatap tajam namja yang ada dibelakang Donghae tersebut.

"tapi hyung kau bilang.."

"JANGAN MEMBANTAH LEE DONGHAE!", teriak Leeteuk dan seketika itu membuat Donghae diam terpaku yang sontak menghentikkan langkahnya.

"mian..mianhae Hae-ya. Hyung hanya ingin kita pergi", ucap Leeteuk pasrah akhirnya. Dan seketika itu Leeteuk kembali membawa Donghae menjauh dari namja yang sekarang telah melihat mereka dengan tatapan sendu.

"apakah kau sangat membenciku? Appamu emang pantas kau benci Teuki", gumam namja tersebut dengan lirih.

"tapi dongsaengmu tak boleh membenciku juga", lirihnya dan pergi tanpa menghiraukan tujuan dia kepemakaman tersebut.

=====0000=====

Hari siang yang sangat terik tak menyurutkan Donghae untuk ketempat kerjanya. Tapi ketika dia keluar dari gerbang sekolahnya Donghae melihat namja kemarin yang menemuinya di pemakaman sang eomma. Namja tersebut menghampiri Donghae yang sangat bingung karena dia tak pernah mengenal namja tersebut.

"Hae-ya", sontak Donghae berhenti karena namanya dipanggil oleh namja tersebut.

"ahjussi memanggilku? Apa ahjussi mengenalku?", tanya Donghae bingung.

"ne, aku mengenalmu. Aku Kangin ahjussi mu", ucap Kangin bohong.

"kau ahjussiku? Tapi Teuki hyung bilang kami tak punya keluarga lagi", sontak Kangin meremas tangannya membuang rasa gugupnya.

"mungkin hyungmu tak tahu aku, karena saat itu kalian juga menghilang setelah eomma kalian meninggal", jelas Kangin ragu. Donghae hanya menatap Kangin dengan ragu, tapi Donghae berpikir tak boleh mencurigainya.

"kau mau pergi jalan-jalan denganku", lanjut Kangin lagi. Tanpa menunggu jawaban Donghae, Kangin membawa Donghae kemobilnya.

Didalam mobil tersebut Donghae tidak tahu harus berbicara apa, dia diam dan hanya sesekali melirik namja yang mengaku kalau dia adalah ahjussi nya. Padahal kemarin hyungnya bilang namja tersebut adalah orang asing. Begitu juga dengan Kangin, dia sibuk dengan pemikirannya tentang rasa yang senang karena bisa duduk sedekat ini dengan salah satu anaknya.

Ternyata Kangin mengajak Donghae untuk jalan-jalan mengelilingi pertokoan yang ada di myeongdeong. Kangin membelikan semua yang dilihat oleh Donghae tanpa persetujuan dari Donghae tersebut.

Akhirnya setelah makan malam dan sedikit berbincang Kangin mengantarkan Donghae pulang, tapi sebenarnya Kangin tidak ingin berpisah dengan sang anak. Mereka berdua pun sama-sama nyaman dengan satu sama lain.

=====0000====

Leeteuk pulang dengan perasaan gembira karena dia membawa makanan yang sangat disukai oleh dongsaeng manjanya tersebut. Tapi saat dia masuk kerumahnya ternyata Donghae tak berada dirumah, perasaan khawatir menghinggapi. Ketika Leeteuk akan mencari Donghae sebuah mobil berhenti didepan rumahnya, dan ternyata Donghae lah yang keluar dari dalamnya. Betapa terkejutnya Leeteuk bahwa namja yang keluar juga dari dalam mobil tersebut. Ada rasa cemas, marah dan benci ketika melihat kedekatan antara Donghae dan sang namja tersebut.

"Lee Donghae, masuk", ucap Leeteuk dingin sambil menarik tangan Donghae untuk menjauh dari namja tersebut. Leeteuk menunggu Donghae untuk masuk kedalam rumah, setelahnya Leeteuk menatap tajam namja yang ada didepannya tersebut.

"Teuki?", ucapnya namja itu lirih.

