Kebahagiaan tak selamanya ada. Untuk mencapai kebahagiaan sejati, seseorang harus melewati ujian yang sangat berat. Kehidupan memberikan cobaan yang terkadang begitu berat untuk ditanggung, tapi bukan berarti tak dapat dilewati.

Hidup ini sebuah misteri. Akhir-akhir ini Sasuke berpikir bahwa segalanya berjalan begitu mudah. Ia sudah jarang mengalami mimpi buruk, Kenichi sudah bisa kembali ceria, rumah tangganya juga semakin harmonis. Semua terasa luar biasa karena ia akhirnya memiliki keluarga ideal seperti yang diimpikannya selama ini. Sayangnya, saat ini ia seperti kembali dipermainkan oleh takdir.

"Kedua saluran indung telurnya mengalami peradangan. Agar tidak lebih buruk kita harus segera melakukan operasi untuk mengangkatnya."

Sasuke mendengar ucapan dokter lelaki itu dengan pikiran yang tenang. Ia berusaha keras untuk terus berkepala dingin. "Lakukan saja," ujarnya tanpa ragu. Apa saja. Apa pun akan ia lakukan demi kesembuhan Sakura.

"Apa Anda tahu risikonya? Kalau kedua indung telurnya diangkat, seumur hidup istri Anda tak akan bisa memiliki anak."

Rasanya seperti dihempaskan ke bumi dari ketinggian ribuan meter saat mendengar pernyataan tersebut. Operasi ini akan membahayakan jika tidak segera dilakukan. Namun, jika dilakukan maka risikonya tidak main-main. Seumur hidup tak dapat memiliki anak. Ia tak sanggup membayangkannya.

"Sebenarnya ini cukup aneh karena usia istri Anda masih begitu muda, kami menduga aktivitas hormonnya tidak stabil sehingga terjadi reaksi yang menyebabkan radang pada indung telurnya."

"Apa tidak ada cara lain, Sensei?"

"Maaf, kami belum menemukan alternatif pengobatan lain yang lebih efektif."

Suasana hening tercipta selama beberapa saat. Kabuto-sensei mengerti bahwa keputusan apa pun yang akan diambil akan sangat berat. Apa daya, masih ada keterbatasan dalam dunia medis sehingga hanya seperti inilah cara satu-satunya agar wanita muda itu dapat selamat.

"Sensei, apa dengan operasi ini Anda bisa menjamin kalau keadaan istri saya bisa membaik?"

"Saya akan berusaha, Tuan Uchiha."

Sasuke memejamkan matanya sebentar. "Baiklah." Suaranya terdengar semakin berat, bernapas pasrah ia berucap,"Segera lakukan operasinya."

Masih terbayang wajah bahagia Sakura bercerita tentang calon buah hati, seorang anak yang seperti Sasuke. Saat itu, Sasuke tak kuasa untuk ikut tersenyum. Ia bahagia, sangat bahagia. Walau Sakura membayangkan anak yang sepertinya, Sasuke punya pandangan yang berbeda. Ia ingin memiliki seorang anak perempuan yang seperti istrinya. Gadis kecil yang manja dan selalu menuntut ini itu, gadis kecil yang selalu ingin merebut perhatian semua orang, gadis kecil yang punya senyum semanis ibunya, mata yang juga seindah mata ibunya, dan pipi tembam yang senantiasa dicubit Kenichi. Gadis kecil manja yang akan merengek kalau Sasuke tak menuruti keinginannya, gadis kecil yang akan bersolek di depan cermin bersama ibunya, yang akan bersembunyi di belakang Kenichi kalau ada yang menggodanya, dan Kenichi akan berkelahi dengan anak-anak nakal tersebut karena sudah mengganggu adik perempuannya.

Impian sederhananya itu ... apakah terlalu sulit untuk menjadi nyata?

.

.

.

.

.

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Story by Morena L

Main chara: Haruno Sakura, Uchiha Sasuke, Uzumaki Karin, Senju Tobirama

Warning: AU, OOC, typo, DLDR, rated M untuk konflik dan bahasan yang berat

.

.

.

.

.

.

.

"Nii-chan, kembalikan pita lambutku!"

