BETTER THAN FOR...

PARK JUNGSOO

LEE DONGHAE

AND

OTHER CAST

Ini dia chap 2 sekaligus pentup atau istilahnya mah eeennndddiinggnya hadir..

Maaf banget kalau cerita nya sedikit maksa yah, maklum baru belajar ..

Semoga suka ..

Makasih yang kemaren udah ngasih reviews nya dan reviews lagi yah

Previous ..

Dengan berat hati Donghae pergi dari rumahnya meninggalkan sang hyung yang mungkin membencinya saat ini. Yang dipikirkannya hanya hyungnya saat ini. Dia tak bisa hidup tanpa hyungnya, dia terlalu bergantung pada hyungnya tersebut.

"aawww..ap..ppoo", Donghae terduduk sambil memegangi kepalanya yang berdenyut sakit.

"Donghae-ya..donghae-ya", Kangin terus menggoncang tubuh lemah Donghae.

"hyuuung appo", lirih Donghae dan yang dirasakannya hanya kegelapan saja.

"Haee.. Lee Donghae", Kangin mengangkat tubuh Donghae menuju rumah sakit. Dia takut terjadi hal buruk dengan Donghae.

=====0000====

Sesampainya dirumah sakit, Kangin segera menyuruh dokter untuk memeriksa keadaan Donghae. Sudah sekitar 30 menit Kangin menunggu, tapi dokter belum keluar juga untuk memberitahu keadaan Donghae. Kangin terus mondar mandir didepan ruang ICU, dia terus menggumamkan doa-doa untuk keselamatan sang anak. Setelah lelah menunggu dengan kekhawatirannya akhirnya dokter keluar juga dari ruangan tersebut.

"bagaimana keadaan anak saya dok?", tanya Kangin cemas. Dokter tidak menjawab dan hanya menyuruh Kangin mengikuti keruangannya.

"kondisi pasien sudah cukup parah karena sel kanker nya sudah menyebar. Yang kita lakukan hanya operasi. Kalaupun berhasil dilakukan operasi akan mengakibatkan terputusnya jaringan saraf mata yang mengkibatkan kebutaan bahkan meyebabkan memorinya menjadi terganggu yang mengakibatkan pasien akan hilang ingatan", jelas dokter panjang lebar.

"lakukan yang terbaik, berapapun biayanya akan saya tanggung. Cari dokter yang terbaik untuk operasi ini. Saya percaya pada anda dokter", hanya kata-kata itulah yang bisa Kangin ucapkan untuk keselamatan Donghae. Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Donghae.

Disinilah Kangin sekarang setelah melakukan pembicaraan yang serius, sekarang ini dia berada di ruang rawat Donghae. Dia usap wajah pucat Donghae yang biasanya selalu tersenyum ceria. Dia genggam tangan Donghae untuk memberikan kehangatan pada sang anak. Betapa terpukulnya Kangin dengan semua ini, disaat dia akan merubah semua sikapnya dia dihadapi dengan masalah yang seperti ini. Leeteuk yang tidak ingin menerimanya sedangkan Donghae yang walaupun menerima kehadirannya tapi dalam keadaan yang kritis.

"apakah ini semua karma buatku? Mianhae Eunmi-ya", Kangin terus menangis sampai tak terasa dia tertidur sambil terus menggenggam tangn Donghae erat.

=====0000=====

Sama halnya dengan Kangin, Leeteuk juga terus menangisi kepergian Donghae. Menangisi semua keputusannya yang telah dia lakukan membuat dia harus jauh dari sang dongsaeng. Walaupun dia tahu mereka berdua tidak bisa hidup satu sama lain, tapi ini sudah menjadi tanggung jawabnya membiarkan Donghae bahagia walau tanpa dirinya disisi sang dongsaeng.

Dia usap sayang foto sang dongsaeng yang tengah tersenyum, memancarkan seluruh kebahagiannya dari senyumnya itu. merekah-rekah lagi kenangan bersama yang sudah dilalui bersama lebih dari 15 tahun lamanya. Suka duka telah mereka lalui bersama, mungkin sekarang ini hanya kenangan akan Donghae yang menemaninya untuk menjalani hidupnya nanti.

"hiks..hiks..hiks.. maafkan Teuki hyung Hae. Semoga Hae selalu bahagia dengannya. Maaf membuatmu susah selama ini", Leeteuk mengusap air matanya yang semakin deras mengalir dari pipinya. Mengusap penuh sayang foto sang dongsaeng yang sangat ia cintai.

"mungkin inilah salah satu bentuk rasa cintaku untukmu, memberikanmu kehidupan yang layak. Hyung akan merindukanmu. Saranghae nae dongsaeng", gumam Leeteuk dan tak berapa lama membuat dia terbang kealam mimpi mencoba berharap akan bertemu sang dongsaeng.

