UNNAME

Cast : SuperJunior (13+2), EXO (12) and other

Summary: Ketika di dunia ini tidak punya harapan lagi tentang perdamaian. Ketika ketidak pedulian menjadi senjata hebat untuk tak terlibat lebih jauh. Mereka UNNAME, sekelompok orang tak bernama yang menjanjikan perdamaian lewat konspirasi, peneroran, separatis dan ribuan jalan yang mereka katakan "Jalan Kedamaian"

Rated: T

Genre: Adventure, Sci-fi, Crime, Friendship and Suspense

Disclaimer: Cast milik Tuhan dan FF ini milik "Unperfect Team". Kibum selalu di usahakan milik ika zordick.

Warning: Typos, World war setting, Usahakan anda cukup dewasa untuk beberapa adegan.

UNNAME

Bagian I

War

Beeettss...

DUAARR... DUARR...

DOOORR... DOOOR... DOOOR...

"Bangunlah! Kumohon bangunlah! Kita akan selamat!" jerit tangis seorang remaja dengan seragam prajurit batalyon Green Turtle terdengar sayup di tengah suara ledakan dan baku tembak senjata api. Meriam-meriam terdengar saling bersahutan seolah sedang menunjukkan kekuasaan pemimpin batalyon masing-masing.

"Ukhh.." wanita dengan seragam prajurit yang sama—hanya menggapai udara kosong. Mencari kebenaran atas masa depannya ketika semua terlihat semakin abstrak dan blur. Langit biru diatas mereka dengan awan putih yang menghiasinya begitu indah di mata indahnya. "Sohee... kau akan bertahan! Kita akan menikah dan hidup bahagia selamanya" remaja lelaki yang sedari tadi menangis, menopang tubuh sang prajurit wanita di dekapannya terus mengoceh. Memberi harapan—meski diantara mereka berdua—tidak semua yang hidup di dunia ini tahu, tidak ada harapan untuk dunia.

"Ketika dunia ini damai, aku ingin tinggal di sebuah rumah sederhana dengan halaman yang sangat luas" suara manis Sohee—wanita dengan rambut panjang hitam itu terdengar di tengah deburan ombak. Seorang lelaki yang terlihat seusia dengannya memeluknya dari belakang, menyalurkan rasa hangat diantara keduanya.

"Kau akan mendapatkannya" jawab sang lelaki dengan senyuman simpulnya—menatap matahari terbenam di ufuk barat dengan lautan indah menjadi latarnya.

"Benarkah? Saat itu berjanjilah untuk menikahiku, Yesung—ah! Kita akan memiliki anak-anak yang banyak dan sehat" Sohee menggenggam tangan yang tengah memeluk pinggangnya. "Aku akan terus menanti sampai hari yang damai itu tiba. Berjanjilah untuk memberikan kedamaian itu untukku, untuk negara kita dan dunia ini, Komandan"

Dengan luka ledakan di sekujur tubuhnya, wanita tangguh bernama Sohee itu tersenyum perih. Mengelus pipi atasan yang ia cintai. "Kedamaian" suaranya terdengar bergetar.

"Ya... aku akan memberikannya! Jangan tinggalkan aku!"

"Ye—Sung Ukkhh..." gumpalan darah melesak paksa dari mulutnya. Membuat wajah yang terkena debu perang itu masih terlihat cantik meski telah di penuhi darah. Sohee menatap wajah pria yang ia cintai, tersenyum di tengah rasa sakit yang di deranya. Tapi ia iklas akan segalanya. Ia bersedia mencapai dunia lain yang jauh lebih damai dari bumi ini.

Selamat tinggal Komandan

"Sohee! Sohee..." tangisan raungan itu terdengar. Menyatu menjadi satu di tengah lautan api yang membakar segalanya bersama suara-suara meriam yang masih asyik bersahutan.

"Komandan! Kita terdesak!" seseorang dari anggota batalyon yang di pimpin oleh remaja bernama Yesung itu melapor. "Komandan!" DOORR... DOORR... belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya untuk memperkuat hati pimpinan mereka yang baru saja di tinggal kekasih sekaligus rekan mereka, beberapa butir peluru menembus tubuhnya.

Mata Yesung membulat, hatinya berdetak tak karuan. Baru saja ia kehilangan satu rekannya kini ia harus kehilangannya lagi. Dia bangkit—balik menembaki dari balik tumpukan karung pasir yang memang di sediakan untuk menjadi benteng persembunyian. Matanya melihat ke segala arah—mencari siapa bagian dari pasukannya yang terdesak.

"Tidak..." gumamnya saat ia melihat mayat yang bergelimpangan adalah anggota batalyonnya. Hanya tertinggal dia. Seluruh batalyonnya musnah. Ini salahnya, dia membiarkan dirinya fokus pada Sohee dan meninggalkan seluruh pasukannya. Dia yang membunuh mereka.