Seorang gadis kecil berusia empat tahun berlari mengejar kakak lelakinya, kaki-kaki mungil gadis kecil itu terus berusaha mendekati sosok bocah laki-laki yang lebih tua enam tahun darinya. Bocah laki-laki itu berlari semakin cepat, saat jarak di antara mereka semakin jauh, ia berbalik dan menggoyangkan tangannya yang memegang pita hijau dengan girang.

"Nii-chan jahat!" gadis kecil itu merengut sebal. "Tou-chan! Nii-chan jahat! Pitaku diambil!" Si kecil berlari menghampiri sosok tinggi yang duduk membaca koran, dalam sekejap, ia sudah berada di atas pangkuan sang ayah.

"Kenichi, kembalikan pita adikmu."

"Yaaaah, Tou-san," balas sang kakak tak puas.

"Itu pita kesukaanku, kalau kupakai, aku akan secantik Kaa-san."

"Ada apa ini? kenapa ribut sekali?" Seorang wanita muncul dari belakang, bergabung bersama keluarga kecilnya di ruang keluarga.

"Nii-chan mengambil pitaku," adu si kecil dengan sangat bersemangat.

"Siapa suruh menggangguku saat tidur!" timpal sang kakak tak mau kalah.

"Sudah, sudah." Bersama putranya yang lebih tua, wanita itu bergabung bersama suami dan anak bungsunya. "Kenichi, kembalikan pita adikmu. Dan gadis kecil yang manja ini," kata Sakura pada sang putri, "tidak boleh mengganggu Kenichi-nii yang sedang tidur."

Menurut pada sang ibu, kedua anak itu segera berbaikan, bahkan si kecil yang manis itu segera turun dari pangkuan ayahnya agar dapat duduk di dekat kakak laki-lakinya. Sisa-sisa pertengkaran sama sekali tak terlihat, kedua anak yang tadinya seperti kucing dan tikus itu langsung berbaikan, sang kakak bahkan tak ragu untuk memeluk adik kecilnya erat-erat.

Pemandangan indah itu perlahan-lahan memudar.

Semakin pudar.

Hilang.

Tak ada siapa-siapa.

Tak ada suaminya, tak ada kedua anaknya.

Meninggalkannya dalam kehampaan.

.

.

.

.

"Syukurlah, akhirnya kau sadar."

Pandangannya masih samar, ia tak mengenali siapa-siapa. Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali, penglihatannya masih kabur, tapi ia sudah cukup mengenali suara yang tadi di dengarnya. Itu suara Tsunade. Pelan-pelan, ia dapat melihat semakin jelas. Beberapa orang sedang menatapnya penuh kekhawatiran. Ah, itu ibu angkatnya, Tsunade. Lalu, ada kedua mertuanya, Konan, serta Ino. Ia kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa kepalanya begitu berat?

"Aku akan memanggil Kabuto-sensei." Suara Konan terdengar, di sertai sosoknya yang beranjak pergi.

Sakura masih tak mengerti, ia ingin bersuara untuk menjawab pertanyaan mereka, akan tetapi terasa begitu berat. Mereka menanyakan keadaannya, apa yang ia rasakan sekarang, dan berbagai pertanyaan lainnya.

Uuumh ... omong-omong, di mana suaminya? Apa suaminya ada di ruangan ini juga? Jangkauan penglihatan yang terbatas membuatnya tak dapat menemukan keberadaan Sasuke.

Suaminya, mana suaminya? Ia sangat gelisah karena tak kunjung melihat Sasuke.

"Su-suamiku? Ma-mana suamiku?" tanya Sakura saat kondisinya mulai berangsur membaik. Ia sudah bisa melihat dan mendengar dengan jelas, meskipun kepalanya masih sedikit berat.

"Panggilan tugas, ia diminta menemani Menteri Pertahanan untuk berunding dengan pihak Korea Selatan. Beberapa hari lagi ia pasti sudah kembali dan menemanimu," ujar Mikoto menjelaskan. Putra bungsunya memang tak dapat meninggalkan tugas akibat kewajibannya pada negara. Lelaki itu hanya menunggu sampai operasi Sakura selesai dan pada pagi harinya ia langsung pergi untuk menunaikan tugas.

