Black Heart {Part 9}

.

.

Sungmin memencet tombol merah di dekat nakas dengan brutal "dokter! suster! sial! kenapa lama sekali!" tangan kanan Sungmin terus menggenggam erat tangan Kyuhyun. "Tuhan.. komohon.." lirihnya, air mata meluncur semakin deras dari kedua obsidiannya

Yesung, Donghae, Eunhyuk dan Kangin yang sedang duduk menunggu diluar tiba-tiba terkejut saat mendapati dokter dan beberapa orang suster berlari masuk ke dalam ruangan Kyuhyun sambil membawa beberapa alat medis melewati mereka

"Apa yang terjadi?" segera Yesung beranjak dari kursinya dan hendak melihat ke dalam ruangan, namun langkahnya terhenti saat sosok Sungmin keluar dari dalam ruangan dengan langkah gontai dan wajah tertunduk dalam

"Min kau—" bagai terhantam ribuan jarum, kedua mata elangnya membulat sempurna dan jantungnya berdenyut nyeri saat Sungmin mendongak padanya

Wajah itu... wajah manis yang terkadang berubah mengerikan itu, kini lebih nampak seperti raga yang telah kehilangan jiwanya. Wajahnya begitu lusuh dan memerah, kristal bening masih setia mengalir dari pelupuk matanya dengan amat deras—namum yang membuatnya terlihat semakin menyedihkan adalah tatapan matanya yang hampa

"S—Sungmin.." dirangkuhnya tubuh rapuh itu kedalam pelukannya. Hey, bagaimanapun Sungmin sudah seperti adik kandung bagi Yesung, hatinya benar-benar sakit melihat Sungmin yang seperti ini

Ia sungguh tak menyangka bahwa Sungmin akan seperti ini, yang ia tahu semenjak kecil Sungmin bukanlah seseorang yang akan mudah menangisi suatu hal, bahkan saat kedua orang tuanya meninggal Sungmin sama sekali tidak menitihkan air matanya—ia lebih memilih menyimpan rasa sakitnya rapat-rapat

Namun sekarang lihatlah—Sungmin seperti kehilangan sebagian nyawanya, hatinya benar-benar hancur, sebenarnya apa yang telah terjadi didalam?

Sejujurnya bukan hanya Yesung yang terkejut melihat keadaan Sungmin yang seperti itu, Kangin, Eunhyuk terutama Donghae juga memberikan reaksi yang tak jauh berbeda

Perlahan seluruh persendian di kaki Sungmin terasa semakin melemah, kedua kakinya sudah tak kuasa menahan berat tubuhnya. Seketika tubuh Sungmin merosot ke bawah hendak membentur dinginnya lantai rumah sakit

"Awas!" beruntung gerak refleks Yesung begitu cepat dan dengan sigap menahan tubuh dongsaengnya itu

"Hyung!" Donghae, Eunhyuk serta Kangin langsung membantu Yesung membawa Sungmin menuju tempat duduk dan mendudukkannya dengan hati-hati

Diam—semuanya hanya diam membiarkan Sungmin tertunduk dalam menitihkan air matanya tanpa suara

Bukan, ini bukan karena mereka tidak perduli pada Sungmin. Mereka hanya ingin membiarkan Sungmin mengeluarkan isi hatinya, mereka tak ingin membuat rasa sesak Sungmin semakin menumpuk jika meminta lelaki manis itu berhenti menangis

Mereka bahkan tidak bertanya apapun pada Sungmin—melihat kondisinya yang seperti ini sudah jelas bahwa terjadi sesuatu yang buruk pada Kyuhyun di dalam tadi

Yesung menatap nanar dongsaengnya itu, sejujurnya ia ingin sekali kembali merengkuh tubuh mungil itu tetapi, ia sadar yang diinginkan Sungmin sekarang bukanlah dirinya—melainkan Kyuhyun

Tak jauh berbeda, pancaran mata Donghae, Eunhyuk dan Kangin menggambarkan betapa mereka turut sedih melihat Sungmin yang seperti itu. Meski belum tergolong lama mengenal Sungmin, mereka tau bahwa Sungmin adalah orang yang kuat dan tak mudah jatuh

Donghae mengulurkan tangannya, hendak meraih jemari Sungmin disampingnya. Namun disaat tangan itu tinggal berjarak beberapa senti lagi, dengan cepat ia mengepalkan dan menarik tangannya. Tidak.. ia cukup tau saat ini Sungmin tidak menginginkan rasa kasihan ataupun prihatin dari siapapun

Tanpa disadari Donghae sepasang mata rupanya terus memperhatikan gerakannya tadi, sang pemilik hanya mampun menggenggam erat kaus di bagian dadanya yang terasa ngilu dengan pancaran mata yang begitu terluka

"A—aku ke toilet dulu" Eunhyuk beranjak dari kursinya

Yesung dan Kangin menatapnya sebentar lalu menggangguk, sementara Donghae? Mendengar ucapannya saja sepertinya tidak. Ia hanya terus menatap Sungmin yang tertunduk dalam dengan tubuh bergetar halus—menandakan lelaki dingin itu masih setia menumpakahkan air matanya

Eunhyuk tersenyum miris "aku memang bodoh.." lirihnya teramat pelan sebelum melangkah menjauihi mereka berempat

.