Dengan air mata yang berlinang di pipinya. Yesung keluar dari persembunyiannya, menembak dengan berani siapa saja yang muncul di hadapannya. "MATI KALIAN BRENGSEEEK!" teriaknya bagai kesetanan. Hingga ia sadar, bumi tempat ia berdiri berbeda. Tanah hijau perbatasan negaranya bukanlah berwarna hijau lagi—melainkan merah mengerikan.

UNNAME

"Cek di sebelah sana" terdengar seorang pria berperawakan berumur memerintah dari depan sebuah tabung di tengah ruangan besar yang berisi dengan komputer-komputer super canggih.

Layar-layar besar turut menghiasi dinding-dinding berwana biru muda, orang-orang yang menggenakan jas putih tampak berlalu lalang—menunjukkan mereka orang-orang sibuk. Membolak balik kertas di tangan mereka atau mungkin menekan tombol-tombol pada komputer-komputer yang terlihat tak biasa atau hanya menatap layar-layar besar yang menampilkan data-data aneh yang tak bisa di mengerti oleh awam.

"Bagaimana detak jantungnya?" kembali sang pria berperawakan berumur bertanya.

"Normal sir!" jawab orang berjas putih yang lain.

"Papa..." seorang bocah berusia dua belas tahun menatap tak percaya dengan manusia yang terdapat di dalam tabung. Sorot matanya menggambarkan kekaguman yang luar biasa. "Siapa dia?" tanyanya pada sang ayah yang ternyata pria berumur yang menjadi pemimpin dalam laboratorium pengembang manusia perang.

"Yixing, bisakah tak mengganggu papa?"

"Papa... Yixing bertanya. Seharusnya papa menjawabnya!" bantah Yixing—bocah laki-laki dua belas tahun pada ayahnya.

"Dia bahan penelitian papa"

"Waahh... hebat!" pekik sang bocah menatap pria di dalam tabung yang mungkin saja sedikit lebih tua darinya.

Hingga... "Gawat sir.. Komputer utama mendeteksi virus yang menyerang objek utama" pekikan terdengar. "Tidak! Kita kehilangan data memorinya"

"Pastikan dia tak kehilangan unsur utama yang kita masukkan dalam DNAnya. Pertahankan terus!" sang ketua laboratorium sibuk menekan keyboard pada tabung.

"Sir... Jantungnya melemah!"

"Tambah tekanannya. Jangan biarkan dia mati dan kehilangan sedikitpun dari senjata utamanya"

"Nafasnya menghilang Sir!"

"Per—"

"Kita kehilangan dia Sir"

Sang ketua laboratorium berdecih. Sekali lagi kenapa penemuannya yang hampir sempurna itu harus kembali gagal. "Buang dia!" perintahnya mutlak kemudian keluar dari tempat kerjanya. Yixing—anaknya menatap sang pria di dalam tabung. "Kau sungguh terlihat hebat"

...

Dengan susah payah Yixing menarik tubuh manusia tabung yang ia selamatkan dari tempat pembuangan percobaan ayahnya. Di dudukkannya pria itu di tempat tidurnya. "Halo~ siapa namamu?" dia memulai monolognya. Jelas saja pria itu takkan pernah menjawabnya. Dia sudah meninggal, jantung itu bahkan sudah tak berdetak.

"Baiklah mari kita beri nama, bagaimana dengan Donghae? Aku mengambilnya dari bahasa Korea" celotehnya lagi. "Baiklah ayo kita membersihkan dirimu, Donghae"

UNNAME

"Perbatas Giorgi menjadi medan tempur antara pasukan sekutu barat dengan sekutu timur yang menyebabkan perusakan di daerah tersebut. Kor—" Twiitt... seorang anak berusia sembilan tahun menekan dengan penuh emosi tombol off di remote Tvnya. Dia menghela nafas, sebenarnya—jika boleh jujur dia muak.

"Ah... mama dan papa tidak pulang lagi ya?" tanyanya entah pada siapa saat melihat jam dinding ruang TV yang menunjukkann pukul dua belas lewat lima belas menit. Anak itu menguap sesekali. "Membosankan" gerutunya berjalan menuju kulkas. Mengambil sebotol air mineral dan langsung menegukknya.

Dia berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya. Menatap tanpa hasrat buku-buku tebal yang beberapa diantaranya telah ia hapal isinya. Ia melirik PSP yang tergolek tak berdaya di kasur miliknya. "Ahh~ aku juga bosan bermain" keluhnya.

