MISS YOU

DISCLAIMER : NARUTO, HINATA, DAN CHARA YANG LAINNYA ADALAH MILIK MASASHI KISHIMOTO

GENRE : ROMANCE

RETED : T+

WARNING: TYPO, GEJE, BANYAK PERCAKAPAN, TANDA BACA SALAH, NO EYD, ALUR TIDAK JELAS, DLL

HAPPY READING d:

.

.

"Ennghh" lenguh Hinata saat secercah sinar mentari yang menyusup disela-sela gorden apartemen Naruto langsung menerpa wajah manis nya, mata-nya sedikit mengerjab-ngerjab lalu terbuka saat menyadari dirinya tertidur dengan posisi tak wajar, dadanya serasa sangat sesak karena tidur tengkurap diatas tubuh Naruto, gadis itu pun berusaha bangkit dengan mengunakan kedua tanganya bertumpu pada dada Naruto

"ahh.." lenguh gadis tersebut menyadari dirinya masih menyatu dengan tubuh pria dibawahnya.

" enngghh…Hinata?..sudah bangun" gumam Naruto sedikit membuka matanya menatap Hinata yang tengah terduduk di atasnya, atau lebih tepatnya dipinggulnya.

" Naruto-Kun..gomen..membuatmu terbangun.." ucap Hinata memaksakan senyumnya, lalu mengangkat pingulnya berusaha memisahkan diri dari tubuh Naruto "ahh…d-dadaku sesak…." gumam Hinata menjatuhkan diri disamping Naruto yang tak diketahuinya telah tertidur kembali

"Naruto-Kun bangun~!" Hinata sedikit menggoyang-goyangkan tubuh Naruto disampingnya, berusaha membangunkan kembali pemuda kuning itu.

" Hime…" ucap Naruto terbangun dan langsung memeluk tubuh polos Hinata disampingnya.

" naru…to-Kun!" pekik Hinata saat tubuhnya semakin erat dipeluk oleh Naruto, sepertinya Naruto tengah mengira bahwa tubuh Hinata adalah gulingnya.

" nyem..nyem..nyem… Hinatahh…." gumam Naruto dengan mata tertutup semakin menikmati tidurnya.

" Naruto-Kun~ setidaknya lepaskan aku dulu! …aku ingin membuat sarapan" ucap Hinata sedikit mendorong dada bidang Naruto dengan kedua lengannya.

" Ramen…" gumam Naruto tak mau melepaskan Hinata dari pelukannya "aku ingin ramen…" dan seringaian tipis pun terlukis di wajah Naruto.

" i-iyah…t-tapi lepaskan aku dulu Naruto-Kun!" ucap Hinata menahan dirinya yang semakin erat dipeluk oleh Naruto.

"hhooammz" uap Naruto lalu melepaskan Hinata dari pelukannya, membiarkan Hinata memasak untuk hari ini, sementara sekarang Naruto malah bergerak memungungi Hinata.

Dadanya sedikit terasa sesak karena posisi tidurnya semalam yang sangat tidak etis , namun ia harus membuat sarapan untuknya dan Naruto-Kun bukan? , dengan sedikit usaha, Hinata akhirnya berhasil bangkit lalu duduk dipinggir tempat tidur itu, sedikit menghirup udara segar pagi hari mencoba mengusir rasa sesak didadanya yang terasa sangat panas.

"Hahhhh" Hinata menghela nafas, diputarkan matanya kesegala arah mencoba menemukan kimono nya yang tadi malam dibuang entah kemana oleh Naruto "ah itu dia" gumam Hinata sambil melirik kearah kain berwarna lavender yang tersangkut di-kursi meja makan.

Dengan sekuat tenaga, Hinata mencoba bangkit berdiri dan melangkah menuju lokasi kimono nya berada, hampir saja ia terjatuh lantaran tiba-tiba pandangannya menjadi kabur setelah dua langkah berjalan, beruntung tangan kirinya mampu mengapai lemari pakaian Naruto disampingnya , jika tidak, mungkin saja ia bisa terjatuh.

Sepertiya Hinata masih sangat kelelahan, karena hampir semalaman Naruto terus saja memaksanya untuk bermain dengannya, karena Hinata yang tak mau mengecewakan Naruto, tak memperdulikan kondisi tubuhnya yang sangat kelelahan, dengan sekuat tenaga berusaha mengimbangi gerakan tubuh Naruto yang seakan tak memiliki rasa lelah.

"T-tubuhku lemas sekali" gumam Hinata mencoba melangkah lagi mendekat kearah kimono nya, Yang walaupun jaraknya sangat dekat, namun terasa begitu jauh bagi Hinata.