Sudah sepuluh menit mereka mengunggu, namun tak ada sedikitpun tanda-tanda dokter akan keluar dari ruangan dan memberitau kondisi Kyuhyun

Cklek

Tak lama pintu putih itu terbuka dan keluarlah sang dokter bersama beberapa orang perawat yang langsung meninggalakan ruangan dengan beberapa peralatan medis di tangan mereka

"Min, dokternya sudah keluar" Yesung menepuk lembut bahu Sungmin

Sungmin nampak mengusap jejak air matanya sebelum mendongak dan beranjak dari tempat duduknya mendekati dokter yang masih setia berdiri di depan pintu

"Bagaimana dok?" kata-kata itu meluncur dari mulut Donghae seolah mewakili apa yang ingin Sungmin ketahui sekarang

Dokter itu nampak menghela nafasnya sejenak dan melempar pandangan yang sulit diartikan pada Sungmin. Entahlah, di film-film yang pernah ditontonnya perilaku dokter yang seperti ini menandakan hal buruk telah terjadi

Tidak! jangan katakan hal yang lebih buruk telah menimpa Kyuhyun. Ia tidak akan pernah siap jika harus kehilangan hal berharganya untuk kedua kali

"Sungmin-sshi, aku bersumpah telah melakukan yang terbaik sebagai dokter. Aku mohon jangan bunuh aku, aku tidak pernah berniat sekalipun untuk membuat Kyuhyun-sshi menjadi seperti ini. Aku—"

"Katakan apa yang terjadi!" bentak Sungmin kencang. Ayolah dokter menyebalkan, ucapanmu yang bertele-tele seperti itu justu membuat perasaan dan pikiran Sungmin semakin kacau, kau memang sudah tak sayang nyawa lagi eoh?

Pria berjas putih itu menarik nafasnya "keadaan Kyuhyun-sshi semakin melemah" ujarnya

Jantung Sungmin seperti melesak keluar mendengar hal itu, sekujur tubuhnya membeku. Air matanya kembali tumpah tanpa bisa dikontrol olehnya

Sesaat dokter itu seperti lupa bahwa sosok yang menangis di hadapannya itu adalah orang yang hampir mencabut nyawanya. Ia merasa iba melihat Sungmin seperti ini "detak jantungnya memang sempat berhenti tadi, Kyuhyun-sshi seharusnya sudah dapat dinyatakan meninggal dunia. Tapi sepertinya Tuhan memiliki rencana lain, ia menunjukkan sebuah keajaiban pada kami, jantungnya kembali berdetak... yah, meskipun sangat lemah"

Sungmin menutup rapat kedua matanya.. syukurlah, Kyuhyun tidak meninggalkannya. Tapi meskipun begitu, Sungmin tetap tidak bisa bernafas lega, kondisi Kyuhyun masih kritis, bahkan bertambah lemah—tentu hal itu tidak akan menutup kemungkinan jika sewaktu-waktu hal yang buruk kembali menimpanya

"Boleh kami melihatnya?" tanya Kangin

"Maaf tuan, tapi Kyuhyun-sshi harus istirahat. Saya khawatir jika suara sekecil apapun akan mengganggunya. Lagipula ini sudah sangat larut, saya mohon pengertiannya" jelas dokter itu

Kangin menggangguk "baiklah, tak apa. kami mengerti" balasnya

"Kalau begitu saya permisi" dokter itu membungkukkan tubuhnya sebelum beranjak dari hadapan mereka

Keheningan menyelimuti mereka cukup lama, sampai akhirnya Sungmin kembali menyeka jejak air matanya "kalian pulang saja, aku akan menunggu Kyuhyun disini"

"Tapi Sungmin". "Tapi hyung" protes Yesung dan Donghae bersamaan

"Pulanglah.." Sungmin berujar pelan tanpa nada paksaan sedikitpun, namun ketiganya mengerti bahwa itu adalah putusan final darinya

"Tapi setelah kami pulang kau harus istirahat, kau sudah banyak kehilangan tenagamu hari ini" Yesung sebenarnya tidak mau meninggalakan Sungmin sendirian, tapi jika keadaannya begini mau tak mau ia tidak bisa menolaknya

"Akan kucoba.." balas Sungmin. Ya, ia sendiri tak yakin bisa beristirahat jika isi kepalanya terus memikirkan keadaan Kyuhyun sekarang

"Kau harus istirahat Sungmin, kau tidak akan diizinkan menemani Kyuhyun jika kau juga sampai sakit" Kangin menepuk pelan pundak Sungmin

"Setidaknya pikirkan juga kondisimu sendiri hyung" tangan Donghae terulur menyentuh rambut Sungmin dan mengusapnya lembut, hangat... rasanya memang hangat, namun tak sehangat sentuhan Kyuhyun

Harus Sungmin akui bahwa ia menginginkan sentuhan itu, sentuhan hangat yang selalu menyelipkan kerinduan dan ketenangan di dalamnya

Rasanya ingin sekali obsidiannya kembali menitihkan air mata, tetapi ditahannya. Sungmin yakin jika ia kembali menangis maka ketiga orang dihadapannya itu akan terus menemaninya di rumah sakit

"Sekarang kalian pulanglah, aku berjanji akan istirahat. Tidak perlu mencemaskanku" Sungmin menepis hati-hati tangan Donghae yang masih setia mengusap surai hitamnya—ia tidak mau melukai perasaan Donghae