Ia menatap sebuah benda kotak di atas meja belajarnya. Menekan tombol di atas kotak tersebut hingga memunculkan sebuah hologram layar yang terlihat begitu nyata dan jelas. "Kita lihat sampai dimana kita terakhir kali" kikiknya dengan nada mengerikan.

Ia mengetik di layar itu. Menulis dalam layar putih yang bagaikan masa depan yang masih bersih tanpa ada noda sedikit pun. "I'm The God! And The War is caused Me -GOD-" "Kurasa tak masalahkan jika dibuat sedikit lebih seru?" dia mengelus dagunya. Sesuatu yang terlihat lucu untuk di lakukan bocah seusianya. "Ahh! Sepertinya aku lupa mengirimkan skrip yang diminta Prof. Ferdinand. Ya.. bagaimana ini, Cho Kyuhyun kau sungguh bisa membuatnya menyuruhmu membuat skrip lainnya yang lebih banyak" pekik sang bocah itu sambil menjambak rambutnya frustasi.

UNNAME

Pemandangan hijau kerap kali terlihat dari balik kaca diatas kereta yang tengah berjalan. Bukan kereta api listrik—melainkan kereta api klasik dengan uap yang menggerakkannya. Suara rel dengan ban kereta yang bergesekan menimbulkan suara yang khas di tambah ketika uap itu di keluarkan dari tempat pembuangan. Terdengar merdu. Sangat merdu di banding suara senjata dan bom yang berledakan di luar sana. Dia, salah satu penumpang yang duduk di baris ke tiga kereta api memilih menyandarkan kepalanya di kaca. Tangannya mengecek kamera CLR yang bergantung di lehernya. Foto-foto kedamaian yang dicari oleh para manusia yang perang. Sesungguhnya tak ada yang bisa menghentikan perang diantara mereka kecuali mereka sendiri yang menghentikannya. Kapan mereka akan sadar untuk mengembalikan dunia yang begitu damai sebelumnya? Lelaki itu hanya seorang mahasiswa. Ya... dia menulis beberapa buku perdamaian. Dimulai dari "Tomorrow", "Best World" sampai karya terbarunya yang berjudul "Stupid War" yang jelas di tarik dari peredaran. Kejelekan pemerintah dan para penguasa perang di tulis sesuai fakta di sana mengingat betapa cintanya dia pada perdamaian hingga membuang perkuliahannya demi mencari fakta tentang ya—perdamaian yang selalu dia dan masyarakat dunia ini impikan. "Itu omong kosong. Selama peperangan ini memberi keuntungan untuk para sampah dunia" Tan Hangeng—mahasiswa Cambrige yang memilih mengambil cutinya di tahun ke dua tersebut teringat kata salah satu dosennya. Dia menghela nafas, memijit pelipisnya. "Apa sungguh tidak ada jalan keluar mencapai perdamaian itu?" gumamnya menikmati semilir angin yang menghembus rambut hitamnya. Sekali lagi dia merutuk. Kapan mereka akan melihat buku-bukunya bukan sebagai argument seorang mahasiswa melainkan sebuah fakta yang memang harus di pandang? Bukankah dia jauh lebih baik dari pada mahasiswa anarkis yang hanya bisa berdemo? Ia memberikan karya dan solusi dalam karya-karyanya bukan hanya protes kosong tak berguna. Piiipp... Hangeng meronggoh sakunya, mengeluarkan smartphonenya dari sana. From: Prof. Rustorf I think you must back and stay in Cambrige. Nobody there want to heard you. I know what's the problem, son. Hangeng tersenyum miris. Ya... dia memang berencana kembali tapi ia tak ingin menyerah. Ia rasa bersabar sebentar lagi akan membantunya mendapatkan jalan keluar yang lebih baik memperoleh perdamaian yang mereka inginkan.

UNNAME

Suara musik berdentum keras terdengar. Seorang dengan wajah cantik meliuk-liukkan tubuhnya di sebuah panggung dengan tiang di tengahnya. Rambut pirang panjangnya sampai mencapai pinggang. Bibir merah menggoda, hidung mancung yang terlihat eksotis dan bola mata berwarna biru indah.

"Dia wanita sempurna" bisik beberapa lelaki menatapnya penuh pancaran keterpesonaan. Tubuh tingginya menambah kriteria luar biasa, kakinya yang jenjang di balut dengan high heels yang kontras warnanya dengan kulit putihnya.

Seperti bidadari, dia terlalu indah untuk di gambarkan. Terlalu sempurna. Dan bukankah dia terlalu kotor jika di pekerjakan sebagai seorang penghibur di sebuah klub malam di kota yang bisa dikatakan sebagai kota hiburan terbesar dunia.

