Tak tak tak tak!

"Apa yang harus kulakukan, Simon?"

"Hmm.."

Tak tak tak tak!

"Jangan bergumam saja dong, aku sedang butuh bantuanmu!"

"Aku tidak tahu, coba dulu ikuti. Mungkin terbiasa Shizuo ya?.."

Tak tak tak!

"Terbiasa apanya! Aku tidak akan pernah bisa terbiasa dengannya!"

CTAK!

Pemuda berkulit hitam gelap itu menghentikan kegiatannya—memotong sesuatu—lalu menatap seorang bersurai kuning yang sedang duduk dihadapannya sambil memasang wajah frustasi. "Shizuo, perkataan aku 'coba dulu' kan? Makanlah sushi, ini adalah yang terbaik!" ujar pemuda yang bernama Simon, sang pemilik kedua restaurant Russian Sushi di Ikebukuro dengan aksen Jepangnya yang kacau.

Sekarang, Shizuo—laki-laki berambut kuning yang kusebutkan tadi—mengambil satu sushi di piring kayu dan mengeluarkan air matanya.

"Hei, menangis, jangan.. masalah selesai pasti!" Simon gelagapan berusaha membuat Shizuo berhenti menangis.

Bagaimana tidak gelagapan? Baru kali ini pemuda terkuat di Ikebukuro menangis! Beruntung tidak dilihat banyak orang.

"Shizu—"

Tiba-tiba panggilan Simon terpotong dengan datangnya kursi melayang kearah pemilik restoran itu, untung saja tangan besarnya langsung menghentikan 'kegiatan melayang' sang kursi, kalau hancur seisinya? Bisa-bisa meledak tempat itu.

"Aku tidak menangis gara-gara itu!"

"Kenapa kau menangis.. Shizuo?" ucapnya kemudian dengan suara tetap datar.

"Gara-gara bawang bombay kebanyakan yang kau sediakan untukku!"

.

.

.

Disclaimer : DURARARA! selalu punya Narita Ryohgo-san. SELALU punya dia, kalau punya saya bersiap-siaplah Shizu-chan dan Izaya ku persatukan! #dilempar sendal

Warning, warning! : sedikit bumbu OOC, alur engga jelas, Humor fail?, IzayaxShizuo

Don't Like, Don't Read ya :3

.

.

.

Monster dan Kutu

. . .

Kesialan Shizuo yang pertama datang pada hari dimana dia pulang bekerja—menjadi bodyguard Tom. Rumahnya sudah hancur berantakan bersama isinya hanya karena pohon besar tumbang didepan rumahnya.

Merasa kesal karena telah menghancurkan tempat tinggal tercintanya, Shizuo mengeluarkan sumpah serapahnya dan menghajar pohon tersebut.

Ya, sebuah pohon.

Setelah satu jam mengamuk kepada sang pohon yang sudah terbagi-bagi dan siap dijual kepada tukang bangunan, dia membawa potongan balok kayu itu ke kuli bangunan terdekat. Nampaknya, Shizuo akan berubah profesi menjadi tukang kayu.

Satu jam dirinya melampiaskan emosi kepada pohon malang tersebut, kini Shizuo mondar-mandir didepan rumah hancurnya. "Kuso.. kuso.. aku harus apa setelah ini!?"

"—eh? Shizu-chan kasihan ya~"

Seketika, kaki Shizuo berhenti. Dialihkan pandangannya ke asal suara yang menegurnya tadi—lebih tepatnya mengejek atau menghina? Atau meledek?

Pemuda berpakaian bartender lengkap itu langsung tahu siapa yang melontarkan ejekan disertai suara riang. Siapa lagi kalau bukan Izaya Orihara. Sang kutu yang selalu mengetahui keberadaannya, apa yang dilakukannya, apapun yang berhubungan dengan dirinya.

"Izaya, saat ini aku tidak ada niat untuk—"

"Aku tahu kok!"

"Eh?"

"Aku ingin membantumu, Shizu-chan~"

Shizuo pun kebingungan, tidak biasanya Izaya baik meski nada bicaranya sedikit menyebalkan.

"Aku bisa menyediakan kamar sebelahku yang masih kosong untukmu. Yah, itu pun kalau kau mau tinggal bersamaku, bagaimana~?" lanjut Izaya.