=====0000=====

Sudah 2 hari semenjak Donghae dirawat dirumah sakit tapi dia tidak mau menyentuh makanan dan obat yang harus dikomsumsinya. Donghae hanya menginginkan sang hyung yang datang saat ini. Dia hanya menangis sambil menggumamkan nama sang hyung, betapa menderita dia tanpa kehadiran hyungnya.

Kangin juga selalu membujuk Donghae untuk makan dan meminum obatnya, tapi hanya kekecewaan yang didapatnya. Kangin tidak tahu harus dengan apa dia membujuk Donghae, dia tinggalkan seluruh pekerjaan untuk menjaga sang anak. Sudah 2 hari ini juga dia tak pernah memikirkan kondisi diri sendiri melainkan kondisi sang anak.

"Hae makan dulu ya, terus minum obatnya. Apa Hae tak mau sembuh?", bujuk Kangin untuk kesekian kalinya hari ini. Kangin ingin sekali menumpahkan air matanya tapi dia menahannya, dia harus kuat untuk Donghae nya juga tentunya.

"aku hanya ingin Teuki hyung. Ahjussi tolong suruh hyung datang", mohon Donghae yang sudah berlinangan air mata.

"Hae harus makan", pinta Kangin sambil menyendokkan makanan, tapi..

PRANG~

Donghae menepis tangan Kangin dan membuat makanan itu terjatuh berserakan dilantai.

"Terserah apa mau mu sekarang! Kau ingin menunggu hyungmu yang telah mencampakkanmu sampai matipun. Aku tidak peduli!", teriak Kangin dan berlalu meninggalkan Donghae yang kini tangisannya semakin kencang.

"hiks..hiks..hiks hyung..hiks..hiks..hyuuung", tangisan pilu Donghae menggema didalam ruang rawatnya tersebut.

Dan diluar ruangan tersebut Kangin yang tengah bersender pada pintu ruangan Donghae tersebut menangis mengeluarkan air mata yang sudah lama ia tahan tadi. Dia terduduk di dinginnya lantai tanpa memikirkan orang-orang yang menatap iba padanya.

"hiks..hiks apa yang harus kulakukan", Kangin terus menumpahkan tangisannya.

=====0000=====

Sekarang ini Leeteuk menjadi murung semenjak Donghae tak bersama dengannya lagi. Tak ada lagi senyum tulus yang selalu dia tunukkan kepada semua orang hanya ada senyum palsunya. Ketika dia berada diluar dia kembangkan senyum palsunya, seolah-olah tak terjadi apapun padanya. Tapi saat dia berada dirumah, Leeteuk terus menangis sambil memandangi foto sang dongsaeng.

Leeteuk selalu menutupi semua kesedihannya, tapi itu tidak bisa dia tutupi dari sahabatnya Kim Heechul. Heechul selalu tahu sahabatnya itu tidak dalam keadaan baik, setelah Donghae tidak tinggal bersamanya. Baru 2 hari tak bersama Donghae, Leeteuk sudah bak mayat hidup bagaimana hari-hari esok nanti.

"Teuki jangan seperti ini, kau harus melanjutkan hidup meski tak bersama Donghae", ucap Heechul sedih. Bagaimana tidak sahabat yang selalu bersemangat kini menjadi seperti mayat hidup semenjak tak bersama dengan dongsaengnya.

"aku tak bisa chulie, Donghae itu adalah sebagian hidupku", ucap Leeteuk parau.

"kalau seperti itu kenapa kau biarkan dia pergi, bawa dia kembali Park Jungsoo", Heechul menarik kerah baju Leeteuk. Dia kesal akan sahabatnya ini, kalau dia tidak bisa hidup tanpa Donghae kenapa dia membiarkan Donghae pergi. Pertanyaan itulah yang selalu menghantui Heechul.

"Donghae bisa bahagia bila dengannya. Tidak seperti bersama denganku. Aku ingin terbaik untuk keselamatannya", Leeteuk kembali menangis dan tertidur karena lelah menangis dibahu Heechul.

=====0000=====

Kangin hanya bisa melihat Donghae yang tengah tidur karena pengaruh obat bius yang diberikan padanya. Kangin tidak ingin kalau Donghae bertemu dengan Leeteuk, dia takkan bersama dengan Donghae. Egonya yang membuat dia bertahan agar tak menemukan Donghae dengan Leeteuk tanpa memikirkan kesehatan Donghae.

Donghae terbangun tengah malam dan memperhatikan Kangin yang sedang tertidur disofa. Dengan mengendap-endap Donghae berjalan keluar ruang rawatnya. Ditengah malam yang dingin ini tanpa sehelai jaketpun yang melindungi tubuhnya, Donghae pergi menuju rumahnya untuk menemui sang hyung.