Setelah berhasil menggapai kimono itu, Hinata langsung memakai kimononya dan langsung duduk diatas kursi didekatnya "huhh….apa aku nanti bisa memasak?" tanyanya pada diri sendiri, ia meragukan staminanya yang belum sepenuhnya pulih, pandangan sayu-nya langsung tertuju kearah Naruto yang masih tidur terlentang diatas ranjang "Naruto-Kun.." gumam Hinata dengan sedikit tersenyum.

"humm..baiklah sekarang bukan waktunya untuk mengeluh!" gumam Hinata menyemangati dirinya yang masih terasa lemas, dengan sedikit usaha, atau lebih tepatnya memaksakan dirinya , Hinata pun berhasil bangkit dari kursi tempat duduknya untuk berdiri, walaupun sesekali kepalanya terasa berputar, namun semua itu tak langsung menyurutkan semangat Hinata untuk memasakkan Naruto sarapan.

"semoga saja Naruto-Kun punya sesuatu untuk dimasak" gumam Hinata berusaha melangkahkan kakinya menuju kulkas berwarna putih didalam dapur.

"ahh…yokatta.." pekiknya setelah melihat sebungkus ramen instan didalam kulkas didepannya yang telah ia buka " tapi cuma satu.." gumamnya lagi berusaha mencari ramen lain didalam kulkas tersebut.

"ahh sudahlah… toh aku juga tak terlalu lapar" diambilnya ramen tersebut lalu kembali menutup pintu kulkas itu.

CKLEK! Suara knop kompor gas yang diputar oleh Hinata, api biru itu pun seketika muncul dibawah panci yang sudah diberi air oleh, setelah menunggu selama 5 menit agar air didalam panci itu mendidih, Hinata langsung memasukkan mie ditangannya kedalam panci lalu disusul oleh bumbu-bumbu yang sudah ia racik sembari menunggu air didalam panci itu mendidih.

Setelah beberapa menit menunggu Ramen nya matang, Hinata pun mulai menuangkan mie beserta kuah nya kedalam mangkuk yang berukuran cukup besar, ia ambil sedikit sayuran untuk menghias ramen buatannya agar terlihat cantik.

" Akhirnya selesai juga…" gumam Hinata memandangi ramen karyanya sendiri, tanpa sadar sepasang lengan tiba-tiba melingkari pinggangnya " e-ehh…Naruto-Kun sudah bangun?" tanya Hinata menyadari sang pemilik sepasang lengan yang melingkari pinggangnya.

" setelah mencium aroma ramen buatanmu… kantuk-ku serasa menghilang.." ucap Naruto meletakkan dagunya dipundak Hinata "semoga saja rasa ramen buatanmu tak berubah..hehe"

" m-maaf jika nanti ramen-nya tidak enak… sebenarnya aku sedikit lupa dengan susunan bumbunya" ucap Hinata menunduk sedikit menyesal karena setelah sekian lama dirinya dilarang memasak ramen menyebabkan keahliannya dalam meracuk bumbu ramen menjadi sedikit menghilang.

" hum… kita coba saja…. Jika ramenmu tidak enak kau harus menerima hukuman dariku.." ucap Naruto lalu mencium pipi Hinata.

" e-ehh..h-hukuman apa lagi Naruto-Kun?" tanya Hinata dengan wajah yang semakin memanas, ia sangat tak mengerti dengan ucapan Naruto hukuman? Batin Hinata.

" emm.. aku belum memikirkannya…." Ucap Naruto bertingkah seperti berfikir keras, memikirkan hukuman yang tepat untuk menjahili gadisnya " aha" dan secercah ide pun melintasi pikirannya "kau harus memenuhi hutangmu tadi malam..hehe…siapa suruh kau pingsan disaat menit-menit terakhir..hehe" ucap Naruto menyeringai penuh arti.

" e-ehh..t-tapi aku sangat lelah Naruto-Kun" ucap Hinata merona lebih merah lagi, sungguh, dirinya sudah sangat lelah setelah meladeni permainan Naruto semalaman, ditambah lagi dengan hukuman yang akan diberikan Naruto padanya, memikirkannya saja sudah membuat Hinata merinding N-Naruto-Kun mau melakukannya lagi? Apa tubuhku masih bisa menerimanya? Batin Hinata meragukan tubuhnya yang masih belum pulih sepenuhnya.

" ahaha…bercanda Hime…bercanda…" tawa Naruto melepaskan pelukannya, dan sepertinya usahanya menjahili Hinata pun sukses saat menyadari wajah ketakutan gadisnya , dan Hinata yang mendengar tawaan Naruto pun langsung menghela nafas lega " mana mungkin aku akan melakukan itu lagi…" lanjut Naruto mengusap puncak kepala Hinata, lalu berjalan ke samping Hinata untuk mengambil ramen buatan kekasihnya itu "cuma satu?"