"Baiklah kami pulang dulu" pamit ketiganya sebelum melangkah meninggalkan Sungmin dengan setengah hati

Mereka terus berjalan menyusuri lorong dingin itu, hanya langkah kaki yang setia menghiasi kesunyian diantara ketiganya. Sampai akhirnya Kangin yang baru menyadari sesuatu membuka suaranya

"Donghae-ah, dimana Eunhyuk-sshi? Bukannya tadi dia ke toilet, tapi sampai sekarang belum kembali juga" tanya Kangin

Donghae terdiam "benarkah?" jujur ia terkejut mendengar ucapan Kangin, bagaimana ia bisa tak menyadari hal itu. Dengan cepat ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphonenya menghubungi Eunhyuk

"Hyukkie, kau dimana? Kenapa belum kembali juga? Apa terjadi sesuatu?" tanya Donghae bertubi-tubi ketika telefonnya tersambung

Donghae nampak diam sesaat dan tak lama menganggukkan wajahnya "baiklah, aku mengerti. Berhati-hatilah di jalan" ujarnya sebelum mengakhiri pembicaraan dan menyimpan kembali handphonenya ke dalam saku

"Bagaimana?" tanya Kangin

"Hyukkie bilang dia baru teringat ada urusan dengan temannya, makanya ia pulang duluan. Dia juga minta maaf karena tidak sempat memberi tau" terang Donghae

Kangin nampak terkejut "lalu bagaimana kita pulang?"

"Tenang saja Kangin-sshi, kalian bisa pulang denganku" ujar Yesung. Walaupun baru beberapa jam lalu saling mengenal, melihat kedekatan dan keperdulian mereka kepada Sungmin membuat Yesung merasa sudah seperti teman lama

"Terimakasih Yesung-sshi" Kangin tersenyum ramah, kemudian mereka kembali melangkah melewati lorong rumah sakit

.

"Ngg.." Sungmin menggeliat tak nyaman dan membuka matanya saat sinar mentari memaksa masuk ke dalam obsidiannya itu

Leher dan punggungnnya terasa ngilu dan kaku, ditambah kepalanya sedikit pusing karena ia tidur dalam keadaan duduk semalam

Beberapa menit Sungmin hanya diam sambil mengucak matanya yang masih terasa berat lalu, setelah rasa pusingnya sudah berkurang ia beranjak menuju toilet untuk mencuci wajahnya

Di depan cermin Sungmin memandangi pantulan wajahnya "mataku bengkak.." lirihnya dengan suara serak. Sepertinya ia menumpahkan air matanya sangat banyak kemarin tetapi Sungmin baru menyadarinya

Setelahnya ia kembali menuju ruangan Kyuhyun, di depan pintu Sungmin hanya mampu menatap sosok Kyuhyun yang masih terpejam dari balik kaca

"Cepatlah sadar..." lirihnya teramat pelan, sementara tangan kanannya mencengkram kuat pegangan pintu

"Sungmin-sshi?" panggilan seseorang berhasil membuat Sungmin menoleh "kau menginap disini semalam?" tanyanya, sementara Sungmin hanya diam memandang orang yang berjalan mendekatinya itu

"Bagaimana tidurmu?"

"Apa maumu dokter?" Sungmin balik bertanya dengan wajahnya yang berubah sedikit kesal

"Sepertinya kau sangat membenciku, terlihat dari air mukamu yang berubah drastis ketika berbicara denganku, hahahaha" pria berjas putih itu nampak berusaha mencairkan suasana

"Memang, jadi cepat katakan apa maumu" balas Sungmin dingin

Dokter itu terdiam mendengar perkataan Sungmin—ia cukup terkejut karena ucapan Sungmin yang begitu jujur dan menusuk. "Haa.." ia hanya mampu menghela nafas berat dan mulai merogoh kantung jasnya, lalu mengulurkan sesuatu pada Sungmin

"Ini kunci ruangan Kyuhyun-sshi, masuklah. Aku tau kau sangat ingin menemaninya dari kemarin" ia meraih tangan kanan Sungmin cepat dan meletakkan kunci tersebut "sudah ya, aku masih harus memeriksa pasien lainnya" dokter muda itu tersenyum singkat sambil menepuk pucuk kepala Sungmin lembut sebelum melangkah pergi

Sungmin sempat menoleh sesaat memperhatikan sang dokter "dasar orang aneh" ejeknya sebelum kembali berbalik menghadap pintu.

Hey, Lee Sungmin apa kau tak sadar dengan kalimat yang baru saja kau ucapkan? Aneh..? Memang aneh sepertinya jika ada dokter yang datang pagi-pagi sekali ke rumah sakit, memberikan kunci kamar pasien padamu, padahal pegawai rumah sakit lainnya belum ada yang datang.. aneh kan?

Tapi isi kepala Sungmin saat ini hanya penuh dengan Kyuhyun, sehingga ia tak perlu berpikir panjang untuk segera membuka dan masuk ke dalam ruangan Kyuhyun

"Kyu.." Sungmin menyentuh tangan Kyuhyun "maafkan aku.." lagi—rasa bersalah itu kembali melanda hatinya tiap kali melihat kondisi Kyuhyun

"Sungmin?" sebuah suara memanggilnya dari belakang

Sungmin menoleh "hyung.."