"Aku ke-kenapa?" masih dengan terbata ia bertanya.

Mikoto beradu pandang cemas dengan suaminya, tak sadar kalau gerakan kecil itu memancing perhatian Sakura. Firasat wanita itu berkata kalau ada hal buruk yang baru saja ia alami.

"Kau ... eeem ... i-itu, kau sakit. Ja-jadi, kemarin malam kau dioperasi," jawab Ino canggung.

"Sa-sakit apa?" seingatnya, ia tak punya riwayat penyakit yang sampai mengharuskannya untuk dioperasi. Ino juga menjawab pertanyaannya dengan tak meyakinkan, membuatnya semakin curiga. Ada apa? Wajah ibu mertuanya panik, ayah mertuanya hanya diam tapi wajah itu seperti tak puas, kecewa ... entahlah.

"Kita menunggu dokter saja, ya," ucap Tsunade lembut, berusaha menenangkan Sakura. Mereka semua dapat menangkap dengan jelas raut wajah Sakura yang bingung bercampur gelisah.

"Katakan saja padanya." Suara berat Fugaku entah kenapa membuat suasana di ruangan tersebut menjadi sangat mencekam. Ketiga wanita lainnya sangat gelisah.

"Aku ... a-aku sakit apa?"

.

.

.

oOo

.

.

.

Berkali-kali Karin mengerjapkan matanya, memandang bocah berambut hitam itu lekat-lekat. Apa Tobirama sudah gila? Apa Tobirama sudah kehilangan kemampuan berpikirnya?

"Kenapa Ba-san memandangku seperti itu?" ujarnya takut-takut.

Kenapa? Bocah itu bertanya kenapa? Andai bisa, Karin ingin mencekik bocah itu sekarang juga.

"Katanya aku akan tinggal bersama Ba-san selama mereka pergi China."

Oh, anak itu sepertinya tak tahu efek dari kalimat yang baru saja ia ucapkan. Tobirama ... pria itu memang keterlaluan! Meninggalkan anak ini bersama Karin sementara dia pergi ke China bersama Kurenai, apa pria itu benar-benar sudah kehilangan kemampuan berpikirnya?

Karin tak habis pikir, bagaimana dengan begitu tenangnya kemarin malam Tobirama datang bersama anak itu. Dia meminta pelayan untuk membersihkan kamar tamu, lalu mengatakan kalau dia akan pergi ke China selama beberapa lama sehingga anak ini akan tinggal bersama Karin selama kepergiannya.

Nama anak tersebut adalah Rizuki. Ia memiliki rambut hitam dan mata yang berwarna merah seperti ibunya, Yuuhi Kurenai. Anak ini adalah anak yang dilihat Karin beberapa hari yang lalu. Anak yang ia curigai merupakan anak Tobirama dan Kurenai. Kedua orang itu memang memiliki masa lalu yang bisa dibilang sangat intim, maka tidak mengherankan kalau hubungan mereka dulu membuahkan hasil. Karin tak mau terlalu tahu kapan tepatnya mereka mulai berhubungan, yang ia tahu hanyalah mereka berpisah setelah beberapa tahun hidup bersama. Persis seperti yang dialaminya sekarang.

Dan sekarang saat ia sedang hamil, pria itu menitipkan anaknya! Siapa yang sudi mengurus anak kekasihnya dengan wanita lain? Melihatnya saja sudah membuat Karin kesal.

"Hei, Ba-san, aku lapar."

Apa? Anak itu berani memanggilnya bibi? Enak saja! Ia bahkan belum berusia dua puluh tahun dan dirinya dipanggil bibi? Huh, ibu anak itu saja jauh lebih tua darinya.

"Minta saja pelayan membuatkanmu makanan," jawab Karin ketus. Ia membalikkan badannya dan meninggalkan Rizuki di belakang.

oOo

Dalam kamarnya yang sepi, Karin menenangkan diri dengan hanya ditemani embusan angin malam dari jendela yang tak tertutup. Ia mengusap perutnya perlahan. Untunglah ia bisa menyembunyikan kehamilannya dari Tobirama. Kalau ia tak salah ingat, Tobirama berpisah dari Kurenai saat wanita itu sedang mengandung. Kondisi Karin saat ini mungkin tak jauh berbeda dengan yang dialami Kurenai dulu.

