Boys Before Flower Versi SasuNaru

Well… Nay mendadak pengen nulis padahal kemarin udah niat hiatus. Gara-gara lagi bete.

Kali ini… Nay terinspirasi dari drama korea favorite Nay. Tapi bukan berarti jiplak loh. Ini Nay cuma ngambil inti ceritanya di awal doang kok. Hehehe

Judul ma inti ceritanya doang yang sama, tapi jangan kaget kalo alurnya itu beda jauh dari drama aslinya.

Summary : F4? Tahu dong! Mereka adalah empat orang pemuda tampan yang menjadi pangeran terkenal di KHSI. Tidak ada yang berani melawan kehendak para penguasa sekolah kecuali jika ingin diberi kartu merah. Gank itu diketuai Sasuke loh. Eh, tapi kenapa ada si pirang yang berani melawan saat Deidara, sepupunya dibully? Apa yang akan dilakukan F4 pada Naruto? YAOI.

Disclaimer

Mashashi Kishimoto sensei have Chara. Yang lainnya asli dari pemikiran otak bebal Nay. Nyontek drama korea dikit sih. hehehe

Rating

T (Nay turun rating. Hehe)

Pairing

SasuNaru – ItaKyuu

Slight

SasoDei, GaaNaru, ShukaGaa

F4 : Sasuke Uchiha, Itachi Uchiha, Sabaku Gaara, Akasuna Sasori

Warning

OOC, YAOI, miss typos, sedikit lime mungkin?

NO LIKE DON'T READ

Chapter 1

Hhh… seorang pemuda pirang bermata sapphire hanya menghela napas saat melihat salah satu temannya lagi-lagi menjadi korban bully. Dikejar-kejar banyak siswa dan siswi dari lapangan basket KHSI menuju gerbang sekolah berusaha melarikan diri.

Mata sapphire itu mengawasi dari jendela kelasnya yang terletak di lantai empat, menatap orang yang jadi sasaran bully dengan sorot iba. Ia ingin membantunya, tapi tidak mau terkena imbasnya. Lagipula ia sudah berjanji pada kedua orangtuanya di sekolah yang kali ini tidak akan berulah.

Apalagi saat mengingat kakaknya, yang tahun ajaran ini akan ikut pindah ke sekolahnya. Kakaknya itu sudah seperti stalker yang mengetahui setiap gerak-geriknya, mengawasi dan memperingatkan si pirang kalau sudah menunjukkan tindak-tanduknya.

"Jangan bersikap sok pahlawan lagi, Naru. Kaa-san mohon," pinta ibunya lirih saat tahun ajaran kemarin ia lagi-lagi dikeluarkan dari sekolah. Orangtuanya terpaksa mengajak pindah dari Suna ke Konoha hanya untuk menjaga nama baik keluarga Namikaze yang sempat dicoreng tingkah putra bungsu mereka.

Naruto sebenarnya bukan pemuda bandel. Ia selalu menjadi pelajar yang baik di sekolah-sekolah lamanya. Walau pun kemampuan otaknya bisa dibilang pas-pasan, tapi karena sikap ramahnya ia disukai banyak orang dan tidak pernah terlibat masalah.

Hanya satu sifatnya saja yang membuat ia sudah dua kali dikeluarkan dari sekolah.

Naruto tidak pernah tinggal diam kalau melihat ada salah satu temannya dibully. Padahal di setiap sekolah pembully-an itu pasti ada. Terutama jika ia selalu masuk ke sekolah kawasan bangsawan elite yang merasa angkuh karena apa yang mereka punya? Menindas para kaum tidak punya yang mengandalkan sekolah dari beasiswa.

Naruto selalu membela teman-temannya yang lemah, dan guru yang tidak mau tahu atau bisa dibilang menutup mata karena malas berurusan dengan para keluarga bangsawan pada akhirnya hanya bisa mendesah pasrah dan meminta Naruto secara baik-baik keluar dari sekolah.

