Masa lalu adalah kenangan. Untuk melangkah maju, terkadang masa lalu harus dibuang. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran, bukan sebagai patokan. Masa depan adalah sesuatu yang harus dijalani. Tak ada yang tahu dengan apa yang terjadi di masa depan, oleh karena itu Sakura berusaha agar masa lalu tidak menjadi penghambat masa depannya. Kaguya Kimimaro adalah masa lalunya, Uchiha Sasuke adalah masa depannya.

"Uuuuugh!"

Sakura terbangun tiba-tiba karena mendengar suara aneh. Ada gerakan-gerakan tak biasa pada ranjangnya. Wanita itu terkejut melihat suaminya bergerak gelisah dalam tidur, peluh membasahi wajahnya.

"Sasuke-san," panggilnya sambil menggerakan tubuh sang suami. Ia berhenti beberapa detik karena teringat pada kenangan mengerikannya dulu. Ia pernah mengalami hal seperti ini, berusaha membangunkan Sasuke bisa saja mengulangi kejadian buruk saat Sasuke mencekiknya dulu.

Sakura lalu mengambil sapu tangan dari lemari, mengusap wajah suaminya. Keringat membanjiri sekujur tubuh Sasuke.

"Tenang, Sasuke-san," bisik Sakura lembut. Ia mengusap-usap rambut sang suami. Terkadang pipi lelaki itu tak luput dari belaian tangannya. Wanita berambut merah muda itu bernapas lega saat Sasuke terlihat sudah tenang. Napas suaminya sudah kembali teratur. Sakura kembali ke posisi tidurnya, ia menaikkan sedikit tubunya agar dapat memeluk tubuh pria bermata tajam itu. "Tidurlah, Sasuke-san," ucapnya sebelum mengecup dahi sang suami. Lalu, tak lama kemudian ia juga jatuh ke alam mimpi.

Biarlah saat ini ia yang menjaga Sasuke dari mimpi buruknya. Ia ingin menemani Sasuke melewati masa lalu kelamnya. Ia ingin selalu berada di sisi suaminya. Suaminya sudah memberikan yang terbaik untuknya selama ini, maka sekaranglah gilirannya untuk memberi yang terbaik pula. Karena mereka bukan lagi dua orang yang berdiri sendiri, mereka sudah menjadi satu. Mereka telah bersatu dalam sebuah ikatan yang bernama pernikahan. Secara pelan tapi pasti, ikatan yang terjalin di antara mereka semakin menguat. Dan secara senyap, sesuatu yang bernama cinta sudah mulai bersemi.

Sasuke memang tak salah, wanita ini memang membawa kedamaian ke dalam hatinya, mengisi kekosongan hidupnya. Sakura memang telah memberi warna baru dalam hidupnya. Hidupnya yang datar dan suram telah berubah karena warna cerah dari bunganya dan keceriaan yang mengiringi waita itu.

.

.

.

.

.

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Story by Morena L

Main chara: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uzumaki Karin, Senju Tobirama

Warning: AU, OOC, typo, DLDR, rated M untuk konflik dan bahasan yang berat

.

.

.

.

.

.

.

Sakura meringis sebentar saat ia tengah menyiapkan pakaian Sasuke. Perut bagian bawahnya terasa nyeri. Kedua tangannya pun kini melingkari perutnya, akibat sakit yang ia rasakan. Sudah beberapa kali ia merasakan sakit seperti ini, apalagi sejak insiden tabrakan itu, sakitnya semakin sering terasa.

Untung saja sakit yang ia rasakan sudah reda saat Sasuke ke luar dari kamar mandi. Kalau tidak apa yang harus ia jelaskan pada Sasuke nanti. Seperti kebiasaannya selama ini, setiap pagi Sakura selalu mempersiapkan dan merapikan pakaian yang dikenakan oleh suaminya. Bukannya Sasuke tak bisa merapikan pakaian sendiri, akan tetapi Sakura merasa itu adalah tugasnya sebagai seorang istri. Selain itu, ia menyukai atmosfer yang terbangun jika mereka sedang berdua saja.

"Tidak terasa, ya, bulan April nanti Kenichi sudah sekolah," ujar Sakura saat memasangkan kancing pada kemeja Sasuke.

"Hn."