Yesung menghampiri dongsaengnya itu, sepintas kedua mata elangnya memperhatikan tangan Kyuhyun yang berada di dalam genggaman Sungmin "kau benar-benar telah mendapatkannya.." lirihnya hampir seperti bisikan

"Kau mengatakan sesuatu hyung?"

Yesung menggeleng "kau sangat mencemaskannya ya?"

Sungmin melirik wajah Kyuhyun sekilas "terlihat seperti itukah?"

"Tidak usah mengelak begitu" lelaki tampan itu terkekeh kecil "kau sudah terlanjur membuktikannya semalam"

"Haiissh, sebenarnya untuk apa hyung kesini pagi-pagi begini?" sifat jutek Sungmin mulai keluar—kalau sudah begini mana berani Yesung memancingnya lagi

Yesung memutuskan untuk memberikan tas hitam yang dibawanya pada Sungmin "Ini"

Sebelah alis Sungmin terangkat naik "apalagi ini?"

"Pakaian dan makanan untukmu" jawab Yesung singkat "dari kemarin kan kau belum berganti pakaian dan makan, sudah kau mandi saja dulu. Aku yang akan menunggui Kyuhyun" suruhnya halus

Pada awalnya nampak keraguan tercetak jelas di wajah Sungmin, namun setelah Yesung berusaha meyakinkannya berulang kali barulah ia pergi ke toilet meninggalkan Kyuhyun dan Yesung berdua di ruangan itu

Yesung menarik kursi dan duduk di samping ranjang Kyuhyun. Nampak kesunyian menghiasi ruangan putih itu untuk beberapa saat

"Hei.." Yesung mulai membuka suaranya "kita sudah pernah bertemu sebelumya, namun tidak pernah saling berkenalan. Jadi, aku akan memperkenalkan diriku sekarang. Aku Yesung, aku dan Sungmin sudah bersahabat sejak kecil, yah bisa dikatakan kami selalu bersama" lanjutnya

"Aku sudah menganggap Sungmin sebagai adikku sendiri, begitupun sebaliknya. Aku tau persis bagaimana sifat Sungmin, dari kecil adik manisku itu orang yang kuat. Yah, sangat kuat hingga terkadang menyakiti dirinya sendiri" senyum pahit terlukis jelas di bibir Yesung

"Ketika kedua orang tuanya meninggal, Sungmin yang dulunya mudah tersenyum dan ramah pada orang lain seolah lenyap. Ia menjadi begitu dingin dan tidak pernah percaya pada orang-orang disekitarnya... kecuali aku" helaan nafas panjang ia hembuskan sebelum kembali melanjutkan ceritanya

"Dia kehilangan dua orang yang terpenting untuknya bersamaan, kau bisa bayangkan seberapa besar sakit dan kesedihan yang ia rasakan? Sungmin itu sangat mencintai kedua orang tuanya" Yesung mengepalkan tangannya saat kenangan masa lalu itu kembali bermain di otaknya "mungkin jika aku yang berada di posisinya aku akan menjadi gila, tapi tidak dengannya. Sungmin itu orang yang kuat, amat kuat hingga seluruh kesedihannya sanggup ditahannya sendirian. Pada mulanya aku merasa sedih melihat perubahan drastis dari sikap Sungmin, namun aku berfikir itu lebih baik dari pada ia harus hancur"

"Bertahun-tahun hatinya mati.. hingga kau datang. Aku tidak tau bagaimana kalian bisa bertemu dan saling mengenal hingga sekarang. Yang aku tau hanyalah Sungmin yang dulu perlahan mulai kembali... perlahan hatinya yang hitam kembali berwarna, tentu saja dengan warna milikmu. Yah, melihat keadaannya kemarin malam sudah cukup membuktikannya"

Yesung menatap Kyuhyun "hufftt, walau ini menyebalkan karena aku belum siap kehilangan adikku, kurasa aku harus tetap berterimakasih padamu" ia memberi jeda pada kaliamatnya "jika Sungmin bersamamu aku bisa tenang, maka dari itu aku ingin kaulah yang menjaganya sekarang, bukan untuk sementara waktu... tapi selamanya..."

Suasana kembali hening, hingga setelah lima menit Yesung baru kembali mengeluarkan suara "aku merasa konyol sudah menceritakan semua ini padamu, tapi aku yakin kau bisa mendengarkan semuanya, Hahahaha" ia tertawa sendiri baru menyadari apa yang sudah dilakukannya tadi

"Kenapa kau tertawa sendiri hyung?"

Yesung bungkam seketika dan langsung menoleh pada Sungmin yang berdiri di depan pintu "Ah, tidak apa-apa hanya ingin tertawa saja" elaknya bodoh "kau sejak kapan disitu sudah lama?" tanyanya kelabakan—ia takut Sungmin mendengar 'percakapan'-nya dengan Kyuhyun dari tadi

"Kau kenapa sih? semakin aneh saja" Sungmin melangkah mendekat dan memegang dahi Yesung "tidak panas" ucapnya

"Tentu saja, aku tidak sakit Ming! sudah berapa lama kau di depan pintu tadi?" ulangnya karena belum mendapatkan kepastian

Sungmin memutar matanya malas "aku baru mau masuk saat kau tertawa sendiri tadi"

Yesung menghela nafas lega "syukurlah, dia tidak mendengarnya"

