2: Child of Universe


Summary: AU. "Aku butuh Anakmu." / "Tidak bisa! Kau tahu seberapa besar aku protektif kepadanya!" / "Tetapi hanya dia yang bisa!" / "Kalau begitu, bagaimana dengan Anaknya Prophecy didunia itu?!" / "Yang membuat Prophecy didunia itu adalah manusia! Bukan kita! Kau tahu seberapa buruknya Prophecy itu!" / First Requiem: Harry Potter.

Fandom: Cross-over P3Fes and Harry Potter.

Rating: T

Warning(s): OOC(s). OC(s). Typo(s). Multi-language. Ejaan Yang tidak Disempurnakan. Tata bahasa yang kacau.

Disclaimer: Not own anything. Except the OC(s). No more, no less.

/o/\o\

The First Requiem

Chapter 2: Hogwarts

/o/\o\

"Jika kau ingin membaca buku-bukumu, berhati-hatilah. Muggle tidak boleh tahu tentang Dunia Sihir." ucap Severus dingin. Makoto mengangguk mengerti.

"Good," Severus kemudian mengeluarkan sebuah tiket. "Ini, adalah tiketmu. Kereta ini akan membawamu ke Hogwarts pada tanggal 1 September, jam 11 pagi. Kereta ini akan berangkat dari King's Cross Station, Platform 9 3/4. Untuk memasukinya, yang perlu kau lakukan adalah masuk lewat diantara Platform 9 dan Platform 10. Mengerti?" Sekali lagi, Makoto mengangguk mengerti.

/o/\o\

"Terima kasih telah mengantarku, Mrs. Cole." ucap Makoto kepada salah satu pengasuhnya. Mrs. Cole hanya tersenyum.

"Tak masalah buatku, Mr. Yuki." kata Mrs. Cole. "Berhati-hatilah." lanjut Mrs. Cole sambil melambaikan tangannya. Makoto tersenyum kecil kepadanya, sebelum memasuki Platform 9 3/4.

Sebuah kereta berada dihadapannya. Kemudian ia melihat sebuah palang yang bertuliskan: Platform 9 3/4. Makoto tersenyum kecil sebelum menaiki kereta tersebut. Dan mencari ruangan yang kosong. Ia memilih yang paling belakang. Setelah merapikan semua barangnya, ia membuka jendela kereta tersebut. Seekor burung hantu putih masuk kedalamnya.

Makoto tersenyum kecil kepadanya. "Bagaimana? Sudah puas terbangnya?" tanya Makoto kepada teman kecilnya itu, Moonshine. Moonshine memberikannya sebuah patukan kecil dijarinya. Makoto tertawa kecil. Kemudian, ia mengecek jam ditangannya. Tiga puluh menit lagi kereta akan jalan. Makoto memutuskan untuk membaca buku sebentar.

Belum sempat ia membaca, terdengar suara pintu terbuka.

"Hi, boleh tidak aku duduk disini?" tanya seorang anak perempuan. Makoto hanya menganggukkan kepalanya. Anak itu tersenyum lebar. "Thanks!" ucapnya sambil merapikan barangnya. Tak lama kemudian, ia duduk dihadapannya Makoto, dan melihat buku yang dibaca oleh Makoto.

"Hey, itu buku 'A History of Magic'!" ucap anak itu senang. "Oh, namaku Hermione Granger." lanjutnya lagi sambil tersenyum.

"Makoto Yuki." balas Makoto sebelum melanjutkan kembali bukunya, dan Hermione mengikutinya. Mengambil sebuah buku dan membacanya.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, kereta mulai berangkat. Makoto langsung menutup bukunya, lalu mengelus burung hantunya sebentar. "Pergilah duluan." ucapnya pelan. Moonshine mematuk jarinya sesaat sebelum pergi terbang lewat jendela yang telah dibuka.

"Burung hantumu cantik sekali." ucap Hermione yang melihat adegan barusan.

Makoto tersenyum kecil kepadanya. "Thanks. Namanya Moonshine."

"Nama yang bagus." ucap Hermione sebelum melanjutkan kembali membaca, dan diikuti dengan Makoto. Hanya saja, Makoto mengganti buku yang ia baca, kali ini ia membaca Magical Drafts and Potions.

Satu jam kemudian, pintunya terbuka lagi.

"Um… Apakah kalian melihat seekor kodok?" tanya anak laki-laki itu gugup. Makoto dan Hermione saling menatap satu sama lain. Kemudian mereka berdua menggelengkan kepalanya. "Oh… Kalau begitu, terima kasih…" Belum sempat anak itu menutup pintunya, Hermione langsung meletakkan bukunya dan bangkit dari kursinya.