Yah! Sebenarnya Naruto tidak bisa dibilang berasal dari kaum tidak berada. Ayahnya Namikaze Minato, adalah seorang direktur perusahaan travelling yang bisa dikatakan sukses. Hanya saja tentu karena ia selalu sekolah di kawasan elite, masih jauh lebih banyak lagi anak dari pengusaha yang jauh lebih kaya dari keluarganya bersekolah di sana. Hal itulah yang membuat guru pun lebih memilih mengeluarkan Naruto daripada melawan para murid yang orantuanya menjadi investor terbesar di sekolah-sekolahnya.

Kali ini… Naruto sudah bertekad untuk tidak membuat ulah. Dalam satu tahun terakhir ia sudah dua kali dikeluarkan dari sekolah. Dan saat ini, ia baru duduk di bangku tingkat XI. Berubah menjadi sosok pendiam yang lebih sering mengasingkan dirinya. Muak pada para anak pengusaha kaya yang berada di sekelilingnya.

Konoha High School International. Itulah tempat kini Naruto bersekolah. Sekolah terelite dan termewah di Jepang yang begitu diimpikan banyak orang agar bisa menempuh pendidikkan di sana. Tidak sembarang orang bisa masuk sekolah itu, mereka yang ada di sana adalah sekumpulan orang kaya yang berprestasi dan ternyata Naruto bisa masuk dua kategori tersebut.

Naruto yang memang kurang ahli dalam pelajaran akademik justru memiliki keterampilan di non-akademik seperti olahraga. Membuatnya cukup diminati banyak murid karena sikapnya yang ramah walau tak terkesan berlebihan.

"Naruto! ayo kita ke cafetaria!" ajak seorang pemuda lainnya dengan suara cempreng. Membuat Naruto tersentak lalu menoleh. Tersenyum tipis saat tahu orang yang memanggilnya itu adalah sang sepupu, Namikaze Deidara. Deidara juga lah yang mengusulkan pada Minato dan Kushina agar Naruto masuk saja ke sekolahnya. Karena dengan itu, Deidara bisa terus mengawasinya.

"Baiklah!" Naruto berdiri dan sedikit melonggarkan dasinya. Melangkah gontai menghampiri Deidara yang sudah lebih dulu berjalan dan menunggunya di lubang pintu kelas.

Lalu mereka berdua beriringan menyusuri koridor sekolah yang ramai karena ini memang sudah masuk jam istirahat. Menuju cafetaria sekolah yang jauh lebih tepat jika dianggap restoran mewah. Interiornya sudah seperti restoran di hotel bintang lima dengan menu makanan yang tidak kalah mewahnya, tentunya harganya pun sebanding dengan kualitas dan rasanya.

"Sudah dua bulan kau di KHSI, dan aku senang karena kau tidak membuat ulah." Deidara yang lebih pendek dari Naruto itu merangkul bahu si pirang jabrik sambil tersenyum lebar. Menanggapi pendapat sepupunya, Naruto hanya tersenyum kecut dan kembali meluruskan pandangannya. Menghela napas saat melihat sekumpulan siswa dan siswi yang sudah berjajar rapi di kedua sisi pintu kantin sekolah.

Menyambut mereka?

Tentu saja bukan.

Naruto melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul sepuluh lebih lima belas menit. Itu artinya tidak lama lagi akan ada sekumpulan manusia angkuh yang menjadi idola sekaligus penguasa sekolah. Empat orang manusia berwajah datar yang begitu santainya menyakiti orang-orang yang mereka anggap mengusik ketenangan mereka.

Tidak segan membully siapa pun dengan kartu merah yang selalu ditempelkan sang ketua di loker musuh-musuhnya. Membuat murid itu mengalami penyiksaan batin dan fisik yang bisa membuatnya gila kalau tidak segera keluar dari sekolah.

"KYAAAAA… F4!"