Dia berjalan dengan riang membayangkan wajah bahagia sang hyung karena bertemu dengannya lagi. Bukankah mereka tak bisa hidup tanpa satu sama lain, itulah yang ada dipikran Donghae sekarang. Dia rindu akan senyum , tawa dan nasehat-nasehat yang diberikan sang hyung padanya.

Saat sampai didepan rumahnya, Donghae membuka gerbang tersebut lalu berjalan dengan yakin kearah pintu untuk mengetuk pintu tersebut.

TOK..TOK..TOK

Dengan semangat Donghae mengetuk pintu dan menunggu Leeteuk membuka pintu tersebut. Donghae berfikir kalau Leeteuk masih bekerja karena biasanya sang hyung akan pulang ketika tengah malam. Tanpa memikirkan keadaannya Donghae menunggu Leeteuk pulang tanpa memikirkan wajahnya yang pucat karena kedinginan. Donghae duduk dilantai karena lelah menunggu Leeteuk yang tak kunjung datang padahal seharusnya hyungnya tersebut sudah pulang.

Donghae berdiri karena melihat sang hyung yang datang, tapi dia mengernyit ketika melihat Leeteuk berjalan dengan gontai. Donghae menghampiri Leeteuk dan dia tersadar bahwa ternyata Leeteuk sedang dalam keadaan mabuk.

"hyung gwenchana?", tanya Donghae cemas. Tanpa menjawab Leeteuk berjalan masuk begitu saja.

"kenapa hyung mabuk? Bukankah hyung tak suka alkohol", tanya Donghae lagi dan sekarang dia menggenggam erat tangan hyungnya.

"apa pedulimu?", Leeteuk menepis tangan Donghae dan membuat sang dongsaeng hampir terjatuh karena kekuatan dan Donghae yang lemah.

"hyung, Hae merindukan hyung. Bagaimana dengan hyung?", Donghae mencoba untuk memeluk Leeteuk tapi Leeteuk menghindar begitu saja.

"untuk apa datang kesini lagi, HAH?", Leeteuk mencengkram kerah baju pasien Donghae dan menghempaskannya begitu saja sampai Donghae terjatuh. Donghae sedikit meringis karena sakit tubuhnya ketika jatuh cukup keras.

"aku hiks..hiks hanya ingin bersama hyung hiks..hiks.. jebal hyung", Donghae menumpahkan air matanya sambil memegangi kaki Leeteuk yang akan pergi kedalam rumah.

"lepaskan tanganmu! Aku tak ingin bersamamu! Pergi dari hadapanku", dengan emosi Leeteuk menendang perut Donghae dan seketika itu membuat Donghae tersungkur lagi ketanah.

"apa yang kau lakukan pada dongsaengmu? HAH!", Kangin yang baru datang kaget karena Donghae tersungkur ditanah sambil menangis. Kangin rengkuh tubuh lemah Donghae dan memandang tajam Leeteuk.

"dia bukan dongsaengku lagi", tunjuk Leeteuk kearah Donghae.

"hyung hiks..hiks..hiks", hanya tangisan pilu yang dikeluarkan Donghae. Memberitahukan pada Leeteuk betapa dia menginginkan sang hyung.

"kau boleh membenciku, tapi jangan kau lakukan ini pada dongsaengmu. Jebbal Teuki. Kita bersama-sama menyembuhkan Donghae", ucap Kangin sambil tetap memeluk Donghae erat.

"itu buk..."

"aww..wwh app..ppo ! ap..ppoo! APPO!", teriak Donghae sambil memegangi kepalanya yang berdentum keras.

"Hae.. Hae..", Kangin terus memeluk erat tubuh Donghae.

"aapp..ppo app..ppo.. hyung jeb..bal", tangan Donghae terarah ke Leeteuk dan seketika itu hanya kegelapan yang melanda Donghae.

"Donghae-ya! Jebbal bertahan Hae", ucap Kangin dan mengangkat tubuh Donghae untuk dibawanya kerumah sakit.

Leeteuk diam tak bergeming ketika melihat raut wajah kesakitan sang dongsaeng. Dia masih terpaku ketika Kangin sudah pergi membawa Donghae dari hadapannya. Leeteuk terjatuh duduk ditanah karena kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya yang tengah terkejut dengan apa yang telah terjadi.

=====0000=====

Sudah seminggu setelah kejadian tersebut dan itu membuat Donghae terpukul. Hyung yang dicintainya tak lagi ingin bersamanya. Hyung tak lagi menyayanginya bahkan tak menengoknya ketika dia berada dirumah sakit.