"Sayangku," panggilnya pada si jabang bayi. "Kaa-san akan selalu menjagamu. Walaupun Tou-san tak menginginkanmu, tapi kau masih punya aku."

Teringat kembali betapa gamangnya Karin saat menemukan Tobirama di restoran. Lelaki itu tampak sangat ramah pada Rizuki dan Kurenai. Ah, benar juga, mungkin saja Tobirama ingin berhenti dan mulai membangun keluarga karena keberadaan Rizuki di dunia ini. Sebagai seorang ayah, tentu saja Tobirama pasti menyesal karena dulu meninggalkan mereka. Rizuki juga kini sudah besar. Dia akan menjadi penerus Tobirama. Lelaki itu pasti akan mengajarkan berbagai macam hal pada anak itu. Adanya Rizuki dan Kurenai membuatnya tak memerlukan Karin lagi. Ditendangnya Karin dari sisi Tobirama hanya tinggal menghitung waktu.

Kalau sudah begitu, hanya ia yang bisa menjaga janin yang kini masih berada dalam kandungannya. Kalau saja ia memiliki kemampuan untuk mengendalikan waktu, pasti sekarang ia sudah kembali ke masa lalu. Ia akan mengatur agar ia tidak pernah bertemu dengan lelaki ini.

Menyesalkah Karin? Mungkin saja. Ia sendiri masih belum bisa mendefinisikan rasa gelisah yang menguasai hatinya. Seharusnya Karin tak boleh menyesal. Ini adalah keputusannya di masa yang lalu. Karin hanya tak mempertimbangkan risiko dari semua ini. Hubungan mereka diawali ketertarikan fisik. Mereka punya perjanjian sebelum memulai hubungan tak biasa ini.

"Sepertinya Tobirama sudah bosan denganku."

oOo

Keesokan harinya, makan malam bersama Rizuki dilaluinya dengan datar. Hatinya sudah cukup lelah menanggung pedih. Selain karena hormon-hormon kehamilannya yang mulai bekerja, Karin juga sedang tak berselera makan.

Ia mencari-cari kemiripan Tobirama dalam sosok Rizuki. Apa ada dari bentuk mulut, hidung, mata, rambut, dan organ lainnya yang menyerupai lelaki pujaan hatinya. Tak banyak yang ia dapati kecuali mata yang berwarna merah. Baik Tobirama, Karin, Kurenai, ketiganya sama-sama memiliki mata yang berwarna merah. Bisa dibilang, Rizuki terlalu mirip dengan Kurenai, ibunya.

Apa anaknya nanti akan memiliki bentuk fisik sepertinya? Ataukah seperti Tobirama? Semoga nanti anaknya terlahir sebagai anak laki-laki. Ia tak dapat memprediksi masa depannya kalau seandainya anak yang lahir itu adalah anak perempuan. Biasanya, anak haram perempuan lebih banyak mendapat cemooh dibandingkan dengan anak lelaki. Anak perempuan juga lebih tak tahan hinaan yang datang bertubi-tubi.

Karin membenamkan wajah pada kedua telapak tangannya. Ini sangat berat. Bisakah ia menanggung takdir seberat ini?

"Ba-san, kau kenapa?"

"Bukan urusanmu."

Rizuki menggerakan kursinya ke belakang, tak lama kemudian ia beranjak dari tempat duduknya. "Ba-san, minumlah segelas air."

Refleks, Karin mendorong tangan anak itu sehingga membuat gelas yang ada dalam genggaman Rizuki terhempas jatuh. Beberapa detik kemudian suara pecahan gelas menggema. Keheningan yang cukup menyesakkan melingkupi keduanya.

"AKU MEMBENCIMU!" pekik Karin histeris. Ia bahkan tak memikirkan kalau kata-kata itu akan keluar dari mulutnya. "KAUDENGAR? AKU MEMBENCIMU!"