Lagi, Sungmin memandang aneh hyungnya itu, tapi yasudahlah hyungnya itu memang aneh dari dulu "ini hyung, terimakasih" ia mengembalikan tas yang tadi diberikan Yesung

Yesung mengambilnya "ini.. kenapa kau tidak memakan makanannya?" ia menatap Sungmin

"Aku tidak lapar" balas Sungmin singkat

Yesung berdiri dari tempat duduknya "tapi kau belum makan dari kemarin Min"

Sungmin menatap sekilas "aku tidak mau makan" ucapnya final

"Haishh terserahmu sajalah" Yesung mengacak rambutnya frustasi "sudah ya, aku mau kerja dulu. Kau baik-baik disini dan jangan lupa makan siang. Kalau terjadi sesuatu langsung hubungi aku" pesan Yesung sebelum pergi dari ruangan Kyuhyun

Sepeninggalan Yesung atmosfer ruangan diselimuti oleh keheningan, Sungmin memilih untuk duduk di kursi yang tadi diduduki oleh hyungnya itu

"Kenapa kau belum membuka matamu juga?" ia meraih tangan Kyuhyun ke dalam genggamannya "kenapa kau lakukan itu padaku? setelah kau mengatakan hal yang membuatku bingung, dengan seenaknya kau hampir meninggalkanku sendirian.." ia membenamkan wajahnya pada lengan Kyuhyun

"Aku.. tidak mengerti dengan perasaanku sendiri, aku tidak mengerti kenapa rasanya begitu sakit melihatmu seperti ini, aku tidak mengerti kenapa aku tidak mau kau meninggalkanku... aku tidak mengerti mengapa setiap hal disekelilingku sekarang selalu mengingatkanku padamu. Dan aku tidak mengerti kenapa jantungku terus berdebar kencang saat bersamamu" ia semakin melesakkan wajahnya "Ukh, kenapa harus serumit ini sih" lirihnya

.

Sudah seminggu lebih Kyuhyun terbaring lemah di tempat tidur, namun tak ada tanda-tanda sedikitpun pria tampan itu akan sadar. Padahal dokter mengatakan Kyuhyun tidak koma, keadaannya pun berangsur-angsur mulai memulih, namun tetap saja kedua obsidiannya tak kunjung terbuka

"YA! Kyuhyun bodoh! Sebenarnya apasih maumu!" bentak Sungmin kencang

"Sungmin tenanglah, kita tidak bisa menyalahkannya" Yesung berusaha menenangkan Sungmin yang sudah uring-uringan selama dua hari belakangan ini

"Dokter bilang bocah ini tidak koma, tapi kenapa dia tidak sadar-sadar juga. Atau sebenarnya dia sudah sadar tetapi pura-pura masih tidak sadar? Atau dokter itu yang membohongiku!" Sungmin terus saja marah-marah menghentakkan kakinya sambil berjalan mondar-mandir disekeliling ranjang Kyuhyun

Yesung menahan Sungmin "kau itu cobalah tenang sedikit! kalau kau marah-marah terus seperti ini kau juga bisa terbaring tak berdaya karena pembuluh darahmu pecah!"

"Jadi aku harus bagaimana hyung? apa aku harus menangis sampai air mataku kering dan mengeluarkan darah? begitu!?"

"Bukan begitu juga, tapi cobalah tenang dulu jangan seperti ini. Kau itu sudah dua hari tidak tidur dan dari kemarin belum makan, kalau kau seperti ini terus yang ada nantinya Kyuhyun hanya akan menghadiri upacara pemakamanmu jika dia sadar" Yesung tau perumpamaan yang ia ucapkan terlalu berlebihan, tapi jika tidak seperti ini pasti Sungmin tidak akan diam

Dan berhasil! Sungmin sudah mulai tenang –sedikit-. "Aisshhh!" ia menghempaskan tubuhnya dengan kasar diantara Donghae dan Eunhyuk yang dari tadi hanya mampu menonton dari sofa khusus yang disediakan di dalam ruangan pasien

Sementara Yesung hanya mampu mengehela nafas melihat tingkah ajaib Sungmin, bagaimana tidak, sifat Sungmin akhir-akhir ini tidak pernah bisa diduga, kalau tidak sedang murung dan mengacuhkan semua orang, Sungmin pasti akan marah-marah seperti tadi seharian.

"Awas saja kalau ternyata dokter itu menipuku!" ancam Sungmin, kedua pasang matanya nampak menyala marah—kalau sudah begini Donghae yang biasa selalu menempel padanyapun tidak berani menggerakkan tubuhnya sedikitpun

"Dia tidak mungkin menipumu Min, dia itu dokter, pintar, tidak mungkin dia memiliki pemikiran dangkal untuk membohongimu" ujar Yesung tenang

Sungmin nampak mengepalkan tangannya "aishhh!" ia beranjak dari sofa dan pergi keluar dari ruangan

"Hyung!" Donghae langsung berdiri dari duduknya lalu keluar menyusul Sungmin

Eunhyuk terdiam melihatnya. "sudah biarkan saja mereka" satu kalima

t dari Yesung membuat Eunhyuk mengangguk paham

"Hyung! Sungmin hyung! tunggu sebentar" Donghae berlari menyusul Sungmin yang sudah berada jauh didepannya

Sungmin berhenti dan memutar tubuhnya "apa!"