"SASUKE-KUN!"

"ITACHI-SENPAI!"

"GAARA-KUN!"

"SASORI-SENPAI!"

Dan kini seisi ruangan itu gaduh begitu empat pemuda yang sejak tadi diteriaki oleh para fansnya itu memunculkan dirinya dari balik belokan menuju cafeteria. Tampak tetap tidak terusik sekali pun suara berisik fansgirls maupun fansboys meneriaki nama mereka dengan suara yang menyakitkan telinga.

Menyadari akan kehadiran f4, Deidara segera menyeret Naruto ke samping untuk memberi jalan. Merasa yakin bahwa orang yang dimaksud teman-temannya itu kini berjalan tepat di belakangnya.

Naruto memasang wajah datar seperti biasanya, tidak memedulikan Sasuke cs yang berjalan angkuh melewatinya, sesekali bergumam tidak jelas karena kesombongan para penguasa sekolah yang tidak pernah mau mengenakan gakuren kebanggaan KHSI?

Cih!

Sombong sekali…

Mentang-mentang KHSI itu adalah salah satu sekolah milik klan Uchiha.

.

Naysaruchikyuu

.

.

"Ne Naruto, kau mau makan apa? Biar aku yang traktir. Wajahmu mendadak kusut semenjak kedatangan f4." Deidara duduk di samping Naruto. berdua di belakang meja café yang mulai ramai. Sedikit memelankan suaranya agar tidak terdengar oleh orang-orang yang ia gosipkan. Tidak mau menjadi sasaran bully selanjutnya dan terpaksa harus keluar dari sekolah. Padahal jarak mejanya dengan jarak meja yang disediakan khusus untuk f4 cukup jauh.

"Aku mau ramen saja, Dei. Dan… jus jeruk, mungkin." Naruto berkata malas. Deidara mengangguk setuju. Ia segera berjalan menuju counter dan memesan makanan untuk dirinya dan sang sepupu.

Sementara Deidara memesan makanan, Naruto mulai menyapu pandangannya malas. Memperhatikan orang-orang seisi kantin yang tampak tidak bisa makan dengan tenang. Hanya satu meja saja yang terlihat para penghuninya itu saling perang diam. Tak ada satu pun yang bicara seolah itu bisa menghancurkan harga diri mereka.

Naruto sangat membenci f4. Di matanya mereka tak lebih dari sekumpulan kuman yang dibaluti tubuh rupawan. Bersikap seenaknya seolah mereka lah manusia yang paling sempurna. Sampai kemudian mata Naruto beradu tatap dengan mata emerald sang Sabaku Gaara. Saling menatap beberapa detik sampai kemudian si pirang itu mengalihkan pandangannya.

Ngh…

Mungkin tidak semuanya…

Di antara f4, ada Gaara yang sikapnya jauh lebih berbeda. Tidak terkesan sombong sekalipun wajah stoicnya. Bahkan entah itu hanya perasaannya atau tidak?

Naruto selalu merasa Gaara sering menatapnya, memperhatikannya.

Dan jujur saja hal itu membuat Naruto terkadang salah tingkah.

"Apa yang kau lihat Gaara?" Tanya Sasuke yang sejak tadi melirik Gaara tampak melamun dengan tatapan kosong. Penasaran juga dengan hal yang membuat sahabatnya itu tertarik.

"Tidak ada." Gaara mengalihkan perhatiannya ke piring berisi spageti di depannya, kembali mengaduk-aduknya dengan garpu lalu kemudian memutar garpunya dan melahap spageti itu tak berminat.

Melihat itu Sasuke hanya mendengus lalu kembali meraih cangkir kopinya, meneguk kopi hitamnya itu pelan-pelan sambil menatap sup tomat di depannya tidak tertarik.

Bosaaaaan….