Karin tahu tak seharusnya ia mengeluarkan kata-kata kasar seperti itu. Namun, apa daya ... gejolak emosi terlalu menguasainya. Akal sehatnya kembali saat Rizuki menggigit bibirya. Anak kecil mana pun pasti akan gentar kalau dibentak seperti itu.

"A-aku—"

"Sudahlah."

Tanpa menunggu lebih lama, sekali lagi Karin meninggalkan anak itu sendirian. Ia perlu mendinginkan kepalanya. Lama-lama seperti ini bisa membuatnya gila, apalagi mengingat perjalanan Tobirama ke China tak mungkin memakan waktu cepat. Paling tidak dibutuhkan waktu sebulan sebelum akhirnya pria itu kembali.

Sebulan bersama Rizuki. Anggap saja inilah hukuman akibat ia terlalu banyak meneguk madu kehidupan yang terlarang selama ini. Hubungannya dengan Tobirama sudah berbalut banyak dosa.

Cih ... baru sekarang ia mengingat dosa.

.

.

.

oOo

.

.

.

Mata itu kosong.

Mata itu kehilangan cahayanya.

Mata itu tak lagi berbinar.

Bibir itu kehilangan senyumannya.

Hanya ada kemuraman yang tak disembunyikan.

Ia hancur perlahan-lahan dari dalam.

Tubuhnya terlihat sehat, tapi jiwanya seolah mati.

.

.

.

.

Aku tak akan bisa memiliki anak.

Bukan sulit, tapi tak bisa.

Seumur hidupku, aku tak akan pernah bisa merasakan yang namanya mengandung, sakitnya melahirkan, menyusui, mengurus anakku yang menangis di tengah malam.

Aku tak akan bisa punya anak.

Aku tak akan bisa mendengar tangisan anakku.

Aku tak akan pernah merasakan tendangan kaki mungil dari dalam rahimku.

Suamiku tak bisa melihat darah dagingnya.

Aku bukan wanita yang sempurna.

Suamiku akan membuangku.

Aku bukan istri yang ia harapkan.

Aku akan membuatnya tak bisa memiliki keturunan.

Suamiku akan meninggalkanku.

Aku akan berakhir sendirian.

Karena aku adalah wanita yang tak bisa lagi memiliki anak.

Aku akan berakhir dalam kesendirian.

Sasuke-san pasti tak menginginkan istri yang tak sempurna sepertiku.

.

.

.

Semua kalimat pesimis itu berputar di kepalanya.

Sakura menjerit sekencang-kencangnya saat tahu kalau indung telurnya telah diangkat. Ia bukan gadis bodoh. Kalau salah satu organ pentingnya itu diangkat, maka ia tak akan bisa hamil. Wanita mana yang tak ingin memiliki anak?

Ia menangis, memberontak, menjerit, memekik. Batinnya berkecamuk. Gelombang duka mendalam menggulungnya tanpa ampun. Dosa apa yang ia lakukan di kehidupan yang lalu sehingga ia mendapatkan nasib buruk seperti ini?

.

"TIDAAAAAAAAAK!"

"KATAKAN INI BOHONG!"

"KATAKAN INI HANYA MIMPI!"

"TIDAAAAAAK!"

"KOMOHON, KATAKAN INI BOHONG! KATAKAN AKU MASIH BISA MEMILIKI SEORANG ANAK!"

"Hanya seorang anak saja. Kumohon, siapa saja, katakan ini tak benar."

.

Semua isakan itu ia teriakkan dengan begitu pilu. Suaranya menyiratkan rasa sakit yang tak terperi. Sakitnya di hatinya benar-benar tak tertahankan. Beberapa kali ia harus disuntik dengan obat penenang karena terus memberontak dengan kondisinya sekarang. Terus berteriak dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Setiap kali bangun, Sakura masih belum bisa menerima keadaan dirinya.

Sejak saat itu ia menolak untuk makan dan minum. Duka terlalu kuat mencengkeram hatinya sehingga ia tak ingin melakukan apa-apa. Hanya diam dan terus berdiam diri. Menolak bicara, menolak melakukan apa pun, menolak untuk bertemu siapa pun.

