Requiem Series: The First

1: The Child of Universe


Summary: AU. "Aku butuh Anakmu." / "Tidak bisa! Kau tahu seberapa besar aku protektif kepadanya!" / "Tetapi hanya dia yang bisa!" / "Kalau begitu, bagaimana dengan Anaknya Prophecy didunia itu?!" / "Yang membuat Prophecy didunia itu adalah manusia! Bukan kita! Kau tahu seberapa buruknya Prophecy itu!" / First Requiem: Harry Potter.

Fandom: Cross-over P3Fes and Harry Potter.

Rating: T

Warning(s): OOC(s). OC(s). Typo(s). Multi-language. Ejaan Yang tidak Disempurnakan. Tata bahasa yang kacau.

Disclaimer: Not own anything. Except the OC(s). No more, no less.

A/N: Mohon 'tuk melihat/membaca A/N yang ada diakhir cerita. Terima kasih.

/o/\o\

The First Requiem

Chapter 1: The Letter

/o/\o\

"Halo, World. Sungguh jarang melihatmu mampir ketempatku." ucap Universe sambil menyeruput tehnya.

World hanya berdiam diri.

"Kemarilah." Universe menunjuk kursi yang ada dihadapannya, menyuruh World untuk duduk dihadapannya. World menurutinya.

"Nah," Universe meletakkan cangkir tehnya. "Apa yang kau inginkan?" tanya Universe datar.

"Salah satu Duniaku, sedang dalam masalah." ucap World pelan. Universe hanya mengangguk. "Dan aku butuh bantuanmu."

Universe mengangkat alisnya. "Duniamu yang mana?"

"Yang ada Tom Riddle."

Wajah Universe yang semula datar, menjadi lebih ekspresi. Lebih tepatnya, ekspresi marah. "Bantuan seperti apa yang kau inginkan?"

"Aku butuh Anakmu."

Wajah Universe menjadi lebih gelap. "Tidak bisa!" teriak Universe lantang. "Kau tahu seberapa besar aku protektif kepadanya!"

"Tetapi hanya dia yang bisa!" balas World yang juga tak kalah lantangnya.

"Kalau begitu, bagaimana dengan Anaknya Prophecy didunia itu?!"

"Yang membuat Prophecy didunia itu adalah manusia! Bukan kita! Kau tahu seberapa buruknya Prophecy itu!"

"Grr… Fine."

World menghela nafas lega. "Terima kasih." ucapnya sambil menundukkan kepalanya.

Universe menganggukkan kepalanya. "Kau berhutang padaku, World."

"Ya… Aku tahu." ucap World pelan sebelum ia bangkit dari kursinya.

"Dan World," panggil Universe sebelum World meninggalkan tempatnya.

"Ya?"

Universe memberikan tatapan dingin kearah World. "Jika sesuatu buruk terjadi pada Anakku…" Suara Universe semakin dingin. "Anakmulah yang akan menanggung semua akibatnya."

Wajah World menjadi pucat. Sekali lagi, ia menundukkan kepalanya sebelum ia pergi meninggalkan tempatnya Universe, dan Universe kembali melanjutkan meminum tehnya. Begitu World telah pergi, dan Universe telah menyelesaikan minumnya, ia memejamkan kedua matanya. Ketika ia membuka kedua matanya, ia sudah berada disebuah ruang angkasa.

"Hello, Little One." bisik Universe sambil mendekati sebuah patung manusia. Jari telunjuknya, menyentuhi dahi patung tersebut. Ketika jari telunjuknya ia tarik, keluar empat buah kartu dari dahi tersebut.

"Berhati-hatilah." ucap Universe, mengecup kening patung itu. Dan, keempat kartu tadi, menjadi satu dan memasuki patung itu lagi.

/o/\o\

"Kau memanggilku?" tanya Severus Snape, memasuki Headmaster's Office. Gerakan jubahnya mengikuti langkah kakinya dengan elegan.

Albus Dumbledore, hanya mengangguk. "Oh, yes, Severus. Duduklah." ucapnya sambil duduk dikursinya. "Sherbet lemon?" tawar Albus. Severus menggelengkan kepalanya. Albus hanya mengangkat bahunya sebelum ia memasukkan sebuah permen kedalam mulutnya.