"Aku bantu cari, ya." kata Hermione sambil tersenyum kecil kearah anak itu. Anak itu langsung senang.

"Terima kasih! Namaku Neville Longbottom." ucap anak itu, merasa lega karena ada yang mau membantunya.

"Senang berjumpa denganmu, Neville. Aku Hermione Granger."

Makoto langsung bangkit dari kursinya. "Makoto Yuki. Aku juga akan bantu." ucapnya pelan. Kemudian, Makoto berpikir sejenak sambil memiringkan kepalanya kesamping, menatap Neville dengan wajah datar. "Kalau boleh tahu, Neville-san, apa nama kodokmu itu?"

"Trevor." jawab Neville. Makoto hanya ber-hum saja.

"Bagaimana kalau kita meminta salah satu senior kita untuk memanggilnya?" usul Makoto.

Hermione berpikir sejenak saat ia mendengar usulnya Makoto. "Aku pernah membaca dalam sebuah buku untuk Tahun Keempat. Tidak bisa untuk memanggil makhluk hidup, atau yang bergerak."

"I see…" Kemudian, Makoto segera keluar dari ruangan. "Sebaiknya kita berpencar." usul Makoto lagi.

"Ide bagus." ucap Hermione, setuju dengan usulannya Makoto. "Ayo, Neville. Kita akan mencarinya disebelah sini."

"Permisi, apakah kalian melihat seekor kodok?" tanya Makoto kepada salah satu ruangan. Anak-anak yang berada diruangan itu tidak memperdulikannya. Makoto hanya menatap mereka dengan tatapan datarnya sebelum ia menutup pintu.

Selama lima menit, hampir semua ruangan yang ia tanyai, mendapatkan hasil yang negatif. Ada yang tidak memperdulikannya atau tidak melihatnya.

Master, bagaimana kalau Anda mencoba 'tuk melacaknya dengan Aura?

Makoto berpikir sejenak sambil memikirkan usulannya Orpheus. 'Aku belum pernah mencobanya, jadi tidak tahu hasilnya bisa sukses atau tidak.'

Tidak ada salahnya 'tuk mencoba, 'kan?

Makoto tertawa kecil dalam hatinya. 'Ya, kau benar. Tak ada salahnya 'tuk mencobanya.' Makoto kemudian memejamkan kedua matanya. Mencoba melacak Aura milik Trevor. Sepuluh menit kemudian, Makoto membuka kedua matanya, dan tersenyum puas.

'Ketemu.'

Makoto langsung melangkahkan kedua kakinya, mengikuti Aura yang berhasil ia temukan. Lima menit kemudian, Makoto menghentikan langkah kakinya. Yang ada dihadapannya sekarang adalah, seekor kodok. Kemudian, Makoto mengangkatnya dengan hati-hati. Kodok itu hanya menatap Makoto dengan kedua matanya yang hitam itu.

'Nah, sekarang… Dimanakah Neville-san dan Hermione-san?'

Aura? Karena Anda sudah pernah bertemu dengan mereka walau sebentar, menemukan mereka pasti lebih cepat dibandingkan dengan menemukan Trevor.

Makoto mengikuti usul Orpheus. Ia menutup kedua matanya, dan berkonsentrasi penuh, mencari Aura kedua anak yang ia temui. Benar kata Orpheus, ia langsung menemukan lokasi mereka dalam waktu lima menit. Ia langsung membuka kedua matanya dan mengikuti Aura mereka.

"Neville-san, Hermione-san," panggil Makoto dari belakang mereka. Kedua orang yang dimaksud menoleh kearah Makoto.

Seorang anak berambut blonde juga ikut menoleh. Dengan nada mengejek, ia berkata, "What? Another Muggleborn?"

Makoto hanya mengangkat alisnya. "Siapa yang bilang kalau aku ini Muggleborn, Mr. Wizard?" tanya Makoto. Wajah anak itu menjadi merah. "Neville-san, aku menemukan kodokmu." lanjut Makoto, memberikan Trevor kepada Neville.

"A-Ah…" Neville sedikit terkejut. "Thanks."

Makoto hanya menganggukkan kepalanya.

"Jadi, kau bukan seorang Muggleborn?" tanya si blonde itu. Berusaha 'tuk melupakan kalau barusan dia menuduh Makoto seorang Muggleborn.

Makoto memiringkan kepalanya kesamping. "Actually, aku tidak yakin. Yang aku tahu, kalau aku ini bukan seorang Muggleborn. Karena aku pernah melihat ayahku melakukan sihir."