Ia mengibaskan rambutnya. Melempar senyuman indah untuk terakhir kali di kala musik berhenti. Ia melambaikan tangannya kemudian berjalan begitu anggun ke belakang panggung. "Good, always perfect Heechul" sang boss bertepuk tangan untuknya secara pribadi. Ia menyeringgai "Apa aku mendapat uang lebih untuk kali ini?"

"Sudah di transfer ke rekeningmu" ucap sang boss.

Heechul menarik kuat rambutnya kemudian, membuat rambut pirang itu terlepas dari kepalanya dan berganti dengan rambut hitam seleher yang sedikit bergelombang. Dia melepas gaunnya dan mengganti dengan kaos V-neck serta celana panjang. Di hapusnya cepat make up yang menutupi secara sempurna penyamarannya sebagai seorang wanita penghibur. Dia memakai blazer dan kacamata hitamnya.

"Hah~" ia menghela nafasnya. Sedikit lelah dengan apa yang setiap hari ia lakukan. Jemari lentiknya bermain di atas IPADnya. Melihat satu persatu artikel tentang perang dunia, kematian di sana sini, bom ini dan itu yang terkadang membuatnya muak. "Perdamaian masih jauh dari dunia ini" boss memberikan secangkir kopi untuk Heechul.

Sang lelaki cantik itu menaikkan kacamata hitamnya. "Apa salahnya berharap, boss? Itu lebih menyenangkan dari pada bermimpi dan kemudian terbangun"

"Lalu apa harapanmu? Bukankah mimpiku yang menjadi orang kaya dan mempunyai istri yang cantik tidak terlalu muluk?"

Heechul tertawa meremehkan. "Kemudian itu akan menghilang saat kau terbangun, right? Harapanku ya? Aku hanya ingin merobohkan benteng kota hiburan dimana aku dilahirkan ini. Aku ingin melihat dunia luar dan tidak hanya hidup sebagai gigolo busuk" tawa canda terdengar kemudian.

"Percayalah padaku Kim Heechul, pekerjaanmu lebih mulia dari mereka yang duduk sambil mengamati kematian satu per satu manusia akibat senjata-senjata yang mereka buat sendiri"

"God bless me, it's your mean?"

"Yeah... of course"

"But I not believe it"

UNNAME

Ruangan itu serba putih, hanya ada jendela kecil dan jeruji yang menutupinya. Seorang pria memeluk lututnya sendiri di dalam sana, memandang kosong lantai dari atas tempat tidurnya. Dia menyenandungkan lagu anak-anak yang memang pantas di nyanyikan oleh anak seusianya.

London Bridge is falling down
Falling down, falling down
London Bridge is falling down
My fair lady

Suara merdunya terdengar. Bocah sebelas tahun itu tampak menikmatinya nyanyiannya dengan air mata merembes di pipinya namun seringgaian mengerikan terlihat di bibirnya. Sepertinya tiga tahun berada di dalam rumah sakit jiwa itu tak kunjung membuatnya sembuh.

"Ryeowook—ah"

Bocah kecil itu berhenti bernyanyi, "Apa mama dan papa datang menjemput Wookie?" tanyanya. Sang perawat menggeleng pelan, tahu sekali bahwa Ryeowook terkadang lupa bahwa orang tuanya telah meninggal tiga tahun lalu akibat serangan tentara di kediamannya di London.

Ryeowook mengangguk, kemudian dia kembali mengutak-atik lagu yang ada di ipodnya. Kembali memasangkan headset ke telinganya.

London Bridge is falling down
Falling down, falling down
London Bridge is falling down
My fair lady

Dia bernyanyi kembali. Sambil mencoret-coret kertas putih di tangannya. Scaramouche, ia menulis. (Scaramouche : Pengecut banyak omong) Scaramouche akan datang menjemputku.
mengucapkan selamat datang untukku.
Tapi ia tak pernah tahu, bahwa yang ia jeput seorang Lucifer?