Kemudian, Albus memberikan sebuah surat kepada Severus. Severus yang melihatnya, hanya berkata, "Tidak. Aku tidak akan memberikan surat kepada Muggle, Albus. Itu bukan tugasku."

"Tapi surat ini spesial, Severus." ucap Albus. "Karena 'Muggle' ini adalah saudara jauhmu yang hilang."

Severus mengangkat alisnya. "Seingatku, aku tidak memiliki sanak saudara." ucapnya pelan.

"Ibumu memiliki seorang bibi Squib, dan menikah dengan seorang Muggle, memiliki seorang anak perempuan dan menikah dengan pria Jepang."

Severus yang mendengarnya, langsung menatap tajam kearah Albus.

"Kalau kau mau, kau tak perlu memberitahukan bahwa kau adalah saudara jauhnya." lanjut Albus, sama sekali tidak terganggu dengan tatapan tajamnya Severus. Severus berpikir sejenak sebelum menganggukkan kepalanya.

"Fine." ucapnya ketus. Albus hanya tersenyum.

"Excellent!" ucap Albus sambil menepuk kedua tangannya. "Kau bisa memberikan suratnya sekarang, Severus. Have a nice day." Severus hanya menganggukkan kepalanya sebelum mengambil surat tersebut dan keluar dari Headmaster's Office dan berjalan keluar dari Hogwarts. Setelah itu, ia melangkahkan kakinya ke Hogsmeade Village. Ketika tiba di Hogsmeade Village, ia melihat alamat surat tersebut.

Dear Mr. M. Yuki,

Wool's Orphanage,

Room 5th, 3rd Floor.

London.

Severus mengangkat alisnya. 'Panti Asuhan?' batin Severus. Tiba-tiba, perasaannya menjadi tidak enak. Setelah membaca alamat surat tersebut, Severus langsung ber-Apparition dari sana. Dalam kedipan mata, Severus sudah berada disebuah gang kecil. Ia mengayunkan tongkat sihirnya, mengubah pakaiannya menjadi setelah hitam. Setelah itu, ia melangkahkan kakinya keluar dari gang itu, dan berjalan ketempat panti asuhan yang ia tuju.

Begitu tiba didepan pintu masuk, ia mengetuk pintu dan dua kali. Tak lama kemudian, seorang wanita membukakan pintu.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu.

"Saya ingin mengunjungi salah satu anak panti asuhan Anda." jawab Severus singkat.

Wanita tersebut hanya diam sebentar sebelum mempersilahkan Severus masuk. "Silahkan duduk, Tuan…?"

"Snape. Severus Snape."

Wanita tersebut mengangguk mengerti. "Siapa anak yang Anda maksud?" tanya wanita itu lagi.

"Mr. Yuki." jawab Severus singkat. Wanita itu hanya mengangkat alisnya sebelum ia memanggil anak yang dimaksud. Tak lama kemudian, wanita itu kembali bersama seorang anak laki-laki berambut biru dan bermata abu-abu dengan sedikit warna silver dikedua matanya.

"Mr. Yuki?" duga Severus meskipun ia sudah tahu jawabannya. Anak itu hanya menganggukkan kepalanya. Severus langsung memberikan surat tersebut kepadanya. Wanita yang berada dibelakangnya anak itu, terkejut melihatnya.

"Jadi Anda adalah seorang Professor?" tanya wanita itu.

"Darimana Anda tahu?" tanya Severus.

"Sekitar lima puluh tahun yang lalu, ada anak yang diterima disekolah itu." jawab wanita itu. Severus hanya mengangguk mengerti. "Aku akan meninggalkan kalian berdua. Jika kalian butuh aku, aku akan berada di dapur."

Setelah wanita itu pergi, anak berambut biru itu membuka isi surat tersebut dan membacanya.

HOGWARTS SCHOOL of WITCHCRAFT and WIZARDRY

Headmaster: Albus Dumbledore

(Order of Merlin, First Class, Grand Sorc., Chf. Warlock,

Supreme Mugwump, International Confed. of Wizards)

Dear Mr. Yuki,

We are pleased to inform you that you have been accepted at Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry. Please find enclosed a list of all necessary books and equipment.

Term begins on 1 September. We wait your owl by no later 31 July.

Yours sincerely,

Minerva McGonagall

Deputy Headmistress.

Begitu selesai membaca, anak itu hanya menatap Severus sesaat, sebelum melanjutkan isi surat yang kedua.