"Kenichi bilang dia mau belajar militer, biar bisa sepertimu dan ayahnya."

Sasuke menahan tangan Sakura yang sedang memasang kacing di bagian dadanya. "Jangan dulu," serunya sebelum melepaskan tangan Sakura. "Biarkan dia menikmati sekolah seperti anak-anak pada umumnya, setelah itu terserah kalau dia mau masuk sekolah militer."

Sakura melanjutkan aksinya memasang kancing sambil menatap sang suami.

"Belajar militer sejak kecil akan memenjarakan kebebasannya."

"Aku setuju. Biarlah dia menikmati masa-masa indah seperti anak-anak pada umumnya."

"Hn. Dia juga masih butuh perhatian kita secara penuh."

"Maksud Sasuke-san?"

"Kita adalah pengganti orangtuanya, kurasa dia masih ingin menjadi pusat perhatian kita. Kenichi masih ingin mendapatkan kasih sayang penuh dari kita, dia masih belum mau berbagi dengan yang lain. Sebaiknya kita fokus dulu dengannya, setelah dia siap, setelah dia puas, baru kita berikan satu atau dua orang adik untuknya."

Wanita dengan rambut senada bunga sakura itu tertegun. Tak disangka, Sasuke sudah berpikir sejauh itu. Ia saja tidak berpikir kalau mungkin saja Kenichi masih ingin bermanja-manja dengan mereka, masih belum mau berbagi kasih sayang setelah orangtunya tiada. Setelah kehilangan Shikamaru dan Temari, sudah tentu Kenichi ingin kembali mendapatkan kasih sayang seperti yang diberikan oleh orangtuanya. Ya, bisa saja Kenichi menjadi iri kalau dalam waktu dekat mereka memiliki seorang anak. Mungkin saja ia masih ingin bermanja-manja dengan mereka, tapi perhatian mereka harus terbagi. Dibalik sikapnya yang pendiam, ternyata suaminya memang seorang pengamat yang luar biasa.

"Kemarin aku mengajukan cuti."

"Cuti untuk tahun baru nanti?"

Lelaki itu mengangguk.

"Senangnya ... kita bisa melewati tahun baru bertiga."

"Tidak bertiga."

Sakura mengernyitkan kening. Bingung.

"Aku menyayangi Kenichi. Tapi, bukan berarti aku mau bulan madu bertiga."

Rasanya jantung Sakura akan melonjak ke luar saking bahagianya. Kalau dipikir-pikir benar juga, mereka sama sekali belum berbulan madu setelah menikah pada bulan Oktober kemarin. Banyak sekali sisi tak terduga dari Sasuke yang tidak diketahuinya sama sekali.

.

.

.

oOo

.

.

.

Karin berjalan-jalan sebentar di pagi hari. Pikirannya masih tertutupi gelombang kekhawatiran. Bagaimana kalau ia benar-benar hamil? Akankah nasibnya seperti Kurenai?

Wanitya itu memberikan senyum pada penjaga yang membukakan pintu gerbang untuknya. Wanita dengan mahkota kepala berwarna merah itu melangkahkan kaki sembari menghirup udara pagi. Matahari baru saja mengintip dari ufuk timur, suasana pagi masih terlihat begitu damai, berbeda sekali dengan pikirannya yang tak bisa tenang.

"Uzumaki-san?"

Suara seorang wanita yang begitu kecil membuatnya berhenti melangkah. Ia berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya tadi. Napas Karin sedikit berat saat melihat dengan jelas sosok yang memanggilnya. Hyuuga Hinata, istri Neji. Dari balik kimononya Karin dapat menangkap perut yang semakin membesar. Wanita itu juga sudah lebih gemuk dibandingkan dengan terakhir kali Karin melihatnya. Efek kehamilan. Tentu saja, memangnya apa lagi? Hati Karin sedikit pedih mengingat ayah anak itu adalah Neji, pria yang dulu pernah merajai hatinya.

"Sedang apa?" tanya Hinata ramah.

"Jalan pagi," jawab Karin canggung.

Kedua wanita itu jalan berjalan beriringan. Suasana canggung, kikuk, tak biasa terlihat dengan begitu jelas. Keduanya tampak berhati-hati. Ada banyak yang ingin mereka utarakan, namun semuanya hanya sampai di bibir, tertahan.