UNNAME

Seorang bocah sembilan tahun mengelus lembut kucing persia berbulu hitam kelam di pangkuannya. Sang bocah menatap ke dalam mata sang kucing yang berwarna perak terkesan hitam. Begitu datar dan tanpa ekspresi. Dia menghela nafasnya sejenak. "Mereka datang" bisiknya begitu halus. PRAANGGG... "SIALAN KAU! PERGI KAU DARI RUMAHKU BRENGSEK!" Suara wanita terdengar meninggi. Teriakan demi teriakan mengiris kalbu terdengar makin keras. "AKU AKAN PERGI JIKA AKU BISA MERUBAH POSISI LABORATORIUM KU!" balas sang lelaki. PLAAKK... Tamparan terdengar. Bocah itu menghela nafasnya sekali lagi. "Tao... seberapa lama kau akan bisa menemaniku?" tanyanya pada sang kucing. "Hmm.. sepertinya kita juga membutuhkan sesuatu agar kau bisa berbicara" lanjutnya. "KENAPA KAU MENAMPARKU?" Suara teriakan sang wanita terdengar menggelegar. "KECILKAN SUARAMU PELACUR! KIBUM BISA BANGUN" "BIARKAN DIA BANGUN, BIAR DIA TAHU BAGAIMANA TINGKAH BAJINGAN SEPERTIMU" "Miaww" seakan mengerti perasaan sang majikan. Kucing kecil itu mengendus wajah Kibum—bocah sembilan tahun yang masih menunduk memandang lantai. "Aku benci keributan" "Miaw.. miaw..." "Hmm... kau benar Tao, kita akan menyelesaikannya nanti" bocah itu memasuki laboratorium ayahnya yang terbengkalai. Menghidupkan komputer canggih di tengah ruangan. Ia kemudian menaikkan sebelah alisnya saat password itu muncul di layar. Ia melirik pada kucingnya sejenak, apa yang harus ia isi? Dia terkikik kemudian, otak jeniusnya bekerja dan mencari ribuan kemungkinan. Cetekk.. cetekk... cetekk... suara keyboard berbunyi terdengar dan benar saja. Ia menemukan password sang ayah. Ia menyeringgai kemudian.

UNNAME

Sekali lagi remaja itu menangis tak karuan. Isakkan demi isakkan lolos dari bibirnya. "TEMBAK YANG BENAR" teriak seorang lelaki membuat remaja itu kembali menarik pelatuk senapan laras panjangnya. DOORR... "Kemana kau menembak, BODOH!" pekikan kembali terdengar di tambah dengan sebuah cambukan di tubuhnya. "Jari-jariku sakit ayah" adunya. "Tembak seratus kali lagi Lee Hyuk Jae! Atau kau tak dapat makan malam" "Ayah~" Eunhyuk mencoba memelas dengan mata yang sudah memerah. Tangannya bahkan merasa gemetar memegang senjata laras panjang itu terus menerus. "200 meter! Kau harus bisa menembak mata kiri manusia dari jarak 200 meter!" DOOR... DOORR...

UNNAME

Suara dentuman ranjau yang saling bersahutan. Baku tembak senjata seolah mejadi lahapan sehari-hari para remaja yang kini sedang bersembunyi di belakang sebuah batu besar di camp perbatasan. Beberapa diantara mereka menangis—meminta ingin di pulangkan. Mereka bukan pasukan elit, mereka hanya tawanan perang yang kabur dari sebuah penjara perang di markas tentara musuh.

"Tidak akan ada yang menolong kita" seorang remaja bertubuh pendek dengan AK 47 di tangannya mengintip dari balik semak. Membidik siapapun jikalau ada yang mendekat. "Masih ada harapan" seorang remaja bertubuh besar dengan senapan AK 47 lain di tangannya tersenyum begitu lembut.

"Ahh... kapan kau akan berhenti mengoceh tentang harapan Kangin?" decih remaja di dalam semak. "Sampai aku mati atau harapanku terwujud"

"Mungkin kau akan mati sebentar lagi"

Kangin mengangkat bahunya. Tidak terlalu ingin peduli. Ia melirik beberapa orang anak perempuan dan anak yang lebih kecil dari usianya. Mereka menangis dan saling berpelukan.

SREET..

Sang anak dari dalam semak, memberi isyarat bahwa ada yang mendekat. Kangin menelan ludahnya. Ini kali pertama ia memegang senjata, ini hanya soal keberuntungan mungkin. Ia harus melindungi keluarga kecil yang terbentuk dalam sel penjara tahanan perang itu. Cukup sekali ia kehilangan keluarganya. Cukup ia melihat ayah, ibu dan adiknya terbunuh saat di tembaki oleh tentara—entah itu musuh atau kawan.

Angin berhembus, ranting-ranting berbunyi dan aroma hutan tercium segar. "Kakak..." suara bisik terdengar dari salah seorang anak. Kangin menatap gadis cantik bermata biru yang tadi memangginya. "Kita akan selamat Cristina" Kangin meyakinkan.

"Mereka tim elit"

"Apa?!" Kangin membulatkan matanya saat temannya di dalam semak memberitahunya. "Batalyon apa?"

"Fist32, sepertinya"

Kangin merutuk. Mereka sungguh tak akan selamat. Itu batalyon yang amat hebat. DOOORR... DOOORR... DOOORR... suara tembakan menghujani. "Keluarlah anak-anak nakal! Aku tahu kalian di sana" seorang wanita berambut pendek menjilat bibirnya.

"LARII! Aku akan menahan disini!" remaja yang bersembunyi dalam semak menembak dengan membabi buta. "BODOH KAU FERNANDO!" teriak Kangin membantu temannya itu menembak musuh mereka satu per satu.