Hanya diam dan menagis yang Donghae lakukan sekarang semenjak kejadian dia menemui hyungnya. Tak dia pedulikan lagi tubuhnya yang lemah. Buat apa dia sembuh kalau orang yang selalu menjadi alasannya untuk hidup tak mengharapkannya lagi. Dia akan menunggu sampai ajalnya tiba, Donghae tak ingin bunuh diri karena hyungnya pernah bilang itu perbuatan dosa. Dan yang Donghae lakukan saat ini hanya menunggu kapan Tuhan membawa nya pergi.

Donghae selalu berdoa agar ketika kematiannya tiba sang hyung mau memaafkannya. Mungkin hanya maaf dari Leeteuk lah yang akan membuatnya tenang meninggalkan dunia ini.

Dan rasa sakit yang Donghae rasakan sekarang hanyalah sebatas alunan indah agar dia bisa tidur dengan nyenyak. Dia memejamkan matanya dan berjanji akan membukanya kembali ketika sang hyungnya datang.

"donghae-ya..donghae-ya", tepat saat suara Kangin terdengar dipendengarannya cahaya gelap telah menyapa terlebih dahulu.

"HAE!", Kangin segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Donghae. Dan disinilah mereka sekarang berada diruang isolasi karena kondisi Donghae yang sudah cukup parah.

Kenapa Kangin tak mengoperasi Donghae ketika tak sadar seperti ini. Jawabannya adalah karena Donghae yang memintanya. Donghae ingin hyungnya lah yang mendampinginya saat operasi.

'aku hanya ingin Teuki hyung berada didekatku. Saat nanti hal terburuk menimpahku, aku hanya ingin hyung yang memelukku. Mungkin saat itulah aku akan pergi. Mianhae appa'

Kalimat itulah yang selalu Kangin ingat. Walaupun tak suka dengan alasan Donghae menunda-nunda operasinya yang menunngu sang hyung untuk ada didekatnya. Tapi dia bisa bertahan karena Donghae memanggilnya 'appa', itu adalah panggilan terindah selama sebulan bersama Donghae.

"tidak Hae, walaupun Teuki ada didekatmu. Appa pastikan kita akan hidup bahagia selamanya", gumam Kangin dan pergi seperti biasanya. Kegiatan rutinnya semenjak seminggu yang lalu itu.

=====0000=====

Disinilah sekarang Kangin, didepan rumah Leeteuk. Membujuk Leeteuk untuk mau menemui Donghae. Kangin tak mengerti mengapa Leeteuk tak mau menemui Donghae. Bukankah Leeteuk sangat mencintai Donghae.

"Teuki" panggil Kangin.

"untuk apalagi kau datang?", tanpa memandang lawan bicaranya Leeteuk pergi begitu saja.

"kumohon temuilah Donghae. Dia membutuhkanmu. Lupakan apa yang sudah kuucapkan waktu itu", sesal Kangin lalu mendekati Leeteuk.

"walaupun kau tak memaafkanku. Tapi kumohon temui Donghae. Bujuk dia untuk melakukan operasi"

"apa maksudmu? Kenapa Donghae belum melakukan operasinya? HAH!", marah Leeteuk dan bersiap untuk memukul Kangin.

"maafkan aku tak memberitahumu, Donghae tak ingin operasi kalau tak ada kau yang menemaninya. Jadi kumohon, bujuk Donghae", Kangin bersimpuh didepan Leeteuk dengan berlinang air mata.

"bukankah kau sendiri yang melarangku menemui Donghae", Leeteuk pergi meninggalkan Kangin yang masih bersimpuh ditempatnya tadi.

"pikirkanlah. Donghae membutuhkanmu", ujar Kangin dan pergi meninggalkan Leeteuk yang kini diam mematung.

"Hae", Leeteuk bersimpuh dan mengeluarkan air matanya yang sudah ditahannya sejak tadi. Dia merasa bersalah pada Dongsaengnya, memikirkan perlakuannya pada Donghae selama ini. Leeteuk pikir donghae sudah sembuh dan dia tak boleh bertemu dengan dongsaengnya karena janjinya kemarin.

Flashback~

Setelah pembicaraannya tadi dengan Kangin, Leeteuk mengejar Kangin yang mungkin masih ada disekitar sini. Jadi dia memutuskan untuk menyusul Kangin.

"kau sudah memutuskannya?", tanya Kangin

"jangan temui kami lagi, aku yakin pasti bisa menyembuhkan Donghae"

"kau mau terus membuat dongsaengmu bekerja juga untuk kesembuhannya", Kangin memandang Leeteuk dengan dingin.

"apa maksudmu?", tanya Leeteuk dengan nada datarnya.