Donghae merogoh saku celananya "Ini, aku lupa memberikannya padamu" ia mengulurkan sesuatu pada Sungmin

"Apa ini?" Sungmin mengambil benda itu dari tangan Donghae

Donghae menggeleng "Aku tidak tau, waktu itu aku menemukannya di tempat kita menemukan Kyuhyun. Aku berpikir kau mungkin tau milik siapa ini" jelasnya

Sungmin memperhatikan benda itu, benda berwarna emas berbentuk bulat ditangannya "lencana?" ia menyerenyitkan alis bingung. "Tapi, ini lencana sia—" ucapannya terputus begitu Sungmin membalikkan posisi lencana itu

Gambar kepala singa terukir jelas pada lencana emas itu...

Seketika kedua rahang Sungmin mengatup keras hingga tubuhnya bergetar. "Hyung kau baik-baik saja?" tanya Donghae cemas

Sungmin mendongak "aku tidak apa-apa" ia berusaha meredam emosinya "kau kembali saja ke ruangan, aku mau ke toilet dulu" suruhnya pelan

Donghae sempat diam sesaat, namun tak lama ia mengangguk "baiklah hyung" ia menurut dan berbalik menuju ruangan Kyuhyun

Tak lama setelah Donghae masuk ke dalam, obsidian Sungmin yang semula memperhatikannya kini sudah beralih pada lencana emas di tangannya

Seketika kemarahannya meluap tanpa mampu dibendungnya lagi, ia meremas kuat lencana itu "Choi Siwon.."

.

Disinilah Sungmin sekarang, berdiri tepat di depan sebuah gedung perusahaan pencakar langit yang amat megah—Choi Company

Sungmin membernarkan jas hitam yang ia kenakan serta posisi dasi yang melingkar di lehernya. Cukup lama ia tidak mengenakan pakaian formal seperti ini lagi semenjak meninggalkan kantornya, jadi rasanya masih agak sedikit risih di tubuhnya

"Kau yakin tidak mau aku temani?" tanya Yesung dari dalam mobil

"Tidak usah hyung, kau tunggu saja di mobil " jawab Sungmin tanpa menoleh

Yesung menghela nafasnya "baiklah, tapi kau jangan membuat kekacauan. mengerti?"

"Aku tidak mengerti" Sungmin langsung melangkahkan kakinya masuk tanpa memperdulikan ucapan-ucapan yang dilontarkan Yesung selanjutnya

Begitu kakinya menginjak ke dalam semua mata langung tertuju padanya, bahkan ada beberapa orang wanita yang berbisik kagum memuji dirinya. Namun, semua itu tentu tidak berpengaruh padanya, semua orang disini tidak lebih dari seorang penjilat di matanya

"A—ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya seorang resepsionis wanita gugup

Sungmin memutar matanya malas, sudah sering ia melihat pemandangan seperti ini "aku mau bertemu atasanmu" jawabnya dingin

"Apa anda sudah membuat janji tuan?" wanita itu mengeluarkan catatan dari dalam laci dan membolak-baliknya "maaf, boleh saya tau nama anda tuan?" tanyanya sopan

"Lee Sungmin"

"Maaf, tapi nama anda tidak tercantum disini. Anda harus membuat janji terlebih dahulu untuk bisa bertemu dengan atasan kami" jelas sang resepsionis mencoba menjelaskan

Sungmin mendengus "aku ini pemilik perusahan yang mati-matian ingin diajak kerjasama dengan atasanmu itu. apa jadinya nasibmu jika atasanmu itu tau kau mengusirku hmn?" ia berbicara dengan tenang namun sarat akan ancaman

Resepsionis itu terkejut mendengar ucapan Sungmin "tolong maafkan saya. Saya tidak tau bahwa anda adalah tamu penting untuk tuan Choi. Sekali lagi saya mohon maaf" ia menunduk dalam

"Sudahlah tidak perlu melakukan hal ini, kau cukup memberi tauku dimana ruangan atasanmu itu" balas Sungmin

Dan tak perlu waktu lama setelah sang resepsionis memberi tau ruangan Siwon, Sungminpun langsung melesat menuju ruangan tersebut

"Ini ruangannya" gumam Sungmin saat berada di depan pintu ruangan Siwon, tangannya terulur hendak membuka knop pintu kalau saja tidak ada suara yang terdengar dari dalam ruangan

"Jadi si Cho Kyuhyun masih belum sadarkan diri?" suara yang Sungmin yakini milik Siwon itu bertanya remeh

"Benar tuan, kabarnya sudah satu minggu lebih ia masih terbaring di rumah sakit" Sungmin tidak tau suara siapa itu, ia menduga itu adalah suara tikus-tikus suruhan Siwon

"Tapi bocah itu hebat juga masih bisa hidup setelah kita membantainya habis-habisan" demi apapun Sungmin ingin sekali mencekik sang pemilik suara itu

"Kau benar, seharusnya pengganggu seperti dia lebih pantas mati saja" kalimat Siwon yang terakhir itu berhasil membangkitkan amarah Sungmin hingga ke ubun-ubun

Dengan kasar Sungmin membuka pintu di depannya

BRAK!