" emm..soal itu..aku cuma menemukan satu bungkus ramen di kulkas Naruto-Kun…jadi itu untuk Naruto-Kun saja" ucap Hinata sambil memainkan jari telunjuknya.

" hei…katamu kau lelah…kalau begitu ini untukmu saja" ucap Naruto sambil memandangi Hinata yang salah tingkah.

" i-itu untuk Naruto-Kun saja.. sungguh aku tidak lapar" sanggah Hinata.

" kalau begitu ini untuk kita berdua saja bagaimana?" tanya Naruto kepada Hinata, Hinata pun langsung menghentikan kegiatannya bermain jari setelah mendengar usulan Naruto.

" b-baiklah" ucap Hinata, Naruto yang mendengar persetujuan Hinata pun langsung mengambil ramen itu untuk dibawanya ke meja makan "Hime…ayo…" Naruto mengajak Hinata untuk pergi kearah meja makan.

" sudah kukira…kau kelaparan ya..haha" tawa Naruto melihat Hinata yang sangat lahap menyantap ramen " kejujuran itu sangat baik untuk tubuhmu Hime…."

" g-gomenne Naruto-Kun…." Ucap Hinata menghentikan makan nya lalu menunduk malu

"kenapa berhenti?" tanya Naruto heran kepada gadisnya yang tiba-tiba berhenti makan.

" m-maaf Naruto-Kun a-aku tadi kelepasan…a-aku sampai melupakanmu.." ucap Hinata masih menunduk

" sudahlah….ramen itu untukmu saja…toh aku juga masih belum lapar hehe" ucap Naruto sabil memandani Hinata yang masih saja menunduk.

" T-tapi.. "," hei..sesekali hentikanlah sifat keras kepalamu itu " ucap Naruto tiba-tiba memotong kalimat Hinata " kalau kau tak memakannya sampai habis, aku akan benar-benar memberikan hukuman yang tadi" dan sukses, ucapan Naruto, atau lebih tepatnya ancamannya pun berhasil membuat Hinata melanjutkan makannya kembali.

"b-baiklah" ucap Hinata dengan wajah semerah tomat, Naruto pun langsung tersenyum puas melihat Hinata kembali lahap memakan ramen.

Setelah beberapa menit, Hinata pun akhirnya telah selesai memakan ramen buatannya sendiri, sekarang mangkuk itu hanya tersisa kuah ramen yang lumayan banyak "umm…Hinata…kau tak mau kuahnya?" tanya Naruto dengan mulut mengeluarkan air liur, beberapa menit Naruto hanya memandangi Hinata yang sangat lahap memakan ramen, membuat Naruto semakin tak tahan ingin menikmati rasa ramen buatan Hinata, ditambah dengan aroma nya yang sungguh menggiurkan aduh…pasti rasanya lezat batin Naruto.

" t-tidak…memangnya kenapa?" tanya Hinata heran, dan seketika itulah Hinata langsung kaget melihat Naruto tiba-tiba menyeruput kuah ramennya.

" ahh…ternyata sungguh enak" ucap Naruto mengusap mulutnya dengan pungung tangannya "Hime…nanti buatkan lagi ya.." ucap Naruto memasang muka memelas didepan Hinata.

Hinata pun hanya salah tingkah melihat tingkah Naruto " b-baiklah"

O0O

Setelah selesai dengan acara makan, Naruto langsung mengajak Hinata untuk mandi bersama, awalnya Hinata menolak ajakan Naruto, namun bukan Naruto namannya kalau mudah menyerah, dengan trik 'PUPY EYES' nya, sepertinya Naruto dapat mengalahkan Hinata, akhirnya Hinata menyetujui permintaan Naruto, dengan wajah yang sangat merah, Hinata dibawa oleh Naruto dengan gaya bridal style menuju kamar mandi.

Hampir satu setengah jam lamannya Naruto dan Hinata berada didalam kamar mandi, hanya suara gemericik air serta beberapa kali terdengar suara desahan dari dalam kamar mandi, namun tak berapa lama kemudian, suara gemericik air itu pun terhenti, lalu disusul dengan terbukanya pintu kamar mandi tersebut, kepulan asap pun langsung menyeruak keluar sesaat setelah pintu itu terbuka, dan menampakkan Hinata yang berbalutkan handuk tengah dibopong Naruto keluar dari dalam kamar mandi.

" Naruto-Kun! Turunkan aku..aku bisa jalan sendiri" ucap Hinata sedikit meronta meminta diturunkan dari bopongan Naruto.

" kukira kau lelah" ucap Naruto menurunkan Hinata diatas ranjang " ternyata mandi berdua menyenangkan ya..hehe" ucap Naruto mendekatkan wajahnya diwajah Hinata yang sudah sangat memerah.