Hal itulah yang tengah dialami sang bungsu Uchiha. Merasa belakangan ini tidak pernah ada satu pun hal yang menarik perhatiannya. Ia mulai jenuh dengan kehidupannya yang datar-datar saja. Tidak punya semangat hidup karena semua hal yang diinginkannya selalu bisa dimilikinya dengan mudah.

Lain Sasuke, lain Itachi. Itachi tampak sedang memainkan ponselnya sambil tersenyum dalam hati. Walau pun wajahnya tetap menunjukkan ekspresi datar tak berarti, namun itu sangat berbanding terbalik dengan kondisi hatinya saat ini. Itachi yang sebenarnya mesum itu ternyata sedang memperhatikan foto beberapa gadis bugil yang ia koleksi. #Naysweatdrop

Lalu di depan Itachi, duduklah Akasuna Sasori. Pemuda berwajah baby face itu justru tampak asyik memeriksa bagian dalam robot buatannya yang semalam rusak karena tidak sengaja ditindih Itachi. Semalam Itachi memang menginap di rumah Sasori, tidak mau pulang karena bosan. Dan dengan tidak tahu dirinya, Itachi justru meremukkan bagian dalam komponen robot kesayangannya itu.

Membosankan… desah Sasuke dalam hati. Sampai kemudian matanya menangkap sesosok pemuda pirang panjang yang tampak sibuk di depan counter. Pemuda itu cerewet sekali, sampai suara cemprengnya yang sedang memesan makanan terdengar oleh Sasuke.

Sasuke memperhatikan si pirang panjang sambil menyeringai. Tiba-tiba ia berdiri membuat kursi yang didudukinya itu terdorong mundur. Menimbulkan suara decit yang sekalipun pelan, tapi mampu membuatnya kini menjadi pusat perhatian.

Menyadari kakak dan kedua temannya kini mendongak menatapnya heran, Sasuke tersenyum sinis. Ia menghela napas lalu memutar lehernya, "Waktunya bermain…" desisnya mengerikan.

Mendengar itu ketiga orang yang tadi menatapnya kini sibuk kembali menunduk dengan kegiatan semula. Sudah tahu apa yang akan dilakukan Sasuke ketika bosan atau saat mengatakan ini adalah waktunya bermain.

Permainan yang mengerikan lagi pastinya.

Manusia sial mana yang kali ini akan menjadi korbannya?

Entahlah! Ketiga orang itu tampak sama sekali tidak peduli. Sudah biasa!

Sasuke berjalan pelan menuju counter, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans hitamnya dengan tatapan terarah.

Terarah pada pemuda pirang yang kini berbalik dan…

Brak! Prang!

"Astaga!" pekik Deidara kaget. Ia menabrak seorang pemuda jangkung dan menjatuhkan nampannya. "Go-gomen, aku tidak melihatmu tadi… go-go-" Deidara mendongakkan kepalanya, ia semakin terbelalak saat tahu siapa orang yang ditabraknya?

Dan kuah ramen panas, jus jeruk, spageti yang dibawanya tadi kini mengotori kaos hitam sang Uchiha muda. Kulit putih Sasuke sedikit memerah karena kuah ramen yang tadi juga mengenainya. Panas!

Sasuke mendesis geram saat si pirang itu kini balas menatapnya. Ia memberi deathglare terbaiknya membuat Deidara menelan ludah gugup ketakutan.

Demi Tuhan! Katakan ini mimpi buruknya!

Ia tidak sedang berhadapan dengan Uchiha Sasuke kan?

"Menasai…" lirih Deidara menyelesaikan kalimatnya yang tadi sempat terhenti. Namun dari sorot mata yang begitu mengintimidasi sang Uchiha saja, Deidara tahu… ia tidak akan selamat kali ini.

Kini ia menjadi pusat perhatian manusia seisi café. Menatapnya prihatin karena sudah melakukan kesalahan fatal tak termaafkan. Sedangkan ketiga orang yang selalu mengikuti Sasuke hanya menatap si pirang manis itu kasihan. Mereka tahu kecelakaan ini hanya akal-akalan Sasuke saja untuk mencari masalah.