"Terima kasih, Uzumaki-san."

"Untuk?"

"Memberikan nasihat pada Neji-san."

"Dia sudah punya pilihan sejak awal, dia hanya bimbang. Aku tidak membantu apa-apa."

Mereka berdua terus berjalan, sampai ketika Hinata tidak sengaja tersandung, dengan sigap Karin membantunya. Ia menahan tubuh pewaris klan Hyuuga itu tepat sebelum wanita indigo itu terjatuh.

"Hati-hati, kau sedang hamil," ujar Karin. Ia mengusap punggung Hinata, membantu menenangkan wanita yang sedang shock itu.

"Se-sekali lagi, terima kasih."

"Hm. Bagaimana rasanya saat pertama kali tahu kalau kau sedang hamil?"

Mereka berdua duduk di bangku sebuah taman. Tak terasa mereka sudah berjalan cukup jauh dari rumah masing-masing—rumah keduanya memang bersebelahan.

"Aku terkejut. Tidak kusangka akan secepat itu. Neji-san juga terke—"

"Aku menanyakan perasaanmu, bukan Neji."

"Ah, maaf." Hinata lupa kalau wanita yang ada di sebelahnya ini adalah mantan kekasih Neji. Wanita yang—ia yakini—masih dicintai Neji sampai sekarang. Mereka pernah punya masa lalu. Mereka pernah punya kenangan yang indah. Takdir tak terduga yang membuat keadaan menjadi seperti sekarang ini. "Seharusnya akulah yang meminta maaf. Kalau saja pernikahanku dengan Naruto-kun dulu tidak batal ... sudah pasti—"

"Kita sudah melewatinya, Hinata. Aku tak ingin membahasnya lagi. Kenyataannya, saat ini kaulah istri Neji dan aku sudah punya pasanganku sendiri. Kita sudah punya kehidupan sendiri-sendiri."

Karin telah belajar bahwa hidup ini memang kejam. Mau memberontak atas takdir yang dianggap kejam pun percuma. Penolakan tak akan mengubah apa-apa, yang ada hanya akan membuatnya semakin tenggelam dalam penyesalan, tak bisa bangkit. Akhirnya ia sendiri yang menderita karena tak dapat berbuat apa-apa.

"Ya. Kau benar, Uzumaki-san. Pada awalnya aku memang tak bisa menerima kenyataan. Apalagi pada saat Naruto-kun kembali. Kalau mengikuti keinginanku, aku ingin lari dan pergi bersamanya. Tapi, aku harus realistis. Aku adalah pewaris klan, dalam rahimku sudah ada sebuah nyawa. Aku juga adalah seorang istri. Tak adil bagi keluargaku kalau aku pergi hanya karena mementingkan diriku sendiri. Aku tahu ayahku bersalah, karena itu aku harus memperbaiki kesalahan beliau. Saat ini aku adalah istri Neji-san, anak ini anak Neji-san, nasib klan ke depannya berada di tanganku. Jadi, kuputuskan untuk tinggal. Walau aku menikah tanpa cinta, tapi aku mencintai anak ini. Dia darah dagingku, aku akan melakukan apa pun agar anak ini mendapatkan masa depan yang baik."

"..."

Hinata menatap langit. Langit biru yang begitu bersih. Nyawa yang sedang tumbuh dalam rahimnya pun tak berdosa. "Aku sangat terkejut waktu tahu aku sedang mengandung. Aku merasa tak siap, terlalu cepat. Dalam diriku tumbuh kekhawatiran, apakah aku bisa menjadi seorang ibu yang baik? Apa aku bisa membesarkan anak ini dengan baik? Begitu banyak hal yang kupikirkan pada mulanya. Tapi, semuanya bisa dilewati jika kau sendiri kuat. Kekuatan wanita yang akan menjadi seorang ibu itu tak terduga, Uzumaki-san. Percayalah."

Karin juga ikut menatap langit yang semakin terang. "Kurasa sudah cukup lama kita berjalan-jalan, sebaiknya kita kembali sebelum kita dicari."