"N-Naruto-Kun~"

" hahaha…kau sungguh manis jika merona seperti itu" ucap Naruto mengecup dahi Hinata, lalu beranjak pergi meninggalkan Hinata yang masih terbaring dikasurnya dengan wajah yang kembali merona, Naruto pun berjalan kearah lemari untuk mengambil baju "ini" ucap Naruto memberikan pakaian kepada Hinata.

"N-Naruto-Kun kapan kau.." ," Ssstt..sudah pakai saja… kemarin memang aku membeli dua" ucap Naruto memotong kalimat Hinata sambil memilah-milah pakaian untuk dikenakannya sendiri.

" b-baiklah" ucap Hinata lalu beranjak dari kasur dan memakai pakaian yang telah dibelikan oleh Naruto.

Terlihat sangat anggun dengan baju lengan pendek berwarna putih yang berbalutkan dress selutut berwarna lavender kebiruan, membuat Hinata terlihat sangat manis dan juga anggun

" hehe…kau tampak cantik dengan pakaian seperti itu"

" b-benarkah?" ucap Hinata malu-malu, pakaian yang ia kenakan ini mengingatkannya dengan kencan pertamanya bersama Naruto dulu, mengingat semua itu, membuat wajah Hinata seketika pula langsung merona kemerahan.

" ya,,, kau terlihat manis…dan juga seksi..hehe" ucap Naruto.

BLUSH! Dan wajah Hinata sukses merona hebat saat Naruto mengucapkan kata seksi.

"kau sudah siap?" tanya Naruto menghampiri Hinata didepannnya.

"s-sudah" ucap Hinata, dan Naruto pun langsung melingkarkan lengannya dipingang Hinata.

" semoga mantra hiraishin ku dikamarmu masih ada" ucap Naruto lalu menghilang bersamaan dengan Hinata diperlukannya.

O0O

Sementara itu di kawasan kompleks klan Hyuuga, tak terlihat begitu banyak aktifitas di pagi ini, hanya beberapa penjaga serta beberapa tukang kebun yang sibuk menyiangi rumput liar dihalaman kompleks utama klan Hyuuga.

Sementara sang ketua klan hanya terduduk sendirian di emperan manshion utama itu sambil sesekali menyeruput teh hijau kesukaannya, wajahnya tak nampak ekspresi apapun. Datar memandangi para tukang kebun yang menyiangi rumput di halamannya "tak terasa sudah setahun kau meninggalkan kita.., Hinata.." gumamnya sendiri mendongakkan wajahnya menatap langit yang begitu biru diatas sana, seketika raut wajahnya berubah sedih.

"bagaimana keadaan ibumu disana?... apa kalian baik-baik saja disana?" gumam Hiashi tersenyum tipis "maaf ya…kemarin Tou-san tak bisa merayakan ulang tahunmu bersama-sama" dan sebuah senyum tipis itu pun berubah menjadi senyuman miris yang menyiratkan kekecewaan.

Sementara itu, dikamar sseorang gadis berumuran kurang lebih 13 tahun, terdengar sedikit keributan, terlihat seorang maid yang sepertinya sangat kebingungan " Hanabi-sama..anda harus bangun..bukankah anda ada latihan bersama Hiashi-sama hari ini" ucap sang maid mencoba membangunkan Hanabi, berbagai cara telah ia terapkan, namun lagi-lagi hasilnya gagal.

"uhh…ayolah..5 menit lagi" ucap Hanabi dengan nada kesal, dinaikkannya lagi selimut yang tadinya telah diturunkan oleh sang maid.

" kalau anda telat lagi..nanti anda bisa dimarahi oleh Hiashi-sama" dan sukses kalimat sang maid dan juga merupakan trik terakhirnya pun langsung membuat Hanabi terbangun.

" hahh..baiklah-baiklah" ucap Hanabi lalu turun dari ranjang dan langsung pergi kekamar mandi.

10 menit berlalu, dan sepertinya Hanabi telah selesai mandi, sekarang ia terlihat tengah menyisir rambut kecoklatan miliknya yang sengaja ia gerai didepan cermin " mungkin kubatalkan saja niatanku memotong rambutku ini…..kelihatannya Konohamaru lebih menyukai rambutku yang panjang" ucap Hanabi lalu meletakkan sisirnya diatas meja.

Sebenarnya Hanabi berniat memotong rambutnya menyerupai model rambut kakaknya pada saat masih kecil,saat Hanabi membuka-buka album foto keluarga, ia melihat Nee-chan nya terlihat sangat manis dengan model rambut pendek seperti itu.

Tapi karena merasa belum yakin, akhirnya Hanabi sedikit meminta masukan kepada Konohamaru, namun tak sesuai dugaannya Konohamaru tak terlalu suka dengan rencana nya yang berniat memotong rambut panjangnya, Konohamaru lebih suka Hanabi yang berambut panjang, dan akhirnya Hanabi pun menyerah dan tidak jadi memotong rambutnya.