Dari luar, Ino dan yang lainnya hanya bisa pasrah. Mereka memilih untuk membiarkannya sendiri sambil terus mengawasinya diam-diam, takut Sakura akan melakukan hal yang berbahaya.

Psikisnya terlalu terkejut dengan berita itu. Ia sudah mengecewakan banyak orang, terlebih saat melihat wajah ayah mertuanya, ia bisa melihat gurat kekecewaan samar yang terpancar dari ekspresi lelaki paruh baya tersebut. Singkatnya, mereka pasti kecewa padanya.

'Tahu diri, Sakura. Kau hanyalah perempuan rendahan yang diangkat secara kebetulan ke tempat tinggi. Beruntung jasa ayahmu di masa lalu membuat mertuamu terpaksa menerima. Catat itu! Mereka hanya terpaksa menerimamu! Suamimu juga tidak mencintaimu. Coba sebut, kapan suamimu pernah bilang cinta padamu? Kasihan! Sudah tak dicintai, mandul pula. Kau tak berguna! Kau tak pantas ada dalam keluarga Uchiha. Lihat saja, suamimu pasti sedang mempersiapkan perceraian denganmu makanya ia tak datang. Tugasnya hanya alibi. Sebentar lagi kau akan dicampakkan!'

Entah darimana datangnya suara-suara tersebut. Sakura menutup telinganya gelisah. Suara tersebut tak mau pergi. Mereka terus menerornya dengan berbagai macam hinaan yang terus menjatuhkan mentalnya!

'Suamimu tak mencintaimu! Kau akan dicerai! Kau wanita yang tak bisa punya anak! Kau akan ditinggalkan! Suamimu akan mencari wanita lain. Wanita yang sempurna! Bukan wanita tak berguna sepertimu! Lihatlah betapa menyedihkannya dirimu. Kau tak cantik, kau bukan dari kelaurga bangsawan, kau hanyalah orang rendahan yang punya cukup keberuntungan. Sekarang keberuntunganmu diambil darimu. Kau sangat menggelikan, Sakura. Mandul dan sebentar lagi akan dicerai! Sungguh menyedihkan.'

"Tidak! Tidak!" Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya panik. Ia begitu resah. Hatinya teramat gelisah. Batinnya sungguh tersiksa. Seperti ada yang membelenggu dadanya dan membuatnya kesulitan bernapas. "Tidaaaak," jeritnya sekali lagi dengan begitu pilu.

Tak tahu lagi sudah berapa liter air mata yang ia keluarkan. Sepertinya ia tak akan pernah bisa bangkit dari cobaan ini. Tak bisa.

Sasuke, suaminya juga tak ada di sini. Batang hidung pria itu tak terlihat sejak Sakura sadar dari pengaruh bius. Sosoknya sangat dibutuhkan pada saat seperti ini. Namun, percuma saja. Pria itu benar-benar tak menampakkan dirinya.

Dia mungkin tak ingin bertemu lagi denganku, sekali lagi pikiran buruk menyambangi isi kepalanya.

"Nee-san."

"PERGI!"

Betapa terkejutnya Sakura saat tahu kalau yang dibentaknya adalah Kenichi. Anak laki-laki yang mengintip dari celah pintu itu memandangnya tak percaya. Astaga! Kali ini anak kecil itu yang ia sakiti. Tak kuasa menahan sakit pada dadanya, Sakura menunduk, menenggelamkan kepala pada lututnya yang tertekuk.

Selesai sudah. Ia telah mengecewakan suaminya, keluarga suaminya, dan kini Kenichi. sepertinya tak ada lagi yang menginginkannya.

"Hanya seorang anak saja," isaknya perlahan. "Tak bisakah aku memiliki seorang anak saja?"

.

.

.

oOo

.

.

.

Hubungan antara Karin dan Rizuki terasa sedikit canggung. Meskipun ia bilang tak mau mengurus anak itu, tapi diam-diam ia memperhatikannya. Terkadang Rizuki bermain bersama seorang pelayan, anak itu suka minum jus buah, ia biasanya tidur siang, dan tak bisa begadang. Rizuki juga sepertinya cukup senang membaca. Anak itu tak suka bermain puzzle atau permainan rumit lainnya.