"Siapa itu! beraninya kau—Sungmin?" suara Siwon yang begitu tinggi seketika melunak begitu matanya menangkap sosok Sungmin di depan pintunya

"Aku ingin bicara denganmu" ujar Sungmin dingin sambil berjalan mendekati meja kerja Siwon

"Kalian berdua keluar" Siwon menyuruh kedua anak buahnya untuk meninggalkannya dengan Sungmin, dan dengan patuh keduanya beranjak dari ruangan megah itu

"Duduklah" suruh Siwon halus

"Tidak perlu" Sungmin menanggapinya dingin, ia lalu mengeluarkan lencana dari dalam saku jasnya "ini milikmu" dilemparnya lencana itu ke atas meja—nyaris mengenai wajah tampan Siwon

Siwon melebarkan matanya "aku pikir lencana ini sudah hilang, tapi bagaimana ini bisa ada padamu?" ia sepertinya belum mengerti tujuan Sungmin kemari

"Kau yang melakukannya kan?" tanya Sungmin langsung

"Eh? melakukan apa?" Siwon mengerutkan alisnya bingung

Sungmin berdecak kesal "tidak usah pura-pura bodoh! Kau kan orang yang telah menghajar Kyuhyun waktu itu!" bentaknya habis kesabaran

Siwon terdiam berusaha mencerna perkataan Sungmin, namun tak lama ia berdiri dari kursinya dan melipat tangannya di dada sambil menatap Sungmin "iya, akulah yang melakukannya" jawabnya tanpa rasa bersalah

Sungmin mencoba menahan emosinya agar tidak menghajar Siwon saat ini juga "kenapa kau lakukan itu?" tanyanya

Siwon tersenyum sinis "aku membencinya, dia itu menyebalkan, dia itu perebut milik orang lain, dia itu licik!"

Ucapan Siwon masih terdengar membingungkan bagi Sungmin, maka dari itu ia memilih diam menunggu kalimat selanjutnya yang akan meluncur dari bibir joker itu

"Padahal dia datang belakangan, tetapi mengapa justru dia yang mendapatkan apa yang seharusnya aku dapatkan" sudut bibir Siwon semakin tertarik "orang seperti itu lebih pantas dilenyapkan dari dunia ini"

BUAGH!

Satu pukulan keras mendarat di pipi kanan Siwon—sangat kuat hingga membuat dirinya tersungkur di lantai

Sungmin mendekati Siwon yang masih meringis memegangi wajahnya dan kembali memberikan hantaman di pipi kirinya

BUAGH!

"Sialan! Sebenarnya apa yang kau inginkan hah!" Sungmin kembali melayangkan tinjunya ke wajah kanan Siwon

BUAGHH!

Sungmin menarik kerah kemeja pria yang lebih tinggi darinya itu "katakan apa tujuanmu sebenarnya!"

BUAGHHH!

"Kenapa! Kenapa kau diam saja! Ayo jawab aku!"

BUAGH!

Lagi—berkali-kali pukulan Sungmin menghantam wajah tampan Siwon yang sudah lebam-lebam dan mengeluarkan darah di sudut bibirnya

BUGH!

Kali ini pukulan Sungmin menghantam lantai tepat di samping kepala Siwon yang hampir tidak sadarkan diri

"Hosh... hosh.. kenapa kau tidak membalas pukulanku" nafas Sungmin tersengal-sengal diantara emosinya "kau pikir aku lemah! aku bahkan bisa menghabisimu sekarang juga" bentak Sungmin kencang

"Kau boleh melakukannya" diluar dugaan! walaupun harus merasakan sakit yang luar biasa Siwon justru tersenyum menatap Sungmin

Amarah Sungmin kembali naik "KAU!"

Nyaris! Nyaris saja kepalan tangannya kembali menghantam wajah Siwon, namun sekuat tenaga Sungmin menahannya "apa tujuanmu sebenarnya! Aku tau ini semua pasti berhubungan denganku! katakan apa yang kau inginkan dariku sebenarnya Choi Siwon!" ia berteriak tepat di depan wajah Siwon

Lagi-lagi Siwon kembali tersenyum "kau benar.. ini semua ada hubungannya denganmu.." lirihnya "kau ingin tau apa yang aku inginkan darimu?"

"Katakan! apa yang kau inginkan! kau menginginkan rumahku? perusahaanku? atau uangku?" sahut Sungmin

Siwon menggeleng lemah "bukan, aku hanya menginginkan hatimu.." tangannya yang bergetar terangkat mengusap pipi Sungmin "aku mencintaimu" ia tersenyum sangat lembut memandang kedua obsidian hitam Sungmin

A—apa?!

Sungmin terbelalak tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya, semua amarahnya lenyap seketika dan tubuhnya terasa lemas

"Apa? kau sedang bercanda kan?" tanyanya tak percaya

"Aku serius mencintaimu" jawab Siwon cepat "itulah sebabnya aku melakukan semua ini. Aku mati-matian mengajakmu berkerjasama hanya karena aku selalu ingin berada di sisimu, aku selalu mengikuti dan menyelidikimu untuk mengetahui semua tentang dirimu. Itu semua kulakukan karena aku mencintaimu Min" jelasnya terus terang

Siwon kembali membuka mulutnya "tapi apa? yang kudapat hanyalah kekosongan dan rasa sakit. Justru Kyuhyunlah yang mendapatkanmu, padahal aku yang bekerja keras selama ini tak pernah bisa membuatmu melihat padaku. Itulah mengapa aku membencinya" akhirnya ia membuka rahasianya selama ini di depan orang yang dicintainya

Plak!