HOGWARTS SCHOOL of WITCHCRAFT and WIZARDRY

UINIFORM

First-year students will require:

1. Three sets of plain work robes (black)

2. One plain pointed hat (black) for day wear

3. One pair of protective gloves (dragon hide or similar)

4. One winter cloak (black, with silver fastenings)

Please note that all pupil's clothes should carry name tags.

COURSE BOOKS

All student should have a copy of each of the following:

The Standard Book of Spells (Grade 1) by Miranda Goshawk

A History of Magic by Bathilda Bagshot

Magical Theory by Adalbert Waffling

A Beginner's Guide to Transfiguration by Emeric Switch

One Thousand Magical Herbs and Fungi by Phyllida Spore

Magical Drafts and Potions by Arsenius Jigger

Fantastic Beasts and Where to Find Them by Newt Scamander

The Dark Forces: A Guide to Self-Protection by Quentin Trimble

OTHER EQUIPMENT

1 wand

1 cauldron (pewter, standard size 2)

1 set glass or crystal phials

1 telescope

1 set brass scales

Students may also bring, if they desire, an owl OR a cat OR a toad

PARENTS ARE REMINDED THAT FIRST YEARS

ARE NOT ALLOWED THEIR OWN BROOMSTICK

Yours sincerely,

Lucinda Thomsonicle-Pocus

Chief Attendant of Witchcraft Provisions

Anak itu langsung melipat kembali surat tersebut dan memasukkannya kedalam amplop. "Anda adalah seorang Wizard sekaligus seorang Professor." ucap anak itu, nadanya tidak menanyakan, melainkan nada fakta.

"Correct."

Anak itu kemudian memiringkan kepalanya kesamping, menatap sepasang mata hitam milik Severus. "Namaku Makoto Yuki. Senang berjumpa denganmu, Professor." ucap Makoto pelan.

Severus mengangguk kecil. "Namaku Severus Snape, mengajar Potion di Hogwarts." balas Severus yang juga sama pelannya.

Makoto kemudian berpikir sejenak. "Dimana aku bisa menemukan semua ini?" tanya Makoto.

"Diagon Alley. Kita bisa kesana lewat Leaky Cauldron." jawab Severus. Makoto mengangguk mengerti. Kemudian, ia bangkit dari kursinya dan pergi kebelakang. Tak lama kemudian, ia kembali dengan sebuah jaket biru dan topi abu-abu. Dibelakang Makoto, wanita tadi mengikutinya dari belakang.

"Tolong bantu dia, Professor." ucap wanita itu.

"Tentu saja, Mrs…?"

Wanita itu tersenyum kecil. "Mrs. Cole." Severus mengangguk mengerti sebelum mengajak Makoto keluar dari panti asuhan.

Severus mengajak Makoto ke gang kecil tadi. Sesampainya disana, ia mengayunkan tongkat sihirnya. Mengubah kembali setelan hitamnya menjadi pakaian wizard. Makoto hanya diam, sama sekali tidak kaget dengan perubahan pakaiannya Severus. Severus hanya mengangkat alisnya, sebelum ia mengayunkan kembali tongkat sihirnya.

Bam!

Dalam kedipan mata, muncul sebuah bus dihadapan mereka. Makoto yang melihatnya, hanya menatap Severus penuh tanda tanya. "Knight Bus. Salah satu alat transportasi di Dunia Sihir." jawab Severus seolah mengerti tatapan matanya Makoto. Makoto hanya ber-hum saja, menunjukkan bahwa dia mengerti.

"Selamat datang di Knight Bus!" celoteh si konduktor Knight Bus, Stanley Shunpike. "Tujuan?"

"Leaky Cauldron." jawab Severus singkat, sambil duduk dikursi penumpang, bersebelahan dengan Makoto.

"Right away, Sir!" begitu si konduktor selesai berbicara, bus tersebut melaju dengan kencang. Otomatis, Makoto langsung berpegangan yang kuat. Menahan diri untuk tidak muntah ditengah perjalanan.

Dalam waktu singkat, bus tersebut berhenti. "Leaky Cauldron!" ucap si konduktor begitu bus berhenti. Severus langsung bangkit, diikuti oleh Makoto, yang kedua tangannya menutup mulutnya. Sebelum turun, Severus memberikan beberapa koin kepada si konduktor. "Terima kasih banyak!" ucap Stan saat kedua penumpang tersebut turun dari bus.