"A Half-blood then." ucap anak itu. "Lebih baik daripada seorang Muggleborn." lanjutnya lagi. "Namaku Draco Malfoy. Dan mereka," Draco menunjuk kedua orang dibelakangnya. "Vincent Crabbe dan Gregory Goyle."

Makoto menganggukkan kepalanya. "Makoto Yuki. Senang berjumpa denganmu." ucap Makoto sopan. Kemudian, ia melihat jam tangannya. "Sebaiknya aku kembali." kata Makoto setelah melihat jamnya. "Aku harus mengganti pakaianku."

Draco mengangguk mengerti. "Sebaiknya aku juga kembali. Satu ruangan dengan seorang Bloodtraitor dan Muggleborn membuatku sesak." ucap Draco dengan nada seorang aristokrat. "C'mon guys. See you at school, Mr. Yuki."

Makoto menganggukkan kepalanya. "Aa." Kemudian, ia menghadap Hermione. "Hermione-san, sebaiknya kita segera mengganti pakaian. Sebentar lagi kita akan tiba."

"Oh, kau benar!" ucap Hermione sedikit terkejut. "C'mon, Makoto." ajak Hermione sambil menarik lengan bajunya Makoto. Meninggalkan Neville, dan dua orang yang berada didalam ruangan tersebut.

"Ladies first." ucap Makoto, dengan gaya seorang butler. Muka Hermione langsung memerah sebelum ia mengganti pakaiannya, dan diikuti oleh Makoto.

Begitu keretanya berhenti, semua penumpang langsung turun. Hawa dingin langsung menyerang Makoto.

'Orpheus?'

Understood.

Hawa hangat langsung menyerbu Makoto. Dengan spell kecil yang bernama Agi; cukup membuatnya hangat.

"First years! First years over here!" teriak sebuah suara. Makoto kemudian berusaha mencari asal suara tersebut. Seorang pria dengan tubuh besar membawa sebuah lantern.

"Semuanya sudah kumpul? Good. Oh, dan berhati-hatilah pada langkahmu." saran pria berbadan besar tersebut. Kemudian ia berjalan, dan diikuti oleh semua anak Tahun Pertama.

Sekitar lima sampai sepuluh menit berjalan kaki, mereka sampai disebuah danau yang besar. Didanau tersebut, terdapat beberapa perahu kecil yang akan menyebrangkan mereka.

"Semuanya, naik! Dan tidak boleh lebih dari empat orang!" ucap pria itu, sambil menunjuk ke perahu-perahu kecil itu.

Makoto langsung naik, dan diikuti oleh ketiga orang lainnya.

"Oh, kita bertemu lagi, Mr. Yuki." ucap seseorang.

Makoto langsung menoleh. Ia menganggukkan kepalanya. "Mr. Malfoy." sapa Makoto sopan. Kemudian, ia melihat seseorang dibelakangnya Draco. "Ah, halo Theodore-san, Neville-san."

Draco hanya ber-'tch' saat ia melihat Neville satu perahu dengannya. Tetapi ia menganggukkan kepalanya kearah Theodore.

Neville, hanya gemetaran saat ia melihat kelakuannya Draco, tetapi ia membalas sapaannya Makoto dengan senyuman kecil. Sementara Theodore juga membalas sapaannya Makoto dan Draco dengan mengucapkan 'halo' dengan pelan.

"Semuanya sudah naik? Kalau begitu, JALAN!" teriak pria tadi. Disaat yang bersamaan, semua perahu tadi langsung bergerak, mengarungi danau tersebut.

"Heads down!" teriak pria itu lagi saat mereka melihat sesuatu menghalangi kepala mereka, membuat mereka langsung membungkukkan badan mereka. Mereka melewati sebuah terowongan. Ketika mereka melewati terowongan tersebut, mereka langsung disambut oleh pemandangan yang luar biasa.

Hogwarts.

Makoto hanya bisa takjub melihatnya. "…Beautiful." ucapnya pelan. Berbagai macam warna Aura mengelilingi kastil tersebut.

Seperti Tartarus…

'Orpheus?' tanya Makoto bingung.

It's nothing, Master.

Makoto hanya ber-'hum' saja. 'Jika kau bilang begitu…'

Kemudian, perahu mereka berhenti. Otomatis, semuanya langsung turun. Pria tadi, langsung melangkahkan kakinya kedepan, dan langsung diikuti oleh semuanya. Lalu, mereka sampai disebuah pintu Oak raksasa.

"Semuanya ada disini?" tanya pria itu, memperhatikan murid-murid Tahun Pertama dengan seksama.