" baiklah! Sekarang waktunya latihan…" ucap Hanabi lalu berlari keluar dari kamarnya untuk latihan bersama Tou-san nya, tapi sepertinya Hanabi tak menyadari keberadaan dua orang di kamar sebelah, tepatnya dikamar Nee-chan-nya, Hinata.

" hei….kamarmu masih sama seperti dulu.." ucap Naruto heran sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan, lalu melepaskan Hinata yang juga terheran-heran dari pelukannya.

"i-iya..kukira Tou-san sudah menyingkirkan semuannya…t-tapi sepertinya kondisi kamarku masih tetap sama seperti dulu" ucap Hinata mengecek kondisi kamarnya.

Sebenarnya, semenjak kepergian nya satu tahun yang lalu, entah mengapa Hiashi tak rela jika barang-barang anak gadisnya di pindahkan, bahkan setiap hari, Hiashi selalu menyempatkan diri membersihkan kamar putrinya itu, dan sesekali Hiashi tidur dikamar itu juga.

" P-pakaian-pakaianku juga masih ada!?" ucap Hinata setelah membuka pintu lemarinya yang penuh dengan jaket lavender nya " kukira mereka sudah membuangnya"

Tanpa Hinata sadari, mata Naruto terus saja memperhatikan tingkah Hinata yang sedang mengecek kondisi kamarnya " Hime….kita kesini bukan untuk mengecek kamarmu lho" ucap Naruto menyadarkan Hinata dari aktifitasnya.

"e-eeh..i-iya" pekik Hinata menghentikan kegiatannya lalu berjalan mendekat kearah Naruto " Naruto-Kun…" ucap Hinata sambil menundukkan kepalanya.

" iya?" ucap Naruto .

" umm..a-apa perasaan Tou-san dan juga Hanabi-Chan masih seperti dulu? Maksutku…s-setelah setahun lamanya..k-kukira mereka su.." , " bicara apa kau ini Hinata!" ucap Naruto tiba-tiba memotong kalimat Hinata.

Hinata pun hanya memandangi kedua mata sapphire itu dalam diam " mereka sungguh masih menyayangimu…apalagi Hanabi….dia sangat merindukanmu" ucap Naruto memegangi kedua bahu Hinata, mencoba untuk menyakinkan gadisnya.

" b-benarkah?" tanya Hinata.

" ya…mereka sangat merindukanmu…dan lagipula apa kau tak merindukan mereka, Hinata?" tanya Naruto.

" a-aku sangat merindukan Tou-san dan Hanabi-Chan" ucap Hinata menunduk.

" lalu apa yang kau tunggu?" ucap Naruto lalu mengecup puncak kepala Hinata "ayo kita keluar dan mengagetkan mereka"

" b-baiklah" dan kepercayaan diri Hinata pun telah kembali seutuhnya, ia sekarang percaya bahwa Tou-san dan Hanabi-Chan tengah menantinya.

.

"hyaaa!" teriak Hanabi berusaha menyerang Hiashi dengan taijutsu , beberapa tendangan pun sukses didaratkan Hanabi pada tubuh Hiashi, namun Hiashi masih bisa menangkisnya .

"lebih kencang Hanabi!" perintah Hiashi menyemangati putrinya .

" baiklah" ucap Hanabi lalu memasang kuda-kudanya kembali, namun sebelum sempat menyerang, mata Hanabi pun menangkap sesosok pria berbalutkan jubah berwarna merah yang ia ketahui adalah sang Hokage tengah memperhatikan nya dari emperan manshion utama "Naruto Nii" ucap Hanabi lalu berlari kearah Naruto meninggalkan Tou-san yang terlihat heran.

"Hokage-sama?" gumam Hiashi bingung " Hokage-sama…saya tidak tahu kalau anda tengah berada disini" ucap Hiashi berjalan mendekat kearah Naruto yang tengah berdiri di emperan manshion utama.

"hehe…aku Cuma mengantarkan seseorang" ucap Naruto sambil mengusap puncak kepala Hanabi tang sekarang tengah berdiri didekatnya.

"maksut Naruto Nii apa?" tanya Hanabi heran , Hiashi pun juga heran.

" memangya siapa yang Naruto Nii antar?" tanya Hanabi penuh selidik .

" ahaha..kau mau tahu saja Hanabi" ucap Naruto sambil tertawa menjawab pertanyaan Hanabi.

" sebenarnya Hokage-sama mengantarkan siapa?" tanya Hiashi yang sekarang sangat penasaran dengan ucapan Naruto.

" aku Cuma mengantarkan calon istriku" dan perkataan nauto pun sukses mengagetkan dua Hyuuga didepannya .