Makoto langsung jongkok begitu turun dari bus, berusaha menenangkan perutnya, dan kedua tangannya masih menutup mulutnya. Tak lama kemudian, ia bangkit dari jongkoknya dan menarik nafas panjang. Severus langsung melangkahkan kakinya, memasuki sebuah pub yang bertuliskan: Leaky Cauldron. Makoto mengikutinya dari belakang.

Mereka berdua langsung disambut oleh pemilik tempat tersebut, Tom. "Selamat datang di Leaky Cauldron." sambut Tom tersenyum. Severus hanya menganggukkan kepalanya, Makoto juga melakukan hal yang sama dengan Severus. Tom hanya mengedipkan matanya karena kaget. "Mereka berdua mirip sekali…" bisik Tom kepada dirinya sendiri sebelum melayani pelanggan yang lain.

Severus dan Makoto langsung berjalan menuju sebuah pintu. Begitu keluar dari pintu tesebut, mereka disambut oleh sebuah tembok hitam besar. Severus langsung mengeluarkan tongkat sihirnya, dan menyentuh tembok terebut secara berlawanan dengan arah jarum jam. Begitu tembok tersebut menghilang, Severus dan Makoto langsung berjalan melewatinya, dan tembok tersebut kembali seperti semula.

"Selamat datang di Diagon Alley." ucap Severus sambil melirik Makoto. Makoto hanya menahan nafas saat ia melihat pemandangan Diagon Alley.

"Wow." ucap Makoto pelan, penuh dengan kaguman. "Banyak warna Aura disini…"

Severus yang mendengarnya, hanya mengangkat alisnya sebelum ia bertanya, "Aura?"

Makoto hanya menatap Severus sesaat sebelum ia menjawab, "Ya, Aura. Tiap orang memiliki warna Aura yang berbeda. Banyak yang memiliki warna yang sama, tetapi tetap berbeda. Ada yang berwarna kuning. Tetapi memiliki hawa Harapan dan ada juga yang memiliki hawa Kebahagiaan."

Severus hanya bisa menatap keponakannya itu, sebelum ia mengangguk pelan. "Right… Sebaiknya kita sekarang ke Gringotts Wizarding Bank." ucap Severus sebelum berjalan menuju bank yang dituju. Makoto mengikutinya dari belakang.

Makoto kemudian melihat sebuah bangunan putih besar menjulang tinggi. Kemudian dipintu raksasa berwarna silver itu bertuliskan:

Enter, stranger, but take heed

Of what awaits the sin of greed

For those who take, but do not earn,

Must pay most dearly in their turn.

So if you seek beneath our floors

A treasure that was never yours,

Thief, you have been warned, beware

Of finding more than treasure there.

Makoto hanya bisa menatap tulisan-tulisan tersebut. Sebelum mengikuti Severus masuk kedalam. Kedua matanya langsung disambut oleh goblin disana-sini. Makoto hanya memiringkan kepalanya. 'Goblin, eh?' batin Makoto.

Tetapi, saat pertama kali Makoto melangkahkan kakinya masuk kedalam Gringotts, semua mata goblin langsung tertuju kearah Makoto. Semua goblin menganga lebar saat mereka melihat Makoto berjalan masuk kedalam bank, tanpa menyadari bahwa semua goblin mengamatinya.

Severus langsung sadar saat melihat bahwa semua mata goblin menatap saudara jauhnya itu dengan perasaan terkejut?, kagum?, Severus tidak tahu, dan ia merasa tidak ingin tahu.

"Ahem," ucap Severus didepan goblin. Mereka semua langsung terkejut mendengarnya sebelum melanjutkan kembali pekerjaannya, tetapi sesekali melirik kearah Makoto, sementara Makoto hanya mengagumi bangunan dalam Gringotts. "Saya mau mengambil uang untuk anak yatim piatu yang bernama Makoto Yuki."

Goblin tersebut hanya mengangguk pelan, "Tentu saja. Silahkan ikuti saya." ucapnya.

Severus kemudian menghadap Makoto. "Kau, tunggu disini. Dan jangan kemana-mana." perintah Severus. Makoto hanya mengangguk mengerti, sebelum melanjuti mengamati sekitarnya.

"Mr. Yuki?"

Makoto langsung menunduk kebawah. "Ya, Mr. Goblin?" tanya Makoto pelan.