Kemudian, pintu itu terbuka. Muncullah seorang wanita berambut hitam. Jubahnya berwarna hijau terlihat menyala karena pantulan sinar rembulan. Wajahnya terlihat tegas. Kedua matanya langsung menatap murid-murid yang ada dihadapannya.

"The first years, Professor McGonagall." ucap pria itu kepada wanita tersebut.

"Terima kasih, Hagrid," ucap wanita itu kepada pria tersebut. "Biar aku yang mengurusnya." lanjutnya lagi. Hagrid hanya menganggukkan kepalanya sebelum ia pergi entah kemana.

"Semuanya, ikuti aku." ucap Professor McGonagall dengan tajam. Ia langsung membuka pintu itu dengan lebar. Mereka semua dibawa oleh Professor kedalam. Didalamnya, terdapat sebuah aula raksasa, tembok berbatu, dan beberapa obor menempel pada tembok itu untuk penerangan. Langit-langitnya sangat tinggi, dan sebuah tangga terlihat indah ada dihadapan mereka.

Kemudian, mereka semua mengikuti Professor McGonagall, melewati lantai berbatu. Tiba-tiba, mereka semua berhenti disebuah tempat yang kosong.

"Selamat datang di Hogwarts." ucap Professor McGonagall. "Penjamuan untuk semester baru akan segera dimulai, tetapi sebelum kalian semua masuk kedalam Great Hall, kalian akan di Sorting untuk House kalian. Pemilihan sangatlah penting, karena, selama kalian berada disini, rumah itu akan menjadi rumah kedua kalian."

"Ada empat buah House di Hogwarts. Diantaranya yaitu; Gryffindor, Hufflepuff, Ravenclaw, dan Slytherin. Setiap House memiliki sejarah masing-masing. Selama kalian berada di Hogwarts, kalian akan mendapatkan point. Jika kalian melanggar aturan, point House kalian akan dikurangi. Setiap akhir tahun, House yang memiliki point terbanyak akan mendapatkan House Cup." lanjut Professor McGonagall.

"The Sorting Ceremony akan diadakan didepan sekolah dalam beberapa menit lagi. Jadi, manfaatkan waktu kalian sebaik mungkin." Disini, Professor McGonagall menatap sesaat kearah Neville, seorang anak berambut merah, dan seorang anak berambut hitam yang berantakan.

"Aku akan kembali ketika semuanya sudah siap." ucap Professor McGonagall. Dengan tatapan tajam, ia menambahkan, "Aku harap kalian semua akan tenang selama menunggu."

Saat ia pergi meninggalkan mereka, Makoto memperhatikan beberapa anak menelan ludahnya.

"Dia menakutkan…" ucap salah satu murid. Yang disekitarnya langsung mengangguk setuju.

Makoto kemudian berpikir sejenak. Tetapi, ia terkejut saat ia mendengar suaranya Orpheus.

Master!

Kedua mata milik Makoto langsung menatap ke langit-langit. Diatas, terdapat sekitar duapuluh hantu yang melayang diatas kepala murid-murid Tahun Pertama. Para hantu tersebut, sedang asyik berbicara, tanpa menyadari bahwa dibawah mereka terdapat murid-murid baru yang terlihat ketakutan.

Otomatis, Makoto berusaha untuk bersembunyi dibelakangnya seorang anak yang ada disebelahnya. Yang ternyata adalah Draco. Draco mengangkat alisnya saat ia melihat Makoto bersembunyi dibelakangnya.

Disaat yang bersamaan, para hantu itu berhenti. Kedua mata mereka langsung menatap kearah Makoto. Sementara Makoto menundukkan kepalanya.

Salah satu hantu tersebut membuka mulutnya, tetapi langsung ditutup kembali. Kemudian, hantu tersebut melanjutkan kembali perjalanannya, yang langsung diikuti oleh hantu yang lain.

Tak lama kemudian, muncul Professor McGonagall. "Buat barisan." perintahnya. "Dan ikuti aku."

Makoto dan yang lainnya langsung mengikuti professor tersebut. Draco, hanya bisa menatap Makoto dari belakang, dan berjalan tepat dibelakangnya. Kemudian, mereka semua berhenti didepan sebuah pintu Great Hall. Secara otomatis, pintu tersebut terbuka. Memperlihatkan keindahan didalamnya. Ribuan lilin melayang diudara. Piring-piring emas terletak dimeja. Dan, tepat dihadapan mereka, terdapat para guru duduk dimeja panjang.

Makoto melihat keatas. Yang ia lihat bukanlah langit-langit, melainkan langitnya malam yang dipenuhi oleh taburan bintang.