"ARGHH!"

"Cristina!" pekik Kangin.

DOORR... anak perempuan itu mati.

DOORR... DOOORR... DOOOR... satu per satu keluarganya yang baru saja ia bangun pergi. Tertembak dan menjadi eksekusi mati untuk mereka.

"Tidak! Tidak! FERNANDO!" Kangin menfokuskan tembakan. Dia mengenai beberapa orang. Cukup hebat untuk seseorang yang tak pernah memegang senjata sepertinya. DOOOR.. peluru itu meleset dari dahi Kangin namun... mata Kangin membulat. Keluarganya yang hanya satu-satunya di dunia ini. "FERNANDO!" pekiknya.

UNNAME

Menghilanglah bersama bayangan.

Biarkan suara angin menyamarkan suara langkahmu

Baumu seirama dengan bebau dari dedaunan alami

Remaja dengan pakaian ala ninjanya, duduk bersimpuh di dalam sebuah kamar dengan penerangan minim. Di usianya yang ke lima belas, ia harus yakin bahwa ia bukan seorang pecundang yang tak bisa mewarisi nama LEE dari keluarganya.

"Tuan muda, tuan besar mencari anda"

Remaja itu menghela nafasnya. Ia membuka kelopak matanya berlahan. Ia keluar dari kamar latihannya, melewati hutan bambu belakang rumahnya yang terletak di pergunungan terpencil.

Ketika ia tiba di rumah utama, remaja itu bisa melihat bahwa ayahnya yang tengah duduk bersimpuh menatap altar. "Appa" panggil si remaja.

"Duduklah Sungmin—ah!"

Sungmin ikut duduk bersimpuh di belakang ayahnya. Ketika ayahnya berbalik, Sungmin dapat melihat sebuah pedang yang sedang di sodorkan padanya. "Sebutkan aturan keluarga kita!"

"Sopan adalah senjata. Tata krama adalah tameng dan kekuatan berasal dari hati yang tenang" Sungmin bahkan tak pernah melihat mata ayahnya ketika ia berhadapan dengan beliau. Bukan karena takut melainkan rasa segan dan hormatnya. "Hmm... hari ini kau berusia 15 tahun"

"Nee appa" jawab Sungmin. "Sung gi, masuklah" Sungmin menunduk saat mendengar suara kaki kakaknya memasuki ruangan. Sungmin menoleh dan mendapati sang kakak yang tersenyum padanya. Ia dan kakaknya memang sangat dekat meski usia mereka terpaut empat tahun. Sang kakak memang terlalu menjaga sang adik dan Sungmin yang terlalu bangga pada Sung gi yang selalu ia anggap sebagai motivasi hidupnya.

"Sungmin—ah, ambillah pedang ini!" kembali sang ayah memecah lamunan Sungmin. "Nee, appa" jawab Sungmin meraih pedang yang bisa dikatakan merupakan pedang warisan yang memang di berikan secara turun temurun. Kakaknya sendiri sudah mendapatkan pedangnya di usia yang sama dengan Sungmin dahulu.

"Kalau begitu bertarunglah! Bawa kepala saudara kalian padaku"

Eh...

Kedua bersaudara itu melotot menatap sang ayah. "Ini bukan candaan, aku meminta kepala saudara kalian. Ini perintah dariku dan leluhur kalian"

"Ba.. bagaimana bisa?" Sungmin bahkan tergugup mendengar perintah sang ayah. "Itu aturan keluarga kita. Yang paling kuatlah yang bisa mewarisi nama keluarga Lee"

TREEKK..

Pintu tertutup. Hanya tinggal dia dan kakaknya di dalam ruangan altar leluhur tersebut. "Kakak..." Sungmin mencoba memelas.

"Ayo saling bunuh, Ming~!" ujar Sunggi dengan senyuman di wajahnya.

UNNAME

Seorang bocah menatap salju yang turun dari langit yang memenuhi halaman rumahnya dari jendela kamarnya. Ia menghela nafas—bosan pikirnya. Ia berjalan keluar kamarnya—menuju dapur berharap sang pengasuh akan menyediakan segelas coklat panas untuknya. Ia merasa tubuhnya perlu di hangatkan.

"Hmm... tidak ada orang ya?" tanyanya entah pada siapa.

Siiingg...

Sebuah suara terasa mengganggunya. "Nanny~" panggilnya pada sang pelayan yang kunjung juga tak mendapat jawaban. Sebuah boneka koala di dekapnya erat untuk mengusir rasa takut yang terasa makin menghantuinya.

GREEEB...