"siapa kau memanggil saya seperti itu? kau pikir siapa dirimu", ucap Leeteuk dingin dan tajam.

"aku appamu",

"APPAKU TAK PERNAH ADA", teriak Leeteuk emosi. Seketika itu Kangin terdiam mendengar Leeteuk berbicara itu. Bagaimanapun dia masih ayah Leeteuk dan Donghae pikir Kangin.

"tap.."

"h..yyuung", ucap Donghae memotong perkataan Kangin. Sontak Leeteuk kaget karena mungkin saja Donghae mendengar semuanya.

"Hae", sebelum Leeteuk menyelesaikan omongannya donghae telah jatuh terduduk sambil menahan sakitnya.

"hyung ap..ppo.. hyung jeb,,bbal hyung", ucap Donghae terbata sambil menahan sakitnya.

"Hae. Gwenchana? Yah yah bangun Lee Donghae", Leeteuk semakin panik karena Donghae pingsan. Ketika Kangin ingin menyentuh Donghae Leeteuk sudah berlalu meninggalkannya.

"naik kemobilku saja, aku akan mengantar kalian"

"aku akan pergi sendiri", sambil berlalu menghindari Kangin.

"tak ada waktu lagi LEE JUNGSOO", teriak Kangin kesal akhirnya. Dan akhirnya Leeteuk mau juga membawa Donghae bersama Kangin. Mungkin sekarang yang ada dipikirannya adalah kesembuhan Donghae bukan yang lain.

=====0000=====

Sesampainya dirumah sakit Donghae langsung ditangani oleh dokter. Leeteuk menunggu diluar dengan cemas karena dia tidak mau sesuatu terjadi pada dongsaengnya. Leeteuk takut kehilangan orang yang dia cintai lagi, dia terus menggumamkan doa didepan pintu ICU agar dokter memberikan kabar yang baik untuknya mengenai Donghae.

Akhirnya setelah menunggu dokter yang ada diruangan tersebut keluar langsung menghampiri Kangin dan Leeteuk.

"bagaimana keadaan dongsaeng saya dok?", tanya Leeteuk tak sabar.

"mari kita bicarakan diruangan saya", dokterpun berjalan menuju ruangannya yang diikuti oleh Kangin dan Leeteuk.

"jadi apa yang terjadi dengan anak saya dok?", sontak Leeteuk memandang Kangin yang mendengar ucapannya tersebut.

"jadi begini, pasien mengidap kanker otak stadium akhir. Beberapa waktu yang lalu saya sudah berpesan padanya agar segera melakukan operasi pengangkatan kankernya, tapi dia tidak kunjung datang untuk melakukan operasi tersebut", jelas dokter tersebut panjang lebar.

"mwo?", lirih Kangin tak percaya. Leeteuk yang mendengar kabar tersebut tidak bisa berucap apapun lagi. Seakan-akan tubuhnya melayang karena berita tersebut. Yang ada dipikirannya sekarang adalah kenapa Donghae tak memberitahu nya sampai sekarang.

"kita harus mengangkat kankernya segera mungkin agar tidak menyebar keorgan tubuh lainnya dan berakibat fatal".

Disinilah Leeteuk sekarang menunggu Donghae yang belum sadar, diam genggem erat tangan itu agar Donghae merasakan kehangatan. Leeteuk terus memandangi wajah dongsaengnya itu yang pucat tak ada lagi kehangatan yang bisa dia lihat dari wajah tersebut.

"euung", lenguh Donghae mencoba untuk membuka matanya.

"Hae", Leeteuk yang mendengar lenguhan Donghae hanya bisa semakin menggenggam erat tangannya.

"hyung aa..ku"

"kenapa tak bilang Hae, kau anggap apa hyung mu ini? Mianhae", direngkuhnya Donghae kepelukan hangatnya sambil mengecup sayang kepala Donghae.

"aku tak mau Teuki hyung khawatir dan menyusahkan hyung lagi, cukup sudah aku.."