Tanpa disadari, Professor McGonagall yang semula bersama mereka, kini sudah ada dihadapan mereka. Disebelahnya terdapat sebuah kursi, dan sebuah topi runcing yang usang.

Makoto memiringkan kepalanya kesamping. Memperhatikan topi tersebut dengan seksama. 'Kenapa ada robekan ditopi itu?'

Pertanyaannya langsung dijawab. Robekan tersebut langsung terbuka lebar, membentuk sebuah mulut.

"Oh, you may not think I'm pretty,

But don't judge on what you see,

I'll eat myself if you can find

A smarter hat than me.

You can keep your bowlers black,

Your top hats sleek and tall,

For I'm the Hogwarts Sorting Hat

And I can cap them all.

There's nothing hidden in your head

The Sorting Hat can't see,

So try me on and I will tell you

Where you ought to be.

You might belong in Gryffindor,

Where dwell the brave at heart,

Their daring, nerve, and chivalry.

Set Gryffindor apart;

You might belong in Hufflepuff,

Where they are just and loyal,

Those patient Hufflepuffis are true

And unafraid of toil;

Or yet in wise old Ravenclaw,

If you've a ready mind,

Where those of wit and learning,

Will always find their kind;

Or perhaps in Slytherin

You'll make your real friends,

Those cunning folk use any means

To achieve their ends.

So put me on! Don't be afraid!

And don't get in a flap!

You're in safe hands

For I'm a Thinking Cap!"

Seluruh penghuni yang ada di Great Hall langsung bertepuk tangan mereka ketika si Topi selesai menyanyikan lagu tersebut. Topi tersebut membungkukkan badannya kemasing-masing meja. Dan semunya kembali tenang.

Tetapi, tidak untuk Makoto. Ia sama sekali tidak tenang. Jika dilihat dari luar sih, wajahnya tanpa ekspresi. Tapi, kalau dari dalam…

'Shit. Shit. Shit.' Makoto langsung panik saat ia mendengar lagu tersebut. 'There's nothing hidden in your head'. Kalimat itu terus terulang dikepalanya.

Master…

'Orpheus! Beritahu yang lain untuk bersembunyi!' perintah Makoto dalam hatinya. Dalam kedipan mata, Makoto sudah merasakan semua Personae-nya bersembunyi didalam lubuk hatinya paling dalam. Kemudian, ia memaksa dirinya untuk tenang.

Professor McGonagall maju kedepan, membawa sebuah gulungan perkamen.

"Ketika aku memanggil namamu, topi ini akan diletakkan diatas kepalamu, dan duduklah dikursi ini ketika kau akan dipilih." ucapnya. Tanpa basa-basi, ia langsung memulai. "Abbot, Hannah!"

Seorang gadis kecil keluar dari barisan. Saat ia duduk dikursi itu, topi tersebut langsung diletakkan diatas gadis itu oleh Professor McGonagall.

"HUFFLEPUFF!" teriak Topi itu.

"Bones, Susan!"

"HUFFLEPUFF!"

"Boot, Terry!"

"RAVENCLAW!"

"Brocklehurst, Mandy!"

"RAVENCLAW!"

"Brown, Lavender!"

"GRYFFINDOR!"

"Bulstrode, Millicent!"

"SLYRHERIN!"

"Finch-Fletchley, Justin!"

"HUFFLEPUFF!"

"Granger, Hermione!"

Makoto menoleh kearah gadis itu. Kedua mata mereka saling bertatapan. Makoto memberikannya sebuah anggukan kecil. Hermione membalasnya dengan senyuman kecil diwajahnya sebelum ia maju kedepan.

"GRYFFINDOR!"

Seorang anak laki-laki berambut merah mengerang kesal.

"Longbottom, Neville!"

Makoto melakukan hal yang seperti Hermione, memberikannya sebuah anggukan kecil. Neville hanya tersenyum kecil kepadanya sebelum ia maju kedepan.

"GRYFFINDOR!"

"Malfoy, Draco!"

Draco keluar dari belakangnya Makoto. Makoto hanya menatapnya. Yang kemudian tatapannya dibalas oleh Draco.

Saat ia duduk, belum sempat topi itu menyentuhnya, topi itu sudah berteriak: "SLYTHERIN!"

"Nott, Theodore!"

Makoto memiringkan kepalanya kesamping. Melihat Theodore maju kedepan.

"SLYTHERIN!"

"Potter, Harry!"