Sebuah tangan besar membekap mulutnya dan menggendong tubuhnya. Dia mendongak dan mendapati ayahnya serta ibunya dengan wajah pucat dan keringat dingin bercucuran. "Mama~ papa~" panggilnya.

Sang ibu hanya memberi isyarat padanya agar diam. Bocah itu menurut—membiarkan ayah dan ibunya membawanya ke dalam kamarnya. "Henry... lihat ini!" sang ayah buru-buru mengeluarkan sebuah buku yang bertulisan tangan dari dalam saku bajunya. Si bocah—Henry kembali menuruti, melihat satu per satu halaman, seiring sang ayah yang membolak-balik kertas itu untuknya.

Saat halaman terakhir selesai Henry lihat, sang ayah kembali menatap sang anak. "Dengar Henry! Apapun yang terjadi berjanjilah pada ayah untuk tak melupakan seluruh isi yang kau lihat tadi. Tunjukkan isi itu pada orang yang sangat kau percaya. Mengerti son?"

Henry mengangguk, kemudian sang ibu cepat menarik tubuh sang bocah masuk kedalam lemari pakaiannya. "Jangan biarkan mereka menemukannya dan membunuhmu sayang! Hiduplah sampai perdamaian menyelimuti dunia ini" ujar sang ibu menutup cepat pintu lemari.

BRAAAKK...

Suara pintu kamar Henry yang di dobrak terdengar. Henry mengintip dari celah lemarinya yang masih tersisa sedikit. Melihat dan menyaksikan bagaimana sang ayah membakar buku yang tadi di perlihatkan padanya di depan beberapa orang sepertinya Henry duga penjahat.

"Sh*t! What are you doing?!" maki salah satu dari mereka. "Bunuh wanita itu dan bawa Prof. Lau! Kita akan menyuruhnya untuk menyalin kembali" perintah yang lainnya.

Di saat itu, Henry dapat melihatnya. Ketika sang ibu kembali memberi isyarat diam padanya. Hanya boneka koala itu yang bisa ia peluk. Rasanya ia ingin berteriak, menyelamatkan sang ibu yang di tembaki dengan pistol yang entah jenis apa. "Mama~" dia membekap mulutnya sendiri. Kemudian ia dapat mendengar suara jeritan tangis sang ayah. "JENNY!"

UNNAME

"Permisi... Permisi" seorang mahasiswa berlari menyusuri koridor fakultasnya. Nafasnya terdengar terengah. Jantungnya berpacu cepat. Demi apa.. siapa gerangan orang yang dengan teganya memutar jam wakernya menjadi jam tujuh sementara ia harus masuk jam setengah delapan pagi.

KREET...

"I'm so sorry sir!" ujarnya saat dia sudah membuka pintu kelasnya. Sang dosen hanya menaikkan kacamata minusnya, menatap tajam pada sang mahasiswa berwajah ramah bagaikan malaikat itu. Sebuah senyuman yang memberikan kenyamanan ia tunjukkan. Dia membungkuk sopan. "I'm so sorry!"

"Leeteuk—ssi, Stop to say Sorry! I dislike it. Come in!" perintah sang dosen. Terbukti bahwa sang mahasiswa bukanlah mahasiswa yang tak menonjol. Sang dosen killer dengan kejeniusan luar biasa itu sepertinya sudah cukup mengenal sang mahasiswanya itu dengan sangat baik. "Thanks!"

"Ok.. maaf untuk ketidaknyamanan tadi. Silahkan tuliskan pendapat anda tentang Multiple Identity Disorder"

UNNAME

"Tuhan... kumohon, berikan kedamaian di dunia ini. Berikan rahmat mu untuk manusia-manusia pendosa di muka bumi ini. Tanganmu selalu terbuka untuk kami dan aku tahu Engkau sedang melihat kami" doa itu terdengar manis seperti senandung pagi di salah satu kamar di panti asuhan korban perang di daerah Norwegia.

"Siwon... kau berdoa lagi? Apa tidak bosan?" celutuk seorang lelaki ketika seorang remaja keluar dari rumah doa. Siwon—remaja yang mempunyai hobi berdoa itu tersenyum, memamerkan dimple nya yang terlihat begitu tampan.

Siwon melangkahkan kakinya ke tengah halaman panti yang luas dan terbilang cukup asri. Ia mengeluarkan buku gambarnya dari dalam tasnya. Di gambarnya seorang wanita penjaga panti yang cukup cantik. "Kenapa kau menggambarnya? Kau menyukainya?" tanyanya pada Siwon.

Kembali tersenyum.

Ia kemudian melukis keseluruh panti yang bisa ia lihat dari sudut pandangnya. Kembali membuat pertanyaan pada pemuda seusia dengannya yang masih asyik melihat apa yang ia lakukan. "Kenapa kau—" pertanyaan pemuda itu terpotong saat Siwon mulai melukis api yang amat besar di dalam gambar pantinya.