"Donghae bekerja kau tak tahu? Kau bilang kau menyayanginya. Dia bekerja dikedai eskrim kau tidak tahu. Kau mau membunuh Donghae perlahan dengan membiarkannya bekerja. Pikirkan kesembuhannya jangan pikirkan yang lain. Dia bisa hidup bahagia kalau tinggal bersamaku", ucap Kangin sambil memandang Leeteuk.

"sedangkan denganmu? Mungkin dia akan mati perlahan karena keegoisanmu. Jadi bagaimana keputusanmu?", lanjut Kangin. Kangin dengan setia menunggu jawaban yang akan diberikan Leeteuk.

"baiklah Donghae akan tinggal denganmu tapi biarkan kami tetap bertemu", ucap Leeteuk pasrah.

"aku tak ingin kau menemui Donghae lagi. Biarkan Donghae hidup bersamaku tanpa ada bayang-bayang tentangmu lagi. Aku hanya mau anakku bahagia bersama denganku nantinya dan nanti malam Donghae sudah akan bersamaku", ujar Kangin dan berlalu meninggalkan Leeteuk yang masih terkejut dengan ucapan Kangin.

Flashback off~

=====0000=====

Setelah memikirkannya, akhirnya Leeteuk datang dengan perasaan bersalah karena sudah meninggalkan Donghae. Leeteuk datang untuk membujuk Donghaenya melakukan operasi. Dan saat dia sampai diruangan Donghae, Leeteuk bertemu pandang dengan Kangin dan menghampirinya.

"dimana Donghae?", tanya Leeteuk tanpa memandang Kangin.

"Donghae kritis dan dokter menyarankan untuk segera operasi"

"kenapa tak segera dioperasi", marah Leeteuk.

"Donghae ingin kau bersamanya saat dia operasi, jadi dia menunggumu. Dia tak ingin operasi kalau kau tak bersamanya", jelas Kangin.

"aku akan membujuknya", yakin Leeteuk dan melangkah kedalam ruangan Donghae.

"gomawo Teuki", ucap Kangin dan hanya dibalas senyuman oleh Leeteuk. Dan itu adalah senyum pertama yang diberikan Leeteuk untuk Kangin.

Saat Leeteuk masuk keruangan tersebut, betapa mirisnya dia melihat keadaan Donghae. Alat-alat yang Leeteuk tidak tahu menempel ditubuh sang dongsaeng. Dengan perlahan Leeteuk menghampiri Donghae yang tengah tertidur.

"Hae", panggil Leeteuk sambil mengusap sayang rambut Donghae. Dan sontak membuat Donghae terbangun karena mendengar suara yang sudah sangat dia rindukan.

"hy... ", panggil Donghae lemah. Leeteuk hanya memandangi Donghae tengah mengembangkan senyumnya. Betapa bahagia nya Donghae karena bisa melihat Leeteuk sekarang.

"apakah aku akan pergi hyung", lirih Donghae.

"Hae takkan pergi karena hyung ada disini. Hyung akan menjagamu", Leeteuk menggenggem erat tangan Donghae memberikan kehangatan pada sang dongsaeng. Donghae dan Leeteukpun mengeluarkan air mata yang tak bisa untuk mereka tahan.

Dan tanpa sepengetahuan mereka Kangin juga menitikkan air matanya melihat kedua anaknya bertemu kembali.

"gomawo Teuki", Kangin menutup kembali pintu ruangan tersebut tak mau menganggu kedua anaknya.

=====0000=====

Semenjak bertemu dengan Leeteuk, Donghae menjadi lebih bersemangat. Sekarang dia mau makan dan meminum obatnya. Karena hyung tercintanya yang menjadi semangat hidupnya berada disampingnya sekarang ini. Leeteuk selalu menjaga Donghae setiap waktunya tanpa ingin pergi dari sisi dongsaengnya.

Dan sekarang ini mereka berusaha menjadi keluarga yang utuh kembali, walaupun Leeteuk masih canggung dengan keberadaan Kangin disekitarnya. Tapi mereka menyempatkan bersama untuk kebahagiaan Donghae tentunya. Seperti sekarang ini mereka bertiga tengah menikmati makan siang mereka, ya walaupun Donghae yang sibuk menggerutu tentunya.

"hyung aku minta punyamu ya", pinta Donghae pada Leeteuk.

"tak boleh, kau kan sedang sakit jadi makannya ya bubur", goda Leeteuk dan itu membuat Donghae menambah kerucutan dibibirnya.

"Hahahahaha", tawa membahana Leeteuk dan Kangin menggema diruangan tersebut.