Kalau Karin telaah kembali, nasibnya tak lebih baik dari Hinata. Bahkan, wanita itu menikah dengan Neji yan bisa dibilang sama sekali tidak mencintainya. Mereka berada dalam ikatan yang jauh lebih menyesakkan darinya. Bedanya, Neji tidak seperti Tobirama yang sulit ditebak. Neji pasti akan bertanggung jawab dengan keluarganya. Diam-diam ia berdoa untuk kebahagiaan Neji.

Lalu, Tobirama? Karin tak bisa apa-apa jika Tobirama tidak menginginkan anaknya—seandainya benar ia sedang mengandung. Tapi, dari kata-kata Hinata tadi ia juga belajar sesuatu. Tak peduli seperti apa hubungannya dengan Neji, Hinata tetap mencintai bayi dalam kandungannya. Begitu juga dengan Karin. Jika benar dia hamil, dan jika benar Tobirama tidak menginginkan anak itu, maka Karin akan tetap mempertahankannya. Karin bukanlah wanita tak punya yang tega menggugurkan bayinya sendiri.

"Sebaiknya kau katakan pada pasanganmu," seru Hinata saat mereka berpisah di depan gerbang rumah Tobirama. Kalimatnya mengandung sejuta makna. Terutama senyumnya, wanita itu sepertinya tahu akan apa yang sedang Karin khawatirkan.

"Akan kucoba."

.

.

.

oOo

.

.

.

Kecupan-kecupan itu merambat semakin dalam. Suasana yang tercipta semakin panas. Intensitas di antara mereka semakin membuat sesak—bernapas pun terasa sulit. Dingin menyerbu kulit bahunya saat yukata tidurnya itu didorong turun—sedikit kasar.

Tiba-tiba suara ketukan pada pintu menginterupsi.

Tapi Sasuke tak peduli. Gerakan bibir sang suami mulai menjajah leher sampai bahunya.

Ketukan itu semakin kencang terdengar.

"Sasuke-san, se-sepertinya ada yang mengetuk pintu."

Lelaki itu masih tak peduli. "Nanti juga pergi," ujarnya kesal.

Kembali ketukan itu mengganggu aktivitas keduanya.

"Sepertinya i-itu—ahhhn ... pe-penting."

"Ck."

Ketukan lagi.

Sasuke masih berusaha mengabaikannya.

"KENICHI!" seru Sakura yang mendorong kepala Sasuke dari dadanya.

"Hn?"

"Ketukan itu pasti Kenichi," pekik Sakura panik.

"Kenichi sudah tidur tadi." Suaranya datar, namun sama sekali tak dapat menyembunyikan kekesalannya.

"Tapi—"

Ucapannya terpotong akibat ciuman Sasuke pada bibir tipisnya. Sakura sangat yakin kalau yang sedang mengetuk pintu itu pasti Kenichi. "Sebentar." Kembali ia mendorong tubuh suaminya. "Hanya sebentar, aku janji!"

Sakura lalu memperbaiki yukata tidurnya yang cukup berantakan. Sambil mengencangkan ikatan pada yukatanya, ia berjalan menuju pintu. Saat membuka pintu, sosok mungil Kenichi berdiri dengan malu-malu.

"Ada apa, Sayang?"

"Aku boleh tidur malam ini sama Nee-san dan Ji-san?" tanya bocah itu ragu-ragu.

"Kenapa?"

Ia tidak menjawab pertanyaan Sakura, akan tetapi langsung menarik tangan Sakura untuk masuk ke dalam kamar. Tanpa aba-aba, bocah yang baru berusia lima tahun itu langsung naik ke atas tempat tidur. Berguling sebentar di bawah selimut yang hangat, lalu memepetkan tubuh kecilnya ke tubuh sang paman. Kenichi pun memberikan senyum lebar pada lelaki itu.

Sakura tertawa kecil saat melihat wajah Sasuke yang semakin tak bersahabat. Sepanjang yang Sakura tahu, Sasuke tak pernah menunjukkan ekspresi seperti itu pada Kenichi. Sambil menahan tawa, ia ikut bergabung bersama suami dan si kecil. "Dia bilang ingin tidur bersama kita malam ini."

"Iya, biasanya kalau turun salju aku suka tidur bersama Kaa-san dan Tou-san, biar hangat," timpal bocah itu. Benar-benar polos.

"Kau kedinginan kalau tidur sendiri, ya?" tambah Sakura sambil memeluk anak lelaki yang sangat ia sayangi itu.