"Aku hanya menggambarkan masa depan yang akan berakhir" Siwon kali ini berbicara. "Dan teman... aku takkan bosan meminta pada Tuhan, karena Dia, belum menghianatiku"

"Tuhan telah membunuh orang tuamu"

"Itu pantas"

UNNAME

Salah seorang mahasiswa dengan rambut kemerahan melangkahkan kaki jenjangnya ke dalam auditorium kebanggaan Harvard. Dengan senyum yang penuh kebanggaan dan kepercayaan diri dia memperkenalkan dirinya.

"My name is Zhoumi. Saya dengan ini memperkenalkan sebuah obat pengobatan kanker. Berikut cara kerjanya" dia menunjuk holongram besar di sampingnya. Mulai menjelaskan tentang ini dan itu yang ditanggapi dengan tatapan tak percaya oleh semua orang yang ada di sana.

"Jenius!"

"Dia Ibnu Sina masa depan!"

UNNAME

Seorang lelaki tambun menelan ludahnya gugup. Ia berkali-kali merapalkan doa untuk dirinya melalui hatinya. Dia perlahan menggeser kursornya. "Hei.. tenanglah Shindong—ah! Kau akan mendapatkan IP yang benar sesuai dengan kemampuanmu"

"Ya.. ku harap begitu" ucap sang pemuda gugup. Ia memberanikan dirinya mengklik OK setelah sebelumnya memasukkan Identitas mahasiswanya.

Tekk...

Loading...

"KAU LIHAT! AKU MENDAPATKAN EMPAT KOMA NOL! BEASISWAKU!" teriaknya histeris.

"Ku harap kau menjadi sarjana hukum yang hebat dua tahun kedepan" ucap temannya sambil terkekeh melihat ulah sahabatnya. "Ku harap aku akan bisa menulis hukum baru tentang perdamaian dunia suatu hari nanti" sambung sang lelaki tambun itu disertai cengirannya.

UNNAME

2 years later...

"Selamat atas keberhasilanmu Leeteuk—ssi" sebuah suara menyambut seorang pemuda berambut pirang dengan pakaian wisudanya dari atas panggung. Pemuda bernama Leeteuk itu tersenyum, menampakkan dimple di pipinya. "Thanks prof"

"So, can I know what do you want to do? I know you are a genius student" puji sang dosen membuat Leeteuk menampilkan cengirannya. Sedikit malu atas pujian berlebihan si dosen.

"Aku belum memikirkannya" jawab Leeteuk kemudian.

Sang dosen menepuk bahunya. "Jika kau tertarik aku akan memperkerjakanmu di sebuah rumah sakit jiwa yang cukup besar di Wasington ini"

"Aku akan mempertimbangkannya Sir. Eh.. boleh aku tahu kenapa tempat itu selalu ramai? Aku gagal melakukan riset di sana saat penyusunan skripsiku, sir"

"Hmm... banyak keluarga dan korban perang yang masuk kesana belakangan ini" sang dosen memasang wajah berpikirnya. Mencoba mengingat-ngingat beberapa pasiennya. Leeteuk memasang wajah terluka—tak ia sangka harus menjadi seperti itu. "So sorry to heard that"

"Sir... kurasa aku sudah menemukan tujuanku"

Sang dosen tersenyum, menepuk bahu mahasiswa jeniusnya beberapa kali. "Kalau begitu aku tak bisa memaksamu lagi". Kembali Leeteuk tertawa—ia sungguh dimengerti ternyata.

Ya... aku kembali teringat cita-citaku sebelum aku memasuki universitas.

Dan itu masih tetap sama...

Perdamaian dunia.

"Baiklah, aku harus mencari orang yang bisa mewujudkan itu" Leeteuk kembali menatap sang dosen. Dosen tua itu tertawa, ia kemudian menyerahkan sebuah kertas dari saku jasnya. "Kuharap dia bisa membantumu. Tanyakanlah padanya tentang apa yang kau butuhkan"

"Bryan Trevor Kim?"

"Ya... dia

.

.

.

.

Pasienku di San Fransisco"

TBC

Hah...

FF ini sungguh berat. T.T dari tadi bolak balik google terus. Tapi beruntunglah ini FF yang bukan di hasilkan oleh satu orang.

Ok...

Ini FF pertama karya "Unperfect team" oke... ika zordick dengan seenak jidatnya memberi nama team ini. Masih mencari author yang bisa menyumbangkan ide dan bergabung di team.. XD

Akhir kata... mohon reviewnya. Karena kalau FF ini di bawah target maka tidak dilanjutkan... Trims...

TTD

Unperfect team