Bulan kembali ke peraduannya ketika mentari menggeliat malas di ufuk timur. Selendang gambogenya terjulur sampai ke ujung lain dunia—mungkin. Mengapa dia harus peduli ketika sebuah artikel di majalah wanita yang ada di pangkuannya menyita seluruh afeksi?

Sandal rumah yang bergesek-gesek dengan lantai marmer terdengar dari arah dapur rumahnya—mungkin istrinya yang datang membawakan sarapan. Panik tiba-tiba, dia menyembunyikan majalah itu di bawah pantatnya sendiri—setelah sebelumnya hampir melempar majalah istrinya keluar jendela.

Untung tepat waktu, karena yang datang benar-benar istrinya.

Serius, deh. Bakal jauh lebih baik kalau yang datang anaknya atau salah satu dari pembantu rumahnya. Atau mungkin Ash—kucing anggora peliharaan anaknya. Siapapun terdengar lebih baik secara mendadak—tumben, mengingat dia begitu mencintai istrinya.

Well, setidaknya, anaknya atau pembantunya atau Ash tidak bakal banyak tanya kalau dia membaca artikel tentang trik dan tips untuk menggombal, kan?

"Tumben bangun pagi," dia nyesek, sejujurnya. Maksudku, apakah istrinya memandang dia sebagai seorang pemalas? "Nih ada poffertjes sama teh Quan Yim Edisi Spesial. Tapi kau harus mandikan Jose dulu," dasar. Istrinya memang memegang prinsip 'ada udang di balik batu', "Ah, tapi kau tetap harus berterima kasih padaku lho, Ñio, karena aku berusaha keras mendapatkan resepnya dari Broerku. Tahu kan, betapa pelitnya dia?"

Dia mengalihkan afeksi ke luar jendela, "A-ah. Iya. Terima kasih, Bella."

"Ya, ya. Lebih baik kau segera angkat pantatmu dari situ, Ñio, dan mandikan anakmu untuk menunjukkan rasa terima kasih itu."

Dia bergeming dan istrinya mulai tak sabar.

"Cepat sana! Kau tunggu dunia berhenti berputar atau anak kita mati karena bau tubuhnya sendiri, ha?" istrinya membentak galak.

"Iya, iya," sahutnya pelan sambil berdiri. Dengan tangan kanan menggenggam majalah di belakang tubuh.

Dia berjalan mundur—berharap istrinya tak mau tahu soal apa yang dia sembunyikan di belakang punggung. Dan ternyata, benar.

Dua langkah kemudian dia berhenti. Memandang punggung istrinya, memantapkan hati, dan menyerukan 'Bella!' keras-keras. Istrinya menoleh.

"Kau... Apa kau tahu bedanya kau dan... ugh... semut?"

"Dia hewan, Ñio, dan aku manusia. Bukankah sudah jelas?" istrinya bertanya heran sembari menaikkan sebelah alis.

"Yang lain?"

"Aku benci semut tapi semut tidak membenciku—karena setiap butir gula pasir yang jatuh dari sendok tehku menjadi makanan mereka," wanita berambut pirang sebahu itu berbalik dan mulai membenahi kasur mereka yang berantakan, "Sudah, sana! Nanti Jose terlalu lama menunggu."

Dan Antoñio tidak pernah mengucapkan kalimat semanis madu yang seharusnya membuat istrinya lumer. Karena istrinya terlalu mementingkan Jose—anak mereka.

"Mungkin, aku punya anak terlalu cepat," gumamnya nelangsa.


I don't take any profit from this fanfiction, since i'm not the respective owner of hetalia. hetalia belongs to hidekazu himaruya.

Hai, nama saya Cavie. Author yang baru comeback setelah lama banget nggak nulis. hope you like this (i still hope everyone like it although i'm not sure. saya membuatnya dalam waktu tiga puluh menit, though) #soknginggris #dibakar.

soal judul... jangan tanya kenapa, plis.

well, review?

Cav allone, Cavie.