Tangan Sungmin yang sudah memerah kembali mendarat di pipi Siwon, namun kali ini bukan pukulan, melainkan sebuah tamparan kecil

"Kau sadar apa yang telah kau lakukan?" Sungmin melepaskan cengkramannya pada leher Siwon "kau mengatakan kau mencintaiku. Tapi apa? yang kau lakukan selama ini hanyalah membuatku terganggu akan kehadiranmu. Kau seperti terobsesi padaku, bukan mencintaiku"

"Sekarang kau sudah membuat Kyuhyun terluka parah seperti itu. apa kau pikir aku akan berpaling padamu? tidak Siwon! kau justru membuatku semakin jauh darimu! apa kau sadar itu?" Sungmin diam sesaat sebelum melanjutkan ucapannya "kau hanya akan semakin menyakiti dirimu sendiri jika terus melakukan hal seperti ini"

Sungmin berdiri menjauh dari Siwon "maafkan aku, tapi aku tidak bisa membalas perasaanmu. Aku merasa sudah tidak bisa mencintai siapapun lagi" ia berjalan keluar dari ruangan, namun langkahnya terhenti ketika sampai diambang pintu "berhentilah melakukan hal seperti ini, simpanlah cintamu untuk takdirmu kelak. Aku percaya orang yang akan menjadi takdirmu itu akan lebih baik dariku" ujar Sungmin untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar pergi meninggalkan Siwon yang masih terbaring di lantai

"Takdir ya..." Siwon memejamkan kedua matanya "aku mengaku kalah darimu Cho Kyuhyun, bahkan dari awal tidak pernah ada sedikitpun tempat untukku" ia tersenyum samar—entah mengapa Siwon merasa hatinya benar-benar lega sekarang

.

"Hyung ayo pergi" perintah Sungmin setelah memasuki mobil putih milik Yesung

Yesung menoleh "urusanmu dengannya sudah selesai?'

Sungmin mengangguk "semuanya sudah selesai"

"Kau tidak membunuhnya kan?" Yesung menatap horor dongsaengnya itu, terlebih saat mendapati bercak darah di tangan Sungmin

"Mungkin hampir" balas Sungmin "tapi aku masih punya hati hyung" lanjutnya cepat sebelum Yesung kembali komentar macam-macam padanya

"Heh? tumben kau punya hati" ejek Yesung sengaja

"Ya! hyung jangan membuat emosiku naik lagi! cepat ke rumah sakit sekarang!" pekik Sungmin kesal

"Iya-iya, kau ini marah-marah saja kerjaannya" masih sempat Yesung membalasnya sebelum mulai menyalakan mobil dan melajukannya menuju rumah sakit

.

Sungmin mengira semua ini sudah berakhir? yah hampir benar. Tapi sepertinya Tuhan masih mempunyai rencana lain untuk Sungmin ketika pria manis itu sampai di rumah sakit tempat Kyuhyun dirawat

"Hyung!" Donghae berlari menghampiri Sungmin dan Yesung yang baru sampai di lobby rumah sakit dengan Eunhyuk yang berada di belakangnya

"Hosh.. hyung ini gawat! Hosh.. hosh" deru nafas Donghae begitu memburu dengan peluh yang membanjiri wajahnya

"Apa yang terjadi?" Sungmin merasa hatinya mulai tak enak

Donghae berusaha mengembalikan nafasnya dengan susah payah "aku baru saja dari kamar Kyuhyun, tapi hyung—"

"Tapi apa?" potong Sungmin mulai panik sendiri

Donghae menggigit bibir bawahnya, bersiap menerima semua kemungkinan yang akan terjadi setelah ia mengatakan hal ini pada Sungmin "tapi Kyuhyun tidak ada dimanapun. Dia.. dia menghilang.."

Seketika tubuh Sungmin merasa dirinya kosong dan dengan cepat tubuhnya merosot ke lantai

.

Ya Tuhan... cobaan apalagi sekarang?

.

.

= TBC =

Lanjuutt dari curhatan aku di chap 8, karena aku hari ini langsung post 2 chapter jadi curhatannya harus dibagi 2 XD, chap ini adalah chap terakhir yang aku buat 2013 lalu, untuk chap terakhirnya aku lagi progress sekarang. Mungkin nanti kalian bakal ngerasa gaya cerita dan gaya bahasa aku berubah (ya iyalah 4 tahun ga buat cerita) cuma aku bakal berusaha buat sebaik mungkin. Maafkan segala kekurangan dalam pengetikan yang EYDnya belum atas segala koreksi, masukan, semangat, rasa antusias yang selalu kalian kasih buat aku dari dulu, hanya karena kalian aku sanggup ngelanjutin ini.

Terakhir (beneran kali ini) peluk hangat dan kecup basar untuk uri Kyuhyunie yang mau wamil eh atau lagi sih? aku udah ngga terlalu bisa ngikutin karena segala kesibukan mahasiswa desain -", yah pokonya kamu bakal terus jadi maknae favorite aku dan juga buat uri Super Junior Oppas, terus berkarya dan semangat yah walau makin tua kalian tetep ganteng dan keren buat aku. Walau kalian ga mungkin baca ini tapi curhat kan gapapa wkwkwk XD.

makasih chingudeul yang namanya ga bisa aku sebutkan satu-satu ~