" calon istri?" gumam Hiashi terkejut siapa? aku tidak tahu kalau ada anggota klanku yang mempunyai riwayat hubungan serius dengan Hokage-sama kecuali Hinata batin Hiashi menerka-nerka

" maksut Naruto Nii apa?...apa jangan-jangan Naruto Nii telah melupakan Hinata nee?" tanya Hanabi.

" jadi maksut anda…anda akan menikah dengan salah satu anggota klan saya?..tapi kenapa saya tak diberitahu lebih dahulu" ucap Hiashi dengan penuh rasa hormat sekaligus menyelidik.

Dan rencana Naruto menjahili Hiashi dan juga Hanabi pun berakhir sukses, Naruto sangat puas melihat ekspresi Hiashi yang berubah serius, lalu ekspresi Hanabi yang seakan kecewa dengannya, senyum tipis pun tersungung di wajah sang Hokage "ayolah…kenapa kalian memasang wajah seperti itu?" tanya Naruto seakan tak punya dosa.

" Hokage-sama... walaupun anda adalah pemimpin desa, namun seharusnya anda harus memberitahu saya dulu kalau anda ingin menikahi anggota klan Hyuuga" ucap Hiashi dengan penuh hormat

" Ahahah..baiklah…bakliklah…kurasa sudah saatnya untuk dia keluar" ucap Naruto tertawa, sementara Hanabi dan Hiashi terus saja dibuatnya heran dengan sifat sang Hokage.

" Hime…keluarlah" teriak Naruto sambil menoleh kearah kamar Hinata, dan betapa kagetnya Hiashi dan juga Hanabi melihat sesosok gadis berambut indigo panjang yang tiba-tiba keluar dari kamar Hinata "hei Hanabi….kenapa kau diam saja…katanya kau ingin memeluknya?" tanya Naruto melihat Hanabi terdiam dengan ekspresi terkejut.

"N-nee-chan…?" gumam Hanabi dengan mata berkaca-kaca "N-nee-chan…hiks…Nee-chan!" dan Hanabi pun langsung berlari menyongsong Hinata yang tengah berjalan kearahnya.

BRUK! "hiks…hiks…Nee-chan…hiks…." Tangis Hanabi pun pecah setelah memeluk kakaknya yang sudah dikiranya meninggal 1 tahun yang lalu " Nee-chan…hiks…h-Hanabi kangen Nee-chan…"

" H-hanabi-Chan" gumam Hinata mengelus rambut panjang kecoklatan adiknya " gomenne Hanabi-ChanNee-chan sudah meninggalkan kalian" dan senyuman tipis pun terpampang diwajah manisnya.

"H-hinata?" dan suara baritone itu pun langsung menyita perhatian Hinata yang tengah memeluk adiknya "a-apa kau benar-benar anak-ku Hinata?" ucapnya lagi yang sekarang tengah tepat didepan Hinata yang tengah memeluk Hanabi.

"T-tou-san…" gumam Hinata menatap sendu ayahnya yang terlihat berkaca-kaca didepannya "m-maafkan Hinata…s-selama ini, Hinata hanya membuat kalian selalu sedih" ucap Hinata menunduk, ia sangat menyesal telah meninggalkan Tou-san dan Hanabi selama satu tahun.

" H-hinata..a-apa ini benar-benar kau?" tanya Hiashi kemudian meraba wajah putrinya yang dulu sampai sekarang telah dianggapnya meninggal "a-apa aku sedang bermimpi?" gumam Hiashi lagi sambil mengelus surai putrinya.

" kau tak sedang bermimpi Otou-san.." suara Naruto yang tiba-tiba menyahut dari arah belakang Hiashi " dia memang benar-benar Hinata...tapi dia bukanlah Hinata yang dulu hehe.." dan ucapan Naruto pun sukses membuat Hiashi sedikit memalingkan wajahnya sedikit melirik kearah Naruto, sementara Hinata hanya menunduk mendengar ucapan Naruto sambil tetap membalas pelukan sang adik yang masih terisak sambil memeluknya.

" apa maksutmu?" tanya Hiashi penuh keterkejutan b-bukan Hinata yang dulu?...apa maksutnya? Apa jangan-jangan dia bukanlah Hinata anakku?.. gumamnya sendiri, menerka-nerka maksut ucapan Naruto, sementara Naruto yang telah membuat bingung Hiashi yang kedua kalinya pun hanya tersenyum tipis sambil melenggang kearah Hinata lalu merangkulnya.

" dia memang Hinata…tapi bukan Hinata yang dulu….karena dia sekarang…" ucapnya terhenti lalu memandang Hinata yang sudah memerah sambil menunduk, sementara Hiashi yang dibuat kebingungan pun hanya bisa mematung menunggu ucapan Naruto "karena sekarang dia adalah UZUMAKI HINATA hehehe" ucap Naruto terkekeh lalu mengecup kepala Hinata.