"Hm." Kenichi mengangguk-angguk. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Sakura.

"Maaf, ya, Sasuke-san," kata Sakura. Sebenarnya ia cukup merasa bersalah pada suaminya, namun keadaan yang sangat langka ini sungguh lucu baginya.

"Hn."

"Dulu Kaa-san suka memelukku," gumamnya lagi, setengah berbisik. "Tou-san juga," sambungnya sambil melirik Sasuke.

Dan Sakura hampir tak bisa menahan tawanya. Kenichi pasti tak tahu kalau pamannya itu sedang menyimpan rasa kesal. Tapi, apa boleh buat, Sasuke tak mungkin memarahi anak itu. Wanita yang hampir berusia dua puluh tahun itu memandang lembut saat Sasuke menggerakan tangannya untuk mengelus kepala Kenichi. Ekspresi tak menyenangkan tadi sudah hilang. Pemandangan ini membuat suasana di antara mereka bertiga menjadi begitu hangat. Sasuke menepuk-nepuk tubuh Kenichi, dan Sakura mengusap rambutnya sampai bocah itu tertidur. Sayang sekali anak ini begitu cepat kehilangan kedua orangtuanya, namun, sebagai gantinya ia mendapatkan dua orang yang menyayanginya seperti menyayangi anak sendiri.

"Mengenai adiknya, Sasuke-san ingin yang bagaimana?"

Sasuke mengangkat kepalanya.

"Maksudku, Sasuke-san ingin punya anak yang seperti apa?"

"Kau sendiri?"

"Aku ingin punya yang seperti Sasuke-san," jawab Sakura mantap.

"Hn?"

"Iya, yang sepertimu. Sasuke-san bagaimana?"

"..."

Sakura masih menunggu jawaban suaminya. Lelaki itu tampak berpikir sebentar.

"Yang sepertimu."

Sakura terkejut, sama sekali tak menyangka pada jawaban suaminya.

"Sejujurnya aku ini orang yang cukup berisik. Apalagi kalau melihat hal-hal yang tak sesuai dengan keinginanku. Kupikir Sasuke-san tak menyukai keramaian."

"Kalau keramaian itu berasal dari tawa ceria keluargaku, kenapa aku harus tak suka?"

Sakura sedikit tersipu. Semakin lama ia semakin menyukai suaminya. Jika sudah mengenal sifat sesungguhnya pria ini, maka ada banyak hal yang mengejutkan. Sasuke tak sedingin kelihatannya. Pada orang-orang tertentu, ia bisa bersikap begitu hangat. Setiap detik yang terlewati membuat rasa cinta yang ada di hati Sakura tumbuh semakin besar.

.

.

.

oOo

.

.

.

Karin memberanikan diri untuk memeriksakan dirinya ke dokter. Ia tak ingin terus berada dalam ketidakpastian. Bukan hanya itu, yang paling penting, ia tak ingin terus berada dalam ketakutan. Siap tak siap, mau tak mau, ia harus melewatinya. Ini adalah ujian hidupnya. Karin menyemprotkan parfum pada tubuhnya. Sejak bersama Tobirama, ia hampir tak bisa dipisahkan dari botol parfum. Tobirama juga paham akan kesukaan kekasihnya itu sehingga ia dengan sukarela membelikan banyak parfum dengan berbagai macam aroma untuk Karin. Bahkan beberapa hari belakangan ini, ia semakin tergila-gila pada cairan beraroma itu.

Karin menolak untuk pergi ke dokter kenalan Tobirama. Ia tak ingin sang dokter melaporkan hasil pemerikasaannya pada Tobirama. Kalaupun benar Karin hamil, cukup ia dulu yang tahu. Paling tidak, ia bisa mempersiapkan diri untuk memberitahu Tobirama.

Karin berbaring dengan sejuta keraguan dalam benaknya. Begitu banyak hal yang menjadi beban pikirannya. Ia hampir memberontak saat merasakan cairan kental yang dingin menyentuh perutnya.

"Tenang saja," kata Matsuri-sensei, dokter yang memeriksanya. "Ini teknologi baru, masih dalam tahap uji coba, semoga berhasil dan kita bisa segera tahu kondisimu."