Dan, satu ruangan langsung ribut. Semuanya membicarakan tentang Harry Potter. Makoto melihat seorang anak laki-laki berambut hitam berantakan terlihat gugup. Kemudian, ia melihat anak itu menarik nafas dan mengeluarkannya sebelum ia maju kedepan.

Kali ini, sedikit lebih lama saat si Topi memutuskan untuk House mana yang cocok untuk Harry.

"GRYFFINDOR!"

Dari mejanya Gryffindor, semua murid bertepuk tangan sangat keras. Sepasang anak kembar berteriak: "We got Potter! We got Potter!"

"Thomas, Dean!"

"GRYFFINDOR!"

"Turpin, Lisa!"

"RAVENCLAW!"

"Weasley, Ronald!"

Seorang anak laki-laki berambut merah maju kedepan. Langkah kakinya terlihat gugup seperti anak yang lain, well, kecuali yang masuk ke Slytherin.

"GRYFFINDOR!"

"Yuki, Makoto!"

Saat mendengar namanya, ia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya sebelum ia maju kedepan. Langkah kakinya pasti. Kepalanya ia junjung tinggi. Yang tidak sengaja menatap si Kepala Sekolah, Albus Dumbledore.

Saat ia duduk, ia langsung menutup kedua matanya.

"Ah, maafkan aku, Little One." ucap seseorang, berbisik ditelinganya. "Bisakah kau membuat cahaya disini? Harus aku katakan, disini sangat gelap."

Saat Makoto membuka kedua matanya, ia melihat si Sorting Hat melayang dihadapannya.

"Kalau aku tidak mau?" tanya Makoto. Nadanya biasa, tidak ada ekspresi.

"Aku tidak bisa memilihmu kalau begitu." jawab Topi itu simpel.

Makoto memiringkan kepalanya kesamping. Kedua matanya yang membosankan itu kearah Topi tersebut.

"Ah, jangan khawatir, Little One. Rahasiamu akan aman bersamaku." ucap Topi itu, seakan mengerti pertanyaan yang tidak diucapkan oleh Makoto.

Sebuah cahaya biru muncul dihadapan Topi tersebut. "Ah, terima kasih." ucapnya sebelum ia menggunakan cahaya biru itu untuk mengelilingi hati dan pikirannya.

"Sebaiknya Anda berhati-hati." saran Makoto tiba-tiba. Topi itu hanya tersenyum kecil.

"I will, Little One."

Tak lama kemudian, Topi itu menemukan sebuah pintu berwarna biru. Dipintu itu, terdapat sebuah ukiran kupu-kupu. Ia membuka pintu itu. Tiba-tiba, pemandangan disekitarnya berubah.

Langit berwarna hijau. Bulan purnama berwarna kuning. Genangan darah dimana-mana. Dan banyak peti mati disana-sini. Topi itu terus melayang. Kali ini, ia menemukan sebuah menara raksasa berdiri dengan megah. Seolah-olah menara itu sampai ke Bulan.

Ia kemudian masuk kedalam menara tersebut. Ia tidak menyadari bahwa banyak tatapan mata memperhatikannya dari dalam kegelapan.

Ia menghentikan langkah kakinya saat ia sampai dipuncak menara tersebut. Pemandangannya berubah lagi. Kali ini, Topi itu berada disebuah ruang angkasa. Di ruang angkasa itu hanya ada sebuah pintu emas raksasa. Dan, sebuah patung manusia yang dirantai.

Topi itu terkejut melihatnya.

"Kau seharusnya tidak berada disini, O' Sorting Hat." ucap seseorang dari belakang Topi itu.

Topi itu membalikkan badannya. "A-Ah…" Ia terbata-bata. "Maafkan saya, O' Child of Universe." ucap Topi itu sambil membungkukkan badannya.

Makoto hanya menggelengkan kepalanya. "Apakah kau sudah memutuskan?"

Topi itu berpikir sejenak. "…Ya."

Makoto hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian ia mengayunkan tangannya. Kali ini, mereka berdua kembali kedalam kegelapan.

"Aku yakin, kau tidak akan memberitahukan hal ini kepada siapapun." ucap Makoto dengan nada faktanya.

"Ya." jawab Topi itu mantap. Makoto tersenyum lega sebelum ia menutup kedua matanya lagi.

"HUFFLEPUFF!" teriak si Sorting Hat.

Makoto langsung membuka kedua matanya. Kali ini, ia melihat semua tatapan mata menatap dirinya. Otomatis, Makoto langsung memiringkan kepalanya kesamping.

"Harus aku katakan," ucap seseorang dari kursi guru. "Ini pertama kalinya seseorang membutuhkan waktu lama untuk di Sorting!"

"Ah, kau benar."