"Namaku Ragnok." katanya memperkenalkan diri. "Sungguh suatu kehormatan melihat Anda berada disini." ucap Ragnok pelan, nadanya penuh dengan kekaguman.

Makoto sedikit terkejut. "Kau tahu?"

Ragnok menganggukkan kepalanya dengan penuh antusias. "Ya, tentu saja! Kami langsung tahu bahwa Anda adalah Anak Kesayangannya Universe! Terlihat dengan jelas oleh Aura Anda."

Makoto hanya menempelkan jari telunjuk dimulutnya. "Ssh," ucapnya pelan. "Jangan bilang siapa-siapa, OK?" pinta Makoto sambil mengedipkan matanya.

"Jika itu perintah Anda, Master!"

Makoto hanya mengangkat alisnya. "Tolong jangan panggil aku 'Master' dihadapan orang lain, OK?" Ragnok mengangguk mengerti.

"Jika Anda butuh bantuan, kami bersedia membantu." ucap Ragnok mantap.

Makoto tersenyum kecil. "Terima kasih."

Kemudian Ragnok membungkukkan badannya sebelum ia pergi meninggalkan Makoto sendirian. Severus terkejut, ini pertama kalinya ia melihat goblin membungkukkan badannya kepada seorang manusia.

Makoto membalikkan badannya, kemudian ia tersenyum kecil sebelum berjalan mendekati Severus. "Professor." ucapnya pelan. Severus langsung tersadar dan mengangguk kecil.

"Ayo, sebaiknya kita segera membeli perlengkapan sekolahmu." ucap Severus sambil berjalan keluar dari bank. Makoto mengikutinya dari belakang, sambil melambaikan tangannya kearah semua goblin, yang dimana semua goblin tersebut membalas lambaiannya Makoto dengan senyuman khas mereka. Membuat semua pengunjung terkejut melihat tingkah laku para goblin.

Begitu keluar dari bank, Severus langsung melihat kelangit. "Kita akan berpencar. Kau, cari tongkat sihir di Ollivanders Wand Shop." ucap Severus sambil menunjuk sebuah jalan. "Kalau sudah selesai, tunggu disana. Aku akan mencari buku-bukumu." Severus memberikan beberapa koin emas. "Ini, adalah Galleon. Satu Galleon sama dengan 17 Sickles," Severus menunjukkan sebuah koin perak. "Atau bisa juga sebanding dengan 493 Knuts." Sebuah koin perunggu ditunjukkan oleh Severus. "Dan satu Sickle sama dengan 29 Knuts. Mengerti?"

Makoto menganggukkan kepalanya.

"Good." Dan tanpa diaba-aba, mereka berdua langsung berpisah. Makoto berjalan ke Ollivanders Wand Shop, sementara Severus berjalan menuju Flourish and Blotts.

Ollivanders Wand Shop

Makers of Fine Wand since 382 B.C.

Makoto hanya membaca papan nama tersebut sebelum memasuki tokonya. Begitu ia melangkahkan kakinya kedalam, semua tongkat sihir bergetar.

"Ini pertama kalinya aku melihat seorang Wizard bisa membuat reaksi semua tongkat sihirku seperti itu." ucap seseorang dari belakangnya Makoto. Makoto hanya menoleh kebelakang. Seorang pria tua berdiri dibelakangnya, kedua matanya besar dan pucat seperti kilauan sinar bulan.

"Selamat datang di Ollivanders Wand Shop, namaku Garrick Ollivander." ucap Garrick, kedua matanya menatap kedua matanya Makoto.

"Makoto Yuki." ucap Makoto, memberikannya sebuah anggukan.

"Interesting…" gumam Garrick saat ia melihat Makoto, dan melihat semua tongkat sihirnya. Kemudian Garrick melewati Makoto, dan berjalan kesebuah ruangan. Begitu ia kembali ia membawa sebuah kotak yang dirantai. Rantai itu langsung melepaskan diri, dan semua tongkat sihir yang semula bergetar, menjadi diam. "Aku butuh setetes darahmu." ucap Garrick sambil mengeluarkan sebuah tongkat sihir dari dalam kotak tersebut. Makoto hanya menggigit jarinya, memberikan setetes darah keujung tongkat tersebut. Setelah itu, Garrick langsung memberikan tongkat sihir itu kepada Makoto.