"Ba-san, mau membacakan dongeng untukku?"

Setidaknya Rizuki adalah anak kecil biasa yang gampang melupakan masalah. Karin ingin kembali seperti anak kecil yang dengan begitu mudahnya melupakan segala hal. Hanya bahagia yang ada dalam ingatan anak-anak.

Dibutuhkan usaha yang luar biasa untuk mengesampingkan egonya. Karin meraih buku yang dipegang Rizuki. Buku dongeng anak-anak dari Eropa yang diterjemahkan ke dalam bahasa mereka. Wanita berambut merah itu mulai membaca, ia membiarkan Rizuki yang terlalu menikmati cerita berbaring di pangkuannya. Naluri keibuannya bangkit, membuatnya mulai mengelus kepala Rizuki dengan tangannya yang bebas.

Dibiarkannya anak itu tertidur beberapa saat dengan nyaman di pangkuannya. Karin meletakan buku dongeng tadi di atas meja. Dengan lembut, ia mengusap rambut hitam Rizuki. Setetes air mata lolos dari pelupuk matanya. Kembali suasana hati yang tidak stabil ia rasakan. Hatinya terasa begitu kacau, serasa meledak jika ia tak segera melampiaskan keresahan di hati.

"Ba-san menangis?" kedua kelopak mata Rizuki membuka.

"Tidak apa-apa."

"Aku ambilkan air, ya. Tapi, Ba-san tak jangan menolaknya lagi," ujar anak itu sambil tersenyum manis.

Karin mengamati tubuh Rizuki dari belakang. Anak itu begitu baik padanya. Rasa frustrasi yang tak terelakanlah yang membuatnya tak bisa menerima kebaikan anak itu.

"RIZUKI!" teriaknya panik saat bocah yang sedang membawa anak itu jatuh terpeleset.

"HUAAAA!" jerit bocah berambut hitam itu karena kaget. Sepertinya pelayan lupa membersihkan tumpahan jus pada lantai ruang tamu. Akibatnya, Rizuki yang kurang hati-hati menjadi terpeleset. Gelas yang dipegangnya terlepas dari tangan—untungnya tidak pecah—sehingga membuat genangan air yang cukup lebar di lantai.

"Hati-hati," ujar Karin seraya membantunya berdiri. "Sudah, sudah, jangan menangis lagi, ya," bujuk Karin.

"Apa yang kaulakukan, Karin!?" dari ambang pintu, berdirilah Tobirama dan Kurenai. Raut wajah Tobirama terlihat jelas begitu murka. Kenapa mereka muncul tiba-tiba sekarang?

"A-a—"

"Ada apa ini? Anakku kenapa?" tanya Kurenai, buru-buru ia menghampiri putranya.

Mendengar nada tinggi dari orang-orang yang ada di sekitarnya, tangis Rizuki semakin kencang. Ia memeluk ibunya semakin kuat.

"Karin!" hardik Tobirama kasar.

"Aku tak melakukan apa-apa!" bantah Karin emosi. Enak saja mereka menuduhnya seolah ia adalah orang yang tertangkap basah sedang melakukan kejahatan.

"Anak ini tak mungkin menangis tanpa alasan, Karin," seru Tobirama datar, tapi sangat tajam.

"Aku hanya membantunya." Namun, Karin semakin pesimis saat menyadari kalau Tobirama tak memercayainya.

"Kalau kau tak suka pada anakku, paling tidak jangan melakukan sesuatu yang menyakitinya!" Karin terbelalak dengan tuduhan sepihak dari Kurenai. Ini tak seperti yang mereka pikirkan.

"Karin, minta maaf sekarang juga," ujar Tobirama tegas.

"Tidak mau!"

"Karin, minta maaf!"

"Kubilang tidak mau."

"Kar—"

"Baiklah," potong Karin getir. "Kalau memang mau membuangku, bilang saja terus terang. Kau sudah punya Kurenai dan Rizuki, aku dan anakku tak akan menggangu kalian!" Dengan tangis yang tak bisa lagi bendung, ia berlari sekencang mungkin. Berlari meninggalkan orang-orang yang sedang berusaha mencerna ucapannya.