"Apa!?" pekik Hiashi terkaget mengetahui ucapan Naruto " hei Naruto! Aku tak perduli kau Hokage atau apa? Tapi apa maksutmu sebenarnya?" tanya Hiashi yang sekarang terlihat marah.

" maksutku adalah…. Mulai besok Hinata akan menjadi istriku.." ucap Naruto sambil tetap menatap Hinata disampingnya yang tengah menunduk semakin dalam karena malu " Otou-san…apa kau mengizinkanku menikahi Hinata?...maaf hehe…seharusnya kalimat ini ku ucapkan satu tahun yang lalu" ucap Naruto cengingiran sambil menggaruk kepala belakangnya.

" mheh…Apa seperti itu caramu meminta restu dariku?" tanya Hiashi meremehkan Naruto " dasar kau ini… aku saja bahkan belum memeluk putriku" ucap Hiashi lalu memeluk Hinata yang juga tengah dipeluk oleh Hanabi "Hinata…. Ayah kangen denganmu" bisik Hiashi didekat telinga Hinata.

"Tou-san.." gumam Hinata tak percaya melihat sikap ayahnya yang menunjukkan kasih sayangnya dengannya, inilah pertama kalinya Hinata dipeluk oleh Hiashi, dulu Hiashi selalu saja bersikap dingin didepannya, ya walaupun tak dipungkiri Hinata kalau dibalik sifat dingin ayahnya, menyimpan berjuta rasa kasih sayang, namun sepertinya ayahnya bukanlah type orang yang akan menunjukkan rasa cintanya pada seseorang, tak terkecuali anaknya sendiri.

" kau sudah semakin cantik.." ucap Hiashi melepaskan putrinya " Hinata… kau selama ini kemana saja?...ayah selalu merindukanmu….kenapa kau tak langsung pulang?" tanya Hiashi dengan nada lembut.

" g-gomenne Tou-san..s-sebenarnya selama satu tahun itu…a-aku tak bisa pulang" ucap Hinata dengan nada semakin lirih sambil menundukkan kepalanya.

"a-apa maksutmu?" tanya Hiashi heran.

" Otou-san…biar aku yang menjelaskan semua ini…tapi sebelumnya kita duduk dulu..karena cerita si gadis keras kepala ini akan sedikit panjang" ucap Naruto mengusap puncak kepala Hinata, Hinata yang disembut Naruto 'gadis keras kepala' pun hanya melirik kearah Naruto dari ekor matanya.

" sudah kubilang jangan memanggilku Otou-san!…kau fikir aku akan langsung memberikan putriku padamu?" ucap Hiashi lalu mendudukkan diri .

" NANI?" pekik Naruto " ayolah Otou-san….apa kau tak mau memiliki cucu yang imut-imut?" dan ucapan Naruto pun sukses menebalkan warna kemerahan di wajah Hinata, dan juga membuat Hiashi sedikit mendongakkan kepalanya menatap sang Hokage muda tersebut.

" sudahlah…kita bicarakan itu nanti" ucap Hiashi " sebaiknya kau mulai menjelaskan semua yang terjadi"

"baiklah Otou-sama" ucap Naruto lalu duduk " Hime…apa kau akan terus berdiri seperti itu?" tanya Naruto melihat Hinata yang masih berdiri.

" Hanabi-Chan..lepasan Nee-chan dulu…Nee-chan mau duduk" ucap Hinata membelai surai adiknya "setelah Nee-chan duduk, kau boleh memeluk Nee-chan lagi kok"

" Nee-chan" gumam Hanabi dengan pipi yang snagat basah karena air mata, Hanabi pun melepas pelukannya pada kakaknya, supaya Hinata bisa duduk .

Setelah Hanabi melepaskan pelukannya, Hinata pun langsung mendudukkan diri mengikuti Naruto dan Tou-san nya, sementara Hanabi juga mendudukkan diri disamping Hinata yang tengah menunduk " Hanabi" ucap Hiashi yang sontak mengejutkan Hanabi yang tengah memperhatikan wajah Hinata.

" baiklah" ucap Hanabi yang seakan tahu maksut Tou-san nya memanggilnya "Nee-chan..aku mau buat teh dulu ya" ucap Hanabi lalu memeluk kakaknya lagi.

" iya Hanabi-Chan" ucap Hinata .

Sementata Hanabi pergi kedalam untuk membuatkan teh, Hiashi pun hanya memandangi Hinata yang salah tingkah " Hinata..." ucap Hiashi memanggil putrinya.