"Kau…" desis Sasuke murka. "Bukan hanya mengotori bajuku, sepatuku, tapi juga membuat kulitku terkelupas." Imbuhnya lebay. Padahal hanya merah dan dalam beberapa menit juga akan hilang. Tapi Sasuke yang memang senang membuat orang lain ketakutan sengaja mendramatisir.

"A-aku tidak sengaja Uchiha-san. Ma-maafkan aku." Deidara membungkuk dalam. Benar-benar takut akan nasibnya di masa depan. Demi Tuhan ia sangat paranoid saat ini.

"Bersujud di kakiku… dan aku akan memaafkanmu." Kata Sasuke sadis. Masih dengan nada datar dan wajah stoic andalannya. Mendengar itu mata Deidara membola tak percaya.

Apa dia bilang?

sujud?

Deidara menelan ludah semakin tegang, ia menegakkan tubuhnya dan menatap Sasuke dengan sorot bingung.

Jahat sekali!

Seumur hidup Deidara bahkan tidak pernah diperlakukan sehina ini oleh seseorang. Ia tidak pernah mengalami dijatuhkan sampai ke titik terendah.

Tapi saat sadar percuma saja kalaupun melawan, dengan konsekuensi ia bukan hanya akan dibully tapi juga dikeluarkan. Deidara tahu ia sama sekali tidak punya pilihan. Ia mulai hendak bersujud sampai tiba-tiba ada seseorang yang mencengkeram kedua bahunya. Menarik Deidara agar kembali berdiri tegak dan mendorongnya mundur.

"Kau bilang apa, Teme? Sujud? Ini sujudnya untukmu!"

Bugh!

Satu kepalan tinju mendarat telak di pipi Sasuke. Pemuda pirang lain yang tingginya hampir sepelipis Sasuke itu meninju sang Uchiha muda tanpa ragu. Mengerahkan seluruh tenaga dan kekuatannya agar si sombong Uchiha itu terpental jauh menubruk meja.

"Semoga kau suka 'sujud'ku itu!" kata Naruto sambil tersenyum iblis. Lega sekali karena akhirnya bisa memukul si rambut raven yang begitu dibencinya selama bersekolah di KHSI.

Semua orang menatap Naruto horror, Deidara bahkan nyaris pingsan karena lagi-lagi sepupu kesayangannya itu berulah. Bahkan sekarang ia mencari masalah dengan seseorang yang mampu menghancurkan bisnis orangtuanya?

Astaga! Naruto benar-benar nekad kali ini.

Itachi geleng-geleng pelan.

Sasori bersiul genit.

Sementara Gaara nyaris menyembunyikan senyumnya karena kagum pada keberanian si bungsu Namikaze yang selama ini selalu menyita perhatiannya.

Lalu…

Bagaimana dengan Sasuke sendiri?

Ia kembali berdiri tegak sambil mengelap darah segar yang menetes dari sudut bibir kirinya yang sobek. Menatap sosok orang yang berani memukulnya itu bengis dengan rahang mengetat yang siap mengeluarkan segala sumpah serapahnya pada si Namikaze.

"APA YANG KAU LAKUKAN? BRENGSEK?!" teriaknya menggema.

Tebese!

Well… Nay agak bosan karena tiap ff yang Nay buat itu hampir semua –atau mungkin emang semua- selalu diawali langsung Sasuke yang jatuh cinta ma Naruto. di sini Nay pengen bikin cerita benci jadi cinta dengan RATED T! hahaha!

Ini ff multichapter pertama Nay yang berated T. nay ampe gak nyangka. Tapi sejujurnya Nay emang lebih cocok di rated ini, Nay belum bisa bikin lemon yang gimanaaaaa gitu? Masih kesusahan juga. Hehe

Semoga kalian suka sama ff abal Nay ini.

RnR Pliiis!