Sakit.

Ia tak kuat lagi.

Karin tak sanggup lagi bertahan lebih lama di sisi Tobirama.

Sebelum pria itu membuangnya, lebih baik ia yang pergi.

Ya, mungkin lebih baik begini saja.

Mungkin memang sudah nasibnya untuk tersakiti seperti ini.

.

.

.

oOo

.

.

.

Sasuke memasuki ruang di mana istrinya dirawat dengan sangat tenang. Ibunya sudah menceritakan keadaan Sakura. Kabuto-sensei juga telah memberitahu kondisi istrinya pasca operasi dengan sejelas-jelasnya. Tugasnya pada negara membuat lelaki itu tak bisa menemani istrinya selama beberapa hari belakangan.

Sakura terlihat begitu kacau, rambutnya kusut, wajahnya tak bercahaya, dan matanya hampa. Istrinya itu duduk sambil memeluk kedua lututnya. Kalau mengingat betapa cerianya wanita muda itu dahulu, maka pemandangan yang tersaji di depan matanya ini sungguh mengenaskan.

Sasuke kemudian menarik kursi yang ada di sebelah ranjang agar ia dapat duduk.

"Sasuke-san." Suara wanita itu begitu lirih, tapi wajahnya nyaris tanpa ekspresi.

"Hn?"

"Ceraikan saja aku."

Keheningan menguasi mereka. Belum ada yang mengeluarkan suara untuk memecah suasana sunyi yang tercipta.

"Baiklah, aku mengerti."

.

.

.

.

Tbc

A/N:

Well, mata saya sudah tak kuat lama-lama depan laptop, sakit banget. Tadinya mau diselesaikan di chapter ini, tapi apa boleh buat. Jadi cukup sampai di sini saja dulu ya. Chapter depan adalah chapter terakhirnya.

Sekali lagi saya tekankan. Ini fict SasuSaku dan TobiramaKarin. Kedua pair ini adalah pair utama di sini. Jadi, saya tidak akan mengutamakan yang satu dan mengabaikan yang lainnya.

Balas review dulu, yang login cek PM ya.

Riato kid: iya, ini klimaksnya

Sasusaku forever: makasih

Mysaki: maaf, terpaksa sakura ga bisa punya anak :(

Guest: iya, sakura ga bisa punya anak :(

Harakim98: yoo, udah lanjut

Guest: maaf yo, impianmu buat lihat anak SS udah hancur :(

Anita: ya, memang chapter ini cukup menyedihkan :(

Uchiha yuki cherry: huhu, iya, SS ga bisa punya anak

Abc: maaf ya, SS ga bisa punya anak :'(

Lhylia Kiryu: :'(

Guest: #nangisdipelukanGaara

Shiechan: ya, mereka ga bisa punya anak :'(

Khukhu: #nyodorintisu

Sasusakulunatic: makasih

RinAko: makasih

25 Junigatsu no login: kalau susah napas, perlu tabung oksigenkah? #dilempar

Guest: jangan sad ending ya? Huhu liat nanti ya :(

Hantu: iyaa, huhu :'(

Rainy de: SS ga bisa punya anak :'(

Zzz: iya, sakura mandul seakrang :'(

Silent reader xD: #pelukSakura

Laura Pyordova: sorru ga bisa panjang2, mataku udah ga kuat :'( #pelukSakura

Rinko: amin aja deh. Moga dua nona ini bisa bagagia :(

Hachiko desuka: ho'oh. SS ga bisa punya dede :'(

Haruchan: sorry kalau chapter kemarin bikin shock :'(

Cherryl: maaf yo, mereka ga bisa punya anak :(

Mocha: :(

Taca Haruno: saya istrinya Rei Gaara

Nevi Naoky Vi-chan: iya, kasian SS :'(

Soeun ah: makasih, udah lanjuuut

Jf: iyap, sakura dioperasi

Chintyamalfoy: salam kenal juga. Ini udah update

.

.

.

Maaf kalau ada balasan review yang kelewat

Terima kasih buat semua yang sudah baca, review, fave dan follow. Saya tunggu tanggapannya untuk chapter ini.