"Sungguh langka."

Makoto menghiraukan semua perkataan itu. Ia lalu bangkit dan meletakkan kembali Topi itu dikursi.

"Berhati-hatilah." bisik Topi itu.

Makoto tersenyum kepadanya. "I will, O' Sorting Hat." Ia melangkahkan kakinya ke meja Hufflepuff.

"Yo!" sapa seseorang. Ia berambut coklat dan kedua matanya berwarna abu-abu. "Namaku Cedric Diggory. Anak Tahun Ketiga."

"Makoto Yuki." balas Makoto.

Cedric tersenyum lebar. "Wow! Kau hebat! Ini pertama kalinya seseorang memerlukan waktu yang lama untuk di Sorting." ucapnya sebelum duduk disebelah kanannya Makoto. Makoto hanya mengangkat bahunya.

"Zabini, Blaise!"

"SLYTHERIN!"

Setelah semuanya selesai di Sorting, Professor McGonagall menggulungkan kembali perkamennya itu dan membawa si Sorting Hat entah kemana.

Si Kepala Sekolah, Albus Dumbledore, berdiri. Wajahnya berseri, dengan kedua tangan terbuka, ia berkata; "Selamat datang! Selamat datang di tahun ajaran baru di Hogwarts! Sebelum kita mulai, aku ingin mengatakan beberapa kata. Nitwit! Blubber! Oddment! Tweak!" Kemudian ia membungkukkan badannya. "Terima kasih."

Ketika ia duduk kembali, semuanya menepuk tangan mereka. Disaat yang bersamaan, semua makanan dan minuman telah terisi.

Makoto memiringkan kepalanya kesamping. Kemudian, ia mengisi makanannya. Dengan perlahan, ia mulai mengisi perutnya.

Sigh.

'Tidak ada masakan Jepang…'

Well, kita berada di Eropa, Master. Sudah pasti akan sedikit susah untuk mendapatkan masakan Jepang.

Makoto sama sekali tidak membalas perkataannya Orpheus. Ia memilih untuk melanjuti makan.

Setelah semua makanan sudah habis, muncul makanan penutup. Makoto langsung mengambil pudding berwarna hijau dan memakannya dengan perlahan. Ketika ia selesai memakannya, semua perlengkapan makan menghilang. Makoto kemudian melihat Albus berdiri.

"Ahem, hanya beberapa kata saja setelah kita semua kenyang. Ada beberapa pemberitahuan untuk kalian semua.

Murid Tahun Pertama harus tahu bahwa hutan yang ada disebelah sekolah kalian itu dilarang masuki untuk semua murid."

Sesaat, kedua mata Albus menatap sikembar berambut merah dimejanya Gryffindor.

"Aku juga diminta oleh Mr. Filch, si penjaga sekolah kita, untuk mengingatkan kepada kalian semua kalau dilarang menggunakan sihir di koridor.

Quidditch Trials akan dilaksanakan dua minggu setelah masuk. Jika ada yang tertarik bermain untuk House kalian, hubungi Madam Hooch.

Dan terakhir, kalau pada tahun ini, di koridor lantai tiga disebelah kanan dilarang masuki bagi semua orang kecuali bagi yang ingin mati."

"Nah," Albus menepuk kedua tangannya. "Sebelum kita tidur, mari kita menyanyikan lagu sekolah kita!" ucap Albus senang. Kemudian, ia mengeluarkan tongkat sihirnya. Mengayunkannya sesaat, dan muncullah sebuah pita emas. Di pita itu, terdapat untaian kata.

"Everyone pick their favorite tune," ucap Albus sebelum ia memberikan aba-aba. "Mulai!"

"Hogwarts, Hogwarts, Hoggy Warty Hogwarts,

Teach us something please,

Whether we be old and bald

Or young with scabby knees,

Our heads could do with filling

With some interesting stuff,

For now they're bare and full of air,

Dead flies and bits of fluff,

So teach us things worth knowing,

Bring back what we've forgot,

Just do your best, we'll do the rest,

And learn until our brains all rot."

Semuanya menyelesaikan lagu tersebut dengan waktu yang berbeda. Hanya sikembar Gryffindor yang terakhir. Mereka melakukannya dengan super lama. Tetapi, Albus masih memainkan alat musiknya dengan sihirnya.

Setelah semuanya selesai menyanyi, Albus menepuk kedua tangannya dengan keras. "Ah, musik." ucapnya sambil menyeka kedua matanya. "Salah satu sihir yang luar biasa!" Kemudian ia menatap semua murid-muridnya. "Sekarang, waktunya tidur!"