"aku ini hyung mu Hae", dipeluknya lebih erat Donghae dan air mata yang ditahannya sejak tadi pun meluncur bebas begitu saja. 'mianhae eomma aku tak bisa menjaga Donghae dengan baik' batin Leeteuk sedih.

=====0000=====

Waktu terus bergulir terus tanpa sedikitpun berhenti dalam peraduan yang membuat kondisi Donghae bertambah parah. Tapi dia tak pernah mau menyusahkan hyungnya lebih dari itu, sehingga obat yang sudah habispun dia tak pedulikan lagi. Donghae tetap bekerja sebagai pelayan di kedai eskrim bekerja keras untuk membantu sang hyung.

Dilain tempatpun seperti itu, Leeteuk bekerja semakin giat untuk biaya kesembuhan Donghae. Tidak dia pikirkan kondisinya sendiri yang ada dibenaknya adalah bagaimana cara untuk menyembuhkan Donghae. Dia tidak mau menerima bantuan dari Kangin yang setiap saat mencoba untuk membantunya. Leeteuk lebih memilih bekerja keras daripada memakai uang dari Kangin.

"Teuki ada yang mencari mu", suara Heechul membuat Leeteuk tersadar dari lamunannya.

"nugu?", Heechul hanya mengangkat bahunya dan pergi untuk melayani pesanan pelanggan.

Dengan sedikit merapihkan pakaiannya Leeteuk keluar untuk menemui orang yang ingin bertemu dengannya. Setelah berada didekat orang tersebut Leeteuk memasang wajah datarnya karena orang tersebut adalah orang yang tak ingin lagi dia temui.

"untuk apa lagi menemuiku, sudah kubilang aku tak perlu bantuan mu", ucap Leeteuk dengan tajam.

"tapi kau harus memikirkan kondisi Donghae, bagiamanapun dia juga anakku. Aku appa kalian", Kangin memandang Leeteek dengan wajah memelas.

"kau bilang anakmu? Setelah apa yang kau lakukan pada kami. Mengusir ibuku yang telah mengandung demi wanita lain. Siapa yang kau sebut dengan APPA?", Leeteuk mencengkram kera baju Kangin menumpahkan amarahnya selama ini. Leeteuk segera pergi dari situ karena dia pikir tak ada lagi yang harus dibicarakan.

"kau egois, memikirkan dirimu sendiri tanpa memikirkan keadaan Donghae. Hyung macam apa kau?", ucap Kangin dengan sarkatis dan seketika membuat langkah Leeteuk berhenti.

"pikirkan lagi keadaan Donghae. Biarkan aku yang merawat Donghae dan menebus kesalahanku dimasa lalu. Kalau kau benci padaku jangan korbankan keselamatan dongsaeng mu sendiri", lalu Kangin keluar meninggalkan Leeteuk yang diam mematung.

Leeteuk menyusuri jalan dengan perasaan kalut, pikirannya sekarang dipenuhi dengan masalah yang menimpanya sekarang. Bagaimana bisa dia menyerahkan Donghae pada namja yang pernah menelantarkan hidup mereka. Tapi tanpa bantuan dari namja tersebut tidak mungkin dia bisa menyembuhkan Donghae.

Tanpa disadarinya dia melintas dikedai eskrim, mungkin dengan sedikit eskrim bisa menenangkan pikirannya. Diapun melangkah masuk menuju kedai tersebut.

"selamat da..", ucap pelayan itu terpotong melihat kearah pelanggan yang dikenal sebagai hyungnya.

"Hae, apa yang kau lakukan disini?", tanya Leeteuk dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan.

"hy..hyuung.. a..kk.."

"pulang sekarang Lee Donghae", Leeteuk pergi meninggalkan Donghae tanpa melihat kebelakang lagi.

=====0000=====

Perasaan bersalah semakin menjadi dalam benak Leeteuk bagaimana tidak, dia menyaksikan sendiri bahwa Donghae bekerja tanpa sepengetahuannya. Seharusnya dia tak membiarkan Donghae bekerja, seharusnya dia tau akan apa yang Donghae kerjakan selama ini.