"Ayunkan." ucap Garrick sambil menatap Makoto dengan penuh arti. Makoto hanya memiringkan kepalanya kesamping, sebelum ia mengambil tongkat sihir itu, dan memberikan sebuah ayunan.

Muncul sebuah cahaya biru mengelilingi Makoto dan terdengar seperti suara pecahan kaca. Makoto kemudian menatap Garrick. Ia melihat, tatapan Garrick terlihat bahagia.

"Berapa yang harus aku bayar?" tanya Makoto kepada Garrick. Garrick hanya menggelengkan kepalanya.

"Kau tak perlu membayarnya. Bagiku, melihat tongkat sihir itu menjadi milikmu sudah lebih cukup."

Makoto hanya bingung. Ia tahu tipe orang yang seperti ini. Jika dia bilang 'iya', maka akan tetap iya. Jika 'tidak', ya 'tidak'. Cukup sesimpel itu. "Kalau boleh tahu, mengapa tongkat sihir ini dirantai?"

"Karena ia sama seperti Tuannya."

Makoto tersentak kaget, kedua matanya menatap Garrick dengan tajam. "I see…"

"Apakah kau ingin tahu apa yang ada didalam tongkat sihirmu itu?"

Makoto menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu." jawab Makoto singkat sambil menatap tongkat sihirnya.

"Berhati-hatilah," saran Garrick. "Jika ada orang lain yang menggunakannya, tongkat sihir itu akan menolaknya dengan keras. Ingat, 'The wand chooses the wizard'."

Makoto mengangguk mengerti. "Terima kasih banyak." ucap Makoto pelan sebelum ia keluar dan menunggu didepan toko.

Tiga puluh menit kemudian, ia melihat Severus berjalan kearahnya. "Kau sudah mendapatkan tongkatmu?" tanya Severus. Makoto menganggukkan kepalanya.

"Good. Sekarang kita ke Madam Malkin untuk bajumu." Severus langsung melangkahkan kakinya, dan Makoto langsung mengikutinya.

"Hogwarts, dear?" tanya seorang wanita saat Makoto masuk kedalam toko. Tanpa menunggu jawaban, wanita itu langsung mengukur ukurannya Makoto.

Sambil diukur, Makoto melihat sekelilingnya. Ia kemudian melihat anak seumuran dengannya. Kedua mata mereka saling berpandangan. Anak itu memiringkan kepalanya kesamping. "Hogwarts?" tanyanya. Makoto menganggukkan kepalanya. Anak itu ber-hum sesaat. "Namaku Theodore." ucapnya.

"Makoto." Dan Makoto mengikuti Theodore, tidak memperkenalkan nama keluarganya masing-masing.

"Asia?" tanya Theodore.

"Aa. Half British, half Japanese." jawab Makoto. Theodore hanya mengangguk mengerti.

"Done." ucap Madam Malkin puas begitu selesai. Makoto menganggukkan kepalanya sebagai tanda terima kasih dan membayarnya.

"Sampai jumpa disana, Theodore-san." ucap Makoto sebelum keluar. Theodore hanya menganggukkan kepalanya.

"Kita akan makan siang di Leaky Cauldron." ucap Severus kepada Makoto. Makoto hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian mereka bedua melangkahkan kakinya kearah Leaky Cauldron. Tetapi saat mereka berdua melewati sebuah toko yang bernama Eeylops Owl Emporium, mereka, lebih tepatnya Makoto, diserang oleh seekor burung hantu putih. Burung hantu itu hinggap dipundaknya Makoto. Pemilik toko yang mengejar burung hantu tersebut, hanya bisa menganga lebar saat melihatnya.

"Apakah dia mengganggumu?" tanya pemilik toko tersebut, berusaha mengambil burung hantu tersebut dan memasukkannya kedalam sangkar. Burung hantu itu mengepakkan sayapnya, menunjukkan kalau dia marah. Kemudian, burung hantu itu menggigit dengan pelan ditelinganya Makoto, seolah memintanya untuk mengusir si pemilik toko tersebut. Makoto kemudian menatap Severus, dan Severus menatapnya kembali.

Makoto menghela nafas kecil, "Berapa?" tanya Makoto kepada si pemilik toko tersebut.

"Eh?"

"Aku akan membelinya."