Melihat sang bartender masih diam tanda berpikir, Izaya tertawa kecil, "Datang saja ke apartemenku, jaa matta ne!". Setelah kalimat itu berakhir, laki-laki berjaket bulu itu menghilang.

Shizuo hanya membatin, bingung mengapa kutu tengik itu mau menyediakan tempat untuknya? Atau jangan-jangan dia punya siasat? Yang penting dia harus mencari tempat tinggal bersama orang lain.

Apartement Shinra..

"Tidak bisa Shizuo, aku mengerti keadaanmu tapi.. disini sudah ada ayahku dan Celty" kata pemuda berjas dokter serta berkacamata setelah ditanyai 'apa-aku-bisa-tinggal-ditempatmu?' dan tentunya setelah di ceritakan bagaimana nasib yang menimpa rumah tercinta Shizuo.

Apartement Kida..

"B-Begitu ya, Shizuo-san.. t-tapi r-ranjang hanya satu d-dan tidak ada sofa.." Kida tergagap-gagap menjawab pertanyaan sang bartender malang. "Yah sudah, tapi kenapa cara bicaramu begini?" tanya si bartender. Ternyata dia sama penasarannya dengan author yang bingung karena Kida seperti itu.

"i-iie.. nande mo.."

Shizuo pun pamit pergi dan saat dia berdiri didepan pintu apartement, tampaklah raut wajahnya yang berpikir. 'Mungkin dia takut padaku ya?', kemudian dia mengangkat bahu, memasukkan tangannya ke saku.

. . .

Sudah berjam-jam dia pergi ke tempat orang yang ia kenali—Shinra, Kida, Mikado, Kadota—tapi jawabannya sama—"tidak bisa".

Mau sewa apartement lain untuk sementara, dia tidak punya cukup uang. Pinjam uang kepada Tom? Dia saja membantu bosnya itu untuk menagih uang, masa yang menagih ditagih balik? Kan tidak lucu..

Dia pun berjalan dengan arah tak tentu. Rokok yang menjadi candu kesehariannya itu sudah habis terhisap, sampai-sampai ia juga tidak sadar bahwa yang sekarang dihisapnya adalah ibu jarinya sendiri.

Tep!

"Ah, Shizuo.. mau makan sushi? Enak sekali loh. Ada telur ikan yang masih segar!" terdengarlah suara datar siapa lagi pemiliknya kalau bukan Simon. Kedua kaki Shizuo telah berada di depan restoran Russian Sushi ternyata.

"Simon, bisa kah aku berbicara denganmu didalam?" Shizuo tahu kalau penyebar pamflet itu tidak punya rumah atau kamar apartement, karena dia tinggal dengan rekan kerjanya. Tentu saja Shizuo hanya ingin meminta pendapat kepada Simon.

Mengapa harus Simon? Kan yang lain ada? Haah, jawabannya hanya author dan Kami-sama yang tahu..

.

.

.

"Maaf, bawang bombay banyak sekali. Jadi, sekarang kau tidak ada tempat tinggal lagi Shizuo, ingin tidur dijalanan?" tanya Simon lagi setelah menyelesaikan kegiatan 'lempar-tangkap' barang direstorannya. "Huft, baiklah akan kucoba tinggal dengan kutu tengik itu untuk sementara.."

Setelah tidak ada harapan lain, Shizuo membayar sushi, pamit dan berjalan menuju apartement Izaya.

Tanpa sadar, ada yang melihat gerak-gerik bartender itu sedari tadi. Sosok itu berdiri diatas atap dan menyeringai di bawah sinar rembulan. "Aku tahu kau akan pergi ketempatku, Shizu-chan.. Hehehe~". Sesegera lah dia menghilang dan pergi ketempat tujuan yang sama dengan pemuda yang diamatinya tadi.

.

.

To be continued

. . .

A/N : Nah~ fiksi gila ini jadi juga ternyata~ Gomen bagi yang merasa pendek, karena ini baru perawalan XD Tinggalkan jejak ya~

Review, min'na? :3

Next in Monster dan Kutu : Chapter ii. Tempat Baru, Penghuni Baru?