Tadinya Karin sedikit ragu saat mendengar dang dokter akan memerikasanya dengan menggunakan alat bernama USG. Dia bahkan baru pertama kali mendengar nama alat tersebut, akan tetapi, Matsuri-sensei meyakinkannya kalau penggunaan USG akan membuat hasilnya bisa langsung diketahui. Tak ingin membuang waktu, Karin pun setuju untuk menggunakan alat itu untuk mendiagnosa kehamilannya.

"Mari kita lihat ... ah! Ini dia."

Karin melihat ke arah monitor yang ditunjukkan sang dokter.

"Selamat, Anda memang sedang hamil."

Semuanya berkecamuk sekarang. Berbagai macam emosi dan pikiran menjadi satu. Karin sama sekali tak mendengar penjelasan sang dokter. Ia sudah terlanjur kalut. Bagaimana ini? Bagaimana sekarang? Apa yang harus ia lakukan? Cara apa yang harus ia gunakan untuk memberitahu Tobirama? Dan ... apa yang harus ia lakukan kalau anak ini ditolak Tobirama? Apa ia sanggup membesarkan anak tanpa seorang ayah? Bagaimana ini?

oOo

Langkah gontai mengiringinya saat meninggalkan klinik. Ia belum siap untuk menerima kenyataan. Sekuat apa pun tadi Karin meyakinkan dirinya sendiri, ternyata kenyataan yang menghantamnya jauh lebih kuat. Dirinya benar-benar hamil! Ini bukanlah spekulasi, melainkan kenyataan.

Tepat saat itu Karin melihat Tobirama yang memasuki sebuah restoran. Ia ingin memanggil namun tak jadi karena pria itu terlihat buru-buru. Dari balik dinding kaca restoran, ia dapat melihat lelaki itu.

Dengan. Sangat. Jelas.

Tobirama tak sendirian, ada Kurenai juga di sana. Dan yang membuat Karin seperti diterjang gelombang Tsunami adalah kehadiran seorang anak kecil di samping Kurenai. Anak laki-laki berambut hitam, usianya sekitar lima sampai enam tahun. Anak itu terlihat sedang tersenyum malu-malu pada Tobirama. Hati karin semakin hancur berkeping-keping saat kekasihnya itu memberikan kotak kado yang besar pada anak itu. Bocah laki-laki itu menjadi sangat girang saat menerima kadonya, senyum anak itu juga terlihat semakin lebar saat Tobirama mengacak-acak rambutnya.

Karin tertawa getir.

Matanya mulai berkaca-kaca.

Pantas saja pria itu bilang ingin berhenti.

Karin yang bodoh karena sudah terlalu percaya diri kalau dirinya yang dipilih lelaki itu.

Tentu saja Tobirama akan berhenti, ia sudah punya seorang anak laki-laki yang akan menjadi penerusnya.

Tak lama lagi pria itu pasti akan menendangnya.

Karin tak perlu bertanya lagi, semuanya sudah jelas sekarang. Tobirama akan kembali melabuhkan hatinya pada Kurenai. Karin pasti akan bernasib sama dengan perempuan lainnya yang dicampakkan.

Dan hatinya hancur berkeping-keping. Kali ini jauh lebih menyakitkan dibandingkan saat mendengar kabar mengenai pernikahan Neji dulu.

.

.

.

oOo

.

.

.

"Kenichi, jangan lari-lari, Sayang. Ayo, makan siang dulu," bujuk Sakura sambil mengejar Kenichi yang berlari mengelilingi seisi rumah. Bukannya menurut, anak itu malah semakin bersemangat menghindari kejaran Sakura. "Kenichi, kalau lari terus nanti Nee-san bilang pada Ji-san supaya kamu jangan masuk sekolah dulu."

Mendengar ancaman itu, Kenichi pun berhenti. Sakura tersenyum lebar melihat ancamannya berhasil. Ia tahu kalau anak ini begitu antusias karena akan memasuki bangku sekolah dasar pada bulan April nanti.

"Ayo, sini," ujar Sakura sambil menggelitik perut Kenichi.

"Hahaha ... Nee-san, geli, hahaha ... Nee-san, geliiiii."

Sakura terus bersemangat menggelitiki bocah kesayangannya tersebut.