"kenapa kalian tertawa? Kalian tak sayang padaku, aku akan suruh ibu cepat-cepat menjemputku", Donghae merebahkan tubuhnya yang sontak membuat Leeteuk dan Kangin terdiam dengan perkataan Donghae.

"kau tidak boleh berkata seperti itu Hae", ucap Kangin sambil mengusap kepala Donghae.

"bukankah aku juga akan pergi", Donghae menahan isakan yang sebentar lagi akan keluar.

"Hae tak boleh seperti itu. dongsaeng hyung akan sembuh setelah operasi nanti", ujar Leeteuk sambil menahan air matanya.

"iya Hae betul kata Teuki Hyung. Kami akan berusaha yang terbaik untukmu".

"tapi kata dokter kemungkinannya sangat kecil", ucap Donghae lagi.

"walau hanya sedikit tapi masih ada kemungkinannya kan. Sudah jangan jadi anak cengeng, kalau kau tak sembuh aku akan memukulmu", canda Leeteuk. Dan seketika membuat Donghae kembali ceria lagi. Dan sekarang ini hanya ada Leeteuk dan Donghae diruangan karena Kangin sedang mengurus untuk operasi Donghae.

"hyung walaupun operasinya nanti berhasil bukankah aku nanti akan kehilangan memori atau tidak kehilangan penglihatanku. Tak apa bila aku tak bisa melihat tapi bagaimana kalau aku melupakan hyung. Aku tidak mau itu terjadi hyung", Leeteuk memeluk Donghae menghilangkan keresahan yang dongsaengnya rasakan.

"aku akan membuatmu ingat lagi. Arraso!", ucap Leeteuk.

"gomawo hyung", Donghae mengeratkan pelukannya terhadap sang hyung.

=====0000=====

Hari yang mereka tunggupun tiba, hari dimana Donghae akan melakukan operasinya. Leeteuk dan Kangin selalu berdoa yang terbaik untuk Donghaenya.

"Hae harus kuat ne, hyung akan menunggumu", ucap Leeteuk sambil mengecup dahi Donghae.

"aku akan berusaha kuat Teuki Hyung".

"Hae janji dengan appa harus sembuh dan kita akan bermain lagi", Kangin mengelus rambut Donghae dengan sayang.

"baiklah tuan-tuan. Pasien akan segera diberi obat bius", ucap sang suster menginterupsi.

Akhirnya cairan yang telah disuntikkan oleh suster tersebut membuat Donghae menutup perlahan matanya.

"appa, hyung. Eomma sangat cantik", ucapan terakhir itu membawa Donghae pada kegelapan.

Dan Donghaepun dibawa keruang operasi dengan Leeteuk dan Kangin berada dibelakangnya.

"dia melihat eommamu", Kangin memandang Leeteuk yang sudah berlinangan air mata.

"aku takut, eomma membawanya pergi", isakan yang tadi ditahan Leeteuk tak bisa ditahannya lagi. Hanya usapan penenanglah yang diberikan Kangin.

Sudah berjam-jam mereka menunggu tapi ruang operasi tersebut tidak ada tanda-tanda akan selesai. Leeteuk dan Kangin terus menggumamkan doa-doa untuk keselamatan Donghae. Mereka takut akan terjadi sesuatu pada Donghae. Dan rasa khawatir itu bertambah ketika seorang suster keluar dengan raut wajah cemas.

"apa yang terjadi?", tanya Leeteuk dengan khawatir.

"pasien kehilangan banyak darah, dan saya harus mengambil kantong darah untuk pasien", ucapan suster tersebut sontak membuat kaki Leeteuk melemas dan terduduk dilantai rumah sakit.

"sssttt uljima, Donghae akan baik-baik saja", ucap Kangin menenangkan dan memeluk erat Leeteuk.

2 jam berlalu setelah Donghae kehabisan banyak darah, akhirnya lampu operasi menandakan tela selesai. Setelah dokter keluar, Leeteuk dan Kanginpun menghampiri dokter tersebut.

"bagaimana operasinya dok?", tanya Kangin tak sabar.

"operasinya berhasil walaupun pasien sempat kehabisan banyak darah. Tapi kita juga harus menunggu keadaan pasien setelah dia sadar nanti. Saya permisi dulu", dokter pun meninggalkan mereka berdua.

Tanpa bisa berkata-kata lagi Leeteuk dan Kangin hanya saling memandang dan akhirnya Leeteuk memeluk Kangin. Keterkejutan Kangin tak bertahan lama dan dia pun membalas pelukan Leeteuk.

"gomawo", ucap Leeteuk yang ditujukan untuk Kangin.

"sudah seharusnya", jawab Kangin.