"Hah? Oh. 20 Galleons." jawab pemilik toko tersebut. Makoto hanya mengangkat alisnya sebelum ia memberikan uangnya. "Terima kasih. Mohon tunggu sebentar, akan saya ambilkan makanan dan sangkarnya."

"Sangkarnya tak perlu." potong Makoto. "Ia bisa tidur diranting pohon." lanjut Makoto.

"Jika Anda bilang begitu…" gumam si pemilik toko sambil masuk kedalam. Kemudian ia kembali bersama makanan untuk si burung hantu dan memberikannya kepada Makoto.

"Kita bisa memberimu nama nanti, bagaimana kamu terbang sebentar?" usul Makoto. Burung hantu itu langsung terbang saat mendengarnya. Makoto kemudian menghadap Severus. Severus langsung melangkahkan kakinya dan diikuti oleh Makoto. Melanjutkan kembali perjalanan mereka sebelumnya.

/o/\o\

A/N: Done! Sebelum saya publish disini, saya publish di blog saya :) Mungkin akan ada sedikit perbedaan disini dengan diblog saya. Disini, saya menggunakan nama MC-nya P3 dengan nama Makoto Yuki. Well, sejujurnya sih daku lebih nyaman menggunakan nama Minato Arisato, but... oh, well. Mari kita klarifikasi sebentar :)

1. Ibunya Severus, mempunyai seorang bibi (seorang Squib), yang menikah dengan seorang pria Inggris. Mempunyai seorang anak perempuan (ibunya MC), dan menikah dengan pria Jepang (ayahnya MC). Kedua orangtuanya MC meninggal karena kecelakaan. MC tidak ingin dirawat oleh keluarganya. Karena ia tahu kalau kedua orangtuanya MC meninggalkan 'sedikit' harta yang diperebutkan oleh semua anggota keluarga ayahnya. Jadi, dia memilih untuk tinggal di Panti Asuahan Inggris.

2. Darimana Albus mengetahui kalau MC itu adalah saudara jauhnya Severus? Well, ibunya Severus, Eileen Prince, sangat sayang dan dekat dengan bibinya yang seorang Squib itu. Sebelum lulus, ia meminta Albus 'tuk melindunginya dari Dark Lord. Albus menurutinya. Dan Albus terus mengawasi keturunan bibinya Eileen terus.

3. Wool's Orphanage, tempat Panti Asuhannya Tom Riddle.

4. Goblin langsung mengetahui siapa MC sebenarnya. Mereka bisa merasakan Aura-nya MC. Mereka semua, akan sangat loyal kepada MC.

5. Tongkat sihir yang bergetar saat MC melangkahkan kakinya kedalam tokonya Ollivander. Hampir semua karakteristik kayu yang ada, dan juga inti-intinya, bereaksi dengan Aura-nya MC. Mengingat MC memiliki semua karakteristik yang ada.

6. Tongkat sihirnya MC. Mengapa Ollivander tidak mengukur MC? Mengapa ia langsung memberikan MC tongkat sihir yang dirantai itu? Itu karena Ollivander merasakan kalau hanya satu tongkat sihir yang tidak bergetar, melainkan berusaha 'tuk keluar dari kotak yang dirantai tersebut. Dan, Ollivander bisa merasakan/mendengarkan suara-suara tongkat sihir yang ia buat. Tanpa pikir panjang, Ollivander langsung memberikan tongkat sihir tersebut. Dan membuat tongkat-tongkat sihir lainnya yang semula bergetar, menjadi diam. Seolah-olah, tongkat sihir yang dirantai itu berteriak: 'Diam! Dia adalah Master-ku! Majikanku! Tuanku!' Lalu, alasan mengapa tongkat sihir itu dirantai karena mereka berdua adalah Seal. MC sebagai The Great Seal, sementara tongkat sihirnya sebagai Seal of Regret.

7. Burung hantunya MC. Burung hantunya MC, atau lebih baik kita memanggilnya Moonshine?, adalah saudaranya Hedwig. Mereka berasal dari telur yang sama. Jadi, satu telur, terdapat dua ekor burung. Kembar? Ya. Keduanya berjenis kelamin betina.

Requiem Series: Saya berniat untuk membuat cerita dimana tokoh utamanya P3 series menjelajah didunia lain. Dengan kata lain, CROSSOVER! Wohoo~ First Requiem: Harry Potter series. Expect a lot of chapter, kufufu~

Write for Fun;

JackFrost14