"Aaaa ... berhenti Nee-san, geliiii."

Lalu, nyeri itu kembali datang. Sakura berhenti, ia meringis sebentar. Agar Kenichi tidak khawatir, ia tersenyum singkat pada anak itu. "Ke ruang makan, ya, nanti Nee-san menyusul."

Kenichi mengangguk dan berlari meninggalkan Sakura. Saat akan berdiri, sakit pada perut bagian bawahnya semakin menjadi-jadi.

Sakura jatuh tersungkur sambil memegang perutnya. "Ayame!" panggilnya menahan sakit. Apa yang terjadi? Tubuhnya kenapa?

oOo

Malam harinya, begitu rapat selesai, Sasuke langsung meninggalkan markas militer. Ketika mendengar kabar Sakura dilarikan ke rumah sakit, ia langsung kehilangan seluruh konsentrasinya. Aneh memang karena selama ini Sakura tak pernah mengeluh mengenai kondisi kesehatannya pada Sasuke. Sakura juga selama ini terlihat sehat-sehat saja. Apa Sakura menyembunyikan sesuatu darinya?

"Anda suaminya?"

"Ya, istri saya kenapa, Sensei?"

"Tadi siang mereka membawanya dalam keadaan kesakitan sambil memegang perutnya."

Dokter itu memegang sebuah benda aneh berwarna hitam tranparan. Teradapat gambar-gambar aneh pada benda tersebut. Sasuke tak begitu mengerti soal dunia medis, jadi ia tak begitu paham dengan benda yang dipegang oleh sang dokter.

"Ini hasil X-ray istrimu. Hasilnya tidak begitu bagus."

"Istri saya kenapa? Dia pernah tertabrak dulu. Apa ada efek sampingnya, Sensei?"

Dokter yang bernama Yakushi Kabuto itu menggeleng. "Ini tak ada hubungannya dengan riwayat istri Anda yang pernah tertabrak. Ini lebih buruk lagi."

"..."

"Kedua indung telurnya mengalami radang. Agar tidak lebih buruk kita harus segera melakukan operasi untuk mengangkatnya."

"Lakukan saja."

"Apa Anda harus tahu risikonya? Kalau kedua indung telurnya diangkat, seumur hidup istri Anda tak akan bisa memiliki anak."

.

.

.

.

.

Tbc

A/N:

Teknologi USG dan X-ray mulai berkembang pada dunia kedokteran pada tahun 1950an. Ini konflik terakhirnya, setelah melewati konflik ini maka fict ini saya nyatakan tamat :D TT

Balas review dulu, yang login cek PM

Zzz: makasih, ini udah update. TR nanti dulu ya, belum dapat mood nulis buat ngelanjutin #dilempar

Ara-chan: yoi

Minri: makasih, Tobirama memang bikin greget sampai minta dicium #hoi

Reader: iya, karin hamil ^^

Uchihayukicherry: hohoho tunggu di chapter depan ya ;)

Rainy de: makasih, TR nanti ya, belum dapat mood nulisnya #dibuang

Juvenda Ama: makasih, ini udah update ^^

Ichikawa: udah update :3

Mysaki: kalau itu tunggu di chapter selanjutnya ya ;)

Riatokid: makasih, iya karin positif hamil

Nona CherryTomato: Amin

Silent reader: haha kemarin lebih fokus ke kimisaku sih

Guest: makasih ^^

Hachiko desuka: Sasu mah pasti semangat wkwk

Qren: makasih, ini sudah update

Abrakadabra: makasih udah review di tiap chapternya ^^ ini udah update

Harakim98: makasih, ini udah update ;)

Taca haruno: hayo tebak, saya laki-laki atau perempuan? Wkwk

ChintyaMalfoy: makasih ^^

Lena: fict ini tidak ada lemonnya hehe :3

Haruchan: makasih ^^ mantannya sasu? Ga ada kok, dia ga pernah pacaran, kalau dulu mainnya sama geisha mungkin wkwk #dichidori

Hasna: TobiKarin "main" terus sih, jadinya hamil deh fufufu #dihajar

Hanya saya: iyap, ini konflik puncakya SasuSaku dan TobiKarin

Seoun ah: amin TT

.

.

.

Terima kasih semuanya, saya tunggu tanggapannya untuk chapter ini.