=====0000=====

Sehari setelah dioperasi akhirnya Donghae sadar. Leeteuk dan Kangin pun cemas akan keadaan Donghae. Setelah Donghae membuka matanya dia mengerjapkan matanya untuk membiasakan diri terhadap cahaya yang masuk.

"appa.. hyung..", ucap Donghae lemah.

Leeteuk dan Kanginpun menghela nafas mereka, ternyata Donghae masih mengingat mereka dan tak memungkiri Donghae takkan bisa melihat. Tapi saat Donghae meminta bangun dan segera memeluk Leeteuk.

"hyung,, aku tak melupakanmu dan tetap bisa melihatmu", ucap Donghae. Dan membuat Leeteuk maupun Kangin merasa bahagia.

"sudah hyung bilang, Hae takkan apa-apa. Hyung tak pernah berbohongkan", ucap Leeteuk sambil menghapus airmatanya. Dia bahagia karena adiknya sembuh tanpa kekurangan apapun.

"Hae tak rindu dengan appa eoh?", ucap Kangin berpura-pura sedih.

"aniya!", teriak Donghae lalu memeluk hyung dan appanya.

Setelah Donghae tertidur, Leeteuk dan Kangin keluar untuk berbicara berdua. Tapi sudah sejak 30 menit yang lalu mereka tetap saja bungkam.

"gomawo", gumam Leeteuk memecahkan pembicaraan.

"Donghae juga anakku. Jadi tak perlu berterima kasih", Kangin tersenyum dan mendekat kearah Leeteuk.

"boleh aku memelukmu?", Leeteuk meminta izin dan hanya dijawab anggukkan oleh Kangin. Dan seketika Leeteuk sudah berada didekapan Kangin.

Dan tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan dengan senyum yang mengembang diwajah cantiknya.

=====0000=====

Seminggu setelah operasi dan saat itu pula Donghae diizinkan pulang. Betapa bahagia dirinya karena bisa pulang dan karena bisa berkumpul dengan keluarganya. Ya, Leeteuk memutuskan untuk menerima tawaran tinggal bersama dengan Kangin. Walaupun belum bisa memanggil Kangin appa seperti Donghae tapi Leeteuk sekarang sudah bisa dekat dengan Kangin.

Mereka lalui hari kepulangan Donghae dengan terus tertawa bersama, menghilangkan beban yang sudah berlalu. Tak ada lagi kecanggungan yang tercipta melainkan kehangatan disetiap waktunya.

"hyung bagaimana kalau kita liburan bertiga?", ajak Donghae.

"tapi kan Hae baru pulang dari rumah sakit", jawab Leeteuk sambil merapihkan barang-barang. Donghae sontak mengerucutkan bibirnya karena permintaannya tak dikabulkan.

"merajuk eoh?", goda Kangin dan tertawa bersama dengan Leeteuk. Tawa mereka semakin menjadi ketika Donghae menambahkan kerucutan dibibirnya.

"bagaimana kalau ini permintaan terakhirku?", ucapan Donghae tersebut sontak membuat Leetuk dan Kangin menghentikkan tawanya.

"baiklah..baiklah kita bertiga akan berlibur. Tapi jangan katakan hal-hal seperti itu lagi ne", akhirnya Kangin menerima ajakan Donghae dan Leeteuk hanya menyetujui dengan anggukkannya. Mereka memikirkan omongan Donghae beberapa hari ini yang sangat aneh apabila tak diizinkan, seperti orang yang akan pergi selamanya.

Tetapi mereka hilangkan perasaan itu dan berpikir itu cara rajukan Donghae agar menuruti pintanya.

"YEAY! Bagaimana kalau kita kepantai?", seru Donghae semangat dan membuat Kangin dan Leeteuk kembali dari lamunan mereka.

"apapun untukmu Hae", ucap Leeteuk memeluk Donghae dan tanpa sadar meneteskan air mata. Kangin pun mendekat dan mengusap sayang kepala Donghae. Serta memberitahu Leeteuk dengan matanya bahwa semua akan baik-baik saja. Walaupun dia sendiri ragu dengan pikirannya sendiri.

Akhirnya hari itu juga mereka pergi kepantai, karena Donghae yang terus merengek segera pergi. Karena takut kuping nya menjadi iritasi Leeteuk membujuk Kangin untuk segera pergi.

Dan disinilah mereka didalam mobil yang akan membawa mereka pergi berlibur. Tawa riang Donghae mengisi perjalanan mereka. 2 jam mereka lalui dan sampailah mereka ditempat tujuan. Karena hari sudah malam Kangin memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu dan besok akan bermain.

Tapi karena rengekan Donghae yang semakin menjadi ketika sampai ditempat tujuannya dan omongan aneh Donghae membuat mereka bertiga kini tengah duduk ditepi pantai. Menikmati angin malam yang sangat dingin tapi tidak dipikirkan oleh mereka.