"hyung", Leeteuk tersadar mendengar suara lirihan Donghae.

"kenapa Hae? Kau tak menurutiku. Bukankah hyung melarangmu untuk bekerja?"

"aku hanya ingin membantumu hyung", Donghae ingin memeluk Leeteuk tapi ditepis begitu saja dengan hyungnya.

"kau tanggung jawabku Hae, tak sepantasnya kau bekerja. Aku yang akan membiayaimu, walaupun itu sangat kurang. Tapi aku akan tetap berusaha", ucap Leeteuk sambil mengusap air matanya.

"aku tak mau membebanimu lagi hyung"

"kalau begitu pergi darisini, kau tak pernah menganggap aku sebagai hyungmu. Pergi saja dengan Lee Kangin dia itu appamu", Leeteuk menyeret Donghae keluar dari rumah.

"hyung..hiks..hiks.. mianhae hyung, aku akan menurutimu tapi jangan usir aku hyung", isakan pilu Donghae membuat Leeteuk ingin memeluknya. Tapi dia tidak boleh egois dia harus melakukan semua ini untuk dongsaeng tercintanya.

"pergi dari hadapanku! Aku tidak punya dongsaeng membangkang sepertimu!", dengan langkah berat Leeteuk meninggalkan Donghae yang tengah menangis.

"hiks..hiks..hyung jangan seperti ini, aku janji hyung itu untuk terakhir kalinya hiks..hiks", Donghae memegangi tangan Leeteuk agar sang hyung tak mengusir dirinya. Tapi tak disangka oleh Donghae, Leeteuk menepis tangannya dan berlalu begitu saja lalu menutup pintu rumahnya.

"hyung...hiks..hiks..buka hiks..pintunya..hiks hyung..jeb..bbal hyung hiks..hiks", Donghae terus menggedor pintu itu agar Leeteuk mau membukanya.

"hyung..hiks jebal hyung hiks.. disini dingin hyung hiks.."

"PERGI DARI SINI LEE DONGHAE!", teriakan Leeteuk sontak membuat Donghae terdiam. Hanya isakan pilu yang dikeluarkannya. Tanpa diketahui Donghae ternyata Leeteukpun sangat menderitanya dibalik pintu tersebut. Leeteuk terus menggumamkan kata maafnya untuk dongsaengnya tersebut.

"Hae", Kangin memeluk Donghae erat menenangkan sang anak yang begitu rapuh saat ini.

"hiks..hiks..hyung hiks.. dia hiks..hiks", ucap Donghae terbata oleh isakan tangisnya.

"sssttt, kita pergi dulu darisini biarkan hyungmu tenag dulu. Besok kita akan kembali lagi ne", Kangin membantu Donghae untuk berdiri dan membawanya pergi darisitu. Dengan langkah gontai Donghae pergi dari rumahnya tapi dia masih menengok kebelakang seolah hyungnya akan berlari dan menghalanginya pergi. Tapi hanya kekecewaan yang didapatnya karena sampai dia keluar dari gerbang tersebut hyungnya tak mencegahnya pergi.

"mianhae donghae-ya hiks..hiks.. semoga kau bahagia dengannya", tangisan Leeteuk pecah saat langkah kaki pergi menjauh.

Dengan berat hati Donghae pergi dari rumahnya meninggalkan sang hyung yang mungkin membencinya saat ini. Yang dipikirkannya hanya hyungnya saat ini. Dia tak bisa hidup tanpa hyungnya, dia terlalu bergantung pada hyungnya tersebut.

"aawww..ap..ppoo", Donghae terduduk sambil memegangi kepalanya yang berdenyut sakit.

"Donghae-ya..donghae-ya", Kangin terus menggoncang tubuh lemah Donghae.

"hyuuung appo", lirih Donghae dan yang dirasakannya hanya kegelapan saja.

"Haee.. Lee Donghae", Kangin mengangkat tubuh Donghae menuju rumah sakit. Dia takut terjadi hal buruk dengan Donghae.

=====0000=====