" i-iya..Tou-san?" ucap Hinata mendongakkan wajahnya menatap ayahnya, dan didapatinya senyuman tipis terpampang diwajah dingin Hiashi.

" jadi…Naruto bisa kau jelaskan sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Hiashi tiba-tiba mengubah topik.

" baiklah….sebenarnya satu tahun yang lalu…. Hinata tidaklah terbunuh dalam ledakan tersebut" uca Naruto sambil menatap Hanabi yang tengah membagikan teh hijau khas Hyuuga "trimakasih Hanabi" ucap Naruto kepada Hanabi yang baru saja memberinya secangkir teh.

" lalu?..siapa yang kita kuburkan satu tahun yang lalu?" tanya Hiashi mengerutkan dahinya.

" jadi begini ceritanya.." ucap Naruto terus menjelaskan semuanya yang terjadi, mulai dari orang yang bernama Yuri yang memalsukan kematian Hinata, sampai bagaimana Hinata dibawa kembali oleh dua ANBU yang dulunya ia tugasi untuk menjaga Hinata, Hiashi yang mendengarnya pun hanya melongo seakan tak percaya, ia bahkan sempat marah saat Naruto menceritakan bagaimana Yuri terus menerus menyuntikkan obat penghapus ingatan kepada putrinya yang tak punya kesalahan apa-apa.

Menyadari kemarahan Hiashi, Naruto berusaha menjelaskan bahwa kondisi Hinata tidak apa-apa, karena obat yang selalu disuntikkan Yuri tak membahayakan Hinata, Naruto yakin karena ia sudah membawa sempel obat itu untuk diteliti, dan hasilnya mengatakan bahwa obat itu memang benar tidak menimbulkan efek apapun, hanya menekan ingatan seseorang, Hiashi awalnya tak terima semua kegilaan ini, namun ia sedikit lega mendengar bahwa putrinya tak apa-apa.

"Nee-chan…" gumam Hanabi mengeratkan pelukannya pada Hinata setelah mendengar kisah Hinata dari Naruto "Nee-chan…benar-benar tidak apa-apa kan?" tanya Hanabi memastikan kesehatan Hinata.

" Nee-chan tidak apa-apa Hanabi-Chan…memang kemarin kepala Nee-chan sedikit pusing…tapi setelah seharian istirahat di rumah Naruto-Kun, pusing Nee-chan langsung hilang" ucap Hinata yang sukses membuat Hiashi dan juga Hanabi terkejut.

"e-eh…b-berarti dari kemarin Nee-chan sudah pulang dong?" tanya Hanabi memastikan " kenapa Nee-chan tak langsung kesini saja?"

" hehe..gomen Hanabi-Chan… karena kondisi Nee-chan yang masih lelah, Naruto-Kun tak memperbolehkan Nee-chan bertemu dengan siapapun dulu" ucap Hinata tersenyum kearah Hanabi

Sementara Naruto langsung menelan ludah lantaran mendapat tatapan dingn dari Hiashi "Otou-san..k-kenapa kau memandangiku seperti itu?" tanya Naruto ketakutan m-menyeramkan gumamnya mendapat tatapan dingin nan asinis dari Hiashi.

" kau…! " ucap Hiashi dengan penuh penekanan "jangan bilang kalau kau telah melakukan itu pada putriku?" ucap Hiashi yang langsung menyudutkan Naruto.

GLUP! B-bagaimana dia bisa tahu? Batin Naruto ketakutan, dengan kondisinya yang sudah terpojok, Naruoto terus mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Hiashi " Wari Otou-san…aku Cuma mempercepat prosesnya…lagi pula Otou-san bisa menggendong cucu lebih cepat bukan?" dan sukses ucapan Naruto menambah perempatan didahi Hiashi, sementara Hinata dan Hanabi langsung menyesalkan alasan Naruto yang semakin menambah runyam masalah Naruto Nii/ Naruto-Kun no baka batin Hinata dan Hiashi bersamaan.

" GYAAAA!... seseorang! Tolong aku!" teriak Naruto yang tengah dikejar-kejar oleh Hiashi.

"berhenti kau Hokage mesum sialan!" umpat Hiashi yang tengah mengejar Naruto yang tengah berlarian diatap-atap rumah sambil mengacungkan sebilah pedang yang entah didapatnya sejak kapan "berhenti kau!" teriaknya lagi menggema.

" N-naruto-kun!"

" sudahlah nee-chan..aku yakin Tou-san tak akan membunuhnya...hehe"

.

akhirnya chap terakhir hehe...moga aja nga terlalu berantakan n ngecewain... ok... sebenarnya aku masih mau buat epiloge dari ff ini, tapi masih ragu... para readers pada setuju ngak?... ok segitu ajah hehe... gomen jika fic ini aneh...mungkin suatu saat nanti akan gw remake lagi ceritanya...