Semua murid langsung keluar dari mejanya. Mengikuti sang Prefect.

"Murid Tahun Pertama mohon kesini!" panggil seseorang. Dipakaiannya terdapat sebuah badge dengan simbol huruf 'P'.

"Namaku Gabriel Truman, Prefect kalian!" ucapnya memperkenalkan diri. "Semuanya sudah disini?" Gabriel melihat para adik kelasnya dengan seksama. Merasa puas, ia menganggukkan kepalanya. "Good. Now, follow me!"

Semua murid Tahun Pertama Hufflepuff mengikuti Prefect mereka seperti headless chicken. Setelah memasuki sebuah terowongan. Prefect mereka berhenti dan menghadap kearah para adik kelasnya.

"Selamat bagi kalian semua! Dengan senang hati aku ucapkan, selamat datang di HUFFLEPUFF HOUSE!" ucapnya bahagia. Semua murid Tahun Pertama langsung tersenyum melihat tingkah laku Prefect mereka.

"Untuk masuk kedalam Dorm kalian, yang kalian lakukan adalah mengetuk sebuah barrel dua dari bawah, ditengah barisan kedua, dan akan terbuka jika kalian mengetuknya dengan irama 'Helga Hufflepuff'." lanjutnya lagi sambil memberi contoh. Sebuah pintu entah darimana terbuka.

"Ingat baik-baik. Dan jangan beritahu 'Password' ini kepada orang lain selain penghuni Hufflepuff. Dan, jika kalian salah mengetuknya, atau iramanya tidak sesuai, kalian akan diserang. Dorm kita dilindungi oleh sebuah Repelling Devices. Jadi, berhati-hatilah." tambahnya dengan wajah serius. Kemudian, ia masuk kedalam dan diikuti oleh semua murid Tahun Pertama.

"Dorm untuk laki-laki berada dikanan, sedangkan untuk perempuan dikiri. Breakfast dimulai pukul 7.30 pagi di Great Hall. Pelajaran akan dimulai pada pukul 9 tepat. Akan ada empat jam pelajaran sebelum Lunch. Setelah Lunch, akan ada sesi Break dan dua jam pelajaran lainnya.

Dinner disajikan di Great Hall sampai malam, setelah itu, semuanya wajib sudah berada di House-nya masing-masing. Dan juga, akan ada pelajaran ditengah malam, yaitu Astronomy. Tiap House jadwalnya berbeda.

Untuk Tahun Pertama, kalian hanya boleh berada di Common Room sampai pukul 8 malam. Untuk Tahun Kedua sampai tahun Keempat boleh sampai pukul 9 malam. Dan terakhir, untuk Tahun Kelima sampai Tahun Ketujuh boleh sampai pukul 10 malam.

So, any question?" tanya sang Prefect.

Seorang anak mengacungkan jarinya. "Jadwalnya kapan dibagikan?"

Gabriel menepuk dahinya. "Pantas aja kayak ada sesuatu yang kelupaan." gumamnya pelan. "Jadwal akan dibagikan besok pagi saat Breakfast oleh Head of House kita, Professor Sprout. Dan, jika kalian membutuhkan sesuatu, atau dalam masalah, kalian bisa mengunjungi di ruangannya." Gabriel menunjuk sebuah pintu tepat disebelah pintu Common Room. "Ruangannya selalu terbuka untuk kalian yang membutuhkan." lanjutnya lagi.

"Jika sudah tidak ada pertanyaan lagi, kalian boleh kekamar kalian. Nighty night~!" ucap sang Prefect sebelum menghilang entah kemana.

Makoto langsung masuk ke Boy's Dorm. Tak lama kemudian, ia menemukan papan namanya. Ketika ia masuk kedalam, ia melihat semua kopernya berada tepat disebelah sebuah kasur. Dengan cepat, ia mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Dan ia langsung terbawa kedunia tidur saat kepalanya menyentuh bantal.

/o/\o\

End of Chapter 2: Hogwarts

/o/\o\

A/N: Done! Seperti biasa, mari kita klarifikasi sebentar :3

1. Makoto bisa menggunakan kekuatan Personae-nya secara tidak langsung (baca: tanpa menggunakan Evoker). Akan tetapi, hasilnya tidak akan maksimal.

2. Si para Hantu, dapat merasakan Aura-nya MC. Tetapi, mereka tidak tahu siapa itu MC. Seperti si Sorting Hat. Dari awal, ia sudah merasakan ada yang spesial dengan MC. Si Sorting Hat baru tahu identitas MC sebenarnya saat si Topi melihat the Great Seal.

Write for Fun;

JackForst14