"gomawo appa", ucap Donghae memeluk tangan Kangin

"dan gomawo hyung", lanjut Donghae sambil memeluk tangan Leeteuk dengan tangan yang bebas.

"aku bersyukur bisa bertahan sampai sekarang. Bisa bertemu dengan appaku lagi. Dan bisa kembali merasakan kehidupanku yang sehat", ujar Donghae. Kangin dan Leeteuk hanya bisa terdiam membiarkan Donghae berbicara, mungkin inilah kesempatan terakhir mereka mendengar suara Donghae.

"hyung.. maaf selalu membuatmu khawatir dan maaf membuatmu bekerja keras untuk diriku. Aku benci ketika aku hanya bisa menyusahkan mu saja tanpa bisa membantu. Makanya diam-diam aku bekerja dikeadi eskrim tersebut", Donghae menarik napas dan mulai melanjutkan ucapannya.

"appa.. terima kasih untuk segala yang kau berikan selama ini. Maaf yang selalu membuatmu menangis karena penyakitku kemarin. Diam-diam aku melihat appa sedang menangis ketika aku tidur. Padahal appa tidak pernah menangis ketika aku bangun", Donghae menghapus iar matanya yang jatuh.

"aku tak tahu dengan cara apa, aku bisa membalas kalian. Aku mencoba bertahan sampai sekarang adalah bukti terimah kasih ku pada kalian", lanjut Donghae. Dan membuat Kangin dan Leeteuk tak bisa menahan air mata yang semenjak tadi ditahan.

"aku tahu bahkan sangat-sangat tahu kalau aku tak bisa lama bertahan. Tapi, apakah salah aku ingin merasakan kebahagiaan bersama dengan kalian. Aku takut tak bisa melihat senyum hyung lagi walaupun dalam keadaan susah", Donghae mengeratkan Pelukannya pada tangan Leeteuk.

"aku takut tak bisa melihat appa yang selalu tegar ketika aku dalam keadaan kritis. Aku takut tak bisa lagi merasakan kasih sayang bahkan cinta yang kalian berikan. Maka dari itu aku bertahan sampai akhir. Tapi bukankah aku tak boleh egois, aku ingin sekali tetap disini bersama tapi speretinya aku tak sanggup lagi", Donghae mengeratkan juga pelukannya pada Kangin.

"boleh kah aku meminta satu permmintaan terakhir untuk hidupku", tanya Donghae. Hanya anggukan lah yang menjadi jawaban dari Kangin dan Leeteuk karena mereka tak sanggup lagi berbicara.

"aku ingin Teuki Hyung memanggil ahjussi ini dengan sebutan appa", canda Donghae.

"cepat waktuku tak banyak", lanjut Donghae.

"ap..ppa hiks.. gomawo", ucap Leeteuk diiringi dengan tangisnya.

"gomawo hyung.. appa jaga hyungku yang baik hati ini yah dan hyung jaga appaku yang tampan ini. Aku lelah boleh aku tidur", pinta Donghae dan dijawab gumaman oleh keduanya.

"bintang disini sangat indahkan, nanti aku akan jadi salah satunya. Gomawo", tangan Donghae terjatuh lemas kepasir pantai dan ucapan tersebut menjadi akhir ucapan Donghae yang sudah menutup matanya. Pergi meninggalkan Leeteuk dan Kangin dan menuju keabadian yang sesungguhnya.

"hiks..hiks.. mianhae ..hiks..hiks", Leeteuk memeluk Donghae erat dan mengeluarkan isakan pilunya, begitu pula dengan Kangin dia menggenggam erat tangan Donghae yang terjatuh tadi.

'terima kasih telah memberikan kesempatan untuk appamu ini menebus kesalahan dimasa lalu. Maaf karena sudah membuat separuh hidupmu dengan kesusahan. Appa akan selalu mencintaimu dan akan menjaga hyungmu sampaikan maafku pada eommamu ne. Saranghae nae aegy, jeongmal saranghae' Kangin

'terima kasih untuk waktu yang telah kita lewati bersama sampai hari ini. Maaf tak pernah membuatmu merasakan kebahagian yang nyata. Maaf membuatmu menunggu untuk kesembuhanmu. Aku akan selalu hidup bersama dengan appa kita, sampaikan maafku untuk ibu tak bisa menjaga mu lagi. Saranghae.. Jeongmal Saranghae nae saengi' Leeteuk..

End...

Huwaa cerita apaan ini?

Maafkan sekali lagi yah karena ceritanya aneh dan ajaib..

Big thanks untuk

Mmm | Elfishy | Guest | arumfishy | Dew'yellowYulika19343382

Review lagi yaaa